
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Berita Nisa tertangkap sampai ke Yasin...
POV Yasin
...Berita Nisa tertangkap sampai ke Yasin...
Saat aku sedang berbicara dengan Fatimah, aku dan Fatimah melihat kedatangan Sidiq.
“Itu bukannya Sidiq, ada apa ya? Kok perasaanku jadi tidak enak,” kata Fatimah.
Aku hanya diam, karena apa yang dirasakan Fatimah pun aku rasakan juga.
“Kita tunggu saja, mudah mudahan tidak terjadi apapun,” jawabku.
“Namanya perasaan wanita mas,” sahut Fatimah.
“Assalaamu’alaikum Yah, Bunda, Doakan Sidiq sudah selesai mengerjakan Ujian,” kata Sidiq.
“Insya Allah, selama kamu rajin belajar hasil seperti apapun Ayah Bunda bangga padamu,” jawabku.
“Kapan selesainya Sidiq?” tanya Fatimah.
“Tadi terakhir Bunda,” jawab Sidiq.
“Ada keperluan lain, atau hanya mau bilang seperti itu?” tanyaku pada Sidiq.
“Sebenarnya Sidiq mau menyampaikan sesuatu Yah, tapi…?kata kata Sidiq terhenti.
“Tapi kenapa Sidiq, jangan bikin Bunda Penasaran,” kata Fatimah.
“Sidiq mau cerita tentang Nisa, saat ini Nisa baru dalam bahaya. Karena baru diincar oleh musuh Ayah,” kata Sidiq.
“Bagaimana menurut Kyai Syuhada?” tanyaku.
“Abah Syuhada, meminta Yasin sering mengunjungi Nisa. Untuk membantu Jafar menjaga Nisa,” jawab Sidiq.
Mendengar jawaban Sidiq, aku sebenarnya sangat khawatir. Jika Kang Syuhada sudah bilang seperti itu, artinya Nisa memang benar benar dalam bahaya. Namun aku berusaha tenang di depan Fatimah.
Pada saat aku merenung, terdengar Ponsel Sidiq pun berbunyi.
“Ayah, Bunda Sidiq ijin keluar sebentar mau angkat telpon,” kata Sidiq.
Kemudian Sidiq pun langsung keluar untuk menerima telpon. Cukup lama Sidiq menerima telpon, entah dari siapa.
“Mas, perasaan Fatimah dari semalam memang was-was. Apa sebaiknya kita jenguk Nisa ke Pesantren?” kata Fatimah.
“Nanti dulu, kita tunggu keterangan Sidiq, biar semuanya jelas,” jawabku.
Setelah beberapa saat, Sidiq pun memanggilku, ada kecemasan yang nampak di wajah Sidiq.
“Maaf Yah, ada yang mau bicara sama Ayah,” kata Sidiq.
Aku pun segera menghampiri Sidiq, namun Sidiq justru kembali menjauh lagi. Sehingga aku harus mengikuti Sidiq.
“Ada apa sebenarnya?” perasaanku semakin tidak menentu.
Sidiq justru malah memelukku, kemudian baru berkata.
“Maaf Yah, jangan sampai Bunda tau dulu. Tadi yang Telpon Jafar, Jafar bilang Nisa tertangkap musuh,” kata Sidiq.
Lemaslah seluruh tubuhku, bagaimana jika sampai Fatimah mendengar semua ini, pikirku.
“Kamu jangan bilang Bunda dulu, kita berangkat mengintai mereka,” kataku.
“Farayaka dimana Yah, mungkin kita butuh bala bantuan karena medan yang akan kita lalui adalah medan yang terjal,” kata Sidiq.
__ADS_1
“Farayaka sudah kembali ke markasnya, tapi kita tetap bisa menemui mereka,” jawabku.
“Lalu bagaimana Yah, langkah kita selanjutnya?” tanya Sidiq.
“Kamu langsung temui Jafar, nanti Ayah menyusul kesana,” jawabku.
“Bagaimana dengan Bunda?” tanya Sidiq.
Aku pun sedikit ragu, mau bilang atau tidak ke Fatimah. Namun aku memutuskan untuk menyimpan rahasia ini dulu. Aku gak ingin Fatimah menjadi Syok, anak gadis kesayangannya ditawan oleh musuh.
“Nanti Ayah pikir dulu, yang penting kamu segera temui Jafar, ayah nanti menyusul,” kataku.
Sidiq pun menghapus air matanya dan menemui Fatimah untuk berpamitan. Aku juga bersiap untuk menyusul Sidiq, namun harus membuat alasan yang bisa diterima Fatimah.
“Bunda, Sidiq harus segera kembali ke pesantren ada yang harus Sidiq kerjakan,” kata Sidiq kepada Fatimah.
“Kok cepet amat, baru juga sampai kan?” tanya Fatimah.
“Iya gaapa, memang Sidiq ada tugas dari Abah gurunya, biarkan Sidiq kembali ke Pesantren,” kataku.
Sidiq pun buru buru meninggalkan rumah, menuju ke Pesantren Al-Huda. Setalah itu, aku mencari Wisnu, dan meminta Wisnu untuk menjaga rumah. Karena aku harus mengamati markas musuh. Bagaimanapun aku tidak akan membiarkan Nisa anakku kenapa napa.
