
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Namun sedikit yang mengganjal di hati Yasin adalah, kenapa Jafar tadi bersikap keras seperti itu juga. Apakah jika nanti setelah Sidiq di masukkkan ke pesantren justru Jafar yang akan menjadi ujian bagi dirinya dengan meniru sikap Sidiq yang keras dan over protected dalam menjaga Nisa adiknya….???
Hampir sampai tengah malam Yasin mengajak keluarganya berbicara. Memanfaatkan suasana rumah yang baru sepi tidak ada siapapun kecuali anak dan istrinya. Waktu dan kesempatan itu digunakan Yasin sebaik baiknya untuk berbagi cerita dengan keluarganya.
Seperti malam malam sebelumnya Jafar selalu yang paling akhir berangkat tidur. Sehingga tinggal betiga dengan ayah dan bundanya, sementara Sidiq dan Nisa sudah berangkat tidur duluan. Dan saat itu pulalah Jafar mengungkapkan pertanyaan yang sempat mengganjal dalam hatinya.
“Maafkan Jafar yah, jika Jafar lancang dalam bertanya, tapi Jafar butuh jawaban agar tidak salah duga.” Tanya Jafar.
“Tanya saja nak, ayah dan bundamu mengajarkan kepada kalian untuk terbuka.” Kata Yasin.
“Ini soal mas Sidiq yang akan masuk ke pesantren, Jafar merasa sedih berpisah dan ada sedikit pertanyaan ?” ucap Jafar ragu ragu.
“Apa Jafar, jangan buat bunda bingung dengan ucapan kamu !” sahut Fatimah tidak sabar. Naluri seorang wanita tentu saja.
“Iya bunda, maaf jika bunda gak berkenan.” Ucap Jafar membuat Yasin pun ikut penasaran meski tidak terucap.
“Katakan saja Jafar, bunda gak akan marah.” Desak Fatimah.
Jafar tampak menghela nafas sebelu berkata, seakan mengumpulkan keberanian buat berbicara.
“Baik Jafar maupun Nisa, saat ini sudah tahu jika mas Sidiq bukan anak kandung Bunda Fatimah. Tapi kami sangat menyayangi mas Sidiq. Demikian juga mas Sidiq dengan kami, dia sangat menyayangi kami bahkan sering kali sampai membahaykan mas Sidiq sendiri.” Ucap Jafar tertahan, kebali menghela nafas.
“Terus kenapa Jafar ?” tanya Yasin yang ikutan penasaran apa maksut Jafar.
“Jafar tidak ingin mas Sidiq dimasukkan ke pesantren hanya karena bukan anak kandung bunda. Kalo mas Sidiq masuk ke pesantren Jafar dan Nisa juga harus masuk ke pesantren, biar sama bunda.” Ucap Jafar sambil tertunduk.
Rupanya itu yang membuat Jafar jadi agak berubah, bahkan tadi saat ada tamu yang mencari Sidiq Jafar pun dengan lantang membela Sidiq seperti itu. Antara bingung dan juga bangga melihat hubungan Sidiq dan kedua adiknya Yasin berpikir keras untuk menjelaskan kepada Jafar. Demikian juga dengan Fatimah, sehingga Fatimah dan Yasin sempat saling memandang seakan saling meminta pendapat.
“Jafar anak ayah, Ayah bangga sama kamu yang sangat peduli dengan Sidiq kakak kamu yang beda ibu nak. Namun kamu perlu tahu nak, Ayah dan bunda tidak sedikitpun membedakan kalian sama sekali. Jafar dan Nisa pun nanti juga akan masuk ke pesantren pada waktunya.” Jawab Yasin penuh haru mendengar ungkapan Jafar yang sangat peduli dengan Sidiq kakaknya.
Tiba tiba Fatimah tak lagi kuasa menahan Haru di hatinya. Keudian Fatimah mendekati dan memeluk Jafar anaknya.
“Jafar, hati kamu sangat lembut nak bunda sangat senang dengan itu. Namun seperti kata ayahmu, Bunda memasukkan Sidiq mas mu ke pesantren itu karena bunda juga ingin Sidiq jadi anak yang baik. Bukan bunda mau menjauhkan Sidiq seperti dugaan kamu nak.” Ucap Fatimah dengan linangan air mata haru dan bahagia atas Jafar.
