Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Di Rumah Makan pak Zul


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Begitulah pertimbangan Jafar yang memikirkan sampai sejauh itu, sehingga sedikit banyak tugas ayahnya akan  terbantu.


Tinggal bagaimana nanti Yasin bisa mengahadapi serangan musuh yang mengincar pribadi Yasin sendiri. Apakah Yasin harus kembali menggunakan kanuragannya ataukah lebih menghindari pertempuran dengan orang yang menaruh  dendam kepadanya tersebut. Dan siapa kah yang menaruh dendam tersebut dan kenapa bisa menaruh dendam, apakah pernah bertemu dan bertempur sebelumnya…???


Yasin pun mengikuti permintaan Jafar anaknya, menunda keberangkatannya setelah dhuhur. Kemudian mengajak Jafar anaknya mengobrol.


“Ada apa lagi Jafar, apakah kamu masih ragu. Jika ayah dan bunda memasukkan Sidiq mas mu ke pesantren karena ayah bunda ingin Sidiq menjadi anak yang baik ?” tanya Yasin kepada Jafar anak nya.


“Bukan itu yah, tapi Jafar ada pembicaraan masalah lain.” Jawab Jafar kepada Yasin.


“Ada apa lagi, apakah tentang kakak atau adik kamu Nisa ?” tanya lanjut Yasin pada Jafar.


“Tidak, tapi ini tentang Ayah.” Jawab Jafar singkat.


“Tentang ayah ? Kenapa dengan ayah, apakah kamu merasa ayah tidak adil kepada kalian ?” tanya Yasin heran.


Tidak seperti sebelumnya, Jafar bicara tampak serius dan seakan mau menumpahkan semua ganjalan yang ada di hatinya.


“Ayah adil kok pada kami, bukan soal itu yah.” Jawab Jafar.


“Terus soal apa, kok kayaknya kamu sangat serius dan ayah perhatikan kamu sekarang jadi berbeda. Bahkan kamu sekarang agak sedikit keras dala bersikap.” Ucap Yasin mengomentari perubahan pada diri Jafar.


“Maaf yah, Jafar saat ini sudah makin besar jadi harus mulai belajar tegas. Bukankah itu juga yang ayah perintahkan.” Jawab Jafar membalikkan perkataan Yasin dulu.


Yasin sendiri memang ingat ketika meminta Jafar sedikit tegas tidak hanya menuruti apa kata orang saja. Hal itu Yasin sampaikan saat Jafar dulu selalu di palak oleh kakak kakak kelasnya. Sehingga seringkali Sidiq kakaknya yang turun tangan membela Jafar.


“Iya ayah juga ingat, tapi ayah agak heran saja karena kamu tiba tiba berubah begitu saja.” Ucap Yasin.


“Bukan tiba tiba tanpa sebab yah, Jafar hanya mencoba jadi laki laki yang harus menggantikan posisi mas Sidiq dalam menjaga Nisa adik Jafar nanti kalo mas Sidiq sudah masuk pesantren.” Sahut Jafar.


“Iya deh, gak papa ayah tahu sekarang. Terus apa yang ingin kamu sampaikan kepada ayah. Katanya mau menyampaikan sesuatu tentang ayah ?” tanya Yasin.


“Jafar sedikit kuatir pada ayah, ayah dulu sering berantem sama orang. Dan dari sekian orang itu mungkin ada yang menaruh dendam pada ayah.” Jawab Jafar.


“Maksud Jafar bagaimana ?” tanya Yasin.


“Ayah coba ingat, peristiwa beberapa tahun yang lalu saat Jafar masih di dalam kandungan bunda. Ayah pernah membuat orang masuk penjara.” Jawab Jafar.


Yasin sedikit tersentak mendengar ucapan Jafar anaknya, dari mana dia tahu akan hal itu, kata Yasin dalam hati. Dan Yasin pun mengingat peristiwa dimana dulu pernah membuat seorang anak pembesar yang harus masuk penjara selama beberapa tahun. Dan menurut perhitungan saat ini orang itu sudah keluar tahanan. Apakah orang itu yang dimaksud Jafar, kata Yasin dalam hatinya.


