
Reader episode kali ini pendek saja
InsyaAllah lanjut besok pagi.
selamat membaca semoga terhibur.
Selamat membaca
“Nisa….! Dimana kamu, urusan kita belum selesai ayo kita
selesaikan sekarang juga…!” teriak Nia dengan kencang. Membuat latihan pun
harus dihentikan sementara dan Nisa pun dipanggil Kholis untuk menemui Nia.
Jafar pun membiarkan saja Nisa adiknya menemui Nia….???
Nisa pun melangkah mendekat ke Nia, tidak tahu apa yang di
inginkan Nia tersebut.
“Ada apa ning Nia ?” tanya Nisa dengan sopan.
“Kamu curang, kamu telah membohongi aku tadi…!” Kata Nia
dengan keras di dengarkan oleh semua yang ada di situ.
“Bohong apanya ning Nia ?” tanya Nisa heran.
Semua yang mendengar percakapan itu pun hanya diam dan
sebagian hanya berbisik dengan sebelahnya.
“Jaf,,, kasihan adik kamu…!” kata Nadhiroh yang tiba tiba
mendekati Jafar dan mengingatkan Jafar.
“Tenang saja kak, tidak akan terjadi apa apa.” Jawab Jafar.
“Iya Nadh, kamugak usah khawatir semua ini sudah direstui
oleh abah guru untuk membentuk karakter Nia.” Jawab Kholis.
Kemudian mereka pun kembali mendengarkan percakapan antara
Nia dan Nisa.
“Kenapa kamu tidak dari awal langsung mengalahkan aku saja,
bahkan kamu sengaja mengalah di awal dan sengaja mau membuat hasil Seri ?” kata
Nia.
Semua yangberada di tempatitu punmenjadi tegang sekaligus
heran. Dari mana Nia menyadri hal itu, kenapa tiba tiba saja Nia mau mengakui
kalau dirinya sebenarnya kalah dari Nisa. Dan tahu jika Nisa bermaksut membuat hasil latih tanding itu menjadi Seri.
“Kenapa ning Nia berkata seperti itu ?” Tanya Nisa kemudian.
Nia dikasih tahu abah dan umi, jika kamu sebenarnya hanya
mengalah kalau kamu mau bisa menjatuhkan Nia dari awal. Apa kamu masih mau
memungkiri itu semua ?” tanya Nia.
Nisa hanya diam, bingung harus berkata apa untuk menenangkan
ning Nia agar tidak sampai sakit hati.
“Maafkan Nisa ning Nia, itu semua Nisa lakukan karena Nisa
sungkan dan hormat sama ning Nia.” Jawab Nisa.
Ganti Nia yang terdiam tak berkata apapun, bahkan terlihat
Nia menitikan air matanya. Membuat yang melihat itu jadi panik karena Nia
menangis. Hanya bisikan bisikan yang tidak jelas dari mereka yang melihat
kejadian itu.
Hanya Kholis dan Jafar yang tidak bingung atau panik. Jafar
dan Kholis yang sudah tahu permasalahannya dari abah dan uminya Nia. Hanya berpikir,
mungkin saat inilah Nia akan berubah karakternya. Nia yang angkuh dan selalu
mau menang sendiri saat ini dipaksa mengakui keunggulan orang lain. Bahkan harus
mengakui jika dirinya kalah dari anak yang usianya dibawah Nia.
Semua mata menyaksikan dengan tegang Nia dan Nisa yang
saling berhadapan tapi hanya saling diam tersebut. Mereka menunggu nunggu apa
yang akan dilakukan oleh Nia dan Nisa. Dengan harapan semuanya akanbaik baik
saja. Dan tanpa diduga oleh mereka tiba tiba Nia memeluk NIsa sambil terisak.
“Maafkan kesombonganku Nisa, karena apa yang kamu lakukan
tadi sudah menyadarkan aku akan arti sebuah kesabaran. Aku mengaku kalah dan
aku harus belajar dari kamu tentang mengendalikan diri agar tidak sombong.”
Ucap Nia dengan keras dan terisak.
Nisa pun jadi ikut menangis haru atas ketulusan Nia
tersebut.
“Tidak usah begitu ning Nia, Nisa dan mas Jafar kan murid
abah guru jadi sudah seharusnya menghormati ning Nisa sekeluarga.” Jawab Nisa
ikut terisak.
Kemudian Nia menggandeng tangan Nia mendekat ke anakanak
yang barusan berlatih.
