Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Rumah Yasin ganti di teror


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Rumah Yasin ganti di teror...


"Assalaamu’alaikum Kang…kenapa tidak bergabung kesini saja sekalian. Pasti Kakang yang sudah menyelamatkan aku tadi…?” Ucap Yasin.


Tohari dan Jafar tidak mengerti siapa yang dimaksud Yasin, karena mereka tidak merasakan dan melihat siapa siapa di sekitar tempat itu…!


Tiba tiba berkelebat bayangan dari sebuah pohon di dekat mereka berdiri. Kemudian tahu tahu sudah berada di hadapan Yasin dan Tohari.


“Wa’alaikummussalaam Kang Yasin…masih waskito juga rupanya kang Yasin. Meski baru dalam keadaan tidak sehat.” Orang itu langsung menyapa Yasin.


“Abah Guru…maafkan Jafar tidak mengetahui keberadaan Abah Guru.” Ucap Jafar.


Tohari pun kemudian ikut menyapa.


“Subhanallah…ternyata Kyai adalah Gurunya Jafar keponakanku.” Kata Tohari.


“Kang Syuhada bisa saja, terimakasih kang sudah menyelamatkan aku. Dari mana Kang Syuhada tahu kami di sini ?” Tanya Yasin.


“Aku dihubungi Tabib Ali, yang sekarang berada dirumah kamu bersama Kang Nurudin.” Jawab Kyai Syuhada.


“Kang Ali ? Bukanya jadwal kerumahku besok untuk melakukan bekam ?” Ucap Yasin.


“Kamu lupa satu hal, Tabib Ali itu punya naluri yang kuat. Sehingga bergerak mengunjungi kamu. Dan ternyata kamu memang menempuh bahaya. Kemudian dia menghubungi aku dan Kang Nurudin.” Jawab Kyai Syuhada.


“Terus kenapa mereka gak ikut sekalian kesini kang ?” Tanya Yasin.


“Iya…mereka memilih tinggal di rumah kamu karena mengantisipasi jika rumah kamu kemudian jadi sasaran mereka yang kabur.” Jawab Kyai Syuhada.


“Astaghfirullah…aku malah gak kepikiran sampai kesitu Kang. Tapi Syukurlah Kang Nurudin dan Kang Ali berada disana.” Ucap Yasin.


“Aku paham, disamping kondisimu yang masih kurang sehat. Pikiran kamu juga sedang kalut, karena yang kamu pikirkan bukan hanya Ki Munding Suro. Tapi kamu takut akan bangkitnya lagi dalang Anyi Anyi.” Jawab Kyai Syuhada.


“Dalang Anyi Anyi ? Jadi benar kekhawatiran kita selama ini ? Jika Jin Raja khodam itu akan bangkit ?” Ucap Tohari.


“Betul Kang, dan aku sudah mendapat informasi itu dari beberapa tahun yang lalu.” Jawab Yasin.


Suasana hening sejenak.


“Ayah…apakah saat dulu waktu Jafar masih kecil Ayah sudah berhadapan dengan anak buah Jin Raja Khodam itu lagi ?” Tanya Jafar.


Yasin justru kaget ditanya Jafar begitu.


“Darimana kamu tahu Jafar ?” Tanya Yasin.


“Jafar mendapat pertanda saat itu. Jika musuh ayah yang berupa Jin akan bangkit lagi saat usia Jafar Tujuh belas tahun.” Jawab Jafar.


Semua terdiam mendengar jawaban Jafar.


“Berarti tidak lama lagi, bukankah Jafar sudah enam belas tahun berjalan. Artinya sekitar satu tahun lagi Jin Raja Khodam itu akan bangkit ?” Ucap Tohari.


“Untuk itulah aku kesini, dan malam ini juga Jafar harus aku bawa serta. Karena harus aku persiapkan untuk menerima Warisan dari kakeknya ‘Stambul Al-Quran’. Dengan keberkahan Al-Quran itulah nanti Jafar akan menghadapi Jin Raja Khodam tersebut.” Jawab Kyai Syuhada.


“Apakah eyang Sidiq Ali sudah menitipkan Stambul Al-Quran itu padamu Kang Syuhada ?” Tanya Yasin.


“Tidak seperti itu, tapi Jafar lah yang harus mencari sendiri. Dan harus menyiapkan diri lahir dan batinnya.” Jawab Kyai Syuhada.


Kemudian Kyai Syuhada melanjutkan bicaranya lagi.


“Karena saat Jin Raja Khodam itu muncul, Kang Yasin sudah tidak boleh terjun langsung menghadapinya. Itu akan menjadi tugas Jafar dan Sidiq kakaknya.” Kata Kyai Syuhada.


