Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jafar kembali bentrok dengan anggota Padepokan


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


Sayangnya waktu itu baik Nisa maupun Jafar sendiri tidak mengira jika Vina memberitahu Lita kakaknya dan sampai ke Sidiq dengan versi cerita yang sudah berbeda. Meski Jafar maupun Nisa maksudnya tidak ingin membebani sidiq yang sedang sakit. Tapi akibatnya justru jadi timbul salah paham pada diri Sidiq, sehingga Sidiq berencana membalas dendam jika sudah bisa berjalan tanpa tongkat penyangga. Dan hal itu hanya disembunyikan Sidiq tak seorangpun yang tahu. Sehingga kemungkinan akan terjadi salah paham antar anak anak dua pesantren yang bisa memecah belah persaudaraan selama ini…!!!


“Aku menghormati abah gurunya Jafar lahir batin, tapi aku tidak terima Jafar adikku di pukuli Muksin.” Kata Sidiq dalam hatinya. Sidiq berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berhadapan dengan Muksin di luar pesantren.


Dan Sidiq pun mencari tahu data tentang Muksin, dari asal Muksin, Hobi sampai dengan dimana Muksin berkegiatan di luar pondok. Rupanya Sidiq sudah termakan berita yang salah, dan dia tidak berusaha ‘Tabayun’ ( Kroscek ) lebih dahulu. Itulah sisi lemah Sidiq, yang masih harus banyak belajar untuk menahan diri. Berbeda dengan Jafar adiknya yang berusaha selalu sabar dan mengalah. Meski jika sudah yakin benar tidak kalah garang dengan Sidiq saat bertarung.


…..


…..


…..


Kembali ke pesantren Jafar mengaji


Setelah Muksin dicari maka disidang Muksin oleh pengurus pondok pesantren untuk mengakui semua perbuatannya. Termasuk juga Jafar dihadirkan disitu sebagai saksi korban yang juga dimintai keterangan.


Setelah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, dan Muksin mau mengakui jika dia memang tersulut api ‘cemburu’. Juga keterangan dari Jafar yang juga berkata apa adanya maka diputuskan jika Muksin bersalah dan harus meminta maaf dengan Jafar.


Sehingga Jafar dengan berbesar hati memaafkan kesalahan Muksin serta berjanji tidak akan mengungkit kembali peristiwa tersebut. Muksin yang merasa malu namun harus mengakui semua kesalahan yang dibuatnya.


Namun saat mereka hendak membubarkan diri tiba tiba abah guru mereka datang ikut member saran.


“Apa yang terjadi ya sudah lah, abah malah bangga pada kalian berdua. Muksin mau mengaku bersalah dan Jafar mau member maaf, hikmah dari ini sangat besar. Ada kemungkinan nanti juga Jafar yang berbuat salah. Dan Muksin juga memberi maaf, memang seperti itulah kehidupan.” Kata abah guru pesantren tersebut. semua mendengarkan dengan penuh khidmat.


Kadang memang seorang Kyai ‘sengaja’ membiarkan adanya sebuah konflik antar santrinya. Namun itu untuk mendewasakan mereka juga hikmahnya. Dan selalu ada hikmah yang dapat diambil dari setiap peristiwa yang muncul. Istilah sekarang seorang kyai memang harus tahu ilmu ‘Management Konflik’, maksudnya membiarkan ada konflik kecil kemudian mencarikan win win solusi di akhir konflik tersebut.


Bahkan ‘kadang’ ( Tidak selalu ) dengan konflik itu membuat seseorang jadi bisa mawas diri. Dengan catatan masih mau menggunakan Nurani bukan sekedar emosi saja. Mungkin seorang kyai itu melihat santri santrinya yang berkonflik seperti seorang ayah yang melihat anak anaknya berebut makanan ataupun mainan. Sesuatu hal yang sepele, namun bagi anak anak seakan seperti hal yang besar. Nah setelah konflik itu lah seorang kyai seperti seorang ayah pada anak anaknya memberi nasehat kepada kedua belah pihak.


“Muksin, kamu jujur saja sekarang kan masalah sudah clear. Apa yang membuat kamu benci dengan Jafar selama ini ?” tanya abah gurunya.


