Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Penyelamatan Nisa 1


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Penyelamatan Nisa 1...


“Aduh, harusnya aku main main dulu tadi. Gak langsung aku serang dengan kuat,” keluh Nisa dalam hati.


Nisa dipaksa harus berpikir agar bisa mengulur waktu. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Nisa, untuk memancing anak buah Ki Ajar Panggiring. Dengan harapan bisa melawan satu persatu musuhnya. Agar ada waktu bagi Nisa menunggu kedatangan Sidiq dan Jafar.


“Apakah murid murid kamu secemen ini Kakek tua, gak ada yang lebih hebat kah?” kata Nisa memancing emosi Ki Ajar Panggiring dan anak buahnya.


“Kurang Ajar, kamu terlalu sombong bocah. Baiklah kalau kamu mau mencoba menguji murid muridku, akan aku kasih kesempatan. Sebelum kamu binasa,” gertak Ki Ajar Panggiring.


Nisa justru tersenyum mendengar itu, minimal dia bsa mengulur waktu untuk menunggu bantuan datang. Nisa berpikir daripada menjadi tawanan yang tidak punya kesempatan. Lebih baik melawan musuh dengan resiko apapun nanti.


*****


Di pondok Pesantren Al-Huda


Jafar gelisah menunggu kedatangan Sidiq, kecemasan Jafar memuncak ketika melihat Sidiq datang.


“Mas kita langsung berangkat sekarang,” kata Jafar sudah tidak sabar.


“Tunggu dulu, ayah juga akan ikut dengan kita,” jawab Sidiq.


“Kok Ayah juga ikut?” tanya Jafar.


“Bagaimanapun kita butuh bantuan Ayah,” jawab Sidiq.


Jafar sedikit terhibur, bagaimanapun Yasin ayahnya mempunyai pengalaman dalam hal pertarungan. Meski kondisinya sudah tidak sekuat dahulu lagi.


Beberapa saat kemudian Yasin pun datang dan segera menemui Kyai Syuhada mengajak Sidiq ke Jafar.


“Beragkatlah sekarang, jangan sampai terlambat,” kata Kyai Syuhada


“Baiklah kang, aku minta bantuan Kholis juga. Kemungkinan aku butuh personil untuk memberi info, sementara aku dan anak anak mengamati secara langsung,” jawab Yasin.


Kyai Syuhada pun memberi ijin kepada Kholis untuk mengikuti Yasin bersama kedua anaknya. Maka berangkatlah Yasin bersama Kholis dan kedua anaknya menuju ke markas Ki Ajar Panggiring, Dalam perjalanan Yasin selalu berdoa’a untuk meminta keselamatan Nisa anaknya.


*****


Kembali pada Nisa yang sedang bersiap pada pertarungan kedua, setelah mengalahkan Godril yang sudah jatuh.


“Lebih baik kamu tidak usah melawan, mending juga ikut aku. Aku akan jadikan kamu wanita simpananku,” ucap Sunar mantan anak buah Ki Marto yang terkenal licik.


Nisa yang mendengar itu sangat marah dan tersinggung, namun tetap berusaha menahan. Agar bisa mengulur waktu. Nisa berharap akan segera datang bantuan dari Sidiq dan Jafar kakaknya.


“Kayaknya gak pantas, buat kamu lebih cocok yang dewasa. Agar bisa merawat mayat kamu kalau kamu mati,” jawab Nisa memancing emosi lawannya.


“Kurang ajar, mulut kamu gak pernah disekolahin ya? Baiklah, biar aku yang akan mengajari kamu sopan santun,” ucap Sunar.


Diam diam Sunar merogoh kantong celananya, mengambil sesuatu yang akan dipergunakan untuk menyerang Nisa. Namun Nisa yang sudah dilatih dan diberitahu Sidiq, tentang kemungkinan kecurangan lawan tidak mau lepas dari pengamatan gerakan lawan. Nisa curiga dengan apa yang dilakukan Sunar, Nisa menduga jika Sunar mengambil sesuatu dari kantong celananya.


