
Karya Author tidak akan ada kemajuan
tanpa ada saran dan kritik dari reader
Yuk bantu Author berkarya lebih baik
dengan tulis kesan pesan juga saran dan kritik
di kolom komentar.
Terimakasih, selamat membaca.
...🙏🙏🙏...
...........
Mereka terdiam sejenak, menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan. Namun tiba tiba Muksin yang dari awal tidak bicara apapun tiba tiba melontarkan kata kata provokatif.
“Tapi ya jangan sampai diulang lagi, atau mungkin ini adalah ujian karena kamu kemarin datang ke pondok bawa cewek. Gak menghargai pondok jadi kena akibatnya semua.” Ucap Muksin yang memang gak suka dengan Jafar dan Sidiq.
Sidiq memerah wajahnya tanda marah, namun dia ingat baru saja bilang akan belajar sabar. Sementara Jafar seperti tidak bereaksi apapun…???
“Muksin,,, kayak kamu uah bener sendiri aja…!” Bentak kholis ke Muksin.
Muksin hanya diam tidak berani menjawab Kholis seniornya.
“Gapapa kang Kholis, mungkin memang ini kesalahan Jafar dan mas Sidiq kok. Jadi memang tanggung jawab kami berdua saja seharusnya.” Ucap Jafar.
Sidiq lebih memilih diam, takut jadi makin emosi juga takut jika Jafar yang jadi emosi lagi. Kemudian berniat langsung langsung berangkat kerja. Kebetulan juga ada Ojek mangkal di depan warung itu.
“Udah yuk, aku harus masuk kerja soalnya mungkin Sidiq gak bisa lama lama kang. Sidiq harus masuk Kerja sudah hampir jam kerja Sidiq nih.” Kata Sidiq mengalihkan pembicaraan. Kemudian berpamitan, dan menitip salam dan ucapan makasih ke pihak Pesantren karena sudah dibantu.
“Jafar kamu kembalikan motor nya ya, mumpung pas ada Ojek mas mau langsung pulang saja sekarang.” Ucap Sidiq.
“Iya mas, hati hati di jalan gak usah ngebut.” Jawab Jafar.
Sidiq menggandeng tangan Jafar keluar setelah membayar ke warung.
“Hati hati dengan orang yang bernama muksin, kayaknya dia gak suka sama kita.” Bisik Sidiq ke Jafar.
“Iya mas, gak papa bisa diatasi nanti sama kang Kholis.” Jawab Jafar.
Dan Sidiq Pun segera minta tolong Ojek minta diantar ke jalan besar cari angkutan. Jafar dan Kholis sempat melambaikan tangan pada Sidiq kecuali Muksin yang justru tampak makin gak suka dengan Sidiq dan Jafar.
Kemudian Kholis,Muksin dan Jafar kembali ke pesantren. Suasana pesantren masih agak sepi, karena anak anak belum pulang sekolah. Dan abah gurunya Jafar juga tidak ada di rumah, karena justru mengantarkan Nia ke tempat Yasin tanpa diketahui Jafar. Hanya Nisa yang justru merasa bahwa Nia akan di titipkan pada Ayah bundanya.
“Jafar, nDalem baru kosong kamu ikut aku sebentar Yuk.” Ajak Kholis ke jafar.
“Kemana kang ?” Tanya Jafar.
“Ngobrol saja di kamarku, persiapan latihan nanti sore.” Ucap Kholis beralasan untuk meninggalkan Muksin dulu.
Kemudian sesampai di kamar Kholis, Jafar lebih dahulu bertanya pada kholis.
“Keluarga Ndalem pada kemana Kang, kok kosong ?” Tanya Jafar.
“Ngantar Nia pindah sekolah, sekalian disuruh ngaji juga kata abah tadi.” Jawab Kholis.
“Owh hari ini juga berangkatnya ?” tanya Jafar agak kaget.
“Iya, kenapa kaget Jafar ?” Tanya balik Kholis.
“Gapapa kok, kirain masih lama kemarin Ning Nia memang bilang begitu. Tapi gak ngira aja kalau secepat ini.” Jawab Jafar.
“Sejak peristiwa latih tanding Nia dengan adik kamu Nisa, aku lihat kamu dan Nia semakin dekat saja Jafar. Apa kalian ada komitmen khusus ?” Pancing Kholis.
“Maksut kang Kholis ?” tanya Jafar.
“Ya kalau bahasa sekarang menjalin ikatan atau pacaran gitu loh maksutnya” jawab Kholis hati hati.
