
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Dibawah bimbingan Yukimoto ketiganya melakukan ritual khusus di tengah kobaran api yang membakar rumah tersebut. dan secara serempak ketiganya melakukan ‘Harakiri’ menusuk perut mereka masing masing dan merobek ke samping sambil menahan sakit yang amat sangat tentunya. Akhirnya mereka bertiga mati bersama, sebelum api besar melahap habis seluruh rumah tersebut, termasuk semua mayat yang ada disitu termasuk mayat Yukimoto dan Rahardian juga Anggada.
Hanya tinggal Mutsashi yang hidup dan masih menunggu markas Ninja Yukimoto…!!!
Akhir yang tragis bagi Yukimoto dan anak buahnya, meskipun berhasil membalas dendam atau menghabiskan seluruh anak buah Rahardian hingga tak tersisa. Namun mereka juga harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Namun begitulah keyakinan yang mereka anut dalam klan Ninja tertentu. Bahwa kematian di tangan sendiri untuk menghapus malu jika dikalahkan lawan adalah lebih terhormat daripada dibunuh lawan. Ataupun tertangkap hidup sebagai tawanan, itu lebih memalukan.
Mutsashi yang berada di markas Yukimoto pun seakan sudah mendapat firasat bahwa pimpinan dan rekan rekan nya akan berakhir dengan hara kiri. Sehingga dia sudah persiapan untuk membakar markas dan bersiap meninggalkan markas tersebut. Dengan terlebih dahulu mengemas sesuatu yang dianggap penting untuk diselamatkan. Termasuk sebuah buku tentang jurus jurus Ninja yang tersimpan rapi, juga pusaka pusaka bersejarah yang dikeramatkan.
Semua yang dianggap penting sudah dikemas dalam sebuah kotak kayu dan siap untuk dibawa pergi. Sambil menunggu matahari terbit, Mutsashi pun mengadakan ritual tertentu untuk menghormati Dewa Matahari yang dipuja nya. Serta memberikan penghormatan dan ucapan terimakasih kepada seluruh leluhur dan Yukimoto sebagai pimpinan nya. Karena Mutsashi sudah Yakin jika Yukimoto pasti akan melakukan hara-kiri.
Dan begitu Matahari sudah terbit, dengan sekali sulut api pun dengan cepat menjalar membakar seluruh markas Yukimoto. Sementara Mutsashi segera meninggalkan tempat itu setelah melakukan penghormatan seperti bersujud tiga kali menghadap matahari dan Markas tersebut. dia segera berjalan meninggalkan markas tersebut dengan air mata yang menetes menahan sedih hatinya. Sebuah tanggung jawab besar untuk menghidupkan lagi klan Ninja mereka, dan kini beban itu ada pada Mutsashi seorang diri.
Dan demi melancarkan Tugas nya Mutsashi mengganti namanya dengan nama Lokal. Mutsashi pun berpakaian seperti penduduk Lokal untuk mencari pengikut lokal yang akan direkrut sebagai anggota Klan Ninja Yukimoto. Mutsashi mengganti namanya menjadi ‘Susiana’. Agar lebih mudah dikenali dan mengenali orang atau penduduk lokal.
*****
Empat tahun setelah peristiwa itu
Kejadian yang menewaskan Rahardian dan Anggada juga semua anak buahnya termasuk para Lady Ninja berlalu sudah. Sempat ada kejadian karena anak buah Rahardian atau lebih tepatnya anak buah orang tua Rahardian menuduh itu semua ulah Yasin. Sehingga sempat merusak semua perkebunan milik Yasin saat Yasin dan keluarganya tidak di rumah. Bahkan membakar rumah Yasin, untung saja warga yang melihat segera membantu memadamkan api yang membakar rumah Yasin tersebut.
Yasin yang sudah mereda emosionalnya pun tidak lantas membalas perlakuan anak buah orang tua Rahardian tersebut. Yasin lebih memilih diam dan kembali membangun usahanya dari awal lagi.
