Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Rumah Yasin ganti di teror 2


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Rumah Yasin ganti di teror 2...


"Minggir kamu orang tua kubilang, jangan sampai malah kamu yang akan jadi sasaran karena sebentar lagi akan datang seseorang yang akan hancurkan kalian semua.” Ucap Jin tersebut.


Namun Kyai Nurudin tidak mau menggubris ucapan Jin tersebut.  Kyai Nurudin terus saja membaca doa doa untuk mengusir makhluk Astral yang mengepung rumah YAsin tersebut…!?!


“Kembalilah kalian ke tempat asal kalian. D sini bukan tempat makhluk seperti kalian.” Ucap Kyai Nurudin dengan terus membaca Ayat ayat suci Al-Quran dalam hatinya. Ayat ayat pengusir makhluk Astral yang selalu dibaca sebagai wirid oleh Kyai Nurudin.


Dengan totalitas berserah diri kepada Allah Kyai Nurudin terus saja membaca Ayat demi ayat secara berulang ulang. Sampai akhirnya makhluk makhluk astral itu menjerit kesakitan. Bacaan Ayat ayat Suci yang dilantunkan oleh Kyai Nurudin bagaikan anak naka panah yang menembus pertahanan makhluk makhluk Astral tersebut. Dan Akhirnya makhluk Astral tersebut kabur meninggalkan rumah Yasin.


Sementara Farhan dan yang lain juga membaca doa doa khusus untuk meminta perlindungan kepada sang Khalik dari semua gangguan. Baik Makhluk yang tampak oleh mata maupun makhluk yang tidak tampak oleh mata manusia.


Semua Jin jahat yang menyerang rumah Yasin itu pun kabur tak satupun ketinggalan. Sebagai muslim keluarga Yasin ditambah Kyai Nurudin sudah cukup sering menghadapi gangguan dari makhluk makhluk Astral seperti itu. APalagi Kyai Nurudin yang memang punya keahlian khusus dalam bidang menangani gangguan makhluk Astral.


“Alhamdulillah…makhluk itu sudah pergi semua. Kenapa masih saja ada orang yang bersekutu dengan makhluk makhluk seperti itu.” Ucap Kyai Nurudin sambil berjalan masuk ke rumah Yasin.


…..


“Bagaimana Abah, apakah sekarang sudah Aman ?” Tanya Utari.


“Alahamdulillah…Jin jin itu sudah pergi semuanya. Kalian tidak apa apa kan ?” Ucap Kyai Nurudin.


“Iya bah, alhamdulillah kita semua baik baik saja.” Jawab Utari.


“Kamu sama ponakan Yasin sekarang gantian berjaga jaga jika yang datang adalah Jin yang berwujud manusia.” Kata Kyai Nurudin kepada Farhan dan Wisnu.


“Jin dalam wujud manusia bagaimana Kyai ?” Tanya Farhan bingung.


“Secara lahiriyah bentuknya manusia, tetapi tindakannya dikendalikan oleh Jin. Itulah yang dimaksud Jin atau Iblis dalam bentuk manusia.” Kata Kyai Nurudin menjelaskan seperti apa yang ditirukan Sidiq untuk menjelaskan tentang Iblis yang berbentuk manusia kepada teman teman sekolahnya dulu.


“Apakah akan ada yang datang ke rumah ini Kyai “ Tanya Farhan.


“Kita jaga jaga saja, bukan tidak mungkin markas mereka dihancurkan Yasin terus mereka kabur dan sebagian melampiaskan dendam ke sini.” Jawab Kyai Nurudin Abah Gurunya Sidiq tersebut.


“Mudah mudahan saja rombongan Mas Yasin cepat sampai ke rumah.” Sahut Fatimah.


Kemudian suasana berubah jadi hening, Wisnu dan Farhan gantian menunggu di depan rumah mengantisipasi jika ada musuh yang datang. Kyai Nurudin dan Tabib Ali di dalam rumah menjaga kemungkinan lain yang terjadi.


“Apa Utari dan Isna boleh ikut membantu Paman Farhan dan Wisnu Abi ?” Tanya Utari.


“Kalian di sini saja, Jaga jaga didalam rumah. Jika butuh bantuan biar Abah nanti yang membantu mereka.” Jawab Kyai Nurudin.


