
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Candaan Jafar dan Sidiq...
"Iya Kakang, Batara Karang akan memperkuat ilmu karang kita nanti. Dendam kita akan terbalaskan, kita akan kuasai dunia persilatan,” sahut Jaladara.
Gagak Seta dan Jaladara sangat bersemangat untuk segera mendapatkan Batara Karang. Mereka sangat berambisi untuk bisa mengalahkan Yasin dan anak anaknya, serta ingin menjadi nomor satu di dunia kanuragan.
…..
Di rumah Yasin
Sidiq dan Jafar sudah sampai di halaman rumah Yasin. Farayaka dan Akino heran melihat rumah yasin yang kesan sebagai rumah kunonya masih nampak. Meski sudah ada sedikit sentuhan Modern, tapi tidak mengurangi nilai klasiknya.
“Rumah kamu artistik,” itu yang terucap dari bibir Akino.
Sidiq dan Jafar hany tersenyum, kemudian mengajak Farayaka dan Akino masuk ke rumahnya. Tanpa disadari jika kedatangan mereka jadi perhatian Wisnu, Utari dan Isna.
“Siapa tuh yang bersama Kang Sidiq dan Kang Jafar ?” ucap Isna.
“Ehheem…kepo apa cemburu nih ?” Goda Utari.
“Gak kok, tanya aja. Seperti Nya orang dari Jepang. Kok bisa kenal mereka?” ucap Isna.
“Mungkin itu yang dulu dibilang pewaris Klan Ninja, yang akan menerima Pedang warisan Yukimoto,” ucap Wisnu.
“Kita deketin yuk” ajak Utari.
“Jangan ah, takut ketahuan Abi sama Umi nanti.” Sahut Isna.
“Daripada penasaran begitu,” jawab Utari.
“Udah Wisnu aja yang dekati, nanti Wisnu kasih tahu deh,” ucap Wisnu.
“Serius Wisnu…!” ucap Isna.
“Iya mbak, penasaran sama Mas Jafar atau Mas Sidiq nih ?” goda Wisnu.
“iih kamu, macem macem. Awas besok gak kami temenin kalau nakal,” ucap Isna kesal.
Wisnu pun berlalu meninggalkan Isna dan Utari. Menuju ke tempat Sidiq bersama kedua orang tuanya di ruang tamu.
“Eeh Mas Sidiq dan MAs Jafar kok bisa barengan pulangnya ?” tanya Wisnu.
“Iya, tadi kita ketemuan dulu di satu tempat. Jadi bisa pulang bersamaan,” jawab Sidiq.
“Itu saudara Masidiqu ?” tanya Farayaka.
“Waduh sudah panggil Mas, pakai sebut milikku lagi,” goda Wisnu.
Jafar jadi menahan tawa mendengar ungkapan WIsnu yang polos tersebut.
“Wisnu…! Jangan Asal, dia gak bisa biang Sidiq bisanya Sidiqu. Jangan salah persepsi,” protes Sidiq.
__ADS_1
“Owh gitu, tapi asik ya dipanggil Mas begitu ?” sahut Wisnu kalem.
“Gara gara Jafar nih…!” sahut Sidiq.
“Kok Jafar Mas, kan dia yang manggil begitu sendiri ?” ucap Jafar.
“Kan ikut kamu manggil aku Mas Sidiq tadinya. Di kira namaku Masidiq,” gerutu Sidiq.
Yasin dan Fatimah hanya tersenyum geli melihat Jafar meledek Sidiq kakaknya. Meski mereka beda ibu, tapi Yasin dan Fatimah berhasil membuat mereka tetap rukun selalu. Candaan yang mereka lakukan sebatas wujud keakraban saja.
“Sudah, sekarang serahkan saja Pedang itu agar tamu kita tenang,” ucap Yasin mengalihkan pembicaraan.
Kemudian Jafar dan Sidiq mengambil seluruh peninggalan Mutsashi dan diserahkan kepada Farayaka dan Akino. Keduanya memeriksa dengan teliti keaslian dari pedang Simbol Klan mereka tersebut.
Setelah mereka Yakin, mereka pun memberikan hormat dengan berdiri dan membungkukkan badan mereka. Bahkan kemudian mereka hendak bersimpuh kehadapan Sidiq dan Jafar, namun dijelaskan Yasin jika itu tidak perlu dilakukan jika di Indonesia.
Sidiq dan JAfar pun kaget, melihat cara mereka memberi hormat. Karena hampir mirip orang bersujud, dan itu haram dalam Islam. Agama yang dianut oleh Sidiq dan Jafar, untunglah Yasin dapat memberikan penjelasan kepada Sidiq dan Jafar.
“Bagi mereka itu tidak papa, tapi kalau kita memang tidak boleh begitu. Karena keyakinan yang berbeda,” Ucap Yasin.
“Tapi itukan sama saja bersujud kepada Makhluk Yah ?” tanya Jafar.
“Keyakinan mereka berbeda dengan kita Nak, dan Budaya pun juga berbeda. Jangan mengukur dan menilai orang lain dengan pakaian kita,” jawab Yasin.
