
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Steve cukup kaget melihat Sidiq anak Yasin juga ikut dalam misi itu. ada perasaan haru yang dalam pada diri Steve, dan dalam hati Steve berjanji. “Aku tidak akan melupakan budi baik Zain sekeluarga. Dan aku berjanji, nyawa pun akan aku pertaruhkan untuk mereka juga.” Ucap Steve dalam hati.
“Aku harus habisi Yukimoto dengan tanganku sendiri nanti.” Ucap Steve dalam hatinya.
“Bagaimana kondisi di dalam, apa sudah terpantau jumlah kekuatan mereka ada berapa ? Apakah kita perlu mencari tambahan personil lagi ?” tanya Yasin pada Steve yang masih melamun.
“Apa ? eeh aku belum bisa melihat kondisi di dalam markas mereka. Jadi belum tahu kekuatan mereka.” Jawab Steve tergagap.
“Kamu jangan panik atau terbawa amarah, singkirkan hal itu semua agar kita bisa berpikir jernih untuk menyelamatkan anak istri kamu.” Ucap Yasin.
“Baiklah, sekarang aku dan kamu berdua saja yang menerobos masuk menghitung kekuatan mereka dulu.” Ucap Steve setelah agak tenang.
“Ok, Ponco jaga anak ku ya, jika ada sesuatu lebih baik menghindar dulu jangan gegabah.” Ucap Yasin kepada Ponco.
“Baik aku akan jaga anak kamu, lebih dari menjaga diriku sendiri.” Ucap Ponco penuh percaya diri.
“Aku percaya, terimakasih.” Jawab Yasin singkat. Sambil mempersiapkan senjata golok dan doble stik yang biasa dia gunakan.
Kemudian Yasin dan Steve segera melangkah mendekati markas Master Ninjitsu itu secara hati hati. Dari kejauhan hanya tampak bangunan luas yang dikelilingi oleh pagar tinggi. Sehingga tak dapat melihat isi dalam markas itu. satu satunya pintu masuk juga dijaga ketat oleh dua orang Lady Ninja.
“Mau gak mau memang harus memanjat pagar itu untuk melihat isi di dalam markas. Itu keahlian kamu yang juga punya ilmu Ninjitsu Steve.” Ucap Yasin.
“Baik, kamu ikuti aku saja, nanti aku bantu naik ke atas tembok pagar. Kita cari yang jauh dari pengamatan dua penjaga itu.” kata Steve.
Kemudian Steve menyiapkan sebuah Tali untuk memanjat pagar tembok. Sebuah tali yang di beri pengait untuk memanjat tembok pagar markas tersebut. Yasin hanya memperhatikan cara cara yang dipakai Steve Tersebut. Sekaligus mempelajari tehnik nya, barangkali bisa di terapkan dalam hal positif, pikir Yasin.
Steve mulai berjalan diikuti Yasin di belakangnya, dengan berjinjit agar tidak menimbulkan suara. Karena dikuatirkan langkah biasa bisa terdeteksi oleh musuh. Dengan berjinjit mengurangi getaran dan suara yang timbul. Itulah tehnik pertama yang dapat ditangkap Yasin.
“Hmmm begini caranya para Ninja berjalan menyelinap biar tidak mudah diketahui kehadirannya.” Kata Yasin dalam hati.
Kemudian Steve melemparkan tali pada sebuah tembok, kemudian menariknya untuk memastikan tali itu kuat untuk di panjat. Setelah Steve naik sampai ke atas, dan merasa cukup aman. Maka Yasin pun diminta untuk naik juga. Kemudian Yasin pun ikut memanjat tali tersebut dan jongkok di samping steve. Dalam hal ini, Steve lebih mahir dia lebih bisa menguasai keseimbangan. Sedangkan Yasin masih agak ragu ragu dalam melangkah di tembok yang tinggi dan sempit tersebut.
Pusatkan panca indera dan salurkan tenaga pada telapak kaki agar dapat berjalan seimbang.” Ucap Steve.
Yasin pun mengikuti anjuran Steve, sekaligus Yasin membuka Lathoif Nafsinya agar kewaspadaan semakin tinggi.
