
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Mereka pun jadi tertegun mendengar aku menyebut nama Gembul, dan tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun pada mereka. Selanjutnya salah satu dari orang orang itu mendekati kami dengan kepercayaan diri penuh. Kami pun menunggunya dengan segala kewaspadaan jika dia menyerang tiba tiba…!!?
“Kalo kalian teman dari Gembul kenapa tidak bicara baik baik harus melukai orang orang kami.” Ucapnya.
Aku merasa sudah kepalang tanggung, namun sekedar mengulur waktu agar bantuan segera datang aku pura pura menanggapi ucapan nya.
“Iseng saja, udah lama gak mukulin orang jadi satpam songong itu aku jadikan pelampiasan. Tapi gembul ada kan di dalam ?” tanyaku pura pura percaya ucapan orang itu.
“Ada, baru berlatih lempar pisau sama si Pisau terbang.” Ucap orang itu.
Pisau terbang ? Kayak pernah denger nama itu, apakah beneran dia, kataku dalam hati. Pantas saja Gembul sekarang punya keberanian melawan aku.
“Owh si Gembul ikut latihan lempar pisau ? Kirain jadi sasaran lempar saja gak pantes tuh orang. Mirip karung pasir dikasih nyawa saja.” Ucapku memancing emosi orang itu. ku lihat jam seharusnya sepuluh menit lagi rombongan pak Adnan muncul. Cukuplah main main sepuluh menit dengan orang orang itu.
“Kamu ini teman Gembul bukan kok bicaranya seperti itu ?” tanya orang tersebut.
“Dulu teman akrab tiap hari kumpul dan mabuk bareng dengan teman ku ini.” kataku menunjuk ke Rofiq.
“Lah kenapa bicaranya merendahkan Gembul begitu kalo dulu teman. Sekarang Gembul sudah lihai memainkan pisau jadi kamu hati hati.” Kata orang itu.
“Wkakaka…. Dari dulu Gembul ya tetep gembul mau belajar pisau terbang atau pun ilmu yang lain tetap saja dia oon. Dan perlu kalian tahu kalo sekarang kami adalah musuh bebuyutan bukan lagi teman. Dan kami kesini mau menghajar Gembul berikut orang orangnya yang menghalangi kami.” Ucapku sudah gak sabar lagi.
“Kurang ajar kalian, berarti berani melawan kami !” ucap orang itu.
Sambil berkata orang tersebut melayangkan tinjunya ke wajahku, dengan sedikit memiringkan wajah tinju orang itu hanya mengenai angi. Dan kaki kananku yang mendarat di perut sedikit bagian bawah pusarnya. Sehingga orang itu jatuh terduduk merasakan mulas dan serasa pingin kencing.
Yang lain pun membantu menyerang aku dan Rofiq, secara bergantian sehingga memudahkan kami melumpuhkan mereka. Namun merasa mengalami kesulitan menghadapi kami mereka pun akhirnya berkelompok bersiap menghadapi kami bersama sama. Sementara aku melihat Gembul datang bersama seseorang yang aku rasa dialah guru si Gembul yang berjuluk si pisau terbang itu.
Demi menjaga keselamatan dan menghemat waktu aku perintahkan Rofiq mundur.
“Bang mundur dulu saja, biar aku gunakan jurus pamungkas jurus suci Hijaiyah ku." Kataku kepada Rofiq.
Kemudian aku segera mempersiapkan jurus ‘YA’ jurus yang sudah lama sekali tidak aku pergunakan melawan musuh. Dan segera aku memukulkan telapak tanganku ke tanah sambil memandang kelompok penyerang itu. Dan mereka semua kaget terlempar ke belakang seperti tertimpa angin topan.
Namun belum sempat aku bangkit dari menerapkan jurus itu tiba tiba Rofiq berteriak.
“Awas Zain pisau mengarah padamu.” Teriak Rofiq.
Aku sempat kaget ada sebilah belati kecil yang meluncur ke arah tubuhku. Secepat mungkin aku menggulingkan badanku ke samping menghindari pisau tersebut. ternyata yang melempar pisa adalah gurunya si Gembul, si Pisau terbang.
Lemparannya cepat dan akurat sekali aku harus hati hati, segera aku mengambil doble stik andalanku untuk melawan serangan pisau mendadak tersebut.
“Plok plok plok….”
Suara tepuk tangan si Pisau terbang .
