
Karya Author tidak akan ada kemajuan
tanpa ada saran dan kritik dari reader
Yuk bantu Author berkarya lebih baik
dengan tulis kesan pesan juga saran dan kritik
di kolom komentar.
Terimaksih, selamat membaca.
.....
Kemudian Vina sambil jalan tampak sibuk chat denagn orang yang memebri informasi tadi. Aku tetap jalan di depan Vina yang jalan lambat karena sambil bermain Hp…!!!
Apa yang dikatakan Vina tadi sebenarnya memang benar, jika aku berangkat kemungkinan akan di cari. Seperti kemarin juga saat aku pulang dari tempat kerja mas Sidiq tahu tahu langsung dicegat dan hampir dipukuli. Akan tetapi tak mungkin juga aku menghindar, karena tiap hari juga harus ke sekolah.
Ada sedikit rasa khawatir juga sebenarnya, tapi aku sudah bertekad tidak akan mundur. Jika perlu akan sedikit meniru sifat mas Sidiq, agar tidak disepelekan orang meski agak susah mencoba.
Sesampai di sekolah masih cukup pagi baru ada beberapa orang yang datang di sekolah. Aku gunakan untuk ngobrol dengan Vina.
“Yang kasih info kamu siapa Vin ?” tanyaku.
“Anak Kelas B, yang rumahnya dekat taman parker.” Jawab Vina.
“Owh ya, makasih infonya Vin.” Ucapu ke Vina.
Vina hanya mengangguk tampak masih sibuk dengan ponselnya. Akhirnya aku pilih diam gak ada lagi yang bisa aku katakana ke Vina.
*****
Author POV
Sebenarnya Vina kesal dengan Jafar yang menurut Vina dianggap menyepelekan informasi yang diberikan Vina. Sehingga Vina agak malas menanggapi Jafar, karena dianggap tidak percaya omongan Vina. Sehingga Vina lebih memilih bicara dengan Lita kakaknya, menyampaikan perihal informasi yang dia dapatkan mengenai Jafar.
Sehingga Lita kakaknya Vina pun bergegas ke sekolah untuk menemui Sidiq. Untuk menyampaikan apa yang di ceritakan Vina adiknya. Lita segera berangkat ke sekolahnya kali ini menaiki sepeda motor agar lebih cepat sampai agar bisa bicara dengan Sidiq.
Lita mampir ke rumah Riska yang ternyata belum berangkat ke sekolah, dan menunggu Sidiq yang biasa lewat depan rumah Riska. Mereka menunggu di teras rumah Riska mengamati agar tahu jika Sidiq Lewat. Dan beberapa menit kemudian Sidiq sudah Nampak berjalan kaki segera Lita menghadang di jalan dan mengajak Sidiq ke rumah Riska dulu.
“Diq sebentar, ada yang penting soal adik kamu.” Ucap Lita.
“Ada apa dengan Adikku ?” tanya Sidiq.
“Kita bicara di rumah Riska dulu saja jangan di sekolah.” Ucap Lita kemudian mengajak Sidiq ke rumah Riska dulu. Sidiq agak berdebar, karena baru sekali itu masuk halamna rumah Riska dan ngobrol di teras rumah Riska.
“Ada apa sebenarnya bikin deg deg an saja ?” tanya Sidiq.
“Ini Vina adikku barusan kasih kabar kalau Jafar adik kamu akan di datangi preman di sekolahnya nanti.” Kata Lita kepada Sidiq.
Sidiq terkejut, ingat peristiwa kemarin sore saat pulang dari pondok pesantren mengantar Riska dan Lita.
“Wah kurang ajar itu orang, kalau begitu tolong sampaikan ke sekolah aku ijin hari ini mau ke sekolah adikku.” Kata Sidiq.
“Kamu mau sama siapa ke sanana ?” tanya Lita.
“Jangan lah mas, mending mas Sidiq suruh Jafar gak usah masuk sekolah dulu saja hari ini.” Riska yang dari tadi diam ikut berkomentar.
