Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Rahasia raja Khodam Dalang Anyi Anyi 1


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Rahasia raja Khodam Dalang Anyi Anyi 1...


"Langsung gunakan Jurus Pemecah Ombak saja Kang, dari pada kelamaan,” sahut Jaladara langsung mempersiapkan jurus Pemecah ombak.


“Ihsan, gunakan tongkat dari Abah guru untuk melawan, Gunakan jurus ‘Ya’ juga kang Kholis, bantu kita ya,” ucap Sidiq.


Sidiq memberi aba aba, Ihsan dan Kholis pun segera bersiap menggunakan Jurus  “Ya”. Dua orang dengan jurus pemecah ombak melawan Jurus “Ya” dari tiga orang santri muda.


Kedua belah pihak sudah sama sama siap untuk melancarkan pukulan masing masing. Sidiq mengambil alih komando untuk memberi aba aba Ihsan dan Kholis.


 


Begitu Gagak Seta dan Jaladara, melancarkan serangan Sidiq memberi aba untuk menapakkan telapak tangan ke tanah. Kemudian dua kekuatan berupa angin saling benturan, akibatnya semua tersurut ke belakang. Gagak Seta dan Jaladara terdorong ke belakang beberapa meter. Sementara Sidiq dan Kholis juga terjatuh kena hempasan tenaga dari jurus Pemecah Ombak.


Hanya Ihsan yang terpental agak jauh, karena tingkat kanuragan Ihsan dibawah Sidiq dan Kholis.


Tak puas dengan hasil yang hampir seri, Gagak Seta dan Jaladara segera menyerang Sidiq dan Kholis yang terjatuh.


“Ihsan, kamu sebaiknya minggir saja dulu, biar kang Kholis dan aku  yang melawan mereka,” ucap Sidiq.


“Iya Diq, Kang Kholis gunakan ini sebagai senjata,” ucap Ihsan melemparkan tongkat yang dibawanya.


Kholis pun dengan cekatan menerima tongkat dari Ihsan untuk menangkis serangan Gagak Seta dan Jaladara yang memakai lambaran ilmu Karang Hitam.


Pertempuran berlangsung sengit, Sidiq dan Kholis cukup kerepotan di awal pertempuran. Tubuh Gagak Seta dan Jaladara mengeras bagaikan karang yang kokoh. Hantaman tongkat yang mereka pukulkan sama sekali tidak memberikan efek bagi Gagak Seta dan Jaladara.


“Kenapa, tongkat pemberian Abah guru tidak dia rasakan, apakah aku salah dalam menggunakannya?” ucap Sidiq dalam hati.


Kemudian Sidiq berpikir mencari cara melumpuhkan dua orang tersebut.


Sambil beberapa kali menghindari dan menangkis serangan dari kedua bersaudara yang menyerang secara acak. Kadang Gagak Seta menyerang Sidiq, kemudian berganti menyerang Kholis. Sementara Jaladara juga berlaku sebaliknya. Mereka menyerang musuh bergantian, karena memang itulah jurus karang menghantam musuh bergantian.


Kholis juga merasa sedikit bingung dengan Pola jurus Gagak Seta dan Jaladara. Melihat Kholis bingung Sidiq dengan cepat merubah jurus menggunakan jurus “Mim” agar bisa kolaborasi dengan Kholis mengimbangi jurus Gagak Seta dan Jaladara.


Jurus  “Mim” yang banyak gunakan gerak memutar memungkinkan Sidiq dan Kholis berbagi lawan bergantian. Mengimbangi gerakan Gagak Seta dan Jaladara dengan jurus Karang Hitamnya.


 


Usaha Sidiq tidak sia sia, beberapa kali Gagak Seta dan Jaladara gantian terdesak. Bahkan beberapa kali pukulan dan tendangan Sidiq serta Kholis mendarat di tubuh mereka. Gagak Seta dan Jaladara, melompat mundur beberapa langkah setelah terkena pukulan beruntun dari Sidiq dan Kholis.


“Jangan bangga dulu kalian, kami masih punya senjata Pamungkas kami, Ilmu Karang, yang akan membuat kalian semua hancur menjadi Debu,” ucap Gagak Seta.


“Seluruh Padepokan ini pun akan kami ratakan dengan tanah,” sahut Jaladara.


Sidiq mendekati Kholis dan berbisik.


“Maaf Kang Kholis, tanpa mengurangi rasa hormatku. Kali ini biar aku sendiri yang akan menghadapi mereka,” ucap Sidiq Pelan.


“Kamu Yakin Kang? Tapi mereka berdua dengan ilmu yang sama, sedangkan Kang Sidiq hanya sendirian,” ucap Kholis.


“Apa boleh buat kang, hanya aji waringin sungsang atau golok hitam yang menandingi ilmu mereka,” jawab Sidiq.