“Dengarkan semuanya, hari ini aku Nia atau Kurnia Isnaini
mengakui dalam latih tanding hari ini aku dikalahkan Nisa secara sportif. Dan kau
mengakui kelebihan Nisa, serta mendapatkan pelajaran tentang apa itu kesabaran.
Selama ini aku telah berlaku sombong pada kalian semua, dan hari ini aku
disadarkan oleh Nisa untuk itu aku mohon maaf pada kalian semuanya.” Kata Nisa
disambut tepuk tangan dan ucapan syukur Alhamdulillah oleh semua yang ada di
situ.
Jafar dan Kholis pun tersenyum lega, karena Nia yang di
titipkan pada mereka akhirnya kini sadar dan mau berubah.
“Selamat ya Jafar, usaha kita membuahkan hasil lantaran Nisa
adik kamu.” Ucap Kholis.
“Sama sama kang, semoga abah guru dan Umi senang mengetahui
ini semua.” Jawab Jafar.
Kholis dan Jafar pun membubarkan Latihan pada hari itu. di
samping karena sudah cukup sore juga hari itu sudah mendapatkan banyak
pelajaran dari latih tanding antara Nia dan Nisa. Kejadian kecil yang besar
Hikmahnya bagi semua.
*****
Seusai latihan bubar Nia masih menggandeng Nisa, bahkan
mengajak Nisa ke kamar Nia sebelum pergi mandi untuk persiapan sholat maghrib. Demi
menyenangkan hati ning Nia Nisa pun mengikuti semua keinginan Nia. Meskipun waktu
itu Nisa sebenarnya pengen segera mandi.
Dan sekeluar Nisa dari kamar Nia, ketika hendak kembali ke kamarnya
Nisa di hentikan oleh abah dan uminya Nia.
“Nisa, kamu duduklah sebentar, abah dan umi mau bicara.”
Ucap Abah gurunya Nisa.
__ADS_1
“Iya Bah.” Jawab Nisa.
“Umi mau mengucapkan terimakasih karena kamu berhasil
menyadarkan Nia anak umi.” Kata Uminya Nia.
“Aah gak kok bu Nyai, bukan karena Nisa kok.” Jawab Nisa
malu.
“Panggil Umi saja seperti kakak kamu jafar, Umi tetap
berterimakasih padamu Nisa. Karena bagaimanapun kamu yang jadi perantara Nia
menjadi sadar sekarang.” Ucap Uminya Nia.
“Nisa gak ngapa ngapain kok bu nyai eeh Umi…! Nisa hanya
mengikuti perintah kang Kholis saja tadi.” Ucap Nisa.
“Iya, tapi Kholis begitu atas perintah abah dan Umi juga.”
Jawab Umi.
“Nisa, bagaimana kabar ayah bunda kamu sekarang ?” tanya
Abah gurunya Nisa atau abahnya Nia.
“Alhamdulillah sekarang sudah bangkit lagi Bah, usaha ayah
dan bunda sudah mulai jalan lagi sekarang.” Jawab Nisa.
“Terus ayah binda kamu sama siapa saja dirumah ?” Tanya abah
guru Nisa.
“Ya seringnya hanya berdua saja Bah, kecuali kalau sore ada
nak anak yang mengaji. Sama kalau malam jumat ada yang ikut mujahadah.” Jawab Nisa.
“Owh begitu, ya sudah sana kalau mau mandi.” Kata Abah
gurunya Nisa.
Dan Nisa pun segera kembali ke kamarnya untuk persiapan
mandi.
“Jadi bagaimana Bi, apakah jadi rencana kita kemarin bi ?”
istri sang kyai bertanya.
Sementar sang Kiai tersebut tampak merenung sejenak, seperti
berpikir jauh ke depan.
“Kita perlu bertemu dan bicara langsung, jangan sampai malah
nanti memberatkan mereka.” Ucap sang kiai.
“Bagaimana dengan Nia sendiri bi ?” istri sang kiai kembali
bertanya.
“Demi kebaikan dia sendiri dan agar bisa mandiri harus mau. Jujur
aku salut dengan anak anak Yasin, aku pingin tahu cara mendidik Yasin dan
istrinya kepada anak anaknya.” Jawab sang Kiai.
“Umi sih terserah abi saja lah, yang penting Nia bisa
menjadi anak yang baik.” ucap istri sang kiai.
“Nanti malam kita bicarakan lagi sehabis abah ngajar, dan
setelah membekali Jafar sebelum berangkat ke makam.” Ucap sang kiai.
Dan saat adzan maghrib tiba semua berjamaah di masjid dengan
riang gembira. Hari itu seorang Nia yang tadinya angkuh dan galak sudah berubah
menjadi kalem dan lebih sabar. Bahkan setelah
selesai sholat maghrib pun menyempatkan
diri main ke kamar Nisa untuk ngobrol.
