Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Dituduh jadi Trouble Maker


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Fatimah pun ikut terbangun dan kemudian menyapa aku.


“Kenapa mas. Kok kayak ketakutan Begitu ?” Tanya Fatimah.


“Aku habis mimpi di temuin Yuyut.” Kataku pada Fatimah.


“Fatimah pun jadi penasaran dan segera ikut duduk di sebelahku, sambil bertanya.


“Mimpi apa Mas ?” Tanya Fatimah sambil memandangi aku yang tak kusadari keringatku pun sampai keluar banyak…!?!”


“Yuyut mengajari filosofi tembang Macapat, aku gak nyangka Yuyut paham banget tentang tembang Macapat. Aku yang Asli Yogyakarta saja tidak tahu sama sekali tadinya.” Jawabku pada Fatimah.


Kemudian aku meraih Ponselku dan melihat jam sudah hampir masuk waktu Subuh. menurut perhitungan jawa mimpi itu ada tiga kategori.


1.Titiyoni


Mimpi yang terjadi di sore hari, merupakan bunga tidur semata.


2.Gondoyoni


Mimpi Karena terbayang kejadian atau mimpi karena sebuah keinginan hati yang selalu dilamunkan.


3.Puspotajem


Adalah mimpi yang ‘Kadangkala’ merupakan sebuah ‘ISYAROH’ atau pertanda akan terjadinya sesuatu.


Antara percaya dan tidak dengan tiga kategori mimpi itu aku jadi teringat akan tiga kategori mimpi itu. memang terlalu mempercayai juga gak bagus, namun menolak sama sekali juga tidak bisa. Dan dala hal mimpiku itu, aku merasa ini bukan sekedar mimpi biasa. Karena ketika bangun pun aku masih mengingat semua penjelasan Yuyut tentang filosofi tembang Macapat tersebut.


Sangat jelas dan sangat gambling namun aku masih diberi tugas mengkaji lebih dalam lagi soal itu. dan ini merupakan sebuah tantangan yang harus aku lakukan. Ada apa sebenarnya dengan tembang Macapat, apakah benar bahwa tembang tersebut memang karya dari para ‘Wali Songo’ seperti yang pernah aku dengar dulu. Dan memang mengandung nilai nilai tertentu. Karena aku sendiri masih buta akan tembang Macapat tersebut. sehingga masih harus banyak bertanya kepada para sesepuh yang tahu akan Tembang Macapat tersebut.


Sejauh mana nilai yang terkandung di dalamnya dan juga seperti apa contoh dari tembang tersebut. ika memang betul seperti itu, maka aku merasa perlu menyampaikan kepada orang yang suka melantukan tembang tersebut. agar tidak sekedar menjadi hobi, namun juga bisa menjiwai apa makna dari tembang tebang tersebut.


Kemudian aku segera bangkit, aku berniat untuk menjalankan sholat malam. Sekalian menunggu subuh.


*****


Siang harinya aku dan Fatimah minta ijin pulang kepada kedua mertuaku.


“Apa sudah mendapat jawaban tentang Jafar anak kalian ?” Tanya ibu mertuaku sebelum aku berangkat pulang.


“Sudah bu, Insya Allah semua baik baik saja.” Jawabku.


Kemudian aku menjelaskan tentang mimpiku semalam saat diberi nasehat oleh yuyut. Dengan gamblang aku bisa menjelaskan apa yang disampaikan oleh yuyut dalam mimpiku semalam.


Kedua mertuaku juga heran jika itu sekedar mimpi maka tidak mungkin aku bisa menjelaskan sedetail itu katanya. Aku Pun sepakat dengan pendapat beliau berdua. Kemudian dengan berat hati Fatimah mohon pamit pada kedua orang tuanya itu. karena di rumah juga sudah menunggu anak anak kami.


“Ini ibu titip oleh oleh, dari pada kamu harus beli, ibu tahu kalo Nisa pasti menunggu oleh oleh kalo kalian pulang dari manapun.” Kata ibu mertuaku.


