Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq dan Wisnu berkiprah


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Sidiq dan Wisnu berkiprah...


Namun belum juga serangan orang tersebut mengenai Ki Bujang. Ki Bujang justru dapat memukul orang tersebut hingga orang itu terpental jauh…?!?


Namun belum juga serangan orang tersebut mengenai Ki Bujang. Ki Bujang justru dapat memukul orang tersebut hingga orang itu terpental jauh…?!?


“Sudah aku bilang, aku tidak ingin melukai kalian. Jadi aku harap biarkan aku pergi sekarang.” Kata Ki Bujang dengan percaya diri.


“Jangan senang dulu bisa menjatuhkan kawanku, kamu hadapi aku Lanjar Pamungkas Jagabaya desa ini.” Ucap Lanjar Pamungkas Jagabaya Desa.


“Apakah dengan menyandang gelar Jagabaya kamu merasa sudah hebat ?” Tanya Ki Bujang.


“Setidaknya sebagai Jagabaya memang ini adalah tugasku menjaga ketentraman dan keselamatan Warga.” Jawab Lanjar Pamungkas.


“Apa kamu tidak tahu sekarang ini sedang berhadapan dengan Siapa ?” Tanya Ki Bujang kemudian.


“Siapapun kamu yang jelas kamu sudah membuat kerusuhan di wilayahku. Maka aku Wajib untuk meringkus kamu.” Ucap Lanjar Pamungkas.


“Dasar bocah, main kamu kurang jauh sehingga kamu tidak tahu jika saat ini sedang berhadapan dengan Ki Bujang dari Kulon.” Ucap Ki Bujang.


Beberapa warga yang pernah mendengar nama Ki Bujang jadi gentar dan mundur. Namun bagi Lanjar Pamungkas merasa sudah terlanjur basah. Mau tidak mau harus melawan Ki Bujang, meski harapan menang sangat kecil.


“Aku memang pernah mendengar nama kamu, tapi aku juga belum pernah mencoba sendiri kehebatan kamu.” Jawab Lanjar Pamungkas.


Semua warga yang hadir jadi khawatir dengan keselamatan Lanjar Pamungkas sang Jagabaya. Kemudian salah seorang dari mereka pun berbisik.


“Saah satu dari kita harus segera meminta Bantuan kepada keluarga Pak Yasin. Jelas orang itu bukan tandingan Jagabaya.” Ucap seorang warga pada temannya.


“Iya, salah satu dari kita harus menyelinap kabur. Lari ke rumah Pak Yasin minta bantuan.” Jawab orang yang diajak bicara tersebut. yang kemudian pelan pelan menyelinap mundur menuju ke rumah Yasin yang hanya berjarak sekitar Tiga Ratus meter dari lokasi tersebut.


Sementara Ki Bujang dan Lanjar Pamungkas sudah saling berhadapan. Lanjar Pamungkas tampak sangat berhati hati karena merasa jika lawan yang dihadapi tidak seperti kebanyakan orang. Melainkan seorang Jawara yang cukup terkenal dan disegani sampai ke wilayah wilayah lain.


Mungkin bagi Lanjar Pamungkas ini adalah sekalian dia juga menguji olah kanuragan yang pernah dipelajari dari Yasin dulu saat desanya di serang siluman serigala. Meski saat itu Lanjar Pamungkas belum menjabat sebagai Jagabaya ( Keamanan Desa ).


Maka berhadapan lah Lanjar Pamungkas dengan Ki Bujang, sementara warga lain mengelilingi dua orang yang sedang berhadapan tersebut. untuk menyaksikan pertempuran dua orang tersebut.


Ki Bujang yang merasa sebagai Jawara pilih tanding, memandang rendah terhadap Lanjar Pamungkas yang dianggap orang biasa saja. Ki Bujang pun mempersiapkan jurus jurus fisik untuk melumpuhkan Lanjar Pamungkas. Ki Bujang berpikir mungkin satu atau dua jurus saja sudah akan membuat Lanjar Pamungkas akan jatuh tak bisa bangun lagi. sehingga warga yang lain tidak akan berani menghalangi langkahnya. Sehingga tidak perlu membuang waktu untuk melayani kepungan warga tersebut.


 


Segera Ki Bujang melancarkan pukulan ke arah Lanjar Pamungkas. Dan Lanjar Pamungkas pun dengan mudah menghindari pukulan Ki Bujang, hanya dengan sedikit bergeser dari tempat semula.


