
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
Aku jadi menyimpulkan pasti itu yang namanya Jaka, aku tidak menjawab namun kembali menendang balok kayu yang kuarahkan ke wajah Jaka. Dan tak ku duga Jaka tidak bisa menghindari sehingga wajahnya terkena balok kayu tersebut. namun aku swedikit kaget karena Jaka tidak terluka apa lagi kesakitan…!?!”
“Bocah kurang ajar, sudah hampir mampus juga masih berani bikin ulah di sini. Seandainya kamu kemarin tidak menaburi mukaku dengan pasri, sudah kubunuh kamu.” Kata orang itu, aku makin yakin dia yang bernama Jaka.
“Coba kalau kakiku kemarin tidak sedang terkilir, dari kemarin juga kamu sudah aku hajar. Karena berani mengganggu pacarku di depan mataku.” Jawabku dengan meniru gaya bicara mas Sidiq. Semoga saja dia benar benar mengira aku mas Sidiq.
“Jadi kamu masih berani melawanku sekarang ?” tanya Jaka.
Majulah sekalian dengan teman teman kamu biar urusanku cepat selesai.” Jawabku. Seperti pernah ku dengar jawaban mas Sidiq ketika sedang menantang musuh musuhnya.
“Dasar bocah tengik sudah bosan hidup rupanya…!” kata Jaka.
Aku tidak menjawab lagi tapi langsung menendang apa saja yang ada di depanku. Dari balok kayu yang berserakan sampai dengan tanaman dalam pot yang ada. Aku tending semua kuarahkan ke teman teman Jaka. Hingga beberapa orang diantaranya kesakitan bahkan ada yang kabur entah kemana.
Antara melaksanakan perintah eyang Mustolih bercampur dengan dendam aku mengamuk di padepokan itu. banyak perabot da bagian padepokan yang rusak terkena benda benda yang aku tending. Dan Jaka sendiri hanya menghindari benda benda yang meluncur ke arahnya.
“Berhenti…!” tiba tiba Jaka berteriak.
“Kenapa kamu takut ?” tanyaku.
“Aku kemarin yakin kaki kamu aku patahkan kenapa sekarang kamu bisa menendang semua benda disini seakan tidak terjadi apapun.” Tanya Jaka.
“Sudah aku bilang kemarin hanya terkilir dan semalam sudah di urut. Sekarang siap menghajar kamu, kecuali kamu mau mohon ampun dan bertaubat dengan membakar padepokan ini.” Jawabku asal saja.
Jaka mendengar jawabanku menjadi sangat marah dan langsung menyerang aku dengan kedua tangnnya yang menjulur kedepan hendak mencengkeramku. Aku bertahan menghadang serangan Jaka dengan jurus peertahanan yang diajarkan Yuyut Siti Aminah. Sehingga benturan taanganku dan Jaka terjadi, Jaka terpental mundur sementara aku merasakan linu di kedua tanganku.
“Pantas mas Sidiq kesakitan, Jaka memang mempunyai pelindung diri kalau tidak salah menurut Yuyut ini ilmu Tameng Wojo.” Kataku dalam hati.
Segera aku mengerahkan kekuatan batin dan mengatur jalan darah dan nafasku untuk menetralisir dampak benturan tadi. Dan berangsur kedua tanganku kembali pulih seperti semula.
Aku juga melihat Jaka sudh mampu bangun lagi seperti tidak kurang suatu apapun.
“Masih bisa bangun, lumayan juga kamu ternyata tapi sayang sebentar lagi kamu akan kubuat tidak bisa bangun lagi.” Kataku memanas mansi Jaka.
“Setan kamu… masih untung tangan kamu tidak patah terkena pukulanku tadi.” Bentak Jaka.
“Ini orang masih bisa sombong juga, jelas jelas dia yang terpental masih bisa sombong. Aku jadi yakin jika mas Sidiq kemarin hanya menggunakan kekuatan Fisik semata sehingga sampai dikalahkan orang ini. karena menurut perhitunganku harusnya mas Sidiq tidak kalah dengan orang ini. mungkin ini yang dimaksut eyang Mustolih semalam, memang harus seperti ini dulu.” Batinku.
“Kita buktikan saja, siapa yang akan mengalami patah tulang sebentar lagi.” jawabku.
