Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Nisa bertemu Gagak Seta & Jaladara


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Nisa bertemu Gagak Seta & Jaladara...


Dalam beberapa hari, Gagak Seta dan Jaladara terus melakukan pengamatan kepada Nisa. Keduanya sudah berhasil mengetahui Nisa anak Yasin yang sebelumnya mengganti nama menjadi Nusaibah.


“Aku yakin, dia memang anak Yasin. Seberapa persen wajahnya ada kemiripan dengan kedua kakaknya itu,” uca Gagak Seta.


“Betul Kakang, Jaladara juga yakin dia asli anak Yasin,” sahut Jaladara.


“Lalu bagaimana langkah kita sekarang?” tanya Gagak Seta kepada Jaladara adiknya.


“Melihat kondisi sekitar, tidak mungkin kita menangkap anak itu. harus cari cara agar tidak menimbulkan kemarahan warga,” jawab Jaladara.


“Iya, aku masih ingat saat kakak gadis itu menjebakku, sampai aku diamuk warga,” kata Gagak Seta.


“Itulah, kita harus bermain cantik. Agar tidak menimbulkan kecurigaan warga yang melihat,” ucap Jaladara.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Gagak Seta.


“Ikuti terus anak itu, siapa teman yang cukup dekat dengan dia. Kita paksa untuk mendapatkan sample rambutnya saja,” kata Jaladara.


“Apakah tidak kita coba menangkap langsung ditempat yang sepi?” ucap Gagak Seta.


“Hampir tidak ada tempat sepi yang dilalui anak itu,” jawab Jaladara.


“Tidak…ada cara yang lain menurutku. Kita amati dia selalu pulang sekolah di akhir, saat teman temannya sudah lebih dahulu pulang,” kata Gagak Seta.


“Maksudnya bagaimana?” tanya Jaladara.


“Kita coba tangkap di sekolah, saat yang lain sudah pulang nanti,” jawab Gagak Seta.


“Meskipun sepi, bukan berarti tidak ada orang lain kan?” kata Jaladara.


“Makanya kita perlu berbagi tugas, aku menangkap gadis itu. Kamu amankan yang lain, sampai aku berhasil menangkapnya,” jawab Gagak Seta.


“Tetap perlu perhitungan yang matang, jangan sampai malah membuat gadis itu semakin waspada. Bisa bisa nanti semakin ketat mereka melindungi gadis itu,” kata Jaladara.


Kedua kakak beradik itu, mengatur siasat untuk menangkap Nisa. Sampai beberapa hari mereka melakukan pengamatan masih belum juga menemukan momentum yang tepat.


Sementara Nisa yang sudah sadar dirinya dalam ancaman menjadi lebih berhati hati. Nisa berusaha untuk tidak berangkat dan pulang sekolah sendirian.


“Tanti, boleh tidak aku bareng denganmu saat pulang nanti?” tanya Nisa pada teman sebangkunya.


“Tapi kita kan beda arah Nisa?” jawab


“Gapapa, paling tidak saat lewat area sepi aku ada teman. Gak enak kalau jalan sendirian,” jawab Nisa.


“Boleh saja sih, memang kenapa? Kok Tumben mau jalan bareng?” tanya Tanti teman sekelas Nisa.


“Gapapa kok, biar ada teman ngobrol saja,” jawab Nisa menutupi keadaan yang sebenarnya.


Tanti pun tidak keberatan diajak bareng oleh Nisa. Mereka akhirnya pulang sekolah berdua sampai di pertigaan yang mengharuskan mereka berpisah. Tanti belok kiri, sedangkan Nisa lurus menuju ke Pondok Pesantren Al-Huda. Sehingga apa yang direncanakan Gagak Seta dan Jaladara pun harus kembali gagal.


“Sial, kenapa sekarang dia pulang bareng dengan temannya?” gerutu Gagak Seta.


“Itulah yang kita kurang perhitungkan, jangan jangan dia sudah tahu kalau kita awasi,” kata Jaladara.


“Tapi aku punya rencana, temannya itu yang kita ikuti dulu. Jika mungkin kita manfaatkan dia saja,” ucap Gagak seta.


