
Jalu Ke Padepokan Marto Sentono
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
"Kesempatan apa ?” tanya Gede Panjalu.
“Aku akan minta seseorang culik gadis yang disukai anak itu, dan akan aku tawan sampai dia datang menyelamatkan gadis itu. dan kemudian aku akan menghajar pemuda itu dan ikut mengurungnya. Sampai ayah pemuda itu datang.” Ucap Jalu…!
“Tapi anak itu harus bertarung pada pagelaran akbar nanti Adi Jalu.” Kata Gede Paneluh.
“Tidak masalah, malah kebetulan kalau begitu.” Ucap Jalu.
“Kebetulan bagaimana maksudmu di ?” tanya Gede Paneluh.
“Jika saat anak itu bertempur kemudian tahu pacarnya diculik pasti dia jadi gak konsen. Dengan begitu akan mudah dikalahkan.” Jawab Jalu dengan senyum liciknya.
“Gak nyangka kamu bisa licik begitu di, bisanya kamu gak mau licik ?” tanya Gede Paneluh.
“Untuk urusan dendam ini segala cara akan aku lakukan kakang…!” sahut Jalu.
“Hehehe… iya terserah kamu saja aku gak keberatan.” Jawab Gede Paneluh.
“Iya kakang, jadi apa rencana kakang sekarang ?” Tanya Jalu.
“Mau ajak kamu ke padepokan ki Marto sebelum kamu berangkat ritual nanti malam pas malam Jumat pon, minggu depan pas malam Jumat Kliwon kan kamu terakhir kali barengan dengan pagelaran akbar itu.” Jawab Gede Paneluh.
“Boleh juga, Jalu juga pengen tahu seperti apa kehebatan anak anak Padepokan itu. soalnya aku sudah mengukur kekuatan dua pemuda itu memang tidak bisa disepelekan.” Jawab Jalu.
“Kebetulan kalau begitu, kita berangkat sekarang saja Adi Jalu.” Kata Gede Paneluh.
Maka keduanya pun berangkat ke Padepokan Marto Sentono saat itu juga. Menggunakan mobil milik Jalu Gede Paneluh mempersiapkan segala ubo rampe teluh ke Padepokan ki Marto Sentono.
…..
Sesampai di Padepokan Jalu dan Gede Paneluh disambut langsung oleh ki Marto Sentono.
“Apa kabar saudaraku ki Gede Paneluh, tentunya ini bersama Sawung Panjalu. Mari silahkan masuk kami senang kalian bisa hadir di sini…!” kata ki Marto Sentono.
“Terimakasih ki, betul ki ini Sawang Panjalu putra ki Maheso Suro.” Ucap Gede Paneluh.
Sawung Panjalu hanya tersenyum datar, pikiran Jalu hanya segera ingin menjalankan rencananya menculik Riska. Bahkan tidak peduli dengan acara Pagelaran Akbar Padepokan Tersebut.
Jalu pun mengikuti Gede Paneluh ke ruang khusus Padepokan, disana mereka melakukan pembicaraan tentang Pagelaran Akbar yang akan dilaksanakan. Namun Jalu pribadi tidak begitu tertarik dengan rencana mereka. Jalu justru berpikir bagaimana caranya menculik Riska untuk menjebak Sidiq dan Ayahnya. Jalu terlalu PD dengan kemampuanya saat itu.
“Owh jadi ini yang namanya kakang Jalu pura ki Maheso Suro yang dulu bertempur bersama Ayahku Mentorogo melawan orang yang bernama Yasin itu. perkenalkan, saya Jaka Santosa Putra kedua dari ayah Mentorogo.” Kata Jaka.
“Iya aku Jalu, putra ki Maheso Suro pewaris ajian Giling Wesi beliau.” Jawab Jalu tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Wah luar biasa, ayahku Mentorogo juga sering cerita tentang ki Maheso Suro dan Aji Giling Wesinya. Dan keduanya sempat berguru pada wak Guru ki Joyo Maruto.” Ucap Jaka.
Sebenarnya dari awal Maheso Suro berada dibawah Mentorogo kemampuannya, namun Jalu tidak begitu paham itu. Sehingga karena kurang pahamnya Jalu merasa bahwa ayahnya ki Maheso Suro adalah yang paling sakti. Sehingga sikap Jalu agak jumawa di depan Jaka santosa yang memiliki ilmu Tameng Wojo juga.
“Saya rasa biasa lah, sekarang yang saya pikirkan bagaimana cara menghadapi ayah dari anak anak tersebut. kalau hanya anak anaknya mungkin gak butuh waktu lama melumpuhkan.” Kata Jalu membuat Jaka sedikit tersinggung. Karena sudah merasakan pukulan Lebur Saketi Jafar hingga tangannya patah.
“Belum tentu juga kakang, anaknya juga sangat sakti saya saja sampai patah tangan dan muntah Darah waktu itu.” Kata Jaka.
