
...Mutsashi menyusul Yukimoto...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Gede Paneluh berharap dapat memancing Yasin, dan menolong keluarga Lurah Broto. Untuk mengalihkan perhatian agar tidak dapat membantu anak anaknya yang sedang diserang...?!?
Ki Marto memimpin rombongan yang akan menjebak dan menyerang Mutsashi. Namun sebelum berangkat Jaka dan Jalu meminta untuk lebih dahulu melihat kuburan Maheso Suro dan Mentorogo Ayah dari Jalu dan Jaka. Yang lokasinya dekat dengan tempat kediaman Mutsashi.
Sementara itu ki Bujang yang sangat bernafsu untuk menghadapi Jafar sudah tidak sabar menuju ke lokasi menghadang Jafar.
Sedangkan Kala Srenggi dan Otang yang tidak punya Dendam khusus dengan Sidiq lebih Santai dalam melakukan perjalanan menghadang Sidiq.
Tiga kelompok kecil berpisah ditepi hutan tempat persembunyian mereka.
"Sekali lagi aku ingatkan jika misi kalian bukan membunuh. Tapi sekedar membuat Yasin orang tua anak tersebut terpecah konsentrasinya. Jika terdesak maka lari lebih baik. Jangan gunakan aji Pamungkas dulu." Ucap ki Marto pada kelompok Ki Bujang dan kelompok Kala Srenggi.
Kala Srenggi hanya mengangguk, berbeda dengan Ki Bujang yang kecewa dilarang menggunakan aji Pamungkasnya. "Bodo amat, aku tetap akan gunakan Gundolo Sosro untuk menghabisi anak itu." kata Ki Bujang dalam hatinya.
Setelah memberi pengarahan Ki Marto segera mengajak rombongannya melangkah menuju tempat kediaman Mutsashi. Meninggalkan dua kelompok kecil lainnya, karena jarak yang dituju Ki Marto lebih jauh.
Sedangkan Ki Bujang dan Kala Srenggi berjalan santai. sambil menunggu Sidiq dan Jafar pulang dati sekolahnya.
.....
.....
.....
Susiana alias Mutsashi sedang memetik hasil kebun yang di tanamnya. Beberapa Jagung muda dan sayuran ditaruh di dalam bakul anyaman bambu untuk dibawa pulang.
"Firasat buruk aku rasakan, sepertinya akan ada hal tidak baik." Kata Mutsashi dalam hati sambil melangkah pulang.
Sesampainya di tempat kediamannya Mutsashi tidak segera memasak hasil kebunnya. Mutsashi justru melihat lihat ruang senjata yang dibuat secara khusus.
Jika dari luar hanya seperti ruangan biasa. Namun dinding ruangan itu berlapis. Dan diantara kedua lapisan dinding itu tersimpan semua senjata Ninja klan Yukimoto termasuk Pedang Katana khusus kebesaran dan Simbol Klan tersebut.
Setelah memastikan semuanya aman, barulah Mutsashi mulai memasak hasil kebun miliknya.
Saat matahari sedikit tergelincir ke barat ( waktu dhuhur) Mutsashi mulai menyantap makanan yang dimasaknya.
Namun saat sedang menyantap makanan Mutsashi kembali merasakan firasat yang tidak enak.
Mutsashi pun segera menyelesaikan makan siang nya. Kemudian berjalan mondar-mandir gelisah.
"Aku belum merasa cukup menurunkan ilmu pada anak anak muda tersebut. Tapi aku merasakan seakan Dewa sudah mau memanggilku." Kata Mutsashi dalam hati.
Entah bisikan apa yang didengar Mutsashi, kemudian Mutsashi mengambil buku dan mulai menulis sebuah Pesan. Pesan itu ditujukan kepada Sidiq dan Jafar.
Sidiq dan Jafar
Sedikit aku sudah berikan dasar Ninjutsu, apabila aku tak lagi bisa berjumpa. Carilah buku di dalam kotak Shuriken.