“Susah Ris, adikku meski pendiam kalau soal begini dia tidak akan menyera begitu saja. Dan sebenarnya ini salahku juga.” Jawab Sidiq.
“Kok salah kamu bagaimana ?” tanya Lita heran.
Kemudia Sidiq menceritakan apa yang dialami bersama Ihsan sepulang dari pesantren Jafar. Ketika berhenti Sholat maghrib dan kemudian salah faham dengan preman yang bernama Bagas. Sayangnya Sidiq tidak terus terang jika dia bukan Jafar seperti yang dikira Bagas dan kawan kawannya.
Lita dan Riska sampai geleng geleng kepala mendengar cerita Sidiq tersebut.
“Kamu ini Diq,,, jujur saja itu salah sifat kamu yang bikin Lita gak suka. Dalam kondisi sepeerti itu masih sempat sempatnya kamu mengelabuhi preman prean itu. dan sekarang akibatnya adik kamu yang akan jadi sasaran.” Omel Lita.
“Iya mas, Riska juga gak suka mas Sidiq begitu. Apa bedanya mas dengan preman preman itu kalau sama sama suka berantem.” Riska ikut mengomentari perbuatan Sidiq.
“Iya aku ngaku salah, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur. Dan aku harus tanggung jawab agar Adikku tidak jadi sasaran mereka.” Kata Sidiq.
“Tapi kalau mas Sidiq kesana sendiri sama saja cari masalah baru. Tentunya adik mas juga gak akan terima seandainya mas kenapa napa. Dan itu akan seakin memperpanjang masalah saja.” Kata Riska.
“Tidak ada jalan lain lagi Ris.” Jawab Sidiq.
“Ada Diq…!” kata Lita.
“Apa ?” tanya Sidiq.
“Kamu jemput Jafar adik kamu, ajak beberapa orang untuk menemui orang yang bernama Bagas. Sekalian selesaikan masalaha antara adik kamu, Nadhiroh dan Bagas. Agar masalah jadi clear, tidak ada lagi salah paham di antara mereka.” Ucap Lita.
“Apa masih ada waktu untuk itu ?” tanya Sidiq.
“Lita akan kontak Vina agar dia member tahu soal ini ke pihak pesantren agar membantu menyelesaiakan.” Kata Lita.
Awalnya Sidiq keberatan melibatkan pihak pesantren juga Nadhiroh, karena itu akan membuat Nadhiroh bisa jadi malu. Namun Lita terus mendesak dibantu Riska juga, akhirnya Sidiq mau mengikuti saran mereka.
“Ya sudahlah kalau begitu, aku akan jemput Jafar adikku untuk ijin gak sekolah dulu hari ini.” Jawab Sidiq.
“Beneran ya, kalau kamu bohong dan berbuat semau kamu sendiri Lita gak mau kenal sama Sidiq lagi.” Ucap Lita mengancam Sidiq.
“iya aku gak akan gegabah lagi, aku akan jemput Jafar semoga saja tidak kalah duluan sama preman preman itu. tapi kalau kalah duluan ya bagaimana lagi.” Jawab Sidiq.
“Nanti akan ketahuan seandainya kamu hanya mengarang cerita Diq. Karena aku bisa memantau lewat Vina adikku.” Jawab Lita.
“Iya aku janji gak akan berbuat aneh aneh fokus jemput Jafar saja. Ya sudah aku langsung berangkat saja, biar hari ini aku bolos sekolah.” Kata Sidiq.
Sidiq pun lantas segera meninggalkan Riska dan Lita untuk menemui Jafar adiknya. “Senang tapi juga susah kalau punya adik yang wajahnya mirip begini. Aku yang berbuat adikku yang akan jadi korban, aku gak akan biarkan itu. meski aku juga tidak akan melanggar janjiku pada Lita dan Riska jika memungkinkan bisa seperti itu.” kata Sidq dalam hati.