Jafar pun tapak menitikkan air matanya, setelah mendengar penjelasan ibundanya. Sehingga Jafar dan Fatimah saling peluk sambil menangis.
“Maafkan Jafar bunda yang sudah salah duga pada Bunda.” Ucap Jafar. Dan seketika itu juga Yasin pun ikut larut dalam suasana dan ikut menitikkan air mata. Dan ikut memeluk Jafar dan Fatimah, kemudian Yasin angkat bicara pada keduanya.
“Ketahuilah Jafar, Sidiq tidak bersalah bunda kamu juga tidak bersalah atas semua ini. Ayah lah yang bersalah atas semua kenyataan ini, dan ayah berharap kalian semua bisa menutup kesalahan ayah dengan perbuatan baik kalian nanti.” Ucap Yasin sambil memeluk istri dan anaknya.
“Tidak ayah, ayah juga gak bersalah sepenuhnya Jafar yang kurang ajar mengungkit masa lalu ayah.” Ucap Jafar.
Yasin dan Fatimah agak kaget mendengar ucapan Jafar yang seperti ucapan orang dewasa saja. Baru kali ini Jafar berani mengungkapkan kata kata semacam itu. Pada hari hari sebelumnya Jafar hanyalah penurut yang hampir tidak pernah membantah. Dan juga tidak pernah berbicara banyak, sehingga ketika Yasin dan Fatimah mendengar Jafar bicar panjang lebar keduanya pun Kaget. Mendengar ungkapan ungkapan Jafar yang begitu menyentuh hati.
Dan setelah dirasa cukup mereka pun akhirnya berangkat tidur ke kamar nya. Jafar segera masuk ke kamar tidurnya. Diikuti oleh Yasin dan Fatimah juga segera masuk ke kamar mereka. Di dalam kamar pun Yasin dan Fatimah masih sibuk berpikir dengan arah pemikiran masing maasing tengang anak anaknya terutama sikap Jafar barusan.
Setelah lelah berpikir barulah keduanya terlelap dan terbuai mimpi masing masing hingga sang Fajar datang. Dan ereka bangun untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah, dengan tanpa lupa membangunkan ketiga anaknya.
*****
Flashback beberapa saat sebelumnya
Sidiq POV
Usai mendapat wejangan dari ayah bunda aku berangkat tidur dan asuk ke kamar. Meski aku juga tidak bisa langsung tidur. Dan lamat lamat aku masih mendengar percakapan Jafar adikku dengan Ayah bundaku. Aku sampai menangis mendengar Jafar adikku yang begitu care terhadapku. Bahkan sore nya tadi sempat membela aku saat aku di cari orang tua yang anaknya aku pukul tadi.
Baru kali ini Jafar addikku sampai berani begitu, bahkan sampai berani berbicara dengan ayah seperti itu. terlebih ucapan bunda Fatimah yang memang aku juga merasakan sendiri ketulusan bunda dari pertama aku ikut ayah. Saat Jafar adik ku masih dalam kandungan, bunda Fatimah bahkan bulek Khotimah juga sangat sayang pada Sidiq.
__ADS_1
Hanya saja waktu itu memang Sidiq belum tahu apa apa soal kehidupan orang dewasa. Sehingga tidak merasakan sesuatau seperti sekarang ini. Betapa baik hatinya bunda Fatimah kepada Sidiq, rasanya tidak adil jika aku tidak bisa menjaga kedua adikku itu. dan juga kepada Panji adik ku yang lahir dari mamahku Arum. Kalo aku besuk masuk ke pesantren aku akan tetap memantau adik adik ku, dan akan tetap menjaga mereka dari gangguan orang lain. Meski Jafar adikku sudah bisa menjaga diri saat ini.
“Udah lah, baiknya Sidiq tidur dulu saja besuk harus latihan music lagi sama ichal dan kelompok vokalnya.” Kata Sidiq dalam hati.
Sidiq pun akhirnya terlelap dalam mimpi, dan seluruh anggota keluarga itu pun sudah berada dalam buaian dewi mimpi yang menyelimuti istirahat mereka dengan mimpi mimpinya.
