Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Gede Paneluh dan Jalu gabung dengan Mutsashi


__ADS_3

...Gede Paneluh dan Jalu gabung dengan Mutsashi...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


"Tampaknya aku bertemu dengan orang yang punya musuh sama dengan klan Ninja Yukimoto. Bisa aku manfaatkan orang orang ini nanti.” Batin Mutsashi yang berganti nama jadi Susiana tersebut…!?!


Sekilas Susiana mendengar Gede Paneluh dan Jalu menyebut nama Sidiq dan Jafar sebagai anak Yasin sebagai musuh. Susiana pun ingin tahu apakah Yasin yang dimaksud adalah yang dulu membakar sebagian markas mereka.


Mutsashi atau Susiana tersebut kemudian mengajak Gede Paneluh dan Jalu menuju ke tempat tinggalnya. Gede Paneluh dan Jalu berjalan mengikuti Susiana, Jalu yang masih bujangan itu pun mulai berpikir kotor melihat Susiana berjalan di depannya. Melihat pantat Susiana yang ikut berlenggok ketika melangkah.


“Selama ini aku terlalu sibuk memikirkan balas dendam, hingga tak sempat berpikir tentang wanita. Ternyata wanita ini punya daya tarik yang hebat, meski tergolong tak muda lagi.” Kata Jalu dalam hatinya.


Gede Paneluh sesekali melirik Jalu yang terpana dengan pemandangan indah di depan mata mereka.


“Adi Jalu jangan tergoda, kita tidak tahu bagaimana dia.” Bisik Gede Paneluh yang sudah cukup dewasa dan sudah berumah tangga tersebut.


Jalu tersipu malu mendengar ucapan Gede Paneluh, sehingga hanya tersenyum saja.


“Baru kali ini kang Jalu melihat wanita jadi tertarik begini.” Ucap Jalu malu malu.


Satu hal yang tidak diketahui oleh Jalu dan Gede Paneluh jika Susiana adalah satu dari klan Ninja atau seorang Lady Ninja yang terlatih dalam segala hal. Termasuk menjebak musuh dengan segala cara sampai dengan jebakan diatas ranjang sekalipun.


Sehingga apa yang dilakukan Susiana tersebut memang sudah direncanakan. Demi mencari pengikut untuk membesarkan Klan Ninjanya. Karena Yukimoto sebagai Klan Ninja tersebut sudah tiada bersama seluruh anggota lainya. Saat bertempur melawan Rahardian dahulu.


Sayangnya Susiana hanya tahu jika musuhnya adalah kelompok Yasin,  yang telah membakar sebagian markas mereka. Sehingga tujuan Susiana alias Mutsashi pun untuk membuat perhitungan dengan Yasin dan Hansaimura.


Sesampai di rumah Susiana halamannya cukup luas dan di belakang rumahnya banyak tonggak tonggak untuk berlatih jurus. Jalu dan Gede Paneluh Heran, melihat konstruksi rumah Susiana yang lebih mirip sebuah Padepokan itu.


Namun baik Jalu maupun Gede paneluh tidak berani tanya lebih jauh tentang hal itu. takut membuat Susiana jadi tersinggung.


Kemudian Susiana membuatkan ramuan obat untuk Gede Paneluh.


“Ini diminum dan yang ini untuk mengoles luka kamu.” Ucap Susiana.


Gede Paneluh menerima dan tidak menaruh curiga sama sekali pada Susiana. Kemudian meminum ramuan obat dan mengoles lukanya dengan tumbukan dedaunan herbal buatan Susiana tersebut.


“Kenapa bisa terluka seperti ini ?” Tanya Susiana.


“Kami sedang bertarung dengan seorang pemuda yang sakti, dan kakang Gede Paneluh ini jadi terluka. Akhirnya kami melarikan diri.” Jalu yang menjawab pertanyaan Susiana sambil memandang wajah Susiana.


“Pemuda bisa kalahkan kalian, bagaimana dengan orang tua pemuda itu pasti orang hebat juga ?” Tanya Susiana lagi.


“Betul, sebenarnya tujuan kami mau menjadikan pemuda tersebut sebagai pancingan saja untuk mengundang ayahnya. Tapi kami malah bisa dikalahkan oleh pemuda itu.” Jawab Gede Paneluh.


“Wow,,, menarik sekali. Siapa nama orang tua pemuda tersebut ?” tanya Susiana mulai masuk ke tujuan.


