Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq dan Jafar mulai berkiprah menggantikan Yasin


__ADS_3

Reader tercinta, beberapa episode sebagai cooling down saja. Setelah adegan kekerasan Yasin, dan selanjutnya Kiprah Yasin akan diganti Sidiq dan Jafar.


Dengan tidak meninggalkan jiwa muda Sidiq dan Jafar yang diwarnai Romantika cinta remaja.


Selamat membaca, semoga terhibur.


..........


Aku jadi kepikiran dengan ucapan Riska terakhir tadi, ‘Kangen’ apakah ini sebuah isyarat atau aku saja yang ke geeran. Aduh kenapa aku jadi mikirin hal seperti ini, sementara Ayah bundaku dan kedua adikku butuh bantuan aku. Tidak Sidiq, kamu harus konsen dengan tujuan dan cita cita kamu, jangan tergoda makhluk yang bernama wanita. Tapi Riska terlalu manis untuk diabaikan. Aku merasakan pergolakan batinku sambil menatap Riska hingga menghilang di pengkolan jalan.  


“Kenapa aku sekarang mulai punya ketertarikan pada gadis ya. Jadi takut sendiri, bagaimanapun aku ingat mamah dan Ayah dulu. Aku gak mau mengulang kesalahan mereka, aku harus buktikan jika aku bisa jadi anak yang baik.” kataku dalam hati.


Aku sadar saat ini aku sudah masuk remaja, namun pengalaman pahit mamahku dengan ayahku membuat  aku sedikit  minder. Meski aku tetap merasa beruntung punya ibu sambung Bunda Fatimah yang sangat menyayangi aku. Namun  tetap saja aku adalah anak yang lahir diluar nikah,  meski itu juga bukan mauku.


Tidak terasa air mataku jatuh mengalir ke pipiku, hingga tak kusadari kokoh pemilik counter HP tersebut menegur aku.


“Haiya Sidiq kenapa kamu malah nangis, memang HP bisa bener sendiri kalo kamu nangis ?” ucap kokoh pemilik counter HP.


“Gak kok koh, Sidiq gak nangis hanya kemasukan debu saat meniup mesin HP ini tadi.” Jawabku berkilah.


“Hei masih kecil belajar bohong, jelas aku perhatikan kamu dari tadi bengong terus menangis.” Kata kokoh itu membuat aku hanya malu tertunduk, ketahuan bohongnya.


“Iya koh, lagi ingat ayah bunda di rumah.” Jawabku tetap tidak jujur.


“Kalo kangen boleh cuti, asal selesaikan dulu servisan yang harus jadi besok.” Ucap Kokoh itu sambil berlalu.


Aku hanya mengiyakan saja ucapan kokoh itu, ada baiknya aku ambil cuti sehari menjenguk ayah bunda di rumah. Sekaligus menemui mamah Arum dan om Rofiq nanti, karena rumahnya juga gak terlalu jauh,  batinku.


Mesin HP yang aku bongkar segera kumasukkan kedalam toples yang berisi alkohol untuk membersihkan debu yang membuat korslet hingga HP itu mati total. Kemudian aku goyang goyangkan untuk mengeluarkan kotoran yang membuat HP itu korslet. Kemudian segera kumasukkan ke pengering buatan dari kotak kecil tertutup dengan pemanas lampu. Satu dua mesin HP dengan gejala yang sama aku perlakukan serupa, kemudian mengambil HP yang lain yang mengalami kerusakan software, kemudian aku sambungkan ke perangkat komputer untuk di flash agar virus yang merusaknya bisa dihilangkan.


Tanpa terasa waktu sudah jam lima sore, aku melihat Nota servis. Besok jadwal pengambilan servis ada tiga HP, dan segera aku selesaikan agar besok bisa ambil cuti untuk menjenguk ayah dan Bundaku juga mamah Arum.


“Alhamdulillah, sudah selesai sekarang besok bisa diambil pemiliknya. Kemudian aku membuat Nota yang berisi daftar sparepart yang diganti dan jasa servis berdasarkan tingkat kesulitannya. Dan menjelang jam enam sore, kokoh pemilik counter datang lagi.


