
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
........ ...
...Gagak Seta dan Jaladara mendapatkan ilmu baru...
"Bilang saja Wis, biar Jafar gak penasaran,” kata Sidiq seperti mendapat kesempatan membalas JAfar adiknya.
“Apaan sih Mas Sidiq, kenapa bawa bawa Jafar segala…?” protes Jafar menahan malu di depan Isna dan lainnya.
“Ini anak, kalau berkumpul sekarang bertengkar melulu,” ucap Fatimah.
“Mereka lucu, Farayaka jadi suka,” sahut Farayaka.
Tidak ada yang tahu apa yang dimaksud suka oleh Farayaka. Tapi Isna dan Utari jadi agak cemburu, meski diantara mereka dengan Sidiq dan Jafar tidak ada ikatan apapun. Bahkan juga sekedar rasa simpati yang ada.
Keterbukaan Farayaka dan keterbatasan kosa kata Farayaka yang membuat Isna dan Utari cemburu.
“Eheem…suka bagaimana Mbak eeh apa ya panggilnya ?” sahut Wisnu bingung menyebut Farayaka.
“Nah lo, mo sebut apa kamu Wis ?” goda Sidiq.
“Mbak juga gapapa kali, habis gak ngerti harus sebut apa ?” jawab Wisnu.
Yasin tertawa melihat tingkah anak anaknya tersebut.
“Sidiq Jafar, jangan ajari wisnu aneh aneh. Kalian siap siap kembali ke pesantren saja,” Kata Yasin.
“iya Yah,” jawab Sidiq dan Jafar kompak.
Sidiq dan Jafar pun berkemas untuk kembali ke Pesantren. Mereka berpamitan kepada semuanya termasuk pada Farayaka dan Akino. Meski mereka tidak tahu apa itu Pesantren, Farayak tersenyum melepas kepergian Sidiq dan Jafar. Sementar Isna dan Utari keki melihat Farayaka tersenyum begitu.
“Iih itu cewek, genit juga ya,” bisik Isna.
“Kamu cemburu ya?” balas Tari pelan.
“Diih gak kok,” jawab Isna.
“Isna Utari, ajak Farayak dan Akino ke belakang, tunjukkan kamar buat mereka,” kata Yasin.
“Iya Bi,” jawab Isna dan Utari kemudian mengajak Farayaka dan Akino menuju ke sebuah kamar yang masih kosong.
…..
“Bagaimana cara menangani anak yang bernama Farayaka itu Mas? Fatimah gak ngerti harus bagaimana ?” tanya Fatimah.
“Ya perlakukan seperti yang lain saja, kecuali dalam soal ibadah, karena keyakinan dia berbeda.” Jawab Yasin.
“Ya justru itu yang bikin Fatimah bingung, kalau dia minta sesuatu yang kaitanya dengan ritual dia bagaimana ?” tanya lanjut Fatimah.
“Ya bilang saja kalau kita gak ngerti soal ritual ibadahnya. Kalau hanya minta tempat sih boleh saja, itu hak dia kan,” jawab Yasin.
Kumandang adzan maghrib pun tiba, saat Fatimah dan Yasin sedang mengobrol.
“Tuan Yasin itu sudah ada suara adan, kalau mau ibadah. Biar saya yang jaga rumah depan.” Ucap Akino.
Yasin dan Fatimah jadi kaget, mendengar ucapan Akino. Tidak menduga Akino tahu istilah adzan, meski mengucapkan sesuai logatnya.
“Iya, terima kasih ya,” jawab Yasin kemudian mengajak yang lain untuk menjalankan sholat maghrib.
…..
…..
…..
Perjalanan Gagak Seta dan Jaladara sudah sampai di pantai selatan. Saat mereka sampai sudah menjelang malam hari. Kemudian Kedua bersaudara itu pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak sebelum meneruskan untuk mencari jejak Batara Karang jelmaan Ki Munding Suro dan gurunya.
“Kita istirahat dulu adi Jaladara,” ucap Gagak Seta.
__ADS_1
“Iya, kita sudah cukup jauh menempuh perjalanan. Tadi kita salah berhentinya kakang,” jawab Jaladara.
“Sudah terlanjur, bagaimana lagi. Yang penting kita sampai juga kan,” ucap Gagak Seta.
“Iya Kakang, aku tiba tiba jadi mengantuk saat ini. sebaiknya kita tidur gantian saja kakang. Takut terjadi sesuatu kalau sama sama tertidur,” kata Jaladara.
