Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Padepokan pak Suhadi diserang musuh


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Aduh pak, berat banget orang ini bantuin dong saya sudah kelelahan.” Ucapku pura pura.


Kemudian beberapa personil membantu mengangkat tubuh Gembul yang sudah penuh luka dan patah kaki di bagian lutut nya tersebut…!!!


Fatimah mendekati aku dan berbisik.


“Gak mungkin kalo mas Yasin keberatan tadi, pasti bohong !” bisik nya saat Gembul di naikkan ke pick up.


“Gak kok, aku gak bohong memang berat.” Jawabku santai.


“Gak boleh bohong mas, Fatimah tahu kok. Mas Yasin bisa angkat orang itu meski gemuk begitu.” Ucap Fatimah.


“Aku kan Cuma bilang berat, bukan berat tubuhnya si Gembul ?” jawabku.


“Terus berat apanya ?” tanya Fatimah.


“Berat hati ini untuk memaafkan begitu saja pembunuh Zulfan.” Kataku.


“Lah tadi bilang kelelahan juga kan ?” protes Fatimah.


“Iya memang hatiku sudah lelah menunggu kesempatan bisa menghajar Gembul…!” jawabku sambil menahan tawaku.


“Huu dasar…. Paling bisa kalo bikin alasan, bilang saja kalo masih dendam…!” gerutu Fatimah.


Tiba tiba Rofiq datang langsung memukul pundak ku.


“Kampret lo Zain, bohongin gue lagi. Arum menangis ketakutan bukan cemburu, sialan kamu…!” ucap Rofiq sewot karena belum puas menghajar Gembul tadi.


“Masak sih, kirain karena Cemburu.” Jawabku.


“Gak kok, kan tadi Fatimah juga bilang kalo Arum takut bukan nangis cemburu…!” protes Arum belain suaminya.


“Owh gitu, tadi aku kira takut kehilangan Rofiq alias cemburu berarti aku yang salah duga.” Jawabku pada Arum.


“Udah udah, kalian gak bakalan menang ngomong sama mas Yasin lidahnya licin. Percuma juga di terusin bicara.” Ucap Fatimah.


Aku hanya tersenyum menahan tawa.


“Terus lo apain tu kok kakinya sampai patah di lutut, padahal tadi rencanaku tangannya yang mau aku patahkan. Biar gak bisa lempar pisau lagi.” Gerutu Rofiq.


“Gak Cuma jatuh bareng tadi, terus lututnya tertimpa siku tanganku.”  Jawabku ke Rofiq.


“Harusnya tangannya saja tadi Zain.” Kata Rofiq.


“Gak papa, nanti kalo sembuh juga kakinya gak bisa di tekuk, karena sendi lututnya yang patah. Kalo jalan saja sudah di seret seret nanti kaki satunya.” Ucapku.


“Mas kan sudah gak boleh menuruti emosi lagi, masak masih begitu juga ?” tanya Fatimah.


“Itu manusiawi lah, namanya juga saudaranya di bunuh masak hanya diam saja.” Jawabku serius kali ini pada Fatimah.


“Kan sudah di tangani hukum, ya sudah kita maafkan saja kenapa ?” ucap Fatimah.


“Marah itu boleh, kan aku tidak sampai membunuhnya juga.” Jawabku.


“Lah terus, kenapa harus di patahkan kakinya ?” protes Fatimah.


“Kalo gak di bikin cacat, saat dia bebas masih mungkin berbuat jahat dan membawa korban wanita lagi. Makanya aku buat gerakan dan penampilannya jadi terbatas, biar tidak berbuat jahat lagi.” Jawabku.


“Kenapa harus begitu, bukankah memelihara dendam itu tidak boleh ?” tanya Fatimah. Sambil bersiap pulang. Karena semua tawanan sudah di angkut oleh Polisi.


“Kalo dendam memang tidak boleh, tapi memberi maaf bersyarat itu boleh.” Jawabku.


“Lo bisa saja Zain berdalih, itu sama saja masih menyimpan dendam namanya !” sahut Rofiq.


“Beda dong bang !” jawabku.


“Apa bedanya ?” protes Rofiq.


“Dulu saat Wasi pembunuh Sayidina Hamzah  paman nabi bertaubat, Nabi Muhammad memaafkan tapi mengusir Wasi agar segera menyingkir dari hadapan beliau. Karena kalo lihat  Wasi ingat pamannya Sayidina Hamzah yang dibunuhnya dan di ambil hati dan Jantungnya.” Jelas ku pada Rofiq.


