
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
"Itu balasan karena kamu tadi telah menampar aku. Soal tangan kamu sudah dipulihkan seperti semula, tapi tamparan dari kamu tetap harus aku balas biar setimpal.” Kata Jafar dengan santai sambil melangkah ke sepeda motornya dan meninggalkan tempat tersebut. tak satupun yang berani menghentikan langkah Jafar yang mengaku sebagai Sidiq tersebut. Mereka memberi jalan kepada Jafar untuk pergi…???
“Anak itu tidak bisa dianggap enteng kakang Jaka, apa perlu kita berdua melawan dia seorang diri nanti ?” ucap Bayu Aji.
“Aku bahkan sangsi kita berdua melawan dia juga sulit untuk menang adi Bayu.” Jawab Jaka.
“Lantas bagaimana nanti kakang ? Bukankah kita sudah berjanji akan melanjutkan pertarungan ini ?” Tanya Bayu Aji.
“Kamu jangan khawatir dulu, nanti aku yang akan menghadapi secara terang terangan. Dan ki Marto Sentono yang akan membantu secara sembunyi sembunyi. Agar kesannya aku saja yang melawan dia.” Kata Jaka.
“Pada waktunya nanti, Aku yakin dia tidak akan datang sendirian kakang. Meskipun olah kanuragannya di atas kita, tapi pasti mikir jika hanya datang sendirian saat pertarungan sesungguhnya.” Kata Bayu Aji.
“Kalau itu sudah pasti adi, tapi apa kamu lupa jika Guru kita punya ilmu welut putih yang bisa membuat dia tidak kasat mata ( Tampak ).” Jawab Jaka.
“Owh iya, tapi apa cara itu tidak dianggap licik nanti kang ?” Tanya Bayu Aji.
“Demi nama besar Padepokan terpaksa kita harus berbuat begitu. Apa kaya orang jika padepokan kita dikalahkan anak kemarin sore adi Bayu Aji.” Kata Jaka.
Bayu Aji hanya diam, disatu sisi dia kurang sepakat dengan rencana Jaka. Namun di sisi lain juga tidak mau nama besar Padepokan jadi hancur karena dikalahkan oleh anak muda belia.
Sehingga Bayu Aji pun harus menerima keputusan padepokan yang diambil langsung oleh pimpinannya Marto Sentono. Jaka merasa yakin jika dibantu gurunya dengan Aji welut putih nya dia akan mampu mengalahkan Jafar yang dikira Sidiq. Karena Gurunya berada di sampingnya tanpa di ketahui oleh Jafar.
Sementara Jafar juga tidak akan mampu melihat keberadaan Marto Sentono yang tidak kasat mata. Sekuat apapun Jafar pasti kewalahan menghadapi musuh yang tidak bisa dilihatnya. Dan tentunya hanya akan menerima pukulan pukulan tanpa bisa membalasnya.
Sebuah rencana licik yang sudah dipersiapkan oleh Jaka dan gurunya. Demi memenangkan pertarungan mereka bahkan tidak malu menggunakan kecurangan meski yang mereka hadapi masih tergolong anak anak.
“Kalau boleh tahu kang, ceritanya bagaimana kakang bisa dikalahkan dan sampai patah tangan kakang ?” tanya Bayu Aji.
“Aku tidak menyangka dia punya kekuatan yang cukup besar, sehingga hanya menangkis pukulan tangannya dan ilmu Tameng Wojo ku memang belum sempurna. Sehingga aku terlempar dan tanganku juga patah.” Jawab Jaka.
“Ilmu apa yang dia miliki sampai bisa mematahkan tangan kakang yang sekeras besi itu ?” tanya Bayu Aji lagi.
“Entahlah,,, itu juga yang baru di selidiki guru kita. Dan membuat guru kita harus mengumpulkan beberapa sahabatnya untuk ikut datang kesini.” Jawab Jaka.
“Berapa yang akan hadir nanti pas hari H nya kang ?” Bayu Aji makin penasaran saja. Dalam hatinya heran, hanya menghadapi seorang remaja sampai mengumpulkan sahabat sahabat gurunya Marto Sentono.
“Aku kurang tahu soal jumlahnya, tapi sebagai antisipasi guru juga memanggil murid saudaranya yang bernama ki Gede Paneluh. Jika terpaksa biar dia yang akan menyerang secara gaib dengan teluhnya. Jika guru pun tidak bisa menghadapi dengan Aji Welut putihnya.” Jawab Jaka.