Namun seiring berjalanya waktu masalah itu pun reda dengan sendirinya, dan Ponco masih tinggal di tempat Yasin. Namun setelah Ponco merasa cukup dalam mempelajari agama. Dia mohon diri pada Yasin untuk kembali ke rumahnya. Ada satu hal yang dilupakan Ponco, perihal pesan Steve kepada Ponco terkait hadiah untuk Yasin.
Yasin sendiri merasa saat ini sudah tidak waktunya untuk mempergunakan kekerasan dalam hidupnya. Semua anak anaknya sudah masuk pesantren, Yasin hanya tinggal berdua dengan Fatimah Istrinya. Setiap sore hanya ditemani anak anak kecil yang belajar mengaji kepada mereka berdua. Apalagi setelah Ponco pun ikut berpamitan untuk pulang ke rumahnya, maka Yasin seringkali merasa kesepian saat malam hari. Dan hanya berdua dengan Fatimah istrinya, sehingga Yasin pun punya rencana untuk mengadakan kegiatan keagamaan di rumahnya dengan melibatkan warga sekitar.
Ada sebuah kendala karena saat itu Yasin sedang memulai kembali usahanya dari Nol. Setelah semua perkebunan miliknya di hancurkan oleh anak buah orang tua Rahardian. Sehingga kondisi ekonomi Yasin pun saat itu baru dalam kesulitan atau hanya pas pasan saja.
“Fat, bagaimana kalau kita mengadakan semaan Al Quran dan sholawatan di rumah biar tidak sepi begini tiap malam.” Ucap Yasin pada Fatimah istrinya.
“Fatimah setuju saja, tapi bagaimana dengan biaya yang harus dikeluarkan. Bukankah kita saat ini sedang kembali merintis usaha lagi.” Tanya Fatimah pada Yasin.
“Iya juga ya, kita mulai dari sedikit orang dulu aja kan tujuannya bukan untuk membuat acara yang besar sekedar kegiatan rutin saja.” Jawab Yasin.
“Iya sih, maksut Fatimah kan saat ini kita baru agak kesulitan dalam hal ekonomi.” Ucap Fatimah.
“Gak papa Fat, kita ini sudah tua sekarang mau apa lagi. Sudah tak perlu lagi mengejar harta dunia lagi, kita lebih membutuhkan ketenangan hati.” Jawab Yasin.
“Maksut Fatimah, masak iya kita mengundang mereka tidak memberikan suguhan sebagai penghormatan kepada tamu mas ?” ucap Fatimah.
“Ya kita beri jamuan sekedarnya saja lah gak perlu kita mengada adakan.” Jawab Yasin.
“Tapi walau bagaimanapun Fatimah rasa kita tetap harus berusaha bangkit lagi dalam mencari maisyah ( Nafkah ). Agar kita juga bisa bersedekah meski tidak harus mewah.” Sahut Fatimah.
“Iya kalau itu tetap harus, hanya saja saat ini aku juga bingung mau memulai dari mana. Karena semua milik kita sudah hancur. Saat ini kita tak lagi punya modal yang cukup, bahkan kios pun sudah kita pindah tangankan ke orang lain.” Jawab Yasin.
Dalam hati Yasin juga merasa prihatin, karena saat ini hanya bisa membiayai ketiga anaknya secara pas pasan untuk hidup dan belajar di pesantren. Dengan membuka warung kecil kecilan di depan rumahnya, sejak perkebunan dan pembibitan buahnya dihancurkan anak buah orang tua Rahardian.
Sehingga apa yang diinginkan Yasin itupun hanya menjadi sebuah wacana belum bisa direalisasikan. Dan kondisi seperti itu sebenarnya sudah pernah di warning oleh Yuyut, saat pulang dari ziarah ke makam kakeknya Yasin. Namun sayangnya Yasin kurang tanggap dengan Nasehat Yuyut waktu itu. bahwa Yasin akan mengalami suatu kondisi terpuruk secara ekonomi. Bahkan akan mengalami dipandang sebelah mata oleh mayoritas masyarakat.
