Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Bersiap melakukan pertempuran


__ADS_3

...Bersiap melakukan pertempuran...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Kemudian Herman mengatakan sebuah tempat, tapi yang jauh dari tempat yang dikatakan Ari kepada Riska. Karena Riska justru akan dipertemukan dengan Jalu yang akan membawa Riska pergi ke Padepokan ki Marto Sentono. Dan Sidiq sengaja dijauhkan dari tempat dimana Riska nanti akan dijebak. Sebuah skenario yang dibuat oleh Jalu dan Ari sebelumnya, benar benar bakat berbuat licik…!?!


Dan saat pulang sekolah Herman pun menemui Sidiq untuk menggiring Sidiq ke tempat yang jauh dari Riska. Sementara Jefri dn Fadholi menunggu di tempat tersebut yang akan bersandiwara mengatakan jika riska ketahuan ayahnya dan dipaksa untuk pulang oleh ayahnya. Agar Sidiq tidak merasa jika hanya ditipu mereka.


“Sebentar Diq, ada yang ketinggalan kamu tunggu sebentar ya nanti bareng aku saja bawa motor biar cepat.” Ucap Herman yang sebenarnya hanya mengulur waktu agar Riska sudah meninggalkan sekolah lebih dulu. Agar saat Sidiq dibawa kearah lain tidak tahu jika Riska berjalan ke arah berlawanan.


“Iya sudah cepat sana, kasihan Riska kalau terlalu lama menunggu.” Jawab Sidiq yang belum sadar jika hanya dibohongi saja.


Herman hanya menyelinap dan sembunyi di sudut kelas, menanti kode dari Fadhoi jika Riska sudah tidak kelihatan lagi.


Dan setelah mendapat kode dari Fadholi Herman pun bergegas menemui Sidiq.


“Ayo Diq, kita buruan kasihan Riska nanti kalau kelamaan.” Ucap Herman.


Sidiq pn menaiki motor Herman dan dibawa Herman menuju suatu tempat yang sudah direncanakan. Dan Fadholi dan Jefri sudah menunggu disana juga.


Sesampai disana, Sidiq segera turn dan bertanya kepada Fadholi dan Jefri.


“Mana Riska ?” tanya Sidiq.


“Aduh maaf Diq, tadi kami menemani Riska disini agar tidak diganggu orang. Tapi tiba tiba ayah Riska muncul dan memaksa Riska untuk pulang, jadi kami tidak berani menahan Riska. Tapi Riska tadi sempat berbisik jika besok dia akan menemui kamu saja di sekolah dan bicara di sekolah saja. Soalnya Riska sudah gak sabar lagi bertemu dengan kamu.” Celoteh Jefri mengarang cerita.


“Yasudahlah bagaimana lagi kalau ayahnya yang ngajak pulang. Paling tidak aku jadi merasa sedikit lega Riska gak kenapa napa.” Jawab Sidiq.


Herman dan Fadholi tertawa dalam hati dengar ucapan Jefri. Namun mereka pura pura ikut prihatin pada Sidiq.


“Aduh maaf Diq, gara gara tadi ada yang ketinggalan kamu jadi telat.” Ucap Herman.


“Sudahlah gak papa, masih ada waktu besok ini. yaudah kita pulang saja sekarang.” Ajak Sidiq.


Herman pun mengantarkan Sidiq sampai di tempat biasanya Sidiq menunggu angkutan. Kemudian mereka segera menuju ke tempat Riska di tempat lain yang direncanakan sebelumnya.


…..


…..


…..


Flashback saat Riska pulang sekolah


“Lita aku mau menemui mas Sidiq dulu dia mau bicara empat mata dengan Riska. Jadi gak bisa pulang bareng hari ini.” Kata Riska.


“Iya deh Lita ngerti, tapi hati hati ya jangan sampai terhanyut nanti Ris…!” Goda Lita.


“Apaan sih Lita, kita kan gak pernah macem macem masih tetap jaga jarak kok.” Jawab Riska tersenyum malu tapi bahagia merasa akan bertemu dengan Sidiq lagi.