“Nah, kalau itu aku baru sepakat. Bagaimanapun juga kita harus cari aman,” ucap Jaladara.


Gagak seta dan Jaladara pun kemudian mengikuti Tanti yang berjalan sendirian. Kebetulan jalur yang dilalui Tanti memang jalur yang sepi. Sehingga lebih memungkinkan menghadang Tanti dari pada menghadang Nisa.


“Baru pulang sekolah dek?” tanya Gagak Seta kepada Tanti.


“Iya Om, Om ini siapa ya?” tanya Tanti penuh selidik.


Sementara Jaladara mengamati Gagak Seta yang mendekati Tanti dari tempat yang agak jauh.


“Jangan takut, saya tidak berniat jahat kok,” jawab Gagak Seta.

__ADS_1


“Tapi saya belum pernah melihat Om sebelumnya?” kata Tanti.


“Memang saya bukan orang asli sini. Maksud saya mau minta tolong agar dipertemukan dengan Nisa teman kamu tadi,” kata Gagak Seta.


“Kenapa tidak ditemui langsung saja, Om?” tanya Tanti.


“Dia itu keponakan saya, dan masih marah dengan saya. Jadi pasti tidak mau ketemu saya,” kata Gagak Seta berbohong.


Tanti ragu, antara percaya dan tidak dengan Gagak Seta. Namun Gagak Seta berhasil meyakinkan Tanti. Sehingga Tanti sanggup untuk mempertemukan Gagak Seta yang mengaku bernama Nurhadi dengan Nisa.


“Memang Om Nurhadi punya salah sama Nisa? Kok sampai Nisa gak mau menemui?” tanya Tanti.


“Iya, memang aku punya salah dan mau minta maaf saja. Aku menyesal karena aku sayang sama Nisa keponakanku sebenarnya,” jawab Gagak Seta berdusta.


Tanti sudah termakan oleh bujuk rayu Gagak Seta yang bersandiwara.


“Baik Om, besok tunggu di tempat ini. Tanti akan ajak Nisa ke sini,” jawab Tanti.


Begitulah akhirnya Gagak Seta berhasil meyakinkan Tanti agar mau menemukan Gagak Seta dengan Nisa. Dalam hati Gagak Seta tertawa girang, merasa tujuannya  akan tercapai. Gagak Seta pun memberitahukan berita gembira tersebut kepada Jaladara. Mereka akhirnya sepakat untuk menjebak Nisa besok di tempat itu.


*****


*****


*****


Sidiq sedang mengerjakan Ujian Akhir sekolahnya, berusaha fokus dengan Ujian yang sedang dilaksanakan. Di hari terakhir Sidiq mengerjakan Ujian itu, Sidiq agak terburu buru. Karena sudah tidak Sabar ingin mengetahui keadaan Nisa adiknya.


Beberapa kali Sidiq tampak melamun, sampai harus ditegur pengawas Ujian.


“Kamu kenapa banyak melamun?” tanya Guru Pengawas.


“Tidak kok Bu, hanya sedikit mengingat pelajaran yang agak lupa,” jawab Sidiq berbohong.


“Jangan menimbulkan kegaduhan ya, juga jangan terlalu banyak tengak tengok,” kata Pengawas ujian Sekolah.


Sidiq hanya mengangguk, kemudian lebih banyak menunduk memeriksa kertas lembar jawaban yang dikerjakan. Dina yang kebetulan satu ruangan dengan Sidiq juga melihat Sidiq yang tidak fokus hari itu. Dina pun berniat untuk bertanya langsung kepada Sidiq pulang sekolah nanti.


Ketika bel tanda waktu Ujian sekolah selesai, maka semua meninggalkan meja dengan meninggalkan hasil ujian mereka. Dina langsung mendekati Sidiq dan mengajak pulang bersama.


“Diq, aku mau bicara padamu sebentar,” kata Dina.


“Kenapa kamu gak fokus hari ini?” tanya Dina.


Sidiq pun menceritakan apa yang sedang mengancam Nisa adiknya. Dina akhirnya jadi maklum dengan apa yang terjadi pada Sidiq. 