Alas kotak itu ada dua lapis, ditengahnya ada buku. Ambil dan pelajari buku itu. Master berharap kalian bisa temukan pewaris syah Yukimoto, Farayaka. Serahkan pedang lambang kebesaran kami padanya.
Ini ada foto Farayaka agar kalian bisa kenali. Farayaka adalah keponakan dari Yukimoto. Master titip Farayaka. Dan pedang lambang kebesaran kami.
Master merasa Dewa sudah menunggu Master, dan Master harus segera menghadap Dewa.
Mutsashi memasukan kertas berisi pesan tersebut berikut Foto Farayaka.
Kemudian Mutsashi pun masuk ke kamar meditasi dan melakukan meditasi dan Ritual khusus. Setelah meletakkan bambu berisi surat untuk Sidiq dan Jafar di tempat yang khusus. Dimana hanya Sidiq dan Jafar yang tahu tempat itu selain Mutsashi sendiri.
Mutsashi cukup lama berdiam diri dan melakukan Ritual. Sampai menjelang Asar baru Mutsashi keluar dan sudah berpakaian lengkap Ninja.
Mutsashi seakan tahu bahaya sedang mengancsm dirinya. Sehingga Mutsashi sudah bersiap diri menyambut bahaya yang akan datang.
__ADS_1
Kemudian Mutsashi naik ke atap rumah, mrngamati keadaan di sekitar rumahnya.
....
Saat Mutsashi sudah berada di atap rumah, menunggu beberapa saat. Mutsashi melihat dari atap rumahnya, rombongan ki Marto Sentono datang. Mereka belum menggunakan ilmu halimun dan Jalu pun belum menggunakan aji malih warno.
Baru setelah agak dekat Jalu merubah wujudnya menjadi Yasin. Dan yang lain menggunakan aji welut putih.
Mutsashi melihat semuanya, "Ilmu yang aneh untung aku bisa lihat semua nya." batin Mutsashi.
Dan saat Jalu mendekat sebuah senjata mendarat tepat di depan kakinya. Jalu dalam wujud Yasin pun menjadi kaget.
"Hei Susiana ini aku Yasin nau bicara baik baik." Teriak Jalu.
"Yasin tidak pernah panggil aku Susiana, kamu pasti bukan Yasin." Jawab Mutsashi masih dalam persembunyian.
Jalu dan lainnya menjadi Kaget, tidak menyangka penyamaran Jalu ketahuan Mutsashi. Ditambah kecerobohan Jalu memanggil dengan sebutan Susiana, makin terkuak penyamaran Jalu.
"Jalu cepat gunakan Halimun kamu sudah ketahuan." Teriak Ki Marto yang wujudnya tidak nampak.
Jalu pun melompat sambil menghindari serangan memasang ikat kain kafan dan selanjutnya wujud Jalu yang menyerupai Yasin pun tidak tampak oleh mata.
Sekarang wujud Jalu, Ki Marto, Jaka dan Bayu Aji tak terlihat oleh Mutsashi. Mutsahi pun bingung menyaksikan semua itu. Baru pertama melihat hal seperti itu.
Mutsashi berpikir keras, mencari keberadaan Jalu dan kasan kawannya. Dalam kebingungan Mutsashi mengambil bola bola putih dan dilemparkan ke arah jalu berdiri sebelumnya.
Beberapa bola bola itu meledak dan mengeluarkan asap kuning yang berbau menyengat. Maksud Mutsashi ingin membaca gerakan lawan melalui instingnya.
Namun di luar dugaan Mutsashi, asap itu bisa memperlihatkan wujud orang-orang yang datang mau mengeroyoknya. Melalui siluet yang terbentuk oleh asap yang menerpa orang-orang tersebut.