Sebenarnya maksud Kyai Nurudin selain menguji Wisnu dan Farhan juga untuk berjaga jaga apabila ada musuh yang datang lewat pintu belakang dan langsung masuk ke dalam rumah Yasin.


…..


Di tempat lain beberapa saat sebelumnya


Gede Paneluh yang kehilangan Jalu akhirnya kabur bersama Lembayung. Sementara Ki Bujang dan otang juga kabur entah kemana. Semua tokoh tokoh murid Ki Munding kocar kacir saat markas mereka diserang Sidiq dan Jafar yang dibantu Sena Juga Tohari.


Dengan strategi yang dipakai Sidiq meniru gaya Yasin ayahnya saat menyerang markas Lady Ninja dahulu.


Gede Paneluh kemudian mengajak Lembayung untuk membuat serangan supranatural ke rumah Yasin. Jika mungkin Gede Paneluh akan meminta Jalu dibebaskan dengan mengancam keluarga Yasin.


“Tunggu lembayung…kita coba menyerang keluarga Yasin di rumahnya. Agar kita impas bisa menyerang keluarga Yasin juga.” Ucap Gede Paneluh.


“Usul kamu boleh juga, tapi apa cukup sarana untuk melakukan itu Gede Paneluh ?” Tanya Lembayung.


“Dengan syarat seadanya aku bisa mengerahkan prewangan kamu cukup bantu aku saja.” Jawab Gede Paneluh.


Kemudian Gede Paneluh segera melakukan ritual khusus memanggil Khodam Jin untuki menyerang keluarga Yasin. Dasar anak Joyo Maruto dari hasil selingkuhan, Gede Paneluh pun memanggil banyak Khodam untuk menyerang rumah Yasin dan menyerang keluarga Yasin. Dibantu oleh Lembayung yang juga seorang dukun Teluh. Mereka bekerja sama untuk membalas apa yang dilakukan Yasin yang telah menggagalkan rencana mereka.


“Buat seluruh keluarga musuhku Yasin sakit yang tidak ada obatnya kecuali aku sendiri yang bisa mengobati.” Ucap Gede Paneluh kepada para Jin yang telah berkumpul di hadapan Gede Paneluh. Sementara Lembayung mengirimkan bola bola api kerumah Yasin, bola bola api yang jika mengenai manusia akan membuat orang tersebut sakit karena sejumlah binatang akan masuk ke dalam tubuhnya dan menggerogoti dari dalam sampai orang itu meninggal. Jika binatang binatang itu tidak segera dikeluarkan.

__ADS_1


“Ghhhrrr…kami minta sesajen atau tumbal…darah manusia.” Jawab Pemimpin Jin tersebut.


“Ambilah disana sesukamu, siapapun yang kamu temui dan kamu kehendaki boleh kamu jadikan santapan kamu.” Jawab Gede Paneluh yang sudah dipuncak amarahnya.


“Cepat lakukan perintahnya, aku sudah kirimkan teluh ikuti saja bola apai itu. Rumah yag terkena bola apai boleh kalian habiskan semua penghuninya.” Sahut lembayung yang sudah berhasil mengirimkan teluh berupa bola bola api yang melesat menuju ke rumah Yasin.


Dan berangkatlah rombongan Jin tersebut mengikuti larinya bola bola api yang dikirimkan oleh Lembayung. Perginya para Jin yang membawa beberapa benda santet menimbulkan gesekan di atmosfer yang menyebabkan timbul suara dan kilatan di angkasa. Orang menyebut sebagai teluh brojo atau santet.


Gede Paneluh dan Lembayung segera duduk bersila membaca mantra mantra untuk melancarkan aksi mereka dalam menyerang keluarga Yasin. Dengan media kemenyan yang dibakar diatas sabut kelapa yang kering.


“Ayo kita buat keluarga Yasin jadi tertidur semua agar mudah bagi para prewangan kita untuk merasuk ke tubuh mereka.” Kata Gede Paneluh.


“Baik aku akan kirimkan sirep ke rumah mereka.” Jawab Lembayung.


