
“Doakan saja aku bisa menemukan cara yang terbaik buat
menyelesaikan maslah ini. Saat ini aku juga sedang berpikir bagaimana rencana
selanjutnya.” Jawabku pada Fatimah.
Karena aku sendiri juga belum menemukan cara menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi. Namun aku yakin jika mereka musuh musuhku
pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai aku dan keluargaku…!?!”
“Mau kemana, sebentar lagi kan Isna dan Utari pulang sekolah ?" Tanya Fatimah saat aku hendak mengeluarkan sepeda motor.
“Gak kemana mana muter muter saja sebentar cari anginsegar.” Jawabku.
“Cari angina apa cari angin…?” Goda Fatimah.
“Sedapatnya aja, dapat angin ya angin dapat yang lain juga gak papa.” Sahutku sambil senyum.
Fatimah pun hanya tersenyum mendengar jawabanku tersebut.
Sudah hafal jika aku baru memikirkan sesuatu selalu keluar rumah sekedar cari inspirasi. Akupun menyalakan sepeda motor hendak muter muter kampung saja.
[aling suka melihat area persawahan yang ditanami padi dan sudah mulai menguning. Kemudian melihat aktifitas petani yang tersenyum menunggu
hasil panennya. Mereka tampak bahagia seakan hasil tanam mereka sudah ada didepan mata.
Aku sering menemani salah satu atau beberapa dari mereka yang sedang bersantai di gubuk gubuk sawah. Sambil memandang padi yang mulai
menguning.
“Udah hampir panen ini pak ? Butuh tenaga buat metik padi gak ?” Tanyaku bercanda dengan salah satu petani.
“Eeh iya pak, mau kemana pak siang siang begini ?” tanya balik bapak itu.
“Lihat lihat sawah saja pak, bagaimana hasil tanamnya bagus kan pak ?” tanyaku lanjut.
“Ya lumayan saja pak, masih lebih baik panen yang musim lalu.” Jawabnya.
“Kenapa pak, apa diserang Hama ?” tanyaku agak penasaran.
“Tidak pak , tapi sekarang airnya agak susah sedang mau mengaliri sawah malam hari juga masih pada ketakutan. Sejak peristiwa ada yang
meninggal saat itu.” Jawab Petani itu.
Bukankah itu sekitar sebulan yang lalu dan tidak
berkelanjutan, pikirku.
“Peristiwa itu bukanya tidak ada hubungan dengan mengaliri air pak. Dan tidak ada peristiwa selanjutnya.” Tanyaku.
“Ada pak, sekitar seminggu setelahnya juga ada peristiwa hampir serupa. Ditambah dengan pencurian hewan ternaknya.” Jawab petani itu.
“Hah pencurian hewan ternak ? Maksutnya pencurian dengan pembunuhan begitu pak ?” tanyaku penasaran.
Kemudian petani itu menceritakan ada peristiwa pembunuhan
dengan ciri yang hampir sama dan beberapa ekor binatang piaraanya juga hilang.
“Kenapa pak Yadi tidak bilang ya.” Kataku dalam hati.
“Owh jadi karena itu jadi hasilnya jai kurang bagus pak ?” Tanyaku.
“Iya pak, memang gak terlalu jelek juga tapi ya berkurang saja hasilnya. Karena saat masih harus diairi sering kali kekeringan. Jadi ibaratnya menguning sebelum waktunya.” Jawabnya.
“Yasudah pak, yang penting masih bisa dipanen. Mudah mudahan besok hasilnya lebih baik lagi.” Kataku sambil pamitan dan kembali ke rumah.
Aku belum bisa menemukan kaitan antara peristiwa pertama dengan peristiwa kedua tersebut. mungkin juga tidak ada kaitanya sama sekali,pikirku. Akupun segera menuju ke rumah kembali, sambil sesekali memandang persawahan disekeliling. Jika diamati memang tidak sebagus musim panen
sebelumnya.
…..
Sampai dirumah Isna dan Utari sudah berada di rumah membantu Fatimah di warung.
“Udah pada makan belum kok malah pada diwarung belum ganti baju sekolah ?” Tanyaku pada Isna dan Utari.
“Belum bi, kasihan umi sendirian tadi banyak yang belanja soalnya. Abi dari mana saja ?” Tanya Isna.
“Dari lihat persawahan, yasudah kalian ganti baju dan makan dulu biar umi abi yang bantuin.” Kataku pada mereka.
“Iya bi, hari ini jadwal ke Al-Hikmah kn bi ?” Tanya Utari tahu aku jadwal melatih santri Al-Hikmah tempat Ayahnya.
“Iya, kenapa kamu pengen ikut pulang ?” Tanyaku.
“Gak kok bi, tadi Isna bilang titip salam buat kang Sidiq katanya.” Jawab Utari menggoda Isna.
“Yee gak kok bi, Tari tuh yang mengada ngada.” Sahut Isna.
Aku hanya tertawa saja melihat dua anak didikku tersebut bercanda.
“Kan kamu bilang kalau kang Sidiq lebih Macho dari Jafar.” Kata Utari.
