Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jalu hendak Culik Riska


__ADS_3

...Jalu hendak Culik Riska...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Suasana di padepokan ki Marto Sentono


Gede Paneluh diminta ki Marto Sentono untuk memagari ruangan khusus yang dipakai menyekap Muksin dan Arsyad. Setelah itu ki Marto Sentono pun meminta Gede Paneluh membuat ‘Walat’ ( jebakan gaib yang menyebabkan orang menjadi apes atau kehilangan kekuatannya ) dan dipasang di kursi yang akan diduduki oleh Sidiq dan Jafar beserta rombongannya jika membawa rombongan.


Hal itu memang biasa digunakan oleh para pelaku supranatural untuk melemahkan lawan lawannya. Demikian jug ki Marto sentono melakukan hal tersebut untuk memperoleh kemenangan dalam Pagelaran Akbar tersebut.


Gede Paneluh pun menuruti semua keinginan ki Marto Sentono. Setelah selesai memasang pagar gaib di ruang khusus penyekapan Muksin dan Arsyad. Gede Paneluh pun menyiapkan beberapa kursi yang akan dipasangi walat melalui ritual khusus dan dengan ‘ubo rampe’ dan mantra mantra khusus juga. Dengan harapan siapapun yang menduduki kursi itu akan menjadi kehilangan seluruh kekuatannya.


Beberapa kursi dibawa ke tempat khusus dan dibacakan mantra mantra serta dipasang sebuah ‘Rajah’ ( Tulisan khusus berupa lambing dengan huruf jawa atau arab. Ada juga yang menyebut Wifik ) rajah tersebut dipasang tersembunyi di balik kursi yang tidak kelihatan.


Rajah yang dipasang serta mantra yang dibacakan dan proses ritual yang dilakukan sebenarnya adalah mengundang khodam khodam untuk menempati kursi tersebut. dan jika kursi tersebut diduduki maka khodam khodam itulah yang akan mengganggu agar kekuatan yang mendudukinya menjadi hilang atau berkurang karena diganggu khodam tersebut.


Demikian proses pemasangan yang dilakukan Gede Paneluh. Bahkan proses ritual yang dilakukan tidak hanya semalam namun diulang beberapa malam agar Khodam yang datang semakin banyak. Semua dipersiapkan agar dapat mengalahkan Sidiq dan Jafar untuk memancing kehadiran Yasin menyelamatkan mereka berdua. Dan saat itulah Yasin akan dikeroyok oleh para pelaku supranatural dan seluruh anggota Padepokan tersebut.


“Sudah selesai semua ki Gede Paneluh ?” Tanya ki marto Sentono.


“Sudah, tapi kursi yang aku beri walat biarkan disitu dulu biar setiap malam aku bacakan Mantra. Dan juga jangan sampai malah diduduki oleh anggota Padepokan ini. Karena bisa kehilangan semua kekuatan yang mereka milik nantinya.” Jawab Gede Paneluh.


“Baiklah aku serahkan itu semua ke ki Gede Paneluh yang memang ahlinya di bidang itu. biar ruangan itu tertutup dulu saja. Selain ke Gede tidak ada yang bisa masuk.” Jawab ki Marto sentono.


Disamping itu ki Marto Sentono juga memberikan laku ritual khusus kepada Jaka Santosa dan Bayu Aji untuk mempelajari ajian Welut Putih. Perasaan dendam yang sangat besar membuat mereka menjadi melakukan semua cara demi dapat menangkap Yasin. Tanpa menyadari jika mereka sudah dikibuli oleh Yasin yang berhasil menyusup dengan mengaku bernama Zain alias Jaka Gledek, nama karangan Yasin sendiri.


Persiapan yang dilakukan ki Marto Sentono pun tidak main main bersama Gede Paneluh sampai memasang Walat segala. Gede paneluh sendiri menyimpan dendam yang besar kepada Yasin, karena dia adalah keponakan dari Joyo Maruto. Sedangkan Jaka Santosa dan Gandung Santosa adalah anak dari Mentorogo. Sementara Jalu adalah anak dari Maheso Suro yang saat ini sedang mempersiapkan diri menyempurnakan ajian Gilingwesi nya. Dan akan bergabung juga dengan kelompok ki Marto Sentono, meski harus menyelesaikan ritual terakhirnya pada saat Pagelaran Akbar nanti, sehingga tidak bisa ikut sampai selesai.


