
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq dan Jafar mau balas dendam...
“Cari sesuatu untuk menghentikan mereka bertempur sebelum semuanya terlambat…!” Teriak Tohari sambil mencari sesuatu di sekitar lokasi pertarungan antara Yasin melawan Ki Munding Suro, antara Waringin Sungsang melawan Ilmu Karang. Antara Pancamakara Puja vs Waringin Sungsang…!?!
Sena dan Tohari mengitari Lokasi pertempuran antara Yasin dan Ki Munding Suro.
Sementara itu Yasin dan Ki Munding Suro berkonsentrasi penuh pada pertempuran. Keduanya tidak mau terganggu dengan hal lain termasuk kehadiran Sena dan Tohari. Yasin awalnya sangat terganggu dengan luka yang dialami akibat pukulan Jari Iblis yang dilancarkan Ki Munding Suro. Namun Ilmu Waringin Sungsang yang merupakan Ciptaan Sunan Kalijaga tersebut mengutamakan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Sehingga Keoasrahan Yasin yang sudah siap dengan resiko apapun yang terjadi lama lama membuat Yasin tidak terpengaruh dengan lukanya.
Bahkan tampak Ki Munding Suro yang kemudian merasa tersedot tenaganya. Kepala Ki Munding Suro sampai menggeleng geleng dan memutar menahan Sakitnya. Disertai jeritan keras sesekali dari mulutnya.
“Akhiri saja Ki Munding Jika tidak maka kamu akan hancur malam ini juga.” Ucap Yasin yang sudah mampu mengendalikan pertarungan. Yasin tampak lebih tenang dan merasa lebih Segar seakan tidak merasakan Luka akibat serangan Jari Iblis. Bahkan seperti tidak sedang merasakan dampak apapun dari Ilmu Karang Ki Munding Suro.
“Aaaakhh,,, aaaaaakhhh…!” teriakan Ki Munding Suro merasakan kesakitan seakan seluruh kekuatan lahir batinnya sedang disedot paksa oleh kekuatan ilmu waringin Sungsang. Yasin pun berusaha menghentikan Ki Munding Suro untuk tidak melanjutkan pertarungan dan memaksakan diri agar tidak sampai tewas.
“Anggukkan kepalamu Ki Munding jika kamu setuju mengakhiri pertarungan ini. Kalau tidak maka aku pun tak bisa berbuat apa apa lagi !” Kata Yasin yang sebenarnya sudah kasihan melihat Ki Munding Suro yang sudah mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Jika masih dilanjutkan jelas Ki Munding Suro pun akan Tewas dalam hitungan menit mungkin tubuhnya akan sampai kering.
Kemudian Yasin mengambil inisiatif untuk mendorong tubuh Ki Munding Suro agar terpental. Karena dengan terpentalnya tubuh Ki Munding Suro maka Jiwa ki Munding Suro pun masih mungkin untuk tertolong. Dari pada masih beradu kekuatan dengan Waringin Sungsang.
Maka dengan segenap kekuatan lahir dan Batin Yasin pun menghentakan telapak tangan kanannya mendorong Ki Munding Suro. Tubuh Ki Munding Suro pun terpental jauh dan tergolek Lemah tak berdaya. Nafasnya kelihatan naik turun namun sorot matanya Nanar memandang Yasin. Mulutnya menganga namun tidak sepatah kata pun keluar darinya.
Sena dan Tohari segera mendekati Yasin yang justru merasakan kelelahan yang sangat, setelah selesai bertarung. Bahkan tubuh Yasin pun lunglai hampir terjatuh, untung segera ditangkap oleh Tohari dan Sena.
“Mas Yasin, teriak Sena sambil melompat menangkap tubuh Yasin. Tohari pun melakukan hal Yang sama, tubuh Yasin kemudian dibopong oleh Tohari dan Sena dimasukan ke dalam Mobil dan dibawa pulang. Sementara tubuh Ki Munding suro yang tergeletak Lemah ditinggalkan begitu saja. Baik Tohari maupun sena tidak tahu jika beberapa Meter dari tubuh Ki Munding Suro ada sesosok tubuh yang juga pingsan, dia adalah Gede Paneluh yang terkena jurus ‘Ya’ dari Yasin.
