Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Keluarga Yasin kembali terancam


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Steve dan Ponco hanya tertegun mendengar ucapan Yasin tersebut.


“Baik, aku janji tidak akan mengganggu keluargamu meski kita berhadapan sebagai lawan. Dan aku juga minta kamu juga jangan libatkan keluargaku juga dalam hal ini.” Ucap Steve diikuiti oleh Ponco juga.


Akhirnya Yasin dan kedua bodyguard Rahardian itu membuat sebuah kesepakatan. Untuk sebisa mungkin menghindari pertarungan langsung. Dan seandainya harus bertempur langsung tidak akan membawa dendam kepada keluarga baik menang maupun kalah….!!!


“Baiklah, aku akan lepaskan tawanan dan satu hal lagi. Masalah bos kamu dengan aku jangan libatkan dengan pemilik usaha sebelah. Dia juga hanya mencari nafkah dan membantu orang mendapat pekerjaan. Selesaikan masalah denganku saja, mau bicara baik baik sukur atau au dengan cara bagaimana terserah. Yang penting jangan libatkan orang orang dekatku.” Pesan Yasin kepada Steve dan Ponco.


“Kalo soal itu aku gak berani jamin, tapi kesepakatan kita aku pegang betul.” Ucap Steve.


“Sampaikan saja demikian, soal bos kamu mau atau tidak itu urusan nanti.” Ucap Yasin.


Kemudian mereka pun berpisah, dan Yasin pun segera melepaskan semua tawanan termasuk pimpinan gerombolan yang tadi menyerang rumah makan pak Zul.


“Kalian kembalilah ke tempat kalian bekerja tadi, tapi ingat sekali ini aku ampuni tapi jika yang kedua kali nanti kalian masih terlibat tak ada ampun lagi.” Ucap Yasin kepada pemimpin gerombolan tersebut.


Dan mereka semua pun bergegas kembali ke tempat Rahardian sedang berembuk dengan para anak buahnya. Setelah itu Yasin pun segera berpamitan dengan pak Zul dan kembali kerumahnya bersama Amir dan lainya.


*****


Di tempat Rahardian


“Bagaimana Steve, hasil pengamatan kamu tentang olah kanuragan Yasin tadi. Apakah sekiranya kamu bisa mengalahkan dia ?” tanya Rahardian.


“Maaf, kalo saya boleh jujur bos, kita berlima melawan orang yang bernama Yasin pun belum tentu menang, jurus jurusnya unik tidak satupun aku kenali.” Ucap Steve.


“Dengan kata lain kamu kalah sama dia ?” desak Rahardian.


“Betul bos, aku tadi kalah dengan dia. Untung saja dia sportif tidak melanjutkan pertempuran ketika aku dijatuhkan.” Ucap Steve pada Rahardian.


“Jadi malam ini kita tidak bisa mencegat dia untuk kita adili ?” kata Rahardian.


Steve dan Ponco hanya diam saja, mereka bingung mau berkata apa. Selain memang merasa sulit menculik Yasin. Juga sudah ada kesepakatan khusus dengan Yasin.


“Baiklah, kita tunda dulu saja masalah ini. aku mau pergi cari kesenangan dulu, Steve kamu latih anak anak lain dengan ilu kanuragan yang kamu miliki. Jangan kecewakan aku lagi.” Ucap Rahardian sambil melangkah pergi.


Sebenarnya Rahardian bukan sekedar pergi cari kesenangan di nigt club ataupun tempat lain. Melainkan mencari orang yang sekiranya sanggup untuk mengalahkan Yasin. Rahardian sudah bertekat akan membayar berapapun bagi orang yang sanggup menangkap Yasin hidup hidup dengan cara apapun. Jika perlu mendatangkan orang dari mana saja yang mau di bayar untuk itu.