Dengan menggunakan jasa Ojek Sidiq pun langsung menuju ke sekolah Jafar untuk mengajaknya kembal ke pesantren dulu. Yang akan membahas masalah yang terjadi antara Jafar, Nadhiroh dan Bagas plus teman teman preman nya. Dan apapun keputusan dari pihak Pesantren nanti Sidiq akan mengikuti saja apapun keputusannya.
__ADS_1
*****
*****
*****
Singkat cerita Sidiq sudah sampai di sekolah Jafar, namun kedatangan Sidiq justru sedikit membuat gaduh karena dikira Jafar yang datang sekolah terlambat.
“Tumben kamu datang terlambat, biasanya tidak pernah terlambat masuk sekolah.” Ucap guru piket yang mengira Sidiq adalah Jafar.
“Maaf pak, saya bukan Jafar murid sekolah ini. Tapi saya Sidiq kakaknya Jafar yang sekolah di tempat lain.” Kata Sidiq dengan Sopan.
“Lah aku kira Jafar tadi, apa kalian Kembar ?” tanya guru itu.
“Tidak pak, saya dua tahun lebih tua dari Jafar.” Jawab Sidiq.
“Owh begitu, ada apa mau mencari Jafar ?” tanya guru piket tersebut.
“Begini pak, ini tiba tiba ada acara mendadak dari keluarga yang mengharuskan Jafar adik saya harus saya jemput pulang. Jadi saya kesini sekalian mau mohon ijin buat Jafar tidak mengikuti pelajaran sekolah dahulu.” Jawab Sidiq.
“Apa penting sekali, sampai harus meninggalkan pelajaran ?” tanya guru piket itu.
“Iya pak, bahkan saya sendiri juga bolos sekolah hari ini.” Kata Sidiq meyakinkan guru piket itu.
“Baiklah kamu tunggu disini dulu, aku buatkan surat kamu tanda tangan ya.” Kata guru tersebut.
Dan setelah memandatangani surat ijin Sidiq ditinggal sendiri, guru piket itu menghadap kepala sekolah dan menyerahkan surat izin tersebut. kemudian setelah di ACC kepala sekolah guru piket itu pun memanggil Jafar dan dipertemukan dengan Sidiq.
“Benar itu kakak kamu ?” tanya guru piket tersebut.
“Iya pak, namanya Mas Sidiq.” Jawab Jafar.
“Ya sudah, kamu diizinkan pulang bersama kakak kamu sekarang.” Kata Guru piket itu.
Kemudian Jafar pun kembali ke pesantren bersama Sidiq, tentu saja Sidiq pun harus menghadap abah gurunya Jafar juga. Karena Jafar tinggalnya di rumah induk sang Kiai ( nDalem ). Dan mereka sudah di tunggu oleh abah gurunya Jafar yang sudah mendengar peristiwa itu dari pengurus pondok.
Dan Vina lah yang menyampaikan informasi itu ke pengurus pondok, sementara Vina mendapat informasi dari Lita kakaknya. Sehingga begitu Jafar dan Sidiq masuk mereka langsung disambut oleh abah gurunya Jafar. Bahkan sebelum sempat mengucap salam langsung di beri wejangan.
“Memang kalau darah muda itu cepat sekali panas, sampai kadang kurang kontrol. Apa lagi kalian memang ada keturunan Pendekar dari leluhur kalian yang rela meninggal dibunuh orang.” Ucap abah gurunya Jafar, membuat Sidiq dan Jafar terdiam tak berucap.
Dan tanpa menunggu lama abah guru nya Jafar menyuruh Jafar mengajak Kholis dan beberapa santri yang dewasa yang tidak sekolah untuk menemui Bagas dan kawan kawanya untuk diajak bicara baik baik. dan Soal Nadhiroh akan diselesaikan di internal pondok pesantren saja, karena itu soal internal.
Sidiq dan Jafar pun hanya bisa mentaati perintah tersebut. Namun bagi Jafar ada sedikit perasaan tidak enak dengan Nadhiroh. Karena masalah ini sedikit banyak akan membuat Nadhiroh merasa malu nanti. Jafar hanya berharap Nadhiroh bisa memahami posisinya saat ini yang tidak bisa berbuat banyak dan hal itu juga disampaikan kepada Sidiq kakaknya.
