Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Runtuhnya ego seorang Nia


__ADS_3

Reader episode kali ini pendek saja


InsyaAllah lanjut besok pagi.


selamat membaca semoga terhibur.


Selamat membaca


 


“Nisa….! Dimana kamu, urusan kita belum selesai ayo kita


selesaikan sekarang juga…!” teriak Nia dengan kencang. Membuat latihan pun


harus dihentikan sementara dan Nisa pun dipanggil Kholis untuk menemui Nia.


Jafar pun membiarkan saja Nisa adiknya menemui Nia….???


Nisa pun melangkah mendekat ke Nia, tidak tahu apa yang di


inginkan Nia tersebut.


“Ada apa ning Nia ?” tanya Nisa dengan sopan.


“Kamu curang, kamu telah membohongi aku tadi…!” Kata Nia


dengan keras di dengarkan oleh semua yang ada di situ.


“Bohong apanya ning Nia ?” tanya Nisa heran.


Semua yang mendengar percakapan itu pun hanya diam dan


sebagian hanya berbisik dengan sebelahnya.


“Jaf,,, kasihan adik kamu…!” kata Nadhiroh yang tiba tiba


mendekati Jafar dan mengingatkan Jafar.


“Tenang saja kak, tidak akan terjadi apa apa.” Jawab Jafar.


“Iya Nadh, kamugak usah khawatir semua ini sudah direstui


oleh abah guru untuk membentuk karakter Nia.” Jawab Kholis.


Kemudian mereka pun kembali mendengarkan percakapan antara


Nia dan Nisa.


“Kenapa kamu tidak dari awal langsung mengalahkan aku saja,


bahkan kamu sengaja mengalah di awal dan sengaja mau membuat hasil Seri ?” kata


Nia.


Semua yangberada di tempatitu punmenjadi tegang sekaligus


heran. Dari mana Nia menyadri hal itu, kenapa tiba tiba saja Nia mau mengakui


kalau dirinya sebenarnya kalah dari Nisa. Dan tahu jika Nisa bermaksut  membuat hasil latih tanding itu menjadi Seri.


“Kenapa ning Nia berkata seperti itu ?” Tanya Nisa kemudian.


Nia dikasih tahu abah dan umi, jika kamu sebenarnya hanya


mengalah kalau kamu mau bisa menjatuhkan Nia dari awal. Apa kamu masih mau


memungkiri itu semua ?” tanya Nia.


Nisa hanya diam, bingung harus berkata apa untuk menenangkan


ning Nia agar tidak sampai sakit hati.


“Maafkan Nisa ning Nia, itu semua Nisa lakukan karena Nisa


sungkan dan hormat sama ning Nia.” Jawab Nisa.


Ganti Nia yang terdiam tak berkata apapun, bahkan terlihat


Nia menitikan air matanya. Membuat yang melihat itu jadi panik karena Nia


menangis. Hanya bisikan bisikan yang tidak jelas dari mereka yang melihat


kejadian itu.


Hanya Kholis dan Jafar yang tidak bingung atau panik. Jafar


dan Kholis yang sudah tahu permasalahannya dari abah dan uminya Nia. Hanya berpikir,


mungkin saat inilah Nia akan berubah karakternya. Nia yang angkuh dan selalu


mau menang sendiri saat ini dipaksa mengakui keunggulan orang lain. Bahkan harus


mengakui jika dirinya kalah dari anak yang usianya dibawah Nia.


Semua mata menyaksikan dengan tegang Nia dan Nisa yang


saling berhadapan tapi hanya saling diam tersebut. Mereka menunggu nunggu apa


yang akan dilakukan oleh Nia dan Nisa. Dengan harapan semuanya akanbaik baik


saja. Dan tanpa diduga oleh mereka tiba tiba Nia memeluk NIsa sambil terisak.


“Maafkan kesombonganku Nisa, karena apa yang kamu lakukan


tadi sudah menyadarkan aku akan arti sebuah kesabaran. Aku mengaku kalah dan


aku harus belajar dari kamu tentang mengendalikan diri agar tidak sombong.”


Ucap Nia dengan keras dan terisak.


Nisa pun jadi ikut menangis haru atas ketulusan Nia


tersebut.


“Tidak usah begitu ning Nia, Nisa dan mas Jafar kan murid


abah guru jadi sudah seharusnya menghormati ning Nisa sekeluarga.” Jawab Nisa


ikut terisak.


Kemudian Nia menggandeng tangan Nia mendekat ke anakanak


yang barusan berlatih.


