
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Farayaka Vs Gagak Seta...
Dan tiba tiba Ki Ajar muncul dengan suara yang menggema berteriak.
“Ha…ha…ha…kalian jangan berharap bisa memenangkan pertempuran ini sekarang,” ucap Ki Ajar Panggiring dengan lantang.
“Hei Ajar Panggiring…akulah yang akan menghadapi kamu,” tiba-tiba Yasin datang menantang Ki Ajar Panggiring.
“Kurang ajar, jangan bangga dulu kamu bisa lepas dari api,” kata Ki Ajar Panggiring.
Sesaat kemudian Jafar dan Farayaka, mendampingi Yasin juga bersama Kholis yang siap membantu Yasin.
“Kalian menyingkirlah, biar aku yang menghadapi orang ini,” kata Yasin.
“Tapi Yah…?” kata Jafar.
“Jafar, biar Ayah yang hadapi orang itu. Kita ada tugas lain bersama Kholis dan Farayaka,” Sidiq datang menghampiri..
“Tugas apa Mas?” tanya Jafar.
Kemudian Sidiq menjelaskan rencana yang telah disusun bersama Kyai Syuhada. Jafar, Kholis dan Farayaka kemudian meninggalkan Yasin yang berhadapan dengan Ki Ara Panggiring. Mereka justru mencari keberadaan Gagak Seta dan lainya.
“Jafar masih belum ngerti Mas, kenapa Ayah yang justru harus menghadapi Ki Ajar Panggiring?” tanya Jafar.
“Keyahuilah, jika secara ilmu fisik dan kanuragan Ki Ajar Panggiring masih dibawah Ayah yang sekarang. Keunggulan Ki Ajar Panggiring hanya dalam Mantra untuk menguasai sukma seseorang,” jawab Sidiq.
“Apakah yang terjadi pada Lady Ninja itu karena Ki Ajar Panggiring juga?” tanya Jafar.
“Bukan, tapi kayaknya Ulah Raja Khodam musuh besar kita saat ini,” kata Sidiq.
“Tapi jangan tegakan Ayah dulu, Jafar mau lihat aksi ayah sebentar,” ucap Jafar.
“Baiklah, kita lihat dari kejauhan saja. Sambil mengamati jika ada yang akan berbuat curang,” kata Sidiq.
Kemudian keempat anak tersebut berhenti mengawasi Yasin yang menghadapi Ki Ajar Panggiring.
*****
“Saatnya kita selesaikan, urusan lama yang tertunda,” ucap Ajar Panggiring.
“Baiklah, agaknya kamu telah menyiakan kesempatan bertaubat yang aku berikan dahulu,” jawab Yasin.
“Jangan bangga dulu kamu, seandainya dulu kamu tidak musnahkan ilmuku, maka aku bisa kalahkan dirimu,” kata Ki Ajar Panggiring.
“Apalagi yang akan kamu gunakan sekarang? Masih mau gunakan ilmu kepala Babi?” ejek Yasin.
“Kamu lihatlah sendiri nanti,” ucap Ki Ajar Panggiring.
__ADS_1
Sesaat kemudian Ki Ajar Panggiring mengeluarkan sebuah boneka dari kain. Kemudian mendekap boneka tersebut dengan kencang. Tanpa diduga Yasin seperti merasakan tubuhnya yang diremas, susah untuk bergerak.
Namun Seketika itu juga Yasin membaca doa mengusir makhluk astral yang berusaha memegangi tubuhnya. Setelah membuka mata batin Yasin. Sehingga tampak wujud makhluk astral yang memegangi tubuhnya.
“Masih saja menggunakan mainan anak anak seperti ini?” kata Yasin sambil terus membaca doa doa pengusir makhluk jahat.
“Itu baru awal, jangan merasa bangga dahulu,” jawab Ki Ajar Panggiring.
Namun Yasin tidak mau memberi kesempatan kepada Ajar Panggiring untuk menggunakan ilmu teluh dan santetnya. Dengan sekuat tenaga Yasin menendang boneka yang dipegang oleh Ki Ajar Panggiring. Boneka yang dijadikan media itu pun terlempar jauh. Sehingga Ki Ajar Panggiring terkejut mendapat serangan tiba tiba.
Ki Ajar yang hendak mengambil sesuatu dari kantongnya, segera kembali diserang Yasin. Yasin tidak ingin mengalami kebutaan sesaat seperti dahulu, saat bertempur dengan Ki Ajar Panggiring sebelumnya.
“Masih mau gunakan cara licik dengan serbuk warangan juga?” ucap Yasin sambil menyerang Ki Ajar Panggiring.
Ki Ajar Panggiring kembali kaget, secara usia memang Ki Ajar Panggiring jauh lebih tua. Sehingga fisiknya pun sudah kesulitan menghadapi serangan Yasin.
“Menyerahlah dan bertaubatlah di usiamu yang sudah udzur ini, apa yang kamu cari Ki Ajar Panggiring,” kata Yasin.
