Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Yasin menjabarkan makna Jurus Suci Hijaiyah


__ADS_3

Yasin menjabarkan makna Jurus Suci Hijaiyah


 Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


 


Sidiq terkejut ditanya Fatimah begitu, dan seperti baru sadar dari lamunan. Namun sebelum menjawab sudah didahului oleh Nisa dengan gaya slengean seperti Sidiq.


“Mas Sidiq baru patah hati Bunda, Nisa tahu kok kan dibilangi sama mbak Vina, ha ha ha…!” tawa Nisa keras menggoda Sidiq kakaknya.


“Apaan iih Nisa, gak kok Bunda Nisa bohong tuh…!” Jawab Sidiq salah tingkah digodain Nisa. Takut juga dimarahi ayah bundanya.


“Patah hati buat apa Diq, kalau gadisnya gak mau ya cari yang lain kayak gak ada gantinya saja.” Ucap Yasin sambil senyum.


“Mas ini apaan sih malah ngajarin anaknya begitu, apa senang kalau anaknya jadi buaya nanti ?” Bentak Fatimah.


“Aku gak ngajarin Sidiq jadi buaya, hanya gak mau lihat anakku jadi patah hati saja kok. Malu lah anak ayah patah hati begitu…!” jawab Yasin santai.


“Iiih mas tuh,,, jangan dengerin Diq, ayahmu lagi kambuh genitnya tuh….!!!” Kata Fatimah jengkel dan marah ke Yasin.


“Jangan salah paham dulu, aku gak bermaksud membuat Sidiq atau yang lain begitu. Hanya gak mau mereka sedih hanya soal pacar, maksudku kan jika sudah waktunya akan ketemu jodoh yang Istimewa. Seperti Ayah dapat jodoh bunda kalian yang Istimewa…!” Ucap Yasin, disambut tawa anak anaknya.


“Ciyee ciyee Ayah ngerayu Bunda nih…! Balas dong Bunda rayuan Ayah biar Ayah Bunda jadi Romantis dan awet muda…!” Goda Nisa anak gadis Yasin.


“Ogah aah… Ayah kamu memang gitu suka sekali ngegombal…!” Jawab Fatimah jengkel, namun hatinya tersenyum disanjung Yasin di depan anaknya tadi.


“Tapi suka kan kalau aku gombalin begitu…?” ucap Yasin menggoda Fatimah.


“Apaan sih,, di depan anak anak juga gak tahu malu…!” gerutu Fatimah.


Begitulah keluarga Yasin jika sudah berkumpul, Yasin seringkali menunjukkan kasih sayang kepada istri di depan anak anaknya. Dengan harapan agar anak anak lelakinya bisa mencontoh cara bersikap dengan istrinya kelak.


…..


…..


…..


Di sekolah Sidiq


Riska yang juga gundah tidak bertemu sidiq sehari sebelumnya berharap kali ini bisa bertemu. Namun sayangnya justru Sidiq sedang ijin tidak masuk sekolah beberapa hari.


“Dina,,, kenapa mas Sidiq dari kemarin gak ke kantin ?” Tanya Riska kepada Dina teman sekelas Sidiq.


“Lah memang kamu belum tahu kalau sidiq ijin beberapa hari gak masuk sekolah ?” tanya Balik Dina.


“Kenapa,,, apa kakinya kambuh lagi ?” Tanya Riska khawatir.


“Gak tahu juga, tapi Ihsan juga gak berangkat hari ini ijin juga. Dan kata teman Ihsan katanya mau menemani Sidiq. Sidiq dijemput ayah bundanya pulang kerumah beberapa hari.” Jawab Dina.


Riska menjadi sangat sedih, bahkan berpikir, “apa mas Sidiq mau pindah sekolah, tapi kemana pindahnya. Terus urusan pekerjaannya bagaimana, karena riska juga udah resent.” kata Riska dalam hati.


Tiba tiba muncul Ari yang kali ini hanya berdua dengan Fadholi saja.