__ADS_1
Hari hari Yasin saat itu betul betul memprihatinkan secara ekonomi. Demi bisa memperjuangkan ketiga anak nya bisa terus belajar dan mengaji. Tidak jarang Yasin dan Fatimah harus menjual satu persatu barang yang dimilikinya demi belajar anak anaknya. Bahkan mobil dan semua perhiasan yang Fatimah saat itu sudah terjual semuanya.
Dalam realita kehidupan masyarakat tidak bisa dipungkiri jika mayoritas orang masih memandang strata seseorang. Sehingga Yasin yang dulu omongannya sering dijadikan pegangan atau panutan, saat ini hampir tak ada orang yang mau mendengar ucapan Yasin meski itu benar sekalipun. Kecenderungan orang mendengar siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan.
Yasin dan Fatimah memang tidak mempedulikan semua itu, hanya masa depan anak anak nya yang mereka pikirkan. Tak peduli dengan nyinyiran orang yang menganggap apa yang menimpa Yasin adalah karma atas perbuatan Yasin di masa lalunya.
Begitulah keadaan Yasin dan Fatimah saat ketiga anaknya sudah masuk ke pesantren. Karena Nisa ngotot ikut masuk ke pesantren saat Jafar dimasukkan ke pesantren. Sebuah ujian berat bagi keluarga Yasin, harus hidup di bawah tekanan dan himpitan ekonomi dan cemoohan warga sekitar.
Pernah juga Fatimah terlintas mau meminta bantuan kepada saudara saudaranya, namun dilarang oleh Yasin. Karena semua saudaranya pun baru membutuhkan biaya besar juga untuk anak anaknya. Sehingga Fatimah hanya menurut saja, dengan hidup serba pas pasan.
*****
Author POV
“Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu keluarga Zain saat ini. aku tahu mereka pasti dalam kesulitan karena semua sumber pendapatan mereka selama ini sudah hancur semua.” Kata Ponco dalam hati.
Ponco yang belum begitu lama meninggalkan rumah Yasin tahu kondisi keluarga Yasin namun juga tak bisa banyak membantu. Bahkan memilih meninggalkan rumah Yasin karena tahu jika masih ikut Yasin dirinya justru akan menambah beban bagi keluarga Yasin. Sementara Ponco sendiri tidak dapat membantu secara finansial kepada keluarga Yasin.
Suatu hari Ponco yang sedang merenung sendirian di rumahnya, berpikir bagaimana caranya bisa membantu keluarga Yasin yang sedang terhimpit masalah ekonomi itu. namun apa daya Ponco sendiri pun saat itu juga tidak punya pekerjaan tetap. Masih untung tidak kembali ke jalan hidupnya yang dulu, masih tetap bertahan dengan pendiriannya untuk meninggalkan masa lalunya yang kelam.
Dan secara tiba tiba Ponco jadi ingat dengan Steve sahabatnya dulu, yang seringkali membantunya saat dia dalam kesulitan dalam hal apapun. Termasuk juga saat sedang mengalami kesulitan ekonomi dan mengalami masalah finansial. Karena harus membiayai kedua orang tuanya, maka Steve lah yang membantu Ponco dalam hal keuangan. Sehingga wajar jika Ponco sampai menangis saat Steve hendak meninggalkan Ponco saat itu.
Ponco hanya dapat duduk termenung, sambil menyangga dagunya tidak tahu harus berbuat apa. Untuk kehidupan dia sendiri dan juga untuk membantu Yasin yang dalam kesulitan tersebut. Hanya ditemani segelas kopi dan beberapa gorengan sebagai teman minumnya. Ponco melamunkan dan membandingkan kehidupannya yang dulu.
Tanpa disadari Ponco ada seseorang yang hadir dan melihatnya dengan tatapan tajam penuh selidik kepada Ponco. Bahkan Ponco pun belum menyadari kehadiran orang tersebut, yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya yang terbuka. Ponco asik dengan lamunan nya, sementara orang tersebut menatap Ponco sambil tersenyum kecut. Melihat Ponco yang tidak banyak berubah secara fisik tersebut.