“Kebalik kayaknya, akulah yang akan mengajari kamu akhlak. Agar tahu bagaimana bersikap jujur tidak licik,” jawab Nisa.


Sunar pun dengan cepat melemparkan sesuatu ke arah Nisa. Dari tangan Sunar berhambur bubuk putih yang bisa membuat orang yang terkena pingsan. Semacam obat bius yang sering dipergunakan Sunar untuk melumpuhkan lawan lawannya.


Nisa yang sudah menduga segera melompat mundur, menghindari serangan Sunar yang tiba-tiba. Namun sedikit terlambat bagi Nisa. Wajah dan mata Nisa sudah terkena bubuk yang dilemparkan oleh Sunar. Bahkan sebagian kecil sudah terhirup oleh Nisa.


“Astaghfirrullah…apa ini, mataku jadi gak bisa melihat dan kepalaku jadi pusing,” Nisa merasakan pusing dan sesaat kemudian merasa mengantuk. Kemudian Nisa mengatur peredaran darah dan nafas. Untuk mengurangi pengaruh obat bius yang dilemparkan Sunar.


“Gadis itu cukup kuat, jika orang biasa sudah langsung pingsan terkena obat bius Sunar,” kata Gagak Seta.


“Sayang gadis itu di pihak musuh, kalau bukan aku mau angkat dia jadi murid,” sahut Jaladara.


“Akugak berniat mengangkat Murid,” kata Gagak Seta.


“Sebenarnya aku juga tidak, tapi gadis itu tampak lain,” sahut Jaladara.

__ADS_1


“Maksudnya?” tanya Gagak Seta.


“Aku melihat ciri khusus pada gadis tersebut,” jawab Jaladara.


“Ciri apa Adi Jaladara?” tanya Gagak Seta kemudian.


“Gadis itu seperti memiliki tanda keturunan leluhur kita Begawan Sanjaya,” ucap Jaladara.


“Kamu Yakin? Bukankah Gadis itu adik dari dua pemuda yang pernah melawan kita dahulu?” tanya Gagak seta.


“Iya, tapi kedua kakaknya tidak memiliki tanda,. Gadis itu yang memiliki tanda khusus keturunan Begawan Sanjaya,” kata Jaladara.


Gagak Seta terdiam, meski sebagai kakak dari Jaladara. Namun soal kemampuan batin Gagak Seta masih dibawah Jaladara.


“Aku masih belum yakin itu, masak kita berurusan dengan keturunan eyang Begawan Sanjaya juga?” ucap Gagak Seta.


“Coba perhatikan, aura gadis itu. ada semacam aura yang sama dengan Begawan Sanjaya,” kata Jaladara.


Sementara Nisa berusaha sekuat tenaga untuk melawan obat bius yang dilemparkan oleh Sunar. Gagak Seta dan Jaladara memperhatikan dengan cermat Nisa yang bertahan melawan pengaruh obat bius Sunar.


“Rasakan kamu gadis sombong, sebentar lagi kamu akan pingsan dan jatuh,” ucap Sunar yang merasa menang.


*****


Yasin beserta Kholis dan kedua anaknya sudah mendekati markas Ki Ajar Panggiring. Beberapa penjaga dengan mudah dilumpuhkan. Penjagaan yang tidak seketat biasanya, karena sebagian besar berkumpul melihat pertarungan Nisa yang dikepung anak buah Ki Ajar Panggiring.


“Sidiq, apa masih jauh lokasi markas mereka?” tanya Yasin.


“Tidak Yah, hanya beberapa ratus meter lagi,” jawab Sidiq.


“Kalau begitu, kamu dan Jafar kesana lebih dahulu. Biar Ayah dan Kholis menyusul, gunakan tatar bayu dan sayeti angin. Selamatkan adikmu Nisa,” kata Yasin.


Tanpa menjawab Sidiq dan Jafar melesat cepat mendahului Yasin dan Kholis. Keduanya sudah tidak sabar untuk menyelamatkan Nisa adiknya.