“Namanya Yasin, tapi kami juga belum pernah bertemu orangnya. Hanya dengar namanya saja, karena dia yang telah membunuh orang tua dan guru besar kami.” Jawab Gede Paneluh.


Susiana menahan perasaan dendamnya agar tidak tampak mencurigakan.


“Yasin,,,? Apa kehebatan dia ?” Tanya Susiana.


“Belum tahu pasti, tapi anak anaknya saja bisa kalahkan kami tentu ayahnya lebih hebat lagi.” jawab Jalu.


“MAaf nyai ini namanya siapa, perkenalkan nama saya Gede Paneluh dan ini saudara saya Jalu.” Ucap Gede Paneluh Memperkenalkan diri.


“Panggil saja saya Susi, nama panjang saya Susiana.” Jawab Susiana alias Mutsashi.


“Apa nyai juga tertarik mendengar musuh kami ?” Tanya Gede Paneluh.

__ADS_1


Susiana tidak menjawab langsung, tapi mengeluarkan tiga buah senjata rahasia Ninja dan melemparkannya ke dinding kayu rumahnya.


Tiga senjata rahasia tersebut menancap berurutan di dinding kayunya dari atas ke bawah.


“Jika yang kalian maksud Yasin adalah pembunuh keteu kami maka kita punya musuh yang sama.” Jawab Susi.


Gede Paneluh kaget begitu juga dengan Jalu. Mendengar ucapan Susiana dan melihat aksi Susiana tersebut.


“Lemparan kamu cukup kuat nyai, tapi apakah itu cukup akurat ?” Tanya Jalu penasaran dengan aksi Susiana.


“Kamu cabut Tiga senjata itu sekarang.” Kata Susiana.


Jalu pun berjalan menghampiri senjata yang menancap di dinding kayu itu. Namun Jalu terkejut melihat tiga senjata itu tepat mengenai tiga ekor cicak yang menempel di dinding. Ternyata Susiana tidak sekedar melempar sembarangan, tapi sengaja melempar tiga ekor lalat sekaligus dengan satu kali lemparan senjata rahasianya.


“Luar biasa Nyai, ternyata lemparan Nyai tadi membidik tiga ekor cicak ini.” Kata Jalu. Dan Gede Paneluh pun ikut terkejut mendengar kata Jalu.


Namun belum sempat keduanya hilang rasa herannya, Susiana sudah beraksi lagi dengan membanting bola kecil yang menimbulkan ledakan kecil dan asap berwarna kuning. Serta mengeluarkan aroma menyengat hingga gede Paneluh dan Jalu harus menutup hidung sesaat.


Dalam hitungan detik asap itu sudah hilang, namun sosok Susiana tahu tahu sudah berubah penampilan dengan pakaian ala Ninja nya. Dengan pakain rapat yang serba hitam sampai ke penutup wajahnya.


“Inilah saya yang sesungguhnya, Susiana nama samaranku nama asliku adalah Mutsashi.” Ucap Susiana.


Gede Paneluh dan Jalu hanya tercengan dan berdecak kagum dengan aksi Susiana Mutsashi tersebut. Kemudian Susiana kembali berganti dengan pakaian biasa dan kembali berbincang dengan Gede Paneluh dan Jalu. Mereka sepakat untuk mempertemukan Yasin dengan Mutsashi entah bagaimanapun caranya.


Jalu pun kemudian mohon diri Untuk bersiap melakukan ritual terakhir berendam di Tempuran Sungai. Sebagai langkah akhir Ritualnya, Jalu harus mencari kambing Kendit sebagai syarat atau tumbal persembahan kepada Khodam Jin yang disyaratkan.


…..


Flashback perjalanan Pak Yadi mengantar Riska ke rumahnya.


Pak Yadi bersama dua anak buahnya mengantar Riska yang di dampingi  Ihsan Sidiq dan Yasin Ayah Sidiq. Sementar Ari masuk kedalam Mobil khusus sebagai tahanan atas kasus penculikan Riska.


“Maaf pak Yasin, sekarang panggil pak Yasin lagi gak papa kan. Nanti disana mungkin Ayah Riska akan menuduh Sidiq sebagai pelaku penculik anaknya. Biar nanti saya dulu yang menjelaskan.” Ucap Pak Yadi.


“Iya pak gapapa, walaupun saya harus diam saja juga gak masalah.” Jawab Yasin.


“Gak papa, gak usah dipikirkan namanya juga ayah pada anak gadisnya. Pasti protektif banget, apalagi anaknya menginjak remaja seperti kamu.” Jawab Yasin.


Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di depan rumah Riska. Dimana di rumah Riska sudah banyak berkumpul kerabat dekat orang tua Riska juga beberapa Pamong Desa. Beberapa Pamong Desa anak buah ayahnya Riska ikut memberikan hiburan dan support kepada kedua orang tua Riska.


Dan begitu melihat Riska kembali semua orang tampak lega. Ibunya Riska bahkan sampai menangis memeluk Riska meski Riska dari kemarin gak sempat ganti baju bahkan mandi.


Kemudian Pak Yadi mengajak Sidiq dan Yasin untuk ikut masuk ke dalam, sementara yang lain diminta menunggu di luar dulu termasuk Ari yang dalam mobil tahanan dan posisi di borgol. Agar tidak menjadi sasaran amukan masa.


Awal bapaknya Riska melihat Sidiq tampangnya sudah di tekuk memperlihatkan rasa kebencian yang sangat dalam. Sampai pak Yadi meminta agar Pak Lurah itu bersabar sejenak dan bicara kalangan terbatas saja. Dan permintaan pak Yadi pun diterima, mereka mengadakan pertemuan terbatas di dalam rumah.


Hanya kedua orang tua Riska, termasuk Riska sendiri setelah membersihkan diri dan ganti baju. Dengan Pihak Sidiq yang di damping Yasin ayahnya. Pak Yadi menjadi moderator pertemuan tersebut.


“Alhamdulillah pak Lurah, putrinya dapat kembali dengan Selamat tanpa kurang suatu apa. Itu Point pertama yang harus saya sampaikan pak.” Ucap Pak Yadi menjeda bicara sebentar.


“Iya pak saya juga bersyukur atas itu, tapi saya tetap minta agar pelaku tetap harus dihukum sesuai Undang Undang. KArena kita hidup di Negara Hukum pak Polisi.” Jawab Pak Lurah sambil melirik Sidiq.


“Betul itu pak, tapi untuk lebih jelasnya biar Putri bapak sendiri yang menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya. Agar tidak terjadi salah paham nantinya.” Jawab Pak Yadi.


Kemudian Riska diminta untuk menjelaskan kejadian yang dialami sampai akhirnya dapat kembali ke rumah bersama Polisi dan juga Sidiq beserta Ayahnya.


Riska pun menjelaskan dari saat bertemu dengan Ari di kantin dan mengatakan jika Sidiq akan bicara empat mata dengan Riska di suatu tempat. Namun Justru disana yang ditemui adalah Jalu dan Ari sendiri.


“Aku kan sudah bilang jangan pernah menemui anak itu lagi, kenapa kamu masih bandel juga.” Ucap pak Lurah spontan menunjukkan kebencian kepada Sidiq. Sidiq hanya diam saja, Yasin pun sejauh ini juga tidak bereaksi apapun juga. Benar benar hanya mendengarkan semua percakapan..


“Sabar dulu pak, seperti yang saya bilang tadi agar tidak salah Paham biarkan Putri bapak bercerita sampai selesai dulu.” Sahut pak Yadi.


“Iya pak maaf, saya terbawa Emosi tadi.” Jawab Pak Lurah. Sebagai pemimpin Desa tentu dia pun harus bisa menjaga Image agar tidak terkesan brutal atau Arogan.


Kemudian Riska kembali melanjutkan ceritanya.


“Jadi di tempat itu saya justru hanya dijebak karena disitu saya langsung dipukul hingga pingsan. Dan tahu tahu sudah di sekap dalam ruangan khusus. Dan disana sudah ada dua tawanan lain teman teman pesantren Jafar.” Lanjut Riska.

__ADS_1


“Jafar,,,? Siapa itu Jafar ?” tanya Ayah Riska.


“Jafar adiknya mas Sidiq, jadi Riska ditawan disana agar Mas Sidiq atau Jafar terpancing dan akan ditangkap oleh mereka.” Penjelasan Riska dengan sepengetahuan Riska sendiri.


Kemudian Riska menceritakan saat dirinya diikat dan dibungkam di pinggir arena pertempuran sampai akhirnya diselamatkan oleh Sidiq dan Jafar adiknya Sidiq.


Pak lurah jadi agak merasa salah tingkah setelah mendengar penjelasan dari Riska. Bahkan ibunya Riska tak kuasa menahan emosinya.