“Koh HP yang jadwal besok diambil ini sudah jadi semua, dan Sidiq besok jadi ambil cuti koh.” Ucapku pada Koh Yun.


“Bagus, kamu masih muda tapi sudah tahu arti tanggung jawab. Aku suka itu, sebenarnya  belum jadi pun kamu tetap boleh cuti. Aku hanya menguji kamu saja tadi.” Ucap kokoh Yun.


“Tidak koh, itu sudah tugas saya kok. Kan sekedar kangen, bukan hal yang sangat mendesak.jadi Sidiq harus selesaikan tanggung jawab Sidiq dulu.” Jawabku pada koh Yun yang nama panjangnya Ayun Lee Liong, entah apa artinya aku gak ngerti.


Kemudian aku berpamitan karena sudah jam nya pulang, dan Koh Yun mengijinkan serta memberi aku uang saku untuk pulang besok. Meski Koh Yun beda agama denganku tapi dia sangat Toleran dan selalu mengingatkan aku ketika masuk waktu sholat. Dari situ aku mengerti arti sebuah Toleransi dan bagaimana hidup di tengah kemajemukan dan keberagaman budaya dan agama dalam masyarakat. Sehingga jadi mengerti arti pentingnya sebuah ‘kerukunan dalam keberagaman.’


*****


Author POV


Sidiq yang sudah tumbuh remaja saat ini sedang dekat dengan seorang gadis yang bernama Riska. Riska adalah anak seorang kepala Desa di wilayah Pesantren Sidiq mengaji. Anak yang cantik dan supel, banyak cowok yang coba mendekatinya. Namun Riska sendiri lebih merasa cocok dengan Sidiq karena mengagumi kemandirian Sidiq yang tidak malu bekerja untuk membiayai sekolahnya sendiri. Selain juga tertarik dengan ketampanan Sidiq dan ketegasan Sidiq yang terkenal pemberani.


Dilain tempat, Jafar yang beda pesantren dengan Sidiq. Tubuh Jafar yang lebih bongsor dari Sidiq, sehingga  secara Fisik tubuh Jafar lebih besar dari Sidiq. Meskipun usia Jafar dua tahun lebih muda dari Sidiq. Jafar yang saat ini duduk di kelas satu SMA sedangkan Sidiq kelas tiga SMA atau Aliyah.  Sedangkan Nisa kelas Satu SMP atau madrasah Tsanawiyah di pesantren yang sama dengan Jafar.


Sidiq sengaja di pisah dengan kedua adiknya ditempatkan pesantren yang berbeda. Karena Sidiq dinilai agak over protected dengan adik adiknya terutama Nisa adik ceweknya. Namun dalam perkembangannya Jafar pun akan sangat marah jika melihat Nisa adiknya diganggu oleh cowok. Tidak ubahnya seperti Sidiq. Dan mereka tetap saling berkomunikasi serta saling berbagi cerita, sehingga apa yang terjadi dengan Jafar dan NIsa Sidiq juga tahu, begitu pula sebaliknya.


Dan Sidiq pun member tahu jika dia akan berkunjung ke Ayah Bundanya serta mamah Arum ibu kandung Sidiq. Jafar dan Nisa pun hanya menitip salam kepada Sidiq untuk disampaikan ke orang tuanya. Karena Jafar dan Nisa sedang mempersiapkan acara Pengajian Akbar di Pesantren  dimana mereka mengaji. Sehingga keduanya tidak bisa ikut serta pulang bersama Sidiq.


*****


Jafar POV


“Mas Jafar, besok mas Sidiq mau pulang bagaimana ?” tanya Nisa padaku seusai sholat maghrib di depan mushola pesantren.

__ADS_1


“Iya, aku hanya titip salam saja soalnya kan besok kita harus persiapan untuk pengajian Akbar.” Jawabku.


“Owh ya sudah berarti sama, Nisa juga hanya bilang begitu tadi.” Sahut Nisa.


“Sekarang kamu siap siap ngaji sana gak enak dilihat orang yang gak tahu kalo kita kakak adik kandung.” Ucapku pada Nisa. Karena tidak semua tahu jika kami adalah kakak beradik takut menjadi Fitnah. Karena saking banyaknya santriwan dan santriwati di pesantren.