__ADS_1
“Tapi kan aku gak bilang nitip salam juga Tari…!” bantah Isna.
“Sudah sudah cepat ganti baju dan makan sana, abi mau bicara sama umi kalian.” Ucapku menengahhi dua gadis remaja tersebut.
“Iya bi,,, maunya berduaan terus nih abi dan Umi.” Goda Isna.
Aku lihat Fatimah hanya tertawa saja melihat kelucuan anak didik kami tersebut.
Setelah Isna dan Utari pergi aku mendekati Fatimah dan menceritakan apa yang aku dengar dari petani tadi. Fatimah pun jadi terkejut kemudian berbisik.
“Jangan sampai Isna dan Utari dengar mas, takutnya mereka malah jadi penasaran saja.”
“Iya, tapi maksudku mereka juga harus tetap diminta waspada.Jujur saja peristiwa di Padepokan kemarin itu malah menjadi pemicu munculnya
masalah masalah baru nantinya.” Kataku pada Fatimah.
“Mas kasih kabar ke Sena dan Farhan atau kang Tohari sekalian saja mas. Siapa tahu mereka juga jadi incaran karena dulu ikut berjuang sama mas kan. Jangan sampai kasus Zulfan terulang lagi, karena mas terlambat kontak dengan mereka.” Sahut Fatimah.
Aku jadi tersadar, jika tidak member tahu mereka bisa jadi malah mereka lengah. Dan itu justru membahayakan mereka semua. “kenapa aku jadi
egois begini, meskipun maksudku tidak ingin membebani mereka tapi justru bisa
membahayakan mereka.” Kataku dalam hati.
“Iya ya Fat, kok aku jadi gak kepikiran begitu sih.”
Jawabku.
“Mas aja yang kepedean, sampai gak mikir keselamatan saudara saudara yang lain. Siapa tahu ga hanya mas yang diancam mereka.” Ucap Fatimah.
“Iya maaf, aku ngaku salah nanti aku kontak mereka deh. Biar mereka waspada, dan bisa saling berbagi info.” Jawabku.
“Mas,,,?” Ucap Fatimah terhenti seperti Ragu ragu.
“Ada apa lagi, kok sepertinya ragu mau bicara kayak masih pacaran saja malu malu…!” Godaku.
“Tuh kan mulai lagi, lagi bicara serius juga masih
slengean…!” gerutu Fatimah.
“Habisnya kamu mau ngomong saja pakai ragu agu begitu, ada apa lagi ?” tanyaku.
“Kan di rumah hanya ada satu laki laki, bagaimana kalau Wisnu anak Khotimah kita minta menemani tinggal dirumah ini ?” Tanya Fatimah.
“Gak enak lah, Wisnu udah remaja dan disini juga ada dua gadis remaja Fat…!” Jawabku.
“Kan dalam pengawasan kita juga mas, lagian gak mungkin juga lah Wisnu macam macam. Wisnu kan bapaknya saja pendiam gak ganjen sama cewek.”
“Dasar,,, kamu ni sengaja mengolok akau kan.” Gerutuku.
“Gak lah, tapi kalau merasa sendiri ya berarti memang begitu…!” jawab Fatimah sambil senyum menahan tawa.
“Iya deh, terserah kamu saja tapi Wisnu itu nurun Candhra atau nurun Khoyimah ya ?” Tanyaku.
“Maksutnya ?” Tanya Fatimah.
“Dalam hal kanuragan apakah dia menuruni Khotimah atau tidak.” Jawabku memperjelas.
“Belum tahu juga sih, tapi minimal ka nada darah Yuyut juga yang mengalir mas. Makanya Fatimah memilih Wisnu disamping dia juga masih
dibawah Isna dan Utari usianya.” Jawab Fatimah.
Aku paham dengan maksud Fatimah, jika Wisnu masih dibawah Isna dan Utari akan diperlakukan sebagai adik oleh Isna dan Utari. Tapi yang
mengganjal di pikranku apa Wisnu bisa diandalkan jika aku harus keluar rumah nanti, pikirku.
“Ya kamu biang saja sama Khotimah boleh gak Wisnu ikut tinggal disini.” Jawabku.
“Nah itu yang Fatimah lupa bilang mas.” Ucap Fatimah.
“Maksutnya lupa bilang bagaimana ?” Tanyaku.
“Kemarin saat mas keb padepokan itu, Wisnu lihat Isna dan Utari berlatih pencak Silat. kemudian dia bilang ke bundanya kalau mau ikut latihan seperti Isna dan Utari
disini. Tapi Khotimah menjawab, suruh bilang kamu dulu boleh apa gak ?” Jawab Fatimah.
“Lah kenapa gak bilang dari kemarin kalau begitu, kan malah kebetulan bisa menemani kamu juga Fat…!” kataku agak sebel.
“Namanya juga lupa, kan mas sendiri pulang sudah larut kemudian sibuk lagi dengan urusan urusan lainnya.” Jawab Fatimah.
“Iya juga ya, yasudah bilang ke Khotimah saja aku sangat senang jika Wisnu mau tinggal disini juga.” Jawabku.