Dan atas izin dari abah gurunya Jafar, maka Kholis dan Muksin yang menemani Jafar dan Sidiq untuk bicara baik baik dengan para preman tersebut. Dan tujuan mereka adalah sekolah Jafar atas petunjuk abah gurunya Jafar. Dengan pertimbangan Jika para Preman itu tentu sudah menunggu Jafar di sekolahnya saat ini.
Berangkatah Sidiq cs ke sekolah Jafar lagi, meski hanya untuk menemui Bagas cs dan mencari tempat lain untuk menyelesaikan masaah tersebut. agar tidak mengganggu anak anak sekolah yang baru belajar jika terjadi sesuatu.
Tanpa diketahui yang lain ternyata Muksin yang dari awal tidak menyukai Jafar karena meras iri. Ditambah lagi dengan kehadiran Sidiq yang kemarin jadi perhatian santri santri Putri. Sidiq, Jafar bahkan Kholis berharap Muksin yang dianggap cukup senior dan juga dipandang punya kemampuan olah kanuragan cukup bisa ikut membantu jika terjadi sesuatu. Namun ternyata Muksin justru bersorak dalam hati Jafar dan Sidiq mendapat masaah seperti itu.
“Kalian di sini saja, jangan sampai mereka melihat salah satu dari kalian. Tunjukan saja yang bernama Bagas yang mana. Biar aku yang mendatangi untuk bicara dulu dengan dia.” Kata Kholis.
“Tidak Jafar, kita satu pesantren itu saudara kalau kamu atau kakak kamu yang kesana hampir bisa dipastikan langsung ribut nanti.” Kata Kholis yang cukup bijak.
“Maafkan saya kang, gara gara saya kang Kholis jadi repot.” Ucap sidiq tulus pada Kholis.
“Santai saja kang, kita sama sama Santri juga saudara apa lagi sanad ilmu guru guru kita nyambung dan dekat sekali.” Jawab Kholis dengan tenang.
Sidiq kagum dengan Kholis yang bisa bersikap dewasa dan bijak tersebut, “ aku harus hormat dengan orang ini, tutur katanya membuat hatiku jadi adem gak semarah tadi saat berangkat.” Kata Sidiq dalam hati.
…..
…..
…..
“Assalaamu ‘alaikum, apa saya sedang berbicara dengan kang Bagas ?” tanya Kholis lembut tapi berwibawa. Sehingga seorang bagas pun hanya terpana dibuatnya.
“Wa’alaikummusaalam,,, iya saya Bagas kamu siapa dan ada maksut apa ?” tanya Bagas.
Kemudian Kholis menjelaskan apa tujuannya, dan mengatakan bersedia menjadi mediator untuk menyelesaikan masalah Bagas dengan Jafar dan Sidiq. Pembicaraan awalnya agak a lot, karena Bagas merasa membawa orang yang dianggap mumpuni dalam olah kanuragan. Namun berkat lemah lembutnya Kholis Bagas pun mau diajak berunding di suatu tempat. Itulah yang disebut ‘Suro Diro Joyoningrat Lebur dening Pangastuti’ ( dalam novel Isyaroh sudah Author bahas tentang ini ).
Tempat yang disepakati untuk berunding adalah markas Bagas cs, Kholis pun menerima itu dengan segala pertimbangan. Dengan suasana hati yang bergejolak mereka pun bersama menuju ke markas Bagas. Dan saat itu Bagas baru tahu jika yang dia hadapi semalam adlah Sidiq bukan Jafar.
Dan sampai di markas Bagas pun rombongan Bagas langsung berteriak dan menghujat Jafar dan Sidiq. Kholis yang sudah mendengar sifat Sidiq berusaha menenangkan Sidiq.
“Jangan terpancing emosi ya kang, ingat kita ini Santri bukan preman.” Ucap Kholis berbisik ke Sidiq.