“Wah turut berduka ya Ris, kayaknya Sidiq gak bakalan kembali ke sekolah ini lagi sekarang. Secara yang aku dengar dia disuruh pulang ayahnya. Diminta membantu mencangkul ayahnya yang sudah gak kuat ke sawah lagi.” Ucap Ari menggoda Riska.


“Terus kenapa kalau mas Sidiq gak kembali ke sekolah ini. kamu pikir aku lantas mau terima kamu ? Ogah amat, punya cowok kayak lo…!!!” jawab Riska ketus. Membuat Ari marah namun tidak berani menangani Riska. Takut juga jika mengadu pada Sidiq, karena Ari hanya mengarang cerita saja kalau Sidiq gak kembali lagi ke sekolah.


“Udah Yuk Ris, kita kembali ke kelas saja kita bicara d kelas saja.” Ajak Lita.


“Hoo yuk,, Dina juga mau kembali ke kelas saja.” Sahut dina.


“Kurang ajar kamu ngapain ikut ikutan pergi Dina…!” bentak Ari ke Dina. Merasa tidak ada Sidiq kembali berbuat ulah seenaknya.


“Lah apa urusanya sama lo, kan mau kembali ke kelas atau gak urusan gue Ri…!” Jawab Dina mulai berani dengan Ari setelah peristiwa dulu.


“Kurang ajar, jaga ucapan kamu atau aku tampar….!” Ucap ari kepada Dina.

__ADS_1


‘Heeh sekali kamu berani kurang ajar lagi ke kita, aku adukan kamu nanti ya. Perlu kamu tahu jika Sidiq punya saudara yang gak kalah jago. Dan dia teman sekolah adik gue juga, kalo lu macam macam kuadukan ke adiknya Sidiq. Dialah yang melawan orang padepokan itu bukan si Sidiq…!” Ancam Lita.


Ari juga jadi ingat perkataan Jalu jika Sidiq punya adik yang wajahnya mirip dan juga sangat jago. Mendengar adiknya sidiq adalah teman adiknya Lita Ari pun jadi kembali ciut nyalinya dan ngeloyor Pergi.


“Aduh Lita, makasih banyak ya hampir saja Dina kena tampar tadi.” Kata Dina.


“Gapapa Din, kita sekarang harus bersatu tenang saja menurut Vina adikku Sidiq hanya pulang beberapa hari ada acara keluarga. Bersama Jafar dan Nisa adiknya juga kok, jadi masih tetap kembali ke sekolah ini.” Jelas Lita. Membuat Riska terutaa merasa lega.


…..


…..


…..


Sesampai di rumahnya Yasin langsung meminta semua turun, karena akan segera mengembalikan mobil yang disewa tersebut ke persewaan.


“Wah bunda habis renovasi rumah ya ?” Tanya Nisa saat sampai di dalam rumahnya yang sudah berubah.


“Iya Nisa, mumpung ada rejeki kemarin buat renovasi rumah.” Jawab Fatimah.


“Katanya Ayah sudah mulai usaha lagi bunda, kok belum kelihatan  ?” tanya Sidiq.


“Gak di tanam disini Sidiq, tapi di kebun yang disewa ayah kamu.” Jawab Fatimah.


“Mau minum dan makan apa kalian, Bunda masakin sebentar lagi.” Tanya Fatimah.


“Biar Nisa saja yang masak, bunda istirahat saja. Katanya ada yang namanya Isna di sini bunda mana ?” tanya Nisa.


“Baru sekolah, sebentar lagi juga pulang kok.” Jawab Fatimah.


“Kelas berapa dia bunda ?” tanya Nisa lagi. ingin memastikan apakah yang dimaksud Isna adalah Nia, karena Nisa sedikit curiga kalau yang dimaksud Isna itu ternyata Nia. Karena dulu Nia pernah cerita jika akan dititipkan pada adik satu alumni pesantren abahnya Nia yang tidak terlalu jauh. Dan yang seperti itu hanyalah ayahnya Nisa. Satu alumni pesantren dan tidak terlalu jauh.