“Gak kok kang,,, Jafar hanya diberi amanah abah guru untuk menjaga dan mendidik Nia seperti aku menjaga dan mendidik Nisa adik kandungku.” Jawab Jafar.
“Tapi kayaknya Nia dekat banget denganmu, bahkan hampir tiap sore usai latihan selalu ngobrol berdua dengan kamu di teras.” Ucap Kholis.
“Iya, d situlah ning Nia sering curhat karena ning Nia menganggap Jafar kakak kandungnya dan Nisa juga dianggap adiknya juga.” Jawab Jafar.
“Cuma itu saja, gak ada perasaan lain ?” tanya Kholis mendesak Jafar. Jafar jadi agak bingung menjawabnya.
“Setahu Jafar ya memang itu saja kang, kemarin saja Ning Nia bilang sendiri ke Jafar juga begitu saat nunggu buka puasa juga.”kata Jafar.
“Owh iya, hari ini kan jadwal kamu berpuasa Jafar, kamu batalin puasa hari ini ?” tanya Kholis.
“Iya kang, Jafar gak tahan tadi saat harus menghadapi Preman itu. Amarah Jafar sampai gak tertahan, terus Jafar niat batalkan puasa aja.”
“Iya gapapa, kan sunah ini Rasulullah dulu juga pernah begitu, kalau pagi tanya Aisyah istri beliau gak ada makanan beliau bilang yasudah aku puasa saja. Tapi saat siangnya Siti Aisyah masak beliau bilang, aku batalkan puasa. Maksudnya itu memberi contoh pada kita bahwa Beliau Rasulullah itu ya manusiawi sekali Jafar.” Kata Kholis.
“Owh begitu ya kang, jadi gapapa Jafar batalin puasa sehari ini ?” tanya Jafar.
“Ya gapapa lah, kan bukan puasa wajib Jafar. Nah bicara soal manusiawi tadi Jafar, kalo kamu sebagai lelaki suka pada Nia itu juga manusiawi kok bukan sebuah dosa. Asalkan tetap tidak melanggar syariat yang ada. Seperti kemarin kakak kamu kesini sama pacarnya juga. Tapi kan tidak satu motor, dan tahu batas jadi ya kita maklum lah.” Ucap Kholis.
“Iya kang, kakak Jafar memang sudah punya Pacar tapi Jafar masih belum mau pacaran dulu.” Jawab Jafar.
“Dalam Islam memang gak ada pacaran, adanya ta’aruf Jafar. Aku kira kamu disuruh tinggal di Ndalem biar Ta’aruf ( mengenal ) Nia sebelum Nia di suruh pindah sekolah.” Kata Kholis menggoda Jafar.
“Gak lah kang, malah sama abah disuruh jagain agar ning Nia tidak boleh pacaran dulu. Kalau ketahuan ning Nia pacaran Jafar yang dihukum abah guru.” Jawab Jafar.
Kholis merasa sedikit lega mendengar jawaban Jafar seperti itu. Karena merasa ada kesempatan mendekati Nia.
“Tapi kamu suka gak sama Nia Jafar ?” Tanya Kholis.
“Jafar kan masih kecil kang dan memang belum mau mikirin soal cewek. Dibilang suka ya tidak bilang tidak ya suka.” Jawab Jafar.
__ADS_1
“Waduh,,, maksudnya bagaimana itu ?” Tanya Kholis.
“Ya ‘Baina huma’ ( antara keduanya suka dan tidak suka ) saja kang… !” Jawab Jafar sambil tertawa.
“Awas ya kalau Nia aku deketin jangan marah nanti.” Balas Kholis dengan guyonan juga.
“Udah terlambat kang kalau mau deketin Nia sekarang.” Kata Jafar.
“Terlambat kenapa ?” Kholis kaget
“Kan Nia sudah gak tinggal disini lagi, memang kang Kholis tahu Nia dimana ?” jawab Jafar.
“Hehehe iya juga ya Jafar…!” ucap kholis ikut tertawa.
Kholis dan Jafar mengisi waktu mereka dengan bercanda seputar pembahasan tentang Nia juga akhirnya membicarakan tentang Sikap Muksin tadi. Kholis bilang ke Jafar agar tidak usah menanggapi Muksin dan gak perlu diperpanjang masalah yang tadi.
Sedangkan Soal Nia akhirnya kholis jujur jika dia menyukai Nia diam diam. Dan Jafar pun tetap diplomatis, jika dirinya tidak ingin pacaran dulu. Soal jodoh nanti tidak tahu siapa jodohnya, “Siapapun nanti yang jadi Jodoh Jafar. Itu adalah pilihan Allah kang, dan Jafar yakin pilihan Allah pasti lebih baik dari pilihan kita sendiri.” Jawab Jafar yang membuat Kholis pun jadi makin kagum dengan Jafar.