Kholis sadar akan hal itu, namun dua ilmu karang melawan satu ilmu Waringin sungsang membuat Kholis khawatir akan Sidiq. Meski juga tak tahu harus berbuat apa, mau menghadap gurunya pun sudah tak ada waktu lagi.


Akhirnya Kholis hanya dapat berharap Sidiq mampu menahan ilmu dari kedua orang tersebut. Sementara Ihsan juga hanya mampu menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Mau membantu tidak mungkin, tapi diam saja juga bagaimana, pikir Ihsan.


Setelah cukup lama, Sidiq segera menyiapkan lahir batinnya. Bersiap menghadapi dua orang dengan Ilmu Karang, Sidiq berusaha menyingkirkan perasaan was-was, dengan motivasi ini demi menjaga keselamatan Nisa Adiknya yang menjadi target kejahatan mereka.


“Apakah kamu sudah bersiap menemui Ajal kamu, Bocah?” tanya Gagak Seta.


“Atau ada pesan terakhir kamu sebelum nafas  terakhir keluar dari hidungmu?” Sahut Jaladara.

__ADS_1


“Sebaiknya, kalian lah yang perlu membuat wasiat, mau dimakamkan dimana dan dengan cara apa?” jawab Sidiq tenang.


“Masih juga bisa sombong, sudah didepan maut juga,” kata Gagak Seta.


“Biarkan saja Kakang, itu adalah kesombongan terakhir yang dapat dia lakukan” sahut Jaladara.


Kedua bersaudara itu pun tertawa dengan keras, sehingga memancing kedatangan beberapa Santri yang bersiap untuk melakukan Tahajud. Mereka heran melihat dua orang yang membuat keributan di Pesantren Mereka. Semula mereka mengira yang menghadapi dua orang tersebut adalah Jafar.


Namun begitu melihat ada keberadaan Ihsan juga disitu, mereka baru sadar. Jika yang menghadapi mereka bukan Jafar melainkan Sidiq, kakaknya Jafar. Suasana semakin ramai, karena semakin banyak santri yang ikut menyaksikan.


“Lekas, kita habisi saja, keburu Ayam berkokok lagi,” ucap Gagak Seta.


“Baiklah Kakang, ayo kita lumatkan tubuh bocah sombong itu berdua,” jawab Jaladara.


…..


Saat Gagak Seta dan Jaladara sudah bersiap menghantam Sidiq dengan ilmu karang secara bersamaan. Tiba tiba terdengar suara motor yang melaju dengan cepat. Rupanya Jafar datang tepat disaat yang kritis, sehingga Sidiq tidak harus sendirian menghadapi Gagak Seta dan Jaladara.


m


“Dasar pecundang, tak bisa satu lawan satu mai keroyokan,” kata Jafar dengan cepat menghadang Gagak Seta dan Jaladara bersama Sidiq.


“Untung kamu datang di saat yang tepat, aku sudah khawatir jika menghadapai mereka sendirian,” kata Sidiq.


“Maaf Mas, hampir saja Jafar telat,” kata Jafar.


Dengan datangnya Jafar, para Santri menjadi semakin bersemangat, dan memberi semangat kepada Sidiq dan Jafar.


Namun Gagak Seta dan Jaladara sudah terlanjur basah, segera melancarkan serangan kepada Sidiq dan Jafar secara bersamaan.


Sidiq bertahan dengan Waringin Sungsangnya, Sementara Jafar terlindungi oleh Kalimat suci yang muncul seperti layar dan lingkaran cahaya tipis, meski tak kasat mata.


Gagak Seta dan Jaladara belum sampai menyentuh Sidiq dan Jafar. Mereka seperti menabrak tameng gaib yang membuat mereka berdua terpental. Jafar tetap berdiri pada tempatnya, membaca Ayat ayat Al-quran yang muncul di hadapannya sampai selesai.


Sementara Sidiq bermaksud mengejar Gagak Seta dan Jaladara, namun sebuah bayangan hitam lebih dahulu berkelebat. Bayangan Hitam itu membawa tubuh Gagak Seta dan Jaladara yang baru saja mau bangkit.


 


Ki Ajar Panggiring menerima laporan dari Jin suruhannya, yang mengatakan jika Gagak Seta dan Jaladara sepertinya hampir tertangkap.


Sehingga Ki Ajar Panggiring segera menggunakan Prewangan untuk mengantar dirinya menolong Gagak Seta dan Jaladara.


 


“Siapa dia Diq?” tanya Ihsan yang tau tau sudah di samping Sidiq.


“Tidak tahu juga, tapi yang jelas dia adalah musuh juga.” jawab Sidiq.