“Dengarkan semuanya, hari ini aku Nia atau Kurnia Isnaini


mengakui dalam latih tanding hari ini aku dikalahkan Nisa secara sportif. Dan kau


mengakui kelebihan Nisa, serta mendapatkan pelajaran tentang apa itu kesabaran.


Selama ini aku telah berlaku sombong pada kalian semua, dan hari ini aku


disadarkan oleh Nisa untuk itu aku mohon maaf pada kalian semuanya.” Kata Nisa


disambut tepuk tangan dan ucapan syukur Alhamdulillah oleh semua yang ada di


situ.


Jafar dan Kholis pun tersenyum lega, karena Nia yang di


titipkan pada mereka akhirnya kini sadar dan mau berubah.


“Selamat ya Jafar, usaha kita membuahkan hasil lantaran Nisa


adik kamu.” Ucap Kholis.


“Sama sama kang, semoga abah guru dan Umi senang mengetahui


ini semua.” Jawab Jafar.


Kholis dan Jafar pun membubarkan Latihan pada hari itu. di


samping karena sudah cukup sore juga hari itu sudah mendapatkan banyak


pelajaran dari latih tanding antara Nia dan Nisa. Kejadian kecil yang besar


Hikmahnya bagi semua.


*****


Seusai latihan bubar Nia masih menggandeng Nisa, bahkan


mengajak Nisa ke kamar Nia sebelum pergi mandi untuk persiapan sholat maghrib. Demi


menyenangkan hati ning Nia Nisa pun mengikuti semua keinginan Nia. Meskipun waktu


itu Nisa sebenarnya pengen segera mandi.


Dan sekeluar Nisa dari kamar Nia, ketika hendak kembali ke kamarnya


Nisa di hentikan oleh abah dan uminya Nia.


“Nisa, kamu duduklah sebentar, abah dan umi mau bicara.”


Ucap Abah gurunya Nisa.

__ADS_1


“Iya Bah.” Jawab Nisa.


“Umi mau mengucapkan terimakasih karena kamu berhasil


menyadarkan Nia anak umi.” Kata Uminya Nia.


“Aah gak kok bu Nyai, bukan karena Nisa kok.” Jawab Nisa


malu.


“Panggil Umi saja seperti kakak kamu jafar, Umi tetap


berterimakasih padamu Nisa. Karena bagaimanapun kamu yang jadi perantara Nia


menjadi sadar sekarang.” Ucap Uminya Nia.


“Nisa gak ngapa ngapain kok bu nyai eeh Umi…! Nisa hanya


mengikuti perintah kang Kholis saja tadi.” Ucap Nisa.


“Iya, tapi Kholis begitu atas perintah abah dan Umi juga.”


Jawab Umi.


“Nisa, bagaimana kabar ayah bunda kamu sekarang ?” tanya


Abah gurunya Nisa atau abahnya Nia.


“Alhamdulillah sekarang sudah bangkit lagi Bah, usaha ayah


dan bunda sudah mulai jalan lagi sekarang.” Jawab Nisa.


“Terus ayah binda kamu sama siapa saja dirumah ?” Tanya abah


guru Nisa.


“Ya seringnya hanya berdua saja Bah, kecuali kalau sore ada


nak anak yang mengaji. Sama kalau malam jumat ada yang ikut mujahadah.” Jawab Nisa.


“Owh begitu, ya sudah sana kalau mau mandi.” Kata Abah


gurunya Nisa.


Dan Nisa pun segera kembali ke kamarnya untuk persiapan


mandi.


“Jadi bagaimana Bi, apakah jadi rencana kita kemarin bi ?”


istri sang kyai bertanya.


Sementar sang Kiai tersebut tampak merenung sejenak, seperti


berpikir jauh ke depan.


“Kita perlu bertemu dan bicara langsung, jangan sampai malah


nanti memberatkan mereka.” Ucap sang kiai.


“Bagaimana dengan Nia sendiri bi ?” istri sang kiai kembali


bertanya.


“Demi kebaikan dia sendiri dan agar bisa mandiri harus mau. Jujur


aku salut dengan anak anak Yasin, aku pingin tahu cara mendidik Yasin dan


istrinya kepada anak anaknya.” Jawab sang Kiai.


“Umi sih terserah abi saja lah, yang penting Nia bisa


menjadi anak yang baik.” ucap istri sang kiai.


“Nanti malam kita bicarakan lagi sehabis abah ngajar, dan


setelah membekali Jafar sebelum berangkat ke makam.” Ucap sang kiai.


Dan saat adzan maghrib tiba semua berjamaah di masjid dengan


riang gembira. Hari itu seorang Nia yang tadinya angkuh dan galak sudah berubah


menjadi  kalem dan lebih sabar. Bahkan setelah


selesai  sholat maghrib pun menyempatkan


diri main ke kamar Nisa untuk ngobrol.