Sementara Rahardian keluar bersama asisten pribadinya dan beberapa bodyguard. Steve meminta Ponco untuk melatih anak buah Rahardian yang lain. Steve sendiri keluar dari tempat itu untuk mengamati keadaan dan merenungkan pembicaraannya dengan Yasin tadi.


“Siapa orang itu sebenarnya, dengan mudahnya dia menghindari serangan ku dan menjatuhkan aku. Teknik beladiri nya unik, belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku harus berlatih untuk bisa mengalahkan dia.” Kata Steve dalam hatinya.


Kemudian Steve beberapa kali mencoba meniru gerakan Yasin saat menjatuhkan dia dan meniru gaya menghindarnya saat menerima serangannya.


Berkali kali Steve melakukannya, namun selalu saja gagal untuk mencobanya.


“Jurus aneh, penuh misteri kenapa aku sama sekali tidak bisa menirukan gerakan dia ?” tanya Steve dalam hatinya.


Setelah jenuh mencoba dan belum berhasil Steve pun segera menemui Ponco dan ikut melatih anak buah Rahardian. Namun Ponco melihat jika Steve masih penasaran dan kadang seperti melamun atau memikirkan sesuatu. Sehingga Ponco pun akhirnya menghentikan latihan tersebut, dan mengajak Steve ngobrol.


“Tetua kok sepertinya masih menyesali kekalahan tadi ?” ucap Ponco kepada Steve.


“Tidak, aku tidak menyesal hanya penasaran dengan jurus jurusnya yang unik tadi.” Ucap Steve pada Ponco.


“Orang itu jujur tetua, tidak sombong juga jarang bertemu orang seperti itu. Selama ini yang aku tahu jujur dan tidak sombong hanya tetua saja.” Ucap Ponco.


“Tidak Ponco, ternyata masih banyak orang hebat yang tidak menunjukkan kehebatannya. Jadi kita harus belajar dari peristiwa tadi.” Ucap Steve.


Ponco hanya mengangguk mengiyakan ucapan Steve.


“Apa tetua mau menemui orang itu lagi untuk mencoba bertarung beberapa jurus lagi ?” Ucap Ponco.


“Menarik juga usul kamu Ponco, tapi buat apa toh kemungkinan kita juga akan berhadapan dengan dia sebagai lawan nanti.” Ucap Steve.


“Kan sekalian mencari titik lemahnya tetua ?” ucap Ponco.


“Tapi cara itu tidak Fair Ponco. Biar aku pecahkan sendiri gerakan gerakan dia tadi. Kau masih ingat  gerakan Zain tadi, Ponco ?” tanya Steve.


“Sedikit saja yang Ponco ingat, sebagian lagi seperti ada gerakan yang hilang.” Ucap Ponco.


“Wah sama kalo begitu, ada gerakan yang tidak bisa aku ikuti dan itu menjadi kunci dari misteri jurus ini.” ucap Steve kemudian.


“Itu juga yang Ponco pikir dari tadi tetua, jurus jurusnya seperti menyimpan sebuah rahasia gerakan tertentu yang sulit di pelajari kelemahannya. Belum lagi kemungkinan masih adanya jurus yang lain tetua.” Ucap Ponco pada Steve.


“Kita harus banyak berlatih lagi, minimal bisa mengimbangi orang itu. sayang  dia jadi musuh bos kita, coba kalo tidak aku mau belajar padanya.” Ucap Steve.


“Apa tetua tidak merasa dendam dikalahkan orang tadi ?” tanya Ponco.


“Sedikit sih, tapi lebih banyak kagum malah. Saat aku jatuh dia dengan cepat menolongku bangun. Seperti pada teman latihannya saja, padahal kita yang membuat tantangan tadi.” Ucap Steve pada Ponco.


“Itu juga yang membuat Ponco heran, tadi aku pikir mau melanjutkan menyerang tetua saat Jatuh. Kalo yang terjadi seperti itu tadi Ponco siap melanjutkan bertarung dengan orang itu.” ucap Ponco.

