Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Yasin selidiki padepokan Marto sentono


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


"Maksudnya kakiku kemarin patah, bukan hanya retak ???” tanya Sidiq.


Jafar yang merasa keceplosan kesulitan untuk menjawab pertnyaan Sidiq. “Aduh kenapa aku keceplosan, pasti mas Sidiq makin dendam ke Jaka nanti.” Ucap Jafar dalam hati….!!!


“Maaf mas, memang kemarin sebenarnya mas Sidiq mengalami patah tulang bukan sekear retak. Tapi tidak usah dibuat dendam, balasanya Jaka juga patah tangan kananya lebih parah sekarang.” Jawab Jafar.


Sidiq hanya terdiam mendengar keterangan dari Jafar, sebenarnya Sidiq menjadi sangat marah mendengar kakinya kemarin ternyata patah. Namun Sidiq sedikit terhibur mendengar Jaka sudah dihajar Jafar adiknya.


“Aku heran kenapa kemarin kakiku bisa patah padahal aku yag menendang kakinya Jaka. Karena aku lihat kaki sebelah kirinya memang agak pincang, kupikir itulah kelemahan dia.” Ucap Sidiq.


“Mas Sidiq tertipu, karena Jaka memiliki aji Tameng wojo, sedangkan mas Sidiq mengerahkan seluruh kemampuan fisik tanpa dilambari kekuata batin. Sehingga mas Sidiq seperti menendang tiang baja yang kuat, dan Fisik mas Sidiq yang kalah.” Jawab Jafar.


Sidiq mengakui kelebihan Jafar adiknya dalam hal tersebut, sehingga Sidiq pun hanya diam mendengarkan perkataan Jafar adiknya.


“Selanjutnya bagaiman agar aku bisa mengalahkan Jaka nanti ?” tanya Sidiq ke Jafar.


“Gunakan kekuatan batin selain fisik, karena di padepokan Jaka sekarang berkumpul kawan kawan mereka yang satu pemahaman.” Jawab Jafar.


“Darimana kamu tahu ?” tanya Sidiq.


“Tadi Jafar mengintip dan sempat ketahuan, dan ada beberapa orang yang ikut membantu mereka dari padepokan serupa.” Jawab Jafar.


“Apakah ada kemungkinan nanti guru mereka juga akan turun tangann ?” Tanya Sidiq.


“Itulah yang sampai sekarang ini masih Jafar pikirkan mas, makanya Jafar pengen Fokus di situ dulu. Kalau kondisi darurat kita memang harus menyampaikan ini kepada Ayah.” Kata Jafar.


“Sebenarnya aku gak mau libatkan Ayah, Ayah sudah cukup Lelah biarkan ayah bunda tenag di rumah saja Jafar.” Kata Sidiq.


“Paling tidak, kita butuh restu dan arahan ayah yang lebih pengalaman dari kita mas.” Kata Jafar.


“Aku rasa belum saatnya Jafar, kecuali jika memang tetua mereka benar benar ikut turun tangan baru kita butuh kehadiran atau campur tangan ayah. Sudah bertahun tahun ayah beradu kekuatan dengan musuh musuhnya yang tangguh apa kita tega melibatkan ayah dalam urusan kita ini.” Kata Sidiq.


“sebenarnya gak tega juga mas, tapi ini juga akan mengancam Ayah bunda kita karena muncul keturunan musuh ayah yang akan balas dendam ke ayah.” Jawab Jafar.


Sidiq da jafar saling mempertahankan pendapatnya masing masing, hingga pada akhirnya Jafar hanya bisa mengalah untuk sementara merahasiakan dulu masalah ini dari ayahnya. Satu hal yang tidak di sadari oleh Sidiq dan Jafar, jika Jaka sudah mengatur siasat licik yag akan meminta bantuan gurunya ki MArto Sentono membantu secara Diam diam.


Sidiq yang terlalu PD dengan kemampuan dia dan Jafar adiknya agak meremehkan lawan. Sehingga akan membahayakan Sidiq dan Jafar sendiri.


*****


Sementara di Padepokan Jaka, Marto Sentono sedang memanggil Jaka dan Bayu Aji.


“Bagaiman perkembangan tangan kamu Jaka ?” tanya ki Marto Sentono.