Sehingga dua orang tergeletak di lokasi pertempuran tersebut. beberapa waktu setelah itu barulah ada seseorang datang dengan tertatih tatih memegangi dadanya yang sakit. Jalu, yang baru datang setelah gagal menjalankan aksinya di rumah Yasin itu berniat melihat akhir pertempuran Yasin melawan gurunya Ki Munding Suro.
Apa yang dilihat Jalu sungguh diluar prediksinya, Jalu menyangka akan menemukan jasad Yasin yang tewas dibunuh ki Munding Suro. Namun kenyataannya justru Tubuh Ki Munding Suro dan Gede Paneluh yang tergolek tidak berdaya.
“Guru,,, Kakang Gede Paneluh ? Apa yang terjadi, apa ada yang menolong Yasin dari kematian ?” Tanya Jalu dalam hati.
Kemudian Jalu dengan susah payah membangunkan Gede Paneluh dan Ki Munding Suro. Sampai menjelang Subuh Jalu baru berhasil membuat Gede Paneluh sadar. Sedangkan Ki Munding Suro yang sadar namun merasa masih lemah harus dibawa oleh Jalu dan Gede Paneluh ke markas. Namun Ki MUnding Suro berpesan agar jangan sampai ada yang tahu apa yang dia alami.
“Bawa aku ke kamar khusus, aku akan melakukan Ritual penyembuhan. Jangan ada yang ganggu sampai akan dilaksanakan upacara PancamakaraPuja untuk mengembalikan dan menambah kekuatanku.” Pesan Ki Munding Suro kepada Jalu dan Gede Paneluh.
…..
Sementara Tohari dan Sena yang membawa Yasin sudah sampai ke rumah Yasin. Semua masih menunggu kedatangan Yasin dengan Khawatir. Sehingga begitu melihat kedatangan Tohari dan Senayang membawa Tubuh Yasin semua panik dan menghampiri. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan diri Yasin.
“Mas kamu kenapa ?” Fatimah yang pertama kali menghampiri dan memeluk Yasin dengan cemas.
“Aku gak papa hanya kelelahan saja butuh istirahat sebentar.” Ucap Yasin.
Yang lain pun tidak berani bertanya lagi, mereka lebih memilih menunggu cerita dari Tohari ataupun Sena. Apa yang terjadi pada Yasin sampai harus dipapah oleh Tohari dan Sena masih menjadi pertanyaan seluruh penghuni rumah tersebut.
Kemudian Yasin pun dibaringkan di kamarnya, masih dalam keadaan kotor setelah bertarung dengan Ki Munding Suro. Badan Yasin pun masih terasa panas, setelah beradu dengan ilmu Karang milik Ki Munding Suro. Efek dari ilmu Karang Ki Munding Suro masih terasa sedikit panas di badan Yasin, meski tidak sampai melukai kulitnya. Namun rasa panas masih dirasakan saat kulit Yasin disentuh.
__ADS_1
“Fat, suruh seseorang untuk memasak Air nanti untuk membersihkan dan mengompres tubuh Yasin. Sementara biar aku, Sena dan Farhan yang merawat Yasin.” Kata Tohari pada Fatimah.
Fatimah pun meminta bantuan Sufi untuk masak air. Namun tidak hanya sufi yang bergerak semua ikut sibuk untuk mempersiapkan air panas dan handuk untuk merawat Yasin. Tampak semua tidak menunjukkan rasa mengantuk melihat Yasin mengalami sesuatu yang kurang baik tersebut. Rasa kantuk mereka hilang diganti rasa cemas dan berharap agar Yasin baik baik saja.
Dan setelah semua siap, air hangat sudah disiapkan beserta kain untuk membersihkan dan mengompres tubuh Yasin sudah disiapkan. Maka Tohari meminta Fatimah yang melakukan, sementara yang lain menunggu di ruang Mujahadah dengan harap harap cemas.
…..
“Mas Yasin kenapa mas Sena ?” Nurul sudah tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi. Saat Sena dan Tohari datang belum sempat duduk bergabung di ruang Mujahadah.