Sudah aku ukur kemampuan Jaka dalam mengolah tenaga batin, dan memang cukup kuat perlindungan dirinya. Ilmu pelindung diri sekaligus juga sebagai senjata untuk menghancurkan lawannya. Namun aku masih ingin memastikan seberapa besar tenaga dalam yang dia punya dengan tetap penuh kewaspadaan.
Pada kesempatan selanjutnya aku menyerang Jaka denagn melambari diri dengan kekuatan batin juga. Aku masih merasakan saat seranganku menegani tubuhnya seperti mengenai pintu baja yang tebal sehingga masih sedikit merasakan sakit. Meskipun sudah melapisi diri dengan kekuatan batin juga, sementara untuk serangan Jaka aku tidak terlalu khawatir. Masih bisa aku patahkan dengan lapisan kekuatan lahir dan batinku.
Aku terus menggempur Jaka, dengan meningkatkan permainan jurus jurusku. Dan beberapa kali mendaratkan pukulan ke tubuh Jaka. Namun Jaka tidak bergeming sedikitpun terkena pukulan tangan dan kakiku. Meski aku juga sudah tidak merasakan sakit setelah menaikan permainan jurus dan tenaga dalam yang aku punya.
Bahkan aku melihat teman teman padepokan Jaka sudah kembali berkumpul memberi dukungan kepada Jaka. Sehingga aku terpaksa melompat mundur untuk mempersiapkan jurus andalan warisan Yuyut, ‘Lebur Saketi’. Aku terpaksa menggunakan ini karena Jaka sangat berbahaya dan bisa jadi bakal menjadi ancaman bagi ayah bundaku juga.
Aku silangkan tangan di depan dada dan mengangkat kaki kananku sebatas Lutut. Sementara kaki kiriku aku tekuk setengah jongkok. Kemudian dengan sekali lompatan aku menghantamkan kepalan tanganku kea rah Jaka dengan menggunakan hampir separuh tenaga dalamku. Aku belum berani menggunakan tenagan full takut menewaskan Jaka. Dan gak mau masuk penjara juga, kurasa cukup membuatnya pingsan saja, batinku.
Jaka yang begitu yakin dengan pertahanan dirinya hanya menangkis dengan kedua tangannya saja. Barangkali dia berpikir dengan kedua tangannya yang keras sepeerti besi itu cukup menahan seranganku.
Apa boleh buat, aku mendaratkan pukulanku yang ditangkis dengan kedua tangan Jaka. Dan kedua tangan jaka ikut terdorong dan menghantam dadanya sendiri. Jaka terjatuh dan keluar darh dari mulut dan hidungnya kemudian pingsan tak bangun lagi.
Ada salah satu teman padepokan Jaka yang hendak menyerangku, na
Mun dengan sekali kibasan tanganku yang masih terlapisi ‘Lebur saketi’ orang itu terlempar jauh hingga beberapa meter dan langsung pingsan. Sehingga membuat yang lain menjadi ketakutan.
“Siapa yang mau mencoba maju menyusul teman teman kalian. Silahkan kalian maju hadapai aku Sidiq Sekartadji.” Kataku menantang mereka.
Namun tak satupun dari mereka berani mendekat, melihat Jaka yang pingsan dan mutah darah. Sementara temannya yang satu jatuh terpental juga langsung pingsan. Karena sudah tidak ada perlawanan aku pun segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke tempat kerja mas Sidiq. Menemui pemilik toko minta ijin buat mas Sidiq.
Aku segera meninggalkan tempat itu dengan menggunakan sepeda motor Nia yang dipinjamkan padaku oleh abah guru. Aah jadi ingat Nia, dimana dia sekarang ya. Gara gara aku mengaku sebagai mas Sidiq, saat mengatakan Mbak Riska sebagai Pacarku kok aku yang terbayang wajah Nia ya. Nia yang kadang nyebelin tapi juga kadang kala bikin kangen.
Tidak gak boleh aku mikirin Nia, dia juga hanya anggap aku sebagai kakaknya. Dan abah guru juga member tugas aku menjaga Nia sebagai adik seperti aku menjaga Nisa adik kandungku. Aku tidak boleh mikiri Nia sepeerti ini.
Namun ternyata susah juga menghilangkan bayangan wajah Nia, kemudian aku memutuskan brhenti sebentar di warmindo tempat jajan murah meriah. Untuk istirahat dan menenangkan pikiranku agar tidak memikirkan Nia terus.
“Buk minta teh hangat satu ya.” Kataku pada ibu penjual warung.