“Maaf bah, kemarin Muksin merasa Jafar di anak emaskan. Masih baru di sini tapi malah diberi kesempatan tinggal ikut keluarga nDalem. Sudah begitu seringkali Jafar menggunakan fasilitas pribadi keluarga nDalem untuk urusan pribadinya. Itu yang membuat Muksin jadi benci Jafar kemarin.” Jawab Muksin yang tidak berani berbohong pada Abah gurunya.


Dan dari jawaban Muksin tersebut jelaslah permasalahan yang sebenarnya, jika semua itu diawali oleh kecemburuan sosial. Dan sebenarnya jawaban Muksin itu sekaligus mewakili perasaan santri lain yang merasa cemburu atas apa yang di dapat oleh Jafar. Meski hanya tersimpan di dalam hati mereka sendiri sendiri.


Sambil menyalakan rokok, sang kiai tersebut tersenyum sebelum mengomentari perkataan Muksin. ( Seorang Kyai memang banyak yang bersikap seperti itu. sambil member Nasehat sambil merokok. Bukan bermaksud menyepelekan tapi sekedar mengajarkan untuk tetap santai dalam menyelesaikan sebuah masalah / tidak tegang.)


“Abah ngerti itu, tapi abah dalam melakukan dan memutuskan sesuatu itu tidak ngawur. Abah juga berpikir akan banyak atau ada yang cemburu dengan keputusan Abah meminta Jafar ikut tinggal di rumah induk Abah. Dan itu memang ujian bagi kalian semua.” Jawab sang Kyai sambil kembali menghisap rokoknya sebelum melanjutkan.


“Kalian semua sebenarnya sedang abah uji, baik Jafar Sendiri maupun yang lain juga sedang abah Uji. Jafar aku bebaskan pakai fasilitas yang ada di rumah pribadi abah. Tapi dia hanya memakai dalam kondisi tertentu. Berangkat sekolah juga jala kaki seperti sebelumnya. Sikapnya dengan santri lain juga tetap biasa. Itu artinya Jafar lulus diuji dengan Fasilitas.” Kata sang Kyai berhenti kembali menghisap rokoknya.


Sementara semua masih menunggu apa kelanjutan dari nasehat kiainya tersebut.


“Dan yang lain juga abah uji, apakah sifat dengki nya masih besar. Ternyata kan ada yang tidak lulus, tidak hanya Muksin saja. Tapi banyak yang yang lain yang merasa iri dengan Jafar. Nah mulai sekarang jangan di pelihara sifat dengki itu. itu adalah penyakit hati yang harus dibuang jauh jauh.” Lanjut sang Kyai.


Banyak yang tertunduk menyadari kesalahan yang ada, karena yang seperti Muksin pun tidak hanya Muksin. Masih banyak lagi, hanya tidak berbuat seperti Muksin. Dan itu juga hanya faktor kesempatan saja yang menentukan.


“Dari peristiwa ini, abah berharap jadi cerminan bagi kalian semuanya. Bahwa kalian yang tiap hari mengaji, membaca Al-Quran membaca sholawat dan mengkaji kitab pun. Jika tidak didasari dengan hati yang bersih masih mudah terbujuk oleh bisikan setan. Dan setan itu adalah musuh kalian yang nyata. Jadi abah harap kalian semua sadar sekarang ini, tidak semua yang di dekati abah itu baik, dan tidak semua yang di diamkan abah itu jelek, kadang abah melakukan itu juga sekedar menguji. Kalian berbuat baik karena abah atau karena Allah. Kalau karena Allah biar abah cuekin juga kalian akan tetap berbuat baik. tapi kalau hanya karena abah kalian akan berhenti berbuat baik.” kata sang Kyai memberikan penjelasan kepada Santri santri yang ada.


Para Santri pun hanya diam memahami semua maksud dari yang disampaikan oleh abah gurunya. Meski abah gurunya Jafar tidak menceritakan alasan lain kenapa Jafar diminta tinggal di rumah keluarga nDalem. Karena Jafar adalah anak nya Yasin yang adik seperguruan nya. Juga karena Jafar akan memikul tugas berat yang akan dibebankan kepadanya juga pada saudara saudaranya. Sehingga Jafar diperlakukan secara khusus dengan gemblengan khusus juga. Tanpa diketahui oleh santri yang lain.