“Wisnu, Abi ada perlu entah kapan pulangnya. Kamu sebagai laki-laki jaga rumah ya!” ucapku.
“Iya Bi,” jawab Wisnu singkat.
Aku kembali menemui Fatimah, sambil memikirkan alasan yang tepat untuk menyusul Sidiq.
“Siapa yang bicara denganmu tadi Mas? Kok kayaknya rahasia banget?” tanya Fatimah.
“Itu Sidiq disuruh segera kembali ke pesantren. Kemudian aku diminta menemui Jafar dan Nisa sekarang,” jawabku.
“Fatimah ikut,” kata Fatimah.
“Tidak usah, nanti kalau sudah selesai urusan saja kamu aku jemput,” jawabku.
“Memang ada apa?” desak Fatimah.
“Ya intinya aku diminta ikut mengatur strategi menjaga Nisa,” jawabku berbohong.
“Gak papa kok, Nisa baik baik saja,” kembali aku harus berbohong.
Akhirnya aku segera pergi ke Pesantren Al-Huda, dalam hatiku sudah tak sabar ingin segera menolong Nisa.
*****
Saat Nisa dibawa lari Gagak Seta
Author POV
“Astaghfirrullah…kasihan sekali Nisa. Ternyata orang itu jahat, aku harus pergi ke Pesantren Nisa memberi tahu berita ini,” kata Tanti dalam hati.
Tanti yang tadinya diminta Nisa lari meminta bantuan, ternyata tidak tega meninggalkan Nisa. Hanya bersembunyi melihat kiprah Nisa melawan Gagak Seta dan Jaladara. Kemudian Tanti pun berlari menuju ke Pesantren Al-Huda.
Tanti merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Meskipun dia tidak bermaksud menjebak Nisa. Bahkan Tanti tidak menyadari jika dirinya dalam pengaruh Gendam  Ki ajar Panggiring.
Maka sampailah Tanti ke pintu Gerbang Pondok Pesantren Al Huda. Namun langkahnya di halangi oleh Jafar yang kebetulan berjaga di pintu gerbang.
“Maaf, sementara tidak bisa masuk tanpa alasan yang jelas, karena Pesantren baru tidak aman,” cegah Jafar ke Tanti.
Tanti melihat Jafar, yakin dia adalah kakak Nisa. Karena pernah melihat Foto Jafar di Ponsel Nisa.
“Iya, Assalaamu’alaikum…Mas kakaknya Nisa ya?” tanya Tanti.
Begitu Tanti menyebut nama Nisa Jafar langsung merinding dan bertanya dalam hati. “Apa terjadi sesuatu pada Nisa?” tanya Jafar dalam hati.
“Wa’alaikummussalaam…iya saya kakaknya Nisa. Ada apa dengan Nisa?” tanya Jafar.
Tanti pun menceritakan apa yang terjadi kepada Nisa. Sehingga Jafar yang cenderung diam itu, kemudian kelihatan sangat marah. Sampai Tanti ketakutan, sehingga buru buru minta ijin untuk pulang. Jafar pun segera menelpon Sidiq, yang ternyata baru berada di rumahnya. Setelah Jafar menelpon Sidiq, Jafar pun segera menemui Kyai Syuhada. Jafar ingin meminta pendapat dari Kyai Syuhada.
*****
Sementara itu Gagak Seta sudah berhasil membawa Nisa yang dalam keadaan Pingsan ke markas mereka.
“Ini Ki, anak gadis Yasin yang kita cari selama ini,” kata Gagak Seta.
__ADS_1
“Terntyata gadis itu cukup lincah ki, jadi terpaksa kita ikat,” sahut Jaladara.
“Hmm…baguslah, suruh orang siapkan perapian. Kita ikat gadis kecil ini di atas tumpukan kayu untuk perapian. Kalau Ayahnya tidak menyerahkan diri, kita bakar hidup hidup saja gadis itu,” geram Ki Ajar Panggiring.
Kebencian membuat Ki Ajar Panggiring kehilangan perasaan dan rasa kemanusiaan. Kemudian semua dilibatkan dalam menyiapkan perapian. Nisa sendiri mulai sadar dari pingsannya, namun dalam kondisi yang terikat di sebuah tiang kayu dan diatas kayu yang siap untuk dibakar.
“Astaghfirrullah…di mana aku ini?” ucap Nisa.
“Jangan salahkan kami gadis cantik, kalau kamu terpaksa aku libatkan dalam masalah ini?” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Kakek ini siapa, dan apa salah saya Kek?” tanya Nisa masih mencoba sopan.
“Aku biasa dipanggil Ki Ajar, salah kamu adalah terlahir dari seorang ayah yang bernama Yasin,” jawab Ki Ajar Panggiring.
Mendengar nama itu Nisa sangat kaget, meski sudah pernah mendengar namanya. Namun baru kali ini Nisa melihat langsung wajah Ki Ajar Panggiring. Nisa pun menjadi marah, sehingga keluar kata kata kasar dan provokatif.