“Iya jang, euleh si ujang mah Kasep pisan euy…!” ucap ibu penjaga warung.
__ADS_1
“Apa bu, maaf saya gak tahu artinya !” kataku.
“Owg gak kok gapapa jang, darimana kok kayaknya capek banget keringetan begitu ?” tanya ibu penjual warung tersebut.
“Owh ini bu habis bantu bapak saya mecahin kayu buat kayu bakar tadi terus lapar.” Jawabku tergagap.
“Hoyong eeh pengen makan jang ?” tanya ibu itu. karena sudah terlanjur bilang lapar aku terpaksa pesan makan juga akhirnya.
“Iya bu, bubur kacang hijau aja tapi bu gak usah pakai ketan hitamnya.” Pintaku kemudian.
“Boleh… pakai susu coklat atau putih jang.” Tanya ibu itu.
“Apa saja boleh bu.” Jawabku.
“Pah… Ipah bubur kacang hejo hiji moal pakai ketan hideung. …!” ucap ibu itu gak ngerti persinya. Tapi kayak nyuruh seseorang. Tak lama kenudian muncul gadis kecip mungkin lebih tua sedikit dari Nisa adik kandungku.
“Jeung Saha nya ?” ucapnya.
“Eta jeung Aa Kasep…!” jawab Ibunya.
“Di jawa mah moal ngarti kasep nyak, Manehna mah biasa dipanggil si emas lain Ujang.” Ucap gadis kecil itu.
Kemudian menyerahkan semangkuk bubur kepadaku.
“Ini mas buburnya, perlu air putih tidak mas ?” tanya gadis kecil itu.
“Boleh yang hangat gelas kecil saja.” Jawabku.
“Iya sebentar saya ambilin yam as.” Kata gadis kecil itu.kasihan gak sekolah sudah ikut jualan orang tuanya, batinku. Sehingga ada rasa pengen tahu saja, kenapa gak sekolah.
“ini mas air putihnya.” Kata gadis kecil itu.
“Makasih,, gak sekolah dik ?” tanyaku.
“Gak mas, udah lulus SMP terus ikut nyak eeh ibu cari uang. Mas juga gak sekolah ?” tanyanya membuat aku sadar kalau lahi bolos sekolah.
“Gak baru ijin gak masuk sekolah.” Kataku kemudian aku menyantap bubur pesananku tadi.
Saat sedang menyantap bubur datang beberapa orang yang kemudian ikut duduk dan makan juga di situ.
“Gilaa padepokan ki Marto Sentono tadi di obrak abrik anak anak katanya…!” ucap salah satu orang yang datang itu.
“Tapi hebat itu Anak bisa mengalahkan si telapak tangan Besi, padahal dia juga anak dari pendekar sakti juga katanya.” Sahut yang lain.
Aku hanya menunduk, semoga mereka tidak tahu jika orang yang dimaksut adalah aku. Mungkin saja mereka hanya mendengar berita nya saja. Tidak melihat kejadinya pikirku, kemudian aku mencuri dengar pembicaraan mereka.
Ada rasa terkejut, padepokan itu dikenal orang cukup banyak sampai di desa ini. anmun aku lebih heran lagi ketika ada yang mengatakan jika Jaka Santosa adalah anak pendekar pilih Tanding yang bernama Mentorogo. Nama yang aneh, tapi kayaknya aku pernah dengar nama itu. aku mencoba mengingatnya tapi tak berhasil juga. Sudah begitu masih dibilang jika Jaka Santosa memiki saudara laki laki juga yag tidakkalah hebatnya dan mungkin akan mencari pelakunya.
Aku jadi kaget dan spontan ingat mas Sidiq, karena aku tadi mengaku sebagai mas Sidiq dan sempat menyebut nama lengkap mas Sidiq. Aduh kenapa jadi malah makin ribet begini urusanya, padahal mas Sidiq kan baru dala mas penyembuhan dari patah tulang kakinya, batinku.
Aku cepat cepat keluar dari warung itu setelah membyar jjanku, aku ingin segera menemui mas Sidiq. Aku harus cerita apa adanya pada mas Sidiq, agar dia lebih berhati hati lagi. kalau perlu gak usah kerja lagi saja dari pada bahaya. Apa lagi ayah dan bunda sudah tidak terpuruk lagi secara ekonomi. Usahanya sudah mulai jalan dan kabarnya ayah juga akan bangkit lagi untuk muai usaha grafting.