__ADS_1


“Hmm… iya aku juga tadi berpikirnya begitu Ponco. Tapi ternyata tidak, orang itu sangat sportif, tidak memanfaatkan lawan yang sudah jatuh untuk menyerang.” Komentar Steve.


Sebenarnya yang terjadi sebenarnya adalah Yasin mengerti jika Steve dan Ponco hanya akan mengujinya saja. Dan satu poin yang di hargai Yasin adalah ketika Steve datang saat Yasin Sholat. Dia lebih dulu menunggu sampai dia selesai sholat baru masuk. Berbeda dengan yang menimpa keluarga Sena yang sampai menewaskan Zulfan adiknya. Sebuah peristiwa yang tidak mungkin dilupakan Yasin begitu saja.


Hal itu tidak di sadari oleh Steve aupun Ponco, kenapa Yasin tidak menganggap mereka sebagai musuh yang harus dibantai. Seperti yang biasa terjadi pada waktu waktu sebelumnya. Jika melihat lawan lengah justru dimanfaatkan untuk menyerang.


Steve dan Ponco semakin penasaran dengan sikap Yasin, mereka berharap bisa bertemu bukan sebagai lawan, minimal bisa bertemu sebagai kenalan lama nantinya. Sehingga bisa saling bertukar pikiran, sehingga dapat saling berbagi.


“Ponco, kamu kan Muslim juga kenapa kamu tidak melakukan seperti yang dilakukan Zain tadi. Kalo aku kan penganut Shinto, mengikuti  papiku yang asli jepang. Meski mamiku blasteran brazil dan Australi.” Ucap Steve.


“Itu soal pribadi tetua, Ponco juga gak tahu kenapa sekarang jadi begini.” Ucap Ponco.


“iya memang, itu urusan pribadi kamu lagian kenapa jadi ngomongin kepercayaan sih ? masalah jurus tadi juga belum kelar.” Ucap Steve tersadar telah melenceng dari pembicaraan awal.


Kemudian keduanya pun masuk kedalam bangunan tersebut dan pamit untuk pulang kerumah masing masing. Karena esuk harinya sudah harus laporan pada Rahardian perkembangan melatih anak buahnya.


Begitulah tugas Steve dan Ponco yang diberi tugas tambahan selain menjadi bodyguardnya Rahardian. Dengan kemampuan bela diri yang mereka miliki, Steve dan Ponco menjadi kepercayaan Rahardian dalam hal kanuragan. Meski saat ini Rahardian sedikit kecewa dengan Steve dan Ponco, karena kalah dengan Yasin. Dan Rahardian berpikir mencari pengganti Steve dan Ponco tanpa mereka ketahui.


*****


di rumah Yasin


Yasin POV


Sesampai dirumah aku segera mencari anak istriku, belum terlalu malam jadi aku yakin mereka juga belum pada tidur. Saat ini Nisa yang sudah semakin besar tak lagi selalu menanyakan oleh oleh ketika ayahnya pulang seperti dulu lagi. Bertambahnya umur membuat Nisa jadi memahami jika pulang tidak harus bawa oleh oleh.


Meski jika ada kesempatan tetap saja Aku menyempatkan membelikan oleh oleh untuk Nisa anakku. Akan tetapi tidak menjadi sebuah keharusan lagi.


“Assalaau ‘alaikum…!” sapaku saat membuka pintu.


“Wa’alaikuussalaam, kok lama sekali mas. Memang banyak ya kerjaan nya ?” tanya Fatimah Istriku.


“Iya, banyak tanaman yang rusak parah harus mendapatkan perawatan Ekstra.” Jawabku pada Fatimah.


“Sukurlah, kalo gak ada apa apa.” Jawab Fatimah.


Dalam hati aku cemas, kalo Fatimah sampai tahu Amir sempat terluka, tapi biar besuk sajalah. Yang penting semua selamat sampai dirumah, pikirku.


“Mana anak anak ?” tanyaku pada Fatimah.