Kemudian aku segera member kabar pada saudara saudaraku dengan pesan singkat yang isinya memberitahukan agar semua waspada. Karena
adanya kemungkinan kerabat atau keturunan dari musuh musuh yang dulu sama sama
kita hadapi akan balas dendam. Serta mengingatkan agar jangan sampai kasus yang
menimpa Zulfan terulang kembali.
Namun belum ada yang membaca dan membalas pesanku tersebut.
__ADS_1
Mungkin juga baru pada sibuk dengan urusan masing masing, pikirku.
…..
Di sekolah Sidiq
Author POV
Setelah Sidiq berhasil memberihkan namanya di sekolah dan Ari Cs yang terlibat kasus penculikan Riska sudah diamankan kepolisian. Sidiq pun kembali bisa bersekolah dan berkumpul lagi dengan teman teman sekolahnya.
Bahkan kembali berhubungan seperti biasanya dengan Riska, pergi dan pulang sekolah bareng lagi. Riska pun tampak bahagia akhirnya hubungannya dengan Sidiq kembali baik.
“Eeh Ris, sekarang Sidiq udah gak kerja di counter itu lagi ya. Terus gimana kalau kamu kangen dia ?” Goda Lita pada Riska.
“Biasa aja kok Lita, paling juga saling Chat aja.” Jawab Riska.
“Tapi Sidiq sekarang jadi agak beda ya Ris, jadi lebih kalem gak kayak kemarin kemarin gampang banget tersinggung.” Ucap Lita.
“Gak juga sih menurut Riska, kemarin gampang tersinggung karena ada yang mengganggunya kalu sekarang kan gak ada yang mengganggu mau
marah sama siapa ?” Jawab Riska.
“Owh iya ya, ehhemm ada yang lebih tahu tentang Sidiq kenapa aku malah komen tentang Sidiq. Jelas kalah data ya sama kamu Ris.” Goda Lita.
“Apaan sih, diam aah tu orangnya datang jangan ngomngin dia lagi Riska malu.” Bisik Riska.
Kemudian Sidiq duduk dihadapan Riska dan Lita di kantin sekolah itu.
“Udah lama kalian di sini ?” Tanya Sidiq.
“Belum kok, pesanan kami juga belum datang mau pesan apa kamu Diq ?” jawab Lita mendahului Riska.
“Aku mau minum saja, lagi gak selera makan nih.” Jawab Sidiq.
“Kamu sakit mas ?” Tanya Riska.
“Gak kok, hanya lagi gak selera saja kenapa Ris ?” Tanya Sidiq.
“Gak papa, takut karena sakit saja terus gak enak makan.” Jawab Riska.
“Owh gak kok,,, aku sehat sehat saja. Owh iya sudah pada tahu perkembangan kabar Ari dan lainya ?” Tanya Sidiq.
“Belum,,, tapi yang jelas sudah dikeluarkan dari sekolah ini.” Jawab Lita.
“Kasihan juga sebenarnya, sekolah tinggal beberapa bulan lagi malah harus keluar begitu.” Ucap Sidiq.
“Biarin saja kenapa, kan karena ulah dia sendiri siapa suruh berbuat jahat begitu.” Jawab Lita.
“Iya sih, cuman tetap saja Sidiq gak tega mereka sampai dikeluarkan dari sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi.” Jawab Sidiq.
“Mas, ada yang perhatiin kamu dari tadi tuh dari seberang jalan…!” Kata Riska.
Sidiq pun menoleh ke arah yang disebut Riska, Sidiq pun kaget karena tahu persis itu adalah Jalu bersama seorang wanita setengah baya,
yang tidak lain adalah Mutsashi alias Susiana.
“Itu kan Jalu saudaranya Ari, mau ngapain lagi dia mengamati kita ?” Ucap Sidiq.
“Jalu…!” pekikk Riska dan Lita bareng.
“Owh iya, aku ingat dia yang mukul aku hingga pingsan dan membawa aku ke Padepokan itu.” Ucap Riska baru ingat jika orang itu adlah Jalu
sepupu jauhnya Ari.
“Iya dan wanita asing disampingnya itu mengingatkan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Sebaiknya kalian lebih berhati hati sekarang jika bertemu dua orang itu lebih baik menyingkir saja.” Ucap Sidiq.
“Kamu juga hati hati diq, dan jangan lupa koordinasi dengan Jafar adik kamu juga ayah kamu.” Kata Lita.
“Iya, aku pasti akan kasih tahu adikku juga.” Jawab Sidiq.
Sayang kemarin di padepokan tidak sempat berhadapan langsung dengan Jalu. Jadi aku belum bisa mengukur kekuatan Jalu sejauh mana. Dan tiba
tiba ia muncul dengan orang Asing yang wajahnya seperti wajah wajah Lady Ninja
dulu. Jangan jangan dia juga seorang Lady Ninja, wah makin runyam nih urusan.
Aku harus kasih tahu Jafar secepat mungkin, kebetulan Ayah nanti juga jadwal
melatih di Al-Hikmah. Sidiq harus kasih tahu ayah Soal ini. Sidiq gak mau
ceroboh lagi sekarang, batin Sidiq…!?!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...