“Ok, sekarang apa langkah kita Steve ?” tanya Yasin.
“Kita cari ruang berlatih mereka, agar bisa menghitung kekuatan mereka berapa. Dan mencari tempat anak istriku di sekap.” Ucap Steve.
Yasin berdiam sesaat memusatkan pada lathoif nafsinya, dan dari penglihatan batin Yasin dia dapat menemukan lokasi tempat para Lady Ninja berlatih dan istri Steve disekap.
“Tempat berlatih mereka ada di tanah terbuka di tengah markas ini Steve. Anak istrimu di ujung barat, dalam ruangan khusus.” Kata Yasin.
“Dari mana kamu bisa tahu ?” tanya Steve.
“Itu sulit di ceritakan, nanti saja kalo ada waktu panjang. Jumlah mereka cukup banyak, kita harus pakai strategi agar bisa masuk dan mengacaukan mereka.” Ucap Yasin.
“Bagaimana caranya ?” tanya Steve kemudian.
“Kita turun dulu, kita persiapkan alat dan atur strategi. Harus tepat dan akurat dalam bertindak, karena jumlah mereka banyak dan kemampuan di atas rata rata manusia biasa semua.” Ucap Yasin.
Steve semakin heran dengan pengetahuan Yasin yang diluar prediksi Steve.
Kemudian keduanya kembali turun untuk mempersiapkan alat dan strategi menghadapi para Lady Ninja. Yang berjumlah belasan orang itu.
Yasin dan steve kembali ke tempat Ponco dan Sidiq yang menunggu dengan tegang.
“Itu Ayah sudah kembali om !?!” ucap Sidiq pada Ponco.
“Iya, om juga tahu kok, eh nama kamu Sidiq ya ?” tanya Ponco.
“Iya Om, maaf soal tadi ya om ?” ucap Sidiq.
“Gak papa, Om malah bangga dengan kamu yang berani dan jujur seperti ayah kamu.” Ucap Ponco.
Sidiq hanya diam, karena ayahnya sudah datang dan bergabung dengan mereka.
“Ayah, bagaimana keadaan di dalam sana ?” tanya Sidiq pada Yasin.
“Tenang Sidiq, kamu jangan tegang biasa saja dan kamu harus mementingkan keselamatan diri kamu sendiri ya.” Ucap Yasin pada Sidiq.
“Iya ayah.” Jawab Sidiq.
“Anak kamu boleh aku ajari jurus jurus Jiujitsu kah ?” tanya Steve pada Yasin.
“Boleh saja, kenapa Tidak.” Ucap Yasin.
“Iya, mudah mudahan kita diberi kesempatan bersama lagi. Dan kali ini kita bukan lagi sebagai musuh.” Ucap steve. Yang membuat Sidiq bingung, “kenapa dua om ini bisa berbalik begitu saja, bahkan tidak malu minta tolong ayah. Dan ayah juga mau saja menolong bekas musuhnya ini.” kata Sidiq dalam hati.
__ADS_1
“Steve, kamu punya peralatan apa saja untuk melawan mereka ?” tanya Yasin kepada Steve untuk membuka pembicaraan.
“Maksutnya untuk apa ?” tanya balik Steve.
“Kita masuk bertiga nanti, biar mobil dijaga anakku. Dan kita masuk dari tempat tadi, namun kita butuh peledak untuk mengacau mereka. Jadi rencanaku, kita ledakkan sisi utara dan kita menerobos masuk dari sisi selatan. Kemudian kita ledakan lagi sisi timur kita menerobos ke barat, menolong anak istrimu di sana. Dan kita harus melumpuhkan penjaga yang ada dengan cepat. Sebelum yang lain datang membantu.” Ucap Yasin.
“Bagaimana caranya meledakan beberapa tempat sementara kita masuk bersamaan ?” tanya Steve.
Dalam hal strategi begini, Steve kalah jauh dengan Yasin, sehingga dia mau gak mau harus mengikuti apa kata Yasin.