“Nisa sama Jafar lagi baca baca buku, Sidiq ikut gabung anak anak muda main gitar sekalian latihan buat acara perpisahan nanti.” Ucap Fatimah.


“Owh biarin saja, nanti aku coba tengok Sidiq, sekarang ajak Nisa dulu aku mau bicara sama Jafar berdua.” Kataku pada Fatimah.


“Ada rahasia kah sampai aku gak boleh denger ?” tanya Fatimah.


“Bukan kamu yang gak boleh denger, tapi Nisa karena masih kecil.” Jawabku.


“Owh kirain Fatimah juga gak boleh dengar.” Goda Fatimah padaku.


“Mulai deh, bikin maslah lagi…!” gerutu ku meski juga hanya bercanda saja.


“Baca apa nak. Kok asik bener sampai ayah datang saja di cuekin begitu.” Ucapku ke Jafar.


“Gak kok yah, Jafar hanya suntuk hari ini.” Jawab Jafar. Tidak biasanya Jafar bilang seperti itu.


“Suntuk kenapa nak ?” tanyaku hati hati, pada anakku yang berhati lembut itu.


“Ayah selalu membuat Jafar kuatir. Karena menempuh bahaya sendirian terus.” Ucap Jafar.


“Maksud Jafar apa nak ?” tanyaku pada Jafar.


“Ayah tadi habis berantem lagi kan yah ?” jawab Jafar.


Aku sedikit kaget, dari mana dia tahu bahkan aku saja barusan sampai dirumah. Dan juga tidak menunjukkan seperti orang habis berantem.


“Kamu tahu dari mana nak ?” bisik ku pada Jafar.


“Apa ayah lupa, kalo Jafar sudah mengingatkan ayah sebelum berangkat tadi. Dan bilang kalo Jafar sering di temuin Yuyut si nenek galak itu.” Ucap Jafar.


Aku jadi bengong, sampai segitunya kah Yuyut dalam membimbing Jafar anakku ini. Apa yang harus aku lakukan jika seperti ini terus.


“Itu sudah tugas ayah nak, ayah gak Rela kalo Sidiq dan kamu ikut menempuh bahaya bersama ayah.” Jawabku ke Jafar.


“Terus apa gunanya Ayah memerintahkan Jafar dan Mas Sidiq melatih bela diri jika tidak boleh mengamalkan seperti Ayah.” Protes Jafar.


“Bukan gak boleh, belum saatnya saja nak. Kamu masih dibawah umur sayang, mana ada ayah yang tega anaknya dalam bahaya.” Jawabku.


“Memang ada anak yang tega ayahnya dalam bahaya Yah ?” bantah Jafar kali ini.


Aku tidak menyangka jika Jafar begitu cepat berubah menjadi berani dan keras seperti itu.


“Ya memang gak ada juga nak, tapi kan beda jika yang menempuh bahaya orang tua itu namanya tanggung jawab sebagai ayah. Kalo yang menempuh bahaya anak, bagaimana tanggung  jawab seorang ayah ?” kataku pada Jafar.


“Tapi tetap saja Jafar gak mau ayah begitu, tadi Jafar sama mas Sidiq kuatir banget yah.” Ucap Jafar merendahkan suaranya.


Aku peluk Jafar anakku dan aku ciumi dia karena haru.


“Anak Ayah memang paling bisa, tapi jangan kuatir nak, apa yang ayah lakukan selalu penuh perhitungan. Bukan sekedar asal berani saja, namun semua itu sudah dengan banyak pertimbangan.” Ucapku pada Jafar.


“Jafar pingin cepet besar biar bisa bantu Ayah.” Kata Jafar.


“Ya sudah, Jafar belajar lagi saja ayah mau jenguk mas mu Sidiq dulu.” Ucapku pada Jafar.


