
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
“Ayo kang, kita sudah sampai !” ajak gurunya Sidiq.
“Iya kang…!” jawab Yasin pelan pelan turun dari mobil.
Yasin agak gelisah, merasa seperti pesakitan yang akan dihadapkan ke pengadilan. Rasa malu karena ulah Sidiq anaknya, padahal Gurunya Jafar saja menitipkan anaknya ke dia. Tapi Justru Sidiq bikin malu dengan menganiaya santrinya.
Ternyata gurunya Jafar sudah menunggu kedatangan mereka berdua dengan senyum ramah. Seakan tak terjadi apapun.
“Saudara saudaraku akhirnya kita bisa berkumpul di sini. Ayo langsung ikut aku, kita ngobrol bertiga saja.” Ajak Kyai Pondok Al-Huda tersebut.
Namun Yasin masih agak cemas dan malu, kemudian menyalami gurunya Jafar dan hendak mencium tangannya, tapi ditepis oleh gurunya Jafar.
“Apa apaan kamu kang pakai cium tangan segala, kita kan sedang reunion sekarang.” Ucap gurunya Jafar.
“Maafkan saya yang sudah gagal mendidik anak saya Sidiq dan bikin ulah.” Ucap Yasin.
“Kata siapa gagal, ini kan baru proses dan memang harus begitu kang. Kita bicara di dalam saja,nanti aku jelaskan.” Ucap gurunya Jafar.
Dan mereka pun segera berjalan menuju ke sebuah Joglo kecil yang biasa digunakan untuk membahas hal hal yang sangat penting. Yasin mengikuti dengan perasaan cemas, sekilas melihat Jafar dan Nisa anaknya yang sedang mengaji ba'da Isya dengan seseorang yang mungkin adalah badal kiainya. tapi Sidiq tak kelihatan juga, membuat Yasin semakin penasaran.
Setelah sampai di joglo kecil mereka kemudian duduk dilantai beralaskan karpet yang cukup tebal. Karena cuaca yang cukup dingin di daerah itu.
“Kamu tidak usah gelisah begitu, anak kamu sidiq ada di kamar sedang aku suruh Fidak. Dan memang tidak boleh keluar kamar kecuali hal hal yang mendesak saja. Bukan aku hukum dengan hukuman yang menyakitkan.” Ucap Gurunya Jafar sambil tersenyum seakan mampu membaca isi pikiran Yasin.
“Aku percaya kang, hanya merasa malu sementara anak gadismu kamu titipkan ke aku untuk dididik adab. Malah anakku sendiri gagal dalam mendidik adab.” Jawab Yasin.
“Sidiq bukan gagal kang, hanya jiwa muda nya yang berkobar kobar masih belum stabil. Jadi perlu mendapatkan bimbingan khusus, dia masih punya adab.” Sahut gurunya Sidiq.
Yasin hanya diam saja, bagaimanapun memang Sidiq seperti foto copynya dimasa muda Yasin dulu. Yasin ingat saat memukuli kakak iparnya, mempermalukan orang tuanya dan semua kenakalan yang pernah ia lakukan. Dan saat ini Yasin merasakan seperti posisi orang tuanya dulu saat Yasin masih dengan nama aslinya Ahmad Sidiq. Dan saat ini Sidiq Junior anak Yasin benar benar menjadi sebuah cermin bagi Yasin. Betapa merasa bodoh nya kalau ingat masa mudanya dulu, yang selalu bikin resah.
“Masih lebih baik merasakan malu sekarang kang, daripada di akhirat nanti.” Ucap gurunya Sidiq.
“Yang jelas, aka nada tanggung jawab besar yang akan dibebankan kepada anak anak kamu nanti. Dan kejadian ini memang sudah digariskan seperti ini. Sebagai alat pemersatu kita kang.” Gurunya Jafar ikut menimpali.
“Aku bingung, karena dua anakku Sidiq dan Jafar sudah bikin ulah merusak Padepokan juga. Meskipun itu padepokan kerabat musuh musuhku dulu. Tapi aku khawatir dampaknya malah akan meluas.” Ucap Yasin.
“Karena itu lah kamu ku undang kemari, dengan perantara peristiwa anakmu. Karena dengan peristiwa itu akhirnya kamu sekarang bisa satu majlis dengan kami.” Ucap gurunya Jafar.
“Rupanya kang Syuhada dan kang Nurudin ini sudah saling sepakat ya ?” Tanya Yasin pada kedua guru anaknya tersebut.
“Sepakat apa kang Yasin ?” Kyai Syuhada guru jafar dulu yang bertanya.