“Sudah semakin baik guru, namun belum bisa digunakan seperti biasanya.” Jawab Jaka Santosa.


“Seandainya kakang Joyo Maruto masih, luka seperti itu tidak butuh waktu sehari bisa disembuhkan. Tapi sayang kakang Joyo Maruto hilang lenyap bak ditelan bumi bersama murid nya Mentorogo Ayah kamu Jaka.” Ucap Marto Sentono.


“Iya guru, Jaka pernah denger ayahku cerita tentang wak guru Joyo Maruto. Hanya saja waktu itu saya juga masih kecil jadi tidak terlalu ingat semuanya.” Jawab Jaka.


“Maaf guru, lantas bagaimana rencana kita menghadapi bocah sakti itu guru ?” sahut Bayu Aji.


“Tidak usah khawatir, aku sudah perhitungkan semua itu. sesakti apapun itu bocah, namanya anak anak ya tetap anak anak masih kurang pengalaman dalam hidup. Masih belum cukup banyak makan asam garam kehidupan.” Jawab Marto Sentono.


“Setidaknya kita perlu waspada Guru. Mengingat kakang Jaka saja bisa dilukai bahkan saya dibuat tidak bisa bergerak sama sekali.” Kata Bayu Aji.


Marto sentono diam sesaat kemudian komat kamit baca mantera dan sesaat kemudian wujudnya menghilang dari hadapa dua muridnya.


Jaka yang sudah pernah melihat ilmu gurunya itu tidak terlalu terkejut, namun Bayu Aji yang baru pertama kali melihat jadi heran dan bingung. Mencari keberadaan gurunya, kemudian Bayu Aji berdiri mencari keberadaan gurunya.


Namun baru saja dia tegak berdiri badanya jadi kaku dan tidak dapat bergerak, seperti di sekap dengan tangan yang kuat dan tak kasat mata.


“Apakah kamu bisa bergerak sekarang Bayu ?” Terdengar suara Marto Sentono di telinganya tapi tidak kelihatan wujudnya.


“Ampun guru, murid tidak dapat bergerak sama sekali tolong lepaskan guru.” Terika Bayu Aji.


Kemudian Marto Sentono melepaskan Bayu Aji dan menampakkan kembali Wujudnya.


“Sesakti apapun anak itu kalau aku sekap begitu, kemudian kepalanya kamu pukuli apa dia masih bisa tahan ?” tanya Marto Sentono kepada Bayu Aji.


Bayu Aji baru paham maksut dari gurunya tersebut.


“Ampun guru, saya baru paham maksudnya sekarang, dan saya yakin kita bisa mengalahkan bocah itu guru.” Kata Bayu Aji.


Marto Sentono dan Jaka pun hanya tersenyum bangga.


“Itulah kenapa aku tadi bilang, kalau cukup aku yang melawan anak itu dengan cara seperti itu. dan sasaranya adalah kepala anak itu. sebab kalau memukul yang lain takutnya justru mengenai guru yang tidak tampak.” Ucap Jaka kemudian.


“Iya kakang, sekarang Bayu baru paham.” Jawab Bayu Aji.


“Nanti pada saatnya kalian berdua akan aku wariskan juga ilmu itu, agar tidak terlihat oleh musuh.” Kata Marto Sentono.


“Terimakasih Guru…!” Jawab Jaka dan Bayu serempak.


Mereka pun hanya tinggal menunggu tangan Jaka pulih dan siap untuk menjalankan rencana liciknya.


*****


Di tempat lain Jalu yang sedang persiapan memulai ritual berendam di tujuh tempuran sungai sedang melakukan ritual pembuka. Untuk memulai berendam pertama di tempuran sungai Opak dan sungai Oya. Butuh waktu sekitar satu jam mencapai tempat itu dari rumah Jalu, sehingga Jalu sudah harus berangkat jam setengah sebelas malam. Agar tepat jam dua belas malam dapat memulai masuk dan berendam di sungai.


Jalu mempersiapkan sesaji sepasang Ayam jantan betina sesuai dengan persyaratan. Kemudian sepayang ayam itu dibunuh diambil darahnya dan dijadikan satu dalam wadah khusus. Dan diletakkan di tanah yang diapit dua sungai tersebut.