“Ok, mas ku yang ganteng apa takut ada yang cemburu ya ?” goda Nisa Adikku.


“Apaan cemburu, gak enak saja kan gak semua tahu kamu adik kandung aku.” Jawabku sambil melangkah pergi ke kamar cowok. Sementara Nisa pun segera memasuki kamarnya di komplek santriwati.


“Hei Jaf…!”  Sapa seorang Santriwati seniorku yang selalu memanggilku dengan Jaf saja.


“Iya kak, ada apa ya ?” tanyaku pada kakak santriwati seniorku.


“Kamu tau kan kalo gak boleh ngobrol dengan santriwati apalagi hanya berdua. Kenapa tadi kamu melanggar ?” Ucap Kakak Santriwati seniorku itu.


“Maaf kak, tadi darurat saja dan itu adalah Nisa adik kandung Jafar yang memberi informasi jika kakak kandung kami besok akan pulang ke rumah menjenguk orang tua kami.” Jawabku pada Kakak Santriwati yang aku belum tahu namanya.


“Beneran itu adik kandung kamu ?” tanya nya meminta kepastian.


“Iya kak, boleh di cek namanya Nisa binti Ahmad Sidiq dan aku Jafar bin Ahmad Sidiq juga.” Jawabku pada kakak Santriwati itu. Aku jadi kepikiran jika Nisa juga akan ditegur, karena Nisa justru lebih galak dari aku. Dia bisa ngomel gak karuan jika dituduh sesuatu yang tidak dia lakukan. Meskipun itu kepada santri atau santriwati seniornya. Entah kenapa Nisa adikku justru lebih mirip mas Sidiq dalam hal kontrol emosinya.


“Ok, nanti aku cek kalo kamu bohong kamu dan Nisa kan kena hukuman nanti.” Ucap kakak Santriwati itu sambil memandangku dengan wajah serius. Meski usianya hanya terpaut sekitar dua sampai tiga tahun denganku, namun aku tetap harus menaruh hormat kepadanya.


“Kamu tahu gak Jaf, sekarang kamu berhadapan dengan siapa ?” tanyanya sambil tetap memelototi aku.


“Tau kak, dengan kakak senior.” Jawabku.


“Bagus lah, kamu sudah tahu namaku belum ?” Tanya kakak Santriwati itu.


Aku bingung mau menjawab belum malah dikira menyepelekan karena tidak mengenali seniornya. Tapi mau menjawab sudah kenyataanya aku belum tahu namanya.


“Di tanya kok diam saja, apa kamu gak bisa ngomong ?” ucap kakak Santriwati itu.


“Maaf kan saya kak, saya memang belum tahu nama kakak berdua.” Jawabku Jujur.


“Nah begitu dong, kan enak didengernya gak hanya diam saja. Kenalkan namaku Nadhiroh dan temanku ini Masyitoh.” Ucap kakak santriwati itu. aku terkejut ketika dia mengulurkan tangan mengajak salaman.


“Kan gak boleh sentuhan kak, bukan muhrim ?” tanyaku spontan.


Dan tanpa ku duga dua kakak santriwati itu malah tersipu malu dan berlari sambil tertawa kecil.


“Apaan sih maksutnya dua kakak itu, kok aneh banget begitu.” Kataku dalam hati sambil kembali berjalan menuju ke kamarku di komplek Santri cowok.


Dan ternyata ada seorang teman sekamarku yang mengamati kejadian barusan. Dan menertawakan aku dari kejauhan, sampai aku tepat di hadapannya masih saja tertawa.


“Heh kamu itu cowok bukan sih, di ajak kenalan cewek malah grogi begitu tadi ?” Ucap teman satu kamarku yang bernama Rusnadi.


“Maksudnya bagaimana ?” tanyaku bingung.


“Dasar kamu,jadi cowok culun banget sih itu tadi Nadhiroh apa kamu gak merasa ada yang aneh dengan dia ?” tanya Rusnadi.


“Gak tuh, dia Cuma negur aku yang lagi bicara dengan adik kandungku Nisa. Mungkin dia kira Nisa itu itu bukan Mahromku, jadi dia salah faham saja.” Jawabku.