“Nisa kamu mulai usia berapa belajar beladiri kok bisa
sehebat itu ?” tanya Nia.
ikut mask u kalau mereka latihan.” Ucap Nisa.
“Kang Jafar ? Panggil mbak saja jangan ning kamu ku anggap
adik ku mau gak ?” kata Nia.
Nisa memandang wajah Nia memastikan apakah Nia serius atau
tidak.
“Nanti dikira gak sopan dong Ning Nia, Bukan kakak Nisa satu
lagi, namanya mas Sidiq ?” jawab Nisa.
“Gak lah, kan aku yang minta. Lagian aku suka jadi kakak
kamu kok. Hah kamu punya kakak satu lagi,kakak atau adiknya kang Jafar ?” Jawab
Nia.
“Kakaknya mas Jafar, wajahnya juga mirip kok dengan mas
Jafar.” Jawab Nisa.
“Jadi kakaknya Nisa terus jadi apanya Jafar ning Nia ?” goda
Siti yang sudah berani bercanda dengan Nia sekaligus melihat reaksi Nia ketika
di godain bagaimana.
“Ya aku jadi adiknya kang Jafar kakaknya Nisa, kan jarak
kang Jafar dengan Nisa cukup jauh.” Jawab Nia.
“Owh kirain kalau jadi kakak iparnya Nisa.” Goda Siti lagi.
“Yee mbak Siti, Nia masih kecil belum boleh pacaran malah
kang Jafar ditugasi jaga Nia agar tidak pacaran.” Jawab Nia.
“Owh begitu syukurlah, soalnya akan banyak yang cemburu dan
patah hati nanti.” Goda Siti. Sementar Fitri hanya diam cemberut mendengar
ucapan Siti tersebut.
“Maksut mbak Siti si Nadhiroh ? gak lah kang Jafar juga
anggap dia sebagai teman saja kok.” Jawab Nia.
“Lah kok ning Nia tahu ? Memang suka ngobrol sama Jafar juga
?” desak Siti.
“Gak juga, abi dan umi yang nanya ke kang Jafar dan Nia
denger waktu itu.” jawab Nia.
“Mang Ning Nia gak suka sama jafar kakaknya Nisa ?” tanya
Siti lagi.
“Iih Siti, orang Ning Nia masih mau sekolah dan ngaji juga kok
di tanyain yang gak gak sih ?” sahut Fitri yang tampak kurang suka dengan
pertanyaan Siti tersebut. meski memang Siti sengaja memancing reaksi Fitri
dengan pertanyaan ke Nia.
“Wah tampaknya ada persaingan merebut hati kakakmu Nisa. Kalau
Nisa sendiri lebih suka punya kakak ipar siapa, Nadhiroh Siti atau Fitri.” Balas
Nia ganti menggoda mereka.
Nisa hanya senyum senyum saja mendengar obrolan kakak kakak
seniornya dengan Nia tersebut.
“Kalau Nisa sih terserah mas Jafar saja nanti.” Jawab Nisa.
“Aah kalau Siti kayaknya mau sama kakakmu yang namanya Sidiq
__ADS_1
saja Nis, kalau jafar masih tuaan aku.” Sahut Siti.
“Sok PD lu Ti, ya kalau kakaknya Jafar belum punya pacar dan
mau sama kamu.” Ledek Fitri.
“Ya gak papa, namanya juga usaha, dari pada suka gak berani
ngomong tahu tahu diambil orang gimana ?” jawab Siti disambut tawa Nia dan Nisa
juga.
“Iih ya gak lah masak cewek mendahului, gimana dong ?” ucap
Fitri.
“Nah ketahuan kan, secara tidak langsung kamu berharap jafar
yang mendahului bilang suka sama kamu ya ?” sahut Siti merasa berhasil
memancing Fitri.
“Gak kok gak gitu maksut Fitri,jangan biki Gosip dong Ti.” Kata
Fitri jengkel dan malu.
“Lah terus bagaimana ? kan mending kayak Nadhiroh berani
terus terang meski belum ada kepastian dari Jafar. Jadi kamu bilang saja kalau
suka sama Jafar, biar pada tahu.” Ucap Siti.
“Gak lah Fitri malu kalau mendahaului bilang suka sama
cowok.” Sahut Fitri.
“Jadi beneran nih, mbk Fitri suka sama kang Jafar ? kalau
Nia penasaran pengen lihat foto kakak
kamu yang namanya Sidiq Nisa boleh gak ?” tanya Nia ke Nisa.