Kemudian Jalu muli turun ke anak sungai yang mempertemukan dua sungai menjadi satu terrsebut. Setelah menebarkan kembang setaman dan menyulut Dupa atau kemenyan.


Dan saat mulai berendam Jalu sambil dudukdi batu sungai dan badanya tenggelam di air sebatas leher mulai membaca Mantera mantera.


“……… Ingsun ngundang kang baurekso panggonan iki, Supoyo ngrekso badan ingsun. Ngrekso jasad ingsun kang bakal ngupoyo mustikaning wesi. Kanggo sampurnaning aji kang lumarap ing awak ingsun……. Tumeko…. Tumeko ing jasad ingsun, angrewangi ingsun, dadio aji aji ingsun ajiku giling wesi. Wesi kang bakal lebur ono tangan ingsun….. wus cumawis ayam sajodo minongko daharan baju barat lan getih sak cangkir kanggo nyancang pikir…. Biso o dadi sarono anggon ingsun luru kamulyaning urip……..!


(….. aku memanggil yang menguasai tempat ini, supaya membantu/menjaga aku. Membantu jasadku yang akan mencari mustika besi. Untuk menyempurnakan ajian yang masuk kedalam tubuhku…. Datanglah….. datanglah ke jasadku. Membantu aku,jadilah ajianku Gilig Wesi. Besi bakaln lebur di tangan aku…. Sudah tersedia ayam sepasang dan darah satu cangkir buat mengencangkan pikir…… agar bisa jadi sarana dalam saya mencari kemuliyaan Hidup…..! )


Jalu terus melafalkan Mantera mengundng khodam yang akan membantu Jalu mendapatkan ajian Giling wesi atau menyempurnakan ajain giling wesi.


Sampai menjelang subuh baru Jalu keluar dari sungai tersebut, rasa dingin tidak Jalu rasakan. Tekadnya sudah bulat untuk mendapatkan kesempurnaan ajian tersebut.


Begitulah perjalanan jalu dalam mempersiapkan diri mencari susuk emas di kuburan ayahnya Maheso Suro. Semua dilakukan demi akan membalas dendam kepada Yasin. Jalu yang belum tahu jika Sidiq adalah anak dari Yasin tidak terlalu memikirkan Sidiq yang jadi musuhnya juga. Namun Jalu lebih terfokus kepada bagaimana cara menghadapi Yasin nanti.


*****


 


Yasin POV


“Sepertinya memang aku harus kembali turun gunung, aku merasa was was juga kepada anak anakku. Kalau ternyata padepokan itu mempelajari ilmu Tameng Wojo bisa jadi ada hubungannya dengan joyo Maruto atau Mentorogo muridnya.” Kataku dalam hati.


Aku harus bicara dengan Fatimah istriku, Fatimah harus diberi pengertian tentang ini, pikirku. Aku kemudian menemui istriku yangsedang diwarung sendirian, karena Isna sedang sekolah.


“Mau ngapain mas, katanya lagi bikin kolam kecil kok malah nyusul kesini, kangen ya ?” Goda istriku.


Entah kenapa ucapan Fatimah kali ini mengingatkan saat awal awal dulu dia jadi istriku. Sering sekali bilang seperti itu, sebelum kami secara terbuka menyatakkan sudah saling mencintai.


Aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Kamu kayak masih pacaran saja bilang begitu.” Jawabku.


“Ya gak papa kan kita kan nikah dulu baru pacaran.” Ucap Fatimah.


“Aku mau bicara serius nih.” Ucapku.


“Serius amat, biasanya Fatimah serius saja mas jawabnya selengean ?” jawab Fatimah.


“Ini soal keselamatan anak anak kita, jadi aku memang sangat serius kali ini.” jawabku.


Seketika Fatimah pun menjadi tegang, jika sudah membicarakan keselamatan anak anak. mendadak wajah Fatimah pun menampakkan rasa cemasnya.


“Apa ada yang mengancam anak anak kita mas ?” Tanya Fatimah panik.


“Pastinya aku belum tahu, tapi aku jadi ingat kata kata Khotimah dulu ketika menyampaikan pesan dari yuyut. Khotimah bilang jika Jafar disukai makhluk Astral dan ada yang mengincar Jafar. Dan saat ini Jafar hampir menginjak usia tujuh belas tahun kan.” Ucapku pada Fatimah.