Setelah membayar aku segera menuju ke tempat kerja mas Sidiq untuk memintakan ijin tidak masuk kerja.
*****
Sampai di tempat kerja mas Sidiq, aku menemui pemilik counter. Awalnya mengira aku mas Sidiq juga, namun setelah aku jelaskan akhirnya paham juga. Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi pada mas Sidiq dan bos yang orang cina itu memahami dan mengijinkan.
“Iya gak papa yang penting Sidiq sehat dulu, atau kalau bisa boleh saja dia servis di sana nanti biar ada yang antar jemput HP kalau sudah jadi.” Uca bos nya mas Sidiq.
“Iya nanti saya sampaikan koh, jika mas Sidiq bisa biar kasih kabar sendiri nanti.” Kataku keudian pamit untuk pulang .
Namun dalam perjalanan aku tiba tiba ingat mbak Riska, dan jadi penasaran ingin menjenguknya di rumah mbak Riska. Melihat keadaan dia bagaimana, apakah mbak Lita juga masih disana, batinku penasaran. Sehingga aku membelokkan motorku kea rah rumah mbak Riska.
Dan ternyata mbak Lita juga maih disana menunggui mbak Riska yang sudah sadar dan sedang ngobrol dengan mbak Lita yang menghiburnya. Melihat kedatanganku keduanya kaget tidak menduga aku akan kembali ke tempat itu lagi.
“Jafar,,, ada yang ketinggalan kah ?” tanya mbak Lita.
“Gak kok mbak, sengaja kesini lagi saja pengen Lihat keadaan mbak Riska.” Jawabku spontan.
“Eheemm… wah ada yang berbunga bunga jadinya, dapat perhatian dari calon ipar yang begitu Care.” Ucap mbak Lita. Sementara mbak Riska tersenyum malu.
“Aduh makasih banyak ya Jafar, mbak Riska gak nyangka kamu malah lebih Romantis dari mas Sidiq.” Jawab mbak Riska.
Malah membuat aku jadi salah tingkah. “benarkah apa yang aku lakukan ini disebut Romantis ? terus kalau mas Sidiq perhatianya ke mbak Riska bagaimana.? Kataku dalam hati.
“Masak sih mbak, memang kalau mas Sidiq perhatinya bagaimana ?” Tanyaku pada mbak Riska.
“Malah kayak gak ada perhatian Jafar…!” awab mbak Riska.
“Gak kok mbak, aku kesini juga atas perintah mas Sidiq untuk menjenguk sekaligus menjaga mbak Riska buat mas Sidiq.” Jawabku bohong.
__ADS_1
“Serius Jafar, kamu disuruh mas Sidiq ?” Tanya mbak Riska.
“Iya mbak, karena mas Sidiq khawatir dengan mbak Riska juga dengan teman teman nya yang lain.” Jawabku melanjutkan bohong.
“Owh jadi diam diam mas Sidiq itu tetap care juga sama Riska.” Ucap mbak Riska sambil tersenyum.
Aku ikut senang bisa membuat mbak Riska tersenyum, meski aku juga tidak terlalu berharap mereka nisa terus jadian nanti. Biar waktu yang kan bicara dan menunjukkan siapa yang akan jadi jodoh mas Sidiq nanti.
Kemudian aku menemanimbak Riska dan mbak Lita ngobrol, sesekali juga mbak Lita menanyakan hubunganku dengan Nia juga kedekatanku dengan Vina adiknya. Bahkan mbak Riska juga ikut menggodaku dengan mengatakan kalau mas Sidiq jadi popular di kalangan santri santri temanku juga karena aku. Bahkan mbak Lita bilang kalau aku justru punya pesona yang lebih dari mas Sidiq. Sehingga akumlah jadi salah tingkah karena malu menghadapi dua wanita yang lebih dewasa tersebut. apalagi mbak Lita malah mengajak fotor bertiga yang katanya mau dikirimkan ke Vina adiknya.
Aduh aku gak bisa menolak lagi, meski saat berfoto juga tidak saing bersentuhan tapi aku tetap saja merasa malu. Sehingga ekspresi wajahku di foto justru tampak tegang.
Kemudian ada salah seorang teman mbak Riska dan mbak Lita datang menjenguk mbak Riska.