“Iya kang.” Jawab Sidiq.
Ternyata Sidiq pun bisa luluh dengan kata kata Kholis yang bijak, memang pada dasarnya Sidiq hanya keras terhadap orang orang tertentu saja. Hanya kerasnya itu terkadang dirasa berlebihan sehingga image yang muncul hanya Sidiq itu keras saja.
“Maaf saudara, biar kita bisa bicara dengan tenang sebaiknya kita bicara satu satu saja. Biar lebih mudah dipahami maksunya.” Kata Kholis di tengah teriakan dan hujatan kepada Jafar dan Sidiq.
Begitu Kholis selesai bicara justr semua diam, tidak ada yang berani bersuara. Sebuah kejadian yang bias terjadi di tengah kehidupan kita. Jika bersama berani berbicara, tapi jika diminta dan diberi waktu bicara sendiri tidak ada yang berani bicara.
Melihat semuanya diam Kolis kemudian meminta Bagas sendiri yang menjelaskan apa masalahyang sebenarnya. Kenapa sampai berniat menghadang Jafar dan mau memukuli Jafar. Sampai akhirnya harus berselisih dengan Sidiq yang di kira Jafar. Namun yang terjadi justru Bagas yang menyalahkan Sidia.
“Salah dia sendiri kenapa dari awal gak bilang kalau dia bukan Jafar.” Kata Bagas.
“Iya maksudnya ada masalah apa dengan Jafar samapi mau memukuli Jafar ?” Tanya Kholis.
“Kalau itu urusan pribadi saya dengan Jafar kamu gak perlu tahu.” Ucap Bagas.
“Bukanya saya mau ikut campur pribadi kang Bagas, tapi ini masalahnya menyangkut Santri pondok pesantren kami.” Ucap Kholis mulai agak jengkel dengan Bagas yang ucapanya gak nyambung hanya mencari kesalahan Jafar dan Sidiq.
“Terus maunya mas Bagas bagaimana sekarang, soalnya kalau menurut adik saya mas Bagas menuduh adik saya merebut pacar ma Bagas.” Ucap sidiq yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Bagas pun hanya terdiam mau menantang sudah kalah tapi mau diam saja juga malu. Kemudian Bagas melirik orang yang di anggap jago berkelahi.
“Bagaiman Pras menurut kamu…?” tanya Bagas ke temannya yang bernama Prsetyo.
__ADS_1
“Ya sudah seperti rencana awal tadi saja gak usah muter muter begini, capek aku dengernya dari tadi gak jelas banget.” Ucap Prasetyo yang sebenarnya penasaran dengan Sidaq dan Jafar yang bisa mengalahkan Bagas cs.
“Maksudnya bagaimana ya saya gak paham ?” tanya Kholis.
“Maksudnya ya diselesaikan dengan cara kami, serahkan saja dua anak itu yang lain tidak akan kami libatkan.” Ucap Prasetyo sinis.
Sidiq yang sudh siap berdiri di tahan oleh Kholis dan Jafar. Sementar Muksin hanya diam seakan tidak peduli.
“Wah gak bisa begitu dong mas, itu bukan jalan keluar yang baik. bahkan masalah sebenarnya apa saja kita belum sepakat.” Kata Kholis masih dengan Sabar.
Namun orang yang bernama Prasetyo itu justru malah memukul Kholis, karena merasa sudah tidak punya argument untuk menjawab. Hanya saja kali Prasetyo salah perhitungan, karena Kholis bukan anak bawang yang hanya bisa bicara. Pukulan Prasetyo pun dapat dengan mudah dihindari oleh Kholis.
“Jangan terburu emosi kenapa mas ? kalau bisa kita bicarakan kenapa harus dengan kontak fisik ?” tanya Kholis masih mencoba mengajak dialog denagn Bagas. Sementar Sidiq sudah gatal ingin memukul orang yang bernama Prasetyo itu.