“Owh dasar Kakek tua, tidak berani melawan Ayah dan kaka kakakku terus menjadikan aku sebagai tawanan, cuih…!” kata Nisa.
Ki Ajar Panggiring, menjadi murka mendengar ucapan Nisa. Tidak peduli Nisa masih anak-anak, Ki Ajar Panggiring pun menampar pipi Nisa dengan keras. Sehingga Nisa yang dalam keadaan terikat tak dapat berkutik. Mau gak mau harus menerima tamparan keras Ki Ajar Panggiring.
Tangan Ki Ajar Panggiring pun membekas di pipi Nisa. Nisa mengeluarkan darah di sudut bibirnya, namun tidak menjerit apalagi menangis. Justru sorot mata Nisa tampak marah sekali kepada Ki Ajar Panggiring.
“Sungguh tidak kusangka, musuh Ayahku begitu pengecut. Dengan gadis kecil sepertiku saja tidak berani bertarung secara fair. Lepaskan ikatanku, aku akan melawanmu kakek tua…!” bentak Nisa.
Ki Ajar Panggiring pun merasa disepelekan oleh anak kecil. Sehingga merasa tersinggung, dan berniat melepaskan ikatan tali yang mengikat Nisa.
“Bedebah, bocah bau kencur berani menantangku,” geram Ki Ajar Panggiring.
“Mending bau kencur, daripada kamu tua bangka sudah bau tanah,” jawab Nisa memancing emosi Ki Ajar Panggiring. Ki Ajar Panggiring pun terpancing sehingga hendak menampar Nisa kembali.
“Lepaskan ikatanku, tidak usah melawan Ayah atau kakak kakakku, aku sanggup menghabisi orang tua bau tanah sepertimu,” tantang Nisa.
“Godril…lepaskam Gadis ini, jika perlu akan aku buat dia menyesal pernah terlahir ke dunia…!” teriak Ki Ajar panggiring. Memerintahkan salah satu anak buahnya untuk melepas Nisa. Nisa pun akhirnya terlepas dari ikatan, namun sayangnya tas sekolah yang berisi senjata buatan Sidiq tidak terbawa. Sehingga Nisa pun harus menghadapi Ki Ajar Panggiring dengan tangan kosong saja.
Keduanya pun sudah saling berhadapan, meski masih dalam jarak yang cukup jauh.
“Kemana tas sekolahku tadi ya?” tanya Nisa dalam hati.
“Aku sebenarnya hanya ingin menjadikan kamu umpan, agar ayahmu yang datang. Tapi mulut kamu sama dengan ayah kamu, sehingga peru aku ajari sopan santun,” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Kayaknya kebalik kakek tua, akulah yang akan mengajarimu Akhlak. Biar kamu sadar kalau sudah mau masuk kubur sebentar lagi,” jawab Nisa datar.
Ki Ajar panggiring dan yang lain merasa heran dan kagum dengan sikap Nisa yang sangat berani tersebut. sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut berada di tengah musuh yang jumlahnya tidak sedikit.
“Gadis ini luar biasa, sayang dia anak musuh besarku,” kata Ki Ajar Panggiring dalam hati.
Diam diam Nisa mendapat akal untuk mengulur waktu. Berharap Sidiq atau Jafar syukur keduanya datang menolongnya.
“Bagaimana Kakek tua? Apa kamu ragu ragu melawanku. Atau lebih baik kamu lepaskan aku saja, aku ampuni kamu” ucap Nisa.
“Jangan sombong kamu, gak sadar kamu hanya gadis kecil sekali pukul juga bisa mati. Aku sebenarnya tidak tega kepadamu,” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Kalau kamu ragu, apa anak buah kamu saja yang akan menguji aku dulu?” tanya Nisa. Berharap mendapat lawan yang tidak terlalu kuat. Sambil menunggu bantuan datang.
“Semoga saja, Tanti cepat kasih kabar ke Pesantren. Aku Yakin Mas Sidiq dan Mas Jafar sudah tahu tempat ini,” kata Nisa dalam hati.
“Godril, kamu saja yang hadapi gadis itu. terserah mau kamu apakan. Asal jangan sampai mati,” kata Ki Ajar.
Nisa mendengar ucapan Ki Ajar Panggiring itu justru semakin tersinggung. Sementara orang yang dipanggil Godril malah senyum senyum penuh nafsu sambil mendekati Nisa. Semakin marahlah Nisa, yang merasa dilecehkan seperti itu. Sehingga begitu Godril dalam jangkauan serangan. Nisa tak mau membuang kesempatan. Sebuah tendangan memutar langsung dilayangkan dengan cepat.
Naas bagi Godril, tumit Nisa mendarat tepat di pelipisnya. Sehingga Godril pun jatuh tak bisa bangun, Godril pingsan sekali terkena tendangan Nisa. Semua pun heran dengan gerakan Nisa yang cepat dan akurat. Namun satu kesalahan bagi Nisa, yang terpancing emosi. Niatnya mengulur waktu bisa gagal total.
“Aduh, harusnya aku main main dulu tadi. Gak langsung aku serang dengan kuat,” keluh Nisa dalam hati.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1