“Jadi selama ini Ari itu hanya memfitnah saja, justru dialah yang berniat jahat kepadamu Riska ?” ucap ibunya Riska.


“Sudah bu, gak usah emosi kan akhirnya Riska putri ibu dapat diselamatkan.” Ucap pak Yadi.


“Terus Ari sekarang bagaimana pak ?” Tanya ibunya Riska.


“Sudah kami amankan dan akan segera diproses Hukum. Jadi maksut saya mengajak Sidiq juga ayahnya ini, karena tadi pagi orang tahunya pelakunya adalah Sidiq. Padahal Sidiq saya bawa sekedar untuk menunjukkan kemana kira kira Riska dibawa pergi. Namun karena sifatnya itu masih Rahasia, makanya saya bilang Sidiq akan saya interogasi dengan lebih dalam lagi. Begitu Pak Lurah kejadian sebenarnya.” Ucap Pak Yadi.


Pak Lurah tertunduk malu, menyesali atas ucapanya tadi.


“Jadi bapak adalah ayahnya Sidiq ?” Tanya Pak Lurah kepada Yasin.


“Iya pak Lurah, maafkan anak saya kalau sudah membuat susah keluarga dan warga sini.” Jawab Yasin datar.


Pak lurah justru semakin tidak enak dengan Yasin.


“Maafkan saya juga pak, sudah salah sangka. Sebenarnya kalau saya tahu tempatnya mungkin saya sendiri juga bisa menyelamatkan Riska anak saya. Karena saya juga anggota dan pelatih dari beladiri Taekwondo pak.” Ucap pak Lurah sedikit membanggakan dirinya.


“Iya pak, mungkin anak saya gak sempat matur bapak saja tadi pagi.” Jawab Yasin masih datar saja.


Pak Yadi agak geli melihat Yasin berbicara begitu, tidak seperti Yasin yang dulu dikenal pak Yadi.


“Pak,, bapaknya mas Sidiq itu Hebat bisa ngalahin banyak orang sekaligus kalau mau.” Sahut Riska yang malu atas ucapan Bapaknya.


“Gak kok pak, anak saya yang mempelajari beladiri bukan saya.” Kata Yasin tidak ingin membuat pak Lurah bapaknya Riska jadi malu.


Kemudian pak Lurah dan Istrinya minta dipertemukan dengan Ari. Yang akhirnya diizinkan oleh pak Yadi dengan catatan tidak boleh main hakim sendiri, apalagi sebagai seorang Lurah harus bisa memberi contoh yang baik pada warganya.


Kemudian mereka dipertemukan dengan Ari, meski hanya dari luar kaca jendela Mobil tersebut mereka boleh bicara.


“Tidak kusangka, kamu ternyata berhati busuk mau menjerumuskan Riska anakku Ari.” Ucap pak Lurah yang tanpa sadar menampar Ari dari luar candela. Untung saja pak Yadi segera mencegah agar tidak berlanjut.


“Sabar pak, biar Hukum nanti yang bertindak.” Kata pak Yadi.


“Bukan salah Ari Om, ini yang perintahkan Bang Jalu. Dan Riska tidak di apa apain kok, hanya sebagai pancingan saja.” Jawab Ari.


“Terus kenapa kalau yang nyuruh kamu Jalu, kamu pikir aku takut ?” bentak pak lurah yang tersinggung dengan ucapan Ari.


Ari yang merasa sudah terlanjur basah itu pun menjadi tersinggung Jalu disepelekan.


“Kalau bang Jalu dengar ini bisa bahaya Om, Ari harap Om tarik lagi ucapan Om.” Jawab Ari.


Yasin yang mendengar itu pun jadi tidak tega melihat seorang Lurah diancam anak gak berguna seperti Ari. Dengan cepat Yasin memegang Ari dan mencengkram lehernya.


“Dasar bocah tidak tahu adab, bicara sama orang tua gak sopan begitu. Jangan paksa aku untuk mematahkan tulang rahang kamu ya….!!!” Bentak Yasin dengan sifat aslinya yang keluar.


Semua terkejut melihat Yasin yang tahu tahu sudah mencengkeram leher Ari hingga kesulitan bernafas tersebut. bahkan secara tidak langsung tindakan Yasin tersebut membuat bapaknya Riska tahu jika Yasin bukan orang sembarangan. Pak Yadi pun jadi bingung, karena hendak mencegah Yasin tampak sangat marah, namun bila dibiarkan Ari memang bisa mati dicekik terus oleh Yasin…!?!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2