
...Perjalanan Spiritual Jafar...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Kemudian Tabib Ali memeriksa seluruh tubuh Jafar secara detail.
"Untung tubuh anak ini sangat kuat, jika tidak sudah tewas seketika." kata Tabib Ali....?!?
"Aku percayakan anakku padamu kang Ali, ini keahlian kamu." Ucap Yasin dengan mata yang masih sembab.
"InsyaAllah kang Yasin,,, aku tidak akan biarkan anakmu ini kenapa napa." Jawab Ali Akbar.
Betapa Yasin tidak menyesal, sebagai ayah melihat anak kandungnya terluka di depan matanya. Apalagi Jafar terluka demi melindungi dirinya.
Baru kaki ini Yasin tampak sangat Sedih dan berkali-kali meneteskan air mata. "Bagaimana jika Fatimah ibunya Jafar tau, Jafar seperti ini. Untungnya Jafar dirawat di sini. Jika di Al-Huda pasti Nisa adiknya sangat sedih." Kata Yasin dalam hati.
"Aku butuh minyak Zaitun, Daun bidara juga minyak kelapa murni. Jika perlu bikin sendiri kang Nurudin, sekalian buat jaga jaga untuk obat. Aku kehabisan semua itu." Ucap Ali Akbar.
Kyai Nurudin kemudian memerintahkan beberapa Santri mencari daun bidara. Dan meminta Santri ndalem membuat minyak kelapa murni.
Kebetulan persediaan kelapa di Pondok banyak dan Sudah tua. Sehingga dengan bergotong royong, proses pembuatan minyak kelapa murni akan lebih cepat selesai.
Namun dalam proses pengolahan tetap butuh waktu lama. Sehingga sambil menunggu minyak kelapa jadi Tabib Ali Akbar menumbuk halus daun bidara dan mencampur dengan minyak Zaitun untuk obat luar Jafar.
Sedangkan minyak kelapa murni sebagai obat dalam yang harus diminumkan ke Jafar setengah sendok teh pagi dan malam harinya.
Tubuh Jafar yang masih pingsan dioleskan ramuan obat oleh Tabib Ali. Setelah ramuan tersebut dibacakan doa khusus oleh Tabib Ali.
Sidiq berkali-kali menggigit kuat gigi gerahamnya menahan amarah. Sidiq marah besar melihat Jafar adiknya terkulai lemah tak berdaya.
Bayangan kejadian Saat Jafar yang tidak dalam posisi sempurna menggunakan ilmu lebur Saketi harus menahan gempuran tokoh tua ki Bujang dari Kulon.
"Dasar orang orang licik, coba Jafar adikku dalam posisi sempurna situasi Bujang itu pasti sudah tewas." Gerutu Sidiq sampai terdengar semua yang ada di situ.
"Sabar Sidiq, ini pelajaran bagi kita semua agar terus berhati-hati dan waspada." Ucap Kyai Nurudin.
"Obat luar Jafar sudah aku oleskan, kang Yasin. Sebagai ayah nya ratakan ke seluruh tubuh Jafar. Jangan sampai ada kulit yang tidak diolesi, jadi semua tinggalkan tempat ini dulu." kata Tabib Ali.
bagaimanapun tetap harus menjaga kehormatan orang, dengan tidak memperlihatkan Auratnya meskipun sesama lelaki.
Tabib Ali pun ikut keluar bersama Kyai Nurudin. Membiarkan Yasin sendirian yang mengolesi obat untuk Jafar. Karena otomatis harus menelanjangi Jafar.
Yasin pun segera melaksanakan ucapan Tabib Ali. Dan ingat ketika dulu dirinya yang juga ditelanjangi saat pingsan.Dan hanya Fatimah yang bisa melakukan, karena Yasin di rumah mertuanya. Sekarang ini Jafar anaknya mengalami hal seperti yang di alami dulu.
"Aku percaya kamu kuat nak, tapi tidak seharusnya kamu lakukan itu tadi. Ayah lebih merasakan sakit, jika kamu begini dibandingkan jika Ayah sendiri yang sakit." Kata Yasin sambil mengoleskan ramuan obat ke seluruh tubuh Jafar anaknya.
.....
.....
.....
