Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pancamakarapuja vs Waringin sungsang3


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Pancamakarapuja vs Waringin sungsang3...


Sosok yasin yang sebenarnya adalah jalu tentu saja kaget mendapat pertanyaan seperti itu. Jalu dalam wujud Yasin itu jadi Gelagapan, bahkan tidak tahu yang dia hadapi itu siapa. Karena informasi yang dia dapat Yasin di rumah hanya bersama Fatimah istrinya dan juga Sufi. Bahkan tahunya Jalu Yasin hanya punya anak dua Sidiq dan Jafar.


“Wisnu kamu kebelakang sebentar, biar paman yang bicara.” Ucap Farhan.


Sosok Jalu alam wujud Yasin pun segera menyadari jika dirinya sudah dicurigai bukanlah Yasin yang Asli. Cepat cepat Jalu dalam wujud Yasin tersebut memakai jimat kain kafan untuk menerapkan ajian Popok wewe agar wujudnya tidak kelihatan.


Namun Farhan yang sudah mengetahui saat di rumah Pak Lurah Broto, segera membaca ayat ayat suci alquran penangkal Jin atau khodam yang Jahat. Sehingga meskipun sosok Jalu tidak kelihatan tapi terdengar jeritan kesakitan yang sangat keras. Khodam itu tak kuat mendengar lantunan kalimat kalimat Suci yang dibacakan Farhan dengan keras.


Jeritan atau teriakan khodam tersebut sampai membangunkan seisi rumah. Sehingga semua terbangun dan melihat apa yang terjadi.


“Umi, Bibi Sufi,Bibi Nurul, mbak Isna dan mbak Utari jangan mendekat ke sini, ada orang jahat pakai ilmu Halimun.” Teriak Wisnu.


Sementara sosok Jalu yang tidak kelihatan Wujudnya itu memaksa masuk rumah Yasin dengan menahan rasa sakitnya. Dia berusaha menculik salah satu dari Isna atau Utari Gadis muda yang cantik dan baru mekar.


Namun Wisnu meski masih bocah ternyata tidak bisa di sepelekan. Wisnu yang di dalam tubuhnya mengalir darah Yuyut Siti Aminah dari Khotimah itu lebih dahulu berlari ke belakang. Sementara Farhan terus melantunkan ayat ayat suci Al-Quran.


Tidak mudah bagi jalu untuk melangkahkan kakinya mendekati Isna maupun Utari. Meski wujudnya tidak tampak, tapi Lantunan ayat suci Al-Quran menahan langkahnya untuk mendekati Utari dan Isna


Dan di saat Jalu yang tidak tampak wujudnya hampir mendekati Isna lebih dekat dibanding Utari, Wisnu datang. Dengan cepat Wisnu yang membawa tepung terigu segera menaburkan tepung terigu tersebut ke udara. Sehingga butiran tepung terigu tersebut sebagian menempel ke tubuh Jalu. Dan Farhan dengan cepat menendang Tubuh Jalu yang tampak dari Butiran tepung yang menempel di tubuhnya.


Namun yang terjadi justru Farhan yang kesakitan karena Tubuh Jalu yang keras seperti baja. Dengan aji gilingwesi yang diterapkan. Ternyata ilmu popok wewe bea dengan ilmu Welut putih, yang tidak bisa memakai ajian lain saat sedang menggunakan aji welut Putih.


Wisnu yang melihat Farhan justru kesakitan segera bersiap menyerang Jalu. Dengan sedikit waktu yang ada wisnu menerapkan aji Lebur Saketi dan memukul Jalu dengan tangan Kanannya. Dengan sebelumnya menambah taburan tepung ke arah Jalu agar makin jelas sosoknya. Dan akibatnya, Tubuh Jalu terpental membentur dinding terkena pukulan Wisnu. Sampai butiran tepung di tubuhnya beterbangan saat tubuhnya terpental. Sehingga Wisnu kembali harus menaburkan tepung lagi ke Tubuh jalu agar tetap bisa diketahui keberadaannya.


Dan taburan tepung Wisnu tersebut sampai memenuhi wajah Jalu yang jatuh terbaring di lantai. Mulut Jalu yang mengeluarkan darah itu pun ditaburi tepung terigu yang disebarkan Wisnu.