“Sepakat untuk mengundang aku kemari, dengan alasan Sidiq anakku.” Jawabku.
Kedua guru anak anak Yasin itu malah tertawa terbahak bahak.
“Bukan begitu kang, ini murni kebetulan saja. Bahkan sebelumnya kang Syuhada juga sudah mengutus Jafar anakmu untuk menyampaikan pesan padaku akan ‘kemungkinan’ terjadinya hal ini. Makanya kami persiapkan semuanya. Agar tidak terjadi bentrok antar santri kami.” Jawab Kyai Nurudin gurunya Sidiq.
“Justru itu kakang berdua sudah sepakat sepertinya.” Ucapku.
“Kita hanya gak berani mendahului kehendak Allah, sebelum sesuatu itu terjadi tidak berani berkata Pasti. Karena bisa saja kita salah perhitungan. Memang Isyaroh sudah kami terima tapi tetap saja tidak berani memastikan.” Ucap Gurunya Jafar dan Nisa.
“Begini saja kang, sekalian mumpung kita bertiga di sini. Ini bukan hanya sekedar masalah keluargaku saja. Tapi menyangkut kemaslahatan umat, saat ini ada gerakan dari kerabat musuhku dulu yang akan balas dendam padaku.” Ucapku membuka pembicaraan.
“Kami juga sudah tahu, dan kami sebenarnya sudah member tugas Jafar dan Sidiq untuk ziarah tiap malam ke makam orang tua kami. Tapi keburu masalah semakin melebar, dan kayaknya memang semakin mendesak.” Jawab Gurunya Jafar.
“Bisa tidak aku dipertemukan dengan Sidiq dan Jafar kali ini ?” Tanya Yasin pada Kyai Syuhada guru Jafar.
“Kalau Jafar bisa, tapi kalau Sidiq kan baru menjalani hukuman jadi gak bisa keluar kamar. Nanti saja kamu temui sendiri di kamar.” Ucap Gurunya Jafar.
__ADS_1
“Yasudah Jafar dulu gak papa, biar Sidiq nanti saja.” Jawab Yasin. Meski dekat dengan gurunya Jafar tapi tetap mengikuti aturan pesantren Al-Huda.
Kemudian Kyai Syuhada gurunya Jafar menyuruh salah satu Santrinya memanggil Jafar. Dan tak selang beberapa lama kemudian Jafar datang dan menyelami abah gurunya juga abah gurunya Sidiq serta ayahnya.
“Jafar, ini ayahmu mencari kamu barangkali ada yang mau disampaikan oleh ayahmu.” Kata Kyai Syuhada guru Jafar.
“Iya bah, ada apa yah panggil Jafar ?” Tanya Jafar pada ayahnya.
“Jafar,,, ayah mau kamu jujur, apa kamu yang menyerang padepokan ki Marto Sentono dan melukai Jaka Santosa ?” tanya Yasin pada Jafar.
“Maafkan Jafar yah, memang Jafar yang melakukan tapi bukan kehendak Jafar sendiri.” Jawab Jafar.
“Apa Sidiq mas mu yang menyuruh ?” tanya Yasin lagi.
“Bukan Yah, bahkan mas Sidiq tidak tahu apa apa ?” jawab Jafar.
“Lantas siapa yang menyuruh kamu ?” desak Yasin ke Jafar.
Akhirnya jafar pun menceritakan pertemuannya dengan eyang Mustolih, dan menceritakan lengkap sampai dengan ketika Jafar disuruh mengaku sebagai Sidiq dan kehadiran eyang Jafar Sanjaya di dalam mimpi Sidiq yang mempercepat proses penyembuhan kaki Sidiq.
Yasin hanya mendengarkan dengan takjub, melihat kekhususan pada diri Jafar anaknya. Sungguh anugerah yang luar biasa, batin Yasin.
“Jafar,,, kamu bisa bisa menjaga diri karena kemungkinan akan banyak orang yang mengincar dirimu nanti.” Kata YAsin kepada Jafar.
“Iya yah, Jafar akan selalu hati hati ayah juga jaga diri ayah dan bunda. Maafkan Jafar yang tidak bisa membantu ayah dan bunda saat ini.” Ucap Jafar. Membuat Yasin jadi terharu, begitu lembutnya hati Jafar. Sementara Yasin belum tahu kegarangan Jafar saat bertarung menghadapi musuh. Yang bahkan lebih garang dari Sidiq, Yasin hanya tahu Jafar cerdik saat menghadapi Lady Ninja Yukimoto.