“Nisa kamu mulai usia berapa belajar beladiri kok bisa


sehebat itu ?” tanya Nia.


ikut  mask u kalau mereka latihan.” Ucap Nisa.


“Kang Jafar ? Panggil mbak saja jangan ning kamu ku anggap


adik ku mau gak ?” kata Nia.


Nisa memandang wajah Nia memastikan apakah Nia serius atau


tidak.


“Nanti dikira gak sopan dong Ning Nia, Bukan kakak Nisa satu


lagi, namanya mas Sidiq ?” jawab Nisa.


“Gak lah, kan aku yang minta. Lagian aku suka jadi kakak


kamu kok. Hah kamu punya kakak satu lagi,kakak atau adiknya kang Jafar ?” Jawab


Nia.


“Kakaknya mas Jafar, wajahnya juga mirip kok dengan mas


Jafar.” Jawab Nisa.


“Jadi kakaknya Nisa terus jadi apanya Jafar ning Nia ?” goda


Siti yang sudah berani bercanda dengan Nia sekaligus melihat reaksi Nia ketika


di godain bagaimana.


“Ya aku jadi adiknya kang Jafar kakaknya Nisa, kan jarak


kang Jafar dengan Nisa cukup jauh.” Jawab Nia.


“Owh kirain kalau jadi kakak iparnya Nisa.” Goda Siti lagi.


“Yee mbak Siti, Nia masih kecil belum boleh pacaran malah


kang Jafar ditugasi jaga Nia agar tidak pacaran.” Jawab Nia.


“Owh begitu syukurlah, soalnya akan banyak yang cemburu dan


patah hati nanti.” Goda Siti. Sementar Fitri hanya diam cemberut mendengar


ucapan Siti tersebut.


“Maksut mbak Siti si Nadhiroh ? gak lah kang Jafar juga


anggap dia sebagai teman saja kok.” Jawab Nia.


“Lah kok ning Nia tahu ? Memang suka ngobrol sama Jafar juga


?” desak Siti.


“Gak juga, abi dan umi yang nanya ke kang Jafar dan Nia


denger waktu itu.” jawab Nia.


“Mang Ning Nia gak suka sama jafar kakaknya Nisa ?” tanya


Siti lagi.


“Iih Siti, orang Ning Nia masih mau sekolah dan ngaji juga kok


di tanyain yang gak gak sih ?” sahut Fitri yang tampak kurang suka dengan


pertanyaan Siti tersebut. meski memang Siti sengaja memancing reaksi Fitri


dengan pertanyaan ke Nia.


“Wah tampaknya ada persaingan merebut hati kakakmu Nisa. Kalau


Nisa sendiri lebih suka punya kakak ipar siapa, Nadhiroh Siti atau Fitri.” Balas


Nia ganti menggoda mereka.


Nisa hanya senyum senyum saja mendengar obrolan kakak kakak


seniornya dengan Nia tersebut.


“Kalau Nisa sih terserah mas Jafar saja nanti.” Jawab Nisa.


“Aah kalau Siti kayaknya mau sama kakakmu yang namanya Sidiq

__ADS_1


saja Nis, kalau jafar masih tuaan aku.” Sahut Siti.


“Sok PD lu Ti, ya kalau kakaknya Jafar belum punya pacar dan


mau sama kamu.” Ledek Fitri.


“Ya gak papa, namanya juga usaha, dari pada suka gak berani


ngomong tahu tahu diambil orang gimana ?” jawab Siti disambut tawa Nia dan Nisa


juga.


“Iih ya gak lah masak cewek mendahului, gimana dong ?” ucap


Fitri.


“Nah ketahuan kan, secara tidak langsung kamu berharap jafar


yang mendahului bilang suka sama kamu ya ?” sahut Siti merasa berhasil


memancing Fitri.


“Gak kok gak gitu maksut Fitri,jangan biki Gosip dong Ti.” Kata


Fitri jengkel dan malu.


“Lah terus bagaimana ? kan mending kayak Nadhiroh berani


terus terang meski belum ada kepastian dari Jafar. Jadi kamu bilang saja kalau


suka sama Jafar, biar pada tahu.” Ucap Siti.


“Gak lah Fitri malu kalau mendahaului bilang suka sama


cowok.” Sahut Fitri.


“Jadi beneran nih, mbk Fitri suka sama kang Jafar ? kalau


Nia penasaran pengen lihat  foto kakak


kamu yang namanya Sidiq Nisa boleh gak ?” tanya Nia ke Nisa.