“Dengan Timer, sekali pasang untuk beberapa titik dan kita atur waktu meledaknya agar ada jeda kita untuk melakukan aksi penyelamatan.” Jawab Yasin.
“Dari mana kita mendapatkan Timer atau bom waktu seperti itu ?” tanya Steve.
“kalo kamu ada bahan peledak, nanti aku jelaskan caranya. Dan untuk timer kita pakai obat nyamuk bakar. Nanti selepas Maghrib kita baru bergerak, karena kalo saat ini tidak mungkin. Mereka akan dengan mudah menangkap keberadaan kita karena masih terang benderang.” Ucap Yasin.
“Berarti kita harus menunggu disini selama itu ?” Ucap Steve.
“Ya terpaksa harus begitu, karena jumlah mereka diluar dugaan kita kan ?” Ucap Yasin.
“Kalo begitu, kita harus awasi juga pintu keluar masuk itu. agar kita yakin anak istriku tidak dibawa keluar.” Ucap steve.
“Iya, biar Ponco yang mengawasi tempat itu, kita sekarang belanja peralatan. Termasuk bahan bahan untuk buat alat peledak.” Ucap Yasin kepada Steve.
“Ponco, kamu siap mengawasi mereka jangan sampai anak istriku di bawa kabur keluar atau ke tempat lain ?” tanya Steve kepada Ponco.
“Siap tetua, akan aku awasi dengan cermat.” Jawab Ponco.
Kemudian Steve dan Yasin pergi untuk mencari peralatan peledak. Sulfur, Potasium dan sebagainya. Tak lupa Steve juga mempersiapkan senjata tiup bila mana diperlukan nanti. Termasuk juga mata senjata yang di bubuhi obat bius, jenis valium untuk membuat lawan pingsan atau tertidur.
*****
Di dalam markas Yukimoto
“Saya sudah berhasil membawa keluarga Hansaimura, sekarang masih di tempat kami. Apa perlu aku bawa kesana sekarang ?” ucap Yuki menelpon Rahardian.
“TIdak perlu, tunjukan saja wajah wajah mereka aku pingin memastikan.” Ucap Rahardian di telpon.
“Baik kamu lihat saja dari monitor!” ucap Yukimoto. Sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Mitsuga dan kedua anaknya.
“Ok, aku percaya. Sekarang sekalian saja kamu bawa keluarga musuhku. Nanti aku kirimkan foto dan alamat rumahnya sekaligus foto rumahnya.” Kata Rahardian.
“Fee nya jadi dua kali lipat…!” ucap Yukimoto.
“Tidak masalah.” Balas Rahardian.
Pembicaraan di telpon pun segera diakhiri, dan Rahardian segera mengirim foto keluarga Yasin beserta alamat dan foto rumah Yasin.
“Siapa itu Yasin, matanya sangat tajam jelas bukan orang biasa.” Kata Yuki dalam hati saat memandang foto Yasin dan keluarganya.
Yuki tidak menyadari jika justru Yasin dan salah satu anaknya sedang mengintai markasnya. Namun Yasin juga tidak menduga jika Yuki juga sedang berangkat ke rumahnya untuk menculik anak istrinya juga. Kondisi saling terbalik, untung saja Jafar sudah bersiap dengan kemungkinan itu. Bersama bundanya juga sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Bahkan juga dibantu Khotimah pewaris lebur saketi Yuyut Siti Aminah almarhumah.
*****
Setelah masuk waktu Asar, Yasin tiba kembali di tempat tadi bersama Ponco. Dan Ponco segera menghampiri Yasin dan Steve.
“Sudah siap dengan semua peralatan yang dibutuhkan ?” tanya Ponco.
“Sudah, tinggal kita rakit sebentar dan nanti siap untuk digunakan.” Jawab Yasin.
Kemudian dibantu Steve dan Ponco Yasin merakit bubuk peledak lebih dahulu. Kemudian membungkusnya dengan botol botol kecil bekas minuman kesehatan yang sudah disiapkan.
“Yakin bisa meledak nanti ?” Tanya Steve.
“Insya Allah, dan tiap titik gak hanya satu botol untuk jaga jaga jika ada botol yang tidak meledak.” Ucap Yasin.