Setelah pembicaraan dengan Jafar selesai, Jafar pun disuruh kembali untuk bersiap ziarah ke makam. Sesaat kemudian Yasin menemui Sidiq di kamarnya. Namun Sidiq sedang membaca fida’ Istighfar seratus ribu kali sebagai tebusan kesalahannya.
Sehingga Yasin hanya berucap pesan agar di dengar Sidiq, meski dalam kondisi sedang istighfar.
“Sidiq Anak ayah, ayah sudah tahu tentang yang kamu alami. Pesan ayah jika kamu atau Jafar berhadapan dengan lawan yang tidak Nampak. Giringlah dia ke bawah tower air, nanti kalian akan bisa melihat meski samar samar.” Ucap Yasin. Dan Sidiq pun mendengar namun hanya mengangguk, karena dilarang bicara sebelum selesai.
Yasin pun segera minta diri kepada Kyai Syuhada guru Jafar untuk kembali ke rumahnya. Terlebih dahulu, ke tempat Kyai Nurudin guru Sidiq untuk mengambil motornya.
Sesampai di Pondok Al-Hikmah, sebelum Yasin berangkat guru nya Sidiq berkata.
Yasin pun dengan senang hati menerima, kemudian berpamitan untuk pulang. Takut Fatimah menjadi semakin cemas.
*****
Sementara Fatimah di rumah menunggu yasin dengan cemas, Fatimah ingin segera mendengar kabar tentang anak anaknya. Dan sampai selepas Isya pun Yasin juga belum kembali. Untung Isna menemani Fatimah di rumah sehingga ada teman untuk mengobrol.
Namun Fatimah lupa jika seharusnya merahasiakan jika Jafar dan Nisa adalah anaknya.
“Umi gak usah khawatir Abi Yasin Pasti bentar lagi pulang kok mi.” Hibur Isna yang kini semakin dekat dengan Fatimah.
“Umi khawatir saja, soalnya suami umi tu orangnya gampang tersinggung dan marah Isna.” Jawab Fatimah.
“Masak sih Umi,,, sepertinya Abi Yasin orangnya kalem kalem saja…!?!” ucap Isna.
“Kamu belum tahu saja, owh iya bagaimana sekolah kamu di sekolah baru sekarang ?” Tanya Fatimah mengalihkan pembicaraan.
“Baik juga kok mi, temen pada baik baik.” jawab Isna.
“Syukurlah berarti kamu kerasan disini juga Isna ?” tanya Fatimah.
“Insya Allah mi, tapi kadang juga bosan sendirian terus di sini.” Jawab Isna.
“Insya Allah Abi Yasin besok carikan teman buat Isna, hanya saat ini baru sibuk ngurus masalah anak.” Ucap Fatimah teringat ucapan Yasin yang mengatakan adanya ancaman dari kerabat musuhnya dulu. Sehingga membuat Fatimah kembali timbul cemas.
“Ada masalah apa Umi, pengen juga kenal dengan anak anak Abi dan Umi, kalau ada Album fotonya Isna boleh Lihat dong Umi.” Kata Isna.
“Iya boleh, besok Umi yunjukin foto anak anak Umi sekarang Isna temenin ngobrol Umi dulu. Umi masih nungguin Abi kamu kok belum pulang juga ya ?” jawab Fatimah.
“Ciyee… Umi kangen ya sama Abi ? Maaf umi memang Umi dan Abi dulu pakai pacaran gak sih, he he he lancang gak Isna nanya gitu mi ?” tanya Isna ragu ragu.
“Lah Isna tanya soal itu, apa Isna juga sudah punya pacar, hayo bilangin abi dan umi kamu di pesantren nanti.” Jawab Fatimah.
“Gak kok Umi, Isna belum punya pacar pengen tahu saja kayaknya Abi Yasin dan Umi Fatimah mesra terus. Apa dulu pakai pacaran juga mi ?” tanya Isna lagi.
__ADS_1
Fatimah sedikit merasa heran dengan Isna alias Nia, anak yang berani meski kadang terkesan agak berlebihan. Namun Fatimah merasa itu hanya rasa ingin tahunya yang besar bukan bermaksud kurang ajar.
“Memang Isna tahu apa itu mesra ?” Tanya Fatimah balik membuat Isna jadi gelagapan.
“Aa eem gak tahu pasti juga sih Umi,,, tapi maksut Isna Abi Yasin dan umi Fatimah itu apa ya…? Kayak gak punya masalah, hidupnya penuh seria bahkan tiap hari Isna perhatikan banyak bercandanya. Malah kayak orang masih pacaran saja mi…!” jawab Isna.
“Berarti Isna udah pernah pacaran bisa menyamakan begitu hayo ngaku saja ?” Goda Fatimah.