“Sepertinya itulah yang bernama Ki Ajar Panggiring, salah satu musuh Ayah kita dulu Mas,” kata Jafar.


“Sudahlah, kita masuk dulu, kasihan Kang Sidiq dan Kang Ihsan, belum juga dibuatkan minum sudah harus berhadapan dengan musuh,” kata Kholis.


“Ya sudah, masuk dulu yuk Mas, nanti Jafar buatkan Kopi. Pasti Abah sudah menunggu kita di dalam,” kata Jafar.


Begitulah Jafar dan Sidiq jika sedang serius,berbeda ketika mereka sedang saling ledek seperti marahan beneran. Meski itu hanya sebatas candaan saja, bagi mereka berdua.


*****


Sidiq dan Ihsan ternyata sudah ditunggu oleh Kyai Syuhada di ruang tamu.


“Sudah puas main mainnya Sidiq?” tanya Kyai Syuhada.


“Maaf  Bah, kalau Sidiq bikin onar di Pesantren ini,” jawab Sidiq. Sementara Ihsan hanya tertunduk.


“Bukan itu, maksudku kenapa kamu memilih meninggalkan Ihsan sahabat kamu. Bagaimana jika justru Ihsan yang tadi bertemu dengan dua orang itu ?” tanya Kyai Syuhada.


Sidiq baru sadar jika tindakan dia tadi keliru. Karena bisa saja malah Ihsan yang bertemu dengan Gagak Seta dan Jaladara. Tentu saja akibatnya akan fatal bagi Ihsan.


 


“Maaf Bah, Sidiq mengaku bersalah,” jawab Sidiq.

__ADS_1


“Itu sebabnya, tongkat yang dipinjamkan guru kalian tidak berfungsi tadi. Karena kamu melanggar, meninggalkan Ihsan sehingga jarak kalian cukup jauh,” kata Kyai Syuhada.


 Setelah memberikan banyak Nasehat, Kyai Syuhada memberitahu Jika mulai saat itu, jika memanggil Nisa diluar pondok harus dengan nama Nusaibah. Agar Nisa tidak dikenali sebagai Nisa. Kemudian Kyai Syuhada juga memberitahu, jika musuh akan terus berusaha membawa Nisa dan menculik Nisa, apapun caranya.


 


“Jadi maksud Abah Syuhada, kami diberi tugas apa?” tanya Sidiq.


“Kalian carilah markas mereka, kali ini kami kesulitan menembus pagar gaibnya. Dan hanya bisa dicari dengan kehadiran fisik,” ucap Kyai Syuhada.


“Jadi kami harus mencari secara fisik, ke arah mana itu Bah?” tanya Sidiq.


“Masih belum jelas, kali ini semua serba tertutup. Karena Raja Khodam itu sudah mulai ikut campur. Dan hanya perpaduan darah Eyang Sidiq Ali dan Eyang Jafar sanjaya yang mampu menembusnya,” ucap Kyai Syuhada.


“Berarti ayah ya Bah?’ Tanya Jafar.


“Ayahmu sudah gak mungkin sekarang, jadi kalian berdua sebagai pengganti Ayah kalian yang harus bergerak,” jawab Kyai Syuhada.


“Ada apa sebenarnya dengan Raja Khodam itu, dengan Kedua Eyang kami itu Bah?” tanya Jafar.


Kyai Syuhada terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan  Jafar.


“Itu sudah dari jaman dahulu, jauh sebelum masa eyang kalian, Eyang Sidiq Ali dan Eyang Jafar Sanjaya,” jawab Kyai Suhada.


“Maksudnya bagaimana Bah?” tanya Sidiq.


“Entah kalian sudah pernah dengar atau belum, Eyangmu Jafar sanjaya itu adalah keturunan seorang Pertapa yang bukan seorang muslim. Namun  anaknya menjadi istri kedua Eyang Mustholih dan menurunkan Eyang kalian Eyang Jafar Sanjaya,” kata Kyai Syuhada.


“Iya Bah, Sidiq dan Jafar pernah mendengar itu juga dari Ayah,” Jawab Sidiq.


“Nah, kala sudah tahu, Raja Khodam Dalang Anyi anyi itu dulunya adalah salah satu khodam milik Mertua sekaligus sahabat Eyang Mustholih. Sehingga kelemahannya memang pada keturunan Eyang putri Endang Pertiwi, istri kedua dari Eyang Mustholih,” jawab Kyai Syuhada.


Sidiq dan Jafar terkejut, tidak menduga sama sekali jika jaman dahulu Raja khodam  itu justru merupakan Khodam yang dipakai oleh leluhurnya sendiri.


“Pantas, tadi Jin Qorin Ki Joyo Maruto membujuk aku mau menjadi temannya,” kata Jafar dalam hatinya.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...



 



 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2