Jadi sebenarnya Jafar tidak diperlakukan istimewa dengan fasilitas yang ada. Tapi justru mendapat gemblengan khusus yang cukup berat tanpa diketahui santri yang lainnya. Karena abah gurunya Jafar juga melihat dengan mata batin nya jika Jafar memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan itu menjadi sebuah rahasia yang tidak dibongkar oleh abah gurunya Jafar. Karena hal itu tidak perlu di ketahui orang banyak.


Begitulah seorang Kyai dalam memberikan wejangan kepada Santri santrinya. Tidak ‘selalu’ dengan dibacakan kitab atau membuka ayat quran maupun hadits. Melainkan kadang juga melatih santri santrinya untuk berfikir. Karena Al-quran itu lebih mudah diterima bagi orang orang yang berfikir. Dalam istilah pesantren dikenal dengan ilmu ‘mantiq’ atau Logika dalam memahami sebuah dalil. Meskipun tidak cukup hanya dengan logika saja tentunya.


Setelah selesai memberikan Nasehat abah gurunya Jafar pun segera meninggalkan tempat. Dan memanggil Jafar sebelum Jafar berangkat ke makam.


“Jafar kamu segera berangkat Ziarah, karena kakakmu sedang sakit maka kamu lah yang harus menggantikan mendoakan kedua orang tua abah gurunya Sidiq juga. Nanti aku kasih tahu nama dan bin nya siapa.” Kata abah gurunya Jafar.


“Iya bah.” Jawab Jafar.


“Hampir tiba saatnya kalian harus bekerja sama dan dua pesantren jadi satu bahu membahu. Namun jangan kaget untuk menyatukan sesuatu itu kadang harus melalui sebuah ‘Proses’ yang cukup sulit. Bahkan tidak menutup kemungkinan malah diawali dengan konflik seperti yang baru saja terjadi padamu dan Muksin.” Kata abah gurunya Jafar.


Jafar saat itu tidak bisa langsung memahami apa maksud dari ucapan abah gurunya. Dan seringkali memang begitu nasehat seorang kyai, yang memancing orang untuk berfikir. Kadang bagi yang menerima nasehat kurang puas bahkan beranggapan nasehatnya membingungkan karena harus dicerna lebih dahulu. Tidak bisa langsung paham saat itu juga


Namun seorang kyai tidak peduli itu, dalam arti mereka berprinsip untuk mendidik agar orang mau berpikir tidak hanya menerima matang saja. Disamping itu para kyai juga berprinsip tidak butuh popularitas karena dianggap mampu memberikan nasehat dengan ‘kata kata bijak’  semata. Yang penting orang mampu menggunakan pikir di samping dzikir ( ingat Allah ). Hanya orang orang yang mau berpikir yang dapat memahami, itulah prinsip kyai yang menginginkan orang bisa berpikir.

__ADS_1


Setelah menerima Nasehat Jafar pun segera berangkat Ziarah ke makam, dan kali ini sekaligus mendoakan leluhur abah gurunya Sidiq menggantikan Sidiq kakaknya yang baru sakit. Meskipun tetap di tempat makam kedua orang tua abah gurunya Jafar.


….


…..


Susana di pesantren Jafar kembali Kondusif setelah masalah Jafar dan Muksin diselesaikan dengan musyawarah. Muksin tidak lagi membenci Jafar, dan Nisa pun tidak lagi marah dengan Muksin. Semua berjalan dengan baik dan saling menghormati satu dengan yang lain.


Hingga pada hari ketiga Sidiq menjalani Terapi, Jafar kembali minta izin untuk menjenguk Sidiq dan memeriksa perkembangan kaki Sidiq. Dan kembali Jafar dipinjami motor Nia oleh abah gurunya. Jafar pun menerima tanpa khawatir akan  ada yang merasa iri lagi. maka berangkatlah Jafar ke pesantren Sidiq untuk melihat kembali keadaan Sidiq  dalam menjalani terapi.


Dengan menggunakan motor Nia Jafar berangkat ke pesantren Sidiq. Kali ini Jafar lebih santai tidak ngebut seperti saat baru mendengar Sidiq terluka dulu.