“Kenapa denga usia tujuh belas tahun mas ?” tanya Fatimah.


“Untuk oraang biasa tidak begitu pengaruh, tapi bagi Jafar yang punya kekhususan jadi beda.” Jawabku.


“Bedanya apa ?” tanya Fatimah lagi.


Kemudian aku menjelaskan kepada Fatimah, dengan menggambarkan dan menceritakan kejadian sewaktu Mentorogo dan Maheso Suro dulu menculik wanita denagn cirikhas khusus yang lahir pada selasa kliwon dan jumat kliwon. Dengan persyaratan khusus akan dijadikan tumbal ilmu iblis oleh Joyo Maruto, maheso Suro dan Mentorogo.


Fatimah pun masih ingat peristiwa itu, karena waktu itu ada rang ke rumah yang mita bantuan kepadaku. Dan aku dibantu saudara saudarku berhasil membebaskan dua gadis tersebut. ( dalam Novel Isyaroh di ceritakan secara detail )


Kemudian aku jelaskan jika Jafar meski lahirnya bukan pada hari hari tersebut tapi memiliki cirri khusus yang disukai khodam khodam tertentu. Makanya Yuyut mendidik Jafar dari saat maih kecil agar memiliki kemampuan mempertahankan dir sendiri. Namun sebagai ayahnya aku tidak akan tega membiarkan Jafar berjuang sendirian.


“Terus rencana mas apa sekarang ?” tanya Fatimah.


“Aku akan kumpulkan lagi saudara saudara kita untuk membantu kita menjaga dan menyelamatkan anak anak kita. Terutama Jafar yang memang jadi incaran khusus.” Jawabku.


“Apa Sidiq dan Nisa juga terancam mas ?” tanya Fatimah mendesakku.


Aku terpaksa menceritakan informasi yang aku dengar adanya Padepokan yang mempelajari ilmu Tameng wojo. Ilmu yang dimiliki Mentorogo,salah satu musuhku. Dan aku khawatir itu ada hubungannya dengan Mentorogo serta akan membalaskan dendamnya kepadaku atau kepada anak anak ku.


Fatimah mendengarkan dengan sangat serius, bahkan tampak ketakutan mendengar ceritaku.


“Kalau bisa mereka jangan sampai keluar dari pondok saja mas, bisa berbahaya.” Sahut Fatimah.


“Itulah yang aku khawatirkan, karena mereka harus sekolah di luar pondok. Jadi mau gak mau harus keluar pondok juga.” Jawabku.


“Lalu apa yang akan mas Lakukan sekarang ?” tanya Fatimah.


Secara singkat aku jelaskan jika aku akan mengajak Rofiq untuk menyelidik Padepokan tersebut. jika dirasa perlu baru menyampaikan kabar kepada yang lain. Karena tidak mau kejadian yang menimpa Zulfan terulag lagi.


Karena tentu bukan aku saja yang akan terancam, tapi juga saudara saudaraku yang lain. Termasuk anak anak mereka juga mungkin akan jadi pelampiasan.


“Ya gak papa mas, tapi mas gak kayak dulu lagi sekarang jadi jangan bertindak sendiri. Di samping usia juga makin tua saat ini sudah tidak pernah main jurus jurus lagi.” kata Fatimah.


“Iya aku juga sadar soal itu, makanya mau ajak rofiq sekedar menyelidik saja dulu.” Jawabku.


“Kapan mas ?” Tanya Fatimah.


“Sekarang juga, aku gak mau menunda nunda lagi perasanku gak tenang saat ini.” Jawabku.


“Berarti mas hari ini akan pergi ke padepokan itu ?” Tanya Fatimah.


“Iya, tapi ke tempat Rofiq dulu sekalian ngajak Dia.” Jawabku.


Fatimah terdiam sesaat, seakan memikirkan sesuatu.


“Mas beneran mau ngajak mas Rofiq ?” Tanya Fatimah.


“Iya beneran, buat jaga jaga saja kan aku juga sadar kalau sudah makin tua sekarang.” Jawabku.


“Bukan karena pengen ketemu mamahnya Sidiq kan ?” tanya Fatimah.