Kedua orang yang sudah bersekutu mutlak dengan Jin tersebut lantas bekerja sama untuk menyerang semua orang yang ada di rumah Yasin. Tanpa mereka ketahui jika di rumah Yasin ada Tabib Ali dan Kyai Nurudin yang menjaga rumah Yasin.


Gede Paneluh dan Lembayung tampak bergetar saat membaca Mantra mantra.


“Ada kekuatan lain yang melawan dan mengusir para Khodam.” Ucap Gede Paneluh.


“Siapa pula yang bisa mengembalikan teluh ku ini, rumah orang itu seperti dipagari cahaya yang sangat terang. Teluhku tidak bisa masuk ke rumahnya.” Sahut Lembayung.


“Perkuat lagi mantranya kita tidak boleh kalah.” Kata Gede Paneluh.


“Rasanya usaha kita akan sia sia…benteng rumah itu sangat kuat…!” Ucap Lembayung terpotong dan Lembayung terdorong ke belakang. Semua bola api yang dikirimkan berbalik menyerang Lembayung.


Sementara Gede Paneluh sendiri merasa badanya seperti panas dan sesaat kemudian para Jin jahat yang dia kirim kembali tanpa hasil. Dan justru menyerang Gede Paneluh hingga Gede Paneluh seperti dicabik cabik kulitnya dan jatuh pingsan.


Dua orang pelaku santet itu akhirnya tergolek tidak berdaya terkena senjata mereka sendiri. Hingga akhirnya mereka ditemukan oleh Ki Bujang dan Otang yang kebetulan melintas, karena kebingungan mau lari ke arah mana.


“Sebentar Guru…sepertinya itu ada dua orang yang pingsan. Kita lihat dulu siapa mereka.” Kata Otang pada Ki Bujang.


“Cepat kamu lihat siapa dia dan kenapa ?” Perintah Ki Bujang.


Kemudian Otang pun mendekati Gede Paneluh dan Lembayung yang tergeletak di tanah.


“Rupanya dua orang tukang santet itu Guru, kenapa mereka bisa sampai pingsan begini.” Kata Otang.


“Hmm…Gede Paneluh pingsan, tapi ini lembayung masih bisa bertahan. Coba kamu tanya kenapa ?” Perintah Ki Bujang pada Otang.


“Hei sobat…apa yang terjadi pada kalian ?” Tanya Otang.


“Ka…kami menyerang keluarga Yasin dengan teluh. Tapi kami justru yang terkena.” Jawab Lembayung yang kemudian pingsan juga.


“Dasar orang orang bodoh, masih saja menyerang mereka sudah terbukti gak pernah menang.” Ucap Ki Bujang.


“Sebentar guru…tentunya saat ini rumah orang itu tidak terjaga. Karena Yasin dan dua anaknya sedang di markas.” Kata Otang.


“Terus apa hubunganya dengan kita ?” Jawab Ki Bujang.


“Bagaimana kalau kita gantian menyerang rumah mereka sebelum Yasin dan kedua anaknya datang. Kita balas kekalahan kita dengan menyerang keluarga Yasin yang di rumah.” Jawab Otang.


Ki Bujang termenung sejenak, “ada benarnya juga kata si Otang ini.” Kata Ki Bujang dalam hati.


“Hmm…boleh juga, tapi kita harus tetap waspada. Kita selidiki dulu ada siapa disana. Kamu tahu arah ke rumah Yasin ?” Tanya Ki Bujang.


“Pernah dikasih tahu Jalu, katanya tidak terlalu jauh dari tempat Ki Bujang dulu menculik para wanita dulu.” Jawab Otang.


“Kalau begitu kita segera saja kesana, jangan sampai Yasin lebih dahulu sampai sana.” Ucap Ki Bujang.


“Lalu bagaimana kedua orang ini Guru ?” Tanya Otang.


“Tinggalkan saja, setelah dari rumah Yasin baru kita lihat. Kalau masih hidup ya kita tolong kalau sudah mampus yang kita tinggalkan saja.” Jawab Ki Bujang.


Dan mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari rumah Yasin dan ingin membalaskan dendam atas kekalahan mereka berkali kali. Dengan menyerang keluarga yasin yang berada di rumah.


….


Kembali ke rumah Yasin


Farhan dan Wisnu sedang ngobrol berdua di teras rumah Yasin berjaga jaga kemungkinan adanya orang yang akan menyerang ke rumah Yasin. Seperti yang disampaikan Kyai Nurudin sebelumnya.