Flashback off
*****
Author POV
Pagi Hari seusai sholat subuh.
“Fat bikinin kopi seperti biasa, anak anak suruh joging biar pada sehat.” Ucap Yasin pada Istrinya.
“Mas gak ikut joging sekalian, biar nanti pulang joging baru ngopi.” Ucap Fatimah.
“Boleh juga, kalo begitu aku ganti pakaian dulu, kira kira setengah jam aku joging. Kamu gak buru buru ke kios kan ?” tanya Yasin pada Fatimah istrinya.
“Gak kok, kalo ada acara nanti tinggal bilang mbak Surti suruh jaga sendiri saja.” Ucap Fatimah.
“Tidak ada acara, hanya masih pingin lanjutin ngobrol, jadi kamu berangkat ke kios nanti agak siang saja.” Jawab Yasin sambil melangkah keluar pemanasan untuk lari pagi di tengah dinginnya hawa pegunungan.
Fatimah pun segera memerintahkan ketiga anaknya untuk ikut lari pagi dengan ayahnya. Dan ketiganya pun segera bersiap dan nampak bersemangat mengikuti lari pagi dengan ayahnya. Karena momen seperti ini sangat jarang mereka dapatkan sebelumnya.
Sehingga ketiganya begitu bersemangat menyusul ayahnya yang sudah bersiap untuk lari pagi. Dan setelah semuanya siap Yasin pun segera mengajak mereka lari pelan pelan untuk menghirup segarnya udara pagi wilayah pegunungan dan sekaligus melatih otot otot agar tidak kaku.
Nisa anak cewek Yasin dan Fatimah pun cukup bisa mengimbangi stamina dan kekuatan saudara saudaranya juga ayahnya.
“Wah stamina Nisa cukup Prima juga, sudah sejauh ini gerakanya belum mengalami penurunan speed berlarinya.” Ucap Yasin dalam hati.
“Yah,,, ngapain tengak tengok Nisa mulu, ayo terus aja larinya. Apa ayah udah gak kuat lagi dan pingin istirahat ?” ejek Nisa.
“Gak dong, ayah masih kuat hanya kuatir anak cewek ayah gak kuat lari saja.” Jawab Yasin.
“Nisa sudah biasa lari pagi juga kok yah. Gak usah kuatir.” Jawab Jafar sambil senyum.
Yasin hanya senyum senyum mendengar ejekan Nisa anak gadisnya. Karena Yasin hafal betul sifat Nisa, tidak akan mau meladeni ucapan Nisa yang kadang provokatif. Dan setelah beberapa saat mereka sampai di sebuah area perkebunan yang penuh di tubuhi pohon salak. Sebagai komuditas warga setempat yang sempat menjadi produk unggulan tingkat kabupaten dan menjadi icon Sleman.
Yasin melanjutkan larinya meski tetap beberapa kali menengok Nisa anak gadisnya. Sementara Nisa sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu. Nisa ingin tetap disamakan dengan Jafar dan Sidiq kakak nya. Hanya saja Yasin tetap tidak tega jika larinya terlalu cepat dan membuat anak gadisnya ketinggalan jauh.
Kemudian setelah cukup jauh Yasin mengajak anak anaknya untuk kembali pulang ke rumah.
“Kita sudah cukup jauh, sekarang waktunya kita pulang ke rumah saja.” Ucap Yasin kepada anak anaknya.
“Ayah sudah capek ?” Tanya Nisa setengah mengejek.
Meskipun sebenarnya Yasin tidak merasa kelelahan namun karena gak mau berdebat dengan anak gadisnya akhirnya Yasin mengiyakan saja ucapan Nisa.
“Iya, ayah udah capek nih kan udah lama gak olah raga Nisa.” Jawab Yasin.
“Ya sudah ayuk kita pulang sekarang tapi tetap sambil lari gak boleh jalan kaki lo yah !” tantang Nisa.
“Iya, ayuk kita berlomba siapa yang sampai rumah duluan.” Ucap Yasin.
“Sidiq dan Jafar tahu jika ayahnya hanya menuruti keinginan Nisa adiknya sehingga hanya senyum senyum  saja melihat tingkah adik ceweknya itu.