*****
Kita ikuti perjalanan Sidiq yang berangkat kerja, dari tempat Jafar arena bolos sekolah.
“Aduh hari ini kan hari pertama Riska masuk kerja. Kalo aku terlambat kasihan Riska nanti.” Kata Jafar dalam hati.
Jafar pun meminta abang ojek untuk mempercepat jalannya motor. Sementara Sidiq berharap cepat sampai jalan raya dan cepat mendapat angkutan agar segera sampai tempat kerjanya.
Singkat cerita ketika Sidiq sampai ke counter memang Riska sudah berada di situ meski belum lama sampai juga.
“Udah lama Ris “ tanya Sidiq.
“Gak kok, baru juga sampai. Tadi di tanyain Ihsan di sekolah.” Kata Rizka.
“Iya gampang, nanti juga ketemu ini di pesantren.” Jawab Sidiq.
“Bagaimana tadi di sekolah Jafar, kok gak cerita sih ditungguin juga…!” tanya Riska.
“Lah tadi gak tanya malah ngomongin Ihsan kok.” Goda Sidiq.
“Masak gak tanggap sih, kan Ihsan juga pasti dengar maksudnya di tanyain ya nanyain bagaimana kabar kamu disall sana ?” kata Riska.
“Kan sudah aku kasih tahu lewat chat tadi Ris.” Jawab Sidiq.
“Wah kamu gak peka banget sih mas, maksudnya Riska tu butuh cerita langsung dari kamu.” Kata Riska.
“Owh… bilang dong dari tadi. Aku kan gak paham maksut kamu Riska.” Jawabku.
“Mas jangan nyebelin gitu napa sih.” Kata Riska cemberut.
Sebenarnya Riska jengkel karena menganggap Sidiq gak peka karena Riska sangat khawatir tapi Sidiq nya gak ngerasa dikhawatirkan.
“Maksudnya bagaimana,Aku mau cuci muka dan ganti baju dulu ah biar seger.” Kata Sidiq sambil melangkah ke kamar mandi.
Riska tersenyum kecut melihat ulah Sidiq begitu. Pengen marah tapi sayang, tapi gak marah juga sebel sama Sidiq, Riska jadi bingung menghadapai Sidiq.
Sidiq memandangi Riska yang kayak lagi marah.
“Kenapa kamu wajahnya masam begitu, ada masalah ?” tanya Sidiq.
“Gak…!” jawab Riska singkat.
Sidiq berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan Riska. Kenapa dia ngambek begitu, namu Sidiq tak mampu mendapatkan jawabannya.
“Ada apa sih, kalau ngambek begitu aku jadi malas bekerja karena gak mood.” Ucap Sidiq sedikit mengancam Riska.
“Mas Sidiq tadi kasih kabar Riska kalau udah selesai urusan jam berapa ?” tanya Riska.
“Maksudnya apa Riska ?” tanya Sidiq
“Masak perjalanan dari sana ke sini sampai 3 jam lebih, atau keenakan di sana mandangin santri santri Putri yang cantik cantik. Riska ngalah ko mas kalau mas Sidiq bandingin Riska dengan mereka, Riska cukup tahu diri siapa Riska.” Ucap Riska.
Sidiq baru paham kenapa Riska marah begitu, rupanya terbakar api cemburu ternyata. Sidiq juga baru sadar juga jika sebelumnya ada beberapa santriwati teman Jafar yang datang ke situ sekedar godain Sidiq.
“Aduh rupanya ada yang cemburu nih, kenapa gak bilang dari tadi sih ?” ucap Sidiq.
“Buat apa bilang, kalau memang mas Sayang Riska gak usah bilang harusnya juga tahu sendiri lah. Mentang mentang banyak Fans di sana terus ngadain jumpa Fans ya tadi ?” Ucap Riska ketus.
“Yaa Allah Riska,,, segitunya sih kamu…! Mereka kan hanya teman adik adikku saja gak lebih.” Jawab Sidiq.
“Teman Tapi Mesra kan, sampai di bela belain ninggalin HP biar bisa ketemu lagi.” Kata Riska.
Sidiq paham dengan kecemburuan Riska, karena Sidiq tadi member kabar ke Riska kalau urusan sudah beres saat Jafar mengalahkan Prasetyo saja. Tidak menyangka kalau masih akan ada orang lain yang akan menyerang lagi. sehingga jadi menunda kepulangan ke pesantren Jafar.