“Kamu gak bilang sama Riska dan Lita?” tanya Dina.


“Ga lah, malah membebani mereka nanti,” jawab Sidiq.


“Lalu apa rencana kamu sekarang ini?” tanya Dina.


“Aku mau langsung pulang ke rumah, mau memberitahu Ayah dan Bunda,” jawab Sidiq.


Dian ikut prihatin dengan apa yang dialami Sidiq dan adiknya. Sementar Sidiq mencari Riska dan Lita, Sidiq mau mengatakan jika dia akan pulang ke rumah Ayahnya. Kemungkinan juga akan menginap disana barang semalam.


“Riska, aku harus langsung pulang ke rumah. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Ayah dan Bundaku,” kata Sidiq.


“Hmm…soal adikmu Nisa?” tanya Riska.


“Iya, ada hal penting yang harus aku konsultasikan kepada Ayah,” jawab Sidiq.


“Iya gapapa kok, hati hati saja jangan sampai terpancing emosi,” kata Riska.


Setelah selesai bicara dengan Riska. Sidiq pun langsung berangkat menuju ke rumahnya. Dalam benak Sidiq, ingin segera mendapatkan saran dari ayahnya. Akan tetapi Sidiq masih menyembunyikan apa yang dihadapi Nisa adiknya dari Yasin. Sidiq tak ingin menambah beban ayahnya, namun tak bisa juga lepas dari nasehat ayahnya.


*****


Hari saat Nisa pulang sekolah bersama Tanti sahabatnya


“Pulang bareng lagi gak Nisa?” tanya Tanti.


“Iya, gak keberatan kan?’ tanya Nisa.


“Gak lah, malah aku juga senang ada teman ngobrol,” jawab Tanti.


“Syukurlah, tapi aku sholat dhuhur dulu gimana?” tanya Nisa.


“Iya silahkan, aku baru libur,” jawab Tanti.

__ADS_1


Setelah selesai sholat dhuhur Nisa segera menghampiri Tanti, yang menunggu di depan Mushola.


“Yuk, kita pulang sekarang saja,” kata Nisa.


“Ayuk, eeh boleh tanya gak?” ucap Tanti.


“Boleh saja, mau tanya apa?” jawab Nisa.


“Kamu punya saudara dari ayah atau ibu kamu?” tanya Tanti.


“Punya lah, banyak bahkan kalau termasuk sepupu mereka,” jawab Nisa.


“Kemarin ada orang yang menemuiku. Dia mengaku sebagai paman kamu, katanya mau bertemu kamu sebentar,” kata Tanti.


Nisa kaget, “Pamanku, siapa dan kenapa mencari aku. Jangan jangan hanya mau menipu saja,” kata Nisa dalam hati.


“Kayaknya gak mungkin deh, paman pamanku selalu mencari orang tuaku. Gak pernah nyari aku langsung,” jawab Nisa.


Nisa terlalu asik mengobrol dengan Tanti, sehingga tanpa disadari langkah Nisa mengikuti Tanti. Hingga akhirnya sudah dekat dengan tempat Tanti dan Gagak Seta membuat janji. Nisa baru sadar jika dia salah jalan mengikuti Tanti.


“Astaghfirullah…kok kamu gak mengingatkan aku salah jalan mengikuti kamu sih Tan?” kata Nisa sedikit panik.


“Aduh maaf, Tanti juga lupa keasyikan ngobrol,” jawab Tanti menyesal. Tanti sendiri tidak bermaksud menjebak Nisa, namun Tanti memang sudah dalam pengaruh Ki Ajar atas permintaan Gagak Seta dan Jaladara.


“Ya sudah, aku balik saja ya,” kata Nisa.


Namun sebelum Tanti menjawab, Gagak Seta dan Jalaara sudah berada di dekat Nisa.


“Mau kemana gadis cantik, gak usah buru buru kenapa?” kata Gagak Seta.


“Siapa kalian, jangan kurang ajar ya?” bentak Nisa. Sifat galak Nisa yang mengikuti Sidiq langsung keluar.


