Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq berantem lagi


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Maaf pak, saya diajak kesini tidak tahu tujuanya apa dan saya bingung ketika pak Dukuh tadi mulai bicara ?” jawab salah seorang warga.


“Lah bagaimana pak dukuh ???” tanyaku pada Pak dukuh.


Pak dukuh hanya diam tak menjawab kemudian aku ajak mereka semua ke tempat anak anak muda yang sedang bermain music tadi, yang sekarang ini justru bertambah banyak jumlahnya….!!!


Dan bertepatan saat itu anak anak juga sedang berlatih sholawatan, meski dalam iringan berbagai genre musik sesuai selera mereka. Namun itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka bukanlah mabuk mabukan di situ. Melainkan sekedar bermain music dan belajar sholawatan.


Akhirnya Pak Dukuh dan beberapa orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. dalam hati aku sedikit jengkel karena mereka pergi begitu saja, meski tuduhan mereka tidak terbukti. Namun akhirnya aku menyadari, bahwa gak penting mereka mau mengaku salah tau tidak. Mau minta maaf atau tidak. Yang penting aku bisa membuktikan jika aku tidak seperti yang mereka tuduhkan.


“Mereka tadi ke sini kenapa pak “ Tanya salah seorang pemuda.


“Gak papa, hanya pingin lihat kalian bermain music dan latihan sholawatan saja.” Jawabku.


“Owh, gak di larang kan pak ?” Tanya satunya lagi.


“Gak asal kalian gak bikin ulah lagi di dusun. Mereka juga akan menerima kalian dengan baik.” kataku pada mereka.


Kemudian aku pamit untuk asuk ke rumah, mau melanjutkan pembicaraan tentang Jafar dengan Fatimah. Namun ternyata Candra dan Khotimah sudah menungguku untuk bicara lebih dulu. “sekalian saja ku ajak Fatimah.” Batinku.


“Aku panggil Fatimah dulu, sekalian Rofiq dan Arum juga kita ajak bicara sekalian.”kataku pada Candra dan Khotimah.


Saat aku keruang mujahadah, ku lihat Fatimah masih bicara dengan Jafar, sementara Nisa dan Sidiq sudah tertidur pulas di kamar masing masing.


“Jafar gak bobo nak ?” tanyaku pada Jafar.


“Nanti yah, Jafar masih takut kalo mimpi itu datang lagi.” Jawab Jafar.


Fatimah yang membelai rambut Jafar pun bicara.


“Jafar mau bobok sama bunda ?” Tanya Fatimah pada Jafar.


“Gak kok bunda, biar Jafar bobok sendiri saja.” Jawab Jafar.


“Yaudah sekarang Jafar bobo dulu ya, angan lupa berdoa.” Kata Fatimah.


Kemudian Jafar masuk ke kamarnya,eneta tidur atau sekedar masuk kamar saja.


“Aku mau bicara sama kamu, sudah di tungguin sama Candra dan Khotimah, angan lupa ajak Arum dan Rofiq juga.” Kataku pada Fatimah.


Aku kembali menemui Candra dan Khotimah, sambil menuggu yang lain aku memulai bicara.


“Apa yang akan mas Candra bicarakan ?” tanyaku.


“Begini, aku dan istriku sudah berbicara panjang lebar.   Intinya kami serius mau menitipkan anakku Wisnu padamu untuk di didik soal agama.” Ucap Candra padaku.


“Aku sangat bangga mas, kalo mas Candra dan Khotimah percaya padaku. Namun aku mungkin hanya bisa mendidik anak anak sampai lepas SD saja, setelah itu harus melanjutkan di tempat lain.” Kataku.


“Kenapa demikian ?” Tanya Candra.


“Bukan apa apa mas, kalo anak anak disini rasa mandirinya tentu kurang, karena merasa di rumah pamannya. Jadi untuk member pelajaran Hidup harus ngaji di tempat lain. Tapi mas Candra gak usah khawatir, nanti aku yang akan mencarikan mereka tempat mengaji.” Jawabku.


“Aku ikut kamu saja, kamu yang lebih faham soal itu.” kata Candra.


Kemudian Fatimah datang di ikuti Rofiq dan Arum.


“Ada pa Zain, meminta kami kesini ?” Tanya Rofiq.


