Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Menemukan Gembul


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Yasin pun segera meminta bantuan pak Suhadi untuk mengumpulkan personil yang bersedia ikut menangkap gerombolan kecil yang ada di Pos tadi. Dan rencananya nanti malam selepas tahlil mereka akan segera berangkat menuju ke pos itu. di damping tiga orang personil polisi yang di bawah perintah pak Adnan.


*****


Author POV


Saat acara Tahlilan pun berjalan seperti sebelumnya, seluruh anggota padepokan berbagai padepokan ikut membantu jalan nya acara. Hanya saja semua memakai seragam padepokan nya pak Suhadi. Agar musuh mengancam padepokan pak Suhadi yang sudah di jaga secara sembunyi sembunyi. Bahkan beberapa personil Polisi pun ikut menyamar menjadi anggota padepokan tersebut.


Begitu juga rencana untuk tujuh harian besuk akan di hadiri oleh banyak anggota Padepokan baik yang benar benar anggota maupun polisi yang menyamar. Untuk memancing musuh agar masuk perangkap yang sudah di siapkan.


Usai acara Tahlilan Yasin pun menemui pak Adnan untuk berkoordinasi menangkap sejumlah pelaku yang berada di pos yang siangnya di temukan oleh Yasin.


“Tampaknya dari pihak lawan sudah sangat berambisi untuk menguasai keadaan. Ha itu membuat mereka sedikit ceroboh. Sehingga memudahkan kita untuk melakukan penangkapan.” Ucap Yasin membuka obrolan.


“Jadi kira kira berapa personil yang di butuhkan untuk menangkap mereka pak ?” ucap pak Adnan.


“Saya butuh empat personil Polisi dan beberapa anggota Padepokan, termasuk saya dan bang Rofiq juga akan ikut dalam penyergapan itu.” ucap Yasin.


“Apa cukup pak dengan sejumlah itu ?” ucap pak Adnan.


“Insya Allah cukup pak, saya sudah mengukur sejauh mana kemampuan mereka dan justru penjagaan padepokan pak Suhadi lah yang harus di perketat. Siapa tahu mereka juga akan bergerak ke sana malam  ini.” jawab Yasin.


“Baiklah, nanti saya juga akan ikut dalam penyergapan itu. namun untuk teknis di lapangan nanti saya serahkan ke pak Zain yang lebih tahu mereka.” Ucap pak Adnan.


Singkat cerita Yasin bersama anggota padepokan yang berjumlah tujuh orang dan empat personil Polisi termasuk pak Adnan juga dibantu Rofiq berangkat menuju ke Pos musuh yang siang tadi mereka temukan. Mereka berangkat dengan mobil pribadi bukan mobil Polisi agar tidak di curigai pihak lawan.


Dalam waktu seperempat jam mereka sudah sampai di dekat bukit dan di lanjutkan dengan jalan kaki mengepung rumah yang di jadikan pos tersebut. dengan menutup semua akses jalan keluar dari lokasi tersebut. dengan harapan semua bisa tertangkap dan tidak bisa melarikan diri.


Rombongan di bagi menjadi dua kelompok, satu di bawah komando pak Adnan langung yang bersama personil  Polisi dan dua orang anggota Padepokan. Sementara yang lain mengikuti Yasin dan Rofiq yang membawa lima orang anggota padepokan termasuk pak Suhadi juga ikut di dalamnya.


Mereka bergerak mendekati rumah tersebut secara perlahan dan dengan komando dan aba aba dari Yasin dan pak Suhadi. Dan yang mendekati rumah tersebut adalah pak Adnan dengan salah satu personilnya dan Yasin dengan Rofiq. Sementara yang lain menutup akses jalan yang mungkin bisa di gunakan untuk melarikan diri.


Yasin memberi kode pada pak Adnan untuk memasuki rumah tersebut dan memberikan peringatan agar semua menyerah. Kemudian Yasin dan pak Adnan mendekati pintu utama tersebut, sementara Rofiq dan salah satu personil Polisi menghadang di pintu belakang. Antisipasi jika ada yang akan melarikan diri lewat pintu belakang.


Braaaak….


Suar pintu di dobrak, membuat penghuni rumah kaget, di ikuti tembakan peringatan oleh pak Adnan.


Dooor.. door…door…


Suar tembakan peringatan oleh pak Adnan, dilanjutkan peringatan secara lisan.


“Polisi, jangan bergerak, kalian sudah di kepung…!!!” ucap pak Adnan.