“Bagus bagus… rupanya masih ada lawan yang seimbang buat aku menguji ilmu pisau yang ku pelajari selama ini.” ucap si pisau terbang.
Aku bangkit dan menghampiri Rofiq untuk memperingatkan agar hati hati dengan kecepatan dia melempar pisau belati kecilnya.
“Gunakan tongkat pemukul satpam itu tadi. Orang itu bisa melempar sekaligus tiga pisau belati kecilnya dengan satu tangan. Jadi kalo dua tangan sekaligus bisa melempar pisau enam sekali lempar.” Bisik ku pada Rofiq.
“Ok aku satu kamu satu.” Ucap Rofiq.
“Gak usah, bang Rofiq bawa dua duanya saja tangan kanan dan kiri harus membawa benda untuk menangkis dan tetap bersiap menghindar. “ ucapku.
“Ha ha ha… sudah berunding ya ? Siapa dulu yang akan merasakan pisau pisau ku ini lebih dulu.” Ucap si Pisau terbang.
“Hmmm… tawaran yang menarik. Aku jadi pingin merasakan seberapa tajam pisau dapur yang kamu bawa itu. tapi kamu siap siap saja di omelin bini kamu pisau dapurnya kamu bawa main main.” Ucapku.
“Santai saja, pisau begini ada ratusan di rumahku, buat kamu mungkin aku gak butuh banyak membuang pisau.” Ucap si Pisau terbang.
“Wkakaka… bilang saja habis di omelin bini kamu jadi gak berani bawa pisau banyak banyak.” Sahutku memancing emosinya.
“Jiahahaha… kamu salah besar, bini gue banyak tinggal pesen sama Gembul murid ku mau gadis perawan atau janda dia siap krim kapan saja.” Ucapnya.
Justru aku yang hampir terpancing emosinya, untung segera bisa mengendalikan diri.
“Wkakaka…. Doyan saja sama sisa si Gembul yang rakus, kalo Gembul kambing di bedakin juga dia doyan. Eeh tapi jangan jangan kamu juga lebih suka kambing ya. Wkakaka…!” tawaku mengejek sehingga mampu membuat si Pisau terbang marah dan langsung menghujani aku sekaligus dengan enam pisau belati kecilnya.
Aku yang sudah siap dengan doble stik ku bisa menghalau laju keenam pisau belati kecil itu tanpa kesulitan yang berarti.
“Wah ternyata pisau kamu hanya dari kaleng rombeng mudah patah dan bengkok tuh. Cari yang lebih baik lagi ada gak, aku masih bersedia nunggu. Ambil dulu gih barang kali di dalam masih ada stok nya.” Ledek ku pada si Pisau terbang. Sambil memberi kode pada Rofiq untuk tetap waspada.
__ADS_1
“Jangan bangga dulu anak muda, itu hanya permulaan. Sekarang bersiaplah, menghadapi hujan belati kecilku.” Ucap orang itu yang langsung melemparkan enam pisau dengan kedua tangannya dan di lanjutkan lemparan kedua dengan enam pisau berikutnya. Sehingga total du belas pisau mengarah ke tubuhku dari samping kanan dan kiri serta atas bawah. Sehingga aku kesulitan untuk menghindar kesamping ataupun mengelak ke atas atau ke bawah.
Kemudian aku memilih menangkis yang sebelah kanan atas dan bawah dan secepat mungkin bergeser ke kanan menghindari pisau yang datang dari arah kiri.
“Aduh maaf pisau pisau kamu sebagian tidak aku ambil, terlalu jelek soalnya.” Ucapku memancing kemarahan orang itu.
Meski aku juga berpikir seberapa banyak pisau orang itu, kalo kebanyakan aku juga bisa kelelahan menghindari dan menangkis pisau pisaunya. Sehingga secara sembunyi sembunyi aku mempersiapkan jurus ‘YA’ jika ada kesempatan aku harus memukulnya sebelum sempat melempar pisau pisau berikutnya. Dan kali ini aku kembali harus jempalitan menghindari serangan pisaunya yang datang bergantian seakan tidak memberikan aku kesempatan untuk menginjak tanah dan mengambil nafas panjang.
Bahkan aku dipaksa harus bergulingan juga demi menghindar dan menangkis pisau pisaunya. Sambil terus mempersiapkan jurus ‘YA’ menunggu jeda waktu cukup untuk menyerangnya balik.