Bahkan Jafar masih menyempatkan melihat suasana padepokan Jaka dari kejauhan dan secara sembunyi sembunyi. Jafar menyaksikan anggota padepokan yang sedang berlatih kanuragan. Jafar melihat ada Jaka juga yang sedang mengamati teman temanya berlatih. Sementara Jaka sendiri tidak ikut berlatih, karena salah satu tangannya dibalut dengan kain dan menggantung di dadanya.


“Rupanya Jaka mengalami patah tulang waktu terkena lebur saketi. Impas dengan apa yang dia lakukan kepada mas Sidiq.” Kata Jafar dalam hati.


Kemudian Jafar pelan pelan meninggalkan tempat pengintainya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke pesantren Sidiq kakaknya. Namun saat mau menaiki motornya tiba tiba Jafar dihentikan tiga orang yang ternyata mengamati Jafar dari tadi. Dan orang itu adalah anggota Padepokan serupa tapi dari wilayah lain. Yang sengaja didatangkan untuk menghadapi Sidiq ( yang sebenarnya adalah Jafar ) yang akan datang pada hari yang telah ditentukan.


“Tunggu, kamu gak bisa kabur begitu saja. Kamu pasti ada niat yang tidak baik mengintip saudara saudara kami yang sedang berlatih.” Ucap salah seorang diantara tiga orang tersebut.


“Tidak kok, saya hanya kebetulan lewat dan melihat latihan karena tertarik dengan latihan tersebut.” jawab Jafar.


“Jangan bohong kamu, soalnya padepokan ini baru saja diserang orang jadi kami bertiga diminta mengawasi orang luar yang mencurigakan.” Jawab Orang itu.


“Kayaknya anak itu memang hanya lewat, kayaknya anak culun tidak sangar seperti cirri yang diberikan ke kita.” Ucap seorang yang lain.


“Iya saya hanya lewat saja, dan biasa lihat orang berlatih kanuragan tapi gak berani bergabung.” Jawab Jafar.


“Kamu orang mana, dan nama kamu siapa ?” tiba tiba Orang yang pertama tadi bertanya.


Jafar kebingungan ketika ditanya, mau mengaku Jafar takut nya juga diketahui jika Jafar itu adiknya Sidiq. Mau mengaku Sidiq jelas bertambah parah.


“Owh Nama saya Amin, saya kebetulan lewat saja kok.” Jawab Jafar.


Tiga orang itu saling berpandangan dan berembuk apakah mau melepas begitu saja atau menahan Jafar yang mengaku bernama Amin ( Jafar Sidiq Amin memang nama lengkapnya Jafar ).


“Kita uji dulu,jangan jangan anak itu lah yang kemarin membuat padepokan jadi berantakan dan melukai Jaka.” Salah satu orang mengusulkan menguji Jafar.


“Susah amat, kita bawa masuk saja ke padepokan kita tanya yang kemarin melukai Jaka anak ini bukan. Kalau bukan ya kita lepas lagi saja.” Jawab satunya.


Mereka pun kemudian memutuskan untuk membawa Jafar ke dalam Padepokan tersebut.


“Kamu ikut kami sebentar saja, kalau memang kamu hanya sekedar lewat nanti kami bebaskan.” Kata salah satunya.


“Aduh maaf, sebenarnya saya senang bisa masuk dan melihat dari dekat mereka berlatih. Tapi saya sedang buru buru disuruh belanja oleh ibuku sekarang.” Jawab Jafar.


“Sudah kamu nurut saja Cuma sebentar ini.” Jawab yang lain.


Tentu saja Jafar sangat keberatan, karena jelas akan dikenali oleh mereka semua.


“Maaf mas, saya tidak berani nanti dimarahi ibu saya.” Jawab Jafar. Dalam hatinya berkata, “celaka apa harus aku lumpuhkan juga orang orang ini.”


“Kamu jangan bandel, kami juga tidak bermaksud jahat hanya memastikan saja kalau kamu tidak berniat jahat.” Kata seorang diantaranya.


Namun Jafar tetap bersikukuh tidak mau, sehingga tiga orang itu menjadi jengkel dan marah. Serta bermaksud menampar Jafar sekaligus menguji apakah Jafar orang biasa atau mempunyai olah kanuragan juga.