“Gak dong umi, maksut Isna kan sering lihat atau dengar saja. Waktu pacaran kayak pasangan paling akur. Tapi begitu jadi suami istri tiap hari bertengkar. Abi dan Umi Fatimah kan tiap hari malah bercanda kayak orang yang masih pacaran.” Jawab Isna.
“Itu karena Umi dan suami Umi pacaran setelah menikah Isna.” Ucap Fatimah.
“Maksut Umi ?” tanya Isna bingung.
“Abi dan umi dulu hanya sahabat satu pesantren tidak terlalu dekat apalagi pacaran. Hanya saling menganggap sebagai teman saja. Bahkan ngobrol pun jarang, tapi tiba tiba saja langsung dinikahkan.” Jawab Fatimah mengenang saat dulu dinikahkan dengan Yasin.
“Haah… kok bisa Umi terus bagaimana ceritanya umi ? Umi dan abi langsung mau saja dinikahkan ?” tanya Isna makin penasaran.
“Awalnya ya terpaksa mau gak mau Isna, soalnya orang tua umi sudah pengen umi segera menikah dan punya anak.” Jawab Fatimah.
“Abi juga langsung mau saja, terus habis itu pacaranya bagaimana umi ?” Tanya Isna.
“Abi dan Umi sepakat untuk sama sama belajar mencintai, saat sudah menikah sama sekali belum ada rasa cinta bahkan untuk saling bicara pun masih canggung.” Jawab Fatimah.
“Cerita dong Umi, Isna jadi kepo nih kok bisa awalnya tidak saling cinta tapi malah sampai sekarang hidupnya rukun dan bahagia begitu ?” pinta Isna ke Fatimah.
“Memang Isna sudah pengen Nikah juga ?” Goda Fatimah sambil mau mengalihkan pembicaraan.
“Bukan begitu umi, Isna penasaran saja pengen besok bisa kaya umi juga saling cinta sampai tua.” Jawab Isna.
Fatimah pun menceritakan secara garis besar, perjalanan kisah hidupnya dari saat dinikahkan dengan Yasin yang tanpa cinta. Sampai timbul rasa saling mencintai dengan pasangannya. Bahkan rasa cinta yang ada makin lama semakin tumbuh subur.
“Rahasianya apa sih mi ?” tanya Isna kemudian.
“Kuncinya saling bisa menerima kekurangan masing masing, dan setelah tahu kekurangan masing masing jangan berharap apalagi menuntut sesuatu yang mustahil dari pasangan kita.” Jawab Fatimah.
“Contohnya apa umi ?” tanya Isna.
“Umi sadar kalau suami umi itu orangnya keras, jadi umi gak berharap suami umi bisa jadi orang yang lembut. Dan lama lama umi malah menyukai sifat keras suami umi juga. Sementara suami umi berusaha mengurangi sifat kerasnya. Begitu juga sebaliknya, Umi orangnya kan agak bawel dan cerewet. Suami umi gak nuntut umi selalu nurut dan patuh pada suami. Jadi kadang pertengkaran kecil malah bisa jadi bahan kita untuk bercanda.” Jawab Fatimah.
Fatimah menceritakan tanpa harus membuka aib suami dan dirinya, namun bisa dijadikan pelajaran bagi Isna. Sehingga apa yang menjadi rahasia Yasin dan Fatimah bisa tetap terjaga. Termasuk jika ternyata Yasin sudah punya anak dari perempuan lain dan masa lalu Yasin yang penuh dosa tidak diceritakan kepada Isna. Seorang istri yang baik, yang bisa menutup aib suaminya dan sebaliknya.
“Jadi putera Umi itu ada tiga, namanya siapa saja umi ?” Tanya Isna.
“Yang pertama bernama Sidiq Sekartadji, kedua Jafar Sidiq Amin dan yang ketiga Anissa panggilanya Nisa.” Jawab Fatimah tanpa sadar menyebutkan jika Jafar dan Nisa adalah anak kandungnya. Bahkan Sidiq pun diakui sebagai anaknya.
Maksud Fatimah, tidak mau menganggap Sidiq sebagai anak tirinya saja. Namun tanpa disadari Fatimah, keterangan itu telah membuat Isna alias Nia spontan menjadi kaget mendengarnya.
“Jadi Umi ini ibunya kang Jafar dan Nisa yang ikut di pesantren Abi Syuhada dan umi Alisa ?” tanya Isna sangat terkejut dengan jawaban Fatimah. Fatimah pun baru sadar telah membuka sebuah rahasia yang oleh Kyai Syuhada disembunyikan selama ini…?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1