
...Orang tua Riska jadi sasaran Jalu...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Fatimah jadi marah, wajahnya memerah merasa tidak dihargai sebagai seorang istri dan ibunya Jafar...!?!
"Kamu tega ya mas, aku ibu yang mengandungnya Sembilan bulan lebih, tidak kamu kasih tahu...!?! " Ucap Fatimah dengan wajah yang tegang.
"Maafkan aku, aku tidak ingin membuat kamu sedih. " Jawab Yasin sedikit merasa menyesal juga. Meski maksud dia juga baik, namun menyadari juga kekesalan hati Fatimah.
"Fatimah tidak akan memaafkan mas jika Jafar kenapa napa. Apa mas lupa, jika Jafar adalah perekat kuat kita. Tanpa Kehadiran Jafar di Rahimku waktu itu, belum tentu kita bisa langgeng begini mas....!?! " Kata Fatimah kali ini merasa sangat kecewa dengan suaminya.
"Sabarlah Fatimah, Jafar di sana di tangani kang Tabib Ali Akbar" Jawab Yasin.
"Kang Ali? Yang anaknya juga nyantri di Al-Huda? Bukannya dia hidup di Mesir?" Tanya Fatimah. Kali ini agak mereda emosinya, setelah tahu yang merawat Jafar adalah Tabib Ali Akbar.
"Iya,,, makanya dengarkan dulu aku bicara jangan marah dulu." Ucap Yasin dengan lembut.
Antara Yasin dengan Fatimah istrinya selalu begitu. Jika Fatimah yang Emosi, maka Yasin yang berusaha lembut dan sebaliknya.
Dan bila dua duanya emosi, mereka lebih memilih berdiam diri dulu. Sampai dengan emosi mereka reda.
"Bagaimana ceritanya, kang Ali bisa merawat Jafar?" Tanya Fatimah.
"Kebetulan pas kang Ali dan Istrinya menjenguk anaknya. Jadi kebetulan kang Ali langsung menangani Jafar sampai sembuh." Jawab Yasin.
Fatimah terdiam sejenak, teringat saat di Pesantren sebelum Fatimah di nikahkan dengan Yasin. Saat itu Fatimah sering dengar cerita tentang Tabib Ali Akbar dari Samsudin ( Dulu pacar Fatimah).
Waktu itu Samsudin sering diajak Yasin sahabat Samsudin yang sekarang jadi suami Fatimah. Samsudin banyak cerita kelebihan Ali Akbar waktu itu belum diberi gelar Tabib.
Ali Akbar sering kerjasama dengan Yasin jika dibutuhkan warga. Meski mereka beda Pesantren, Yasin lebih pada menjaga Ali Akbar saat mengobati orang sakit, kena santet ataupun luka lahiriah.
Dan Yasin yang akan menghadapi jika ada musuh yang mengganggu. Baik musuh yang berupa manusia maupun khodam kiriman.
Meski Fatimah waktu itu tidak pernah melihat orang nya. Hanya dengar cerita dari Samsudin pacar Fatimah waktu itu. Pertama bertemu dengan Ali Akbar saat Fatimah dan Yasin mengantar Jafar ke Pondok Pesantren Al- Huda.
.....
"Mas ada janji janji khusus kah dengan kang Ali?" Tanya Fatimah.
"Maksudnya gimana?" Tanya Yasin.
"Pokoknya Fatimah gak mau tahu, besok Fatimah harus bertemu Jafar. Sekaligus pengen ngobrol sama kang Ali dan istrinya." Ucap Fatimah.
"Jangan emosi begitu, ini murni salahku Jafar terluka karena bermaksud melindungi aku." kata Yasin.
"Bukan soal itu saja mas, tapi ada hal lain yang Fatimah ingin bicarakan." Ucap Fatimah.
Yasin melihat Fatimah kembali naik emosinya, jadi memilih untuk mengalah.
"Boleh saja, mereka baik kok pasti kamu juga pernah dengar dari Samsudin sahabatku dulu kan? " Kata Yasin dengan nada Datar.
"Gak usah mengungkit masa lalu, waktu kang Ali panggil aku Euis di pesantren Al- Huda dikira Fatimah yang bernama Euis dulu juga Fatimah gak marah kok...!" Protes Fatimah yang jadi sensi ketika Yasin menyebut nama Samsudin mantan pacar Fatimah. Yang justru menikah dengan Euis mantan Pacar Yasin.
"Astaghfirullah... aku tidak bermaksud mengungkit. Hanya membicarakan soal kang Ali saja." Jawab Yasin.
"Iya,,, maaf tapi besok harus pertemukan Fatimah dengan mereka!!! " Kata Fatimah.