Mutsashi jadi terburu nafsu untuk menghabisi lawan. Kemudian melompat turun bermaksud menyerang kawanan musuh.
Namun sayangnya saat Mutsashi menginjakkan kaki ke tanah asap itu sudah lenyap. Sehingga keberadaan lawan tidak kelihatan lagi.
"Dasar pengecut, tunjukkan di mana kalian?" Teriak Mutsashi.
Tentu saja kelompok Ki Marto tidak mau membuka mulut, apalagi menunjukkan wujudnya. Bahkan mereka membalas dengan melempar Mutsashi.
Bayu Aji yang berada di belakang Mutsashi melempar dengan batu. Mengenai punggung Mutsashi.
Mutsashi melempar shuriken ke arah datangnya serangan. Tapi hanya mengenai angin, karena Bayu Aji sudah berpindah tempat.
Apa yang dilakukan Bayu Aji menjadi inspirasi yang lain. Siapa pun yang berada di belakang Mutsashi melempar Mutsashi dengan batu.
Sehingga Tubuh Mutsashi dihujani batu, bahkan sampai kepala Mutsashi pun tak luput dari lemparan batu.
Kepala Mutsasji berdarah-darah, dan mulai merasakan pening. Di saat kritis itu Mutsashi baru ingat dengan bola bola kecil yang bisa menimbulkan asap.
Kemudian Mutsashi kembali melempar bola bola asap tersebut. Namun sudah terlambat, tubuh Mutsashi sudah penuh luka. Gerakan Mutsashi sudah melemah, dan pengeroyok Mutsashi melihat itu semua.
Sehingga mampu menjauhi asap yang ditimbulkan oleh bola bola Mutsashi. Dan kembali menyerang saat asap tersebut menghilang.
Sehingga Mutsashi menjadi bulan bulanan Ki Marto dan kawan kawannya. Merasa tidak mampu melawan para pengeroyok, Mutsashi menusukkan Pedangnya sendiri ke perutnya. Kemudian merobek perutnya sendiri.
"Aku tidak akan rela mati ditangan kalian. Lebih baik aku mati di tanganku sendiri." Ucap Mutsashi sambil menahan sakitnya tertembus pedangnya sendiri.
Mutsashi roboh dan menghembuskan nafas terakhirnya, Mutsashi menyusui Yukimoto dengan Harakiri.
Ki Marto dan lainnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Mutsashi. Tidak menyangka sama sekali Mutsashi ajan melakukan hal tersebut.
Mereka tidak tahu nilai kehormatan seorang Ninja, lebih baik Harakiri dari pada dipermalukan lawan.
Namun begitu, Ki Marto dan lainnya tersenyum puas melihat Mutsashi orang yang memotong tangan Gandung Santosa sudah terbujur kaku di tanah. Mati bersimbah darah dan usus terbuai.
"Ayo kita tinggal saja bangkainya, biar dimakan Serigala hutan atau harimau yang kelaparan." Ucap Ki Marto.
Dan mereka pun pergi meninggalkan Mutsashi yang sudah tak bernyawa lagi.
.....
.....
.....
Di tempat lain, Ki Bujang dari Kulon bersama Lembayung sedang menunggu kedatangan Jafar.
__ADS_1
"Sudah jenuh aku menunggu, anak itu belum juga muncul." Gerutu Ki Bujang dari Kulon.
"Sabar Ki, mungkin sebentar lagi juga anak itu akan datang." Jawab Lembayung.
"Tanganku sudah gatal ingin menghajarnya, karena dia aku kemarin jadi sekarat. Pengen Tahu jika aku menggunakan kekuatan penuh menyerangnya." Kata Ki Bujang dari Kulon.
"Tapi Ki, bukankah kita hanya disuruh membuat serangan untuk mengacau saja bukan untuk membunuh?" Tanya Lembayung.
"Persetan dengan itu, sekarang atau besok tetap saja musuh harus dibinasakan." Jawab Ki Bujang.