“Bukan urusan kamu, jangan bangga dulu. Aku bisa hancurkan kamu nanti…!” bentak Ki Ajar Panggiring. Ki Ajar melompat mundur sambil komat kamit membaca mantra, Yasin melihat ada khodam yang keluar dari tubuh Ki Ajar. Wujud Khodam itu menyerupai wujud Ki Ajar Panggiring.
“Kamu pikir aku bisa kamu bohongi dengan Jin piaraan kamu itu Ajar Panggiring,” teriak Yasin yang terus mendesak Ki Ajar Panggiring Asli. Sedangkan Jin yang menyerupai wujud Ki Ajar Panggiring dapat diketahui oleh Yasin. KArena meski secara wajah memang sama persis,namun dimata Yasin tanduk di kepala Jin tersebut dapat dilihat oleh Yasin.
Ki Ajar Panggiring bingung, karena Yasin mampu membedakan wujudnya yang Asli. Namun keberadaan Jin tersebut juga sedikit mengganggu Yasin, karena ikut menyerang Yasin juga. Sehingga Yasin harus jempalitan menghindari serangan Jin yang menyerupai Ki Ajar Panggiring. Sekaligus juga menyerang Ki Ajar panggiring yang asli.
Kyai Nurudin yang dari tadi melihat dan mengawasi semua yang terjadi , melihat jika Yasin sedikit mengalami kesulitan menghadapi Ki Ajar Panggiring. Kyai Nurudin pun mendekati Sidiq, dan menyuruh Sidiq untuk membantu ayahnya. Agar tidak terganggu oleh Jin yang menyerupai Ki Ajar Panggiring.
“Sidiq, bantulah Ayahmu bacakan surah Al-Falaq kemudian tiupkan pada tanah dan lemparkan pada makhluk Astral itu,” ucap Kyai Nurudin.
“Baik Bah,” jawab Sidiq singkat.
Kemudian Sidiq melaksanakan perintah Abah Gurunya tersebut, dibantu juga oleh Jafar dan yang lain. Setelah mereka membaca surat Al-Falaq dan melempari tempat pertempuran Yasin melawan Ki Ajar Panggiring. Semua Khodam Ki Ajar Panggiring pun menjerit kesakitan, kemudian berlari meninggalkan Ki Ajar Panggiring yang sedang bertempur melawan Yasin.
Semua terkejut mendengar ucapan Ki Ajar Panggiring. Apakah benar Ki Ajar Panggiring masih memiliki Ajian tersebut? semua bertanya dalam hati. Namun Yasin yang sudah berniat menangkap sendiri musuh lamanya tersebut tetap bertekad menghadapi Ki Ajar Panggiring. Bahkan jika harus mengeluarkan tenaga yang cukup besar sekalipun.
“Benarkah dia memang masih memiliki Aji Kelabang Sayuto tersebut?” kata Yasin dalam hati.
Tampaklah Ki Ajar Panggiring menyiapkan Jurus Kelabang Sayuto yang dipelajari kembali dari Jin Qorinnya Ki Marto Sentono. Sehingga Yasin pun terpaksa harus menyiapkan jurus ‘Ya’ sebagai benteng pertahanan sekaligus serangan balik kepada Ki Ajar Panggiring.
“Ha…ha…ha…hanya jurus itu yang jadi andalan kamu. Mana mungkin bisa mengalahkan Ajian kelabang Sayuto milikku,” tawa Ki Ajar penuh kesombongan.
Sementara Sidiq, dan Jafar pun menjadi cemas karena hal tersebut.
“Wah Bahaya jika orang itu benar benar menggunakan Aji kelabang Sayuto. Apa kita perlu turun tangan membantu Ayah?” tanya Sidiq.
“Tunggu, jangan gegabah Sidiq. Tampaknya Ayah kamu memang harus menghadapi Ajian tersebut dengan tangannya sendiri,” kata Kyai Nurudin.
“Tapi Bah, Ayah kan tidak boleh mengeluarkan tenaga besar saat ini,” kata Sidiq.
“Ayahmu terkena racun Ilmu Karang, dan kelabang Sayuto juga mengandung racun. Tapi menurut perhitunganku, dua racun tersebut saling bertentangan. Sehingga malah bisa menjadi penawar bagi ayahmu,” jawab Kyai Nurudin.
Sidiq dan Jafar pun tidak berani membantah Kyai Nurudin. Mereka pernah mendengar, jika racun bisa jadi penawar racun lainnya, sehingga mereka berharap. Ayahnya justru akan pulih jika menerima pukulan Aji Kelabang Sayuto dari Ki Ajar Panggiring. Meskipun itu bisa jadi butuh proses, dan Yasin juga harus mengalami kesakitan terlebih dahulu, pikir Sidiq dan Jafar.
“Bagaimana Jafar?” tanya Sidiq.