“Eheeemm..! Ngelamunin siapa Ponco, apa kamu baru melamunkan seorang wanita dan ingin menikahinya ?” tanya orang tersebut, membuat Ponco kaget. Dan lebih kaget lagi setelah tahu siapa orang yang menyapanya tersebut. Yang tidak lain adalah Steve sahabat sekaligus gurunya dulu saat masih menjadi anak buah Rahardian.
“Steve….!!! Benarkah itu kamu ?” Teriak Ponco sambil mengucek matanya setengah tidak percaya dengan penglihatannya. Dan meyakinkan itu bukanlah sebuah mimpi bertemu dengan Steve.
“Iya Ponco, ini aku Steve aku sengaja mengunjungi kamu setelah sekian tahun kita berpisah. Tidak ku sangka kamu masih tinggal sendirian disini. Kupikir kamu sudah menikah dan mempunyai anak istri.” Ucap Steve. Kemudian Ponco menghampiri Steve dan memeluk Steve melepas rasa kangen nya pada Steve, sahabatnya itu.
Setelah itu Ponco menyuruh Steve masuk ke rumahnya, dan setelah duduk Ponco kemudian menceritakan apa yang sedang dialami keluarga Yasin saat ini. Steve pun mengerutkan kening seakan tidak percaya dengan keadaan Yasin seperti yang diceritakan Ponco itu.
Kemudian Ponco menceritakan kejadian perusakan kebun kebun milik Yasin, dan peristiwa percobaan membakar rumah Yasin yang dilakukan oleh orang tua Rahardian, yang menuduh Yasin sebagai otak atas peristiwa yang menimpa Rahardian anaknya.
Steve mendengarkan dengan serius cerita Ponco tersebut, ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Steve mendengar cerita Ponco tersebut. karena Ponco juga menceritakan bahwa kondisi rumah Yasin yang sebenarnya sudah harus di renovasi namun tetap dibiarkan karena kondisi yang sedang dialaminya tersebut.
“Maaf Ponco, apakah pesan yang aku sampaikan kepadamu waktu itu sudah kamu laksanakan ?” tanya Steve yang membuat Ponco justru menjadi bingung karena tidak ingat apa pesan Steve yang dimaksud itu.
“Maksutnya pesan yang mana Steve ?” tanya Ponco bingung.
“Bukankah saat aku mau pergi dulu aku pernah berpesan, sebulan setelah aku pergi kamu aku minta mendatangi sebuah alamat untuk mengambil hadiah kecil buat Zain…?!?” jawab Steve.
Ponco pun baru ingat saat itu juga, selama beberapa tahun Ponco sama sekali tidak ingat akan pesan yang disampaikan Steve tersebut. Sehingga Ponco pun hanya bisa menyesali atas kesalahannya tersebut dan meminta maaf kepada Steve.
“Iya, maaf aku bahkan sama sekali tidak ingat kalo kamu berpesan seperti itu. Tapi kalau boleh tahu, hadiah kecil apa yang kamu maksut waktu itu Steve ?” tanya Ponco.
Kemudian Steve menceritakan bahwa, saat itu Steve menjual rumah miliknya untuk berangkat ke jepang bersama anak istrinya. Dan sebagian dari uang hasil penjualan tersebut dia tabung dan ATMnya dia serahkan kepada seseorang yang alamatnya diberikan ke Ponco. Dan Ponco diminta mengambil ATM berikut nomor PIN nya, tersebut untuk diserahkan kepada Yasin.
Ponco jadi menangis atas keteledorannya tersebut, seandainya dia ingat tentulah keluarga Yasin tidak sampai mengalami hal tersebut. Hingga saat ini Yasin tidaklah terpuruk bahkan menjadi gunjingan masyarakat di sekitarnya.
“Sudah lah Ponco, semua sudah terjadi tidak mungkin bisa memutar waktu kembali ke dahulu.” Ucap Steve menghibur Ponco.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang Steve ?” Tanya Ponco.
