
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Antara Pikir dan Dzikir...
Kali ini Jafar betul betul terpengaruh dengan ucapan dua sosok tersebut. Jafar benar benar terpengaruh dengan kata kata dua sosok tersebut yang sangat menghipnotis Jafar…!!!
Perang batin dalam diri Jafar, antara patuh dengan perintah Guru atau mengikuti kata kata dua sosok tersebut. Pada kondisi seperti inilah, antara Pikir dan Dzikir harus berimbang. Pikir atau akal merupakan salah satu Anugerah Allah bagi manusia yang harus digunakan. Sementara Dzikir atau mengingat Allah adalah kewajiban yang harus dijalankan.
Jafar sedang mengingat Allah, memuji Allah, bermunajat kepada Allah kemudian datang godaan. Iblis yang menyerupai Ibundanya juga Uwaknya. Dan salah satu tipu daya iblis dengan memanfaatkan sisi lemah manusia. Dan menyerang Jafar langsung pada Hatinya, dengan memainkan perasaan nya.
Hati atau Qolbun (Arab) yang arti sebenarnya adalah sesuatu yang mudah berbolak balik. Maka sangat wajar jika hati manusia mudah berubah ubah, kadang baik kadang jahat. Iblis sangat paham akan hal itu. Maka Jafar digoda langsung pada hatinya.
Untunglah Jafar masih sempat menyelesaikan amalan bacaan yang diperintahkan Gurunya sebelum Jafar masuk dalam perangkap Halusinasi yang dibuat oleh dua sosok tersebut. Dalam halusinasi, Jafar pun merasa sedang berhadapan dengan Fatimah Ibundanya dan Tohari Uwaknya.
“Jafar anakku…kewajiban anak yang paling utama adalah berbakti kepada orang tua. Restu ibu adalah Surga bagi anaknya.” Ucap sosok yang menyerupai Fatimah.
Jafar kembali diterpa keraguan, mendengar kata kata sosok tersebut. Pergolakan batin yang luar biasa terjadi dalam diri Jafar. Hatinya terus berdzikir dan Akalnya terus berpikir untuk mencari kebenaran dan mengembalikan kesadaran diri Jafar.
“Apakah kamu benar benar Ibundaku ?” Tanya Jafar.
“Jafar…kenapa kamu berkata seperti itu pada Ibundamu ?” Jawab sosok yang menyerupai Tohari.
“Maaf Wak…setahu Jafar, Ibunda tidak akan keluar rumah apalagi pada malam hari dengan lelaki yang bukan mahramnya.” Jawab Jafar dengan menggunakan Pikir atau logikanya. Olah rasa dzikir dan Pikir Jafar mulai mengembalikan kesadaran Jafar, sedikit demi sedikit.
Kedua sosok itu pun saling berpandangan, terkejut dengan jawaban Jafar yang menohok. Sementara Jafar lebih berhati hati dalam bertindak. Tidak ingin jadi anak durhaka, namun juga tidak ingin terjebak dengan bujuk rayu iblis. Keraguan apakah yang dihadapi itu benar Fatimah Ibundanya dan Tohari Uwaknya masih menyelimuti Pikiran Jafar.
Dalam kebimbangan tersebut, Jafar mengucapkan Dua Kalimat Syahadat dalam hati. Untuk menguatkan Iman. Serta memohon agar diberi Petunjuk dalam menentukan sikapnya.
“Apa maksudmu Jafar ?” Tanya sosok Tohari.
“Bunda tidak menyangka Jafar berani bicara lancang seperti itu hanya demi mendapatkan sebuah Stambul Al-Quran. Sampai berani kepada Bunda dan Wak mu.” Sahut sosok Fatimah.
“Jafar tidak terlalu berharap dengan Stambul itu, tapi Jafar hanya berusaha menjalankan amanah dari Abah guru Jafar. Tujuan utama Jafar bukan Stambul itu, tapi Tujuan Jafar adalah Ridho Guru, karena Ridho Allah juga tergantung RIdho Guru.” Jawab Jafar.
“Tergantung Ridho orang tua Jafar…!” Bentak sosok Fatimah dengan Lantang.
Sehingga membuat Jafar jadi semakin Yakin jika sosok itu bukan lah sosok Fatimah ibundanya.
“Ibundaku tidak pernah membentak kasar, walaupun marah tidaklah sampai seperti itu. Sebenarnya kalian ini siapa ?” Ucap Jafar lantang.
“Dasar anak durhaka berani menuduh ibundanya seperti itu.” Ucap sosok Fatimah.
“Jangan kamu melawan Ibundamu Jafar, kalau tidak ingin celaka…!” Sahut Tohari.