“Makanya aku bukan sekedar menuruti amarah saja, namun juga dengan pertimbangan. Dan saat itu Wasi pun menerima sampai akhir hayatnya tidak bertemu  Rasulullah, namun dia tetap beriman sampai meninggal dunia.” Lanjut Ku menjelaskan pada Rofiq.

__ADS_1


“Udah lah pulang saja yuk, Sena dan Nurul pasti sudah nungguin kita sekarang !” ucap Fatimah.


“Jadi sena dan Nurul sudah sampai di rumah ?” tanyaku.


“Iya sudah, tadi sudah pulang di jemput keluarga pak lik Dimyati yang lain.” Jawab Fatimah.


“Syukurlah, kalo begitu ayo kita pulang sekarang. Aku dan bang Rofiq bawa motor lagi saja.” Kataku.


Kemudian aku pamitan dengan pak Adnan, untuk mendahului pulang. Sementara pak Adnan masih memasang Police Line di area rumah itu.


“Owh iya pak, silahkan nanti saya coba berangkat tahlilan juga bersama yang lain.” Ucap pak Adnan.


“Jangan semua pak, padepokan pak Suhadi masih butuh penjagaan ketat. Bisa jadi kejadian hari ini justru memancing mereka semakin brutal.” Ucapku pada pak Adnan.


“Iya pak, betul juga Gembul memang bukan tokoh utama nya. Tapi masih ada orang di atas Gembul yang mungkin masih akan bertindak.” Kata pak Adnan.


“Betul pak, dan saya masih bersedia membantu sampai tokoh utama nya tertangkap dan kondisi jadi benar benar pulih.” Kataku pada Pak Adnan.


Kemudian aku segera mengajak Rofiq pulang dengan motor menuju ke rumah Sena. Sementara Fatimah dan lainya masih menunggu pak Yadi selesai memasang Police Line.


*****


Sesampai di rumah aku dan Rofiq langsung mencari Sena dan Nurul, yang masih berbaring di kamar. 


“Alhamdulillah kalian sudah baikan, bagaimana lukanya apa sudah sembuh total ?” tanyaku pada Nurul dan Sena.


“Alhamdulillah meski belum sembuh total tapi sudah jauh lebih baik.” jawab Sena.


“Maaf ya mas Ahmad, jadi ngerepotin mas Ahmad !” ucap Nurul.


Jangan bilang begitu, apa kamu gak anggap aku kakak kamu lagi ? kamu di lukai sedikit saja aku gak akan tinggal diam. Apa lagi….?!?” Aku tak kuasa meneruskan kalimatku.


“Iya mas, Nurul faham tapi Nurul sudah ikhlaskan adik kok.” Ucap Nurul sambil berlinangan air mata.


“Iya, tapi paling tidak pelakunya sudah tertangkap. Dan akan menjadi cacat biar gak bisa berbuat jahat lagi.” Kataku.


Lama kami berbincang bincang dengan kedua adik sepupuku itu sampai Fatimah datang dan ikut bergabung dan memeluk Nurul dengan lembut. Suasana haru saat itu disertai tangis para wanita. Sehingga aku memilih untuk menyingkir, tidak ingin larut dalam suasana tersebut.


Aku lebih memilih duduk duduk di teras sambil menunggu waktu dhuhur tiba. Di temani ketiga anak anak ku.


“Ayah hebat ya, bisa menangkap penjahat.” Ucap Nisa sambil memijit tanganku.


“Iya lah ayah kita kan memang hebat.” Sahut Sidiq.


Sementara Jafar hanya memandangku seakan meneliti ayahnya ada terluka atau tidak. Tiga anak dengan tiga karakter masing masing juga berbeda dalam meng ekspresikan perasaan kepada ayahnya.


“Alhamdulillah tidak nak.” Jawabku singkat.


“Tapi Ayah panji ada luka yah di tangan nya ?” ucap Jafar.


“Iya luka kecil biasa, mungkin Om Rofiq kurang beruntung sehingga terluka.” Jawabku.


“Ayah tadi lawan berapa orang Yah ?” tanya Sidiq.


“Dua orang saja, dibantu Om Rofiq ayahnya Panji juga.” Jawabku sedikit berbohong dengan maksut tidak di tiru oleh anak anak ku terutama Sidiq yang kadang keberaniannya tidak terkontrol.


“Owh, ayahnya Panji juga hebat ya Yah ?” tanya Sidiq.