“Boleh saja mbak, tapi hanya di ponsel.” Jawab Nisa sambil


menyerahkan Ponsel dan menunjukkan Foto Sidiq.


“Wah lebih macho ini kayaknya, penampilannya lebih keren


dari kang Jafar.” Ucap Nia.


Siti dan Fitri pu jadi penasaran pingin lihat foto Sidiq,


dan mereka pun ikut melihat foto foto Sidiq di ponsel Nisa.


“Lah memang kalian belum pernah lihat juga ?” tanya Nia pada


Fitri dan Siti.


“Hehehe… belum.” Jawab Fitri dan Siti.


Nisa hanya tersenyum menhan tawa mendengar dua seniornya


itu.


“Nisa punya kakak cakep begini kok diam saja sih, mau dong


Siti di kenalin sama Sidiq.” Ucap Siti.


“Fitri juga dong Nisa.” Sahut NIsa.


“Gak boleh, biar Nia saja yang kenal sama Sidiq kalian cukup


kenal kang Jafar saja, hehehe,,,,!” sahut Nia ikut bercanda dengan mereka.


Suasana di kamar Nisa jadi meriah sampai dengan waktu Isya


tiba. Dan mereka pun kemudian lekas bersiap untuk sholat isya berjamaah. Tidak lupa


juga Nia ikut berangkat bersama Nisa dan kakak kakak seniornya.


*****


Di runag tamu sebelum Jafar Ziarah ke makam


“Kamu harus lebih fokus lagi, jangan kau pikirkan suara atau


wujud apapun ketika tidak mengucap salam kepadamu Jafar.” Pesan sang Kiai


kepada jafar sebelum berangkat ke makam.


“Iya bah, semalam juga Jafar biarkan saja hanya sedikit


mengganggu konsentrasi saja.” Jawab Jafar.


“Ya sudah kalu belum makan makan dulu sana abah mau bicara


sama umi nanti kamu langsung berangkat saja gakusah pamitan lagi.” Perintah


abah gurunya Jafar.


“Iya bah.” Jawab Jafar sambil melangkah meninggalkan ruang


tamu.


Setelah tinggal berdua dengan istrinya sang kiai pun segera


menanyai istrinya.


“Apa kamu sudah bialng ke Nia, kalau dia mau kita titipkan


ke orang tuanya Jafar dan Nisa. Sekaligus biar ngaji disana juga ?” Tanya sang


Kiai.


“Belum bi, kan katanya mau ketemu mereka dulu sebelum


memastikan ?” Jawab istri sang kiai.


“Iya memang, maksutku memang jangan bilang dulu.” Kata sang


Kiai.


“Belum kok bi, umi juga belum berani ngomong tanpa izin abi


dulu.” Jawabistrinya.


“Syukurlah, kalau begitu besuk saja kita ke rumah Yasin. Sekalian


mau bicara hal penting lainnya nanti.” Ucap sang Kiai.


*****


Setelah selesaimakan malam Jafar pun bergegas berangkat ke


makam.


“Kenapa perasaanku tidak enak mala mini, dan kenapa abah


tadi berpesan agar aku tidak menghiraukan suara atau pu wujud apapun yang akan


datang. Kecuali mengucap Salam lebih dulu.” Kata hati Jafar.


Jafar berhenti sejenak kemudian memanjaatkan doa seblum


melangkah meninggalkan area pondok pesantren Jafar segera bergegas menuju ke


makam. Dan dengan berjalan kai Jafar pun menempuh perjalanan ke makam. Hal biasa


bagi seorang Santri berjalan sekitar dua kilo meter untuk Ziarah kubur.


Sampailah Jafar ke makam kedua orang tua Abah gurunya, sgera


mengucap salam untuk ahi kubur dan segera masuk menuju ke makam orang tua abah


gurunya Jafar.


Dan di saat yang sama Sidiq pun melakukan hal yang juga sama


dengan Jafar. Sidiq pun Ziarah ke makam kedua orang tua abah gurunya Sidiq. Maka


malam itu dua anak laki laki Yasin yang beda ibu itu melakukan kegiatan yang


sama dan di tempat yang berbeda.


Berbeda dengan Jafar, Sidiq saat itu masih terbebani dengan


pertemuanya dengan Jalu serta ingat kejadian saat membopong dan mengobati


Riska.


Kedua anak Yasin itu pun secara hampir bersamaan melakukan Ziaroh


di tempat yang berbeda.


 Bersambung

__ADS_1


Episode berikutnya


“Nia dititipkan Yasin dan Fatimah.”


__ADS_2