“Ayuk mas Sidiq dan mas Jafar, ayah kita tinggal dulu saja biar ayah paling belakang sampai ruah !” kata Nisa. Sidiq dan Jafar pun mengikuti kata Nisa adiknya berlari duluan meninggalkan ayahnya. Sementara Yasin memandangi ketiga anaknya itu sambil tersenyum.
“Alhamdulillah yaa Allah, ketiga anakku itu sangat akur. Tak pernah ribut dan bertengkar sama sekali, dua kakaknya Nisa sama sama bisa melindungi Nisa dengan kasih sayang.” Ucap Yasin dalam hati.
Sabil terus mengikuti langkah ketiga anaknya Yasin melihat secara khusus Jafar yang dalam berlari kelihatan sangat enteng dan berirama. Menyesuaikan kecepatan lari adik dan kakaknya, sebenarnya lah Yasin mengimbangi lari ketiga anaknya dengan menambah beban di kakinya untuk memberikan kesan lari anak anaknya seimbang dengan ayahnya.
Namun Yasin tidak menduga jika Jafar anaknya pun mengimbangi kecepatan lari Sidiq dan Nisa. Tidak menunjukkan kemampuan larinya yang sebenarnya. Sehingga Yasin berpikir, suatu saat akan mengajak Jafar latihan fisik untuk mengetahui sejauh mana kekuatan fisik Jafar anaknya.
Yasin terus mengikuti ketiga anak anaknya sampai ke ruahnya, dan Yasin pun sengaja berlari paling belakang untuk membuat Nisa anaknya senang. Karena merasa bisa mengalahkan Ayahnya, agar Nisa bisa merasa bangga nanti.
“Hore Nisa bisa samapai lebih dulu dari ayah,,,, bunda Nisa menang dari ayah…!” teriak Nisa ketika sampai di depan rumahnya. Fatimah hanya senyum mendengar teriakan nisa, tentu saja Fatimah tahu jika ayahnya hanya membuat hati Nisa senang saja. Bukan kalah beneran dengan Nisa.
“Iya dong sayang, ayah kamu kan sudah tua pasti nafasnya udah gak sehebat Nisa.” Jawab Fatimah ikut membesarkan hati Nisa.
__ADS_1
“Ayah sih, kalo habis subuh kebanyakan ngopi mulu gak pernah ikut lari pagi kita…!” ucap Nisa sambil ngos ngosan karena berusaha menandingi ayahnya. Sedang dengan Sidiq dan Jafar Nisa tidak merasa bersaing. Sementara Sidiq dan Jafar hanya menyesuaikan dengan kecepatan lari Nisa saja.
Dan hari itu Nisa tampak sangat ceria karena merasa bisa menunjukkan kemampuanya di hadapan ayah dan kakak kakak nya. Setelah itu Yasin pun masuk ke kamar dan mengambil baju ganti untuk segera andi. sabil melepas peberat yang dia pasang di kakiknya, yang tertutup oleh celana olah raganya.
Setelah mandi Yasin pun segera duduk di ruang tau sambil enikati kopi yang sudah di sediakan istrinya.
*****
Saat Yasin sedang menikati kopi buatan istrinya, tiba tiba Amir datang dengan tergopoh gopoh seperti ketakutan.
“Assalaamu’alaiku pak…!” sapa Amir pada Yasin.
“Wa’alaikuussalaam… ada apa kok kayaknya panik banget begitu Mir ?” tanya Yasin kepada Amir.
“Ini pak mau melaporkan, barusan pak Zul telpon mengatakan jika tanaman anggur yang kita tanam disana di rusak sekelopok orang. Bunga bunga dan bakal buah yang sudah tumbuh dirusak semuanya.” Laporan Amir pada Yasin.
“Ada aja masalah yang timbul, dan kenapa juga harus erusak tanaman yang tak bersalah.” Kata Ysin dala hati. Meskipun secara perjanjian itu sudah bukan tanggung jawab Yasin, namun demi memberikan services after sales pada pelanggan Yasin pun tetap memberikan respon dengan kejadian tersebut.
“Terus pak Zul bilang apa ?” tanya Yasin pada Amir.
“Pak Zul minta tolong untuk melihat kondisi tanaman, jika masih bisa di atasi dan dirawat lagi. Tapi jika tidak maka minta untuk ditanam ulang lagi.” Kata Amir.