Penghuni rumah pun hanya berdiam tak bergerak, hanya ada beberapa orang yang di dapur mencoba lari lewat pintu belakang. Namun di sana juga sudah di tunggu seorang anggota Polisi dan Rofiq. Sehingga dua orang yang akan melarikan diri tersebut. dapat di lumpuhkan dengan cepat oleh Rofiq dan Polisi tersebut. kemudian tangan dua orang itu pun di borgol dengan satu borgol, sehingga dua orang tersebut tangan kanan dan kirinya terikat oleh borgol Polisi sehingga tidak bisa leluasa bergerak. Dan keduanya di suruh tiarap dengan ancaman pistol anggota Polisi tersebut.


Sementara di dalam rumah yang sudah terkendali oleh pak Adnan dan Yasin semua disuruh tiarap di kumpulkan dalam satu ruangan. Kemudian pak Adnan menghubungi anggotanya yang lain untuk masuk dan mengikat tawanan dan sebagian dengan tali dan juga borgol yang sudah di siapkan.


Total ada lima tawanan yang ada di dalam rumah dan dua orang yang hendak pergi melarikan diri.


Saat mereka sibuk menahan orang orang yang yang tertangkap seorang anggota Padepokan melapor kepada Yasin bahwa ada seorang yang berjalan mau mendekati rumah tersebut. kemudian Yasin dan Rofiq segera menuju ke  arah orang yang dimaksud tersebut. mereka menyangka bahwa dialah pemimpin pos tersebut.


“Tahan orang itu jangan sampai lolos, p[asti dia pemimpin disini.” Teriak Yasin sambil melangkah keluar rumah tersebut menuju ke lokasi yang di sebutkan.


Terdengar suar keributan di luar rumah dan kejar kejaran antar anggota padepokan dengan orang yang dimungkinkan adalah pemimpin pos tersebut.


“Kejar dia !” seru salah satu anggota padepokan.


“Hati hati orang itu bawa senjataa tajam…!” teriak Yasin


Yasin mengejar lebih dahulu orang tersebut bersama Rofiq, mengantisipasi agar tidak jatuh korban.


“Bang kayaknya kita kenal dengan orang tersebut…!” seru Yasin.


“Iya dari postur tubuhnya yang tambun sepertinya dia adalah Gembul…!” seru Rofiq dengan luapan amarahnya terhadap Gembul.


“Awas jangan terbawa emosi, jangan sampai kita justru terjebak kasus hukum.” Seru Yasin.


“Kita lumpuhkan saja dia agar tidak bisa lari jauh.” Sahut Rofiq.


“Baiklah, aku coba lempar dia  di saat yang tepat jangan sampai malah mengenai anggota kita sendiri.” Ucap Yasin.


Kemudian Yasin mendekati orang yang di sangka Gembul tersebut.


“Hei Gembul sebaiknya kamu menyerah saja dari pada harus jatuh dengan luka di tubuh kamu.” Teriak Yasin kepada Gembul yang  sudah terkepung itu. namun diluar dugaan Yasin Gembul  justru mencabut sebuah belati dan berniat melawan.


“Jangan harap kamu bisa menangkap aku sekarang ini.” jawab gembul yang mencoba lari dan mengancam seorang anggota padepokan yang mengepungnya.

__ADS_1


Sehingga Yasin harus teriak memperingatkan anggota padepokan tersebut.


“Awas menyingkir dia bawa senjata tajam…!” ucap Yasin kepada anggota padepokan tersebut.


Orang yang di teriaki itupun baru sadar jika Gembul orang yang di kepung nya sudah mencabut sebuah belati. Orang tersebut melompat mundur menghindari tikaman gembul. Namun sedikit terlambat, bagian perut orang tersebut masih sempat tergores sedikit oleh belati Gembul meski tidak parah namun cukup mengeluarkan banyak darah.


Sehingga Gembul bisa leluasa meloloskan diri dari kepungan tersebut. sebuah hal yang di luar prediksi Yasin dan Rofiq jika Gembul berani melawan. Namun justru itu merupakan sebuah peluang bagi Yasin dan Rofiq untuk menemukan alasan membuat perhitungan sendiri kepada Gembul.


“Rawat orang yang terluka itu, aku dan bang Rofiq akan mengejar orang itu sampai dapat.” Teriak Yasin. Kemudian orang yang di sekitarnya segera member pertolongan kepada orang yang terluka tersebut. sementara Yasin daan Rofiq mengejar Gembul yang melarikan diri menuju ke jalan raya. Yang ternyata sudah di tunggu oleh rekan nya di jalan raya tersebut. dan secepat kilat Gembul memasuki mobil yang sudah parker di jalan tersebut dan segera melarikan diri.