“Kholis, seandainya diperlukan. Kamu nanti kembali ke pesantren untuk minta bantuan,” kata Yasin.


“Siap Bi,” jawab Kholis singkat.


“Tapi kita lihat keadaan dahulu, bila perlu kamu didampingi salah satu Sidiq atau Jafar,” kata Yasin.


“Kholis ikut saja apa kata Abi Yasin,” jawab Kholis.


“Astaghfirrullah…bukankah itu Nisa, dia sedang kesakitan. Tampaknya habis bertarung dengan salah satu anak buah Ki Ajar Panggiring,” kata Jafar.


“Terus apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya Sidiq.


“Mas Sidiq, disini menunggu Ayah dan Kang Kholis, biar Jafar yang masuk ke sana,” jawab Jafar.


“Kenapa tidak berdua saja Jafar?” tanya Sidiq.


“Tidak, harus ada yang menunggu Ayah di sini. Nanti jika Jafar angkat tangan kanan, baru Mas Sidiq menyusul,” kata Jafar.


“Kamu hati-hati Jafar, di sana ada Gagak Seta dan Jaladara,” ucap Sidiq.


“Insya Allah Mas, semoga saja Jafar bisa mengatasi mereka,” jawab Jafar.


Dengan cepat Jafar mendekati lokasi pertarungan Nisa dan Sunar. Tepat saat Sunar hendak menyerang Nisa yang sedang melawan pengaruh obat bius.


Sebuah tendangan keras dari Jafar mengenai Sunar yang tidak menduga kedatangan Jafar.


“Dasar tidak tahu diri, beraninya melawan gadis kecil,” teriak Jafar sambil menghajar Sunar.


Tendangan pukulan bahkan bantingan dilakukan Jafar, sehingga membuat Sunar tidak berkutik. Sunar yang kemampuannya jauh di bawah Jafar hanya menjadi bahan pelampiasan kemarahan Jafar.


“Mas Jafar…?” teriak Nisa yang mendengar suara Jafar. Nisa hanya mengenali suara Jafar, karena kedua matanya masih belum bisa terbuka.


“Kamu tenang saja disitu Nisa, biar mereka aku habisi,” teriak Jafar.


Sunar yang jatuh bangun dihajar Jafar kemudian dilemparkan ke anak buah Ki Ajar Panggiring sehingga beberapa orang jatuh, terbentur tubuh sunar. Sementara Sunar sendiri pingsan tak bisa bangun. Jafar yang hendak mengamuk dan menghajar anak buah Ki Ajar Panggiring, dikagetkan oleh sebuah teriakan.


“Berhenti atau adikmu kugorok lehernya?” Suara Gagak Seta.


Jafar berhenti, melihat Nisa adiknya yang sudah terancam golok di lehernya.


“Pengecut, lepaskan adikku kita bertarung secara jantan sekarang,” bentak Jafar mendekati Gagak Seta.

__ADS_1


Namun Gagak Seta justru mengancam Jafar.


“Selangkah lagi kamu maju, leher adikmu akan putus,” ancam Gagak Seta.


“Hentikan Gagak Seta…!” tiba-tiba Ki Ajar Panggiring menyeru Gagak Seta. Mengira Gagak Seta benar benar akan membunuh Nisa.


“Kamu anaknya Yasin?” tanya Ki Ajar Panggiring pada Jafar.


“Betul, aku anak Ayah Yasin, apakah Kakek yang bernama Ki Ajar Panggiring?” tanya Jafar.


“Tidak salah lagi, aku tidak menyakiti adikmu. Asal Ayah kamu kamu hadirkan ke sini,” kata Ki Ajar Panggiring.


“Mana mungkin aku bisa percaya dengan ucapan orang licik sepertimu?” kata Jafar.


“Terserah kamu saja, yang jelas aku beri waktu sehari. Jika sampai besok kamu tidak membawa Ayahmu ke sni. Jangan salahkan aku, adikmu akan kamu temukan jadi daging panggang. Aku akan bakar dia hidup hidup,” Ancam Ki Ajar Panggiring.