“Baiklah, istirahatlah, kita nanti gantian saja,” ucap Gagak Seta.
Gagak Seta dan Jaladara beristirahat di bawah sebuah cekungan mirip gua. Â
…..
Gagak Seta menahan kantuk dengan berjalan mengitari tempat tersebut. Pandangan matanya menatap luasnya laut pantai selatan. Kerlap kerlip lampu kapal nelayan mulai tampak menghiasi laut yang ombaknya cukup besar.
Gagak seta teringat sesuatu dimasa kecilnya, saat masih bersama kedua orang tuanya. Seringkali juga diajak ke pantai utara. Tapi ombaknya tidak sebesar laut Selatan, Gagak Seta melamunkan hal tersebut.
Sampai akhirnya Gagak Seta merasa ada yang menepuk pundaknya.
“Apa yang kamu cari disini ?” sebuah suara mengejutkan Gagak Seta.
“Siapa kamu?” tanya Gagak Seta kaget dan gugup. Tahu tahu di belakangnya ada sosok yang mengejutkan.
“Tidak usah panik, aku tahu tujuan kamu kesini bersama adikmu,” ucap Sosok tersebut.
“Kamu ini siapa?” tanya Gagak Seta setelah sedikit tenang.
“Aku utusan Raja yang menguasai para Khodam, aku bukan dari bangsamu manusia,” jawab sosok tersebut.
“Maksudnya kamu adalah bangsa prewangan ?” tanya Gagak Seta.
“Sebagian manusia menyebut begitu, aku adalah Jin yang diutus raja Khodam untuk menuntun kamu mendapatkan Batara Karang,” jawab sosok tersebut.
“Apa kamu punya nama?” tanya Gagak Seta.
“Aku dijuluki Taksaka Naga, kembaranku dijuluki Naga Taksaka,” jawab Sosok tersebut.
“jadi kamu punya kembaran?” kata Gagak Seta.
“Betul, aku dan kembaranku yang akan jadi pendamping kamu dalam menjalankan tugas nanti,” jawab Taksaka Naga.
“Tidak hanya Kamu, tapi juga Adikmu Jaladara, tapi dia didampingi oleh Naga Taksaka kembaranku,” ucap Taksaka Naga.
Gagak Seta terdiam, kaget bercampur heran bisa bertemu dengan Jin Kembar yang kan menjadi prewangan bagi dia dan Jaladara adiknya.
“Siapa yang memberi tugas, dan siapa yang menyuruhmu menjadi prewanganku?” Gagak Seta kembali bertanya.
“Tentu saja Raja Khodam yang memberi tugas dan menyuruh aku dan Naga Taksaka mendampingi kalian,” jawab Taksaka Naga.
“Jadi, apa maumu sekarang?” tanya Gagak Seta.
“Ikut aku menemui kakang Naga Pasa, untuk meminta Batara Karang itu. Karena dia yang pegang sekarang.” Jawab Taksaka Naga.
“Tapi bagaimana dengan Adikku Jaladara?” tanya Gagak Seta.
“Dia sudah lebih dahulu sampai di sana bersama Naga Taksaka,” jawab Taksaka Naga.
Tanpa menunggu Jawaban Taksaka Naga membawa Gagak Seta terbang menuju ke tengah Laut dan tiba-tiba Gagak Seta merasa masuk ke dalam laut lepas.Namun Gagak Seta merasakan keanehan. Di bawah dasar laut ada sebuah Istana megah.
“Kakang Gagak Seta, akhirnya sampai di sini juga?” sapa JAladara yang sudah lebih dahulu berada di tempat itu.
“Kok kamu sudah disini, bukannya kamu tadi tidur?” tanya Gagak Seta.
“Aku yang membawanya kemari,” seekor ular besar bermahkota yang menjawab Gagak Seta.
“Siapa kamu?” teriak Gagak Seta kaget.
“Itulah kembaranku Naga Taksaka,” jawab Taksaka Naga yang sudah berubah wujud menjadi Ular Hijau sama persis dengan Naga Taksaka.
“Jadi ini wujud asli kalian?” tanya Gagak Seta.
Taksaka Naga dan Naga Taksaka oun tertawa, melihat ekspresi Gagak seta yang Kaget.
“Kebanyakan dari bangsa kami memang wujudnya seperti ini,” jawab Taksaka Naga.