“Wah bakalan seru banget nanti kayaknya kakang, semoga saja kita nanti juga mendapat tambahan Ilmu dari mereka sahabat guru kita.” Ucap Bayu Aji.
“Semoga saja, dan aku berharap pertempuran itu dilangsungkan jika tanganku juga sudah pulih. Biar kesombongan anak iru tadi bisa kita bungkam bersama.” Kata Jaka.
Kemudian mereka pun kembali ke Padepokan untuk melihat gurunya Marto Sentono yang sedang bersemedi.
…..
…..
…..
Sementara itu Jafar sudah semakin dekat dengan pesantren Sidiq.Dan sudah membawa bahan bahan obat untuk mempercepat penyembuhan kaki Sidiq. Yang sudah Jafar siapkan dari pesantren Jafar.
Tak lama kemudian Jafar pun sampai di pesantren Sidiq. Sebelum masuk ke kamar Sidiq, Jafar lebih dulu menemui abah gurunya Sidiq. Karena ada pesan yang harus Jafar sampaikan ke abah gurunya Sidiq dari gurunya Jafar.
Jafar pun menyampaikan pesan abah gurunya kepada abah gurunya Sidiq.
“Maaf bah, Jafar diutus abah guru Jafar untuk menyampaikan pesan kepada abah. Selain ingin menjenguk mas Sidiq.” Ucap Jafar.
“Iya kamu cerita saja apa pesan abah guru kamu.” Jawab Abah guru nya Sidiq.
“Jafar hanya menyampaikan kalimat yang diucapkan abah guru Jafar saja. Tapi tidak mengerti apa maknanya bah.” Kata Jafar.
“Apa kalimat yang diucapkan abah gurumu ?” tanya abah gurunya Sidiq.
“Beliau memerintahkan saya untuk mengatakan ucapan beliau ( dalam bahasa Jawa dan langsung di translate ke Indonesia ), ‘Besi yang akan disatukan harus dilebur dulu, agar bisa menyatu dengan kuat. Dan untuk melebur butuh suhu yang tinggi, setelah dingin barulah besi akan menyatu jadi kuat.’ Begitu bah.” Ucap Jafar.
“Hmmm… sampaikan saja kepada gurumu, ‘Sik durung kuat panas,Ojo caket caket wesi kang den lebur mundak kobong.’abah gurumu pasti paham.” ( Yang belum tahan panas jangan dekat dekat dengan besi yang dilebur, bisa terbakar.) ucp abah Gurunya Sidiq. Sementar Jafar sendiri belum mengerti apa maksut mereka semua.
Jafar hanya sekedar menyampaikan dan mendengar jawaban tersebut untuk disampaikan ke abah gurunya. Jafar pun kemudian pamit untuk menjenguk Sidiq, dan jika dirasa perlu akan menginap di pesantren itu juga.
Setelah mendapat izin barulah Jafar memasuki kamar Sidiq yang sudah semakin baik kondisinya.
“Assalamu ‘alaikum,,, bagaimana kabar mas Sidiq. Sudah semakin baik yam as ?” Tanya Jafar.
“Wa ‘alaikummussalaam,,, !” jawab Sidiq agak lesu.
“Keapa kok kayaknya malah jadi lesu Jafar datang kesini mas ? Apa Jafar ada salah sama mas Sidiq.” Tanya Jafar bingung melihat kakaknya yang tidak biasanya seperti itu. “Apa mungkin mas Sidiq baru ada masalah dengan mbak Riska sehingga jadi murung begini ?” tanya Jafar dalam hatinya.
“Jafar…!” ucap Sidiq memanggil adiknya.
“Ada apa mas, kayaknya ada masalah ?” tanya Jafar.
“Aku ini kakak kamu atau bukan ?” Tanya balik Sidiq membingungkan Jafar.
“Sudah pasti itu mas, ada apa memangnya ?” tanya Jafar.
“Aku mau tanya, kamu jawab dengan Jujur ya !?!” ucap Sidiq.
“Iya mas, ada apa sih ?” tanya Jafar.
“Mas agak bingung sama Jafar, dulu waktu kita masih SD jafar sering digangguin kakak kelas Jafar dan di palak. Jafar hanya diam saja tidak melawan, sampai mas Sidiq yang harus turun tangan. Padahal, ternyata Jafar sudah dilatih Yuyut. Untuk melawan mereka pasti bisa, waktu itu apa alasan Jafar, tidak melawan.