"Iya iya... besok aku antar temui mereka." Jawab Yasin.
.....
.....
.....
__ADS_1
Di sekolah Sidiq
Sidiq berpikir bagaimana mencari cara untuk membalas perlakuan musuh kepada keluarganya.
Dan yang diincar Sidiq adalah salah satu dari Jalu, Jaka atau Bayu Aji. Sebagai pelampiasan terlukanya Jafar adiknya atas kelicikan Bujang dari kulon.
"Jika ada kesempatan melawan salah satu darinya, aku tidak akan sia siakan kesempatan itu." Kata Sidiq dalam hati.
"Bagaimana kabar Jafar adik kamu Diq, apa mama nya Lita masih di sana?" Tanya Lita teman sekelas Riska.
"Alhamdulillah,,, Jafar udah Sehat seperti sebelumnya. Mama kamu dan suaminya saat ini menjenguk Vina di Pondok Al-Huda." Jawab Sidiq.
"Bagaimana kalau habis belajar kelompok nanti kita ke sana, sekalian jenguk Jafar adik kamu?" Tanya Lita.
"Aku sih memang rencana jenguk Jafar, tapi kalian nanti pulang nya bagaimana? Aku gak tega kalian hanya pulang berdua." Jawab Sidiq.
"Nginep sana lagi juga gak papa kok mas, kan besok juga hari minggu. Jadi besok bisa pulang agak siangan." Riska ikut berkomentar.
"Aku juga ikutan dong, pengen tahu juga rasanya tidur di pesantren. Kalau di tempat asal ayah Dina sih deket pesantren. Tapi kan Dina jarang ke sana." Kata Dina.
"Boleh nanti kamu bareng aku aja say?" Goda Ihsan pada Dina.
"Jangan bercanda kenapa, gak tahu kita semua lagi panik. Kemarin Jalu bisa menjadi seperti Riska...!!! " Bentak Dina.
"Sori kan biar gak tegang saja...! " Jawab Ihsan.
"Sudah sudah, jadi aku sudah di kasih tau ayah, cara membedakan yang datang ke kita itu beneran teman kita atau jelmaan. " Kata Sidiq.
"Caranya...???" Tanya semuanya kompak.
"Pertama secara lahiriah, Jalu mata kirinya buta kemarin saat bertarung denganku." Kata Sidiq.
"Kalau cara batiniah Diq?" Tanya Ihsan.
"Jika cara batiniah dengan bacaan doa ' 'audzu bikalimattilahit tammah min Syari ma kholaq.' Itu bisa sekaligus jadi sandi kita bila bertemu di luar. Baca doa itu dan yang satunya juga harus menjawab dengan doa yang sama. Karena jin jahat tidak berani baca doa itu." Jawab Sidiq.
"Tolong di catat Diq, boleh gak aku sebarkan ke keluarga dan kerabat ku?" Tanya Dina.
"Boleh boleh saja, iyu ijazah umum. Pakai latin atau arab? " Tanya Sidiq.
"Doa itu arti lengkap nya bagaimana mas. Riska juga pingin kasih tau orang tua Riska." Kata Riska.
"Aku juga Diq, ngeri juga kalo ada yang nyamar jadi keluarga Lita." Kata Lita.
"Iya boleh, tapi nulisnya nanti di rumah Riska saja. Ini hampir jam masuk sekolah kita kembali ke kelas saja. kalau artinya aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari godaan semua makhluk. "Kata Sidiq.
Kemudian mereka pun meninggalkan kantin, kembali ke kelas masing masing. Mengikuti pelajaran hingga jam pulang sekolah.
.....
Pulang sekolah semua menuju ke rumah Riska untuk belajar bersama menghadapi ujian akhir. Namun sesampainya di rumah Riska mereka tidak jadi belajar. Malah kembali melanjutkan obrolan saat di kantin sekolah tadi.
"Lita jadi gak konsen nih, hari ini kita ngobrol saja. Besok juga hari minggu ini. Kita refresh dulu saja ya, biar gak tambah suntuk." kata Lita.
"Boleh, Sidiq juga agak kurang fokus hari ini. Orang tua kamu kemana Riska, biasanya Sabtu ada di rumah jam segini." Tanya Sidiq, merasakan adanya sesuatu yang Aneh di rumah Riska.
"Kurang tahu mas, Riska chat hp keduanya gak aktif dari tadi." Jawab Riska.
Sidiq makin menjadi curiga, tapi tidak berani bicara apapun takut membuat teman teman nya.
"Riska,,, Dina minta ijin ke kamar kecil dong pengen pipis gak tahan." Ucap Dina.
"Masuk saja Dina, di samping Dapur ada kamar mandi pakai saja." Jawab Riska.