“Owh ternyata… gak berangkat sekolah karena menjaga pacarnya yang sakit. Kenapa harus pura pura ijin sakit segala sih Diq ? Gak usah bohong juga kali, tahu gak tadi sempat gger di sekolah banyak orang nyariin kamu katanya kamu merusak sebuah Padepokan dan meluaki dua orang naggotanya. Sampai semua siswa dipulangkan lebih awal…!” ucap teman mbak Riska dan mbak Lita teersebut. Aku hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa.
“Udah Din,,, ?” Tanya MBak Riska.
“Udah apanya Ris ?” tanya baik mbak nya tersebut.
“Udah ngomel ngomelonya ?” kata mbak Riska sambil tersenyum.
“Kok kamu malah senyu senyum begitu sih Ris, katanya kamu tadi juga pingsan kok sehat sehat saja ternyata ?” kata mbak itu.
“Kamu tahu gak kalo dia bukan mas Sidiq, tapi adiknya mas Sidiq namanya Jafar.” Kata mbak Riska.
Mbaknya pun kemudian mengamati aku dengan teliti, kemudian seakan kaget dan menyadari jika aku buka mas Sidiq.
“Aduh maaf ya maaf sekali, dina kira kamu tadi Sidiq udah terlanjur ngomel ternyata salah alamat.” Kata mabk yang bernama dina tersebut.
“Gak papa mbak, sudah biasa seperti itu kok. Tadi pagi juga hampir diomelin mbak Riska juga karena dikira mas Sidiq.” Jawabku.
Mbak riska pun jadi malu ketika ingat peristiwa tadi pagi di gerbang sekolahnya. Kemudian mbak Riska dan mbak Lita menceritakan kejadian tadi pagi di sekolah sehingga mbak Bina itu pu jadi tahu permaslahhannya.
“wah wah wah gak bener ini kalau Riska saja bisa salah ngira kamu Sidiq, bisa bisa nanti lihat kamu dikira Sidiq main peluk saja gimana ?” ucap mbak dina menggoda mbak Riska.
“Enak saja kamu Dina,mana pernah Riska main peluk peluk begitu saja. Aku sama mas Sidiq gak pernah yang main peluk peluk begitu, kita masih jaga jarak aman kok.” Prores mbak Riska.
Aku hanya tersenyum saj mendengar mbak mbak yang saling bercanda itu, tapi aku berharap ucapan mbak Riska itu memang benar.
“Sebentar Din, kamu bilang tadi ada orang mencari mas Sidiq karena di tuduh merusak padepokan ?” tanya mbak Riska.
“Iya malah katanya melukai dua orang yang satu adalah murid terutua di situ yang bernama Jaka. Dan kabarnya dia juga punya saudara yang tidak kalah hebat dari Jaka juga.” Ucap mbak Dina.
“Lah Sidiq kan masih terluka belum bisa jalan ?” sahut mbak Lita.
Kemudian mereka bertiga memandang aku dengan tatapan mata yang Tajam.
“Berarti kamu Jafar pelakunya ???” ucap mereka bersamaan.
“Iya mbak, maaf karena saya diperintah eyang saya dan ini memang ada kaitanya dengan maslah keluarga saya juga.” Jawabku.
“Sidiq saja kemarin sampai terluka kok kamu bisa dengan mudah mengalahkan dia ?” tanya mbak Lita.
“Karena kemarin mas Sidiq tertipu hanya menggunakan kekuatan fisik saja sementara musuh menggunakan kekutan supranaturalnya.” Jawabku.
“Terus sekarang bagaimana kalau orang mencari Sidiq ?” tanya mbak Lita.
“Saat mas Sidiq nanti masuk sekolqhInsya Allah sudah siap menghadapi mereka semua.” Jawabku krena sudah dikasih tahu eyang Mustolih jika mas Sidiq akan dilatih eyang Jafar Sanjaya.
“Kamu Yakin Sidiq nanti bisa mengatasi itu semua ?” sahut mbak yang bernamaDina tersebut.
“Insya Allah saya Yakin dan tidak akan tinggal dia jika memang di bthkan.” Jawabku.
Semua pun terdiam tampaknya keteranganku sedikit membuat mereka agak tenang. Paling tidak mendengr aku juga tidak akan tinggal diamdan akan membanti mas Sidiq. Sehingga mereka tidak begitu khawatir lagi…!!!
...Bersambung...
...mohon selalu dukungan...
...berupa komen dan vote juga....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1