Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Nia pamit dengan Jafar untuk mondok


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


Orang itu tidak dapat bangun, hanya meringis kesakitan. Saat aku hendak melangkah pergi tiba tiba aku jadi kaget, ternyata sudah banyak orang yang melihat perkelahian tadi. Sehingga mau tidak mau aku ditahan dulu untuk di interogasi. Karena di situ juga ada beberapa orang yang berpakaian seragam keamanan, mungkin keamanan taman tersebut. Aku pasrah ketika digelandang ke sebuah Pos untuk di Interogasi…!!!


Sesampai di pos aku dilepaskan dan disuruh duduk, sementara dua orang tadi mendapat perawatan. Riska yang ketakutan pun disuruh duduk di sampingku, di sebuah bangku panjang.


Kemudian salah seorang diantara mereka memandangi aku dengan sorot mata tajam. Seakan ikut membenci aku yang dianggap orang baru atau tidak dikenali. Sementara dua lawanku tadi mendapat perawatan, kayaknya sudah kenal dengan mereka.


“Pantas mereka saling kenal, pasti aku yang dianggap bersalah kali ini, batinku. Dan bear saja sebuah pertanyaan yang menyudutkan langsung dilemparkan kepadaku.


“Kamu tahu gak, kalau disini tidak boleh membuat keributan ?” Tanya salah seorang diantara mereka.


“Saya tahu pak.” Jawabku tenang.


“Terus kenapa kamu bikin ribut di sini ?” bentaknya.


“Saya gak bikin ribut, hanya membela diri saja. Mereka berdua yang bikin masalah dengan kami.” Jawabku.


“Sudah jelas kamu yang memukuli mereka berdua tadi, masih mau mengingkari.” Katanya.


“Itu karena mereka yang menyerang saya duluan pak, jadi saya harus membela diri.” Jawabku tetap dengan tenang.


Rupanya orang tersebut menjadi naik pitam dan sebuah tamparan keras langsung didaratkan di wajahku.


“Sekali lagi kamu membantah maka aku tidak segan untuk menghukum kamu di sini.” Katanya.


Riska menjerit saat aku di tampar tanpa membalas atau menghindar tadi.


“Cukup pak, teman saya tidak bersalah memang Danu dan Bima tadi yang bikin masalah.” Ucap Riska membelaku.


“Kamu kenal mereka ? Dan anak ini siapa kamu ?” tanya orang itu kepada Riska.


“Aku Riska, ini teman sekolahku Danu dan Bima memang sering  mengganggu aku.” Jawab Riska.


“Kamu Riska…? Riska putrinya pak Lurah Broto ?” tanya orang itu kaget.


“Iya, apa perlu saya panggil bapakku kesini ?” tanya Riska.


“Gak  usah gak usah, ya sudah saya minta maaf ini hanya salah paham saja.” Ucap orang itu, ternyata begitu tahu yang bersamaku adalah Riska putri seorang Lurah yang disegani mereka jadi pada takut. Aku hanya tersenyum menahan tawa melihat mental cemen seperti itu.


“Maaf dik, saya tadi emosi, sakit apa tidak ?” tiba tiba orang itu bertanya padaku dengan nada datar tidak membentak lagi. Aku yang sebenarnya geram justru jadi menahan geli melihat tingkahnya.


“Gak papa kok pak, pukulan seperti itu gak terasa buat saya.’ Jawabku sengaja membuat orang itu tersinggung. Pengen tahu reaksinya saja, apa masih berani menampar aku lagi sekarang.


Tapi ternyata orang itu hanya diam saja, tidak sebesar mulutnya tadi. Dan aku dan Riska pun diizinkan pergi dari tempat itu. tanpa pamit lagi aku langsung cabut dari tempat itu. bahkan tanpa menyalami mereka satu pun. Karena rasa jengkel aku masih belum hilang, dengan cara yang diterapkan mereka tadi.


*****


Dalam perjalanan pulang Riska bertanya kepadaku.


“Mau kemana sekarang mas ?” tanya Riska yang masih agak gemetar.