Hal pertama yang tidak diduga oleh Ki Bujang, jika Lanjar Pamungkas bisa menghindari serangan pertamanya. Namun Ki Bujang pun segera melancarkan serangan kedua dengan tendangan kaki ke arah iga Lanjar Pamungkas. Berharap Lanjar Pamungkas terjatuh menahan sakit dan sesak nafasnya terkena tendangan Ki Bujang.


 


Namun kembali Ki Bujang harus kecewa, serangan kedua yang dilancarkan pun hanya mengenai angin semata. Lanjar Pamungkas menggunakan Jurus ‘Mim’ dapat menghindari dengan baik dengan gerakan memutar. Meski sampai sejauh itu Lanjar Pamungkas pun belum mampu mendaratkan ke Ki Bujang.


Kondisi pertarungan sejauh ini pun masih seimbang, antara Lanjar Pamungkas melawan Ki Bujang yang masih menggunakan jurus jurus Fisik Semata. Sehingga warga yang menyaksikan pun merasa sedikit Lega karena Jagabaya atau keamanan desa mereka sampai saat ini masih bisa mengimbangi musuh yang berbuat jahat.


 


Bahkan beberapa warga jadi ragu apakah yang dihadapi Jagabaya itu adalah Ki Bujang beneran atau hanya mengaku aku saja. Karena tidak seperti nama besar yang diagung agungkan orang selama ini.


“Jangan jangan itu bukan Ki Bujang beneran, masak hanya begitu saja gerakannya ?” Tanya seorang Warga.

__ADS_1


“Gak tau juga, tapi yang jelas Jagabaya juga bukan orang sembarangan. Dia dulu dilatih Pak Yasin juga cukup lama. Saat Desa kita diserang serigala Siluman dulu, bahkan ikut aktif menjaga keamanan warga.” Sahut warga satunya.


“Paling tidak Pak Jagabaya bisa menahan sampai Ruslan berhasil meminta bantuan ke rumah Pak Yasin. Seandainya itu Ki Bujang beneran biar nanti Pak Yasin yang akan menghadapi dia.” Ucap warga lainnya.


Sementara itu Ki Bujang dan Lanjar Pamungkas semakin menaikan tempo permainan masing masing. Sejauh ini Lanjar Pamungkas masih mampu mengimbangi Ki Bujang. Satu dua pukulan pun sudah saling berbagi, baik Ki Bujang dan Lanjar Pamungkas sama sama memberi dan menerima pukulan lawan.


Tiba-tiba Ki Bujang pun melompat mundur beberapa langkah setelah menerima pukulan dari Lanjar Pamungkas.


“Jangan senang dulu anak muda, aku akui kamu punya sedikit permainan untuk bermain jurus. Namun aku sebenarnya hanya enggan menggunakan ilmu saja. Tapi sekarang aku terpaksa harus menggunakan ilmu dan ajian, karena kamu menyulitkan aku.” Ucap Ki Bujang.


“Apa mau kamu sekarang wahai perusuh Desa ?” Kata Lanjar Pamungkas.


“Jika kamu punya sesuatu untuk kamu banggakan gunakanlah, karena aku akan gunakan aji Ciung Macan untuk menghadapi kamu.” Ucap Ki bujang.


Sejurus kemudian Ki Bujang melakukan gerakan gerakan seperti gerakan Harimau yang akan menerkam mangsanya. Dan jari jari tangan Ki Bujang menjadi kaku dan seakan siap menerkam dan mengoyak tubuh Lanjar Pamungkas.


Semua menjadi tegang melihat hal tersebut. Lanjar Pamungkas sendiri sedikit ragu,”sayang aku dulu dalam mempelajari jurus ‘Ya’ belum sampai tuntas. Tapi aku harus mencoba menggunakan Jurus tersebut untuk menghadapi orang itu.” Kata Lanjar Pamungkas dalam hati.


Lanjar Pamungkas pun segera mempersiapkan jurus ‘Ya’ untuk bertahan menghadapi aji Ciung Macan Ki Bujang. Suasana pun menjadi semakin tegang, warga yang menyaksikan pertempuran tersebut sampai diam tak bergerak, bahkan sampai menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi kemudian.


Dan saat Ki Bujang melompat seperti Harimau yang akan menerkam tubuh Lanjar Pamungkas. Lanjar Pamungkas memukulkan telapak tangannya ke tanah menggunakan Jurus ‘Ya’ yang pernah dipelajari dari Yasin meski belum sampai tuntas.


Dan yang terjadi berikutnya serangan Ki Bujang seperti terhambat sesuatu. Namun Tubuh Lanjar Pamungkas sendiri terpental beberapa meter ke belakang.


Benturan dua kekuatan itu membuat tubuh Lanjar Pamungkas terpental dan hilang keseimbangan.