Padahal rencana ku tadi menemui Jafar mau menanyakan perihal firasat dia. Tapi malah justru aku yang di interogasi sama Jafar. Aku pun segera melihat Sidiq yang sedang bermain gitar dengan beberapa pemuda di dusunku.

__ADS_1


Melihat aku datang semua malah berhenti, mungkin dikira aku mau melarang atau merasa terganggu.


“Lah kok malah pada berhenti, aku kan juga pingin dengerin ?” kataku pada mereka.


“Serius gak papa pak ?” tanya salah seorang pemuda.


“Iya gak papa, lanjutin saja aku juga mau dengerin.” Kataku.


Aku menemani anak anak muda yang sedang bermain gitar dan kadang juga ikut menyanyi atau mengiringi mereka. Hubungan kedekatan ku dengan anak anak muda tersebut menjadi media agar bisa sedikit memberikan nasehat kepada mereka. Tentu saja dengan pendekatan manusiawi, yaitu dengan memberikan gambaran gambaran hidup yang baik dan sebaiknya di lakukan. Bukan dengan doktrin halal hara atau surga dan neraka yang kadang terdengar menakutkan bagi kalangan tertentu.


Meskipun itu juga benar, hanya cara penyampaian yang aku gunakan sedikit berbeda. Seperti ketika ada anak  yang bertanya bagaimana jika masih suka minuman keras tapi juga pingin ikut mujahadah. Maka aku jawab, minuman keras itu haram tapi ikut mujahadah boleh. Karena mengucapkan kalimah thoyibah itu adalah kebenaran absolute. Siapapun yang mengucapkan tetap benar, bukan hanya orang soleh saja yang mengucapkan. Tapi berhenti minum khomer itu lebih baik lagi.


Dengan cara cara yang aku terapkan seperti itu, anak anak muda jadi merasa dekat denganku. Karena tidak merasa di vonis anak yang hanya membuat masalah saja. Namun tetap dianggap sebagai manusia normal atau manusiawi.


Setelah waktu cukup larut aku pun pamit untuk istirahat dan mengajak Sidiq untuk istirahat. Sementara anak anak muda yang lain masih melanjutkan obrolan ringan lainnya.


*****


esuk harinya


Setelah melaksanakan sholat subuh dan berolah raga sebentar seperti biasa aku menikmati kopi pagi sebelum mandi dan beraktifitas lain. Kali ini di temani anak dan istriku yang juga habis berolah raga. Karena masa liburan sekolah, dan Sidiq persiapan untuk perpisahan sekolahnya.


“Yah, dua hari lagi Sidiq perpisahan sekolah. Setelah itu jadi ke mamah Arum untuk minta ijin mau masuk pesantren ?” tanya Sidiq kepadaku.


“Tentu saja, nanti bareng semuanya ke rumah mamah Arum. Bersama Jafar dan Nisa juga bunda nanti.” Jawabku pada Sidiq.


“Mas Sidiq jadi masuk pesantren ana yah ?” tanya Nisa.


“Di tempat teman ayah dulu, yang sekarang punya pesantren masih di wilayah Yogyakarta juga. Biar nanti mas Sidiq memperdalam ilmu Fiqih. Besuk Mas Jafar memperdalam ilmu Hikmah dan Nisa tahfidz dan tahsin Alquran.” Jawabku pada Nisa.


“Kok beda beda yah ?” tanya Nisa kemudian.


“Karena banyak sekali ilmu agama itu, jadi harus ada yang mempelajari sesuatu secara khusus. Namun tidak meninggalkan yang lain sama sekali. Agar kalian besuk bisa saling melengkapi.” kataku pada ketiga anakku.  


“Jafar pingin belajar tahfidz juga yah, katanya kalo jadi hafidz itu nanti di akhirat bisa mempersembahkan mahkota kepada orang tuanya.” Sahut Jafar.


Kata kata Jafar membuat aku jadi merinding, mendengar ungkapan anak itu yang begitu menyentuh hati. Bahkan kulihat Fatimah sampai menitikan air matanya karena haru.