Tiba-tiba feeling Sidiq semakin merasakan tidak nyaman dan berkata spontan.
"Tunggu aku ikut...!" Kata Sidiq.
membuat semua kaget, salah paham dengan perkataan Sidiq.
"Mas Sidiq,,, kok ngomongnya begitu?" protes Riska.
"Aduh maaf,,, maksudnya bukan seperti yang kalian kira. Sidiq merasakan ada yang aneh disini, maksud Sidiq Mau kawal Dina sampai ke dapur." Jawab Sidiq.
__ADS_1
Semua jadi tegang...!!!
"Aku jadi takut Diq, ingat peristiwa Lita dulu di kamar mandi sekolah." Ucap Dina.
Semua semakin tegang, dan masing-masing berdiri bulu roma nya.
"Ayo Din Sidiq antar sampai ke dapur." kata Sidiq.
"Aku ikut...!" Sahut semua.
Mereka pun ramai ramai mengantarkan Dina sampai ke dapur. Sidiq berjalan paling depan, dan Ihsan paling belakang.
Saat berjalan Sidiq merasakan seperti berpapasan dengan sesuatu yang tidak tampak. Sidiq hanya diam, agar yang lain tidak ketakutan.
Dina pun segera masuk ke kamar mandi untuk melepaskan hajatnya. Kemudian kembali ke ruang tamu. Mereka berniat segera ke Pesantren Al-Huda menjenguk Jafar.
Namun belum jadi bangkit dari tempat duduknya. Tiba-tiba ayah Riska datang sendirian.
"Mau kemana kamu Riska?" Tanya Ayah Riska.
"Mau jenguk Jafar adiknya Mas Sidiq." Jawab Riska.
"Jangan Sekarang, Riska mau ku ajak pergi sebentar." Kata Ayah Riska.
Semua terdiam, takut dengan ayah Riska yang tiba-tiba datang melarang Riska pergi.
Naluri Sidiq menangkap kejanggalan yang ada. Kemudian berbisik pada Riska.
"Ris, Ayahmu kan gak pernah pakai kacamata hitam. Coba suruh buka kaca mata nya." Bisik Sidiq.
Riska pun baru menyadari keanehan tersebut.
"Ayah, kenapa pakai kacamata hitam begitu?" Tanya Riska.
Ayah Riska kaget ditanya begitu oleh Riska.
"Kenapa kamu ngurus kacamata segala? Ayo cepat ikut papa sekarang!" Kata ayah Riska.
"Papa,,,? Sejak kapan Riska panggil papa? Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Riska.
Semua jadi tanggap apa yang terjadi. Dan berkumpul di belakang Sidiq. Mencari perlindungan, dari Ayah Riska Gadungan tersebut.
"Riska ajak teman teman menyingkir, ini urusan Sidiq." Kata Sidiq.
"Bocah gak tahu sopan santun, berani berkata seperti itu di rumahku." Bentak Ayah Riska Gadungan.
"Sudahlah gak usah bersandiwara, apa yang kamu lakukan disini dari tadi ? Aku tahu kamu tadi pakai aji Halimun berusaha keluar saat kami ke dapur, Terus pura pura masuk lagi dengan meniru wajah ayah Riska." Kata Sidiq.
Spontan berubah wajah ayah Riska menjadi Jalu.
"Kurang ajar kau,,, selalu saja menghalangi rencana yang ku buat. Tapi Jangan gembira dulu, secerdas apapun kamu, waspada seperti apapun kamu. Akan aku tunggu lengahnya." Ucap Jalu kemudian menghilang dengan aji popok wewe nya.
Jalu pun meninggalkan rumah Riska tanpa dilihat orang. Hanya Sidiq yang tahu gerakan Jalu yang langkah nya menimbulkan dampak goyangan di tanaman depan rumah Riska.
Satu penemuan baru Sidiq, untuk mendeteksi keberadaan orang yang menggunakan aji Halimun.
"Riska,,, coba tengok kamar orang tua kamu sekarang." Ucap Sidiq khawatir dengan kondisi orang tua Riska.
kemudian Riska segera berlari ke kamar orang tuanya.
"Ibu....!!! " Teriak Riska.
"Ada apa Riska,,,? " Tanya Lita panik dan berlari menyusul Riska. Sementara Sidiq, Ihsan dan Dina hanya bingung karena Riska di dalam kamar orang tuanya. Mau menyusul itu ruang privasi, tapi kalau tidak takut ada apa-apa.
"Sidiq tolong bantuin....!!! " Teriak Lita dari dalam kamar orang tua Riska. Barulah Sidiq dan yang lain berani memasuki kamar orang tua Riska...!?!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...