“Mau tahu aja kamu Nisa ? memang kenapa kayak penasaran banget begitu ?” Tanya Fatimah.


“Rasa rasanya Nisa tahu orang itu, meskipun disini dipanggilnya Isna. Tapi kayaknya dia bukan orang jauh dari kehidupan Nisa dan mas Jafar di pesantren.” Ucap Nisa berlagak seperti sedang berpikir keras. Padahal memang sudah tahu,  Isna adalah Kurnia Isnaeni yang di pesantren panggilanya adalah ning Nia.


“Sok tahu kamu ah Nisa…!” sahut Jafar.


“Awas ya mas Jafar nanti gak boleh kaget kalau bertemu Isna. Kalau kaget mas Jafar harus traktir Nisa Bakso pakai uang jajan mas Jafar sendiri.” Ucap Nisa.


“Haah siapa takut, deal ya…!” tantang Nisa mengulurkan tangan tanda menyetujui kesepakatan tersebut. Nisa tertawa dalam hati, dia sangat yakin Isna adalah Nia karena melihat baju Nia alias Isna yang menggantung di sebuah kamar yang dipakai Isna. Nia sangat yakin itu baju Nia yang sering dipakai di pesantren dulu. Nisa berhasil mengelabui Jafar kakaknya.


“Sebentar Nisa, bagaimana kamu yakin mengenal Isna ?” tanya Fatimah penasaran.


“Owh jangan sekarang dong Bunda, nanti Nisa gak jadi ditraktir bakso sama mas Jafar. Kita tunggu saja sampai yang namanya Isna sampai rumah” jawab NIsa.


Tak lama kemudian terdengar suara motor Fatimah yang di pakai Isna sekolah.


“Nah itu suara motor Bunda kan, kita ke depan biar mas Jafar yang bukain pintu kita lihat bersama mas Jafar kaget apa tidak…!?!” kata Nisa dengan PD nya.


“Siapa takut ayo kita ke depan…!” Jawab Jafar.


Dan saat mendengar ucapan Salam dari luar Jafar pun menjawab salam tersebut sambil membukakan pintu rumahnya.


“Nia….! Ngapain kamu kesini ?” kata Jafar terkejut. Namun sebelum Nia atau Isna menjawab NIsa berteriak lebih dahulu.


“Horeee,,,, Nisa menang jadi ditraktir bakso…!” teriak Nisa.


“Eeh Nisa juga sudah sampai disini ya, aduh aku kangen kamu Nisa…!” ucap Nia alias Isna tidak menjawab pertanyaan Jafar tapi malah memeluk Nisa.


Sementara Sidiq juga heran darimana Nisa tahu Isna adalah Nia, demikian juga dengan Fatimah bundanya Nisa.


“Nisa kamu janji mau jelaskan kenapa kamu bisa Yakin kalau Isna itu adalah Nia putrid abah guru kalian ?” kata Fatimah.


“Eits mas Jafar janji dulu mau  gak nepatin janji traktir bakso ?” jawab Nisa.


“Jangan sekarang lah, mas Jafar gak bawa duit sekarang, duit di tinggal di pesantren…!” jawab Jafar merasa kalah perjanjian.


“Gak bisa, kalau gak mau janji Nisa gak kasih tahu.” Jawab Nisa.


“Udah nanti Bunda yang beliin bakso buat Nisa.” Ucap Fatimah.


“Gak bisa, keenakan mas Jfar kalau begitu.” Jawab Nisa.


“Udah Nisa, biar nanti mas Sidiq kasih uang buat Jafar mas mu buat traktir kamu.” Ucap Sidiq yang ikut penasaran.

__ADS_1


“Kasih sekarang sekalian dong jangan nanti.” Protes Nisa.


Semua termasuk Isna alias Nia hanya geleng geleng kepala lihat kelakuan Nisa sesungguhnya di rumah.


Terpaksa Sidiq mengeluarkan selembar lima puluh ribu diberikan ke Jafar buat traktir Nisa.