“Dari mana kau tahu akan hal itu Jafar ?” tanya Yasin kemudian.


“Jafar pernah mendengar dari cerita banyak orang yah. Dan juga pernah di beri tahu oleh Nenek galak yang melatih kanuragan Jafar dan mas Sidiq.” Ucap Jafar.


Yasin kembali terkejut mendengar ucapan Jafar tersebut. kemudian bertanya kepada Jafar.


“Apa yang dikatakan Yuyut tentang peristiwa itu ?” tanya Yasin.


“Tidak banyak yah, hanya bilang kalo suatu hari orang itu akan berbuat sesuatu untuk balas dendam kepada ayah.” Jawab Jafar.


“Balas dendam seperti apa ?” tanya Yasin kemudian.


“Dia akan memancing ayah untuk keluar rumah dan akan di jebak dengan sebuah perangkap hingga ayah terdesak.” Kata Jafar kemudian.


“Mau menjebak ayah ? Kenapa harus menjebak ayah ?” Tanya Yasin.


Karena ayah lah orang itu jadi masuk penjara, dan ayah yang dianggap sebagai penghalang juga menghancurkan nama besar keluarganya.” Jawab Jafar menjelaskan pada Yasin ayahnya.


“Itu melalui proses hukum nak, bukan ayah yang memasukkan dia ke penjara. Tapi polisi yang menangkap dan hakim yang memvonis dia harus di penjarakan.” Jawab Yasin.


“Tapi orang itu berpikiran beda ayah, bagi orang itu ayah lah yang menjadi penyebab dia masuk penjara.” Jawab Jafar.


“Apakah orang itu juga yang sudah merusak tempat usaha pak Zul ?” Tanya Yasin kemudian.


“Bisa jadi yah, makanya ayah harus hati hati.” Ucap Jafar.


“Kenapa kamu tiba tiba berbicara seperti itu nak ?” tanya Yasin.

__ADS_1


“Entahlah yah, itu hanya terbersit begitu saja.” Jawab Jafar anak Yasin.


Yasin tidak percaya begitu saja ucapan Jafar anaknya itu, namun dia juga tidak punya alasan untuk membantahnya. Meski dalam hati Yasin mengatakan jika Jafar anaknya mempunyai kelebihan yang tidak dia ketahui.


“Jafar, jika kamu mau menyampaikan sesuatu pada ayah, sampaikan saja tidak usah ragu ragu. Jangan kamu pendam sendiri apa yang kamu rasakan.” Ucap Yasin kepada Jafar anaknya.


“Iya yah.” Jawab Jafar.


Yasin pun kembali mengingat peristiwa dimana anak seorang tokoh yang sebenarnya juga buronan Polisi. Namun dia sangat licin bagai belut, selalu bisa lepas dari jeratan hukum. Namun kala itu mungkin orang itu baru apes sehingga dapat terjerat hukum dan masuk penjara. Dan saat ini ingin membalas dendam kepada Yasin. Yang secara langsung maupun tidak telah menguak semua kejahatan yang dia lakukan.


“Aku agak lupa nama orang itu, tapi inisial ‘R’ aku masih ingat. Dan tidak mungkin dia akan turun tangan sendiri. Pastilah menyewa orang lain untuk membalas dendam kepadaku.” Kata Yasin dala hati.


Yasin pun harus memutar otak mencari siapa orang yang akan diperintahkan orang itu untuk membalas dendam kepada Yasin. Di samping Yasin juga mencari cara sedapat mungkin menghindari bentrok fisik dengan orang orang bayaran tersebut. Yasin sudah merasa capek jika harus beradu fisik dengan orang lain, namun jika posisinya dia di serang juga tidak mungkin hanya diam saja tentunya.


Sambil menunggu waktu dhuhur datang, Yasin kembali membuka buka ingatan masa lalunya saat menghadapi teror dari orang sewaannya. Sampai dengan harus berhadapan langsung dengan Joyo Maruto. Karena tokoh tokoh supranatural berbalik menyerang Yasin karena dendam pribadi. Bukan lagi karena motivasi uang saat itu.