“Alhamdulillah, jika Jafar punya cita cita mulia seperti itu. namun bukan berarti yang mendalami cabang ilmu lain tidak bagus. Semua saling mendukung nak, apapun yang kamu dalami niatkan untuk ibadah.” Jawabku.


Setelah selesai ngopi dan ngobrol santai bersama keluarga, aku segera menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi dan beraktifitas seperti biasanya. Namun baru saja mulai mandi, sudah di panggil Fatimah. Katanya ada tamu yang mencari dan menunggu aku di ruang tamu.


“Mas ada yang nyari tuh, nungguin di ruang tamu sekarang.” Ucap Fatimah.


“Siapa Fat ?” tanyaku.


“Fatimah belum kenal, wajahnya kayak orang asing tadi bilang namanya Steve.” Ucap Fatimah.


Aku agak kaget mendengar ucapan Fatimah, segera aku mempercepat mandiku. Ada apa Steve pagi pagi sudah mencari aku ke rumah. Padahal baru juga semalam aku dan dia saling kenal, apakah bertujuan baik atau sebaliknya, pikirku.


Segera aku mengenakan baju ganti dan berniat menemui Steve yang sudah sampai di rumahku sepagi ini. Dengan penuh rasa penasaran aku segera menuju ke ruang tamu menemui Steve.


“Eeh kok pagi pagi sudah kemari, ada sesuatu yang penting kah Steve ?” tanyaku pada Steve.


“Iya, maaf mengganggu kamu sepagi ini. ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu, waktuku tidak banyak.” Ucap Steve Nampak buru buru.


Kemudian aku duduk di dekat Steve untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan Steve padaku.


“Ada apa ? bukankah aku sudah bilang, jangan ganggu keluargaku ?!?” tanyaku pelan setengah berbisik.


“Justru karena itu aku datang kemari, aku dengar kabar jika Bos kami Rahardian akan menculik anggota keluargamu untuk dijadikan sandera. Dalam hal ini dia menyuruh orang khusus untuk melakukan pekerjaan khusus ini.” ucap Steve.


“Apakah aku bisa mempercayai ucapan kamu ?” jawabku.


Kemudian Steve mengeluarkan ponsel dan memutar Voice Note dari anak buahnya yang mengatakan rencana Rahardian yang menyewa orang untuk menjebakku dengan menculik anggota keluargaku. Karena Rahardian menganggap Steve tak lagi bisa di andalkan.


Meski begitu aku juga tidak begitu saja percaya dengan itu semua. Bagaimanapun Steve adalah salah satu orangnya Rahardian. Aku diam sejenak, sebelum berkomentar.


“Baiklah, kali ini aku percaya tapi aku masih menunggu perkembangan. Terus apa rencana kamu selanjutnya ?” tanyaku pada Steve.


“Aku tetap di posisi Rahardian, dan ini bukti bahwa aku menepati janjiku tidak akan mengganggu keluargamu. Tapi kita tetap dalam posisi yang berbeda dan berseberangan. Jadi soal ini tergantung kamu sendiri, bisa menjaga keluargamu atau tidak.” Ucap Steve penuh percaya diri.


“Ok, terimakasih atas informasinya, Jika ini benar maka aku anggap aku berhutang kepadamu.” Ucapku pada Steve.


“Baiklah, aku gak punya banyak waktu aku harus segera menemui bos ku.” Ucap Steve langsung meninggalkan rumahku.


Aku jadi termenung memikirkan ucapan Steve tersebut. jika benar saat ini yang paling harus aku lindungi adalah Nisa anak Gadisku yang masih kecil tersebut. karena Sidiq segera masuk ke pesantren beberapa hari lagi. Sedangkan Jafar tidak akan mudah untuk diculik dengan kemampuan yang dimilikinya.


Nisa adalah sasaran paling mudah bagi mereka untuk melakukan penculikan tersebut…!?!


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2