
...Sidiq bertemu mata mata ki Marto...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
"Cukup banyak penjaga yang di sana, apa perlu gunakan Sirep Megananda Gede Paneluh. untuk lindungi Jalur yang sedang nglandak?" ucap seseorang yang bersama Gede Paneluh...?!?
"Tunggu kang Lembayung, di sana ada sosok musuh besar Padepokan. Yang bahkan anaknya saja bisa kalahkan ki Marto." Jawab Gede Paneluh.
"Hmmm... yang mana orang nya, sungguh aku sangat penasaran. pengen memberi sedikit hadiah padanya." Jawab orang yang dipanggil Lembayung.
"Jangan kakang, bukan aku meragukan kakang tapi lebih baik tinggi waktunya saja." Ucap Gede Paneluh.
"Kita bertiga dengan Kalau Srenggi, apa masih bun cukup?" Jawab lembayung.
"Kakang Lembayung perlu tahu, selain ilmunya tinggi cakra di tubuhnya tidak bisa di deteksi. Bahkan aku kirim wanita untuk menggoda agar caranya hilang pun gagal. Di samping itu akalnya juga sangat cerdas," Jawab Gede Paneluh.
"Sehebat apapun dia apa sanggup hadapi gumbolo geni dariku, ditambah teluh dari Lembayung dan dapat darimu Paneluh?" ucap Kalau Srenggi. orang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat serta sorot mata yang bengis.
Yasin mengetahui keberadaan tugas orang tersebut. Namun tidak mau mengatakan pada Margono agar tidak menimbulkan kepanikan. Namun di luar perkiraan Yasin tiga orang tersebut justru akan nekad melakukan serangan.
Gede Paneluh yang sudah tahu sepakat terjang Yasin agak kewalahan meredakan ambisi dua orang sahabatnya itu.
"Kalau bisa dikalahkan dengan mudah tidak perlu aku mengundang kalian dan juga yang lainnya." ucap Gede Paneluh.
"Tapi tidak ada salahnya kita coba serang dia bersama, di sana banyak warga. Tidak mungkin dia akan mengejar kita meskipun gagal sekalipun." Ucap Lembayung.
Gede Paneluh tak dapat lagi menahan keinginan dua sahabat nya itu. Dan dengan serempak tiga orang tersebut melakukan serangan dari jarak agak dekat Kalau Srenggi menyerang Yasin dengan gumbolo geni, dan Gede Paneluh serta Lembayung melancarkan serangan batinvdengsn teluh dan walat.
Yasin terkejut mendapat serangan tak terduga. Mau menghindari takut mengenai warga jadi terpaksa Yasin menghadapi aji gumbolo geni dengan jurus YA nya.
"Kobaran api yang tinggal beberapa meter menuju ke Yasin itupun seperti tertiup angin kembali ke arah Kalau Srenggi. Menyerang kalau Srenggi sendiri.
Tidak hanya itu serangan bola bola api dan cahaya api berisi wakat dan sebagainya itu juga kembali mengarah pada pemiliknya.
Gede Paneluh dan dua sahabat nya itupun jadi kalang kabut menghindari ilmu dan akan mereka sendiri.
Gede Paneluh dan Lembayung berhasil menghindari, namun Kalau Srenggi justru terkena Ajian gombolo geni miliknya sendiri. Senjata makan tuan.
Masih untung tidak telak mengenai hanya menyerempet tubuh Kalau Srenggi saja. Sehingga Kalau Srenggi masih bisa kabur menyusul Gede Paneluh dan Lembayung.
Ketika beberapa orang hendak mengejar, mereka dilarang oleh Yasin.
"Tidak usah di kejar, mungkin itu hanya pancingan agar tempat ini kosong." kata Yasin. Meski sebenarnya maksud Yasin jika mereka mengejar justru membahayakan mereka.
"Mas Yasin gak papa?" tanya Margono.
"Alhamdulillah gapapa, perketat saja penjagaan seperti yang aku bilang tadi. Gunakan saran itu, meski sekarang arah mereka sudah jelas dari sana." Ucap Yasin.
Margono hanya mengikuti perintah Yasin tersebut. Sambil menyesali perbuatannya dan kesombongan nya dulu. Melihat Barusan Yasin dengan mudah membalikkan serangan api. "Jika dulu dia berniat membunuhku pasti sangat mudah baginya. Untung dia tidak berniat begitu." Kata Margono dalam hati.
Setelah suasana agak tenang, Yasin pun berpamitan untuk pulang.
.....
.....