__ADS_1
“Waktu itu, Jafar sama sekali tidak suka kekerasan mas. Bahkan dilatih Yuyut pun Jafar tidak mau, karena merasa punya mas Sidiq yang selalu lindungi Jafar dan Nisa.” Jawab Jafar.
Sidiq sedikit haru mendengar jawaban jafar adiknya tersebut.
“Tapi ketika Mas Sidiq mulai mondok Jafar katanya berubah jadi agak keras, betulkah begitu ?” tanya Sidiq.
“Itu karena Jafar punya adik yang harus dijaga dan mas Sidiq tidak ada dirumah.” Jawab Jafar.
Sidiq agak bingung mau memulai dari mana dia bicara dengan Jafar adiknya.
“Udah begini saja, intinya mas bingung kamu saat melawan Prasetyo teman bagas jadi sangat garang. Kemudian kemrin juga kamu menyerang padepokan Jaka dan melukai Jaka dengan garang juga….!?” Sidiq berhenti sebentar agak sedikit ragu mau melanjutkan.
“Maaf mas, Jafar menyerang padepokan dan melukai Jaka bukan kehendak jafar sendiri. Itu perintah eyang mustolih.” Jawab Jafar.
“Ok lah mas juga denger itu, tapi kenapa kamu kadang masih diam saja ketika disakiti atau di serang orang lain. Seperti saat Bagas pertama kali menyerang kamu di terminal dan akhirnya mengira aku adalah kamu.” Ucap Sidiq.
“Maaf mas Sidiq, ada kalanya Jafar memang mengalah tap ada kalanya juga Jafar tidak mau kalah.” Jawab Jafar.
“Maksut kamu ?” tanya Sidiq.
“Kalau hanya Jafar yang dihina, dipukul biasa saja atau bahkan di bully Jafar berusaha untuk tetap mengalah. Tapi dengan Prasetyo dia menghina pondok dengan melecehkan Santri. Dan dengan Jaka dan Padepokan itu serta Jalu. Mereka itu orang yang akan mengancam keselamatan Ayah bunda, untuk soal itu Jafar tidak mau kalah mas, apalagi mengalah….!” Jawab Jafar.
Sidiq hampir saja berucap, “bagaimana dengan Muksin ?” namun Sidiq tahan saja karena Jawaban Jafar barusan membuat Sidiq jadi berpikir juga. Jika selama ini dia bahkan urusan sepele pun seringkali dibuat ramai, meskipun memang tidak bersalah.
Tapi setelah mendengar Jawaban Jafar, yang seringkali mengalah jika hanya hal sepele itu membuat Sidiq jadi berpikir jika selama ini dia memang kurang sabar seperti Jafar.
“Tapi ya jangan membiarkan orang lain menyakiti kamu lah, aku kakakmu tidak akan terima itu terjadi Jafar.” Ucap Sidiq.
“Gak kok mas, gak ada yang nyakitin Jafar.” Jawab Jafar. Dalam hati Jafar membatin, “apa mas Sidiq tahu permasalah yang terjadi dengan kang Muksin, tapi dari mana. Dan masalah juga sudah clear, kang Muksin hanya salah paham saja.”
“Udah lah mas, Jafar juga gak akan bakal diam saja kalau sampai ada yang menyakiti Jafar kok. Jafar lihat dulu kaki mas Sidiq.” Ucap Jafar langsung mengeluarkan ramuan dedaunan untuk mengobati efek bengkak di kaki Sidiq akibat patah tulang. Agar tidak menjadi keriput nantinya, serta tidak meninggalkan bekas luka. Jafar memulai mengunyah daun binahong dan beberapa daun lain juga dihaluskan dengan Tangannya.
“Kamu kok malah makan Daun ?” Tanya Sidiq yang tidak paham maksut Jafar.
Jafar yang baru mengunyah daun binahong dan daun ‘Mlanding’ ( sejenis Lamtoro ) hanya diam saja karena selain mengunyah sebenarnya juga Jafar sambil membaca doa ijazah abah gurunya untuk menyembuhkan Luka.
“Bukan makan daun mas, ini untuk obat mas Sidiq.” Kata Jafar setelah selesai mengunyah dan mencampur ramuan herbal tersebut.
“Owh kirain lapar terus makan daun…!” ucap Sidiq mulai bisa bercanda lagi.
“Mas Sidiq anggap Jafar kambing ? Kalau begitu mas Sidiq kakaknya Kambing dong !” balas Jafar ikutan mengeluarkan kalimat canda.