“Paman dulu juga ikut bertempur dengan Abi Yasin, saat Abi Yasin mengalahkan tokoh tokoh jahat ?” Tanya Wisnu.

__ADS_1


“Tidak, Paman hanya membantu dari rumah. Paman tidak suka bertarung secara fisik.” Jawab Farhan.


“Lah bagaimana nanti kalau ada yang datang menyerang kita Paman ?” Tanya Wisnu kemudian.


“Ya kamu lah yang maju…!” Goda Farhan.


“Yah Paman…Wisnu juga kan belum banyak pengalaman seperti Mas Sidiq dan Mas Jafar.” Ucap Wisnu.


“Gak lah…dikit dikit Paman juga bisa tapi memang jarang bahkan hampir gak pernah bertarung fisik.” Jawab Farhan.


Saat Farhan dan Wisnu sedang mengobrol, Ki Bujang dan Otang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.


“Rupanya ada yang menjaga rumah Yasin Guru.” Kata Otang.


“Kita uji dulu, apakah hanya dua orang itu atau ada yang lain.” Jawab Ki Bujang.


“Caranya bagaimana Guru ?” Tanya Otang.


“Kamu lempar rumah Yasin, lihat siapa yang keluar dari rumah biar kita tahu siapa saja yang ada di rumah tersebut.” Jawab Ki Bujang.


“Baik guru…!” Jawab Otang kemudian melempar atap rumah Yasin.


“Semua yang ada di rumah Yasin pun kaget terutama yang berada di dalam rumah yang mayoritas hanya para wanita.


Ketiak batu yang dilemparkan Otang mengenai atap rumah Yasin para wanita pun spontan kaget.


“Astaghfirullah…ada apa lagi ini.” Ucap Fatimah.


“Tenang…sepertinya hanya pancingan. Kalau ini jelas suara batu biasa yang dilemparkan. Kalian tetap tinggal di dalam rumah, jangan keluar. Kita lihat perkembangan saja, semoga tidak jadi masalah yang besar.” Kata Kyai Nurudin.


Sementara di luar rumah Farhan dan Wisnu saling berpandangan.


“Apa itu Paman ?” Tanya Wisnu.


“Kalau itu jelas suara batu yang dilempar, ayo kita lihat sekeliling.” Jawab Farhan.


Kemudian Farhan dan wisnu mengelilingi rumah Yasin berdua.


Melihat tidak ada yang keluar dari rumah Yasin, Ki Bujang dan Otang berpikir jika di rumah Yasin hanya ada dua orang dan yang satu masih anak anak, pikir Ki Bujang dan Otang.


“Tidak ada yang keluar rumah, berarti memang hanya dua orang itu yang menjaga rumah Yasin. Ayo kita bergerak cepat saja.” Ajak Ki Bujang pada Otang.


Tanpa Menjawab Otang pun berdiri dan berjalan mengikuti Ki Bujang yang mendekati rumah Yasin. Mereka langsung menemui Farhan dan Wisnu yang hanya berdua saja.


“Rupanya bocah yang dulu pernah bertemu, sekarang kamu akan jadi tumbal atas perbuatan Yasin.” Kata Ki Bujang.


“Wisnu pun tak mau kalah dengan gertakan Ki Bujang.


“Ah orang tua ini lagi, takut berhadapan dengan Abi Yasin terus mencari sasaran rumahnya. Dasar orang tua pengecut.” Jawab Wisnu yang sudah pernah bertemu dengan Ki Bujang.


“Jangan besar kepala kamu, saat ini aku tidak akan main main. Dulu kamu bisa selamat tapi kali ini kamu tidak akan selamat untuk yang kedua kalinya.” Gertak Ki Bujang.


“Justru kamu yang tidak akan bisa kabur untuk yang kedua kalinya saat ini orang tua.” Jawab Wisnu dengan Mantap.


“Biar saya saja Guru yang menghadapi bocah tengik ini…!” Sahut Otang yang sudah tidak sabar. Otang yang terlalu meremehkan Wisnu langsung menyerang Wisnu yang sedang bicara dengan Ki Bujang…!


... Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2