“Kembali ke Toko dulu saja, aku sekalian mau sholat ashar dulu sebelum pulang ke pesantren.” Jawabku.


“Owh, Riska boleh ikut sholat bareng nanti ?” tanya Riska lagi.


Aku agak bingung, soalnya tempat sholat yang disediakan koko pemilik toko hanya sempit. Karena biasanya hanya aku yang memakai, karena karyawannya aku aku seorang. Sementara koko sendiri non muslim, meski justru selalu mengingatkan aku jika masuk waktu sholat.


“Boleh sih, tapi tempatnya sempit dan di belakang Ris.” Jawabku.


“Gak papa mas, kan hanya mau sholat saja gak perlu tempat yang luas.” Jawab Riska santai.


Padahal maksudku bukan itu, aku takut kalau Riska ikut masuk jadi fitnah dan aku sendiri juga ngeri kalau berdua di dalam rumah hanya bersama Riska saja. Tapi gapapa lah, semoga saja tidak terjadi apa apa, batinku. Satu sisi senang melihat Riska mau ikut sholat tapi satu sisi juga khawatir dengan godaan iblis yang sangat halus.


Dan sesampai di toko aku segera membuka kembali toko, kulihat memang masih jam setengah empat. Masih cukup lama waktu untuk kembali ke pesantren. Aku jadi dapat ide Riska aku minta sholat lebih dahulu agar tidak berdua terlalu lama di dalam rumah. Riska pun setuju, dengan meminjam mukena ruko sebelah Riska aku tunjukan tempat wudhu dan tempat sholat. Kemudian Riska pun Sholat sendirian, dan aku kembali menjaga toko di depan. Meski masih enggan membuka HP yang harus di servis. Terlalu banyak pikiran yang mengganggu konsentrasiku waktu itu.


Setelah Riska selesai sholat, Riska pun kembali ke depan dan menyuruhku untuk gentian sholat. Namun saat aku mau melangkah ke belakang untuk wudhu tiba tiba Riska memanggilku.


“Mas sebentar Riska mau ke kamar kecil dulu.” Ucap Riska.


“Ya sudah sana cepetan dari pada ngompol…!” godaku ke Riska.


“Yee mas Sidiq jorok ah, anterin Riska takut sendirian di dalam !” kata Riska.

__ADS_1


“Diih masak mau pipis harus ditungguin gak boleh dong.” Godaku.


“Jangan bercanda aha, Riska takut beneran maksudnya anterin sampai dekat kamar kecil saja, buruan…!” rengek Riska yang kayaknya sudah menahan hasrat ingin buang air kecil.


Aku jadi tidak tega dan segera ku antar ke kamar mandi.


“Jangan pergi dulu mas, Riska takut soalnya pas sholat tadi saja rasanya merinding.” Kata Riska dari dalam kamar mandi.


“Iya, tapi kalau di dalam kamar mandi jangan bersuara Ris lain kali.” Jawabku.


Setelah beberapa menit Riska keluar dari kamar mandi dan bertanya.


“Kenapa mas kalau di kamar mandi gak boleh bersuara ?” tanya Riska.


“Karena kamu cewek, suara cewek di kamar mandi bisa memancing hasrat laki laki untuk mengintip.” Jawabku.


“Yee mas Sidiq suka ngeres mikirnya ah.” Gerutu Riska.


“Bukan begitu Ris, memang seperti itu kaidahnya suara wanita itu bisa menjadi aurat.” Jawabku mencoba menjelaskan.


Riska malah semakin bingung, akhirnya aku memberikan penjelasan jika suara wanita itu bisa jadi aurat kalau di kamar mandi karena memancing hasrat laki laki. Atau suara yang dibuat buat seperti ******* *******.


“Owh begitu, kirain mas Sidiq saja yang pingin ngintip.” Goda Riska.


Aku justru jadi malu ketika Riska menggodaku seperti itu, dan kami jadi ngobrol agak lama setelah itu. sehingga tanpa kami sadari jarak kami semakin dekat, bahkan kemudian hanya saling pandang. Dan entah kenapa tiba tiba aku sudah memeluk riska dan mencium pipi Riska. Untung aku cepat tersadar dan melepaskan pelukanku.