Sidiq pun ngakak, bukan karena kalimat Jafar dianggap lucu. Tapi karena Sidiq baru pertama kali mendengar Jafar membanyol.
“Wkakaka…. Akhirnya kamu bisa bercanda juga sekarang Jafar…!?!” Ucap Sidiq sambil tertawa.
“Sekali kali lh mas, jujur Jafar juga pengen bisa bercanda seperti mas Sidiq. Selama ini orang selalu menilai jafar kaku gak asik diajak ngobrol dan macam macam lah.” Ucap Jafar spontan curhat sama Sidiq kakaknya.
Sidiq sampai memandangi wajah Jafar tanpa berkedip, sehingga Jafar jadi merasa risih dilihat seperti itu.
“Ngapain sih mas, mandangin Jafar kayak gitu.” Ucap Jafar.
Kemudian Sidiq tersenyum, seperti menahan tawa.
“Apaan sih mas Sidiq, jadi mau diobatin gak nih ?” Ancam Jafar.
“Lah kok ngancam begitu, berarti benar dong dugaan mas Sidiq kamu lagi jatuh cinta, sama siapa sih ? kalau gak mau bilang aku aduin ke ayah bunda sekalian nanti…!” ancam balik Sidiq.
“Jangan dong mas, Jafar malu…!” Protes Jafar yang terpancing omongan Sidiq. Sehingga tanpa sengaja ucapan Jafar seperti mengiyakan ucapan Sidiq.
“Ehheemm… sekarang kamu gak bisa bohong lagi, cepat katakana siapa gadis yang kamu taksir. Tapi jangan bilang Nadhiroh ya. Dia memang cantik tapi terlalu dewasa buat kamu Jafar.” Pancing Sidiq agar Jafar mengaku.
“Bukan lah, masak sama kak Nadhiroh.” Ucap Jafar.
“Nah ketahuan kan, berarti memang ada terus siapa gadis itu Jafar ?” ucap Sidiq yang berhasil memancing Jafar agar mengaku.
Jafar Pun merasa dirinya telah terpancing dan terprovokasi oleh Sidiq kakaknya. Sehingga Jafar jadi sangat malu di hadapan kakaknya.
“Enggak ah,,, mas Sidiq ni bikin Jafar jadi malu saja.” Ucap Jafar menahan malu.
“Kenapa malu Jafar, mas juga udah bilang kalau sudah punya pacar kok, gantian dong Jafar ngaku ke mas Sidiq.” Kata Sidiq.
“Jafar malu mas Sidiq, dan Jafar hanya sedikit tertarik saja belum mau punya pacar juga.” Jawab Jafar mulai masuk perangkap Sidiq.
“Lebih baik kamu terus terang Jafar, dari pada nanti malah ada salah paham diantara kita.” Ucap Sidiq denagn mimic wajah yang dibuat serius.
“Maksud mas Sidiq salah pham bagaimana ?” tanya Jafar.
“Lah siapa tahu kalau gak sengaja aku juga tertarik dengan gadis yang kamu suka terus aku jadikan pacar kan kamu bisa marah nanti.” Ucap Sidiq tetap dengan wajah serius.
“Mas Sidiq kan sudah punya pacar mbak Riska ?” tanya Jafar polos.
“Terus kenapa, kalau ternyata ketemu yang lebih cocok dan sama sama suka kan ganti pacar juga boleh, kan baru pacar ini.” ucap Sidiq berusaha menahan geli atas kepolosan Jafar tersebut.
Jafar agak kaget dengan ucapan Sidiq kakaknya menganggap Sidiq serius dengan apa yang diucapkan.
“Mas Sidiq gak boleh gitu, nanti kasihan mbak Riska kalua jadi patah hati.” Protes Jafar.
Dalam hati Sidiq ngakak tertawa mendengar ungkapan polos adiknya tersebut. namun Sidq tetap menahan dan berusaha tampak serius, mau melihat apakah adiknya masih ada jiwa since of humor atau tidak.
“Kita kan gak tahu Jafar, bisa jadi juga mlah Riska yang ketemu cowok lain yang lebih cocok dan meninggalkan mas sidiq nanti.” Jawab Sidiq.
Jafar kembali kaget dengan ucapan Sidiq yang sebenarnya hanya memancing Jafar tersebut.
“Apa mas Jafar gak pengen seperti ayah bunda yang saling setia dan rukun selamanya itu ?” tanya Jafar serius kepada Sidiq.