“Iya tau, becanda keles ya sudah sana cepat nanti yayang kamu ngambek kalau kelamaan.” Goda Lita.


Riska pun melangkah sendiri menuju ke tempat yang disebutkan Ari sebelumnya. Namun setelah sampai di tempat yang dituju ternyata tidak ada siapapun di situ. Kemudian Riska menunggu sendirian di tempat itu. tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasinya.


“Itu bang yang bernama Riska pacar Sidiq.” Bisik ari kepada Jalu.


“Kayaknya pernah lihat gadis itu, bukanya itu teman kerja Sidiq di counter itu ya ?” jawab Jalu.


“Iya benar bang, jadi abang juga udah pernah lihat Riska sebelumnya ?” Tanya Ari.


“Iya waktu aku menemui dia di counter itu. yasudah kamu disini saja aku akan samperin dia.” Bisik Jalu ke Ari.

__ADS_1


Jalu pun kemudian melangkah mendekati Riska.


“Sendirian saja nih, boleh gak aku temani ?” ucap Jalu mengagetkan Riska karena kedatangan Jalu yang tiba tiba itu.


“Kamu ngapain di sini, jangan macam macam ya sebentar lagi temanku datang…!” Ancam Riska.


“Gak mungkin lah, teman kamu Sidiq kan menuju ke tempat lain ini sudah direncanakan oleh sepupuku Ari. Kamu disuruh kesini sementara Sidiq dibawa ke tempat lain. Agar tidak mengganggu kita berdua.” Kata Jalu membuat Riska semakin panik.


“Dasar licik kalian semua, kenapa melakukan ini padaku ?” Ucap Riska ketakutan.


“Agar kamu pisah dengan Sidiq dan nanti bisa jadi milikku seorang Riska.” Ucap ari keluar dari persembunyiannya.


“Bang**t kamu Ari, ternyata kamu memang tidak bisa dipercaya ucapannya.” Bentak Riska sambil mundur mau melarikan diri. Namun Jalu dengan cepat menangkap Riska dan sekali pukulan Ringan saj membuat Riska langsung pingsan.


“Kamu apain bang itu cewek ku ?” tanya Ari.


“Tenang saja Cuma pingsan aku juga butuh dia tetap hidup agar bisa memancing amarah Sidiq dan memancing ayahnya keluar dari sarang persembunyiannya. Aku akan buat perhitungan khusus dengan ayahnya Sidiq itu.” Jawab Jalu.


Dan dengan dibantu Ari Riska dibawa Jalu menggunakan Mobilnya ke Padepokan ki Marto Sentono. Serta dimasukkan ke ruangan khusus jadi satu dengan Muksin dan Arsyad.


“Awas jangan sentuh gadis ini, kalau berani sentuh ku bunuh kalian semuanya.” Bentak Ari kepada Muksin dan Arsyad.


Muksin dan Arsyad bingung ada seorang gadis yang ditawan bersama mereka.


“Bukannya ini pacarnya gus Sidiq, kenapa bisa ditangkap mereka ?” ucap Muksin kepada Arsyad setelah Jalu dan Ari pergi.


“Iya nih, kasihan dia pingsan tapi aku gak berani sentuh karena dia pacar gus Sidiq kang.” Jawab Arsyad.


“Kondisi darurat tidak papa, asal bukan kurang ajar kita bangunin saja.” Jawab Muksin.


“Kang Muksin saja kang, Arsyad gak berani.” Jawab Arsyad.


Kemudian Muksin mendekati Riska dan menggoyang goyangkan tubuh Riska.


“Mbak,,, mbak bangun mbak mbak pacarnya Gus Sidiq kan ?” Ucap Muksin membangunkan Riska dari pingsannya.


“Siapa kamu jangan kurang ajar ya !” ucap Riska sambil menampar Muksin.


“Tenang mbak, saya teman gus Sidiq dan gus Jafar saya juga ditawan di sini. Sama seperti mbak juga.” Jawab Muksin.