…..


Flashback saat Jalu pulang dari ritual berendam di Tempuran sungai


Setelah sampai di rumahnya Jalu kemudian menghangatkan dirinya di depan perapian. Sekaligus membersihkan baju yang semalam dipakai berendam yang masih ada bercak darah dari dua orang yang dibunuhnya.


“Dua orang sialan, terpaksa aku harus mengeluarkan tenaga. Tapi gak papa lah sekalian menguji kemajuan ilmu gilingwesi ku tadi. Lumayan makin kuat saja, jadi kalau aku sudah mendapatkan susuk Emas di makam ayah aku kira seorang Yasin pun tak akan sanggup menahan pukulanku lagi. apa lagi hanya dua bocah itu.” Kata Jalu dalam hati.


Setelah merasa cukup segar Jalu beristirahat sebentar, karena berniat untuk mengunjungi makam ayahnya untuk memastikan makam ayahnya tersebut belum dibongkar orang lain. Ada kekhawatiran Jalu kalah duluan mengambil susuk emas itu.


Dan setelah cukup beristirahat Jalu pun segera berangkat menuju ke makam ayahnya yang berdampingan dengan makam Mentorogo juga. Dengan tak lupa membawa sesaji khusus untuk persembahan dan melakukan ritual disana.


Jalu  segera membakar dupa yang mengeluarkan Aroma khas dan menyebar ke sekitar tempat tersebut. Untung saja tempat itu jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak sampai tercium orang lain.


Kemudian Jalu melakukan ritual dengan memanggil khodam khodam yang berada di sekitar tempat tersebut. dengan mantra mantra khusus yang dia dapat dari Gede Paneluh.


Dan acara Ritual Jalu pun mendapat respon dari makhluk Astral di tempat itu yang berdatangan berebut sesaji yang dibawa Jalu.


“Rupanya anak manusia berbaik hati memberi hidangan pada kami. Apa yang kamu inginkan ?” Sebuah suara tanpa wujud mengejutkan Jalu. Di siang hari ada makhluk Astral yang berani keluar sarang, tentu bukan Jin rendahan, pikir Jalu.


“Aku titip makam ini agar jangan sampai ada yang membongkar selain aku.” Ucap Jalu. Meskipun suara yang dia dengar tidak Nampak wujudnya.


“Hmm… baiklah itu saja ?” tanya suara gaib tersebut.

__ADS_1


“Aku mau menuntut balas atas kematian orang tuaku ini, apa kalian bisa membantuku ?” Tanya Jalu.


“Tidak,,, hanya satu yang bisa membantumu, yaitu dalang Anyi anyi yang juga menaruh dendam kepada pembunuh ayahmu.” Kata suara gaib tersebut.


“Dimana aku bisa menemui dalang Anyi anyi itu ?” tanya Jalu.


“Sulit,,, dia sulit keluar dari belenggu yang mengikatnya. Kecuali kamu bisa memberi jalan segar kepadanya.” Jawab suara Gaib tersebut.


“Apa itu ?” Tanya Jalu.


“Bebeaskan dia dengan membebaskan keinginan manusia di sekitarnya melakukan apa saja yang dia sukai. Jangan dibelenggu dengan aturan yang menyiksa keinginan manusia.” Jawab suara Gaib itu.


“Di mana tempatnya ?” tanya Jalu.


“Berjalanlah menyisiri pantai selatan sampai menemukan sebuah bukit kecil di pantai. Ada sebuah batu besar yang tertutup jika air pasang dan kelihatan saat air laut surut, di situlah dia terbelenggu.” Ucap makhluk gaib tersebut yang langsung tak terdengar lagi suaranya.


“Bagaimana aku bisa memanggilnya ?” Tanya Jalu. Namun tak lagi mendengar jawaban karena makhluk itu telah meninggalkan Jalu. Tak tahan berlama lama di bawah sengatan sinar matahari langsung.