.....
sampai di rumah Yasin pun segera membersihkan diri. Menghilangkan aura negatif yang mungkin masih menempel di tubuhnya. Sebelum masuk ke rumah.
Baru kemudian mengucap salam memanggil istrinya. Namun sepertinya Fatimah dan lainnya sudah tertidur pulas.
Sehingga Yasin membuka pintu dengan kunci cadangan yang dibawa. sambil mengucapkan salam...
"Assalaamu 'alaina Wa 'ala ibadika shalihin...! " ucap Yasin membaca Salam untuk dirinya dan untuk hamba hamba Allah yang solih. ((Sering dibaca saat masuk rumah yang kosong karena sedang sepi atau tidak berpenghuni.)
__ADS_1
[Semoga keselamatan diberikan pada kami dan hamba hamba yang Solih. ]
Yasin pun segera masuk ke kamar, menyusul Fatimah istrinya.
.....
.....
.....
Flashback Gede Paneluh cs yang menyerang Yasin
Kala Srenggi kabur lari terbirit-birit tidak menduga sama sekali aji gumbolo geninya mental. Bahkan menyerang dirinya sendiri, begitu juga Lembayung yang hampir disambar bola api teluh buatannya sendiri. Sedangkan Fede Paneluh lebih bisa menguasai diri karena sudah persiapan dan tahu bagaimana sepak terjang Yasin.
"Itu orang seperti bukan manusia, secara tiba tiba dari badanya keluar cahaya putih menerjang gumbolo geni hingga balik menyerang aku sendiri." Kata Kalau Srenggi.
Kala Srenggi tidak pernah tahu jika Jin pemimpin Khodam gumbolo geni saja pernah dihadapi Yasin ( dalam Novel Isyaroh 'Penampakan Jin Rambut Api' ). Dan waktu itu Yasin bahkan belum mendapatkan gemblengan khusus dari kang Salim seniornya.
"Itulah yang aku bilang chakra orang itu tidak bisa diukur. Makanya kita perlu menyatukan kekuatan dan persiapan yang matang." jawab Gede Paneluh.
Lembayung hanya diam saja, wajahnya masih pucat mengalami hal yang barusan.
"Minimal sekarang kita bisa tahu kekuatan orang tersebut. Kalau tadi memang aku belum lihat sendiri jadi masih penasaran." Jawab Kala Srenggi.
"Iya kakang, aku juga hampir saja terkena teluhku sendiri tadi. Untung bisa aku tahan, sehingga tidak mengenai diriku." Ucap Lembayung yang wajahnya masih pucat.
"Sudah sudah tidak perlu kita bahas lagi. Yang penting Jalu bisa dapatkan Kain kafan itu." ucap Gede Paneluh.
Mereka bertiga pun kembali ke markas baru mereka. Dengan langkah yang sedikit terseok-seok menahan sakitnya Kaka Srenggi berjalan mengikuti Gede Paneluh dan Lembayung.
Kemudian mereka membahas bagaimana cara melemahkan Yasin. Dengan cara mengganggu mental Yasin.
Dan dari hasil pembahasan mereka disepakati akan mulai mengganggu anak anaknya. Untungnya mereka belum tahu Yasin masih punya anak satu lagi cewek yang bernama Nisa.
Dan mereka membagi menjadi dua kelompok satu menyerang Sidiq dan tanggal satu menyerang Jafar. Dan akan saling berganti posisi melawan salah satu dari Sidiq ataupun Jafar. Mereka akan menghadang Sidiq dan Jafar dalam perjalanan pulang dari sekolahnya.
.....
.....
Sidiq POV
"Bagaimana persiapan ujian kamu Ris?" Tanya Sidiq ke Riska saat sedang di kantin Sekolah.
"Siap gak siap mas, ada Mapel yang Riska masih kesulitan." Jawab Riska.
"Pasti Soal Geometri atau ilmu ruang yang Riska kesulitan." Tanya Sidiq.
"Aku juga Diq, ajarin aku dong?!?" Sahut Lita.
"Kita jadwalkan saja nanti buat kelompok belajar, pulang sekolah kita bahas soal di rumah Riska. Gak usah lama lama, Satu jam sudah cukup," Kata Sidiq.
"Bagaimana kalau kita mulai nanti saja?" Tanya Riska semangat.
"Kalau nanti aku belum bisa, ada perlu dengan adikku Jafar." Jawab Sidiq.
"Kalau besok gimana Diq, kalau nanti aku juga belum bisa. Harus bilang ortu dulu juga kan." Jawab Lita.
"Aku juga ikut Dina juga mau belajar bareng." ucap Dina.