“Tenang semua biar aku jelaskan pelan pelan. Tapi jangan panik doakan saja Mas Yasin tidak apa apa.” Kata Sena berusaha tenang meskipun Sena sendiri juga khawatir.
Semua diam menunggu keterangan dari Sena.
Kemudian Sena pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dari awal kepergian mereka bertiga sampai dengan saat Sena dan Tohari menyusul Yasin. Dan Melihat Yasin sedang bertempur dengan Ki Munding Suro.
“Saat kami datang keduanya sudah sama sama menggunakan Ilmu Pamungkasnya. Ki Munding suro menggunakan Ilmu Karang dan Mas Yasin menggunakan ajian Waringin Sungsang….!” Pembicaraan Sena dipotong oleh Sufi.
“Kenapa mas Sena dan mas Tohari tidak membantu mas Yasin ?” Tanya Sufi.
“Sabar Sufi, biar Sena jelaskan sampai akhir.” Ucap Tohari.
Kemudian Sena melanjutkan ceritanya. Sena dan Tohari bukanya tidak mau membantu, tapi Sena sudah mencoba menghentikan Ki Munding Suro dengan melempar Golok yang dia bawa. Tapi Golok itu bukannya melukai Ki Munding Suro, tapi justru golok itu meleleh seperti lilin yang menempel pada besi panas. Saat Golok itu mengenai tubuh Ki Munding Suro. Sehingga Sena dan Tohari kehabisan akal untuk menghentikan pertempuran tersebut.
Dan di tengah kebingungan Tohari dan Sena tiba tiba mendengar suara Yasin yang meminta Ki Munding Suro untuk mengakhiri pertempuran. Dan saat itu Posisi Yasin sudah diatas angin, karena Ki Munding Suro sudah kesakitan seperti tersedot seluruh kekuatan yang dimiliki.
Dan entah kenapa tubuh Ki Munding Suro tiba tiba terpental dan jatuh tergeletak. Namun Yasin sendiri akhirnya hampir jatuh, dan akhirnya ditangkap oleh Sena dan Tohari kemudian dimasukkan ke Mobil dan dibawa Pulang.
“Aku tidak tahu bagaimana nasib K Munding Suro setelah itu. Karena yang kami pikirkan hanya sesegera mungkin menolong Mas Yasin.” Kata sena mengakhiri cerita.
“Jadi Lawan Mas Yasin saat itu terpental dan pingsan. Tidak ada yang mengurusi juga mas ?” Tanya Nurul.
Tiba tiba Fatimah keluar dari kamar dan memanggil Tohari Sena dan Farhan, karena Yasin akan bicara
“Kang Tohari, Sena dan Farhan diminta Mas Yasin ke kamar, ada yang mau dibicarakan.” Kata Fatimah.
Maka dengan segera ketiganya pun bergegas memasuki kamar Yasin.
Gantian Fatimah yang ditanya oleh kerabat yang Lain.
“Mas Yasin cerita apa mbakyu ? dia baik baik saja kan ?” Tanya Nurul.
“Alhamdulillah, suamiku hanya kehabisan tenaga saja. Tadi saat bertempur seluruh tenaganya dikerahkan, dan terakhir mendorong tubuh lawannya. Karena jika tidak kata mas Yasin lawannya justru akan mati mengenaskan.” Jawab Fatimah.
“Tapi Mas Yas Yasin gak ada luka serius kan Mbak ?” Sahut Sufi.
“Alhamdulillah gak ada luka serius, benar benar hanya kelelahan saja.” Jawab Fatimah.
“Alhamdulillah ya Allah…!” sahut semua serempak bersyukur.
Semua tulus bersyukur dan berdoa untuk kesembuhan Yasin. Bahkan wisnu, Isna dan Utari sampai menangis bahagia.
“Alhamdulillah ya Allah, Abi Yasin orang baik semoga Engkau selalu melindungi Abi kami.” Ucap Wisnu sambil Terisak. Diaminkan oleh oleh semuanya, tidak terkecuali oleh Isna dan Utari teman latihan Wisnu. Isna dan Utari juga baru tahu jika Wisnu bukan anak sembarangan juga.