“Kenapa begitu Kang Syuhada ?” Tanya Yasin.


“Saat Jin itu kamu penjarakan, dia terus mengasah kemampuannya. Jadi hanya dengan Mukjizat Al-Quran dia dapat dikalahkan. Dan Stambul Al-Quran itu merupakan Al-Quran utuh tiga puluh juz yang akan dapat dibaca oleh pewarisnya. Tidak lain adalah Jafar anak kamu ini.” Kata Kyai Syuhada.


“Apakah yang lain tidak bisa membacanya Kang ?” Tanya Yasin lagi.


“Karena ukuranya yang sangat kecil, hanya sebesar kuku Ibu jari orang dewasa. Hanya Jafar yang bisa membaca.” Jawab Kyai Syuhada.


“Tapi dengan apa nanti Jafar membacanya Abah Guru ?” Tanya Jafar.

__ADS_1


“Jika sudah waktunya, ketika kamu membawa Stambul itu maka Mushaf Al-Quran akan terpampang seperti layar di hadapan kamu. Dan akan muncul surat atau ayat yang harus kamu baca untuk menghadapi musuh musuh Agama.” Jawab Kyai Syuhada.


“Jadi malam ini Jafar harus ikut abah guru ?” Tanya Jafar.


“Iya, soal Ayahmu Jafar gak usah khawatir Tabib Ali sudah temukan cara yang tepat untuk mempercepat kesembuhan ayah kamu.” Ucap Tabib Ali.


“Tapi kondisi rumah Jafar bagaimana Bah, apakah semua aman aman saja ?” Tanya Jafar masih berat meninggalkan ayah dan keluarganya yang sedang dalam bahaya.


“Kamu tidak usah khawatir. Semua akan baik baik saja.” Kata Kyai Syuhada.


“Jafar…ikutilah Abah Guru kamu. Guru adalah orang tuamu secara batiniyah, karena dia yang mengisi hatimu dengan pelajaran agama. Sedangkan ayah bundamu itu adalah orang tua lahiriyah, semua harus kamu hormati. Dan aku ridho kamu pergi bersama gurumu sekarang.” Kata Yasin.


“Tapi Ayah, apa Ayah yakin baik baik saja ?” Tanya Jafar.


“Tidak ada yang membuat Ayah merasa baik selain melihat anak anak Ayah nurut sama Guru Ngajinya.” Jawab Yasin sambil senyum.


Jafar langsung memeluk Ayahnya yang masih agak lemas, dengan linangan air mata Jafar pamit pada Ayahnya.


“Nah sudah Jafar, kamu ikut Abah sekarang juga. Kang YAsin selam minimal 40 hari Jafar tidak boleh di tengok tidak boleh dijenguk siapapun. Jafar akan kau karantina sementara waktu.” Kata Kyai Syuhada kemudian meninggalkan Yasin dan Tohari membawa Jafar pergi,setelah mengucapkan salam.


Dengan sembunyi sembunyi Yasin mengusap air matanya melihat kepergian Jafar dengan Abah Gurunya. Bagaimanapun Yasin tetap merasa Sedih berpisah dengan Jafar. Namun itu semua adalah demi masa depan Jafar untuk bisa meneruskan perjuangan melawan kebatilan.


“Sudah Yasin, anak kamu juga akan baik baik saja.” Ucap Tohari yang melihat Yasin mendadak cengeng.


“Iya kang, aku baik baik saja kok.” Jawab Yasin.


“Sudahlah gak usah malu, aku tahu kamu juga nangis kan Jafar dibawa gurunya.” Kata Tohari.


Yasin hanya diam tertunduk malu, untung saja kondisi tidak terlalu terang sehingga wajah merah yasin tidak kelihatan.


“Ayah…rombongan Pak Yadi sudah datang. Ayo kita segera pulang.” Ucap Sidiq yang datang tiba tiba.


“Syukurlah, kalau begitu bilang ke pak Yadi ada dari pihak musuh yang tertangkap satu. Biar diborgol oleh Pak Yadi.” Kata Yasin.


“Iya Ayah, tadi Paman Sena juga berhasil menangkap Bayu Aji. Sekarang sedang di bawa Pak Yadi dan kawan kawannya.” Ucap Sidiq.


“Alhamdulillah, berarti sudah berkurang kekuatan musuh.” Kata Yasin.


“Tapi dimana Jafar Yah ?” Tanya Sidiq tiba tiba menanyakan Jafar yang sudah pergi dengan Gurunya.


“Jafar sudah kembali ke pondok dijemput Abah gurunya, dan Abah guru kamu sekarang menunggu kita dirumah bersama Tabib Ali.” Jawab Yasin.