Beberapa saat kemudian orang itu Nampak kehabisan stok pisaunya dan meminta pisau kepada Gembul. Hal itu aku gunakan untuk menyerangnya balik dengan jurus ‘YA’. Sehingga belum sempat dia menerima pisau dari gembul pisa terbang dan gembul terlempar ke belakang dan menghantam tembok dan pintu rumah tersebut.
Rofiq yang berniat mengejar aku teriak kan untuk jangan dulu mendekat, siapa tahu dia masih bisa melemparkan pisau pisau belatinya tersebut. dan jika itu terjadi akan sangat berbahaya bagi Rofiq.
“Jangan mendekat dulu bahaya pisaunya masih cukup banyak.” Teriakku. Rofiq pun menghentikan langkahnya dan mendekatiku.
“Kamu gak papa Zain ?” tanya Rofiq.
Lumayan cape dan jadi kotor juga harus jungkir balik menghindari pisau pisau orang itu.” jawabku.
“Apa langkah selanjutnya ?” tanya Rofiq kemudian.
“Kita tunggu saja Gembul dan gurunya bangun sambil nunggu bantuan datang. Jujur tidak mudah menghalau serangan jarak jauh pisau pisau itu. salah perhitungan sedikit saja tubuh kita yang tertembus belati itu.” ucapku.
Baru saja aku selesai bicara sudah ada empat pisau yang meluncur dengan kecepatan tinggi di susul empat pisau lagi dengan sasaran bidik yang berbeda. Empat pisau pertama mengarah ke leherku dan berjajar kiri kanan sedang empat pisau berikutnya berjajar atas dan bawah mengarah ke dadaku.
“Lompat ke kanan bang.” Kataku pada Rofiq. sementara aku sendiri melompat ke kiri sambil menghalau pisau yang mengarah ke dada ku dengan doble stik ku.
Alhamdulillah tidak satupun pisau yang berhasil mengenai kami.
Kemudian Gembul dan si Pisau terbang muncul kembali, namun tangan kanan pisau terbang tampaknya terluka akibat membentur daun pintu tadi. Sehingga hanya menggunakan satu tangan kirinya untuk menyerang aku. Berarti tadi yang melakukan sebagian adalah gembul, pikirku.
“Kenapa hanya sedikit pisau yang kamu lemparkan, apa kehabisan. Ini aku kembalikan sebagian pisau pisau kamu.” Ucapku sambil melemparkan dua bilah belati kecil itu secara bergantian. Satu ke arah pisau terbang dan satunya lagi ke arah Gembul. Meski tidak secepat dan seakurat lemparan mereka namun lemparan ku yang ku arahkan ke si gembul tidak dapat dihindari nya. Sehingga menancap di pangkal lengan kanan nya.
Sementara yang ku arahkan ke si Pisau terbang justru dengan mudah di tangkapnya dan dilemparkan kembali ke arah Rofiq. Dan rofiq yang kaget sedikit terlambat menangkis Sehingga masih menyerempet mengenai lengan Rofiq.
Meski hanya meninggalkan luka goresan kecil saja, namun membuat rofiq jadi terbakar emosinya.
“Tenang bang, semoga itu tidak beracun. Biasanya yang beracun akan digunakan terkahir kali untuk keadaan mendesak saja.” Kataku. Sambil mengukur kekuatan lawan, jika si pisau terbang selain lempar pisau juga memilik ilmu kanuragan juga. Tapi si gembul tidak, jadi seandainya harus berhadapan biar Rofiq yang hadapi Gembul dan aku hadapi si Pisau terbang itu, batinku.
Tiba tiba saja si Pisau terbang bersiap dengan empat belati kecil di tangan kirinya yang di jepit di sela sela jarinya. Pada bagian runcing nya di jepit dan tangkainya di atas. Dengan menyilangkan tangan di depan dada nya. Sementara gembul pun melakukan hal yang sama, perasaanku kali ini mereka akan menyerang aku dan rofiq secara bersamaan. Tapi aku tidak tahu siapa yang akan menyerang aku dan siapa yang akan menyerang Rofiq. Aku agak kuatir jika si pisau terbang yang menyerang Rofiq, karena insting refleknya masih kurang bagus.
“Hati hati bang, kayaknya kita berdua akan di serang secara bersamaan.” Ucapku.