“Astaghfirullah maafkan aku Riska, aku khilaf aku mau sholat dulu, tolong jagain toko dulu ya.” Kataku sambil gemetar seluruh tubuhku, aku merasa bersalah banget pada Riska. Aku yang seharusnya membimbing dia malah berbuat begitu, pikirku.


Kemudian aku segera ambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar, aku menyesali apa yang telah aku lakukan pada Riska. Di awal sudah berkomitmen untuk hanya sekedar saling suka saja. Tapi aku tadi telah memeluk dan mencium Riska. Aku jadi ragu untuk kembali ke depan menemui Riska, seperti sudah tidak punya muka lagi untuk melihat wajah Riska.


Dengan agak takut dan grogi aku beranikan diri kembali ke depan, kasihan juga jika Riska lama lam  menunggu aku, batinku.


Dan sesampai di depan aku pun hanya tertunduk tidak berani menatap wajah Riska. Dan Riska pun hanya terdiam tak bicara apapun.


“Mas Riska pulang dulu ya sudah sore, takut bapak dan ibu pulang Riska gak ada di rumah.” Kata Riska.


“Iya hati hati Ris, emm… maaf ya Ris soal tadi aku benar benar khilaf.


 kataku pada Riska.


Riska hanya tersenyum kecil kemudian menjawab dengan nada datar.


“Lupakan saja mas, kita sama sama khilaf tadi.” Jawab Riska.


Selepas Riska pergi pun aku hanya bengong, “Kok bisa ya aku taddi tiba tiba peluk dan cium Riska…?!?” kataku dalam hati. Tapi ya sudahlah semua sudah terlanjur, yang penting aku harus lebih bisa menjaga diri lagi.


*****


Di Pesantren Jafar dan Nisa


Author POV


Saat sore hari selepas para santri melakukan latihan Pencak silat, Nia dipanggil oleh abah dan uminya.


“Nia, abah dan umi mau bicara sebentar.” Kata Abahnya Nia.


“Ada apa Abi ?” tanya Nia merasa ada yang janggal, tidak biasanya dipanggil secara khusus oleh orang tuanya.


“Kamu kan sudah besar sekarang, sudah masuk masa remaja. Jadi Abah pengen kamu juga belajar mandiri sekarang nak.” Kata abahnya Nia membuka pembicaraan.


“Iya Nia, abi dan Umi pengen kamu belajar Adab dan akhlak secara real bukan sekedar teksbook saja.” Istri sang kiai menyambung.


“Maksud abi dan umi bagaimana ?” tanya Nia belum paham maksud dan tujuan kedua orang tuanya.


Kemudian secara panjang lebar kedua orang tuanya menjelaskan maksud mereka yang akan mengirim Nia ke rumah adik angkatan nya dulu di pesantren. Tanpa mengatakan jika yang dimaksud adalah Yasin adalah Ayahnya Jafar dan Nisa. Meski awalnya Nia agak keberatan, namun setelah dikasih tahu jika disana pun Nia masih bisa belajar pencak Silat pada adik angkatnya, Nia akhirnya setuju. Dan mulai besok Nia akan mengurus surat pindah sekolah sekaligus untuk belajar di tempat Yasin dan Fatimah.


Kedua orang tua Nia berharap Nia bisa melihat kehidupan Yasin dan Fatimah sehari hari. Karena selama ini Nia hanya bergaul dengan para santri abahnya saja. Sehingga dia kurang paham dengan dunia luar, dan selalu merasa di istimewakan oleh lingkungannya. Karena komunitasnya adalah santri santri orang tuanya saja.