Jalu pun segera pergi meninggalkan tempat itu, menuju Padepokan ki Marto Sentono untuk menemui Gede Paneluh. Jalu akan menceritakan dan meminta pendapat Gede Paneluh atas apa yang dia alami barusan. Namun Jalu ingat jika harus menemui Ari sepupunya untuk memastikan rencana menculik Riska. Sehingga Jalu lebih dahulu menemui Ari di rumahnya.


…..


…..


…..


“Ari,,, apakah sudah ada persiapan untuk melaksanakan rencana kita ?” Tanya Jalu kepada Ari setelah berada di rumah Ari.


“Sudah bang, dan tinggal menunggu waktu yang telah ditentukan saja.” Jawab Ari.


“Bagus,,, tapi jangan bertindak ceroboh yang justru malah mengacaukan segalanya.” Kata Jalu.


“Baguslah kalau begitu, kamu gak usah khawatir pemuda yang menjadi penghalang kamu akans segera aku singkirkan. Asal kamu bisa melakukan tugas ini dengan baik.” Kata Jalu.


“Siap Bang, malam ini bang Jalu di sini saja dulu nanti aku panggilkan teman teman Ari agar mereka lebih mantab jika bertemu bang Jalu secara langsung.” Pinta Ari pada Jalu.


“Boleh lah, aku juga masih agak capek aku perginya besok pagi saja.” Jawab Jalu.


Dan malam itu Jalu menginap di rumah Ari sepupunya, dan mengatur sebuah rencana bersama Ari dan anak buahnya untuk menculik Riska dan di sekap di Padepokan ki Marto Sentono. Dan dengan bimbingan Jalu Ari cs mendapatkan ide bagaimana cara menculik Riska agar kesannya Riska minggat dari rumah karena persoalan keluarga.


…..


Setelah pagi hari Jalu pun segera berpamitan pergi menuju ke Padepokan ki Marto Sentono untuk menemui Gede Paneluh. Dan disana Jalu disambut dengan hangat oleh ki Marto Sentono dan semua anggota Padepokan, kecuali Jaka yang tidak suka dengan sikap Jalu yang angkuh tersebut.


“Bagaimana Adi Jalu, apa kamu semalam sukses dalam ritual ?” Tanya Gede Paneluh.


“Sukses kang bahkan mendapat cara memperoleh Mustika Ular meski belum Jalu coba cari.” Jawab Jalu.


“”Kenapa belum dicoba ?” tanya Gede Paneluh.


“Ada yang lebih penting dari itu kakang Gede Paneluh.” Jawab Jalu.


“Soal apa itu ?” Tanya Gede Paneluh.


“Aku habis menjenguk makam ayahandaku, dan disana dikasih tahu penghuni tempat itu untuk menemui dalang Anyi anyi yang disekap dan di belenggu oleh Yasin.” Jawab Jalu.


“Dalang Anyi anyi,,,? Aku memang pernah dengar itu kalau kamu bisa menemui dia kamu bisa tidak terkalahkan nanti.” Jawab Gede Paneluh.


Kemudian Jalu menceritakan saat berada di makam ayahnya, kemudian meminta pendapat Gede Paneluh.

__ADS_1


“Lakukan saja tiap malam kamu susuri sampai ketemu dan sebelum malam jumat kliwon besok kalau bisa sudah ketemu.” Jawab Gede Paneluh.


Jalu pun mengikuti kata Gede Paneluh, dan dia mulai mencari tempat seperti yang dikatakan makhluk gaib yang di makam ayahnya tersebut. Sementar ki Marto Sentono dan Gede Paneluh berisap juga untuk membuat jebakan khusus untuk mengalahkan Sidiq dan Jafar.


…..


 


Hari hari penggemblengan Sidiq, Jafar, Ihsan dan Nisa pun sudah dirasa cukup oleh Yasin. Kemudian ketiga anaknya diantar pulang ke pesantren masing masing. Karena Sidiq sudah selesai menjalankan ta'zir di Pondok Al-Huda. Sehingga Sidiq dan Ihsan diantar ke Pondok Al-Hikmah. Kemudian Jafar dan Nisa pun diantar ke Pondok Al-Huda.