Merasa dirinya tidak akan mampu melawan keluarga Yasin Jalu pun segera bangkit dengan susah payah dan akhirnya kabur melarikan diri.


“Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah selamatkan keluarga kami.” Ucap Fatimah bersyukur mara bahaya yang datang akhirnya dapat diusir oleh Wisnu dan Farhan.


Wisnu anak Khotimah mendapat pelukan hangat dari Fatimah.


“Wisnu, terimakasih banyak ya kamu mirip Jafar cerdas sekali bisa mempunyai ide seperti itu. sehingga musuh yang tidak tampak bisa ketahuan.” Puji Fatimah pada Wisnu.


“Wisnu hanya meniru apa yang dilakukan Abi Yasin Umi. Wisnu pernah dengar cerita dari Mama Khotimah saat Abi Yasin mengalahkan musuhnya yang pakai halimun juga dulu.”  Jawab Wisnu.


Fatimah pun ingat saat dulu Mentorgo yang mempunyai Aji welut putih di jebak Yasin suaminya hanya dengan Cat dan potongan kertas sehingga wujudnya bisa tampak. Khotimah yang waktu tahu cerita Yasin menjebak Mentorogo kemudian menceritakan pada Wisnu anaknya.


“Tap kamu tetap cerdas Wisnu, bisa berimprovisasi dengan benda lain.” Jawab Fatimah.


“Terimakasih Umi, kan Wisnu belajar dari Mas Jafar dari cerita mama juga. Kata mama, dulu mas Jafar waktu kecil saja bisa menjebak Lady Ninja meski mama yang kemudian memukul Lady Ninja tersebut.” Jawab Wisnu.


Fatimah tersenyum, ternyata Khotimah sangat perhatian dengan Jafar Anaknya. Sampai semua kelebihan Jafar diceritakan ke Wisnu anak Khotimah dan Candra. Tapi yang lebih mengejutkan Fatimah sebenarnya ketika tahu Wisnu menggunakan Lebur Saketi untuk memukul mundur Jalu. Sehingga Fatimah merasa sedikit lega. Di rumahnya ada Wisnu yang bisa menggantikan peran Sidiq dan Jafar anaknya.


“Aku saja sampai kesakitan menyentuh tubuh musuh tadi. Tapia alhamdulillah ponakanku satu ini ternyata jago juga.” Ucap Farhan memuji Wisnu.

__ADS_1


“Tapi kalau bukan karena paman Farhan wisnu juga bakalan tertipu Paman. Karena tadi Wisnu kira itu Abi Yasin sungguhan.” Kata wisnu merendah.


“Apa ? Apa tadi wajahnya seperti suamiku Farhan ?” Tanya Fatimah kaget.


 


Kemudian Farhan pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai kenapa harus beberapa kali ke rumah Pak Lurah Broto. Fatimah baru tahu jika yang datang barusan adalah Jalu anak Maheso Suro musuh Yasin dulu. Dan memakai halimun juga ilmu malih Warno.


“Astaghfirullah, kita harus ekstra waspada sekarang ini.” Ucap Fatimah.


“Berarti yang datang ini tadi Jalu anak buah Ki Marto Sentono mas Farhan ?” tiba tiba Sufi ikut bertanya.


Farhan jadi agak kikuk ketika Sufi yang bertanya, dalam hati Farhan ternyata sudah tumbuh benih benih cinta pada Sufi. Dan itu diketahui oleh Fatimah yang tahu seperti apa rasanya, ketika benih benih Cinta itu mulai tumbuh.


“Farhan, ditanya calon istrinya kok malah diam saja.” Goda Fatimah.


“Iya itu Jalu anak buah Ki Marto.” Jawab Farhan spontan terkejut dengan ucapan Fatimah. Dan Gantian Sufi yang mukanya jadi merah karena malu.


“Ehem… Adikku Sufi selamat ya Mbak Nurul ikut bahagia.” Sahut Nurul.


Suasana tegang berubah menjadi suasana bahagia ketika pembicaraan beralih pada Farhan dan Sufi. Isna dan Utari pun tak ketinggalan memberi selamat kepada Sufi.