Perjalanan Jafar di alam lain saat pingsan
__ADS_1
Jafar POV
"Kenapa aku berada di sini? Bukankah aku tadi digendong ayah setelah benturan ilmu dengan ki Bujang??? " Aku berkata dalam hati.
Dan aku merasakan agak aneh, rasanya seperti di tempat asing yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Kenapa aku bisa berada di tempat begini? Seperti jalan menuju ke rumahku. Tapi kenapa ada sebuah Telaga yang airnya sangat bening.
Badan dan bajuku sangat kotor, setelah bertempur tadi. Ada baiknya Aku mandi dulu, kayanya sepi gak ada orang.
Aku pun segera membuka pakaian atas dan menceburkan diri ke dalam telaga yang sangat bening airnya itu.
Airnya segar dan dingin sekali, aku menyelam semua tubuhku tenggelam di dalam air. Aku tidak ingin ada bagian tubuhku yang tidak tersentuh air yang menyegarkan ini.
Rasa lelah bahkan panas dan sakit yang kurasakan tadi seperti hilang larut terbawa air. Kemudian aku membiarkan tubuhku mengapung di atas air telaga.
Aku seperti malas bergerak, mengikuti saja aliran air membawaku kemanapun pergi. Mengapungkan diri di air mengikuti arus air membawa tubuhku. Mataku yang terpejam menghindari sinar matahari yang cukup silau.
Beberapa saat kemudian terdengar gemercik air terjun. Aku membuka mata dan melihat air terjun kecil dipinggir telaga yang sangat indah.
Aku berenang menepi melihat air terjun itu. Rupanya cukup jauh aku terbawa arus tadi. Dan di pinggir telaga ada tebing cukup tinggi dan banyak di tumbuhi bunga warna warni.
"Apakah bunga itu sengaja ditanam?" Tanyaku dalam hati.
Aku berniat memetik bunga yang sangat wangi itu. Namun belum juga menyentuh sudah ada orang yang menegur aku.
"Jangan menyentuh apa lagi memetik bunga itu...!" teriak seorang wanita yang cukup dewasa.
"Maaf, saya tidak tahu jika bunga ini ada pemiliknya." Jawabku.
"Semua pasti ada pemiliknya, kamu siapa berani datang ke sini tidak sopan begitu." Ucap wanita tersebut.
"Maaf mbak, saya tadi tidak sengaja hanyut sampai sini tidak sempat memakai baju atas saya." Jawabku.
"Nama saya Jafar mbak." Jawabku.
Wanita itu terkejut mendengar namaku.
"Jafar,,,? Jafar siapa?" tanya wanita itu kemudian.
"Nama lengkap saya Jafar Sidiq Amin bin Ahmad Sidiq Alias Yasin." Jawabku menyebut nama lengkap dan nama ayahku juga.
"Jafar Sidiq Amin bin Ahmad Sidiq bin Azzam bin Sidiq Ali???? " Kata Wanita itu menyebutkan leluhurku lebih lengkap.
"Betul mbak, kok mbak tahu?" Tanyaku Heran.
"Apa kamu tidak mengenali wajahku ini?" Kata wanita itu.
Aku memperhatikan wajahnya, sekilas aku merasa tidak asing dengan wajah itu. Tapi wajah siapa, rasanya aku tidak punya kenalan wanita dewasa itu, pikirku.
"Maaf mungkin saya lupa, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyaku.
"Pastinya begitu, pernah bertemu dan berpisah dan takdir akan pertemukan kita lagi." Jawab wanita itu membuat aku bingung.
"Maksudnya bagaimana?" Tanyaku lanjut.
"Aku adalah masa depan kamu nanti, sekarang kamu kembalilah ke rumah kamu. sebelum senja datang." Ucap wanita tersebut.
Ucapan nya membuat aku bingung, tidak paham apa maksudnya.
"Aku gak paham maksudnya mbak, bilang saja nama mbak siapa?" pintaku pada wanita tersebut
__ADS_1
"Saat ini kamu ada di beberapa tahun setelah kamu. Dan aku ini istri kamu, hanya saja saat ini kamu masih remaja sedang aku sudah dewasa. Pulang lah, kasihan Ayah dan kakak kamu jadi sedih." ucap wanita tersebut.