“Bayak omong kamu, aku gak punya waktu banyak ayo kita habisi saja merka semua…!” ucap Prasetyo mengajak semua menghajar Kholis dan kawan kawannya.
“Tunggu….!” Tiba tiba Muksin yang angkat bicara.
“Apa lagi ?” bentak Prasetyo.
“Aku dan kang Kholis ini hanya sebagai mediator kenapa kalian libatkan dalam masalah ini ?” kata Muksin.
Kholis pun kaget, mendengar Muksin bicara begitu, meskipun Kholis tidak berharap ada perkelahian namun mengajak Muksin sebagai antisipasi saja agar jika terjadi sesuatau yang tidak diharapkan ada persiapan.
Berbeda halnya dengan Sidiq yang jadi tahu jika Muksin tidak niat membantu dia dan Jafar. Kemudian Jafar menunjuk Prasetyo, dan menantangnya duel satu lawan satu dengannya.
Hei kamu yang sok jagoan, mending kalau kamu punya nyali lawan tanding saja satu lawan satu. Mau lawan aku atau adikku kamu boleh pilih sekarang juga, kalau kamu laki laki.” Ucap Sidiq dengan luapan amarahnya.
“Berdua saja kalian maju sekalian aku habisi…!” jawab Prasetyo.
“Tidak, jangan dengan kekerasan kalau bisa kita bicarkan dulu.” Ucap Kholis terakhir kali minta Prasetyo dan Bagas berdamai. Namun kata kata Kholis sudah tidak di gubris lagi. Apalagi anak buah bagas dan Prasetyo sudah berteriak dengan tidak jelas lagi.
“Kalau kamu takut boleh pulang, urusan kami dengan dua bocah itu.” Ucap Prasetyo.
“Yakin dengan apa yang kamu bilang itu..!” UcapKholis kali ini dengansedikit membentak.
“iya, kenapa takut.” Jawab Prasetyo.
“Baiklah, terserah kamu saja.” Ucap Kholis jengkel kali ini.
“Mas biar Jafar saja yang menghadapi dia.” Tiba tiba Jafar memegang tangan Sidiq yang hendak mendekati Prasetyo.
“Tapi kamu terlalu lembut Jafar, mas khawatir kamu gak tega terus malah di manfaatkan.” Jawab Sidiq.
“Tidak untuk kali ini, karena dari kemarin mereka sudah menyinggung martabat pesantren.” Kata Jafar.
“Ya sudah kalau begitu, tapi tetap hati hati Jafar.” Ucap seorang kakak kepada adiknya.
Dan Jafar pun mendekati Prasetyo kemudian dengan lantang dia berkata.
“Aku Jafar, yang berususan langsung dengan Mas Bagas. Aku sudah bersumpah tidak merebut pacarnya tapi dia nekad. Sekarang kalau ada yang mau membea dia maka Jafar sendiri yang akan menghadi, silahkan maju kesini.” Ucap Jafar dengan suara Lantang.
Sehingga Sidiq dan Kholis jadi kaget dengan sikap Jafar tersebut, bahkan Sidiq sebagai kakaknya baru kali ini Jafar samapi marah seperti itu.
“Kamu anak kemarin sore berani menantang aku, sekalian kakak kamu suruh maju biar aku gak tanggung menghajar kalian Santri Santri Dekil…!” bentak Prasetyo.
Tak satu orang pun menduga….
Jafar yang mendengar itu langsung menggebrak Prasetyo dengan langsung menyerang Prasetyo dengan pukulan telak ke dada Prasetyo. Hingga Prsetyo pun terjatuh dan berguling di tanah, meski masih bisa bangkit. Namun Prasetyo sendir terkejut bukan main serangan Jafar sangat cepat bahkan dirinya tidak mamupu menangkis atau bergeser menghindar.
“Kurang ajar rupanya kamu memang cari mampus…!” kata Prasetyo sambeli menyerang Jafar.