…..


…..


…..


Beberapa saat sebelumnya


Saat Ki Bujang menyebutkan dirinya, Ruslan yang berhasil menyelinap segera kembali ke rumah mengambil sepeda motor untuk pergi minta bantuan Yasin. Karena jarak rumah Yasin hanya beberapa ratus meter dari Dusun itu maka hanya beberapa menit Ruslan pun sudah sampai di rumah Yasin.


“Ada apa pak, sepertinya ada sesuatu yang penting. Malam malam begini datang kemari, dengan tergesa gesa ?” Tanya Yasin pada Ruslan.


“Gawat Pak Yasin, Pak Jagabaya sedang berhadapan dengan Ki Bujang saat ini. Pak Jagabaya dalam bahaya.” Ucap Ruslan.


“Apa… Ki Bujang melawan Jagabaya Lanjar Pamungkas ?” Kata Yasin seakan tidak percaya dengan pendengaran nya.


“Betul pak, tadinya Ki Bujang menculik beberapa Wanita, tapi terus ketahuan dan sekarang sedang berkelahi dengan Pak Jagabaya.” Jawab Ruslan.


Yasin mendadak menjadi merah wajahnya karena marah, “Jelas dia bukan tandingan Lanjar Pamungkas. Harus segera dihentikan, mungkin ini saat yang tepat untuk menguji Sidiq dan Wisnu. Meskipun harus didampingi juga.” Kata Yasin dalam hati.


“Sidiq, Jafar dan Wisnu kalian ikut bapak ini nanti ayah menyusul segera.” Kata Yasin.


“Iya yah, kami siap berangkat.” Jawab Sidiq kemudian mengajak Jafar dan Wisnu mengikuti Ruslan. Dan Jafar berbarengan dengan Wisnu sementara Sidiq ikut Ruslan membonceng motor Ruslan. Mereka segera menuju ke Lokasi pertempuran antara Ki Bujang melawan Lanjar Pamungkas.


Setelah mereka cukup jauh Tohari pun berkata.


“Kenapa kamu suruh anak anak Yasin ?” Tanya Tohari.


“Iya mas,kenapa bukan kita saja yang sudah dewasa ?” Sahut Sena.


“Aku juga tidak akan membiarkan mereka bertindak sendiri. Kita akan susul mereka, tapi aku sekaligus ingin menguji Sidiq dan Wisnu dan ikut sertanya Jafar sebagai alternatif jika Sidiq dan Wisnu tak mampu hadapi Ki Bujang.” Jawab Yasin.


“Begitu, ya sudah kita berangkat sekarang kita amati dulu mereka jangan ditegakkan mereka yang masih anak anak.” Jawab Sena.


“Kamu yakin kuat untuk ikut ke sana Yasin.” Tanya Tohari.


“Insya Allah…kan ada Kang Tohari dan Sena, yang akan bertindak jika terpaksa. Aku hanya ingin melihat anak anakku berkiprah tidak akan turun tangan.” Jawab Yasin.


“Baiklah, tapi beneran ya kamu jangan turun tangan dulu.” Kata Tohari yang melihat jika Yasin masih lemah.

__ADS_1


“Iya Kang Yasin jangan gunakan kekuatan dulu bisa membahayakan kesehatan Kang Yasin.” Ucap Tabib Ali.


“Farhan perlu ikut gak Mas ?” Tanya Farhan.


“Kamu jaga rumah saja Farhan, biar tetap ada laki laki di rumah.” Jawab Yasin.


Maka Yasin, Sena dan Tohari pun segera menyusul anak anak yasin dan Wisnu. Mereka tidak akan langsung turun tangan tapi akan melihat dulu aksi dari anak anak Yasin terutama Sidiq dan Wisnu.


…..


Kembali ke pertarungan antara Ki Bujang dan Lanjar Pamungkas.


Saat Lanjar Pamungkas terpelanting ke belakang dan hampir membentur tembok. Jafar datang dan dengan gerakan cepat menangkap Tubuh Jagabaya tersebut. Sehingga selamat dari benturan ke Tembok. Sementara Sidiq menghalangi Ki Bujang yang akan mengejar Lanjar Pamungkas yang sudah terpelanting tersebut.


Dengan gerakan cepat Sidiq menendang tubuh Ki Bujang hingga Ki Bujang terdorong ke samping  beberapa meter dan jatuh.


“Dasar Aki Aki gak tahu diri, sukanya bikin ribut terus. Aku lawan kamu sekarang…!” Ucap Sidiq saat Ki Bujang berusaha untuk bangun, dan berjalan mendekati Sidiq.