Riska jadi agak lega mendengar ucapan Muksin.


“Beneran kamu teman mas Sidiq dan Jafar dan disini juga kalian di tawan “ tanya Riska.


“Iya mbak, jangan khawatir saya tidak mungkin berani kurang ajar dengan pacar gus Sidiq.” Jawab Muksin.


“Aduh maaf ya, tadi reflek menampar kamu.” Ucap Riska menyesali telah menampar Muksin.


“Gak papa kok mbak, owh iya nama saya Muksin dan ini Arsyad teman satu pesantren Jafar.” Ucap Muksin. Arsyad pun memberi salam dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Membuat Riska yakin dua orang itu adalah Santri teman Jafar.


“Kalian kenapa bisa di tawan disini juga ?” tanya Riska.


“Maksud kami mau mengintai Padepokan ini mbak tapi malah tertangkap. Tujuan kami mau melaporkan kepada Gus Sidiq dan gus Jafar.” Arsyad yang menjawab pertanyaan Riska.


Kemudian Muksin ikut menjelaskan Kronologis mereka bisa ditangkap saat mereka mengintai Padepokan tersebut.


Riska jadi semakin ketakutan mendengar cerita dari Muksin dan Arsyad. Kemudian mereka mendengar langkah kaki beberapa orang yang mendekati ruangan tersebut.


Dan ternyata adalah Jalu dan Gede Paneluh didampingi ki Marto Sentono.


“Owh ini, rupanya gadis pacarnya pemuda itu. cantik juga kalau saja bukan jadi jaminan aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan menikmati gadis imut itu.” ucap ki Marto Sentono yang menatap liar kepada Riska. Membuat Riska semakin bertambah ketakutan.


“Ki Marto ini sudah tua juga masih doyan daun muda juga rupanya.” Ucap Gede Paneluh.


“Siapa juga yang nolak kalau lihat perempuan cantik begitu.” Ucap ki Marto Sentono.


“Jangan ki, gadis itu disukai oleh sepupuku tadi. Dan aku yang jamin dia gak akan kenapa napa.” Sahut Jalu.


“Hmm… baiklah tujuan kita hanya memancing ayah anak itu keluar aku gak akan sentuh Gadis itu. dan besok pagi Gadis itu harus kita ikat di lapangan agar pemuda itu kaget melihat pacarnya jadi tawanan kita.” Ucap ki Marto Sentono.

__ADS_1


Riska hampir saja teriak mendengar Sidiq akan ke tempat itu, namun rasa takutnya membuat dia hanya terdiam membisu. Riska merasakan ketakutan yag luar biasa, menjadi tawanan orang orang yang dianggap bar bar tersebut.


Masih untung Muksin dan Arsyad sudah sadar dan menghormati Sidiq dan Jafar sehingga tidak berani macam macam dengan Riska.


“Tapia pa gak sebaiknya dipisah dengan dua anak muda itu ki tempatnya ?” Tanya Gede Paneluh.


“Tidak perlu, dua pemuda itu kan pengagum gus nya si pemuda itu. jadi mereka gak akan berani kurang ajar dengan pacar gus nya.” Jawab ki Marto Sentono. Meski Jalu sempat Protes namun akhirnya hanya menuruti saja kemauan ki Marto Sentono.


Pagelaran Akbar tinggal sehari lagi, dan Riska juga sudah berhasil di awan untuk melemahkan mental Sidiq nanti. Sehingga rencana ki Marto Sentono dan kroni kroninya sudah berjalan mulus sampai hari itu. sementara itu yasin pun sudah mempersiapkan diri dan membekali anak anak didiknya. Juga sudah mengundang Khotimah untuk ikut membantu menjaga rumahnya bersama Isna dan Utari. Jaga jaga jika ada yang menyatroni rumahnya.


Demikian juga dengan Sidiq, Ihsan dan Jafar mereka juga selalu mengasah kemampuan jurus jurusnya.


…..


Jafar yang sedang berlatih sendiri malam sebelum hari H Pagelaran akbar di datangi oleh Kholis.