“Kamu jadi orang terlalu lurus sih, gak tengok kiri kanan. Jadi gak ngerti apa yang sedang jadi pembicaraan heboh.” Ucap Rusnadi makin membuat aku bingung saja.


“Gak ngerti ah maksud kamu apa, udah aku mau makan dulu keburu lapar nih.” Jawabku.


“Tunggu sebentar, Jafar sini dulu aku jelaskan…!” ucap Rusnadi sambil menarik tanganku yang hendak melangkah pergi.

__ADS_1


“Ada apa lagi sih, kan sudah aku jelaskan persoalannya.” Gerutu ku pada Rusnadi.


“Jafar, kamu ini mati rasa atau memang gak punya perasaan sih ?” tanya Rusnadi dengan nada setengah membentak.


“Apa lagi, kamu kok malah bikin aku makin bingung saja omongan kamu gak jelas banget…!” kataku agak sewot.


“Kamu yang gak jelas, dikasih tahu malah ngatain aku gak jelas. Kamu itu sadar gak kalo Nadhiroh itu naksir kamu. Sampai di bela belain nunggu kamu tadi sama temen dia si Masyitoh.” Kata Rusnadi.


“Makin gak jelas kamu Rus, mana mungkin begitu dia kan senior kita. Kalo ngibul yang masuk akal dikit kenapa ?” jawabku hendak melangkah pergi tapi kembali ditahan oleh Rusnadi.


“Tunggu dudu, dasar manusia gak berperasaan benget kamu. Aku kasih saran saja, kamu kasih ketegasan sama Nadhiroh mau gak sama dia. Biar dia gak berharap begitu, kalo mau bilang mau kalo gak kasih ke aku saja, wkakaka….!” Ucap Rusnadi sambil tertawa menjemukan.


“Ya kamu ambil saja sana kamu-kamu mau. Aku gak mikir soal cewek dulu, mau fokus ngaji dan sekolah dulu.” Jawabku pada Rusnadi.


“Serius kamu gak mau sama Nadhiroh ? Jangan nyesel kalo sampai aku berhasil deketin dia ya ?” ucap Rusnadi.


“Jangankan hanya deketin, langsung kamu nikahin juga terserah kamu saja.” Jawabku jengkel sambil cepat cepat pergi meninggalkan Rusnadi.


Aku segera masuk ke kamar dan makan sebelum datang waktu Isya, karena setelah Isya harus ngaji sorogan kepada abah guru.


*****


Author POV


Begitulah Jafar dan Nisa yang tinggal di satu pesantren yang sama. Masing masing punya sikap dan pembawaan yang berbeda. Karena Nisa lebih cenderung meniru Sidiq agak temperamental, sementara Jafar lebih kalem dan cool. Meski kalo soal membela Nisa adiknya juga jadi beringas dan machonya kelihatan. Namun dalam keseharian dia lebih tenang dan kesan yang muncul adalah Jafar yang pendiam.


Dan tanpa disadarinya, sikap Jafar yang seperti itu justru menarik perhatian banyak santriwati. Dan salah satunya adalah Nadhiroh yang merupakan kakak angkatan Jafar sendiri. Namun Jafar yang belum mau dekat dengan cewek tetap cuek dan menganggap seakan tidak terjadi apa apa. Dan tetap bersikap biasa saja kepada semuanya, termasuk kepada Nadhiroh yang sering kali menggodanya. Jafar hanya menanggapi dengan santai tapi tanpa menjatuhkan harga diri Nadhiroh. Tetap baik dan hormat dengan Nadhiroh santriwati seniornya.  Sampai sampai Nadhiroh pun mendekati lewat Nisa adik kandung Jafar. Sehingga Nisa seperti mendapat bahan ejekan untuk menggoda kakaknya Jafar. Namun Jafar hanya menanggapi semua itu dengan santai, seperti mendengar lelucon yang dilontarkan Nisa adiknya. Setiap kali Nisa menyampaikan salam dari Nadhiroh kepada Jafar.


Nisa pun yang sedikit meniru Sidiq, dan mewarisi sikap slengean ayahnya justru memanfaatkan Nadhiroh yang mendadak baik banget dengan Nisa. Sehingga seringkali memberikan NIsa jajan atau mengajak Nisa Jajan.