Dengan begitu kedua orang tua Nia berharap Nia bisa merasakan hidup sebagai orang biasa  tidak diperlakukan sebagai seorang ‘Ning’ ( putri kyai ). Agar tahu bagaimana rasanya hidup di lingkungan masyarakat yang heterogen. Dan hal itu dirahasiakan oleh orang tua Nia. Termasuk kepada JAfar dan NIsa juga. Mereka tidak tahu jika Nia justru disuruh tinggal bersama orang tua Jafar dan Nisa, tahunya hanya Nia pindah sekolah dan sekalian belajar ngaji di luar. Sebuah tradisi, meski orang tuanya seorang kiai anaknya selalu disuruh ngaji di tempat lain. Karena ada kecenderungan jika diajar orang tuanya tidak  atau kurang serius.


Sementara itu Jafar seusai melatih pencak silat pun segera mandi untuk persiapan sholat maghrib. Dan setelah mandi Jafar pun kaget ketika tiba tiba di temui oleh Nia.


“Kang Jafar, Nia mau bicara sebentar bisa ?” tanya Nia.


“Iya Ning Nia, tapi Jafar sisiran dulu baru habis mandi.” Jawab Jafar.


“Nia tunggu di depan ya kang !” ucap Nia sambil melangkah ke teras rumahnya. Dalam hati Jafar agak bingung, ada apa Nia mau menemui dia, apakah terkait Nisa adiknya soal kemarin, batin Jafar.


Agar tidak menabrak waktu maghrib Jafar pun segera menyusul NIa di teras rumahnya yang berhadapan langsung dengan kamar para santri Putri.


“Ada apa Ning Nia ?” tanya Jafar.

__ADS_1


“Begini, Nia mau pindah sekolah dan sama abi disuruh sekalian ngaji dan belajar akhlak secara praktek. Jadi sebentar lagi Nia gak tinggal di sini lagi.” Ucap Nia membuka obrolan.


“Bagus dong ning Nia, biar ning Nia nanti semakin pandai dan berakhlaqul karimah.” Jawab Jafar.


“Iya kang, maksud Nia memanggil kang Jafar Nia mau minta maaf atas kesalahan Nia selama ini pada kang Jafar, Nisa dan semuanya.” Kata Nia.


Jafar haru mendengar itu, bahkan rasa yang pernah muncul saat pertama kali melihat Nia pun sekarang muncul lagi. Membuat Jafar malah jadi Grogi sendiri.


“Rupanya ning Nia memang sudah menemukan jati dirinya sekarang. Harusnya aku bersyukur, tapi kenapa aku malah jadi merasa sedih seakan merasa kehilangan kalau ning Nia meninggalkan rumah ini.” kata Jafar dalam hati. Beberapa saat Jafar hanya terdiam tidak mnjawab perkataan Nia.


“Kang…? Kang Jafar melamun ?” tanya Nia membuat Jafar jadi kaget, karena sadar dari lamunan.


“Owh gak kok ning Nia, ning Nia gak perlu minta maaf Jafar Yakin semua pasti bisa memahami ning Nia.” Jawab Jafar.


“Kang Jafar gak sakit hati sama Nia, kemarin Nia remehin kang Jafar dan Nisa ?” tanya Nia.


“Gak kok ning Nia, Jafar yakin Nisa adikku juga gak akan sakit hati.” Jawab Jafar.


“Sekarang jangan panggil ning, panggil Nia saja kang. Apa kang Jafar lupa kalau disuruh jaga Nia sama abi dan umi. Disuruh anggap Nia adik kandung kang Jafar sendiri.” Ucap Nia.


Kali ini Jafar  benar benar jadi berdebar debar mendengar Nia yang ucapanya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak seperti dulu yang hampir selalu meremehkan orang.


“Aah kang Jafar gak asik, diajak ngobrol malah melamun saja. Apa sebenarnya masih dendam sama Nia ?” kata Nia dengan nada yang agak tinggi. Sehingga terdengar beberapa Santriwati yang sedang lewat di depan mereka termasuk disitu ada Nadhiroh yang memperhatikan Jafar ngobrol dengan Nia dengan rasa sedikit cemburu.


“Sama sekali tidak Ning eeh Nia, hanya heran sekarang Nia jadi berubah baik banget.” Jawab Jafar.