“Jafar, jangan lupa besok aku juga diajak kesana meski aku tidak akan masuk ke arena bahkan hanya di luar padepokan. Ada tugas khusus yang diberikan abah guru kepadaku besok.” Kata Kholis ke Jafar.


“Iya kang, doakan saja agar kami sekeluarga bisa selamat dan menyelamatkan kang Muksin dan kang Arsyad.” Jawab Jafar.


“Tentu saja, kita sudah jadi satu keluarga besar sekarang. Apalagi ayah kamu juga mengajar disini sudah seharusnya kita saling bantu.” Jawab Kholis.


…..


Di tempat lain Sidiq dan Ihsan pun sedang melatih diri untuk mengasah jurus jurus Suci yang diajarkan Yasin. Dan beberapa kali Sidiq dan Ihsan mencoba menggunakan jurus ‘Ya’ persiapan menyerang musuh dari jarak jauh jika terpaksa.


Dengan semangat yang luar biasa Ihsan dan Sidiq tidak mengenal Lelah berlatih hingga larut malam. Dan diam diam Kyai Nurudin mengawasi  Sidiq dan Ihsan yang sedang berlatih tersebut.


“Bagaimanapun aku tidak akan membiarkan kalian berjuang sendiri. Aku akan datang diam diam bersama kang Syuhada. Turun tangan jika memang harus turun tangan nanti.” Ucap Kyai Nurudin dalam hatinya.


…..


Sementar Yasin dirumahnya juga melatih Isna dan Utari sekaligus melatih kemampuan dirinya untuk mengingat kembali semua gerakan gerakan jurus yang dulu Yasin gunakan. Serta semakin mengasah ketajaman batin untuk menghadapi kemungkinan serangan supranatural karena di sana ada Gede Paneluh yang merupakan ahli Teluh dan Santet tersebut.


“Semoga besok Khotimah datang pagi, sehingga aku bisa berangkat lebih awal menjemput Sidiq dan Jafar dan anak anak yang lain.” Kata Yasin dalam hati sambil mengamati Isna dan Utari yang sedang latih tanding.


“Cukup,,, malam ini sukup kalian istirahat dulu. Abi mau berlatih sendirian untuk besok.” Ucap Yasin kepada Isna dan Utari.


Keduanya pun segera meninggalkan lapangan dan masuk ke dalam rumah. Sementara Yasin masih berada di lapangan untuk mengasah kemampuan batinnya agar lebih waspada jika menghadapi musuh yang licik besok.


Yasin berlatih seorang diri, mencoba kemampuan jurus jurus dan kemampuan batinnya.


“Memang sudah tidak sekuat waktu muda dulu, tapi aku masih yakin bisa menghadapi mereka besok.” Kata Yasin dalam hati.


Setelah merasa cukup Yasin pun kembali kedalam rumah dan beristirahat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Karena besok akan menghadapi musuh yang cukup banyak dan punya kemampuan tempur juga.


…..


…..


…..


Saat pagi setelah subuh Yasin menghabiskan waktu untuk membaca Hizib untuk mempersiapkan diri dan mengantisipasi adanya teluh santet ataupun walat yang sangat mungkin dilakukan lawan. Karena Yasin sudah cukup banyak pengalaman. Agar bisa menetralisir aura negatif yang merugikan dia dan anak anak nya nanti.


 Dan setelah Khotimah datang pagi seperti permintaanya bersama Candra dan Wisnu anaknya. Yasin pun menitipkan rumah dan berangkat mengajak Rofiq dan menjemput Sidiq dan Jafar juga untuk bersiap ke padepokan ki Marto Sentono. Dan juga memberitahu pak Yadi untuk sekaligus menangkap pembunuh dua warga tersebut.


Yasin akan mengatur strategi akhir sebelum mereka berangkat ke Padepokan Ki Marto Sentono. Namun Yasin tidak menyangka jika ki Marto Sentono menculik Riska untuk melemahkan mental Sidiq…!?!


... Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2