“Iya Jafar, dengerin ayah kamu. Dalam kehidupan nyata, nanti akan kamu temui orang dengan berbagai bahasa, Budaya dan Agama yang berbeda beda. Pandai pandailah kamu membawa diri, Sidiq juga kamu harus bisa meniru ayah kamu,” sahut Fatimah.
Sidiq dan Jafar menyahut dengan kompak. “Iya Bunda.”
“Maaf tuan Yasin, ada satu permintaan dari Mutsashi sahabat kami,” ucap Akino.
“Silakan katakan saja, seandainya aku bisa maka aku akan memenuhinya,” jawab Yasin.
“Mutsashi, berpesan pada kami sebelum tiada. Kami diminta untuk menitipkan Farayaka, sementara waktu di tempat tuan Yasin. Karena, kami akan membangunkan sebuah tempat yang layak dulu untuk Farayaka,” kata Akino.
“Aku khawatir Farayaka tidak betah tinggal di sini nanti,” ucap Yasin.
“Tidak usah khawatir, tuan. Itu tidak akan terjadi,” ucap Akino.
“Jangan panggil tuan, suami saya bukan seorang tuan,” Protes Fatimah.
Yasin hanya tersenyum, karena Yasin sendiri tahu jika maksud Akino memanggil tuan itu sebagai bentuk penghormatan. Karena telah menjaga Pedang Simbol Klan mereka.
“Itu amanah Mutsashi, jika menemukan orang yang menyimpan Pedang Klan kami. Maka kami harus memanggilnya tuan,” ucap Akino.
“Sudahlah, sebenarnya juga gak perlu memanggil tuan. Mutsashi juga sudah mengajari anak-anak kami dengan jurus jurusnya. Kita memang jadi seperti sahabat baik,” ucap Yasin.
Namun begitulah seorang Ninja, dia akan memegang teguh pendirian dan keyakinan yang dipegangnya. Sehingga Akino dan Farayaka, tetap saja memanggil tuan kepada Yasin.
“Akan mulai kapan Farayaka ikut dengan kami ?” tanya Fatimah tiba-tiba.
“Farayaka akan mulai malammini,” ucap Farayaka yang maksudnya adalah malam ini.
“Wisnu, tolong panggilkan Isna dan Utari. Biar mereka yang menemani Farayaka, Umi bingung bicaranya,” ucap Fatimah.
Wisnu pun segera memanggil Isna dan Utari, untuk menemani Farayaka.
“Sidiq dan Jafar sendiri bagaimana, kamu mau kembali ke pesantren sekarang juga ?” ucap Fatimah. Ada semacam perasaan khawatir dengan kehadiran Farayaka.
“Iya Bunda, habis maghrib Jafar berangkat ke Pesantren nanti. Tapi kalau Mas Sidiq gak tahu, Bunda,” jawab Jafar sambil senyum.
“Apaan sih, ya bareng lah,” jawab Sidiq kesal.
__ADS_1
“Udah Jafar, suka sekali kamu godain kakak kamu sekarang,” ucap Yasin.
Beberapa saat kemudian WIsnu datang bersama Isna dan Utari.
“Umi, ini Mbak Isna dan Mbak Utari,” kata Wisnu.
Maaf Umi, memang kami ada salah apa kata Wisnu mau dihukum ?” tanya Isna.
Fatimah dan Yasin malah saling berpandangan, keduanya heran dengan tingkah Wisnu yang iseng tersebut.
“Wisnu,jangan tiru sifat Abi Yasin yang suka iseng begitu. Kenapa kamu bilang begitu pada Isna dan Utari ?” kata Fatimah.
“Lah Kok aku dibawa bawa, memang aku ngajarin WIsnu begitu ?” protes Yasin pada Fatimah.
“Ngajarin sih enggak, Cuma ngasih contoh aja.” Jawab Fatimah.
Semula Jadi menahan geli mendengar perdebatan Yasin dan Fatimah istrinya.
Farayaka dan Akino pun ikut tersenyum, meski Farayaka harus berpikir sejenak memahami obrolan yang ada.
“Jadi kamu bohong ya Wisnu…!” Ucap Utari kesal dengan Wisnu.
“Gak kok, aku kan tadi bilangnya mungkin, bukan bilang pasti. Tapi kalau wisnu bilangin bisa saja Mbak Utari dan Mbak Isna beneran dihukum,” goda Wisnu
Utari dan Isna jadi makin kesal dengan Wisnu, takut rencana nguping tadi dibocorkan. Apalagi disitu ada SIdiq dan Jafar.
“Wisnu…!!” bentak Utari spontan.
Wisnu baru sadar kalau keceplosan, spontan pun menutup mulutnya. Sementara Sidiq dan Jafar ikut penasaran apa yang terjadi dengan Wisnu,Isna dan Utari tersebut.
“Bilang saja Wis, biar Jafar gak penasaran,” kata Sidiq seperti mendapat kesempatan membalas JAfar adiknya.
“Apaan sih Mas Sidiq, kenapa bawa bawa Jafar segala…?” protes JAfar menahan malu di depan Isna dan lainnya.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel :
Â
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1
Â
Â