“Serius gak ada dendam sama Nia kang ?” tanya Nia memastikan.


“Iya serius kok.” Jawab Jafar singkat.


“Awas ya kalau bohong dosa, Nia sudah jujur minta maaf kalau kang Jafar bohong tanggungan kang Jafar dosanya.” Ucap Nia.


Mereka terpaksa berhenti bicara karena terdengar adzan maghrib telah berkumandang. Dan segera bersiap menuju ke masjid untuk sholat jamaah.


*****


Usai jamaah Maghrib Jafar masih terngiang kata kata Nia tadi. Bahkan perasaan sedih mau di tinggalkan Nia pun semakin Jafar rasakan. “yaa Allah kenapa aku jadi sedih begini, harusnya aku bahagia tugas dari abah guru sudah Jafar laksanakan, dan cukup berhasil.” Kata Jafar dalam hati.


Jafar melamun sendiri di dalam kamarnya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa merasakan hal yang aneh saat Nia berpamitan tadi.


 


…..


…..


…..


 


Sementara itu Nadhiroh yang tadi melihat Jafar Ngobrol dengan Nia juga merasa cemburu namun juga tak berani apa apa. Kemudian dia ingat dengan Sidiq yang tadi dikira Jafar, dan telah membetulkan HP nya secara Gratis.


“Kok aku jadi bingung ya, Jafar sama kakaknya sama sama Ganteng tapi lebih asik kakaknya. Sayang dia sudah punya pacar, tapi pacarnya kok gak berjilbab ya. Kan kakaknya Jafar juga santri katanya, meski beda pesantren.” Kata Nadhiroh dalam hati.


Kemudian Nadhiroh pun menceritakan kejadian saat dia di tempat kerja Sidiq dan mengira Sidiq adalah Jafar. Karena dari kejauhan mereka sangat mirip. Sehingga teman teman Nadhiroh pun jadi penasaran dan akan menemui Sidiq dengan pura pura membetulkan HP nya.


“Tapi kalian perlu tahu, kakaknya Jafar yang bernama Sidiq itu sudah punya pacar. Tadi saja disana  ditungguin sama pacarnya.” Ucap Nadhiroh sambil tertawa kecil. Meski hatinya juga merasa sedang sedih, karena ada rasa cemburu melihat Jafar dan Nia tadi ngobrol berdua di depan rumah.


“Aah baru pacar ini, kan belum ada janur melengkung berarti masih ada kesempatan dong. Punya fotonya gak Nadh ?” tanya salah satu teman Nadhiroh.


“Ya gak lah, masak ada pacarnya mau minta foto, bisa gawat dong.” Jawab Nadhiroh kemudian dengan bangga menceritakan jika HPnya sudah dibetulin Sidiq dan digratiskan


“Wah enak dong Nadhiroh dapat gratisan dari cowok ganteng. Eeh kita minta foto kakaknya Jafar sma Nisa saja nanti, namanya siapa Nadh ?” tanya teman yang lainya.


“Kalau gak salah namanya Sidiq, orangnya lebih asik kalau ngobrol gak kaku kayak Jafar.” Kata Nadhiroh.


Kemudian mereka pun asik membicarakan Sidiq dan membedakan penampilan antara Sidiq dan Jafar yang berbeda karakter tapi wajahnya mirip tersebut. diam diam ada yang sangat penasaran dan punya rencana untuk mendatangi Sidiq di tempat kerjanya dan akan mengajak kenalan. Meski tidak berani mengatakan kepada teman teman yang lain.


“Aku jadi penasaran dengan cerita Nadhiroh, bahkan baru tahu Jafar punya kakak cowok yang wajahnya juga mirip.” Kata Luluk santriwati yang agak pendiam tapi punya tekad dan pendirian yang kuat. Dia bersikeras membuktikan ucapan Nadhiroh, tidak peduli Sidiq sudah punya pacar. Luluk tetap akan menemui Sidiq dan mengenal Sidiq. Jika perlu akan mengajak Sidiq berkenalan dan berteman, sebagai awal pendekatan, pikirnya….!!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reders...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2