Plaaak…


Suara tamparan keras mendarat di pipi Jafar, sengaja dibiarkan oleh Jafar yang menutupi jika dirinya mempunyai kemampuan menghindar atau menangkis.


“Ampun mas sakit, saya hanya lewat saja kok biarkan saya pergi sekarang.” Kata Jafar yang pura pura ketakutan.


Melihat Jafar seperti itu ketiga orang itu pun hendak melepaskan Jafar yang dianggap anak muda biasa yang iseng melihat latihan olah kanuragan.


“Yasudah sana pergi, lain kali jangan ngintip seperti itu!” kata salah satunya.


Jafar Pun kembali ke motornya dan akan segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun sayang, sebelum Jafar sampai ke motornya ada seorang anggota padepokan tersebut yang datang dan berteriak.


“Itu orang yang bernama Sidiq, yang kemarin melukai kang Jaka. Aku kemarin sempat berbicara dari dekat sebelum dia melawan Bayu Aji.” Teriak orang tersebut.


Tiga orang itu pun kaget, terlebih lagi Jafar yang sudah susah susah menutupi dirinya dan membiarkan dirinya ditampar malah tiba tiba ketahuan.


“Apa boleh buat, tidak mungkin lagi aku menghindar sekarang.” Kata Jafar dalam hati.


“Kurang ajar, berarti kamu tadi hanya pura pura saja…!” bentak salah satu orang yang berpatroli tadi.

__ADS_1


“Baiklah  sudah terlanjur basah, memang aku yang melukai Jaka kemarin. Tapi kami sudah sepakat jika akan melanjutkan pertempuran maka tunggu tujuh hari dari kemarin. Jadi saat ini belum waktunya untuk bertempur.” Jawab Jafar.


“Persetan dengan janji kamu, sekarang ada kesempatan kenapa harus menunggu besok. Kita selesaikan sekarang saja.” Kata orang yang pertama menegur Jafar.


“Aku bilang tunggu sampai saatnya nanti,kenapa harus buru buru. Dan Bayu Aji juga sudah sepakat seperti itu.” jawab Jafar.


“Tidak bisa, kamu tetap akan aku ringkus sekarang juga dan akan aku hadapkan kepada guru kami ki Marto Sentono.” Kata orang pertama yang paling ngotot mau menangkap Jafar.


Jafar yang sebenarnya sedang buru buru pengen melihat perkembangan Sidiq kakaknya jadi agak menyesal kenapa harus melihat padepokan tersebut. Menjadi meras harus bergerak cepat agar segera bisa melihat keadaan Sidiq kakaknya. Sehingga tanpa pikir panjang lagi Jafar pun menanggapi musuhnya tersebut.


“Baiklah kalau mau kamu begitu, tapi jangan salahkan aku jika kamu nanti bernasib seperti Jaka.” Kata Jafar.


Dan tiga orang itu pun segera mengepung Jafar, sementara orang yang tadi keluar dari padepokan kembali ke dalam memberi tahu keberadaan Jafar yang menyamar sebagai Sidiq tersebut.


Sementara Jafar tidak mau menunjukkan jurus jurus andalannya agar tidak diketahui oleh mereka dan akan dipelajari kekurangan dan kelemahannya oleh mereka. Sebelum waktu pertempuran yang sesungguhnya.


Jafar ingat beberapa jurus Aikido yang pernah ia dapatkan dari Ponco dahulu. Dan Jafar berniat menggunakan jurus jurus Aikido dari Ponco saja untuk melawan tiga orang tersebut. sekaligus mempraktekan jurus yang pernah ia pelajari dari Ponco.


Dan saat salah seorang memukulnya, dengan cepat Jafar menangkap telapak tangan orang tersebut dan menarik orang itu ke arahnya. Namun sedetik kemudian Jafar menekuk telapak tangan orang tersebut yang sedang terhuyung ke depan. Sehingga badan orang itu terdorong ke depan tapi telapak tangannya ditekuk ke belakang oleh Jafar. Sehingga orang itu menjerit kesakitan dan terdengar suara


KRaaak…


Sendi pergelangan tangan orang tersebut lepas, dan orang yang pertama menangkap Jafar menjerit kesakitan.