Dan saat itu yang masih setia mengikuti perintahnya adalah Gembul cs, sementara Gembul sendiri sudah dipenjarakan juga. Lantas siapakah yang akan di sewa lagi untuk membuat Yasin celaka, pikir Yasin.


Dengan memperhitungkan segala kemungkinan, Yasin pun mempersiapkan diri dengan membekali dirinya dengan senjata. Sekedar berjaga jaga apa bila mendadak mendapat serangan dari pihak musuh lamanya. Meski demikian Yasin tetap berharap bisa menghindari pertikaian secara langsung.


Hingga waktu dhuhur tiba, Yasin masih berpikir siapa orang yang akan disuruh untuk mencelakai dirinya. Dan bagaimana dia harus menentukan sikap nanti, apa bila benar benar dirinya menjadi sasaran utama musuh.


Ada pemikiran mau minta bantuan pak Yadi Polisi yang sekaligus sahabatnya, namun Yasin masih ragu untuk menghubungi pak Yadi. “mungkin lain kali saja, jika memang sudah terbukti ada orang yang hendak mencelakai aku.” Batin Yasin.


Yasin pun segera mengambil air wudhu dan menjalankan sholat Dhuhur sebelum berangkat ke tempat pak Zulkifly.


Seusai sholat dhuhur segera Yasin berkemas kemas dan bersiap untuk berangkat ke tempat pak Zulkifly. Kali ini Yasin memilih menggunakan sepeda motor, dengan pertimbangan jika ada sesuatu lebih mudah untuk melakukan manuver dan kabur melalui jalan jalan setapak.


“Ayah mau kemana ?” Tanya Sidiq yang tiba tiba muncul.


“Ayah mau melihat kebun teman yang dirusak seseorang.” Jawab Yasin.


“Sidiq boleh ikut gak yah ?” tanya Sidiq.


Yasin berpikir sejenak, ada keraguan dalam hatinya. Jika mengajak Sidiq anaknya bisa membahayakan Sidiq. Namun bisa jadi juga dengan Sidiq ikut justru bisa meringankan beban dia ketika harus menghadapi musuh. Mengingat Sidiq sudah cukup punya kemampuan kanuragan juga, selain adiknya Jafar yang dilatih oleh Yuyut.


Namun Yasin lebih memilih berangkat sendiri akhirnya, tidak mau membahayakan anak anaknya. Jika terjadi sesuatu biarlah dia sendiri yang menanggungnya. Jangan sampai anak anak nya juga menjadi sasaran nanti.


“Gak usah dulu nak, bukankah kamu mau latihan music untuk perpisahan ? Lain kali saja kalo ayah keluar ayah ajak kalian semua.” Jawab Yasin kepada Sidiq.


“Kenapa gak boleh yah ? Bukankah Sidiq sekarang sudah cukup besar ?” tanya Sidiq.


“Iya, tapi kan kamu harus latihan music buat perpisahan nanti, dan juga harus bersiap siap untuk masuk pesantren nanti. Kamu temani Nisa saja, kan disuruh menemani Nisa terus sebelum ke pesantren !” ucap Yasin. Dan membuat Sidiq pun tak lagi dapat mendesak ayahnya.


*****


Sidiq POV


“Kamu sudah kasih tahu ayah soal tadi pagi ?” Tanyaku pada Jafar adik ku.


“Sudah mas, kayaknya ayah juga sudah persiapan kok.” Jawab Jafar berbisik kepada Yasin, agar tidak terdengar Nisa.


“Soal apaan mas Sidiq ?” Tanya NIsa menyela pembicaraanku dengan Jafar.


“Itu soal kapan berangkat ke pesantren.” Jawabku berbohong untuk Nisa.


“Owh,,, kirain ada soal lain. Memang kapan mas Sidiq mau berangkat ?” Tanya Nisa.


“Nanti kalo udah terima ijazah SD, langsung berangkat ke pesantren.” Jawabku ke NIsa.


“Terus pulangnya berapa hari sekali mas ?” tanya lanjut Nisa.