“Kita datangi orang tersebut, dan kita minta kartu ATM kemudian kamu berikan kepada Zain. Aku harap kamu gak usah cerita jika itu dari aku. Terserah bagaimana cara kamu, yang penting Zain bisa kembali bangkit tidak terpuruk seperti itu.” ucap Steve.
Ponco hanya menuruti ucapan Steve, kemudian mengikuti Steve menuju ke sebuah alamat yang dulu diberikan kepadanya. Dan segera steve pun mengajak Ponco untuk menemui seseorang yang dianggap Steve bisa dipercaya tersebut.
*****
Jafar POV
__ADS_1
Jafar dan kedua saudaranya tahu jika ayah dan bundanya saat ini sedang dalam kondisi terpuruk ekonominya. Sehingga mereka pun berusaha untuk tidak meminta kiriman ke orang tuanya. Dan mereka selain mencari kegiatan produktif diluar jam ngaji dan jam sekolah. Mereka juga seringkali saling bertemu untuk membicarakan perihal masalah orang tuanya tersebut.
“Nisa, kamu kan sekarang sudah cukup dewasa. Jadi mas minta kamu bisa mandiri. Biar mas JAfar dan Mas Sidiq cari kerjaan diluar jam ngaji dan jam sekolah. Kamu irit irit saja uang hasil kerja kami.” Ucap ku kepada Nisa adik ku. Nisa yang satu pesantren dengan ku tersebut hanya mengangguk sambil menitikkan air mata.
“Nisa juga kasihan sama ayah bunda mas, apa yang bisa Nisa lakukan untuk membantu mereka. Agar beban yang dipikulnya lebih ringan.” Jawab adik ku, yang sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.
“Tidak perlu begitu Nisa, kamu masih terlalu kecil untuk ikut jejak kakak kakakmu. Asal kamu bisa irit saja itu sudah sangat membantu kami.” Ucap ku kepada Nisa.
“Terus mas Jafar dan Mas Sidiq sebenarnya kerja apa sekarang ?” tanya Nisa kepadaku.
“Kamu gak perlu tahu, yang jelas kerja halal demikian juga mas Sidiq dia sekarang juga sudah bisa cari uang sendiri untuk biaya hidup kita bertiga. Dan aku juga sedikit bisa membantu meringankan beban mas Sidiq.” Ucapku.
Nisa ingin menangis menghadapi kenyataan hidup yang dialami keluarganya saat ini.
“Nisa sangat sedih mas, jika tidak bisa membantu meringankan beban kalian dan juga Ayah bunda. Nisa merasa dulu sangat nakal dan selalu menyusahkan Ayah bunda. Rasanya ingin sekali membantu mereka, apalagi Ayah sudah tidak punya kendaraan dan bunda pun sudah menjual semua perhiasan miliknya.” Ucap Nisa sedih.
AKu pun ikut haru mendengar ucapan Nisa tersebut, namun Aku juga tidak tega jika Nisa adik ku yang baru masuk kelas satu Madrasah tsanawiyah tersebut harus ikut mencari uang seperti diri ku dan mas Sidiq.
“Kamu gak usah begitu Nisa, ayah bunda pasti ikhlas kok membiayai kita selama ini. dan Mas Sidiq memilih bekerja sambil ngaji tidak melanjutkan sekolah. Jadi jangan sia siakan perjuangan mas Sidiq juga. Nisa harus rajin belajar dan mengaji.” Ucapku kepada Nisa.
“Iya mas, Nisa gak akan sia siakan pengorbanan mas Sidiq dan Mas Jafar. Pokoknya Nisa akan belajar giat dan serius mengaji.” Ucap Nisa.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban adikku tersebut, ada semacam kebanggaan kepada Nisa adik ku yang sekarang sudah bisa berpikir secara dewasa. Sangat berbeda dengan Nisa waktu kecil dulu yang manja dan sangat kolokan.