Kemudian Sidiq mencoba menjelaskan lagi kronologisnya, agar Riska tidak salah paham. Setelah mendengar penjelasan Sidiq pun Riska baru tahu duduk permasalahan yang terjadi sebenarnya. Namun dasar wanita, gak mau begitu saja mengaku salah tentunya.
“Makanya tadi Riska mancing mas buat cerita tapi diam saja, ya wajar kalau Riska curiga karena kelamaan di sana.” Ucap Riska yang sudah terlanjur malu karena menuduh Sidiq, tapi tidak terbukti. Biasanya sih begitu atau Cuma Riska saja ya ? tentunya Sidiq nanti yang akan membuktikan.
“Ya ampun Riska, memangnya aku ini apaan kali sampai segitunya kamu. Udah ya jangan ngambek lagi aku mau servis dulu senyum dong biar aku tambah mood.” Goda Sidiq kemudian mulai sibuk servis.
“Bodo gak mau senyum Riska.”jawab Riska tapi sambil menahan tawanya.
Sidiq hanya senyum senyum melihat perubahan mimik wajah Riska yang memerah karena menahan mau. Hari pertama kerja Riska bersama Sidiq saat itu pun diwarnai dengan candaan candaan mereka.
*****
Yasin POV
“Fat kok hari ini suara burung prenjak dari tadi gak berhenti berhenti sih ?” Tanyaku ke Fatimah.
“Kata orang akan ada tamu mas kalau begitu.” Jawab Fatimah.
“Asal bukan tamu kamu saja Fat ?” Kataku menggoda.
__ADS_1
“Tamu Fatimah siapa ?” tanya Fatimah.
“Tamu kamu rutin tiap bulan, kan baru saja selesai juga.” Kataku sambil senyum melihat Fatimah nyengir merasa kau kibuli.
“Iih jorok ah. Ngomong yang beneran kenapa dari tamu kok sampai ke situ…!” Protes Fatimah.
“Kan ada pembicaraan sebelum Tamu.” Jawabku.
“Apaan ?” tanya Fatimah.
Aku jadi senyum senyum sendiri melihat Fatimah yang kadang masih terlihat Lugu. Agak susah diajak bercanda slengean.
“Malah senyum senyum sendiri di tanya istri juga ?” protes Fatimah.
“Masak kamu lupa apa pembicaraan sebelumnya tadi ?” kataku sambil menahan tawa.
“Apaan emang, kan tadi Fatimah ngomongin kalau akan ada tau saja.” Jawab Fatimah.
“Iya , la aku sebelumnya ngomongin apa ?” tanyaku .
“Mas kan gak ngomongin apa apa, hanya bilang kalau hari ini suara bu….. iih jorok juga kan akhirnya. Nyebelin banget sih kamu mas….!” Kata Fatimah baru sadar apa maksudku.
Sambil ngomel gak jelas dia mencubit aku sampai aku kesakitan. Karena cubitan dia yang sangat panas rasanya.
Baru berhenti saat ada pembeli datang belanja kebutuhan pokoknya.
“ehem wah jadi iri kalau lihat bapak dan ibu begitu.” Ucap ibu ibu muda yang baru belanja.
“Ah biasa aja kok jeng, kadang bapaknya tuh kebangetan kayak anak muda saja gayanya.” Ucap Fatimah. Aku hanya senyum senyum saja mendengarnya, tidak merespon apapun.
Pembicaraan pun berhenti sampai disitu, Fatimah disibukan dengan melayani pembeli dan membungkus belanjaannya. Setelah pembeli itu pergi barulah Fatimah kembali melanjutkan ngobrol dengan serius.
“Kapan selesainya renovasinya mas ?” tanya Fatimah.
“Ini kan hampir selesai, tinggal finishing saja. Habis itu kita bisa mulai menata sendiri halaman rumah untuk memulai bikin kebun dan Grafting lagi.” Jawabku.
“Jadi ingat anak anak ni mas, kapan kapan kita jenguk mereka semua yuk. Sekalian kita silaturahim dengan senior kita juga kan.”ajak Fatimah.
“Iya sih, aku juga kangen sama Nisa dan Jafar. Kalau Sidiq kan baru saja jenguk rumah belum lama.” Kataku.
Saat kami sedang berbincang berdua kami dikejutkan dengan datangnya seseorang yang sudah kami kenal dengan baik. beliau adalah abah gurunya Jafar beserta istri dan anaknya.