“Njih bu, anak saya itu memang aneh sifatnya, bahkan dia paling berani melawan ayah dan ibunya bu.” Jawabku setengah berkeluh kesah. Namun ibu mertuaku hanya tersenyum


“Itu biasa namanya juga anak anak dunia mereka ya dunia anak anak, nanti Insya Allah akan sadar sendiri saat dewasa. Asal kalian mendidiknya dengan benar dan member contoh yang baik juga tentunya.” Kata Ibu mertuaku.


Kami pun segera berangkat pulang setelah member salam dan mencium tangan tanda hormat kami kepada beliau. Kedua orang tua kami itupun melepas kepergian aku dan Fatimah dengan rasa haru. Namun menyadari juga jika kami masih punya tanggung jawab di rumah sehingga beliau berdua tidak menahan kami.


*****


kami berangkat dan entah kenapa aku dan Fatimah merasakan kerinduan yang sangat kepada anak anak kami terutama Jafar yang sedang mengalami kejadian kejadian aneh. Dan aku harus mencari jawaban itu dari filosofi tembang Macapat yang disampaikan oleh Yuyut dalam mimpiku semalam. Dan jujur saja itu butuh proses dan pemikiran yang serius agar aku mampu menangkap pesan Yuyut tersebut.


Dengan bekal keyakinan dan usaha memecahkan nasehat Yuyut tersebut, aku punya keyakinan akan ada jawaban nanti. Dalam perjalanan pulang baik aku dan Fatimah lebih banyak diam sibuk dengan pemikiran masing masing.


“Fatimah kepikiran Jafar terus mas.” Kata Fatimah.


“Jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita usaha kan Fat.” Jawabku pada Fatimah.


“Iya mas, tapi aku ini ibunya jadi gak bisa begitu saja berdiam diri. Takut perkembangan jiwa Jafar nanti sedikit berbeda dengan anak anak yang lain.” Ucap Fatimah.


“Gak lah, biasa saja kalopun beda sedikit yan wajar lah. Kan memang Jafar ada sedikit kelebihan dari yang lain.” Ucapku pada Fatimah.


Dan tanpa terasa kami pun sudah sampai ke rumah kami, dan kamipun segera masuk ke rumah. Dan di rumah sudah dinanti oleh Candra,Khotimah juga Rofiq. Karena Arum sedang mengajak anak anak main di belakang rumah.


“Assalaamu ‘alaikum…!” sapaku pada Candra dan lainnya.


“Wa ‘alaikummussalaam….!” Jawab mereka serempak.

__ADS_1


“Pada kemana anak anka ?” Tanya Fatimah kepada Khotimah.


“Lagi main di belakang sama Arum.” Jawab Fatimah yang sekarang menyebut Arum tidak dengan sebutan mbak karena Arum sekarang jadi adik iparnya.


“Panggilin Nisa dan lainnya, nanti nanyain oleh oleh lagi.” Kata Fatimah.


Biar aku bawa kesana saja, ada hal penting yang akan dibicarakan semalam ada warga yang protes ke sini.” Kata Khotimah.


“Apa,,,? Ada warga protes, protes kenapa ?” tanyaku heran.


“Itu mas Candra yang nemuin biar mas Candra yang menyampaikan.” Ucap Fatimah sambil membawa oleh oleh dari mertuaku ke tempat anak anak biar gak ikut dengerin pembicaraan orang tua.


“Semalam ada warga kesini, saat anak anak muda pada bermain disini. Katanya keberatan dengan aktifitas mereka yang kerjanya hanya mabuk mabukan. Dan nanti malam akan kesini lagi katanya.” Kata Candra.


“Maasyaa Allah… bukanya kemarin sudah aku jelaskan kenapa mereka masih saja protes !” Geramku.


“Katanya mau dengar langsung penjelasan kamu langsung.” Kata Candra.


Aku hanya terdiam heran mendengar sejumlah warga yang masih saja bertindak dengan dasar rasa suka dan tidak suka. Namun ini adalah sebuah kewajiban yang harus aku jalani, dan memang sudah aku niatkan dari awal,pikirku.