Lembayung tidak berani menjawab lagi, melihat Ki Bujang yang tampak sangat dendam dengan Jafar.
Lembayung tahu Ki Bujang sangat tempramental, sehingga Lembayung lebih memilih diam.
"Itu kah anak yang dimaksud Ki? " tanya Lembayung.
Ki Bujang melihat ke arah yang ditunjuk Lembayung.
"Tidak salah lagi, dia orang nya." Jawab Ki Bujang.
"Tapi dia bersama seorang gadis cantik Ki?" Ucap Lembayung.
"Tidak perduli mau sendiri mau berdua atau ramai-ramai aku gak ambil pusing." Jawab Ki Bujang.
Kemudian Ki Bujang langsung berjalan menghampiri Jafar. Jafar yang mengetahui kehadiran Ki Bujang menjadi khawatir dengan Vina.
"Ada masalah Vina, kamu nanti jalan duluan saja. Orang itu sangat berbahaya, dia dulu yang melukai aku." Kata Jafar.
"Terus bagaimana dengan kamu sendiri Jafar?" Tanya Vina cemas.
"Kamu cepat lari nanti, kasih tahu kang Kholis dan lainnya. agar segera menyusul kemari, aku masih bisa menahan orang itu. Yang aku khawatirkan jika dia main keroyokan." Jawab Jafar.
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kamu bocah. Ayo kita tentukan sekarang, Lebur Saketi atau Gundolo Sosro yang lebih unggul !" kata Ki Bujang.
"Boleh saja, tapi biarkan temanku ini lewat jangan diganggu !" Jawab Jafar.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu dia." Jawab Ki Bujang.
"Vina, kamu cepat lari dari sini dia gak hanya sendiri hati-hati di jalan." kata Jafar.
Vina pun segera berlari, Jafar melihat lembayung berusaha mengejar Vina. Kemudian dengan cepat melempar Lembayung dengan batu yang dilapisi kekuatan dalam Jafar.
Lembayung yang tidak menduga terkena lemparan Jafar jatuh tersungkur tak dapat bergerak. Seluruh ototnya tak mampu digerakkan.
Jafar yang tidak ingin mempertaruhkan keselamatan Vina menggunakan kekuatan penuh untuk menotok Lembayung dari jauh. Akibatnya Lembayung pun jatuh tak bergerak sama sekali.
Ki Bujang yang melihat aksi Jafar pun kagum dalam hatinya.
"anak ini memang luar biasa, tenaga dalamnya sangat besar. Mampu melumpuhkan hanya dengan sekali totokan jarak jauh." Ucap Ki Bujang dalam hati.
"Ku kira sebagai orang tua aki sportif, tidak tahunnya mau berbuat licik juga." Kata Jafar.
"Aku tidak bohong, bukan aku yang akan ganggu teman kamu, tapi dia." Ucap Ki Bujang dengan entengnya.
Jafar mendengar itu jadi sangat marah, merasa dipermainkan. Masih untung dapat melumpuhkan Lembayung dengan sekali lempar.
"Dasar mulut orang tak bermoral memang tak bisa di percaya." Teriak Jafar.
Ki Bujang jadi naik pitam dan langsung memukul Jafar. Namun Jafar pun bergerak lebih cepat, sehingga justru pukulan Jafar yang mengenai Ki Bujang lebih dulu. Sehingga Ki Bujang terpelanting ke samping kiri.
Namun Ki Bujang bukan anak kemarin Sore, sehingga cepat bangkit dan berbalik menyerang Jafar yang sempat melihat Vina berlari.
Jafar sedikit lengah, pinggangnya terkena pukulan Ki Bujang dan terhuyung jatuh kesamping. Dan Ki Bujang tak mau beri kesempatan pada Jafar, dia pun melompat bersiap menyerang Jafar kembali yang masih belum bangkit berdiri sempurna...!?!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1