Ditanya seperti itu Sidiq berpikir sejenak.
“Iya jelas pengen banget lah Jafar, tapi itu kan kalau sudah menikah kalau sekarang kan masih pacaran atau ta'aruf agar saling mengenal satu sama lain. Jadi masih ada kemungkinan cocok atau tidak cocok.” Jawab Sidiq berdiplomasi.
__ADS_1
“Masak begitu sih mas ?” tanya Jafar bingung.
“Itu realita kehidupan Jafar, ada yang pacaran bertahun tahun akhirnya putus, kemudian kenal orang lain dalam hitungan bulan bahkan minggu langsung Nikah.” Jawab Sidiq semakin membuat Jafar kebingungan.
Jafar ingat hubungan Ayahnya dengan mamah Arum ibunya Sidiq kakaknya dan Ayahnya dengan Bundanya Fatimah. Namun Jafar tak berani mengatakan itu pada Sidiq kakaknya.
“Jafar masih bingung mas Sidiq.” Ucap Jafar tiba tiba.
“Bingung kenapa Jafar ?” tanya Sidiq,kali ini memang dengan serius.
“Mas Sidiq jangan marah tapi ya mas ?” ucap Jafar.
“Iya bilang saja Jafar, apa kamu juga suka dengan Riska pacar mas Sidiq ?” pancing Sidiq.
“Gak gitu lah mas, masak iya Jafar mau merebut pacar mas Sidiq.” Jawab Jafar.
“Terus kenapa “ tanya Sidiq, kali ini makin penasaran.
Jafar menghela nafas mengumpulkan keberanian berbicara.
“Jafar tadi kan bilang hanya sedikit tertarik saja entah itu namanya cinta atau bukan Jafar juga gak ngerti mas.” Jawab Jafar mulai membuka diri.
“La iya, tapi tertarik sama siapa gak usah bilang sedikit banyak juga boleh kok.” Ucap Sidiq.
“Ya itu masalahnya mas, Jafar gak Yakin bisa.” Jawab Jafar.
“Maksudnya gak yakin bisa bagaimana Jafar, cerita saja mas jaga rahasia Jafar mas Jamin itu.” Ucap Sidiq serius.
Kemudian Jafar cerita saat pertama kali bertemu dengan Nia, ada getaran aneh yang dia rasakan. Tapi sama abah gurunya yang sekaligus orang tua Nia Jafar diminta menjaga Nia seperti adik kandungnya sendiri.
Kemudian Nia sendiri juga menganggap Jafar hanya sebagai kakaknya. Itu membuat Jafar agak ragu ditambah Khois yang mengatakan jika dia suka dengan Nia. Sehingga Jafar merasa tidak berani mendekati Nia lagi.
Dan didalam masa kebingungan itu tiba tiba muncul sosok Vina yang secara tiba tiba jadi makin dekat dengan Jafar. Sehingga Jafar saat ini justru bimbang antara Nia dan Vina adiknya Lita tema Sidiq. Jafar bercerita dengan sangat serius kepada kakaknya Sidiq. Sampai Jafar juga menceritakan saat ini Vina juga makin dekat dengan Nisa juga. Sehingga Jafar jadi makin bingung.
“Itu namanya kamu sekedar simpatik saja sama Nia dan Vina Jafar. Belum sampai pada taraf jatuh cinta, kalau sudah jatuh cinta itu tidak mudah tergoda dengan yang lain. Kecuali itu lelaki buaya yang suka obral Cinta.” Jawab Sidiq.
“Owh begitu ya mas, jadi Jafar harus bagaimana sekarang ?” Tanya Jafar.
“Mengalir saja lah Jafar, jujur saja mas Sidiq dulu juga tertarik pada beberapa wanita tapi pilihan mas Sidiq jatuh ke Riska. Meskipun ada juga hal dari Riska yang mas Sidiq gak suka.” Jawab Sidiq.
“Jadi itu yang membuat mas Sidiq tadi bilang mungkin akan ganti jika ketemu yang lebih cocok dari mbak Riska ?” Tanya Jafar dengan polosnya.
“Gak gitu juga dong Jafar, tadi mas Sidiq hanya bercanda buat mancing kamu saja. Mas gak berpikir seperti itu kok, mas berusaha kekurangan yang ada pada diri Riska itu menjadi sebuah kelebihan. Artinya mas siap menerima kekurangan Riska selama bukan hal yang prinsip.” Jawab Sidiq.