“Wah selamat ya Bibi Sufi, Isna ikut bahagia sekali.” Ucap Isna sambil memeluk Sufi dan mencium pipi kanan kiri Sufi.


“Utari juga ya Bi, pokoknya Utari doakan yang terbaik buat Bibi Sufi dan Paman Farhan. Dan juga terimakasih buat Wisnu yang telah menyelamatkan keluarga ini. Mbak gak nyangka loh, ternyata Wisnu hebat banget, mbak salut deh sama Wisnu.” Ucap Utari.


Wisnu hanya tersipu malu, malam itu Wisnu menjadi Pahlawan bagi keluarga Yasin dan Fatimah. Karena lantaran Wisnu keluarga besar Yasin di rumah luput dari tindak kejahatan Jalu.


Perbincangan kegembiraan tersebut terhenti ketika mendengar suara Mobil Sena datang.


“Assalaamu’alaikum,,, Ucap Sena dan Tohari bersamaan.”


“Ada apa ini kok berantakan dan banyak tepung atau apa ini berhamburan begini ?” Tanya Tohari.


Kemudian Farhan menceritakan apa yang baru saja terjadi di rumah tersebut. Tentang datangnya Jalu dalam bentuk Yasin sampai dengan menggunakan Halimun. Namun beruntung Wisnu dapat memukul mundur Jalu dengan Lebur Saketi.


“Masya Allah,,, ternyata anak Khotimah juga mewarisi Lebur saketi. Aku kira hanya Jafar saja yang di warisi. Tapi berarti Yasin tadi tidak berhasil mengejar Jalu ?” Kata Tohari, baru ingat Jika Yasin tadi mengejar Jalu dengan berlari saat Jalu mengambil jalan pintas menuju ke Desanya.


“Lah memangnya Mas Yasin gak sama kalian ?” Tanya Fatimah Panik, mendengar Yasin suaminya mengejar Jalu sendirian.


Tohari dan Sena saling berpandangan, bingung untuk menjelaskan ke Fatimah.


“Mas Sena gimana sih, ditanya Mbakyu Fatimah hanya diam saja !” Kata Nurul meminta jawaban dari Sena atas pertanyaan Fatimah.


Sena pun akhirnya menceritakan ketika mereka terpaksa berhenti dan membicarakan secara Khusus Tokoh jahat yang muncul. Dan tak terasa sampai larut malam dan akhirnya kembali ke rumah, karena melihat sosok Jalu yang menuju ke Desanya. Namun dalam perjalanan, Yasin turun mengejar Jalu dengan berlari karena Jalu melewati jalan pintas yang tidak bisa dilewati Mobil. Disitulah mereka berpisah dengan Yasin. Dan mereka mengira Yasin sudah sampai duluan di rumah karena lewat jalur pintas.


Semua terdiam, suasana gembira kembali menjadi tegang. Karena Yasin yang belum juga sampai ke rumah.


“Ayo kita susul Yasin sekarang Sena !” Kata Tohari mengajak Sena.


Semua kembali menjadi murung dan khawatir terutama Fatimah. Karena Fatimah tahu sifat suaminya yang nekad dan kadang kurang perhitungan. Sehingga beberapa kali juga Yasin harus terluka bahkan terluka parah.


…..


…..


…..

__ADS_1


Flashback Di tempat Ki Marto Sentono


Saat semua sudah terkapar karena mabuk, tinggal para tokoh yang masih tersadar termasuk Jalu dan Gede Paneluh. Tiba tiba Ki Munding Suro memanggil Gede Paneluh dan Jalu.


“Paneluh dan Jalu, kemari sebentar.” Ucap Ki Muding Suro.


“Baik Guru.” Jawab keduanya langsung menghadap ke Ki Munding Suro.


“Aku ingin melihat  dan mengukur dulu kekuatan Yasin. Jadi aku mau mengutus Jalu untuk menyusup ke rumah Yasin. Culik salah satu keluarganya, dan tinggalkan pesan agar Yasin menemui aku di seberang Kali Kuning. Aku akan mencoba sampai sejauh mana ketinggian ilmunya.” Ucap Ki Munding Suro.