Beberapa saat kemudian Sidiq, Jafar, Nisa Wisnu dan panji datang bersama Arum dan ikut bergabung dengan kami. Sementara Khotimah membuat minuman di dapur.


“Ayah mkasih ya oleh olehnya.” Kata Nisa.


“Iya sayang, Nisa suka gak ?” tanyaku pad Nisa.


“Suka yah, enak kata temen temen Nisa juga.” Jawab Nisa.


“Sudah menemukan jawaban tentang Jafar mas ?” Tanya Arum di sela obrolanku dengan Nisa.


“Alhamdulillah sudah ad petunjuk, meski masih harus di pecahkan nanti.” Jawabku.


Kemudian menjelaskan tentang mimpiku yang di temui Yuyut, dari awal hingga akhir.


“Memang kamu tahu tentang itu semua Zain ?” Tanya Rofiq padaku.


“Belum sih, makanya aku bilang masih harus di pecahkan.” Jawabku.


“Yang penting kamu harus siapkan jawaban buat warga yang akan kesini nanti malam dulu, biar gak terjadi salah paham. Soalnya semalam aku juga gak ngerti harus bilang apa.” Kata Candra padaku.


“Iya mas, sudah aku siapkan jawaban biar mereka tidak salah paham. Apa mereka menuduh aku mengajarkan kesesatan ?” tanyaku pada Candra.


“Ya begitulah, gak tahu merka dapat informasi apa serta dari siapa aku tidak Tanya lebih lanjut. Biar nanti kamu sendiri yang memberikan penjelasan semua itu.” kata Candra.


*****


Beberapa anak muda yang biasanya bermain dirumahku untuk main music datang dan menyampaikan berita yang beredar di masarakat tentang aku. Mereka mengatakan jika aku di tuduh membawa pengaruh buruk kepada warga sekitar dengan kehadiran mereka di rumahku. Dan mereka meminta maaf serta mengatakan akan berhenti takut mencemarkan nama baik ku. Katanya.


Namun aku melarang mereka berhenti karena aku gak peduli dengan penilaian orang.


“Kalian jangan menyerah lanjutkan saja, aku tidak peduli jika orang lain menganggap aku salah atau bahkan menuduhku sesat sekalipun. Yang penting kan kalian juga tidak membuat maslah di dusun ini. kalo hanya sekedar bermain music apa salahnya. Biar nanti aku jelaskan pada warga yang belum paham. Kalian seperti biasa saja gak usah khawatir.” Kataku pada mereka.


Tapi pak, pa bapak tidak khawatir dengan cemoohan warga yang tidak suka ?” jawab salah seorang diantaranya.


“Kenapa harus khawatir, toh mereka hanya gak suka saja denganku gak usah dipikirin. Sudah sana lanjutkan saja. Tapi nanti suatu saat aku butuh bantuan kalian kalo ada acara tolong dibantu ya, aku mau buat acara sholawatan kalian bantu iringi musiknya nanti.” Jawabku.


“Serius pak, boleh kami ikut dalam acara seperti itu ? Tanya seorang pemuda diantaranya.


“Boleh saja kenapa gak boleh ?” tanyaku balik.


“Tapi kan kami ini masih sering mabuk pak, meski tidak di sini mabuknya.” Jawabnya.


“Soal kamu mabuk itu memang salah, tapi bukan berarti kamu gak boleh ikut sholawatan, karena Sholawatan itu salah satu bentuk kecintaan kita pada Rasulullah, gak ada larangan bagi siapapun untuk mencintai Rasulullah.” Jawabku.


Para pemuda yang ikut hadir itupun justru berkaca kaca mendengar jawabanku. Mereka justru merasa dimanusiakan meski sebagian masarakat menganggap mereka hanya sampah masarakat saja. Namun justru ketika aku ajak terlibat dalam acara Sholawatan mereka jadi terharu.