Aku bertekad untuk bisa membantu meringankan beban Ayah bundaku dan mas Sidiq. Agar bisa membahagiakan kedua orang tuaku dan mengangkat nama baik keluarga. Aku akan buktikan ayah bundaku adalah orang yang hebat. Meski sekarang jadi cemoohan orang, hanya karena kondisi ekonomi ayah bundaku yang terpuruk. Bukanya aku mendendam, namun jujur aku juga merasa ayah bundaku sekarang ini tidak diperlakukan dengan adil oleh masyarakat.
Padahal kurang apa ayah bundaku dalam berkegiatan sosial ? dahulu saat belum terpuruk juga sering membantu orang,sekarang saat terpuruk boro boro dibantu malah dicibir dan di gunjing. Jadi aku harus bisa buktikan dan aku harus bisa mengangkat martabat keluargaku lagi.
Sedih rasanya, setiap aku pulang selalu mendengar orang orang membicarakan ayah bundaku dengan nada sinis dan merendahkan. Jika tidak mengingat pesan Abah guru ku, ingin rasanya aku membalas perlakuan mereka dan mengajak orang yang menghina ayah bundaku untuk berkelahi. Untunglah mas Sidiq jarang pulang sehingga tidak tahu persis perlakuan orang orang kepada ayah bunda. Jika tahu aku gak yakin mas Sidiq akan diam saja. Untunglah mas Sidiq sibuk dengan pekerjaan yang dia tekuni saat ini. Sehingga tidak sempat mendengarkan omongan orang yang membenci ayah bunda, dan tidak sampai membuat perhitungan dengan mereka.
Tidak terasa aku dan Nisa sudah sampai di pondok pesantren kami, setelah menemui mas Sidiq di pesantren nya. Karena mas Sidiq di pesantren yang terpisah dengan kami. Sehingga kami harus saling berkunjung jika ada pembicaraan yang harus dilakukan bertiga.
*****
Author POV
Sementara itu Steve dan Ponco, mencari orang yang dititipi sesuatu oleh Steve. Namun sayangnya orang yang dimaksud ternyata sudah meninggal, sementara anak dan istrinya tidak tahu apa apa tentang titipan tersebut. Sehingga hari itu Steve dan Ponco hanya bisa pulang dengan tangan hampa, apa yang mereka belum berhasil untuk memberikan kejutan kepada Yasin.
“Apakah orang itu benar benar tidak tahu, atau justru dia sendiri yang memanfaatkan hadiah yang sedianya mau kamu berikan kepada Zain ?” tanya Ponco kepada Steve.
“Entah lah, aku belum tahu secara Pasti. Aku nanti coba cari buku rekeningnya dulu, barangkali masih ada. Sehingga bisa mengecek saldonya apakah masih utuh atau ada penarikan. Kalo buku rekeningnya ketemu kita tarik saja semua, dan kita serahkan kepada Zain semua. Sudah gak perlu dirahasiakan lagi, dan Zain harus mau menerima itu.” Ucap Steve.
“Itu yang sulit Steve, karena Zain bicara dengan adiknya tentang keadaan dirinya pun tidak pernah mau.” ucap Ponco.
“Terus dari mana kamu tahu kondisi Zain sesungguhnya?” tanya Steve.
“Bukankah aku juga ikut tinggal Di sana lama, jadi tahu keadaan mereka secara langsung. Makanya aku lantas pamit takut malah justru menambah beban hidup mereka jika terus di sana.” Kata Ponco.
Begitulah percakapan Ponco dan Steve, mereka kembali ke rumah ponco dan Steve sambil mengingat ingat dimana menyimpan buku rekeningnya tersebut. dan masih bisa berharap jika tidak ketemu maka terpaksa mengurus ke bank dimana dia menyimpan uangnya dulu. Untuk mengurus buku tabungan dan ATM nya tersebut, namun waktu yang sudah sore dan kebetulan malam minggu, maka mau gak mau mereka harus menunda sampai dengan hari senin. Steve sebenarnya ingin menemui Yasin saat itu juga, namun akhirnya berubah pikiran.lebih baik menunggu sampai mendapatkan kembali hadiah kecil yang disiapkan tersebut.
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Hari hari menjelang kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
__ADS_1
...🙏🙏🙏...