“Baiklah guru, berarti sekarang juga kita berangkat Guru ?” Tanya Jalu.


“Benar, biar yang lain menikmati minuman agar lebih mudah bagi kita menguasai jiwa jiwa mereka.” Jawab Ki Munding Suro.


Kemudian tiga orang tersebut berangkat menuju ke suatu tempat. Namun dalam perjalanan mereka justru melihat Yasin bersama Sena dan Tohari sedang ngobrol di pinggir jalan.


“Tunggu sebentar Jalu, bukankah orang itu adalah Yasin ?” Tanya Gede Paneluh.


“Iya benar, apa kita samperin ke sana saja Guru ?” Tanya Jalu pada Ki Munding Suro.


“Jangan, ada dua orang yang lain. Aku hanya mau bertemu dengan orang Yang bernama Yasin Saja.” Jawab Ki Munding Suro.


“Jadi apa yang harus kita lakukan Guru ?” Tanya Jalu.


“Kamu pancing Yasin dan bawa ke tempat ini. Tapi jangan sampai dua kawan nya ikut, terserah kamu bagaimana caranya.” Kata Ki Munding Suro.


Dan Jalu pun segera mendekati lokasi Yasin dan kedua saudaranya itu  berbicara. Dengan menggunakan aji popok wewe, Jalu berniat memancing Yasin agar mengejarnya. Dan akan dibawa ke tempat Ki Munding Suro.


Namun ternyata Sena dan Tohari juga bisa merasakan keberadaan Jalu meski memakai ilmu Halimun. Sehingga Ketiganya mengejar Jalu yang memancing Yasin dengan berlari ke arah Desa kediaman Yasin. Dan ketiganya mengejar Jalu dengan Mobil yang dikendarai Yasin.


Kemudian Jalu berbelok arah mengambil jalur pintas lewat pematang sawah dan  menyeberangi Sungai. Sehingga Mobil tidak bisa mengikuti Jalu. Dan Akhirnya Yasin pun berhasil terpancing mengikuti Jalu dan dibawa ke hadapan Ki Munding Suro dan Gede Paneluh. Dan di situ Jalu justru menampakan wujudnya, tidak lagi menggunakan ajian popok wewe.


“Itulah Guru Orang yang bernama Yasin, ternyata mudah sekali membawa dia ke hadapan Guru.” Ucap Jalu yang sudah berdiri di samping Ki Munding Suro dan Gede Paneluh.


“Sudah kuduga, orang licik seperti kamu pasti penuh muslihat dan akal busuk, anak Maheso Busuk.” Yasin meluapkan kemarahan kepada Jalu.


“Terserah kamu mau bilang apa sepuas kamu, karena mungkin ini malam terakhir bagimu. Mungkin besok pagi kamu tak lagi bisa memandang Matahari. Bersenang senanglah dengan guruku Ki Munding Suro, aku akan ke rumah kamu sekarang juga.” Kata Jalu.


Mendengar Jalu akan menuju ke rumahnya Yasin jadi sangat marah dan menghalangi langkah jalu yang akan lari. Yasin melompat menyarangkan pukulan ke Jalu yang melangkah pergi, agar tidak sampai berhasil ke rumahnya.


Namun di situ ada Ki Munding Suro yang tidak tinggal diam. Ki Munding suro mengibaskan tangannya ke arah Yasin. Dan seberkas Sinar menghantam tubuh Yasin hingga terpental. Sementara Jalu bisa lepas dari serangan Yasin dan melanjutkan rencananya menuju ke rumah Yasin. Dengan menyamar sebagai Yasin dengan niatan busuk yang ada di pikiran Jalu.


Sementara Yasin berusaha bangun setelah terkena pukulan jarak jauh dari Ki Munding Suro.


“Maheso Suro dan Munding Suro, sama sama pengecut. Apakah kamu sudah kangen dengan Maheso Suro, baiklah aku akan menghantarkan Kamu menemui Maheso Suro saat ini Juga.” Secepat Kilat Yasin menyerang Ki MUnding Suro dan Gede Paneluh sekaligus dengan Jurus suci Hijaiyah tingkat ‘Ya’...!!!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2