Dan setiap kali Nadhiroh menanyakan apakah salamnya untuk Jafar sudah disampaikan, NIsa selalu menjawab  sudah. Dan salamnya dikembalikan, setiap itu pula kemudian Nadhiroh mengajak Nisa jajan. Untung saja tingkah Nisa yang begitu tidak di ketahui Jafar, jika Jafar tahu pastilah Nisa kena sentil Jafar. Karena JAfar sendiri tidak tega melihat Nadhiroh yang seperti itu. hanya Jafar memang sudah berjanji tidak akan dekat dengan cewek dulu. Di samping memang tidak ada rasa dengan Nadhiroh, meskipun Nadhiroh juga tergolong cantik. Namun Jafar lebih menganggap bahwa Nadhiroh adalah seniornya saja, tidak lebih dari itu.


Berita itu pun cepat menyebar dikalangan para Santri dan Santriwati. Sehingga membuat Jafar agak risih, karena di isukan berpacaran dengan Nadhiroh. Meski Jafar juga tidak membantah, namun juga tidak mengiyakan. Setiap kali ditanya Jafar selalu menjawab, “aku belum mau mikirin sola itu, masih pingin ngaji dan membuat ayah bundaku bahagia.” Itu selalu yang diucapkan Jafar.


Dan ketika di desak oleh teman teman nya Jafar pun hanya menjawab, “Jodoh sudah diatur, aku gak tahu jodohku siapa. Kalo memang kak Nadhiroh jodohku aku juga gak bisa nolak. Tapi kalo bukan jodohku, aku juga gak bisa ngejar. Ngapain harus kita pikirkan sekarang, kan kepikiran juga belum.” Kalo  Jafar sudah bilang begitu barulah pada diam.


Sementara Nadhiroh malah tersenyum bahagia jika di digosipkan pacaran dengan Jafar. Tanpa di sadari jika ada santriwati lain yang tidak senang akan hal itu.  Dikarenakan dia sendiri pun menyukai Jafar, meski tidak agresif seperti Nadhiroh yang bersikap agak ke kota kotaan.


Sebuah dinamika antara santri dan santriwati yang biasa terjadi dalam sebuah pesantren. Dan biasanya hanya menimbulkan riak gelombang kecil yang tidak berbahaya. Berbeda jika hal itu terjadi di luaran, bisa ramai dan menjadi sebuah kejadian Viral. Paling tidak mereka masih punya control yang lebih kuat, karena ada publik figure yang disegani yaitu ‘Fatwa Kyai nya’. Jika kyainya sudah angkat bicara maka semua pasti menurut. Bukan sebuah pengkultusan, tapi sebuah bentuk ketaatan dari Santri ke kiainya.


Jika saja dalam kehidupan nyata ada publik figure seperti Kyai di pesantren, mungkin akan sedikit meredam masalah yang ada. Namun yang sering terjadi dalam kehidupan adalah, banyak orang yang merasa sebagai tokoh yang harus di taati dan di hormati. Anti kritik dan merasa paling benar, tapi malah menuduh kehidupan di pesantren seperti itu adalah sebuah pengkultusan. Kalo dipikir sebenarnya lucu, atau hanya sekedar iri saja dirinya tidak bisa seperti kyai yang di taati oleh semua santri. Kemudian membuat move seperti itu.


 


*Perjalanan Jafar di pesantren belum lah selesai, masih banyak konflik yang harus dihadapi. Dari soal wanita sampai dengan urusan sesame lelaki di satu pesantren, dengan lelaki di luar pesantren sampai dengan antar pesantren yang akhirnya akan menyeret Yasin dan Fatimah untuk turun tangan nantinya.


Karena antara pesantren tempat Jafar dan Nisa mengaji, anak anak santrinya akan ribut dengan anak anak santri tempat Sidiq mengaji. Sehingga mau gak mau Yasin dan Fatimah harus turun tangan untuk mendamaikan. Karena bagaimanapun dua kyai pondok pesantren tersebut sudah kenal baik dengan Yasin dan Fatimah. Agar tidak menjadi konflik yang lebih besar atau berkepanjangan.*


...***Bersambung...


Tetap mohon dukungannya


like


komen


dan


Vote nya ya Reader tercinta.

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏***...


 


__ADS_2