“Kita buat beberapa botol khusus, untuk senjata lempar nanti.” Ucap Steve.
“Boleh, ide bagus jika kondisi mendesak agar kita bisa leluasa bergerak.” Ucap Yasin.
Setelah dirasa cukup membuat alat peledak kemudian Yasin mengeluarkan obat nyamuk bakar. Kemudian membakar obat nyamuk itu dan menjelaskan kepada Steve dan Ponco.
“Ini lihat, obat nyamuk bakar ini kita jadikan timer untuk meledakkan nanti. Coba kamu hitung, dalam setengah senti meter butuh waktu berapa menit obat nyamuk ini terbakar. Itulah yang akan kita jadikan timer nanti.” Ucap Yasin membuka pembicaraan.
“Owh jadi begitu maksut kamu tadi ?” tanya Steve.
“Iya, dan sumbu kita kaitkan dengan obat nyamuk yang jaraknya nanti kita sesuaikan. Tergantung perhitungan kita dalam bergerak dari planning satu ke planning dua butuh berapa menit. Dan itu harus tepat agar semua berjalan lancar.” Jawab Yasin.
“Kalo ada meleset waktu terlambat bagaimana ?” tanya Ponco.
“Salah satu diantara kita harus ada yang bergerak menjalankan planing berikutnya sesuai estimasi waktu. Yang lain bertahan menyelesaikan planning sebelumnya.” Jawab Yasin.
“Hmmm… luar biasa ide kamu Zain, dan kalo terpaksa baru kita gunakan peledak ini sebagai senjata lempar. Untuk memudahkan masuk, kita akan lumpuhkan beberapa penjaga dengan senjata ini yang sudah di bubuhi obat bius.” Ucap Steve.
“Wah, sepertinya semua sudah terkontrol. Tinggal bagaimana nanti kita bertindak di lapangan saja.” Ucap Ponco.
“Baiklah, aku dan anakku ijin mau sholat asar dulu. Saudara Steve mohon maaf aku dan anakku mau sembahyang dulu sesuai keyakinan kami. Kalo tidak keberatan Steve juga berdoalah sesuai keyakinan Steve, mohon agar semua rencana berjalan lancar.” Ucap Yasin kepada Steve yang penganut Shinto.
“Owh iya silahkan, Ponco kamu gak ikutan berdoa ?” tanya steve ke Ponco.
“Loh Ponco Muslim juga ?” tanya Yasin.
“Iya, tapi belum biasa dan belum bisa sholat, he he he…!?!” jawab Ponco malu malu.
__ADS_1
“Owh, itu hak Ponco sih aku juga gak bisa maksa.” Ucap Yasin. Kemudian mengajak Sidiq untuk sholat asar berjamaah.
Steve dan Ponco hanya memandangi Yasin dan Sidiq yang menjalankan Sholat asar.
Setelah selesai sholat dan berdoa sekedarnya, Yasin segera menghampiri Steve dan Ponco lagi.
“Sidiq, kamu nanti jangan keluar dari mobil ya nak. Jika lihat ayah atau salah satu dari kami keluar kamu segera bawa mobil mendekat.” Ucap Yasin kepada Sidiq.
“Iya yah, tapi ayah hati hati ya…!” jawab Sidiq sekaligus mengingatkan Yasin ayahnya.
“Iya nak, nanti Sidiq dalam mobil banyakin berdoa saja ya nak…!” kata Yasin.
“Iya ayah.” Jawab Sidiq singkat.
Dan saat maghrib pun tiba, Yasin segera melaksanakan Sholat maghrib dengan cepat. Karena mengejar waktu untuk segera menyelamatkan keluarga Steve. Yasin hanya berdoa sebentar setelah sholat. Kemudian berpamitan kepada Sidiq, dan berpesan agar hati hati dan berdoa terus.
Meski Sidiq sudah sering, mendengar ayahnya bertempur. Namun saat ini dia tidak hanya mendengar tapi menyaksikan sendiri ayahnya akan berangkat bertempur. Sehingga Sidiq tak kuasa menahan sedih dan menitikan air matanya.