“Boleh saja mbak, tapi hanya di ponsel.” Jawab Nisa sambil
menyerahkan Ponsel dan menunjukkan Foto Sidiq.
“Wah lebih macho ini kayaknya, penampilannya lebih keren
dari kang Jafar.” Ucap Nia.
Siti dan Fitri pu jadi penasaran pingin lihat foto Sidiq,
dan mereka pun ikut melihat foto foto Sidiq di ponsel Nisa.
“Lah memang kalian belum pernah lihat juga ?” tanya Nia pada
Fitri dan Siti.
“Hehehe… belum.” Jawab Fitri dan Siti.
Nisa hanya tersenyum menhan tawa mendengar dua seniornya
itu.
“Nisa punya kakak cakep begini kok diam saja sih, mau dong
Siti di kenalin sama Sidiq.” Ucap Siti.
“Fitri juga dong Nisa.” Sahut NIsa.
“Gak boleh, biar Nia saja yang kenal sama Sidiq kalian cukup
kenal kang Jafar saja, hehehe,,,,!” sahut Nia ikut bercanda dengan mereka.
Suasana di kamar Nisa jadi meriah sampai dengan waktu Isya
tiba. Dan mereka pun kemudian lekas bersiap untuk sholat isya berjamaah. Tidak lupa
juga Nia ikut berangkat bersama Nisa dan kakak kakak seniornya.
*****
Di runag tamu sebelum Jafar Ziarah ke makam
“Kamu harus lebih fokus lagi, jangan kau pikirkan suara atau
wujud apapun ketika tidak mengucap salam kepadamu Jafar.” Pesan sang Kiai
kepada jafar sebelum berangkat ke makam.
“Iya bah, semalam juga Jafar biarkan saja hanya sedikit
mengganggu konsentrasi saja.” Jawab Jafar.
“Ya sudah kalu belum makan makan dulu sana abah mau bicara
sama umi nanti kamu langsung berangkat saja gakusah pamitan lagi.” Perintah
abah gurunya Jafar.
“Iya bah.” Jawab Jafar sambil melangkah meninggalkan ruang
tamu.
Setelah tinggal berdua dengan istrinya sang kiai pun segera
menanyai istrinya.
“Apa kamu sudah bialng ke Nia, kalau dia mau kita titipkan
ke orang tuanya Jafar dan Nisa. Sekaligus biar ngaji disana juga ?” Tanya sang
Kiai.
“Belum bi, kan katanya mau ketemu mereka dulu sebelum
memastikan ?” Jawab istri sang kiai.
“Iya memang, maksutku memang jangan bilang dulu.” Kata sang
Kiai.
“Belum kok bi, umi juga belum berani ngomong tanpa izin abi
dulu.” Jawabistrinya.
“Syukurlah, kalau begitu besuk saja kita ke rumah Yasin. Sekalian
mau bicara hal penting lainnya nanti.” Ucap sang Kiai.
*****
Setelah selesaimakan malam Jafar pun bergegas berangkat ke
makam.
“Kenapa perasaanku tidak enak mala mini, dan kenapa abah
tadi berpesan agar aku tidak menghiraukan suara atau pu wujud apapun yang akan
datang. Kecuali mengucap Salam lebih dulu.” Kata hati Jafar.
Jafar berhenti sejenak kemudian memanjaatkan doa seblum
melangkah meninggalkan area pondok pesantren Jafar segera bergegas menuju ke
makam. Dan dengan berjalan kai Jafar pun menempuh perjalanan ke makam. Hal biasa
bagi seorang Santri berjalan sekitar dua kilo meter untuk Ziarah kubur.
Sampailah Jafar ke makam kedua orang tua Abah gurunya, sgera
mengucap salam untuk ahi kubur dan segera masuk menuju ke makam orang tua abah
gurunya Jafar.
Dan di saat yang sama Sidiq pun melakukan hal yang juga sama
dengan Jafar. Sidiq pun Ziarah ke makam kedua orang tua abah gurunya Sidiq. Maka
malam itu dua anak laki laki Yasin yang beda ibu itu melakukan kegiatan yang
sama dan di tempat yang berbeda.
Berbeda dengan Jafar, Sidiq saat itu masih terbebani dengan
pertemuanya dengan Jalu serta ingat kejadian saat membopong dan mengobati
Riska.
Kedua anak Yasin itu pun secara hampir bersamaan melakukan Ziaroh
di tempat yang berbeda.
Bersambung
__ADS_1
Episode berikutnya
“Nia dititipkan Yasin dan Fatimah.”