“Kurang ajar, dia lolos…!” gerutu Rofiq.


“Sudah biarkan saja dulu kita bisa mengorek keterangan dari anggota nya yang tertangkap. Dimana dia tinggal kalo tidak di tempat ini.” ucap Yasin.


“Nanti kita berdua saja yang mengejar Gembul agar tidak jatuh korban lagi.” Ucap rofiq.


“Baiklah, sekarang kita kembali ke rumah tersebut. jangan sampai yang di sana juga timbul masalah lain.” Ucap Yasin kepada Rofiq.


Keduanya pun segera kembali menemui rekan rekan  mereka yang sedang menawan anak buah Gembul.


“Rupanya saat ini Gembul punya keberanian untuk melawan dan ternyata dia cukup lihai memainkan pisau belati tadi." Ucap Yasin.


“Iya tapi aku gak akan takut dengan si Gembul tersebut, aku tetap akan memberikan pelajaran kepada manusia bejat itu.” Ucap Rofiq.


“Itu soal gampang, yang penting kita temukan dulu tempat persembunyian Gembul baru kita atur bagaimana caranya menjebak dia nanti.” Ucap Yasin.


Sesampai di rumah tersebut semua tawanan sudah dalam kondisi terikat dan siap untuk di angkut ke polsek untuk di interogasi malam itu juga. Dan pak Adnan pun segera menghubungi anggota polisi lain nya untuk membawa kendaraan penjemput  tawanan.


*****


Di kantor Polisi


Yasin POV


“Pemimpin mereka tadi lolos pak, dan seorang anggota padepokan terluka ringan. Mohon carikan informasi dimana pemimpin mereka tinggal agar dapat segera tertangkap.” Pintaku pada pak Adnan.


“Baik pak, nanti akan saya korek keterangan tentang itu. tapi ada salah satu yang tertangkap tadi hanya warga biasa yang di ancam untuk meracuni tahanan yang kemarin.” Jawab Pak Adnan.


“Memang begitu cara kerja mereka pak, selalu berusaha menghilangkan jejak agar kejahatan mereka tidak di ketahui.” Ucap Yasin.


Setelah berbincang bincang sebentar dengan pak Adnan, Aku  dan Rofiq pun mohon diri untuk pulang ke rumah Sena. Agar yang di rumah tidak kuatir akan keadaan mereka. Dan sesampai di rumah kami pun sudah di tunggu oleh anggota keluarga kami masing masing.


“Kok belum pada tidur ?” tanyaku pada Fatimah dan arum yang baru ngobrol berdua.


“Masih nungguin kamu lah mas, Arum juga masih nungguin suaminya.” Jawab Fatimah.


“Kenapa harus di tungguin kan akhirnya juga pulang ?” godaku pada Fatimah.


“Kirain nyangkut ke rumah janda ?” sahut Arum sambil melirik ke Rofiq.


Rofiq hanya cengar cengir saja mendengar itu. sementara Fatimah juga senyum senyum simpul.


“Anak anak sudah tidur ?” Tanyaku pada Fatimah.


“sudah dari tadi. Kayaknya mereka juga capek tadi habis ikut tahlilan langsung pada tidur.” Jawab Fatimah.


“sementara mereka jangan dibiarkan keluar rumah dulu, kondisi semakin genting sekarang.” Ucapku pada Fatimah.


Setelah berbincang bincang sebentar kami pun segera beristirahat karena besuk pagi masih ada janjian dengan pak Adnan. Untuk menyelidiki keberadaan Gembul yang menjadi kunci dari kasus ini.


*****


Pagi hari saat sedang ngopi bersama Rofiq, dan Jafar juga ikut bergabung ngopi. Kami terlibat obrolan kecil keluarga.


“Kemarin Jafar melukai orang yang mengejar Jafar dengan apa ?” tanyaku pada Jafar.


“dengan melempar kakinya dengan batu yah.” Jawab jafar anak ku.


“Sidiq juga tahu itu  ?” tanyaku pada Jafar.


“Tahu yah, mas Sidiq juga nanya kok Jafar bisa melukai orang orang itu.” ucap Jafar.


“Terus kamu jawab apa ?” tanyaku kemudian.


“Jafar bilang apa adanya yah, kalo selama ini di ajari kanuragan sama Yuyut.” Jawab Jafar.


“Terus apa reaksi Sidiq ?” tanyaku kemudian.