“Baiklah, jika memang Ayah sakit mari kita doakan disini agar Ayah segera diberi kesembuhan. Kita berdoa sama sama bacakan Al-Qur'an, karena Al-Quran adalah Asy-Syifa atau obat.” Ucap Jafar.
Kemudian Jafar membaca Tiga Ayat dalam surat Al-Isyro’ ayat 80-82. Dua sosok dihadapan Jafar itu pun menjadi menggigil ketakutan dan akhirnya lari ketakutan. Bersamaan itu pula Jafar sadar seperti baru saja mengalami mimpi buruk.
__ADS_1
“Astaghfirrullah…sungguh halus dan licik sekali godaan iblis itu. Hampir saja aku terbujuk rayuan mereka yang menyerupai wajah Ibundaku.” Ucap Jafar.
Jafar bersyukur bisa lolos dari ujian pertama saat melakukan Riyadhoh. Meski itu baru permulaan Jafar menjalani Riyadhoh, tapi ujiannya sudah membuat Jafar harus ekstra hati hati. Jafar hanya berharap dan berdoa agar diberi kekuatan menghadapi ujian ujian berikutnya nanti.
…..
…..
…..
Sementar perjalanan Ki Munding Suro bersama ketiga muridnya berhenti di sebuah gubuk tengah sawah. Mereka beristirahat sejenak untuk melepas lelah, karena sudah berlari cukup jauh dari markas mereka sebelumnya.
“Tidak aku duga, usaha kita selama ini digagalkan oleh anak anak yang masih belia.” Ucap Ki Munding Suro.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Guru ?” Ucap Wiratmojo murid tertua Ki Munding Suro.
“Kita harus bertapa, mencari tempat yang tepat dulu agar bisa mendapatkan jalan keluar. Namun aku juga tidak yakin akan sampai kapan. Jadi untuk Gagak Seta dan Jaladara sebaiknya kalian kembali saja besok, kalian masih muda lanjutkan apa yang sudah kita mulai.” Ucap Ki Munding Suro.
“Apakah kami tidak boleh mengikuti Guru ?” Tanya Gagak Seta.
“Iya Guru, karena kami masih butuh bimbingan Guru saat ini.” Sahut Jaladara.
“Kalian masih muda, masih perlu menikmati dunia sedang Guru sudah puas menikmati dunia ini. Sekarang hanya ada dua pilihan Moksa atau mati ditangan lawan. Dan Guru memilih akan Moksa.” Jawab Ki Munding Suro.
Semua terdiam, Moksa adalah puncak dari ajaran Bhairawa Tantra setelah merasa puas dengan kenikmatan duniawi. Moksa adalah menghilangkan diri berikut jasad nya yang akan ikut lenyap menurut kepercayaan mereka.
Namun Moksa tidak selalu berhasil, ada yang gagal dan jasadnya mengecil dan terkenal dengan sosok Batara Karang. Sosok manusia kecil ukuran sejengkal dengan gigi dan kuku yang memanjang.
Gagak Seta dan Jaladara merasa sedih ketika Ki Munding Suro mengatakan seperti itu. Sebuah kata kata pamitan untuk berpisah selamanya. Karena Ki Munding Suro akan melakukan Tapa untuk Moksa, dan Wiratmojo murid tertua yang akan menemanai dan menunggu. Jika Ki Munding Suro gagal Moksa dan berubah menjadi Batara Karang, maka Wiratmojo yang akan merawat dan menjadikan sebagai Jimat Ilmu Karang.
…..
Bubarnya kelompok Ki Munding Suro dan Ki Marto membuat personilnya tercerai berai. Bahkan Ki Bujang harus kehilangan Muridnya, karena Otang berhasil dilumpuhkan dan ditangkap Kyai Nurudin di rumah Yasin.
Ki Bujang yang mengandalkan Aji Gundolo Sosro bahkan tak mampu melukai sedikitpun Kyai Nurudin yang mengandalkan “Kepasrahan dan Doa”. Sehingga membuat Ki Bujang harus Kabur meninggalkan pertarungan dan membiarkan Otang muridnya tertangkap.
“Orang macam apa dia, bahkan Aji Gundolo Sosro sedikitpun tidak meninggalkan bekas padanya.” Ucap Ki Bujang pada diri Sendiri.
Ki Bujang kembali mencari keberadaan Gede Paneluh dan Lembayung yang sebelumnya ditinggalkan. Mau gak mau Ki Bujang harus bersatu dengan Gede Paneluh dan Lembayung untuk membangun kekuatan. Karena satu satunya Murid sudah ditangkap oleh Kyai Nurudin, sehingga Ki Bujang tak lagi memiliki teman dekat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Ki Bujang berhasil sampai di tempat Gede Paneluh dan Lembayung tergeletak. Keduanya masih dalam keadaan Pingsan dan belum berpindah dari tempat semula.