“Tidak bagi saya, meskipun ilmu gilingwesi ku belum sempurna tapi kalau dengan anaknya Yasin aku gak terlalu mikir. Aku juga pernah berhadapan dengan mereka berdua malah gak hanya satu orang.” Jawab Jalu dengan sombongnya. Padahal yang terjadi hanya sekedar penjajakan dari Sidiq dan Jafar bukan bertarung langsung seperti Jaka.
Jaka yang hendak emosi ditahan oleh ki Marto Sentono, karena merasa masih membutuhkan tenaga Gede Paneluh dan Jalu juga.
“Kita berkumpul disini untuk membuat strategi memancing Yasin dengan menangkap anaknya baik satu ataupun keduanya. Bukan untuk memamerkan ilmu masing masing.” Ucap Ki Marto Sentono.
“Jika saja malam Jumat Kliwon besok tidak bertepatan dengan ritual terakhirku. Aku sanggup menangkap anak anak Yasin tersebut.” Kata Jalu.
“Jangan adi Jalu, kamu harus selesaikan dulu ritual kamu. Dan sebelum itu janganlah melakukan pertempuran dulu, karena merusak Tapa Brata mu atau laku tirakat mu nanti.” Ucap Gede Paneluh.
“Iya kang, Jalu akan bertahan sampai ritual selesai tidak akan bertarung. Sebenarnya juga ingin berlatih dengan adi Jaka mencoba ilmu Tameng Wojonya.” Ucap Jalu dengan angkuh.
Jaka hanya diam saja dipandangi ki Marto Sentono meski sebenarnya hatinya sudah terbakar emosi.
“Tidak usah khawatir Jalu, untuk melawan anak anak Yasin sudah ada jago namanya Jaka Gledek anak angkat ki Joyo Maruto sekaligus masih Cucu murid dari resi Begawan Sanjaya.” Ucap ki Martono.
“Resi Begawan Sanjay…???” ucap Jalu dan Gede Paneluh bersamaan.
“Betul, kalian kaget jika ada cucu Murid eyang Resi Begawan Sanjaya bergabung di sini juga ?” tanya ki Marto sentono dengan bangga bisa membuat Jalu jadi agak mereda kesombongannya.
“Iya ki, dan bagaimana ceritanya bisa jadi anak angkat Pamanku ki Joyo Maruto. Bukankah ki Joyo Maruto dulu menjauhi anak Cucu Murid Resi Begawan Sanjaya karena berseberangan prinsip.” Tanya Gede Paneluh.
( Mayat )kakang Joyo Maruto ke rumah.” Ucap ki Marto Sentono.
Gede Paneluh terdiam sesaat, sebelum angkat bicara.
“Menurut kerabatku dulu yang mengantar itu beberapa anggota Polisi, memang ada orang Sipil juga tapi kok gak ada yang cerita kalau ada anak angkat paman Joyo Maruto ki ?” tanya Gede Paneluh.
“Jaka Gledek memang tidak suka membuka jati dirinya. Disini saja baru mengaku anak angkat kakang Joyo Maruto dan Cucu Murid Eyang Resi Begawan Sanjaya,setelah beberapa kali kesempatan kesini.” Jawab Ki Marto Sentono.
Gede Paneluh diam Sesaat, seperti melafalkan Mantra mantra khusus untuk menerawang Jaka Gledek alias Zain atau Yasin.
“Aku tidak bisa menembus pagar gaib orang itu ki Marto. Seperti tertutup pagar Gaib yang sangat kuat, dan memang ada tanda tanda ilmu Resi Begawan Sanjaya di tubuhnya, siapa dia sebenarnya…? Ucap Gede Paneluh.
“Sayang kemarin berpamitan mau mengambil pusaka di makam eyang gurunya Resi Begawan Sanjaya. Jika Tidak bisa aku hadirkan kesini.” Ucap ki Marto Sentono.
Jaka yang melihat Jalu jadi berubah diam membalas kesombongan Jalu tadi.
“Mungkin kakang Jalu penasaran dengan paman Jaka Gledek teman dekat Ayah saya Mentorogo. Jadi kalau besok bertemu bisa mencoba ilmu kanuragan paman Jaka Gledek saja.” Ucap Jaka.
“Iya besok jika aji gilingwesi ku sudah sempurna aku juga ingin mencobanya.” Jawab Jalu.
“Jangan Adi, kakang merasakan Aura yang sangat kuat di tubuh Jaka Gledek itu seperti Aura Resi Begawan.” Ucap Gede Paneluh menyebut leluhur Yasin dengan Resi Begawan saja, tanpa menyebut nama.
“Apa mungkin dia pewaris Kitab Mantra Lananging Jagad kakang ?” tanya Jalu.
“Kakang tidak yakin karena Kitab itu lenyap bagai ditelan bumi. Jangankan wujudnya, kabarnya pun tidak pernah terdengar dari jaman eyang guru guru kami dahulu pun tidak ada yang tahu wujud dan kabarnya. Seakan hanya menjadi sebuah Mitos saja.” Jawab Gede Paneluh.