“Ayah, hati hati Sidiq doakan dari sini yah.” Ucap Sidiq. Membuat Steve dan Ponco ikut terharu melihatnya. Terutama Ponco, baru tahu bagaimana sebuah keluarga yang utuh dan saling menyayangi. Hati Ponco menjadi semakin kuat untuk mengikuti jejak Yasin.
Kemudian Yasin, Steve dan Ponco segera berangkat menjalankan rencana yang sudah disusun. Mereka menaiki pagar seperti tadi dan di tempat yang tadi juga. Setelah sampai di atas, Yasin segera menjelaskan kembali rencana yang sudah dibuat secara lebih detail.
“Steve, diantara kita, yang palin pintar menyelinap adalah kamu. Jadi aku mengandalkan kamu untuk memasang peledak ini. Masih ingat titik titik yang akan di ledakkan ?” tanya Yasin.
“Ok, aku masih ingat semuanya. Termasuk cara memasang sumbu peledak pada obat nyamuk bakar dan berapa jarak yang harus dipasang dari apinya.” Jawab Steve mantab.
“Bagus, jalankan sekarang dan saat ledakan pertama nanti kita bertiga sudah harus berkumpul disini lagi.” Ucap Yasin.
Kemudian Steve segera melaksanakan rencana memasang peledak dengan pengatur waktunya adalah ‘obat nyamuk bakar’ meski tidak seakurat timer elektrik namun cukup untuk membuat perhitungan kasar waktu meledaknya.
Dan Steve sudah berhasil memasang peledak dan menyalakan obat nyamuk bakar dengan estimasi sumbu peledak akan terbakar sekitar 7 menit. Dan segera melangkah memasang peledak ke dua dan ke tiga, dengan perkiraan peledak pertama meledak lima menit setelah ledakan pertama. Lima menit itu digunakan untuk menerobos masuk, sementara para Lady Ninja sibuk memadamkan api dan mencari pelaku peledakan.
Kemudian setelah peledak kedua meledak, Yasin dan kawan kawan menerobos masuk ke tempat keluarga Steve di sekap. Ada waktu lima menit untuk melepaskan mereka sebelum peledak ke tiga meledak lagi. Dan saat peledak ke tiga meledak, mereka harus bisa membawa kabur keluar anak istri Steve. Dan Sidiq segera menjemput mereka dengan Mobil dan kabur pulang ke rumah Yasin sebagai tempat tujuan.
Begitulah scenario yang dibuat Yasin untuk, menyelamatkan anak dan istri Steve dari tawanan para Lady Ninja tersebut.
Yasin dan Ponco menunggu Steve dengan sedikit cemas, karena jumlah Lady Ninja yang berpatroli cukup banyak.
“Semoga Steve berhasil daan baik baik saja.” Ucap Yasin seperti berbisik namun di dengar Ponco.
“Aamiin…!” sahut Ponco.
Dan tak lama kemudian Steve datang, dan sebelum sempat bicara sudah terdengar ledakan yang cukup dahsyat di titik pertama. Dan langit di bagaian itu memerah menerangi tempat sekitar karena api yang membesar.
Segera Yasin mengajak Steve dan Ponco bergerak cepat menuju ke arah anak Istri steve di Sekap. Mereka bertiga secara hati hati mengikuti Steve menuju ke arah ruangan anak istri Steve di sekap.
“Tunggu, ada beberapa Lady Ninja yang berdiri di depan sana.” Ucap Yasin.
“Biar aku yang bereskan mereka.” ucap Steve. Sambil mengeluarkan sumpit pelontar senjata bius ( jawa \= Tulup ). Pelan Steve mendekati dua Lady Ninja tersebut yang mengawasi kobaran api dari kejauhan karena bertugas menjaga jalan menuju ke tempat anak istri Steve di tawan.