“Jangan Mas Jafar, jangan hadirkan Ayah ke sini…!” teriak Nisa.


“Sekarang kamu pilih selamatkan adikmu atau Ayahmu?” ucap Ki Ajar Panggiring.


Jafar dihadapkan pada posisi yang sangat sulit. Seperti makan buah simalakama. Menghadirkan ayahnya sangat berbahaya, karena kondisi Ayahnya yang tidak seperti dahulu lagi. tapi tidak menghadirkan ayahnya, Nisa terancam bahaya yang sangat besar.


“Apa jaminan untuk keselamatan adikku?” Jafar bertanya spontan kepada Ki Ajar Panggiring.


“Kita buat kesepakatan, kamu bawa Ayahmu kesini. Besok kalian akan lihat adik kamu dalam posisi terikat di atas kayu perapian. Jika Ayahmu tidak mau menyerah, maka adikmu yang akan hangus terbakar hidup hidup,” Ancam Ki Ajar Panggiring.


“Jangan Mas Jafar, jangan libatkan Ayah. Dia sangat licik, Nisa rela jadi korban asal jangan melibatkan Ayah,” teriak Nisa.


“Terserah kamu, mau pilih selamatkan adikmu yang cantik itu. Atau mau melindungi ayahmu yang sudah tua,” kata Ki Ajar Panggiring.


Jafar benar benar bingung, terlintas untuk memberi kode mengundang Sidiq. Namun diurungkan, Jafar memilih mempersiapkan rencana penyelamatan Nisa dengan matang. Meski mau tidak mau harus melibatkan Yasin ayahnya. Jafar mulai mengukur kekuatan lawan dan mengamati keadaan sekitar untuk persiapan mengatur rencana.


“Bagaimana, jangan terlalu lama berpikir. Aku kasih waktu sampai besok pukul sembilan pagi. Jika ayah kamu datang, adikmu selamat. Tapi jika tidak maka adikmu akan jadi abu,” ancam Ki Ajar Panggiring.


“Baik, tapi aku minta satu syarat,” kata Jafar sambil mengamati keadaan sekitar.


“Kamu tidak, punya pilihan lain. Juga tidak berhak mengajukan syarat apapun. Karena sekarang akulah yang menentukan semuanya,” jawab Ki Ajar Panggiring.


“Kurang ajar ini orang tua, siapa yang sekiranya bisa dijadikan sandera untuk jaminan keselamatan Nisa,” kata Jafar dalam hati.


“Cepat putuskan segera, jangan sampai aku berubah pikiran,” teriak Ki Ajar Panggiring,


Jafar melihat sekeliling, Jaladara saudara Gagak Seta yang sedang menawan Nisa tampak sedikit lengah. Dengan menggunakan Aji Tatar Bayu Jafar bergerak cepat menotok Jaladara dan gantian mengancam Gagak Seta dan Ki Ajar Panggiring.


“Gagak Seta, kamu tawan adikku. Sekarang adikmu juga aku tawan, lepaskan adikku Nisa, kalau tidak adikmu juga akan aku patahkan tulang lehernya,” ancam Jafar.


“Jangan, dia tidak akan berani melakukan itu Gagak Seta,” teriak Ki Ajar.


“Tapi…dia adikku satu satunya,” jawab Gagak Seta.


“Baiklah, tapi bukan berarti kita lepaskan gadis itu. Silahkan tawan Jaladara, sebagai jaminan adik kamu selamat sampai ayahmu datang. Tapi jika tidak datang, maka aku lebih baik kehilangan Jaladara tapi bisa membakar adikmu hidup hidup,” ucap Ki Ajar Panggiring.


“Tapi Ki…?” protes Gagak Seta tidak terima.


“Diam kamu, aku yakin anak ini tidak akan punya p[ilihan lain. Adikmu tetap akan selamat,” kata Ki Ajar.


“Baik, aku akan bawa Jaladara, buat jaminan. Jika kalian ingkar maka, semua akan merasakan akibatnya,” jawab Jafar.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2