Namun Jafar kali ini menunjukkan kegaranganya sebagai lelaki. Serangan kaki Prasetyo dengan mudah di tangkap dengan tangan kirinya seakan menangkap ranting kering saja. Kemudian dengan tangan kanan Jafar memukul Paha Prasetyo yang ditangkapnya. Seketika itu juga kaki Prsetyo dilepaskan dan Prasetyo kembali jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Karena kaki kanannya seperti patah saat dipukul Jafar, hanya kaku tak dapat di gerakkan.
Jafar pun belum puas sampai di situ dengan cepat Jafar memegang kerah Baju Bagas kali ini sambil mengeluarkan ancaman.
“Kamu yang kemarin bilang anak pesantren tidak ada apa apanya, sekarang maju hadapi Jafar.” Kata Jafar dengan Lantang kemudian melempar tubuh Bagas jatuh disamping tubuh Prasetyo. Sementara anak buah Bagas tidak ada yang berani berkutik.
Namunjuga diancam oleh sidiq tidak boleh ada yang pergi, jika pergi akan dihajar oleh Sidiq. Sehingga preman preman pemula itu dipaksa melihat dua orang andalan mereka dihajar anak kecil yang masih kelas Satu SMA. Jelas nyali mereka jatuh sejatuh jatuhnya saat itu.
Kembali Jafar memegang krah Baju bagas, disamping Prasetyo. Sementar Prasetyo sendiri sudah tidak berani dengan Jafar dan hanya tertunduk saja.
“Sekarang katakana siapa yang bilang kalau akau merebut pacar Kamu…!” bentak Jafar.
Bagas kali ini benar benar kena batunya, dihadapan anak buahnya harus pasrah dan menyerah pada anak sekolah yang dianggap masih kecil tersebut.
“Cepat katakana, atau ku patahkan juga kaki kamu sekarang ?” Bentak Jafar.
“Tidak ada yang bilang,,, aku hanya dengar Nadhiroh iu suka sama kamu…!” Jawab Bagas gugup dan ketakutan.
Kholis yang melihat itu hanya tersenyum kecil, “Hebatnya Abah Guru untuk menggugah jiwa Fight si Jafar. Tapi aku yakin kaki orang itu tidak di patahkan. Hanya ditotok agar tak mampu bergerak saja.” Kata Kholis dalam hati.
“Terus kenapa kamu mau menghajar aku ?” tanya Jafar.
“Gak kok aku mengaku kalah sekarang tidak berani mengganggu kamu lagi.” Kata Bagas.
“Masih ada yang mau membela orang ini…!?!” bentak Jafar ke anak buah Bagas yang sudah ketakutan.
Tak satupun dari mereka yang berani menjawab, semua hanya tertunduk benar benar ketakutan. Namun salah satu diantaranya ada yang mencoba menghubungi sesorang dengan menirim chat. Dan di tengah mereka sedang ketakutan itu terdengar suara sepeda motor dengan suar knalpot yang memekakkan telinga serta langsung menghampiri kerumunan tersebut. Seseorang tanpa melepas Helm langsung mau menyerang Jafar, namun segera di hentikan oleh Sidiq.
“Kamu lawan aku jangan adiku ….!” Bentak Sidiq kepada orang yang hendak menyerang Jafar.
Namun orang itu tidak mendengar teriakan Sidiq karena tertutup Helm sehingga tetap mengarahkan serangnya ke Jafar.
“Jafar awas belakang kamu.” Untung saja Kholis sempat berteriak memperingatkan Jafar. Sehingga denagn cepat Jafar berbalik dan membungkuk serta menendang perut orang tersebut hingga terpental ke belakang.
Jafar bangkit untuk menghampiri orang tersebut, namun di cegah Sidiq.
“Jafar Sudah kamu jangan jadi pemarah begitu, cukup Mas Sidiq saja yang begitu. Kamu adikku yang sangat lembut jangan ikuti aku Jafar, biar Mas sidiq saja yang hajar mereka semuanya…!” Teriak Sidiq. Merasa marah karena adiknya yang biasanya sabar justru jadi seperti orang kalap begitu…!!!
Bersambung
__ADS_1