Dan Steve berhasil membuat Lady Ninja pertama mengaduh dan segera jatuh pingsan. Lady Ninja ke dua yang kaget mencabut katana nya. Namun beberapa saat kemudian juga menjerit dan jatuh pingsan. Kemudian Ponco segera menyusul mengikuti langkah Steve, tanpa melihat bahwa ada satu orang Lady Ninja yang mendekat karena mendengar jeritan kawan nya. Dan kali ini giliran Yasin yang bertindak, dengan kecepatan tinggi Yasin melempar Lady Ninja itu dengan doble stiknya. Dan tepat mengenai kepalanya hingga pingsan.
“Cepat Steve kamu duluan ke ruangan anak istrimu di sekap. Biar aku dan Ponco yang menghadapi Lady Ninja yang menuju kemari itu.” ucap Yasin kepada Steve.
Tampak ada tiga Lady Ninja mendatangi Yasin dan kawan kawan. Namun satu orang harus tetap bersiap menuju ke planning berikutnya. Dan yang paling tepat adalah Steve, untuk menuju ke ruang penyekapan anak dan istrinya.
maka Yasin dan Ponco lah yang harus menghadapi dua Lady Ninja tersebut. dalam hati Yasin mengeluh.
“Baru kali ini, aku harus menangani wanita. Namun bagaimana lagi kalo tidak banyak nyawa yang terancam. Termasuk anak dan istriku sendiri akan jadi korban.” Kata Yasin dalam hati. Selanjutnya sudah disibukkan dengan serangan pedang dari Lady Ninja yang menghampirinya.
“Tampaknya, Lady Ninja baru belum sehebat yang aku duga.” Batin Yasin. Dan dengan mudah diapun segera mematahkan serangan Lady Ninja tersebut dan melumpuhkan salah satunya. Kemudian yang satunya pun dibuat tak berkutik oleh Yasin. Demikian juga Ponco berhasil menjatuhkan satu Lady Ninja lagi. Dan Yasin segera mengajak Ponco menyusul Steve, sebelum ledakan kedua berbunyi. Namun baru beberapa langkah peledak ke dua sudah berbunyi dan suaranya juga tidak kalah dengan yang pertama.
Para Lady Ninja banyak yang bingung dan kalang kabut, sehingga membuka peluang bagi Yasin dan Ponco menyusul Steve. Namun ternyata di ruang penyekapan anak Istri Steve, Steve sedang berjibaku dengan beberapa Lady Ninja yang di tugaskan khusus menjaga tawanan. Steve cukup kerepotan melawan beberapa Lady Ninja tersebut.
Bahkan tampak lengan kirinya sudah terluka dan mengeluarkan darah, akibat terkena sabetan pedang katana salah satu Lady Ninja. Steve segera menutup lengan nya dengan kain, agar darahnya tidak banyak keluar.
“Majulah kalian semua, biar aku bisa mengakhiri kalian secara bersamaan.” Ucap Steve sambil memutar kedua pisau kembarnya menyerang salah satu Lady Ninja dengan cepat. Dan sempat mengenai perut Lady Ninja tersebut. membuat yang lain marah dan menyerang Steve bersamaan, dengan bersama sama menghujamkan Katana ke arah Steve. Dan Steve hanya dapat menangkis semua Katana tersebut dengan pisau kembarnya.
Namun tenaga beberapa Lady Ninja tersebut cukup kuat, sehingga Steve hampir tak kuat menahan tekanan pedang mereka secara bersamaan. Beberapa inci lagi Pedang katana itu mengenai tubuh Steve.
Untung Ponco dan Yasin segera Tiba.
“Ponco gunakan senjata mu bantu Steve, aku lumpuhkan yang dari belakang Steve kamu lumpuhkan yang dari depan Steve.” Ucap Yasin. Dengan cepat menghunus goloknya, namun begitu melihat Steve sudah sangat terdesak Yasin segera melempar doble stiknya lagi ke arah salah satu Lady Ninja hingga terjatuh.
Dan itu mengurangi kekuatan yang mendesak Steve, dan Yasin juga Ponco serempak menyerang lady Ninja yang ada. Sehingga mereka berpencar meninggalkan Steve, untuk menghadapi Yasin dan Ponco.
“Steve….! Segera ke planning ke tiga….!” Ucap Yasin memberi kode Steve untuk melepaskan anak dan Istrinya….!!!
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1