“Kamu kok sekarang malah jadi cemburuan begitu sih Fat ? Perasaan kamu dulu gak kayak gitu deh, bahkan aku sering ketempat Arum juga kamu gak pernah nanya begini.” Tanyaku.


“Kalau dulu kan sama Sidiq mas, kala sekarang kan hanya sendirian kesana. Kalau pas Arum disana juga sendirian bagaimana ?” tanya Fatimah.


Aku jadi makin heran Fatimah sampai berpikir seperti itu.


“Apa bedanya sih, tapi baiklah kamu telpon Arum dulu saja Rofiq ada dirumah tidak. Kalau gak ada ya aku gak jadi kesana.” Jawabku.


Fatimah pun kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi Arum. Kemudian menghubungi Arum dan berbincang bincang lama. Mereka pun tampak akrab dalam berbicara seakan tidak ada masalah. Tapi kenapa Fatimah masih saja suka cemburu juga, pikirku.


“Yasudah tu mas rofiq juga ada di rumah, Fatimah sudah bilang kalau mas mau kesana.” Kata Fatimah.


“Udah gak cemburu lagi nih ?” godaku.


“Iya gak, tapi sebelum berangkat Fatimah pijitin dulu sini mas ? pengen lihat peredaran darah mas sekarang.”kata Fatimah.


Aku pun mengikuti kemauan Fatimah saja, aku biarkan Fatimah memegang leherku dari belakang kemudian juga punggung dan lainya.


“Udah mas, hati hati kalau mau berangkat.” Kata Fatimah.


Aku pun berangkat ke rumah Rofiq dan Arum, setelah Fatimah tak lagi merasa curiga atau cemburu.


>>>>>


…..


…..


Sesampai di rumah Rofiq aku sudah ditunggu Rofiq dan Arum. Aku bahagia melihat keduanya rukun selalu.


“Tumben lo Zain, mau kesini saja minta bini lo telpon dulu ?” tanya Rofiq.


“Iya aku yang minta tadi, takutnya mengganggu kalian saja.” Jawabku berkilah.


“Ada apa memangnya kok kayaknya serius banget.” Tanya Rofiq.


“Mau ajak kamu bang buat melihat kondisi sebuah padepokan yang agak mencurigakan.” Jawabku.


“Lah jangan ajak suamiku mas, dia sekarang gak pernah lagi mengurusi kekerasan.” Protes Arum.


“Sapa juga yang mau main kekerasan, aku hanya ajak buat lihat kondisi saja kok.” Balasku ke Arum.


“Kan ujung ujungnya juga nanti pasti ada ribut.” Ucap Arum.


“Gak lah, aku akan jaga suamimu tenang saja.” Jawabku.


“Iya Rum, gak papa Zain juga dah lama gak olah fisik kayaknya.” Ucap Rofiq.


“Benar bang, udah capek kerja cari nafkah saja sekarang.” Jawabku.


Akhirnya aku dan Rofiq pun jadi berangkat mencari keberadaan Padepokan itu.


…..


…..


…..


Sesampai di wilayah dimana Padepokan itu berada aku dan Rofiq mencari warung buat istirahat dan bertanya posisi padepoka tersebut.


Dan dari seseorang aku mendapatkan lokasi Padepokan tersebut, sehingga kami pun segera menuju ke lokasi Padepokan tersebut. kemudian aku mencoba untu mengetuk Pintu Gerbang  padepokan tersebut. Seorang yang wajahnya sangar pun keluar dan menanyakan maksut kedatangan kami berdua.


“Kalian siapa dan mau apa kesini ?” tanya Orang tersebut.

__ADS_1


“Perkenalkan nama saya Zain dan ini teman saya Rofiq. Kami kesini mau bertanya tanya dan jika mungkin ingin ikut bergabung dengan padepokan ini.” jawabku.


“Masuk kesini ada syarat dan ketentuan yang harus di patuhi.” Kata orang tersebut.


“iya saya tahu. Apa syaraat untuk bisa ikut bergabung ?” tanyaku.


“Nanti guru yang akan jelaskan pada kalian.” Ucap orang itu.


Aku dan rofiq pun dipersilahkan masuk dan di pertemukan dengan gurunya yang bernama Marto Sentono. Aku dan Rofiq di pertemukan dengan orang yang sudah cukup umur tapi masih berbadan tegap. Dan berkumis tebal serta sorot mata yang sangat garang.