“Duduk dulu saja bang, kita ngobrol santai saja disini.” Ucapku.


“Mas Candra jadi nitipin Wisnu ke sini ?” Tanya Arum.


“Iya barusan sudah bilang ke bapaknya Sidiq.” Jawab Candra.

__ADS_1


“Kalo begitu Arum juga mau nitip Panji sekalian ya !?!” ucap Arum.


“Terserah asal suami kamu mengijinkan dan siap membantu aku disini.” Jawabku ke Arum.


“Lo gak usah ngomong gitu Zain, aku pasti bantu kamu nanti.” Jawab Rofiq.


“Mas Rofiq, bicaranya jangan kayak dulu pakai lo gue gitu.  Kalo di denger orang kan gak pantes.” Protes Arum ke Rofiq.


“Gak papa Arum, itu memang bahasa keakraban kami dari dulu kok.” Jawabku.


“Tapi bener juga kata Arum, kalian kan sebentar lagi akan mengajar ngaji anak anak, jadi ada baiknya kalian menjaga sikap di depan anak anak biar gak di tiru bahasa kalian.” Ucap Candra.


“Iya sih, kalo di depan anak anak juga gak pakai bahasa gitu. Tapi kalo lagi begini gak papa kali mas.” Jawabku pada Candra.


“Takutnya nanti malah jadi kebiasaan dan keceplosan di depan anak.” jawab Candra.


Sebenarnya aku juga faham dan sepakat dengan Candra. Namun juga bisa memahami Rofiq yang memang sulit mengubah kebiasaan yang sudah bertahun tahun.


“Iya mas, Rofiq gak keberatan kok, mulai sekarang Rofiq gak pakai bahasa lo gue lagi.” Kata Rofiq.


“Iya harus lah, memang Lo gue itu bukan bahasa kasar tapi gak pas saja ketika diucapkan orang seperti kalian yang mengajar anak anak mengaji.” Kata Candra.


“Udah soal itu anggap saja sudah selesai, sekarang ganti topic soal Jafar anak mas Yasin, bagai mana ?” kata Khotimah.


“Iya, bagaimana hasil dari Ziarah kamu, barangkali ada sesuatu yang terlewatkan tadi ?” kata Candra.


“Kayaknya sudah saya sampaikan tadi semua, hanya saja saya masih di beri tugas untuk mengkaji soal tembang itu mas ?” kataku pada Candra.


Malam itu kami membahas panjang lebar tentang Jafar, dan bagaimana menyiapkan Jafar juga yang lain agar siap jasmani dan ruhaninya. Agar kelak di kemudian hari bisa salain bekerja sama di dalam mengajak kebaikan dan mencegah kebathilan.


*****


Pagi hari sebelum Sekolah


Sidiq POV


Aku tahu jika aku bukan anak kandung bunda Fatimah, aku adalah anak kandung mamah Arum dan ayah Sidiq. Namun aku sejak kecil di perlakukan baik sekali oleh bunda Fatimah, sehingga aku harus bisa melindungi adik adikku seperti ayahku yang gak kenal takut.


Sejak kecil aku sudah sering melihat bagaimana ayahku membela orang orang di sekitarnya. Dan itu sangat mempengaruhi jiwaku, ayahku adalah idola bagiku. Adikku Jafar terlalu pendiam, Sidiq tahu jika tiap hari ada saja yang merampas uang adikku. Dan Sidiq gak akan tinggal diam, meski jangan sampai ketahuan ibu guru lagi agar tidak merepotkan Ayah dan bunda Fatimah lagi.


“Sidiq ayo berangkat, Jafar sudah nungguin nih !” ajak Ayahku.


“Yah, nanti Sidiq pulangnya jalan kaki saja, mau main di rumah temen dulu.” Kataku pada ayahku.


“Mau ngapain ke rumah temen kamu, pulang sekolah kerumah dulu jangan di biasakan langsung main.” Kata Ayahku.


“Cuma bentar kok Yah, temen Sidiq mau ikut belajar gitar, tapi minta di samperin ke sininya.” Kataku pada ayahku.


“Owh tapi jangan lama lama ya, langsung pulang nanti.” Kata ayahku.


“Iya yah.” Jawabku sambil naik ke motor ayah.