“Berarti mas Sidiq tadi bohongin Jafar ?” protes Jafar.
Sidiq ngakak mendengar ucapan Jafar.
“Wkakaka… kamu juga mau saja aku bohongin, mas Sadar dengan apa yang menimpa mamah Arum dan Ayah Jafar. Meski mas tetap bisa menerima kenyataan itu, dan yang pasti mas juga bangga punya bunda Fatimah ibu kandung kamu yang sayang banget sama mas.” Ucap Sidiq sambil menahan air matanya.
Jafar yang melihat itu langsung memeluk Sidiq dengan haru.
“Maafkan Jafar jadi mengingatkan kesedihan mas Sidiq. Jafar juga bangga punya Mas seperti mas Sidiq, juga Jafar kagum dengan mamah Arum yang sangat tegar.” Ucap Jafar.
“Udah Jafar, mas Sidiq gapapa kok gak usah sedih begitu apapun yang terjadi kita tetap kakak adik yang harus saling bantu. Makasih ya sudah bantu obati mas Sidiq.” Ucap Sidiq.
Tiba tiba Jafar baru sadar jika baru mengobati lukanya Sidiq.
“Aduh jadi lupa, baru ngobatin kaki mas Sidiq. Ini sudah bagus banget kok mas. Pasti dibantu eyang Jafar Sanjaya ya ?” kata Jafar beralih topic pembicaraan.
Sidiq pun mengiyakan ucapan Jafar, dan menceritakan jika tiap malam Sidiq ditemui eyang Jafar Sanjaya dan diurut di bagian kaki yang patah. Dan tiap bangun tidur Sidiq selalu merasakan perubahan yang pesat. Bahkan dalam mimpinya Sidiq pun pernah seakan mimpi ikut eyeng Jafar Sanjaya berbulan bulan dan diobati serta diajari jurus jurus eyang Jafar Sanjaya. Sampai dengan dipertemukan dengan eyang hadian dan diajari ilmu sayeti angin.
Namun Sidiq belum berani mencoba karena ingat pesan Jafar untuk tidak memaksakan. Jafar yang mendengar keterangan Sidiq pun jadi penasaran. Kemudian membuka tali selendang dn spalk yang dipakai Sidiq. Sehingga justru membuat Sidiq kaget dengan ulah Jafar.
“Kamu apakan Jafar, kan baru tiga hari ?” kata Sidiq.
Jafar memeriksa kaki Sidiq dengan seksama, dari meraba tulang yang kemarin patah sampai dengan memeriksa simpul saraf dan aliran darah yang mengalir ke setiap ruas jari kaki Sidiq. Dimana sebelumnya darah mengalir tapi masih lambat dan saraf masih belum terlalu responsif. Jafar terkejut melihat perkembangan kaki Sidiq, semua sudah Sembilan puluh persen Normal.
“Mas Sidiq coba kamu berdiri dengan dua kaki tanpa tongkat penyangga lagi sekarang.” Ucap Jafar.
Sidiq ragu ragu dengan ucapan Jafar, namun diikutinya juga kata kata Jafar adiknya tersebut.
“Aku masih agak ragu Jafar, aku sambil pegangan kamu ya ?” kata Sidiq.
Jafar pun berdiri di depan Sidiq untuk pegangan Sidiq yang melepas tongkat penyangganya.
Pelan pelan Sidiq melepaskan pegangannya pada Jafar dan akhirnya Sidiq bisa berdiri tanpa berpegangan lagi. bahkan saat mencoba mengangkat kaki kirinya yang tidak sakit, Sidiq hanya berdiri dengan satu kaki yang kemarin patah Sidiq sudah tidak merasakan sakit lagi.
“Alhamdulillah Ya Allah… makasih banyak Jafar kakiku sudah sembuh sekarang..!” ucap Sidiq bahagia.
“Alhamdulillah… tapi ingat mas ini belum sempurna, tetap harus hati hati dan jangan keluar dari pesantren dulu minimal sampai hari ketujuh dari saat kaki mas Sidiq kemarin patah.” Ucap Jafar.
“Maksudnya kakiku kemarin patah, bukan hanya retak ???” tanya Sidiq.
Jafar yang merasa keceplosan kesulitan untuk menjawab pertanyaan Sidiq. “Aduh kenapa aku keceplosan, pasti mas Sidiq makin dendam ke Jaka nanti.” Ucap Jafar dalam hati….!!!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1