Orang kedua menyerang dengan tendangan keras kearah Jafar mengarah ke dada Jafar. Jafar hanya berkelit ke sampung sambil menangkap kaki orang tersebut dan menarik ke depan seperti orang pertama tadi. Dan sama seperti sebelumnya, saat tubuh orang itu tertarik ke depan telapak kaki orang itu ditekuk kebawah melawan arah orang itu sehingga akibatnya sama.


Sendi telapak kaki orang tersebut bergeser mengakibatkan sendi kakinya lepas dan tidak mampu bangkit berdiri. Hanya meringis dan menahan kesakitan yang luar biasa. Bahkan seketika itu juga kakinya langsung bengkak.


Suara keributan itu pun memancing seluruh anggota padepokan tersebut keluar dan semua melihat apa yang terjadi. Sementara orang ketiga yang berpatroli tadi jadi ragu untuk menyerang Jafar. Karena takut mengalami hal yang sama dengan kedua temannya yang langsung tidak berkutik kesakitan.


Tiba tiba Bayu Aji yang datang menghampiri Jafar bersama juga dengan Jaka yang masih di perban tangan kanannya karena patah.


“Tidak disangka, aku kira kamu sportif untuk menunda pertarungan tapi sekarang malah sudah bikin ribut di sini.” Kata Bayu Aji.


“Bukan aku yang memulai, tapi mereka bertiga lah yang hendak menangkap aku. Aku sudah berusaha menghindari tapi mereka malah memaksa mengajak bertarung.” Jawab Jafar.


“Sebenarnya apa tujuanmu kemari sekarang, bukankah kamu bilang kemarin seminggu lagi baru mau kesini.” Tanya Jaka  kemudian.


“Aku berusaha sportif saja, sebenarnya aku hanya mau melihat kondisi kamu. Dan sebenarnya tadi aku berpikir setelah lihat kondisi kamu kayaknya gak mungkin jika dalam beberapa hari ini kita lanjutkan. Sementara tangan kamu belum sembuh.” Kata Jafar.


“Tapi tindakan kamu justru malah melukai dua orang anggota kami lagi sekarang.” Kata Bayu Aji.


“Itu salah mereka yang memaksa aku bertarung. Tapi baiklah aku akan kembalikan tangan dan kaki mereka seperti semula.” Jawab Jafar kemudian mendekati orang kedua yang menyerangnya. Kemudian memegang kakinya yang sendinya lepas. Dan dengan gerakan khusus yang diajarkan Ponco dulu jafar memutar kaki dan menekan hingga kaki orang itu kembali seperti semula. Meski menjerit dan masih merasa sakit tapi orang itu pelan pelan bisa berdiri lagi.


Kemudian berganti dengan orang pertama yang tadi sempat menampar Jafar, telapak tangan orang itu dipegang Jafar, namun kali ini Jafar menggunakan ilmu dari Yuyut Siti Aminah. Dengan sekali menghentakkan telapak tangan orang tersebut dan mendorong ke dalam di saat yang tepat. Telapak tangan tersebut kembali normal. Sebenarnya Jafar melakukan dengan dua cara tersebut ma membandingkan car Ponco dan cara Yuyut efektif mana. Ternyata lebih efektif ilmu yang dia dapat dari Yuyut.


“Masih terasa sakit atau tidak ?” Tanya Jafar.


“Sudah tidak, terimakasih.” Jawab orang pertama yang tadi menampar Jafar sambil tertunduk.


Tapi mendadak Jafar malah menampar orang itu dengan tamparan yang keras, sehingga orang itu sampai terjatuh. Membuat semua yang ada menjadi kaget.


“Itu balasan karena kamu tadi telah menampar aku. Soal tangan kamu sudah dipulihkan seperti semula, tapi tamparan dari kamu tetap harus aku balas biar setimpal.” Kata Jafar dengan santai sambil melangkah ke sepeda motornya dan meninggalkan tempat tersebut. tak satupun yang berani menghentikan langkah Jafar yang mengaku sebagai Sidiq tersebut. Mereka memberi jalan kepada Jafar untuk pergi…???


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2