Sidiq sengaja tidak menggendong tas Sidiq takut ketahuan membawa senjata ayah. Tas aku peluk erat agar tidak ketahuan ayah.


Dan sesampai di sekolah aku dan Jafar adikku turun dari motor ayah. Setelah salam dengan Ayah aku mengantar Jafar adikku ke kelasnya. Dan melewati beberapa kakak kelas sidiq yang suka merampas duit Jafar adikku.


Dan ketika tepat melewati depan mereka Jafar di cegat oleh mereka dan diminta uang jajannya.


“Mana pajak hari ini, atau kamu akan aku pukul kalo gak ngasih ?” Bentak kakak kelas ke Jafar adikku.


Aku sengaja melihat reaksi Jafar adikku dulu, dan membiarkan dia menjawab.


“Hari ini aku gak bawa duit.” Jawab Jafar adikku.


“Jangan bohong kamu, gak mungkin kamu gak bawa duit. Gak bawa duit gak boleh masuk kelas.” Kata kakak kelas itu sambil mendorong Jafar adikku.


“Kamu jangan gangguin adikku dong…!” bentak Sidiq.


“Udah mas biarin saja gak usah di layanin.” Kata Jafar Adikku.


“Eeh kamu kecil kecil mau melawan aku ya ?” kata kakak kelasku  itu.


“Kalo di sekolah aku gak berani melawan kamu, paling aku bilang ke guru nanti. Tapi kalo diluar sekolah nanti aku siap melawan kamu.” Bisik Sidiq ke orang itu.


Kakak kelasku melotot, dan hendak menampar Sidiq. Namun Sidiq sudah tahu itu, kemudian Sidiq tangkis dengan Tas Sidiq, sehingga tangan orang itu mengenai senjata Sidiq yang ada di dalam Tas. Sehingga tangan dia sakit sendiri, aku lantas menggandeng tangan Jafar adikku mengantar masuk ke kelasnya.


Setelah Jafar adikku masuk kelas, aku hampiri orang tadi dan Sidiq bilang.

__ADS_1


“Kalo berani pulang sekolah nanti kita lanjutkan, nanti kamu bawa berapa orang biar imbang ?” tantang Sidiq ke kakak kelas.


“Awas kamu nanti, mau lari kemanapun akan aku kejar.” Kata orang itu kemudian.


Tak lama kemudian, bel masuk sekolah berbunyi sehingga semua anak masuk ke kelas.


*****


Jafar POV


Aku mengkhawatirkan mas Sidiq, kayaknya tadi janjian mau berantem dengan kakak kelas itu. tapi bagaimana jika Jafar membantu nanti ketahuan Ayah bunda pasti dimarahi. Kalo gak bantu Jafar juga gak tega membiarkan mas Sidiq. Tapi kata nenek galak itu, Jafar gak boleh berantem juga.


Jafar harus bagaimana ini, tapi Jafar gak akan biarkan mas Sidiq nekat berantem dengan kaka kelas. Biar nanti jafar ikuti dari belakang saja.


Jam sekolah terasa begitu cepat, dan jam pelajaran kelas Jafar sudah habis sementara jam pelajaran mas Sidiq masih satu jam pelajaran lagi. Jafar terpaksa bohongin ayah nih. Jafar harus bilang jika diajak mas Sidiq menjemput teman mas Sidiq yang akan ikut belajar bermain Gitar.


Ya dengan begitu nanti Jafar bisa membuntuti mas Sidiq jika sudah keluar kelas. Dan saat Jafar keluar ternyata Ayah sudah menjemput di depan pintu gerbang sekolah Jafar. Jafar jadi ragu, mau berbohong takut, tapi kalo gak bohong kasihan Mas Sidiq nanti.


“Jafar, ayuk kita pulang sekarang saja. Nanti Sidiq kan mau jalan kaki kerumah temennya dulu.” Kata Ayah.


“Maaf yah, Jafar pingin ikut mas Sidiq jalan kaki saja kok. Ayah pulang aja yah.” Jawabku pada Ayah.


“Lah kenapa Jafar ?” Tanya Ayah Jafar.


“Gak papa yah, pingin jalan kaki saa sama mas Sidiq yah.” Jawabku sudah berbohong pada ayah.


“Kamu yakin Jafar ?” Tanya Ayah.