__ADS_1
“Betul sekali, yang aku dengar juga demikian. Kitab itu semenjak diserahkan suami Endang Pertiwi  atau menantu Resi Begawan tidak satu orang pun yang mampu merebutnya. Apalagi merebut, melihat wujudnya pun tidak satu orang pun bisa.” Sahut ki Marto Sentono.
“Menurut kakang Gede Paneluh, dulu ada Murid kinasih Resi Begawan yang bernama Sapto Atmojo. Apa jangan jangan dia yang memegang dan sekarang anak turunya yang mewarisi.” Tanya Jalu.
“Sepertinya tidak, dan seandainya iya pun dulu tidak ada yang berani mendekati Padepokan Sapto Atmojo. Kecuali orang orang dekat Nyai Endang Pertiwi putri Resi Begawan itu sendiri.” Jawab Gede Paneluh.
“Sudahlah, kita Fokus pada rencana kita memancing Yasin. Apa saran kamu ki Gede Paneluh ?” tanya Ki Marto mengalihkan pembicaraan.
“Iya ki, tadi adi Jalu sempat bilang kalau dia mengenal dan pernah berhadapan langsung dengan dua pemuda anak Yasin tersebut. biar Adi Jalu yang menyampaikan rencananya tersebut.” Jawab Gede Paneluh, member kesempatan pada Jalu agar mendapat tempat di hati ki Marto karena tadi berlaku sangat sombong.
“Iya ki, saya akan culik gadis yang disukai salah satu anak Yasin tersebut. dan akan saya kurung untuk memancing anak Yasin kemudian biar yasin sekalian muncul jika anaknya ikut aku kurung.” Jawab Jalu.
“Nah kebetulan, aku juga sudah mengurung dua bocah teman anak yasin. Sekalian saja gadis itu kita kurung disini di ruangan khusus yang tidak seorangpun bisa keluar masuk.” Ucap ki Marto Sentono.
“Iya saya setuju begitu adi Jalu, dan nanti ruangan khusus itu juga akan aku perkuat dengan mantra mantra pelindung agar lebih kuat lagi.
Jalu sebenarnya keberatan dan berencana menjalankan rencananya sendiri. Namun sejak Gede Paneluh menjelaskan kekuatan Jaka Gledek yang sebenarnya justru dialah Yasin. Jalu terpaksa mengikuti permintaan ki Marto Sentono.
“Baiklah, tapi saya ada permintaan satu hal yang harus dipenuhi.” Kata Jalu.
“Apa itu adi Jalu ?” tanya Gede Paneluh.
“Jika gadis itu disekap disini, kemudian Yasin dapat ditangkap juga aku harus diberi kesempatan untuk membalaskan Dendam padanya. Intinya Yasin jangan dibunuh dulu sebelum aku pulang dari melakukan ritual terakhirku.” Kata Jalu yang sangat PD dapat mengalahkan Yasin.
Ki Marto Sentono dan lainya diam sesaat, mereka saling berpandangan seperti saling meminta persetujuan.
“Baiklah Jalu, aku ki Marto Sentono akan memenuhi permintaan kamu. Toh kita memiliki musuh yang sama, jadi sudah seharusnya kita bekerjasama.” Jawab ki Marto Sentono.
“Jadi kapan Adi Jalu akan melaksanakan rencana menculik Gadis itu dan dibawa kemari ?” Tanya Gede Paneluh.
“Besok kakang, mala mini aku harus ke tempuran sungai ke enam untuk melakukan ritual. Dan besok siangnya aku akan utusan anak buahku untuk menculik gadis itu. Dan aku sendiri yang akan membawa Gadis itu kemari.” Ucap Jalu.
“Baguslah, tapi kalau bisa malah jangan buru buru karena Pagelaran Akbar masih seminggu lagi. Takut mereka akan bergerak sebelum waktunya nanti. Maksudku biar saat pertarungan nanti naka itu baru tahu jika Gadis pacarnya di tawan agar tidak bisa konsentrasi.” Ucap Gede Paneluh
“Aku setuju dengan ki Gede Paneluh, biar nanti Jaka Gledek makin mudah meringkus anak itu. Dan Jaka Gledek juga sanggup meringkus Yasin Hidup hidup.” Ucap ki Martono meyakinkan Jalu dengan berbohong.
“Boleh juga tampaknya menarik rencana itu, dan aku akan melihat sebentar nanti pertempuran itu sebelum aku berangkat menuju ke tempuran sungai ke Tujuh.” Sahut Jalu penuh percaya diri.
Semua sepakat penculikan Riska dilakukan dua hari sebelum hari H Pagelaran Akbar. Dan dibuat agar Sidiq dan Jafar tahu Riska diCulik saat pertempuran akan dimulai. Untuk menjatuhkan konsentrasi Sidiq dan Jafar saat melawan Jaka Gledek alias Yasin Ayah mereka sendiri…!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
__ADS_1