“Iya, ayahnya Panji sampai terluka karena melindungi ayah tadi.” Jawabku.


Obrolan ku dengan ketiga anakku terhenti saat terdengar kumandang adzan Dhuhur, kemudian kami segera melaksanakan sholat dhuhur.


*****


suasana malam tujuh hari Zulfan


Author POV


Berita tertangkapnya beberapa pelaku pagi tadi sudah beredar ke banyak masyarakat. Hal itu sedikit membantu kepercayaan diri masyarakat. Yang menyadari bahwa kejahatan pasti akan dapat terkalahkan. Sehingga kehidupan masyarakat sedikit mengalami perubahan, sudah tidak terlalu takut lagi untuk keluar rumah saat malam hari. Dan yang jelas empati yang di tujukan kepada Sena dan Nurul semakin banyak, yang kemarin takut mendekat ke rumah Sena sekarang sudah berani datang.


Jika kemarin tidak berani karena takut di anggap terlibat di padepokan Sena, namun kini mereka sudah tidak takut lagi. Sehingga saat peringatan  malam Tujuh hari meninggalnya Zulfan tamu yang datang sangat banyak. Belum lagi di tambah anggota Padepokan dari berbagai padepokan yang ada.


Pak Adnan menemui Yasin sebelum acara Tahlil tujuh harinya Zulfan di mulai.


“Maaf pak, teman teman sejawat kami hanya bisa menitip salam saja. Karena mereka saat ini mengawasi padepokan pak Suhadi seperti saran bapak tadi.” Ucap pak Adnan.


“Tidak apa apa pak, itu yang jadi prioritas kita saat ini.” Jawab Yasin.


“Dan jika nanti terjadi sesuatu mereka kesulitan tetap mohon bantuan bapak untuk ikut membantu juga.” Lanjut pak Adnan.


“Insya Allah pak, saya akan bantu semampu saya. Dan semoga saja kasus ini segera dapat di tuntaskan.” Jawab Yasin.


“Aamiin pak, saya selaku pribadi maupun sebagai wakil institusi kami mengucapkan banyak banyak terimakasih pak.” Ucap pak Adnan.


“Sama sama pak, apa yang saya lakukan juga salah satunya demi keluarga saya. Jadi saya lah yang harusnya berterimakasih pada bapak dan semua anggota Kepolisian.” Jawab Yasin.

__ADS_1


“Gak juga pak, kalo kami kan sudah tugasnya. Oiya pak himbauan untuk membangkitkan keberanian warga sudah saya sampaikan. Melalui kelompok kelompok pengajian, arisan juga kepada Dewan Gereja yang ada di sekitar sini. Agar tidak takut membela kebenaran. Jangan kalah dengan yang membela kejahatan saja sampai rela di penjara dan rela mati.” Ucap Adnan.


Tamu yang datang untuk ikut acara Tahlilan pun sudah semakin banyak, bahkan sampai di tenda luar rumah pun sudah banyak yang datang. Termasuk para anggota padepokan juga sudah siap untuk membantu pelaksanaan acara Tahlilan.


Dan pukul delapan tepat acara pun segera di mulai, di awali dengan menikmati minuman dan snack yang disediakan oleh para tetangga yang berempati. Kemudian di lanjutkan dengan rangkaian bacaan Tahlil. Di awalai dengan baca Surah Yaasin setelah hidyah fatihah ( Tawasul ) kemudian beberapa ayat dari Al-Quran. Dan bacaan kalimah Thoyibah Tahlil dan di tutup doa.


Setelah selesai kemudian Pak RT setempat mewakili keluarga mengikrarkan ucapan terimakasih atas segala bentuk bantuan yang di berikan. Kemudian juga mengikrarkan sedekah dari keluarga almarhum Zulfan. Dan di niatkan pahalanya adalah untuk Zulfan, setelah itu para tamu berpamitan pulang ke rumah masing masing. Dan sebagian ada yang kembali ke rumah Sena untuk membantu beres beres setelah selesai acara.


Begitulah suasana hangat di pedusunan, begitu hangat dan saling peduli dengan tetangga. Membantu tanpa harus di mintai tolong. Memberi  tanpa harus ada yang minta, jangan sampai kondisi seperti ini di rusak oleh orang orang yang ‘kadang’ tidak faham konsep dakwah dengan pendekatan budaya, batin Yasin.


“Di sini  suasana akrab bergotong royong masih tinggi ya pak, jangan sampai hal itu dirusak oleh pemikiran pemikiran yang ekstrim.” Kata Yasin pada pak Adnan.