Tak lama kemudian Pak Yadi dan beberapa personil Polis datang untuk membawa Jalu yang masih dalam keadaan tertotok. Dan semua pun kembali, hanya beberapa personil Polisi yang menyisir berkas markas Ki Munding Suro. Dan menemukan sesosok jasad wanita yang terkoyak pedang di bagian depan tubuhnya.


“Aku tidak akan menerima atas kejadian ini, mudah mudahan saja Adi Jaka bisa selamat dan mencari bantuan untuk balas dendam.” Kata orang tersebut yang tidak lain Gandung Santosa kakak kandung Jaka Santosa anak dari Mentorogo yang akan balas dendam juga kepada Yasin.


Kedatangan Gandung Santosa yang agak terlambat justru menyelamatkan Gandung Santosa tidak ikut tertangkap dan dibawa ke kantor Polisi.


“Tunggulah Yasin, suatu saat aku tetap akan balas dendam kepadamu. Meskipun aku sudah kehilangan satu tanganku, tapi aku bertekad akan mengalahkan kamu.” Ucap Gandung Santosa.


Kemudian Gandung pun menyusuri jejak jejak anak buah Ki Marti yang kabur membawa Ki Marto yang terluka. Mereka kabur dan menyebar ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri mereka masing masing. Gandung mencoba untuk mencari jejak anak buah Ki Marto yang membawa Ki Marto. Gandung yakin Jaka dan Lainnya pun pasti akan mencari Ki Marto. Karena Ki MUnding sudah entah kemana, melarikan diri tidak memikirkan yang lain.


…..


…..


…..


Di rumah Yasin beberapa Jam setelah kepergian Yasin


“Wisnu…di rumah hanya ada kita berdua yang laki laki. Jadi kita harus benar benar waspada saat ini.” Kata Farhan pada Wisnu.


“Iya Paman…mudah mudahan tidak ada apa apa.” Kata Wisnu.


“Mas Farhan…mau minum apa Sufi mau buat minuman.” Ucap Sufi calon istri Farhan.


“Lah bibi Wisnu gak ditawarin nih, mentang mentang sudah hampir resmi jadi istri Paman Farhan.” Goda Wisnu.


“Idiih Wisnu kecil kecil sudah godain bibinya, bilangin mama kamu nanti ?” Seru Fatimah yang muncul dari dalam ruang mujahadah.


“Gak kok umi, jangan Wisnu hanya bercanda saja kok…!” jawab Wisnu taku dengan ancaman Fatimah.


Farhan dan Sufi saling lirik, Farhan memberi Kode agar Sufi menggoda Wisnu.


“Memang Wisnu yang ganteng mau minum apa ? terus mau dibuatin sama Mbak Isna atau mbak Utari ?” Goda Sufi.


Wisnu jadi makin tersipu digoda Sufi seperti itu. Dan Sufi yang pernah terjatuh dalam dunia kelam itu tentu saja cukup lihai menggoda wisnu yang masih polos.


“Gak Bi…maaf Wisnu hanya bercanda gak bermaksud kurang ajar kok.” Jawab Wisnu pucat dihadapan Fatimah dan Sufi juga Farhan yang memandangi Wisnu. Mereka sengaja menggoda Wisnu dengan sorot mata yang tajam seakan sedang marah.

__ADS_1


Melihat wisnu yang panik mereka jadi tidak bisa menahan tawanya. Sehingga tawa lepas mereka pun keluar. Membuat Wisnu jadi senyum kecut menahan malu, merasa dipermainkan oleh para orang tua.


Saat mereka sedang tertawa tiba tiba Tabib Ali datang mencari Yasin.


“Assalaamu’alaikum…Alhamdulillah keluarga bahagia yang penuh canda. Kang Yasin ada di rumah ?” Tanya Tabib Ali.


“Wa’alaikummussalaam Tabib Ali…maaf suamiku baru saja keluar. Mereka mau melihat markas musuh katanya.” Jawab Fatimah.


“Innalillahi…harusnya Kang Yasin tidak boleh ikut di sana bisa bahaya nanti.” Jawab Tabib Ali.


“Lah memangnya bahaya kenapa Kang Ali ?” Tanya Fatimah agak panik.


“Sebentar aku hubungi Kang Syuhada biar ajak Kang Nurudin membantu mereka. Kang Yasin belum boleh mengeluarkan tenaga besar dulu.” Jawab Tabib Ali.


Tabib Ali pun menghubungi Kyai Syuhada dan memberitahukan informasi jika Yasin Nekat mendatangi markas musuh yang sangat berbahaya. Kyai Syuhada kemudian menghubungi Kyai Nurudin dan Kyai Nurudin justru menyusul Tabib Ali di rumah Yasin.