Kami berdua pun langsung menyambut mereka sebelum masuk ke halaman rumah kami sebagai rasa hormat kami kepada mereka.
“Apa ini anak gadis yang mau dititipkan di rumahku.” Kataku dalam hati.
Aku melihat seorang gadis remaja sebaya anakku Jafar, namun memang sepintas anaknya keras. Mirip dengan Nisa anakku wataknya namun ini lebih keras lagi kayaknya. “Wah tantangan baru ni kayaknya.” Batinku.
Kemudian kami mempersilahkan mereka masuk ke rumah sebelum saling beramah tamah lebih dahulu.
“Ini lo anak gadisku yang namanya Nia, jadi aku mau minta tolong kamu didik dia. Juga ajari dia sesuatu terserah kamu sajalah pokoknya.” Ucap Abah gurunya Jafar.
“Aku ini bisa apa kang, aku kan hanya didikan kang Salim langsung sedang kakang kan seniornya kang Salim tentunya lebih segalanya daripada aku ini.” Jawabku.
Sementara kulihat anak gadisnya juga kayaknya kurang sreg atau ragu ragu ikut dengan kami. “kayaknya biasa dimanja ini anak.” batinku.
“Pokonya terserah kamu saja lah, aku kan gak perlu banyak bicara kamu juga sudah paham sebagai pengikut dan murid abah Thoha dulu.” Ucap abah gurunya Jafar tersebut.
Aku hanya bisa mengusap kepalaku, karena aku merasa tugas berat menanti melihat anak Gadisnya yang Manja tersebut. “apa kuat ikut disini nanti.” Batinku.
“Ya gak enaknya kan kalau aku kan biasa keras kang, tentu pernah dengar juga dari kang Salim kan. Kalau anak gadismu nanti jadi ketakutan bagaimana ?” tanyaku.
“Mau kamu sentil mau kamu cubit terserah kamu lah kalau itu demi kebaikan Nia anakku.” Jawab abah guru nya Jafar tersebut.
“Mas carikan teman yang sesame cewek saja biar dia betah. Ajak anak dik Nurul kesini temani dia kasihan kalau sendiri.” Bisik Fatimah kepadaku.
“Itu nanti, kan perlu Mos juga biar dia mengenal keluarga kita.” Jawabku.
“Aa kayak anak sekolah saja pakai Mos.” Kata Fatimah.
Sebenarnya aku pun berpikir seperti Fatimah untuk mencarikan dia teman dak anak Nurul dan Sena mungkin memang pas untuk menemaninya. Lebih dewasa dan bisa membimbing nanti, kalau saja Sena dan Nurul mengizinkan. Kalau anak anak Alm Zulfan masih terlalu kecil malah kalah pengaruh dengan gadis itu pikirku.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, titip anak gadisku untuk kamu didik.” Ucap abah gurunya Jafar.
“wah Cuma barter kalo begini, meski dua anakku di sana tapi kayaknya anak gadis ini butuh perhatian Ekstra.” Pikirku.
Baiklah kang, doakan saja aku bisa mendidik putrimu dengan baik. dan aku juga titip….!” Sebelum aku selesai bicara sudah dihentikan oleh abah gurunya Jafar.
“Owh iya tenang saja ini aku ngerti maksudku kok…!” kata abah gurunya Jafar.
Kemudian membisikan sesuatu kepadaku.
“Jangan Bilang anakku kalo anak kamu juga jadi santri ku.” Ucap abah gurunya Jafar.
Aku makin bingung ada apa sebenarnya dan sampai kapan aku harus menyembunyikan identitas aku pada anaknya. Bagaimana jika tiba tiba anakku pulang dan ketemu dia, kan justru merasa dibohongi itu anak, pikirku.
Tapai aku percaya abah gurunya Jafar pasti punya alasan tertentu, baiklah aku akan berusaha menjaga dan mendidik anaknya. Tanpa perlu memberi tahu anak itu jika Jafar dan Nisa adalah anakku. Meski terasa berat juga harus bersandiwara begitu.
“Sudah Yan Nia Umi sama Abi pulang dulu, kamu belajarlah disini dulu. Anggap mereka orang tua kamu Nia.” Kata Uminya Nia. Kemudian mereka pun segera pulang, meninggalkan anak gadisnya menangis sesenggukan.
Kesan pertama sudah mana begini, harus segera mencarikan teman biar gak makin tertekan ini anak, batinku. Sesegera mungkin kau harus menemui Sena dan Nurul minta anaknya tinggal bersamaku menemani Nia. Mudah mudahan saja Nurul dan Sena mengijinkan…!!!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...