“Mas Sidiq malah senang karena Jafar juga bisa kanuragan dan bisa diajak membantu ayah nanti jika sudah besar.” Jawab Jafar membuat aku terharu mendengar jawaban Jafar.


Di tengah obrolan kami tiba tiba datanglah pak Adnan secar tiba tiba di pagi hari itu.


“Assalaamu ‘alaikum….!” Sapa salam pak Adnan.


“Wa’alaikummussalaam pak Adnan, kok pagi pagi sudah kesini ada berita penting kah pak ?” tanyaku pada pak Adnan.


“Iya pak, masalah persembunyian Gembul orang yang bapak cari.” Jawab pak Adnan.aku menyuruh Jafar untuk masuk ke rumah agar tidak terbiasa mendengarkan pembicaraan orang orang dewasa. Dan Jafar pun faham segera masuk rumah meninggalkan kami.


“Bagaimana pak, mari silahkan duduk dulu sambil cerita.” Kataku pada pak Adnan.


“Terimakasih pak. Selain kami mendengar tempat persembunyian Gembul. Ternyata dia juga lah yang telah menusuk adik bapak hingga tewas pak…!” kata kata pak Adnan seketika membuat emosiku makin tidak terkendali. Dan entah mengapa timbul niatku untuk membalas dendam dengan gembul. Sampai hampir lupa tentang hukum yang berlaku. Tanganku sampai gemetar mendengar kata kata pak Adnan tersebut.

__ADS_1


Pak Adnan dan Rofiq pun melihat dan menyadari hal tersebut, sampai sampai mereka terdiam sesaat melihat aku emosi dan wajahku menjadi merah.


 “Kita cari sekarang juga pak, supaya tidak lagi bertambah korban.” Ucapku sambil menahan amarahku.


“Kita bawa personil yang cukup pak, soalnya di sana penjagaan juga cukup ketat.” Kata pak Adnan.


“Silahkan pak, biar saya sama bang  Rofiq berangkat lebih dahulu untuk mengamati keadaan. Mohon di tunjukkan saja lokasi persembunyian gembul. Kataku pada pak Adnan.


Meski agak berat pak Adnan akhirnya menyerahkan peta lokasi berikut alamat yang di jadikan tempat persembunyian Gembul.


“Tapi nanti malam kan acara Tujuh harian  Zulfan Zain ?” sahut Rofiq.


“Makanya kita harus gerak cepat biar segera selesai, agar tidak sampai sore dan si gembul pun tidak sempat kabur pindah tempat.” Kataku pada Rofiq.


Tiba tiba pak lik Dimyati datang dan member saran.


“Kalo sekiranya tidak bisa selesai nanti bisa di tunda lain waktu. Soalnya hari ini Sena dan Nurul juga sudah boleh pulang. Biar bisa ikut acara Tujuh hari nya Zulfan.” Ucap pak lik Dimyati pada kami.


“Insya Allah lik, semoga hari ini bisa selesai dan nanti kami pun bisa ikut acara tahlil tujuh harinya Zulfan.” Ucapku.


Kemudian aku dan Rofiq segera berpamitan pada Fatimah dan Arum, serta meminta mereka untuk segera mempersiapkan acara tahlilan tujuh hari untuk mendoakan Zulfan.


Dan aku bersama Rofiq segera berangkat menggunakan sepeda motor Zulfan menuju ke rumah persembunyian Gembul. Sementara pak Adnan mempersiapkan personil untuk segera menyusul kami.


“Lo yakin Zain, kita berdua bisa masuk ke rumah persembunyian Gembul yang katanya di jaga banyak orang ?” tanya Rofiq kepadaku.


“Insya Allah bang, dan kita juga akan di bantu dari pihak kepolisian nanti.” Jawabku pada Rofiq.


“Ya semoga saja rombongan pak Adnan juga segera sampai sehingga tidak kesulitan untuk menangkap si gembul.” Jawab Rofiq.


“Bismillah saja bang kita niatkan menangkap penjahat yang sering kali menculik wanita untuk di jadikan pekerja prostitusi. Jangan semata mata karena dendam kita pribadi.” Kataku pada Rofiq.


“Itu yang sulit, kayaknya unsur dendam pribadi kita lebih besar dari yang lain.” Jawab Rofiq.


“Jujur saja memang iya, namun kalo tidak kita selesaikan sekarang justru akan menambah kemungkinan dia semakin menjadi jadi bang. Apa lagi dia sekarang merasa memiliki sedikit kemampuan untuk olah kanuragan.” Jawabku pada Rofiq.