Kyai Nurudin memilih menjaga rumah Yasin berjaga jaga bila ada yang lari dan balik menyerang rumah Yasin. Suatu hal yang lepas dari pemikiran Yasin.


“Kang Syuhada sudah berangkat menyusul Kang Yasin. Dan Kang Nurudin akan menuju kemari, untuk ikut menjaga rumah ini. Takutnya dari mereka ada yang justru lari kesini dan mencelakai anggota rumah ini.” Jawab Tabib Ali.


“Syukurlah…mungkin Mas Yasin lupa memperhitungkan hal tersebut.” Sahut Farhan.


Mereka pun kemudian mempersilahkan Tabib Al duduk dan melanjutkan obrolan sambil menunggu adzan Maghrib.


…..


Usai sholat maghrib pun mereka kembali melanjutkan pembicaraan sambil menunggu kedatangan Kyai Nurudin. Utari jadi senang mendengar Abinya akan datang, dan segera menyiapkan diri menyambut kedatangan Abinya.


“Jadi Abi mau kesini Umi ?” Tanya Utari.


“Iya, kenapa kangen ya Tari ?” Tanya Fatimah.


“Iya Umi, sudah lama gak bertemu Abi nya Tari.” Jawab Utari.


Tak berapa lama Kyai Nurudin pun datang, mereka menyambut kedatangan Kyai Nurudin Abi nya Utari dengan senang hati.


“Abi…Utari seneng banget Abi akhirnya bisa datang kemari juga.” Kata Utari.


“Iya, tapi Abi kesini sekedar berjaga jaga kalau ada musuh yang mau mengganggu kalian semua.” Jawab Kyai Nurudin.


Mereka pun ngobrol sampai waktu Isya datang, dan berhenti untuk melaksanakan Sholat Isya berjamaah. USai Sholat Isya  dan berdoa bersama dan mujahadah, Kyai Nurudin pun menyampaikan sesuatu yang ada kaitanya dengan tujuan Kyai Nurudin datang ke rumah Yasin.


“Sebenarnya aku kaget mendengar berita tentang Yasin ini. Tapi aku cukup hafal sifat Yasin yang seperti itu. Hanya saja kali ini dia agak lalai, membiarkan rumah tidak dijaga ketat.” Kata Kyai Nurudin.


Belum juga selesai Kyai Nurudin berbicara, sudah terdengar atap rumah Yasi seperti dilempari batu.


Farhan dan Wisnu hendak bangkit dan mencari siapa yang melempari atap rumah. Namun dicegah oleh Kyai Nurudin.


“Tunggu…tidak usah kalian cari, gak bakalan ketemu. Karena mereka melakukan dari jarak jauh, mereka hendak menggunakan teluh untuk mencelakai kita. Semuanya jangan ada yang keluar rumah, apapun yang terjadi seua harus tetap berkumpul di tempat ini.” Kata Kyai Nurudin.


Namun Kyai Nurudin sendiri justru bangkit dan keluar rumah untuk menghentikan serangan tersebut.


“Kamu adik Yasin, bacakan Hizib untuk menangkal teluh yang dikirimkan.” Ucap Kyai Nurudin pada Farhan. Sambil melangkah keluar rumah. Farhan pun segera memulai membaca doa doa Khusus atau sering disebut Hizib. Rangkuman doa yang dibuat oleh para Ulama zaman dahulu berdasarkan ijtihad dan pengalaman mereka.


Setelah sampai di luar rumah, Kyai Nurudin kaget karena begitu banyaknya serangan yang dilancarkan musuh dengan teluh.


“Subhanallah…Laa Haula wa laa quwata ilaa billah…benar benar orang sesat mereka sudah benar benar sekutu Jin rupanya.” Ucap Kyai Nurudin melihat banyak sekali makhluk Astral yang datang membawa berbagai macam teluh yang akan digunakan mencelakai keluarga Yasin.


“Minggir kamu orang tua…jangan halamgi langkah kami..!” Suara sosok Jin. Agaknya adalah pemimpin mereka yang datang.


“Tidak akan akau biarkan kalian mengganggu rumah saudaraku.” Jawab Kyai Nurudin tenang.


“Minggir kamu orang tua kubilang, jangan sampai malah kamu yang akan jadi sasaran karena sebentar lagi akan datang seseorang yang akan hancurkan kalian semua.” Ucap Jin tersebut.


Namun Kyai Nurudin tidak mau menggubris ucapan Jin tersebut.  Kyai Nurudin terus saja membaca doa doa untuk mengusir makhluk Astral yang mengepung rumah Yasin tersebut…!?!”


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2