“Kau lihat saja kondisinya, kalo bisa diusahakan agar yang ada di rawat lagi saja. Kalo tanam ulang kasihan pak Zul keluar banyak uang lagi. Kamu boleh minta biaya perwatan sekedarnya saja, angan gunakan kesempatan untuk hal yang tidak baik.” Jawab Yasin.
“Iya pak, berarti saya hari ini ke tempat pak Zul mengajak dua orang ya pak ?” tanya Amir.
“Boleh, bahkan jika kerusakan parah kamu boleh minta tambahan personil dan aku juga kan berusaha kesana, jika kondisinya parah.” Ucap Yasin.
“Ya pak terimakasih, owh iya pak. Tadi pak Zul juga bilang jika kemungkinan pelakunya adalah rival bisnisnya pak. Yang sengaja mau menghancurkan usaha pak Zul.” Kata Amir.
“Kamu gak usah berspikulasi begitu, tidak usah berkoentar yang baru berdasarkan opini pribadi. Kita lihat saja nanti, apakah memang dari rival atau dari orang lain.” Jawab Yasin keudian.
Amir pun segera mengajak dua rekan kerjanya untuk melihata kondisi rumah makan pak Zul yang bernuansa kebun anggur itu.
Sebenarnya Yasin pun menduga seperti yang dikatakan Amir tadi. Namun Yasin sudah malas jika harus bentrok dan adu fisik dengan orang lain. Namun demi menjaga hubungan baik dengan pelanggan Yasin pun bertekat untuk melihat kondisi perkebunan pak Zul. Untuk melihat seberapa parah kerusakan yang di alami dan siapa sebenarnya pelaku perusakan tersebut.
Yasin sengaja berangkat belakangan agar Amir dan kawannya sampai lebih dahulu. Untuk melihat seperti apa kinerja mereka. Selin itu juga pingin mengetahui bagaimana mereka menghadapi konsumen apakah sudah cukup baik atau mungkin masih dengan cara yang konvensional saja batin Yasin.
Yang tiak terpikirkan oleh Yasin adalah, selain persaingan bisnis, ada motif lain dari itu yang memang sengaja memancing kehadiran Yasin. Ada yang menaruh dendam  kepada Yasin yang tidak di sadari oleh Yasin, sehingga jika Yasin hadir bisa jadi malah masuk ke perangkap orang tersebut.
Dan saat hendak berangkat Yasin seperti merasakan sesuatu yang aneh, tidak biasanya Jafar menghampirinya saat mau pergi. Tapi pagi itu tiba tiba saja datang menghampiri dan menyampaikan sesuatau kepada ayahnya.
“Yah berangkatnya nanti habis dhuhur saja, ada yang Jafar mau bicarakan sama ayah dulu.” Pinta Jafar anak nya.
“Masalah penting apa lagi nih si Jafar ? Bukanya semalam juga sudah sampai lewat tengah malam bicaranya.” Kata Yasin dala hati. Namun entah kenapa saat itu Yasin pun tak kuasa menolak permintaan Jafar anaknya itu. sehingga Yasin memutuskan untuk berangkat nanti sehabis dhuhur saja.
*****
Sebenarnya yang terjadi adalah, Jafar merasakan jika ayahnya datang kesana akan muncul bahaya dari arah timur. Dan posisi Yasin di sebelah baratnya, sehingga Jafar kuatir jika masih pagi maka menguntungkan musuh, karena tidak silau oleh matahari terbit. Dan Yasin serta rombongannya yang akan terganggu silaunya matahari nanti.
Begitulah pertimbangan Jafar yang memikirkan sampai sejauh itu, sehingga sedikit banyak tugas ayahnya akan terbantu.
Tinggal bagaimana nanti Yasin bisa mengahadapi serangan musuh yang mengincar pribadi Yasin sendiri. Apakah Yasin harus kebali menggunakan kanuragannya ataukah lebih menghindari pertempuran dengan orang yang menaruh dendam kepadanya tersebut. Dan siapa kah yang menaruh dendam tersebut dan kenapa bisa menaruh dendam, apakah pernah bertemu dan bertempur seblumnya…???
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1
Â