Kemudian aku naik lagi ke jalan dan sesampainya di jalan aku memandang rumah ku. Melihat Ayah dan Mas Sidiq seperti menangis sedih.
Aku heran kenapa mereka menangis begitu. Aku bergegas masuk ke rumah. Namun aku justru tersandung dan jatuh karena Buru buru.
Hingga aku terjatuh dan kepalaku terbentur lantai. Aku merasakan kepalaku pusing sekali. Mencoba untuk bangkit tapi teramat susah.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang memegang pundak ku dan mengguncangkan aku. Aku mencoba membuka mataku, dan kulihat samar samar orang orang di sekeliling.
Setelah penglihatan kembali normal aku mengenal wajah mereka satu persatu.
"Ayah,,, mas Sidiq Abah Nuruddin Jafar kenapa?" Tanyaku Heran dikerumuni banyak orang.
"Alhamdulillah,,, Kamu udah sadar nak...!?! " Jawab Ayah ku menitikkan air matanya.
"Memang Jafar kenapa yah?" Tanyaku Heran.
"Kamu tiga hari tiga malam tidak sadarkan diri anakku." Jawab ayah.
Aku mencoba membuka memori terakhir yang aku ingat sebelumnya. Aku ketemu sosok mirip mbak Riska dan mengira aku mas Sidiq. Kemudian mengajak aku pergi.
Tapi sosok mirip mbak Riska itu ternyata adalah Jalu musuh ayahku....!?!
Aku ingat semua sekarang, sampai kemudian terjadi pertarungan antara ayahku melawan ki Bujang. Dan mas Sidiq melawan Jalu, dan akhirnya aku menerima pukulan seperti halilintar yang menyambar aku dari ki Bujang.
Gerakan nya sangat cepat dan aku belum sempurna menyiapkan ilmu dan jurus Lebur Saketi. Dan terakhir aku ingat dibopong ayah ke pesantren ini. Dan diobati seorang Tabib.
Tapi anehnya, aku hanya seperti mimpi setengah malam rasanya. Tapi kenapa ayah bilang aku pingsan tiga hari? Aku jadi bingung sendiri.
"Maafkan Jafar yah, bikin ayah sedih. Bagaimana dengan bunda yah?" Tanyaku pada Ayah.
Ayah diam sesaat, sebelum akhirnya membuka suara.
"Ayah yang minta maaf Jafar, ayah tidak kasih tahu ke bunda kamu tentang kondisi kamu. Ayah takut bunda jadi panik, dan malah bikin ayah tambah bingung nanti." Jawab Ayah.
"Iya yah, Jafar malah bersyukur Bunda tidak tahu jika Jafar sakit. Alhamdulillah Jafar sekarang sudah baikan kok Yah." Kataku meski terasa masih lemas tapi sama sekali tidak merasakan sakit lagi.
"Kamu masih lemas dan tentunya kamu lapar kan, tunggu sebentar nak. Biar di carikan bubur, biar perutmu tidak kaget tiga hari tidak terisi." Kata Ayahku.
Kemudian tak lama setelah itu, ada santri datang membawa bubur. Dan aku memang merasa lapar sekali. Dengan lahap aku pun menghabiskan bubur tersebut.
"Masih mau nambah lagi gak dik Jafar?" Tanya mas Sidiq.
"Udah kok mas, Jafar rasa sudah cukup. Perut Jafar sudah terisi sekarang." Jawabku.
Aku mengenali sebagian besar orang orang yang kemudian datang melihat ku. Ada sepasang suami istri yang aku agak asing.
Agak lama berpikir, baru ingat jika yang lelaki itu adalah Tabib yang mengobati aku. Namun wanita disampingnya yang aku yakin itu istrinya itu??? wajahnya seperti sangat familier. Tapi entah ketemu di mana Jafar tidak bisa mengingat. Yang Jelas Jafar bersyukur bisa kembali berkumpul dengan ayah dan nas Sidiq, juga keluarga besar Al-Hikmah. Dan bisa segera kembali ke pesantren Al-Huda.
"Bagaimana dengan Nisa yah? Apakah Nisa dan teman teman Al-Huda tahu jika Jafar sakit di dini?" Tanyaku pada Ayah...?"
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...