“Eeh jangan bentak bentak sama orang yang lebih tua, nanti kualat loh,” ucap Jaladara.


Nisa mundur beberapa langkah menggandeng Tanti.


“Tanti, kamu lari pulang minta bantuan warga dusun. Biar aku yang menghalangi mereka,”  kata Nisa.


Dalam kondisi bahaya pun Nisa masih memikirkan keselamatan teman sekolahnya. Tanti pun berlari menuju ke rumahnya. Gagak Seta dan Jaladara membiarkan Tanti berlari, namun segera berusaha menangkap Nisa.


Gagak Seta melompat menangkap Nisa yang masih berdiri di hadapannya. Namun Gagak Seta salah perhitungan, Nisa tidak seperti gadis kebanyakan. Nisa mampu berputar menghindari sergapan Gagak Seta. Bahkan masih sempat melayangkan pukulan ke arah Gagak Seta. Sehingga Gagak Seta justru jatuh tersungkur.


Jaladara yang melihat hal tersebut jadi semakin marah. Jaladara gantian menangkap Nisa, dengan gerakan yang cepat. Namun diluar dugaan Jalaara Nisa justru memukul dada Jaladara dengan tangannya. Jaladara pun tersurut mundur menahan sakit di dadanya.


“Dasar bocah tidak tahu diuntung, jangan paksa kami main kekerasan,” bentak Jaladara.


Namun Nisa tak menggubris omongan Jaladara. Nisa justru mengeluarkan sebuah tali yang ujungnya sudah dikasih pemberat sekaligus runcing untuk senjata. Dan dengan gerakan cepat dan tak terduga Nisa memutar tali tersebut kemudian mengarahkan ujungnya ke Jaladara.


Ujung Tali yang diberi pemberat runcing, yang ternyata adalah sebuah Jarum yang sudah diatur dan dipersiapkan oleh Nisa. Sehingga Jaladara menjerit kecil ketika kulit tubuhnya tertusuk jarum tersebut. darah pun mengalir sedikit membasahi kulit Jaladara.


Gagak Seta yang menyaksikan pun terkejut, namun belum hilang kagetnya Gagak Seta pun sudah menjadi sasaran ujung senjata Nisa tersebut. Tak ampun lagi Gagak Seta juga menjerit, karena kepala Gagak Seta lah yang terkena tusukan Jarum Nisa.


Dalam keadaan seperti itu, Nisa segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Plastik berisi air merica dan cabe dilemparkan ke arah Jaladara yang hendak menangkapnya kembali. Sehingga kali ini Jaladara menjerit keras. Karena mata Jaladara terkena air merica dan cabai yang dilemparkan Nisa.


Nisa pun segera melarikan diri, menjauh dari jaladara dan Gagak Seta.


“Kurang ajar, aku akan mengejarmu sampai kemanapun,” kata Gagak Seta.


Namun Gagak seta lebih dulu menolong Jaladara yang kesakitan, Jaladara diajak mencari sumber air untuk cuci muka. Sambil terus mengikuti Nisa.


Hingga akhirnya Jaladara sudah bisa mencuci mukanya, dan Gagak seta mengejar Nisa yang berusaha kabur.


“Astaghfirullah…ternyata tegang sekali berhadapan dengan musuh nyata. Sangat berbeda dengan latihan, untung Mas Sidiq kasih tahu senjata untuk mengamankan diri,” kata Nisa dalam hati.


Tanpa disadari oleh Nisa jika Gagak Seta mengikutinya dari belakang dan semakin dekat. Hingga akhirnya Gagak Seta berhasil memegang tangan Nisa.


“Berhenti…jangan mencoba untuk kabur. Kalau kamu mau selamat anak Yasin…!” bentak Gagak Seta.


Nisa terkejut mendengar orang yang mengejarnya menyebut nama Yasin Ayahnya. Dan Gagak Seta tak mau kehilangan momen tersebut. Segera melumpuhkan Nisa dengan sekali pukulan hingga Nisa pingsan. Kemudian Gagak Seta pun membawa Nisa ke markas mereka.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2