Sidiq kembali berpisah dengan orang tuanya dan kedua adiknya. Karena Jafar dan NIsa juga kembali ke Pondok Pesantrennya Al-Huda sedang Sidiq ke Pondok  Pesantren Al-Hikmah.


Mereka kembali beraktivitas seperti hari hari sebelumnya, dan Yasin juga lebih sering mengunjungi karena nanti seminggu dua kali mengajar jurus Suci Hijaiyah di dua Pesantren tersebut.


Dan Sidiq  serta kedua adiknya sudah kembali bersekolah seperti sebelumnya. Sementara Sidiq menemui kokoh pemilik counter, berpamitan dan melakukan pekerjaan Servis dari pesantren saja. Dengan alasan saat ini ada kegiatan wajib setiap sore hari di Pesantren. Sehingga Sidiq tidak lagi sering keluar pesantren, lebih banyak berdiam diri di kamarnya.


Bahkan di sekolah pun Sidiq sudah jarang bertemu dengan Riska, karena Sidiq menganggap Riska mendiamkan dirinya. Sementara Riska menganggap Sidiq lah yang tidak mau lagi menemui Riska.


Sehingga hal itu diamati dan dimanfaatkan oleh Ari cs. Sehingga pada hari Rabu sebelum hari H Pagelaran Akbar di Padepokan ki Marto Sentono dilakukan, Ari cs melaksanakan rencananya untuk menjebak Riska dan akan diserahkan kepada Jalu.


Dengan mengatakan kepada Riska, Jika Sidiq hendak bicara empat mata dengan Riska di suatu tempat. Untuk membahas hubungan mereka berdua.


“Kenapa kamu yang disuruh bilang ke aku bukan yang lain ?” Tanya Riska.


“Iya Ris, kamu lihat sendiri kan kalau aku dan Sidiq sekarang sudah bersahabat baik. mungkin ini Sidiq sedang menguji aku apakah mau menyampaikan pesan kepada kamu atau tidak. Sebagai bukti kalau aku tulus bersahabat dengan dia. Jadi aku merasa harus menyampaikan begini soal kamu percaya atau tidak nanti tanyakan sendiri kepada Sidiq.” Jawab Ari, yang yakin Riska gak akan melakukan itu karena memang keduanya baru tidak saling tegur sapa.


Riska pun akhirnya percaya dengan Ari, dan berniat menemui Sidiq di tempat yang disebutkan Ari tadi.


Sementara itu…


Ari sendirian menemui Riska di kantin saat Riska berada di kantin bersama Lita dan tanpa ada Dina teman sekelas Sidiq waktu itu. Sementara Herman menemui Sidiq di kelasnya karena Sidiq tidak pergi ke kantin waktu itu karena sedang melaksanakan puasa sebagai salah satu tirakat khusus.


“Diq, maaf aku prihatin dengan hubungan kamu kepada Riska. Jadi aku tadi lancang bertanya pada Riska. Ternyata Riska itu masih sangat mencintai kamu, dan tadi sampai menitikkan air mata karena sedih.” Ucap Herman bersandiwara.


“Terus, bagaimana keadaan Riska sekarang ?” Tanya Sidiq yang terpancing omongan Herman.


“Riska tadi bilang, jika kamu gak keberatan Riska mau bicara langsung padamu Diq. Dia mau jelaskan kenapa gak hubungi kamu, karena ternyata HP dia disita orang tuanya. Sementara mau bilang langsung kepadamu dia masih takut. Jadi dia minta tolong padaku, karena Riska sejarang tahu kalau kita sudah bersahabat baik.” Ucap Herman.


“Di mana Riska mau berbicara padaku nanti ?” tanya Sidiq


Kemudian Herman mengatakan sebuah tempat, tapi yang jauh dari tempat yang dikatakan Ari kepada Riska. Karena Riska justru akan dipertemukan dengan Jalu yang akan membawa Riska pergi ke Padepokan ki Marto Sentono. Dan Sidiq sengaja dijauhkan dari tempat dimana Riska nanti akan dijebak. Sebuah skenario yang dibuat oleh Jalu dan Ari sebelumnya, benar benar bakat berbuat licik…!?!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2