“Menurut Jafar kita ikuti saja Nasehat Bah Din,” ucap Jafar.
“Baiklah, tapi kita juga harus selalu waspada,” kata Jafar.
__ADS_1
Sementara Yasin sudah bersiap menggunakan jurus “YA” untuk menghadapi pukulan Aji kelabang Sayuto Ki Ajar Panggiring.
“Bersiaplah kamu Yasin, tubuhmu akan hangus dan menghitam terkena Ajian kelabang Sayuto,” ucap Ki Ajar Panggiring sambil melompat menyerang Yasin. Yasin pun sudah bersiap menahan serangan Ki Ajar Panggiring yang sudah melompat menyerang dirinya.
Saat Ki Ajar Panggiring tinggal dua Hasta lagi dari Yasin, Yasin pun menepukkan telapak tangannya ke tanah. Sehingga dua benturan keras diikuti oleh dua sinar yang beradu.
Sinar merah menyala yang muncul dari telapak tangan Ki Ajar Panggiring beradu dengan Sinar putih dari jurus yang dikeluarkan Yasin. Meski tidak begitu jelas karena posisi siang hari, namun masih bisa terlihat dan terdengar benturan keras dari benturan dua ilmu tersebut.
Keduanya terlempar ke belakang, tubuh Yasin membentur sebuah pohon cukup keras. Sehingga membuat Yasin jatuh tak sadarkan diri. Sementara tubuh Ki Ajar Panggiring juga terpental Jauh dan tubuhnya tak tertahan sehingga jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam.
Sidiq dan Jafar berteriak menyebut Ayahnya yang terjatuh tak sadarkan diri. Keduanya hendak berlari menolong Ayahnya, Namun tiba tiba Gagak Seta menghadang Sidiq dan Jafar. Dan tanpa diduga langsung menyerang Sidiq dan Jafar dengan ilmu pemecah Ombak. Sehingga Sidiq dan Jafar yang tidak menduga jadi tersurut kebelakang terkena serangan tiba-tiba Gagak Seta.
Kyai Nurudin yang melihat itu langsung meminta Khois untuk melaksanakan tugasnya,
“Kholis, tugasmu sekarang seperti kata Jaladara tadi,” ucap Kyai Nurudin.
“Tapi bagaimana saya bisa melemparkan senjata ke arahnya Bah Din. Sementara orang itu sangat Kuat,” kata Kholis agak ragu melawan Gagak Seta.
Di saat seperti itu, Jaloadara muncul dan memberi tahu kepada Kholis.
“Kamu jangan terang terangan menyerang dari dekat. Kamu gadis kuat, alihkan perhatian Gagak Seta agar Kholis bisa menyerang punggungnya,” kata Jaladara dan berniat pergi.
“Kamu mau kemana Jaladara?” tanya Kyai Nurudin.
“Bagaimanapun, Gagak Seta adalah kakakku. Aku tidak tega melihatnya, sehingga aku harus menyingkir,” jawab Jaladara langsung melesat pergi.
“Baik,” kata Farayaka.
Kemudian melompat dan menyerang Gagak Seta, dimulai dengan melempar Shuriken. Agar Gagak Seta tidak mengejar Sidiq dan Jafar yang terlempar beberapa meter ke belakang.
“Kurang ajar, siapa kamu Nona kenapa kamu ikut campur?” kata Gagak Seta.
Namun Farayaka tidak mau berbicara, Farayaka langsung mencabut pedangnya dan menyerang Gagak Seta. Sehingga Gagak Seta harus bergulingan menghindari serangan Farayaka.
Sidiq dan Jafar yang sudah bangkit langsung berlari menuju ke tempat Ayahnya. Sementara Kholis mencari posisi untuk bosa menyerang Gagak Seta. Kholis baru sebentar di didik oleh Hansaimura tentang cara melempar Shuriken, namun Kholis bukanlah anak sembarangan juga. Sehingga Khois pun cukup menyerap ilmu lempar dan hindari Shuriken. Meski masih dibawah Jafar saat dulu dilatih oleh Hansaimura.
Gagak Seta yang berusaha menghindari serangan serangan Farayaka agak kesulitan menghadapi jurus jurus Farayaka yng dianggap aneh. Farayaka Sendiri merasa marah, karena semua anggotanya dibuat pingsan tak sadarkan diri sampai sekarang. Sehingga Farayaka melampiaskan amarahnya kepada Gagak Seta. Namun Farayaka jadi terburu Nafsu, sehingga sedikit lengah dan pukulan Gagak Seta bisa mengenai tubuh Farayaka. Farayaka pun tersurut mundur dan memegangi perutnya yang terkena pukulan Gagak seta.
“Farayaka…!” teriak Sidiq dan Jafar bersamaan. Namun keduanya juga sedang berusaha menyadarkan Yasin ayahnya yang pingsan. Sehingga bingung harus bagaimana, sementara terlihat Gagak Seta mengejar Farayaka dan mendesak Farayaka.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1