“Kang Sidiq dan Jafar harus diberitahu jika ayahnya sedang sakit.” Bisik Utari pada Isna.
“Iya nanti aku kasih kabar via Wa ke Jafar, dan Kamu yang Wa kang Sidiq.” Jawab Isna.
“Iya boleh.” Jawab Utari.
__ADS_1
“Ada apa Isna Utari kok bisik bisik ?” Tanya Fatimah.
“Gapapa kok mi, hanya hari ini kami mau izin gak masuk sekolah, masih ngeri dan tentunya takut nanti di sekolah mengantuk.” Jawab Utari berbohong.
“Owh ya udah gapapa tapi kamu izin ke sekolah ya.” Jawab fatimah.
…..
…..
…..
Di pesantren Al Hikmah
“Apa ayahku sakit ? semalam bertempur dengan pimpinan tokoh Jahat. Dan musuh ayah pingsan di tempat pertarungan ?” kata Sidiq dalam hati.
Kemudian Sidiq meminta agar Utari mencarikan alamat markas musuh. Sidiq dan Jafar akan menyelidiki bagaimana keadaan musuh ayahnya apakah selamat atau tidak. Awalnya Utari gak mau karena takut Sidiq nekad menyerang ke sana. Namun Sidiq berhasil meyakinkan Utari Jika dia hanya ingin memastikan keadaan lawan ayahnya selamat atau tidak.
Dengan mengintai kegiatan di markas musuh Sidiq berharap bisa tahu keadaan lawan ayahnya. Kemudian Sidiq meminta Jafar juga izin gak masuk sekolah untuk bersama melihat lokasi markas musuh untuk memastikan keadaan lawan ayahnya.
Dan Jafar pun bersedia untuk mengamati keadaan markas musuh tersebut. Dua kakak beradik itu sangat kompak, apalagi jika sudah menyangkut keselamatan keluarganya. Jafar yang pendiam pun bisa jadi beringas seperti singa lapar yang siap menerkam musuh musuhnya.
Singkat cerita bertemulah Jafar dan Sidiq di sebuah tempat yang sudah disepakati.
“Aku tahu sebenarnya Mas Sidiq punya rencana lain tidak sekedar mengawasi kondisi lawan Ayah kan ?” tanya Jafar.
“Memang kamu terima ayah kita dilukai orang ?” Jawab Sidiq.
“Jelas gak terima lah Mas.” Jawab Jafar.
“Lah kenapa kamu gak setuju kalau ku ajak membalas dan sedikit memberi pelajaran pada mereka. Mumpung Ki Munding Suro lawan ayah juga baru terluka.” Kata Sidiq.
“Siapa yang tidak setuju, Jafar kan hanya bilang tahu rencana Mas Sidiq. Bukan bilang gak setuju.” Jawab Jafar.
“Berarti kamu juga setuju ?” Tanya Sidiq memastikan.
“Setuju banget lah, Jafar ingat perjuangan Ayah membopong Jafar saat terkena ajian Gundolo Sosro waktu itu.” Jawab Jafar.
“Tapi kalau nanti bertemu yang punya ajian Gundolo Sosro lagi bagaimana ?” Tanya Sidiq.
“Jafar sudah siap mas, dulu Jafar sampai begitu karena kurang sempurna menghadapi serangan tiba tiba dan harus menyelamatkan ayah dulu. Kalau posisi sempurna Jafar siap menghadapi ajian itu. Kecuali kalau Ki Munding Suro, karena ayah kan sudah berpesan sama mas Sidiq seperti itu. Jadi kita harus nurut.” Kata Jafar.
“Iya kalau itu Sidiq juga gak berani melanggar, yasudah ayo kita berangkat sekarang.” Ajak Sidiq menuju ke hutan bukit kemuning sesuai informasi yang diberikan Utari pada Sidiq.
Dua orang kakak beradik itu pun segera pergi ke hutan Bukit Kemuning di wilayah lereng Merapi. Mereka berniat membuat kekacauan di markas musuh, untuk membalas kelicikan kelicikan yang mereka lakukan pada keluarganya. Terlebih kepada Jalu yang berani menyamar sebagai ayahnya dan mencoba masuk ke rumahnya !!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1