Warga terkejut melihat yang datang bukan Yasin tapi hanya anak anak Yasin. Dan lebih terkejut lagi saat melihat Sidiq anak yasin dengan mudah menjatuhkan Ki Bujang tersebut.


“Mereka itu kan anak anak Pak Yasin yang sedang mesantren, mana ayah mereka ?” Bisik seorang warga.


“Kayaknya anak anak pak Yasin saja menghadapi orang itu, kita lihat dulu saja kayaknya seru nih.” Jawab warga yang lain. Ada juga yang justru penasaran dengan anak anak Yasin dan berharap mendapat tontonan yang seru.


“Kurang ajar kamu lagi kamu lagi, kenapa kamu selalu mengganggu pekerjaanku.”  Ucap Ki Bujang.


“Di manapun kamu selalu berbuat jahat, jadi kemanapun kamu aku akan selalu mengejar kamu. Jangan Harap kamu bisa lari dari kejaran kami.” Jawab Sidiq.


Warga semakin heran, setelah mendengar percakapan Sidiq dan Ki Bujang. Mereka menyimpulkan jika sebelumnya Ki Bujang sudah Pernah berhadapan dengan Sidiq. Dan Sidiq berhasil mengalahkan Ki Bujang. Sehingga warga menjadi tenang, meskipun yang datang hanya anak anak Yasin bukan Yasin sendiri.


“Jangan berbangga hati dulu, bocah kemarin kemarin aku belum sempat mengeluarkan aji Gundolo Sosro milikku secara sempurna. Sekarang saatnya kamu yang akan aku panggang dengan ajian tersebut.” Ucap Ki Bujang.


Jafar yang mendengar Ki Bujang akan menggunakan Ajian Gundolo Sosro langsung mendekati Sidiq.


“Biar aku yang hadapi dengan Lebur Saketi saja Mas Sidiq.” Ucap Jafar.


“Tidak perlu, aku akan buat dia tidak bisa mengeluarkan ajian tersebut.” Bisik Sidiq.


Meskipun Jafar belum paham dengan maksud Sidiq, tapi Jafar cukup yakin dengan kemampuan dan akal Sidiq kakaknya. Jafar pun menyingkir dari arena pertempuran tersebut. Dan tanpa disadari oleh mereka dari kejauhan Yasin, Sena dan Tohari menyaksikan saat Sidiq menendang Ki Bujang tadi. Mereka bertiga mengamati dari tempat agak jauh, untuk melihat  aksi Sidiq menghadapi Ki Bujang yang memiliki ajian Gundolo Sosro tersebut.


“Kenapa justru Jafar menjauh lagi, bukankah yang memiliki Aji Lebur saketi untuk menghadapi Gundolo sosro adalah Jafar ?” Tanya Sena.


“Kita lihat dulu saja, aku juga penasaran pengen tahu dengan cara apa Sidiq dulu kalahkan Ki Bujang.” Jawab Yasin.


Tohari yang akan berkomentar pun mengurungkan niatnya setelah mendengar penjelasan Yasin. Bahkan ikut penasaran dengan Sidiq.


Sementara Ki Bujang yang sudah bersiap menerapkan aji gundolo Sosro melihat Sidiq belum melakukan apapun juga.


“Ayo gunakan ilmu yang kamu punya jangan sampai kamu mati penasaran.” Ucap Ki Bujang.


“Baiklah kalau itu memang mau kamu. Kamu gunakan Gundolo Sosro aku akan gunakan Selo Sosro.” Jawab Sidiq.


( Gundolo \= Halilintar Sosro \= Seribu dan Selo \= Batu ) sehingga maksud Sidiq dia akan menggunakan seribu ( Banyak batu ) untuk melempar Ki Bujang.


Ki bujang pun yang sedang bersiap merapalkan mantra jadi terhenti ketika titik titik lemah di tubuhnya dilempari Sidiq dengan batu. Suara mengaduh Ki Bujang membatalkan mantra yang diucapkan, sehingga harus mengulang dari awal. Begitu seterusnya sampai  Ki Bujang geram. Dan Sidiq terus menyerang Ki Bujang dengan batu, dengan dasar dasar melempar Shuriken yang diajarkan oleh Master sashi.


Secepat Kilat Ki Bujang berganti ajian Ciung macan yang tidak banyak mantra dan gerakan. Dan dengan cepat menyerang Sidiq yang sedang mengambil batu batu di tanah sekitarnya. Ki bujang menyerang sidiq seperti saat menyerang Jagabaya hingga terpental tadi. Dan warga yang melihat pun menjadi sedikit cemas…?!?


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2