Sehingga aku pun bisa menyimpulkan bahwa di hati mereka juga masih ada rasa Iman kepada Allah dan mencintai Rasulullah. Dan itu memang menjadi tugasku untuk mengajak mereka berubah menadi lebih baik. meskipun dengan cara yangdi anggap tidak lazim oleh beberapa orang. Namun aku tak pedulikan anggapan orang yang berpikiran negative tersebut.


Kemudian beberapa pemuda itupun menuju ke belakang rumahku untuk kembali bermain music seperti biasa. Dan aku pun menemani mereka sebentar sambil menunggu warga yang katanya mau datang ke rumahku.


“Kalian main music seperti biasa saja, sama sekalian latihan mengiringi acara sholawatan nanti. Sukur sukur kalian juga bisa mengumandangkan sholawatnya.” Kataku pada mereka.


Sebenarnya aku juga baru berpikir mau bikin acara apa dan moment apa yang akan aku jadikan acara tersebut. namun itu soal gampang nanti, yang penting anak anak itu selain main music juga ada nilai plus nya mengumandangkan Sholawat. Biar masarakat nanti juga tahu bahwa mereka bukan sekedar hura hura tapi juga sekaligus mengenal sholawat dan nantinya akan ku ajak untuk lebih mendekat ke jalan Allah dengan tanpa meninggalkan hobi mereka bermain music.


Di saat aku sedang menemani anak anak muda bermain music tersebut datanglah Candra yang mengatakan jika wakil warga sudah datang dan menunggu di ruang tamu.


“Ada tamu yang kemarin datang mencarimu, sekarang menunggu di ruang tamu.” Kata Candra.


“Iya mas, aku segera kesana sebentar lagi.” Kataku.


Kemudian aku menyerahkan gitar kepada salah satu anak yang ada disitu untuk memainkan menggantikan aku.


“Kamu bisa main gitar juga ?” Tanya CAndra.


“Sedikit mas, sekedar buat hiburan saja, dan Sidiq juga tertarik untuk belajar gitar.” Kataku.


“Kamu perbolehkan juga ?” Tanya Candra.

__ADS_1


“Kenapa tidak mas, dari pada main yang tidak benar.” Kataku.


“Tapi apa kamu gak malu jika anak kamu sendiri ikutan bermain music seperti mereka ?” Tanya Candra kemudian.


“Memang main music itu sekedar kesenangan mas, tapi jika dengan main music itu bisa menghindari kemaksiatan apa salahnya. Dari pada anak anak muda itu main diluar sana dan malah pada mabuk kan mending main music disini saja.” Kataku pada Candra.


Candra pun hanya terdiam mulai memahami jalan pemikiranku saat itu.


Sesampai di rumah aku melihat wajah wajah tegang beberapa warga yang kelihatanya menyimpan rasa marah kepadaku. Namun aku berusaha tetap santai dan pura pura merasa tidak ada masalah.


“Maaf bapak bapak, harus menunggu silahkan diminum dulu baru kita ngobrol santai saja.” Kataku.


Membuat mereka malah pada bingung melihat ekspresiku yang seakan tidak ada masalah apapun.


Dan di antara mereka ternyata ada pak Dukuh yang dulu sempat bersitegang juga denganku saat aku di sidang para Tokoh masarakat. Dengan tuduhan pembunuhan dan akhirnya terbukti jika aku tidak terlibat sama sekali.


Dala hati aku berkata, “jangan jangan ini adalah provokasi seseorang yang masih menyimpan dendam kepadaku atas masa lalu.” Kataku dalam hati.


Beberapa saat kemudian barulah pak Dukuh yang memulai bicara kepadaku, dengan bahasanya yang di dasari oleh rasa tidak sukanya denganku itu.


“Sebenarnya aku bingung padamu, kenapa selalu menjadi Trouble Maker di dusun ini ?” Kata pak Dukuh kepadaku. Dengan kalimat yang langsung menyudutkan aku seakan aku memang sudah terbukti bersalah saja. “aku harus sabar menghadapi orang ini, yang memang sudah membenciku dari dulu.” Batinku.


“Maksutnya bagaimana pak dukuh, saya gak faham ?” tanyaku pada beliau.