“Kalian berdua sudah mantab ikut gabung ke padepokan ini ?” Tanya orang tua tersebut.


“Sudah mbah, saya pengen ikut gabung dan belajar disini.” Jawabku. Sementar Rofiq hanya kusuruh diam saja.


“Ada sarat yang harus kamu penuhi untuk bisa menjadi anggota baru disini.” Lanjut orang tua itu.


“Apa itu mbah, apa saya harus bayar atau menyediakan kemnyan dan kembang truh rupa ?” tanyaku.


“Bukan Cuma itu, tapi syarat khusus yang cukup berat apa kalian sanggup ?” tanya orang yang bernama Marto Sentono itu.


“Apa itu mbah ?” tanyaku penasaran.


“Syarat pertama, kamu harus persembahkan darah perawan buat gurumu ini segabagi obat awet muda,yang kedua kamu harus siap hadir nanti saat aka nada pagelaran Akbar dan mungkin kamu juga akan di test untuk melawan orang dari padepokan lain.” Kata Orang tua itu.


“Waduh darah perawan bagaimana mbah, saya saja masih bujang belum laku laku masak harus cari darah perawan?” tanyaku iseng saja.


“Sontoloyo… ya harus kamu usahakan, sebelum itu kamu gak akan aku anggap murid padepokan ini, kecuali….!” Kata orang tua tersebut berhenti sejenak.


“Kecuali apa Mbah ?” tanyaku.


“Kecuali kamu sanggup mengalahkan ketiga murid andalanku saat ini.” Kata orang tua tersebut.


Aku berpikir sejenak, melawan tiga murid andalan boleh di coba kayakya, sekalian pengen lihat sejauh mana kemampuan murid muridnya, pikirku.


“Nah mungkin kalau itu saya malah bisa mbah.” Jawabku.


Orang tua itu malah kaget, dan melotot kepadaku.


“Kamu yakin, apa kamu pernah belajar di Padepokan Lain juga ?” tanya orang tua tersebut.


“Sudah mbah, dulu saya juga sering jadi lawan latih tanding orang sakti yang bernama Mentorogo. Saya sangat Akrab dengan mentorogo sebelum dia dikabarkan mati.” Jawabku. Entah kenapa aku merasa justru amarhaku hampir keluar di situ. Mungkin karena lihat otak mesum orang yag bernama Marto Sentono itu jadi ingat Joyo Maruto yang banyak menelan korban gadis tak berdosa.


“Jangan Asal bacot saja kamu, Mentorogo itu murid kinasih kakak seperguruanku Joyo Maruto. Apa buktinya kalau kamu pernah ladi lawan latih tanding Mentorogo.” Tanya orang tua tersebut.


“Dia sakti mbah, punya ilmu Tameng wojo dan bisa menghilang oakai ajian “popok wewe” kayaknya ( salah satu ajian untuk menghilang ).” Ucapku meyakinkan Marto Sentono. Dlam hati aku membatin, “bemar ternyata ada hubungan dengan Mentorogo dan Joyo Maruto.” Batinku.


“Jangan banyak mulut, aku mau lihat sejauh mana ilmu kanuragan kamu. Tunggulah diluar akan aku uji, jika kamu lolos maka akan jadi salah satu jago yang mungkin akan di musuhkan dengan anak muda yang sakti nanti.” Jawab Marto sentono.


Ok lah, sekalian aku akan menyelidik sejauh mana kekuatan mereka dan apakah ada pembicaraan akan balas dendam dengan orang  yang mengalahkan Mentorogo, Batinku.


Sesampai diluar Rofiq berbisik kepadaku.


“Gila lo, katanya gak pakai keributan ?” kata Rofiq.


“Memang, kan gak ada keributan hanya uji coba saja bukan ribut kan.” Jawabku santai.


“Kampret lo Zain, gue kan udah keberatan dengan badan gue yang makin tambun begini.” Kata Rofiq.


“Tenang saja cukup aku saja yang maju, bang Rofiq gak usah maju.” Jawabku.


“Mana yang katanya pernah jadi lawan tanding paman Mentorogo ?” tiba tiba salah seorang anggota Padepokan itu teriak menegur kami.