“Iya ayah, Jafar pingin punya banyak temen kayak mas Sidiq.” Jawabku pada Ayah.


“Owh yaudah, Ayah pulang saja tapi hati hati dijalan ya nak !” jawab Ayah yang selalu berkata halus pada kami. Tampaknya ayah tidak curiga, tapi Jafar sedih sudah bohong sama Ayah. Gak ada jalan lain buat bantu mas Sidiq.


Ayahku sudah jauh dari pandangan Jafar, kemudian Jafar pun berjalan menelusuri tempat yang mungkin nanti di lewati mas Sidiq dan kakak kelas itu. Jafar harus cari tempat sembunyi dulu biar gak ketahuan.


Tidak seperti saat di kelas tadi, menunggu mas Sidiq rasanya sudah lama banget tapi belum juga muncul. Sampai kaki Jafar digigitin semut merah yang terasa panas. Kemudian Jafar pindah tempat yang tidak ada semutnya.


Dan kulihat teman teman sekelas mas Sidiq sudah sebagian meninggalkan gerbang sekolah, tapi mana mas Sidiq ? pikirku.


Akhirnya kelihatan juga mas Sidiq berjalan dengan dua orang temennya. Namun diikuti juga oleh tiga orang, salah satunya kakak kelas yang hendak merampas uang Jafar tadi. Jafar gak mau kehilangan jejak, kemudian mengikuti perlahan kemana mereka pergi. Dan ternyata mereka menuju kebun kosong mau berantem. Aah dasar mas Sidiq, kenapa juga harus berantem begitu.


Jafar mencari tempat yang bisa dipakai melihat dengan jelas, namun tidak bisa terlihat oleh mereka. Itu Kakak kelas curang, jelas Jafar lihat dia bawa temen lagi yang tidak ikut, tapi tahu tahu sudah bersembunyi di sekitar tempat itu.


*****


Sidiq POV


“Hei kamu yang beraninya sama adik aku. Jangan berani berani gangguin adik aku, kalo tidak maka kamu akan rasakan ini. ini senjata yang biasa dipakai ayah aku dulu.” Bentakku pada pengganggu Jafar adikku itu.


“Ha ha ha…. Meskipun kamu bawa senjata ayah kamu tapi buat apa kalo gak bisa makainya ? itu doble stick senjatanya bruce lee. Memang kamu bisa memakainya, haaa…!” jawab kakak kelas Sidiq itu.


Sidiq gak mau diremehin, langsung saja kaki orang itu Sidiq pukul dengan benda itu. hingga dia menjerit kesakitan Dan teman disampingnya yang akan membantunya sekalian Sidiq pukul juga terkena bagian sikunya. Akibatnya sama dia menjerit kesakitan.


Meskipun aku belum bisa memainkan senjata itu seperti ayahku, namun ternyata senjata itu cukup keras sehingga begitu mengenai orang itu pada kesakitan dan menjerit jerit.


Yang satunya pun lari takut terkena pukulan senjata ayahku.


Namun tiba tiba ada yang membokong Sidiq dari belakang dan menendang sidiq hingga senjata Sidiq terlepas dari tangan dan Sidiq terjatuh.


Saat Sidiq mau bangkit dan mengambil senjata itu tahu tahu temen dia yang lain sudah duluan mengambil senjata itu dan bersiap memukul Sidiq. Sehingga Sidiq harus bergulingan kesamping sampai baju Sidiq kotor semua. Untung saja sidiq tidak terkena senjata ayah Sidiq itu.


Namun belum juga sempat Sidiq bangun, senjata itu sudah kembali siap dipukulkan. Dan sialnya samping Sidiq adalah parit. Sehingga Sidiq gak mungkin menghindari pukulan itu, haruskah sidiq menangkis dengan tangan sidiq. Tap benda itu sangat keras, apa yang harus Sidiq lakukan sekarang. Sidiq gak mau merepotkan Ayah bunda lagi, tap orang tadi curang membokong dari belakang. Sementara teman Sidiq malah gak berani bantuin Sidiq.


“Haaaa ha ha mau kemana kamu sekarang ? mau gak mau sekarang kamu akan terkena senjata kamu sendiri. Sekarang rasakan senjata ayah kamu sendiri…!” teriak orang itu.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2