“TIdak usah heran, kami bisa berubah wujud jadi apa saja yang kami mau,” Sahut Naga Taksaka,
__ADS_1
“Inikah yang dimaksud Raja kita Dalang Anyi Anyi, Pewaris Batara Karang?” sebuah suara muncul kembali dengan wujud seekor ular juga. meski ukuranya lebih kecil.
“Siapa lagi kamu?” tanya Gagak Seta.
“Aku Naga Pasa, kakak dari Taksaka Naga dan Naga Taksaka,” jawab Naga Pasa.
“Kenapa kamu lebih kecil dari adik kembarmu ?” tanya Jaladara ikut bicara.
“Meskipun kakang Naga Pasa Lebih kecil.wujudnya, tapi kekuatan nya jauh lebih besar dari kami,” jawab Naga Taksaka.
“Baiklah, kalian memang orang yang dipilih Raja Kami, sebagai pewaris Batara Karang. Terimalah, tapi jangan lupa untuk selalu datang kemari setiap malam Anggoro Kasih,” ucap Naga Pasa.
Naga Pasa menjulurkan Lidahnya yang panjang, kemudian dua buah Jenglot tampak di lidah Naga Pasa. Jenglot itulah yang mereka sebut Batara Karang.
“Ambilah, beri dia ubo rampe yang diperlukan. Dan yang paling penting tiap malam Anggoro Kasih kalian harus kesini membawa darah segar. Itu sebagai pitukon agar kalian bertambah sakti,” ucap Naga Pasa.
“Baik kami sanggup,” jawab Gagak Seta.
“Iya kami akan persembahkan darah segar setiap malam Anggoro kasih,” sahut Jaladara.
“Taksaka Naga, Naga Taksaka antarkan mereka kembali sekarang. Jika mereka ingkar kalian yang harus membawa mereka kemari.” Ucap Naga Pasa.
Sesaat kemudian Taksaka Naga dan Naga Taksaka masuk ke dalam tubuh Gagak Seta dan Jaladara. Gagak Seta kaget saat kedua ular itu berubah menjadi asap dan masuk melalui rongga mulutnya. Hingga Gagak Seta dan Jaladara seperti tersedak dan batuk.
“Uhuuk..” suara Gagak seta yang tersadar.
“Uhuuuk…kakang Gagak Seta juga tertidur dan mengalami mimpi tadi?” tanya Jaladara.
“Iya, apakah kamu juga didatangi Perewangan yang berwujud ular?” tanya Gagak Seta.
“Iya kakang, berarti ini bukan mimpi.” Seru Jaladara.
Saat keduanya hendak bangkit mereka baru sadar jika di tangan mereka sudah tergenggam Batara Karang. Dan keduanya segera bernafsu untuk mencoba ilmu mereka yang sudah dilengkapi dengan Batara Karang.
Gagak Seta dan Jaladara seperti kesetanan saat mencoba ilmu mereka. Banyak batu dihancurkan sampai berkeping keping. Bahkan ombak pun dihantam hingga berbalik dan berbelok arah.
“Cukup, jangan kalian membuat kerusakan di sini,” tiba tiba Naga Pasa muncul dan memperingatkan Gagak Seta dan Jaladara.
“Maaf, kami sangat bergembira hingga lupa diri,” Jawab Gagak Seta.
“Iya, ada yang aneh, tiba tiba kami bisa memukul ombak sampai berbalik arah,” sahut Jaladara.
“Itu adalah ilmu tambahan dariku, “Pemecah Ombak” gunakan untuk menghadapi jurus musuhmu yang bisa membuat kalian terpental. Sudah kalian segera cari mereka, Raja Khodam akankah hadiah bila kalian bisa mengalahkan kedua anak tersebut,” Ucap Naga Pasa.
“Baik, kami akan kalahkan dua anak tersebut,” ucap Gagak Seta.
“Kami akan bawa kepala dua bocah tersebut sebagai tumbal.” Sahut Jaladara.
Naga Pasa tidak menjawab namun segera lenyap dari pandangan Gagak Seta dan Jaladara.
Keduanya pun sudah tak sabar untuk segera menemui Sidiq dan Jafar untuk melakukan pertempuran satu lawan satu. Dengan tambahan ilmu Batara Karang dan Prewangan Taksaka Naga dan Naga Taksaka mereka sangat yakin mampu mengalahkan Sidiq dan Jafar.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel :
Â
Â
Â
Â
__ADS_1
Â