"Boleh, biar Riska juga ijin orang tuanya dulu." ucap Sidiq.
"Betul Diq, selain dapat restu bisa jadi dapat menu juga kalu Riska ijin orang tuanya." Sahut Ihsan.
"Huu.. dasar abdul Buthon (hamba perut alias tukang makan.) kamu." kata Sidiq memberi julukan pada Ihsan.
"Yah tega lo Diq ngatain gue begitu!?!" Gerutu Ihsan.
"Apaan tuh artinya? " tanya Dina.
"Tanya saja sana Ihsan." Sahut Sidiq.
"Apa artinya San?" Dina balik bertanya ke Ihsan.
__ADS_1
"Begini loh Say...!" kata Ihsan belum selesai langsung dipotong Dina.
"Sekali lagi lo panggil Say aku aduk wajah kamu nanti...!" Bentak Dina.
"kaan kamu panggil aku San, Aku panggil kamu Say dong biar pas." gurau Ihsan.
"Salah San, kamu panggil dia Din aja biar Dina panggilannya kamu Say...!" gurau Sidiq.
"Ah Sidiq kenapa malah belain Ihsan si Borokokok sih?!?" Ucap Dina gadis berdarah Sunda.
"Lah Say itukan singkatan dari Saythonirojim....!" Jawab Sidiq ngakak disambut yang lain. Sementara Ihsan hanya manyun saja.
"Mas Sidiq,,, tega amat sama teman sendiri ngatain gitu" tegur Riska merasa kasihan dengan Ihsan.
"Gak kok bercanda aja Riska, jadi Abdul buthon itu artinya hamba perut. Alias Ihsan ini tukang makan gitu." kata Sidiq membuat mereka jadi tertawa menertawakan Ihsan.
Mereka sepakat untuk mengadakan belajar kelompok di rumah Riska setelah pulang sekolah. Dan akan mulai melaksanakan besok harinya. Mereka tidak tahu jika Riska sedang dalam pengawasan kelompok ki Marto.
Usai Jam pelajaran pun Sidiq pulang bersama Riska dan Lita seperti biasa.
"Mas Riska merasa ada yang aneh, tiap Riska pulang sekolah selalu ada penjual cilok di depan rumah Riska. padahal ada yang beli juga gak." kata Riska.
"Gak papa kita beli aja yuk, kasihan kalau gak laku." jawab Sidiq. Sebenernya hanya ingin tahu dia pedagang beneran apa bukan.
"Bilang aja lo lapar Diq, sekalian saja beli bakso makan di tempat Riska yuk. Kita ngobrol bertiga sebentar." Ajak Lita.
"Boleh tapi bentar saja, aku mau menemui adikku rencananya." jawab Sidiq.
"Nemuin Jafar apa nemuin temennya Jafar nih?" Tanya Riska sedikit cemburu.
"Beneran Jafar, jangan cemburu gitu dong Say...!?!" Goda Sidiq.
"Say apa nih? Sayang atau saython?!?!" Protes Riska.
Sidiq lupa tadi buat lelucon dengan kata Say.
"Sayang dong, masak saython...!?" ucap Sidiq.
"Kirain anggap Riska Setan." kata Riska senyum pertama kali dipanggil say oleh Sidiq di depan orang lain.
"Uhuuuk... beneran jadi obat nyamuk kan gue...! " kata Lita.
"Gak Lita, kita gak nyuekin kok cuman bercandaan saja sekali sekali panggil sayang." Jawab Sidiq..
"Udah yuk, jadi mampir gak?" tanya Riska.
"Kalian masuk dulu aku beli cilok sebentar." ucap Sidiq. Mendekati penjual cilok misterius tersebut.
"Bang ciloknya bumbu apa saja?" Tanya Sidiq.
Karena penjual Cilok itu bukan penjual seenaknya makan bingung ditanya Sidiq begitu.
Kemudian Sidiq memandang penjual cilok itu dengan seksama.
"Owh rupanya kamu pura pura jual cilok disini, baru ngawasin siapa???" Tanya Sidiq.
penjual palsu yang ternyata adalah pria yang bertemu Sidiq sebelumnya bersama Ihsan.
Seorang yang memakai Kalung taring Harimau dan berkumis lebat.
"Diam kamu, bukan urusan kamu aku baru selidiki gadis pemilik rumah ini. Mau di jadikan Sandera oleh Padepokan, memancing pacarnya datang." jawab orang itu yang belum tahu Sidiq.
Aku pacarnya, kamu mau apa sekarang?!?" Jawab Sidiq menatap Tajam pada orang itu...?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...