 “Udah gak usah pura pura lah, dulu bawa teman tema preman kamu kesini, sekarang ngumpulin anak anak muda tukang mabuk juga disini. Apa masih kurang jelas ?” Tanya pak Dukuh.


“Owh itu rupanya, lah mereka pada kesini bukan pada mabuk pak. Mereka disini sekedar  main music saja.” Jawabku kalem saja.


“Sudah tahu kan kalo mereka itu tukang mabuk, kenapa masih juga kamu kumpulkan disini, jangan jangan kamu juga malah ikutan mabuk sama mereka ?” ucap pak Dukuh mantan Preman nanggung itu.


Wah bener bener ngajak ribut nih orang kataku dalam hati. Namun aku gak mau terpancing dengan provokasinya. Aku tetap santai dan membalas perkataannya dengan tenang.


“Lah kalo menurut pa Dukuh, anak anak yang suka mabuk itu harus di apakan pak ?” tanyaku balik.


“Ya dilarang lah jangan sampai mereka mabuk mabukan bikin nama dusun jadi jelek saja.” Jawab Pak Dukuh.


“Owh begitu, apakah pak dukuh sudah pernah melarang mereka ?” tanyaku lagi.


Sementara warga yang lain hanya pada diam saja, apakah mereka hanya sekedar diajak kesini atau memang benar benar mewakili warga yang lain, pikirku. Tapi kayaknya mereka hanya bingung saja tidak mengeluarkan kata kata sama sekali.


Pak dukuh sendiri tak dapat menjawab pertanyaanku waktu itu.


“Ya belum lah, urusanku juga banyak gak cuman ngurusin mereka.” Jawab pak dukuh agak gelagapan.


“Terus kenapa sekarang pak dukuh baru peduli dengan mereka saat mereka saya urus ?” tanyaku santai.


Semakin belingsatan pak dukuh aku Tanya seperti itu, karena memang selama ini anak anak muda yang suka mabuk itu cenderung di jauhi tanpa ada tindakan apapun. Baik melarang menasehati maupun member pengertian kepada mereka semua.


“Ya karena kamu malah member ijin kepada mereka, member tempat kepada mereka jadi mereka seperti mendapat perlindungan.” Kilah pak dukuh.


“Mereka di sini bukan pada mabuk pak, mereka di sini main music dan saya ajari sholawatan !” jawabku sedikit menaikan intonasi bicara.


Tapi justru pak Dukuh semakin emosi entah karena apa.


“Kamu jangan memutar balikkkan fakta, yang aku dengar mereka disini teriak teriak seperti orang mabuk.” Seru pa dukuh.


“Bapak lihat saja sendiri kebelakang sekarang biar tahu sendiri mereka pada mabuk apa tidak.” Jawabku kalem.


Pak dukuh pun hanya melotot kepadaku, sementara warga yang bersamanya justru hanya saling pandang.


“Bapak bapak yang lain juga silahkan melihat sendiri apakah anak anak muda itu disini pada bawa minuman keras apa tidak. Jangan hanya terpancing berita yang tidak benar. Selama ini tidak ada yang memperdulikan mereka kemudian mereka saya beri kegiatan disini agar tidak beraktifitas diluar tiap malam dan mencegah mereka mabuk mabukan. Tapi malah saya dituduh memfasilitasi dan malah dituduh ikut mabuk. Sebenarnya apa maunya kalian, kenapa ketika mereka saya urusi malah saya disalahkan. Tapi selama ini kalian tidak pernah peduli dengan mereka ?” kataku membuat warga yang ikut dengan pak dukuh malah jadi kebingungan.


“Maaf pak, saya diajak kesini tidak tahu tujuanya apa dan saya bingung ketika pak Dukuh tadi mulai bicara ?” jawab salah seorang warga.


“Lah bagaimana pak dukuh ???” tanyaku pada Pak dukuh.


Pak dukuh hanya diam tak menjawab,kemudian aku ajak mereka semua ke tempat anak anak muda yang sedang bermain music tadi, yang sekarang ini justru bertambah banyak jumlahnya….!!!


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2