“Udah cepat katakana, dari mana kamu yakin Isna adalah Nia.” Ucap Fatimah.


“Yang paling membuat Nisa yakin karena melihat itu…!” ucap Nisa menunjuk baju Nia yang menggantung di kamar. Satu hal yang tidak diperhatikan Jafar sehingga merasa di bodohi oleh adiknya.


“Aaah curang kamu, gak jadi traktir aah… kamu nya curang kok…!” goda Jafar sambil tertawa lebar.


Semua pun jadi tertawa melihat kekonyolan Nisa yang mengelabui seisi rumah tersebut.


Hingga akhirnya Yasin datang dan kaget melihat semua tertawa lepas seperti itu.


“Ada apa sih kok pada ketawa ketawa ?” tanya Yasin.


“Ini yah, ada anak yang tertipu oleh anak kecil…!” jawab Nisa sambil melirik ke Jafar.


Kemudian mereka pun akhirnya sepakat tidak memasak hanya membeli makanan sesuai selera masing masing dan Jafar yang harus berangkat sebagai hukuman kalah taruhan dengan Nisa adiknya.


“Awas kamu nanti ya…!” Ancam Jafar bercanda mengancam Nisa. Kemudian berangkat ke warung membelikan pesanan masing masing.


Yasin yang mendengar cerita sebenarnya ikut tersenyum saja, “Nisa memang dominan Gen ku, sifat isengnya kelihatan banget pada dirinya.” Batin Yasin.


…..


…..


……


Saat sore hari, datanglah Kyai Nurudin bersama Utari dan Ihsan yang juga akan dititipkan di tempat Yasin untuk di gembleng jurus Suci Hijaiyah.


Rumah yasin pun kembali menjadi ramai dan meriah, Isna yang dibantu Nisa mengajar ngaji anak anak mendengar suara Utari lantas menyerahkan kepada Nisa sebentar untuk menemui Utari putri Kyai Nurudin dan menyalami Kyai Nurudin.


“Tari… teriak Isna…!”


“Hai… Nia akhirnya kita kembali bersama sama lagi sekarang…!” sahut Utari.


Yasin hanya bengong melihat sifat asli Utari dan Isna yang tak beda jauh dengan Nisa anaknya tersebut.


“Begitulah mereka kalau sudah bertemu, orang disekitarnya dianggap gak ada…!” gerutu kyai Nurudin.


“Maaf maaf bah Din, Nia seneng banget bisa bertemu Tari. Sampai lupa ada Bah Din juga.” Jawab Isna alias Nia.


“Udah kangen kangennya nanti, Tari juga mau tinggal disini kok.” Jawab Kyai Nurudin.


“Beneran Tari…?” tanya Isna.


Tari pun mengangguk senang bisa bersama Nia lagi, mereka pun tanpa sadar berteriak lagi. “dasar anak jaman sekarang.” Gerutu Yasin meski tetap memaklumi keduanya.


Tak selang berapa Lama kyai Nurudin berpamitan dan menitipkan Utari anaknya dan meminta Yasin mendidik Ihsan untuk ikut diajari jurus Sucu Hijaiyah selama tiga hari. Dan meminta Yai nantinya mengajar di Al-Hikmah juga.


…..


Saat malam selepas Isya Yasin mengumpulkan semua di lapangan dan member penjelasan apa itu jurus Suci Hijaiyah, dan kenapa disebut Jurus Suci.


“Jurus ini bersumber dari Al-Quran, diambil dari karakter huruf Hijaiyah dari Alif sampai dengan Ya. Ada makna dari tiap tiap huruf yang dilambangkan dengan gerakan gerakan Jurusnya nanti. Seperti Huruf Alif yang artinya Ulfathan atau keramahan, kemudian Ba dari kata Barokah, selanjutnya Ta dari kata Taubatan…!” Yasin menghentikan sejenak penjelasanya karena merasakan ada sesuatu yang mendekat dan tak tampak oleh mata telanjangnya….!?!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2