“Ya gak tahu kalo itu, kata ayah kalo gak penting banget jangan pulang. Biar fokus belajar ngaji saja.” Jawabku ke NIsa.


“Nisa pingin gak masuk ke pesantren juga ?” tanya Jafar kepada Nisa.


“Gak tahu mas, Nisa masih suka main sama temen temen Nisa disini soalnya. Kalo mas Jafar sendiri pingin gak ?” tanya balik Nisa.


“Pingin lah, biar sama kayak mas Sidiq juga nanti.” Jawab Jafar. Aku bangga dengan kedua adik ku ini, yang sangat perhatian dengan aku. Meski mereka tahu aku lahir dari ibu yang berbeda dengan mereka. Namun mereka tetap sangat perhatian kepadaku.


“Nisan nanti ikut juga ah ke pesantren, kalo udah lulus SD juga.” Celoteh Nisa.


Kami bertiga pun kembali bermain menghibur Nisa, meski aku dan Jafar kadang berbisik membicarakan Ayah. Namun tetap berusaha agar Nisa tidak mendengar pembicaraan kami. Agar Nisa tidak ikut memikirkan apa yang sedang ayah alami sekarang.


*****


Yasin POV


Sesampai di tempat pak Zulkifly, aku segera turun dari motor dan menemui pak Zul langsung, sebelum melihat pekerjaan yang dilakukan Amir dan kawan kawan.


“Assalaamu ‘alaikum…!” sapaku pada pak Zul.  

__ADS_1


“Wa’alaikummussalaam pak Yasin,,, wah lama gak ketemu nih pak, bagaimana kabarnya ?” tanya pak Zulkifly.


“Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri bagaimana dan usahanya lancar kan pak ?” tanyaku balik ke pak Zul.


“Alhamdulillah, lancar sebelum adanya musibah kemarin pak. Kalo saat ini memang sengaja saya tutup, biar pengunjung tidak mengetahui jika ada sedikit insiden di sini. Agar mereka tidak beranggapan disini berbahaya.” Jawab pak Zulkifly.


“Iya pak, kalo boleh saya tahu bagaimana kronologisnya pak ?” tanyaku pada pak Zul.


Kemudian pak Zul menjelaskan kronologis yang dimulai dari adanya seseorang yang hendak mendirikan usaha serupa didekat usaha pak Zul. Awalnya baik baik saja, karena pak Zul tidak keberatan, bahkan berpikir akan lebih mengundang tamu datang karena ada alternative tempat. Soal rejeki sudah ada yang mengatur, prinsip pak Zul.


Namun entah karena apa, beberapa saat setelah tempat usaha itu mulai dibangun tiba tiba sering muncul miss komunikasi. Dari mulai hilir mudiknya tamu rumah makan pak Zul dan kendaraan proyek yang sering selisih faham. Sampai dengan peletakan material bangunan yang kadang mengganggu akses jalan tamu Rumah Makan Pak Zul. Entah disengaja atau tidak, pak Zul hanya menegur saja agar semua bisa jalan. Namun beberapa kali teguran halus tidak di indahkan. Bahkan malah Rival tersebut mengancam akan mematikan usaha pak Zul, jika masih banyak protes. Sehingga kesabaran Pak Zul pun habis dan terjadilah perang mulut yang berakhir dengan tanaman buah tempat pak Zul dirusak seseorang. Dan mereka tidak mau mengakui bahwa itu adalah hasil perbuatan mereka.


Begitu keterangan pak Zul kepada Yasin, dan Yasin pun sementara masih berpikir itu murni karena persoalan Rivalitas usaha saja. Belum menemukan unsur lain, apa lagi yang mengarah untuk mengancam dirinya pribadi.


“Owh jadi soal persaingan bisnis ya pak ?” tanyaku.


“Saya rasa begitu pak, namun awalnya kita baik baik saja. Namun semenjak ganti pemborong tidak tahu kenapa justru jadi seringkali timbul masalah.” Jawab pak Zul.


“Sewaktu belum ganti pemborong semua baik baik saja pak ?” tanyaku pada pak Zul.