“Ternyata dua orang ini masih Hidup, baiknya aku bawa ke tempat aman. Aku harus menyusun kekuatan untuk bisa balas dendam.” Ucap Ki Bujang.
Kemudian Ki Bujang pun membawa tubuh Gede Paneluh dan Lembayung ke tempat persembunyian yang dirasa aman. Minimal sementara mereka bisa memulihkan tenaga sebelum mencari tempat untuk tinggal.
Berpencarnya tokoh tokoh yang kemarin berkumpul bersama Ki marto dan Ki Munding Suro pun  akan membuat kondisi wilayah sekitar tempat tersebut kembali menjadi aman seperti semula. Tokoh terkuat Ki Munding Suro bahkan sudah memutuskan untuk Moksa, Ki Marto masih dalam perawatan kembali setelah terkena ajian Gelap Ngampar Tohari. Jalu sudah tertangkap bersama Bayu Aji dan Otang.
Gandung Santosa masih mencari keberadaan adiknya Jaka Santosa. Sedangkan Kala Srenggi memilih kabur kembali ke tempat asalnya. Para murid Ki Marto pun hanya tinggal sedikit yang mengikuti Ki Marto. Dengan beberapa kali kekalahan yang menimpa Ki marto membuat muridnya pergi meninggalkan Ki Marto.
…..
Di rumah Yasin
Yasin POV
__ADS_1
“Fat…apakah aku harus terus tertotok seperti ini ?” Tanyaku pada Fatimah.
“Saat ini memang harus begitu mas, sampai peredaran darahmu normal kembali.” Jawab Fatimah.
“Bagaimana dengan yang lain ? Apakah mereka baik baik saja ?” Tanyaku karena belum tahu kabar yang lain.
“Semua aman kok Mas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Fatimah.
“Bagaimana dengan Jafar ya ? Dia kan dibawa Kang Syuhada untuk dipersiapkan menerima Stambul Al-Quran.” Kataku pada Fatimah.
“Mas gak usah khawatir, tentunya Kang Syuhada juga sudah mempersiapkan segalanya untuk membimbing Jafar. Demikian juga Sidiq, sama Kang Nurudin juga sudah diberi banyak nasehat tadi.” Jawab Fatimah.
Aku jadi agak sedih, dengan Kondisiku saat ini yang justru menjadi beban bagi yang lain. Seharusnya aku bisa melindungi mereka namun kali ini justru aku yang harus dirawat dan dijaga oleh mereka. Sungguh suatu kondisi yang sangat berat bagiku. Ingin rasanya segera pulih dan kembali bisa menjaga anak istriku dari semua gangguan luar yang mengancamnya.
Aku juga kepikiran dengan musuh musuh yang kabur, khawatir jika mereka kembali bersatu dan mengganggu keluargaku satu persatu. Terlebih aku mempunyai anak Gadis yang baru memasuki masa masa Puber. “Nisa…maafkan Ayah yang tidak bisa menjagamu saat ini.” Kataku dalam hati.
“Kamu melamunkan apa Mas ? Kok pandanganmu seperti menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong ?” Tanya Fatimah.
“Gak kok, aku hanya ingat Nisa saja dia masih kecil masih butuh perlindungan orang tua. Tapi kondisiku malah seperti ini.” Jawabku.
“Sabar lah Mas, sudah diusahakan yang terbaik buat kamu. Insya Allah akan segera sembuh.” Jawab Fatimah.
“Iya…mungkin memang sudah waktunya untuk Sidiq dan Jafar yang bergerak menggantikan aku Fat.” Jawabku.
“Maksud kamu apa Mas ?” Tanya Fatimah kaget.
“Sudah waktunya aku melepaskan Ilmu kanuragan dan meninggalkan dunia kekerasan.” Jawabku.
“Mas yakin ?” Tanya Fatimah.
“Aku Yakin…aku ingat pesan Yuyut yang memintaku segera berhenti dari dunia kekerasan. Bagaimana menurut kamu, jika aku melepas semua ilmu kanuragan dan menjadi orang biasa saja ?” Tanyaku pada Fatimah.
Fatimah terdiam tidak menjawab pertanyaanku, mungkin juga ada sedikit perasaan khawatir jika suatu saat aku terpaksa harus berhadapan dengan musuh secara fisik.
“Kok kamu malah diam saja Fat, apa kamu keberatan ?” Tanyaku pada Fatimah…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Mohon maaf update sering lambat untuk edit.
Untuk mengurangi typo agar lebih enak dibaca.
🙏🙏🙏
Â
__ADS_1