“Insya Allah pak, kalo di sini masih relative belum terkontaminasi dengan faham faham Ekstrim.” Jawab pak Adnan.


Tiba tiba ponsel pak Adnan berdering kemudian pak Adnan menerima telpon dan sedikit menjauh dari kerumunan.


“Maaf pak anggota yang bertugas di padepokan pak Suhadi menelpon. Saya angkat sebentar sapa tahu ada info penting.” Ucap pak Adnan kemudian pergi menjauh sebentar.


Beberapa menit kemudian pak Adnan kembali lagi dengan wajah yang agak tegang.


“Benar pak, saat ini padepokan pak Suhadi di serang dengan jumlah personil yang lebih banyak dari yang kemarin menyerang Pak Sena.” Ucap pak Adnan.


“Yaudah kita berangkat sekarang, ajak semua anggota Padepokan yang ada sekarang.” Kata Yasin pada pak Adnan.


Kemudian kami bersama anggota padepokan yang masih membantu beres beres segera berangkat ke padepokan pak Suhadi.


Dalam rombongan yang cukup besar sampai empat mobil berisi penuh personil segera menuju ke Padepokan pak Suhadi. Rofiq  diminta Yasin tidak ikut dulu, selain masih luka juga bisa menjaga rumah Sena. Antisipasi jika ada sesuatu.


Perjalanan sekitar 10 menit dengan laju kecepatan tinggi kami segera sampai di padepokan pak Suhadi.


Kedatangan rombongan Yasin  membuat pihak penyerang menjadi kaget dan menjadi ciut nyalinya. Karena di dalam mendapatkan perlawanan dari Polisi dengan Senjata api nya. Jadi meskipun mereka dalam jumlah banyak tapi menghadapi Polisi yang juga terlatih menghadapi musuh mereka kesulitan. Masih di tambah lagi datang bala bantuan yang langsung megepung mereka.


Bahkan kini jumlah mereka menjadi kalah banyak setelah rombongan Yasin bergabung di situ.


“Sebaiknya kalian Menyerah, tempat ini sudah di kepung oleh Polisi. Jika ada yang melawan maka kami tidak segan untuk menembak…!!!” seru pak Adnan menggunakan corong suara.


Dooor…. Door…. Door….


Suara tembakan perintah untuk menyerah.


“Saya hitung sampai tiga, yang tidak mau berkumpul di halaman rumah maka akan kami tembak. Dan jangan coba coba masuk rumah. Karena yang di dalam rumah juga anggota Polisi semua. Satu…. Dua…  tiga…. “ ucap pak Adnan memberi waktu. Dan sebagian besar penyerang itupun akhirnya menyerah.


Hanya tinggal beberapa orang yang ragu ragu, namun kemudian ikut bergabung di halaman rumah. Namun ada beberapa orang juga yang masih tetap tidak mau bergabung menyerah.


Door…


Terdengar lagi suara tembakan, dan terdengar suara mengaduh seseorang yang terkena peluru di kakinya.


“Silahkan pilih ikut bergabung menyerah atau selanjutnya kepala yang akan kami jadikan sasaran tembak !” seru pak Adnan.


Akhirnya ada beberapa orang yang terpaksa bergabung menyerah karena takut tertembak. Namun tidak di sadari semua orang masih ada dua orang yang dari tadi sembunyi masih sembunyi di tempat gelap dan terlindung oleh pepohonan dan rumput perdu.


“Segera lucuti senjata mereka, kami lindungi dengan pistol yang ku arahkan kepada mereka.” Seru pak Adnan pada anggotanya. Bahkan di bantu oleh beberapa anggota Padepokan.


Sementara dua orang yang sembunyi itu masih mengawasi keadaan, dan salah satunya mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan secepatnya.


Belum ada yang mengetahui keberadaan dua orang itu, termasuk Yasin sendiri yang belum juga membuka mata batinnya.


“Bantuan akan datang dengan jumlah besar baru dalam perjalanan ke sini.” Ucap salah satu orang yang bersembunyi  itu.


*****


episode berikutnya kembali pecah pertarungan antara Yasin dengan jawara sewaan. Sehingga Yasin terpaksa harus menguras tenaga dan berjibaku dengan jawara yang anti peluru.


Dengan cara apakah Yasin akan mampu mengalahkan Jawara tersebut ?


ataukah justru Yasin yang akan di kalahkan oleh jawara tersebut.


Nantikan episode berikutnya.


‘Terakhir kali Yasin berkelahi’


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2