“Iya, semua baik baik saja bahkan saya juga merekomendasikan untuk penanaman bibit buah juga ke tempat bapak. Dan sudah di setujui, namun setelah ganti pemborong sikapnya berubah. Bahkan mengatakan jika rekomendasi saya ke tempat bapak untuk pembelian dan penanaman bibit buah. Di bilang itu sebuah jebakan agar hasil tanam dan bibitnya gagal karena tidak baik.” ucap pak Zul.


“Lah kenapa aku dibawa bawa sampai kesitu ?” tanyaku dala hati.


“Owh begitu, biarin saja pak kalo soal itu. gak ambil dari saya juga gak papa kok. Santai saja, gak usah di pikirkan. Yang penting sekarang mari kita lihat hasil kerja Amir, apakah semua tanaman masih bisa dirawat atau ada yang harus diganti dengan yang baru lagi.” Ucapku.


“Bukan soal itu pak, tapi kayaknya pemborong baru itu sangat dendam kepada bapak !” ucap pak Zul.


“Haah Dendam,,,? Dendam dengan saya kenapa pak, apa dia kenal saya ?” tanyaku pada pak Zul.


“Gak tahu kalo soal itu pak, yang jelas wajahnya sangat Sinis dan gak pernah senyum sama sekali.” Kata pak Zul.


“Kalo boleh tahu nama dan alamatnya pak ?” tanyaku pada pak Zul menanyakan identitas pemborong baru itu.


“Kalo asalnya masih dari Yogyakarta juga, tapi kalo namanya saya lupa pak. Soalnya hampir gak pernah bertegur sapa. Dan saya sendiri juga gak mesti di sini.”Jawab pak Zul.


“Wah gak inget namanya ya pak ?” Tanyaku lagi.


“Tidak pak, soalnya semua orang manggilnya Boss. Gak pernah sebut nama, hanya ciri khas dia selalu menggunakan gelang yang hampir tiap hari berganti. Dan gelang gelang yang digunakan cukup bermerek meski bukan dari emas.” Jawab Pak Zul.


“Gelang….??? Apakah benar dia orangnya.” Kataku dalam hati.


“Pak Zul pernah lihat sendiri dari dekat gelangnya itu ?” tanyaku pada Pak Zul.


“Pernah, ketika beberapa kali kami selisih faham. Dari sekian gelang yang dia pakai, pada logam peraknya selalu ada huruf ‘R’ nya.” Ucap pak Zul.


Spontan aku kaget, sudah hampir bisa dipastikan bahwa itu adalah dia, aku harus berhati hati jika benar begitu. Belum selesai kami mengobrol tiba tiba terdengar suara jeritan, dan sepertinya itu adalah suara jeritan Amir yang sedang merawat pohon pohon yang rusak.


Segera aku dan pak Zul mendekati suara itu, yang ternyata memang benar jika itu adalah suara Amir.


Aku melihat kepala Amir berdarah, sepertinya habis terkena lemparan benda tumpul dan keras. Aku segera mendekati Amir.


“Kenapa kamu Amir ?” tanyaku pada Amir.


“Gak tahu pak, tiba tiba kepala saya terkena sesuatu yang keras dan mengeluarkan darah.” Jawab Amir.


Aku mencoba melihat luka di kepala Amir, namun baru juga memegang kepala yang luka itu tiba tiba aku merasakan desiran angin yang kencang ke arahku. Reflek aku menghindar, dan sebuah batu mengenai ranting pohon buah durian di dekatku.


“Ketapel ? Ada yang menyerang kita dengan ketapel dari seberang cepat semuanya berlindung ke dalam.” Ucapku.


 Semua pun segera berlindung masuk ke rumah akan pak Zul yang sedang tutup. Dan kembali terdengar suara batu batu kerikil yang mengenai atap ruah makan pak Zul. Karena atapnya dari rangka baja ringan sehingga suaranya terdengar nyaring. Aku segera mencari cara untuk menghentikan mereka. Berpikir keras untuk membalas serangan ketapel yang dilakukan, karena orangnya juga tidak Nampak…!!???


 ***** 


Mohon maaf baru bisa up,


baru sembuh dari flu.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2