Sesampai di alamat yang di berikan oleh pak Adnan aku segera memakirkan sepeda motor dan mengatur rencana penyergapan sambil menunggu rombongan pak Adnan datang.


Aku dan rofiq mengamati posisi rumah tersebut, yang di kelilingi tembok mengitari rumahnya. Cukup sulit memang untuk bisa memasuki rumah itu karena pintu masuk nya hanya satu dan di jaga oleh security yang stanby 24 jam kayaknya.


“Laporkan kondisi rumah ini pada pak Adnan, agar beliau bisa mengatur personil yang akan di ajak.” Ucapku pada Rofiq.


“Sambil menunggu bagaimana kalo kita mencoba masuk ke rumah itu ?” tanya Rofiq.


“Sebentar kita tunggu sampai pak Adnan dekat agar bala bantuan segera datang. Karena kita tidak tahu berapa personil yang ada di dalam rumah itu.” jawabku pada Rofiq.


Sambil menunggu jawaban dari pak Yadi, aku dan Rofiq mengamati keadaan lingkungan rumah tersebut.


“Benar benar hanya satu pintu masuk dan keluar. Kalo masuk dan di dalam banyak personil sama saja bunuh diri bang.”  Ucapku pada Rofiq.


“Terus sebaiknya bagaimana ?” tanya Rofiq kemudian.


“Kalo sekedar bertahan mungkin kita berdua bisa sampai setengah jam menghadapi mereka bang. Namun lebih dari itu jika personil mereka banyak maka akan membahayakan bagi kita berdua. Makanya kita tunggu sampai pak Adnan sudah dekat.” Jawabku pada Rofiq.


Dan ketika jawaban pak Adnan yang mengatakan sudah dalam perjalanan, dan mengatakan kurang lebih dua puluh menit akan tiba ke lokasi aku dan Rofiq pun segera mengatur rencana untuk masuk ke rumah itu. dengan harapan  jika personil mereka banyak pun masih bisa bertahan menunggu datangnya bantuan pak Adnan dan rekan rekan nya.


“Sudah saatnya kita memasuki rumah itu, tapi tetap harus dengan kewaspadaan sepenuhnya.” Kataku pada Rofiq.


“Masuk dari mana kan hanya satu pintu masuk dan keluarnya ?” tanya Rofiq.


“Lewat pintu utama lumpuhkan security yang ada, mau gak mau kita harus langsung gunakan kekerasan bang….!?!” Jawabku pada Rofiq.


Selangkah kemudian kami sudah berada di pintu masuk dan di cegat oleh security yang ada.


“Berhenti…! Tidak sembarangan orang boleh masuk sini. Kalian siapa dan ada perlu apa datang kesini ?” tanya salah satu security. Dan ternyata tempat itu di lengkapi CCTV dan kemungkinan kehadiran kami pun sudah di ketahui oleh orang yang ada di dalam rumah tersebut.


Mending bikn ribut disini saja agar mereka keluar, dari pada ribut di dalam susah bagiku dan Rofiq untuk bisa kabur jika terdesak, pikirku.


Dan saat Security itu mendekat langsung aku pukul hingga pingsan dan security satunya yang hendak menolong segera dihajar oleh Rofiq sampai pingsan juga. Dan beberapa menit kemudian datanglah rombongan pria kekar bertato yang muncul dari dalam rumah tersebut.


“Bang permainan akan segera di mulai, ambil pentungan Security itu untuk pertahanan kita.” Kataku pada Rofiq yang segera melucuti senjata Security tersebut untuk di jadikan senjata. Rombongan preman dari dalam rumah itu pun segera mendekati kami dan membentak kami.


“Siapa kalian yang berani membuat onar di sini Apakah kalian sudah bosan hidup ?” tanya salah satu rombongan tersebut.


“Iya kami sudah bosan Hidup apa lagi lihat manusia macam kalian yang hanya jadi sampah masyarakat saja. Kalo kalian mau selamat suruh saja Gembul keluar urusanku hanya dengan Gembul bukan Kalian. Tapi kalo kalian ikut maka terpaksa kami juga gak segan untuk menghajar kalian.” Ucapku memancing rombongan Preman preman itu.


Mereka pun jadi tertegun mendengar aku menyebut nama Gembul, dan tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun pada mereka. Selanjutnya salah satu dari orang orang itu mendekati kami dengan kepercayaan diri penuh. Kami pun menunggunya dengan segala kewaspadaan jika dia menyerang tiba tiba…!!?


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2