“Aku orangnya, kamu ini siapanya Kakang Mentorogo kok memanggil kakang Mentorogo dengan Sebutan Paman ?” Tanyaku sok akrap dengan Mentorogo.


“Saya adalah adik seperguruan kakang Jaka ini, dia adalah anak dari paman Mentorogo.” Ucap orang itu.


“Owh kamu Jaka, anak kakang Mentorogo dulu memang pernah cerita tentang kamu. Tapi sayang belum pernah ketemu. Itu tangan kamu kenapa ?” Jawabku dan bertanya kepada orang yang disebut Jaka.


“Saya terkena pukulan Musuh, benarkan kamu pernah jadi lawan tanding ayahku kok kayaknya masih terlalu muda.” Kata Orang yang bernama Jaka tersebut.


“Memang tapi aku betul betul pernah jadi lawan tanding ayahmu akalu sedang berlatih. Selain juga dengan adik seperguruan ayahmu yang bernama Ajar panggiring.” Ucapku meyakinkan orang orang tersebut.


“Maafkan saya paman, ternyata paman tahu banyak tentang ayah saya. Saya percaya sekarang dan tidak berani melawan paman.” Kata orang yang terebut jaka tersebut.


“Biar Bayu Aji saja yang mencoba dibantu dua orang lain, apa benar yag dia ucapkan itu.” ucap Marto Sentono.


Kemudian Orang yang pertam menegurku itu yang maju yang ternyata bernama Bayu Aji.


“Bagus sekali nama kamu, sudah siap lawan aku belum ?” tanyaku.


“Siap paman, mohon bimbinganya.” Ucap Bayu Aji hendak menyerangku.


“Tunggu tunggu, kan kamu disuruh ajak dua teman, jangan hanya sendirian nanti aku dikira gak tahu malu lawan anak anak.” Kataku.


Kulihat Bayu Aji agak tersinggung aku bilang begitu, kemudian dua orang maju membantu Bayu Aji atas perintah Marto Sentono.


“Nah begitu baru agak imbang, kalau hanya lawan satu kayaknya tanggung banget buat aku yang biasa latih tanding sama Mentorogo.” Kata kata provokatif mulai aku keluarkan.


Dan tiga orang itupun bersamaan menyerang ke arahku secara serempak. Satu dari depan, satu dari belakang dan Satunya lagi dari samping kananku.


Aku segera menyambut serangan yang dari depan yang kecepatanya cukup dan gerakanya juga cukup enteng, orangyang bernama bayu Aji. Dan serangan dia aku sambut dengan pukulan telapak tangan Suci kembangan dari jurus hijaiyah. Bayu Aji terpental dan aku segea berbalik menendang tubuh orang yang menyerangku dari belakang dan dia langsung terjatuh. Sedangkan orang yang menyerang dar kananku tadi sekarang posisinya ada di kiriku karena aku berbalik badan. Serangan dia mengarah ke kepalaku, aku menuduk menghindari dan siku kiriku aku sarangkan ke perutnya hingga dia juga jatuh terduduk memegangi perutnya yang terkena siku ku tadi.


Aku berpura pura memberi hormat pada tiga anak itu.


“Maaf kalau aku cukup serius gerakan kalin sangat cepat, jika aku bukan lawan latih tanding mentorogo pasti sudah habis terkena serangankalian tadi.” Ucapku berbohong.


Ketiganya pun bangkit dan memebrikan salam hormat ala pendekar juga. Bahkan orang yang bernama Jaka pun menghampiriku dan member hormat kepadaku dan berkata.


“Terimakasih paman, perkenalkan saya putera dari Mentorogo nama saya Jaka Santosa. Santosa adalah nama asli ayah saya. Mohon bantuan paman untuk membalaskan dendam Jaka pada orang yang telah mematahkan tangan Jaka.” Ucap Jaka sambil member Hormat.


“Siapa nama orang yang telah mematahkan tangan kamu, biar aku balas dia nanti ?” kataku seperti ikut tidak terima.


“Seorang pemuda yang masih belia tapi pukulanya sangat luar biasa, dia bernama Sidiq Sekartadji paman.” Ucap Jaka.


Spontan aku jadi sangat terkejut, masak iya Sidiq anakku yang melakukan ini dan telah menyerang padepokan ini ???


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2