Dan ternyata kekuatiran ku benar terjadi, si pisau terbang melempar ke arah Rofiq , dan prediksi ku kembali meleset karena Gembul pun ikut menyerang Rofiq juga bukan menyerang ku. Aku jadi sangat kuatir dengan kondisi Rofiq. Namun saat aku hendak membantu Rofiq si Pisau terbang sudah melemparkan pisaunya lagi ke arahku dengan kekuatan penuh sehingga mau gak mau aku harus menghalau pisau pisau yang mengarah ke tubuhku lebih dulu.
Sementara aku sudah harus menghalau serangan pisau lagi dari si Pisau Terbang dan Gembul sekaligus. Sambil menangkis dan menghindari serangan pisau itu, aku melihat si pisau terbang sudah bersiap dengan belati belatinya dan melemparkan belati belati tersebut ke arah Rofiq lagi. Sehingga Rofiq harus kembali jumpalitan dan bergulingan di tanah untuk menyelamatkan diri.
Dan belum sempat Rofiq bernafas lega si Pisau terbang sudah kembali bersiap dengan empat pisau kecilnya lagi. Bahkan saat itu rofiq belum pada posisi siap setelah bergulingan menghindari serangan sebelumnya. Aku jadi sangat cemas, namun masih disibukkan dengan pisau pisau yang menyerang aku.
“Ternyata si Pisau terbang punya strategi yang bagus juga, tidak sekedar pandai melempar pisau saja.” Batinku.
Di tengah rasa kuatir ku terdengar suara tembakan.
Door….
Suara tembakan yang mengenai tangan kiri si Pisau terbang yang sudah bersiap melempar Rofiq. Sehingga ke empat pisaunya terjatuh karena tangan kirinya tertembus timah panas.
“Polisi…. Letakkan senjata kalian atau kami tembak….!” Ucap pak Adnan yang sudah datang bersama anggotanya.
Kemudian beberapa Personil polisi berusaha mendekati Gembul dan si Pisau terbang.
“Jangan mendekat, dia masih banyak senjata dan sebagian senjata beracun.” Teriakku.
Sehingga personil polisi itu pun menghentikan langkahnya, kemudian pak Adnan mendekati aku.
“Terimakasih pak atas kerja samanya, bapak tidak terluka kan ?” tanya pak Adnan.
“Alhamdulillah saya tidak pak, tapi teman saya sempat tergores sedikit tapi gak parah.” Jawabku.
“Sekarang bagaimana pak, untuk melucuti mereka yang masih banyak membawa senjata itu.” tanya pak Adnan.
“Mohon maaf pak, jika di perkenankan biar tugas itu saya dan teman saya yang melakukan. Karena ini erat hubungannya dengan martial art para pelaku kejahatan dan sedikit ada berbau mistis juga.” Kataku. Padahal hanya ingin menghajar gembul lebih dulu sebelum di tahan polisi.
Kemudian aku dan Rofiq mendekati si Pisau terbang yang saat ini kedua tangannya sudah terluka sehingga tidak mampu melempar pisau secara sempurna lagi.
“Bagaimana bro, enak rasanya di tembus timah panas Polisi ?” tanyaku pada si Pisau Terbang.
“Cuih… kalian akan terima balasan dariku nanti.” Kata si pisa terbang. Bukanya menjawab malah mengumpat.
Sementara gembul yang berdiri agak jauh dari si Pisau terbang mencoba menggerakkan tangannya yang terkena pisaunya sendiri. Aku ambil kesempatan itu untuk menendangnya, hingga tersungkur jatuh.
“Jangan coba coba menggunakan pisau beracun kamu, gak lihat apa banyak polisi yang siap dengan pistol mengarah kepada dirimu.” Teriakku kencang agar polisi juga dengar. Meskipun aku juga tahu Gembul tidak bermaksud mengambil pisau untuk menyerang aku.
Namun sekedar alasanku melampiaskan amarah karena dia telah membunuh adik ku Zulfan.
Kemudian aku melucuti semua senjata yang ada di tubuh si Pisau terbang lebih dahulu. Dan meletakkan di tempat yang tidak bisa di jangkaun nya.
__ADS_1
Kemudian aku lihat Gembul yang mau berusaha bangkit kembali aku tendang dagunya hingga kembali tersungkur.
“Sudah ku bilang jangan macam macam masih juga mau meraih pisau pisau kamu, apa kamu mau mati saja ?” bentak ku mengelabuhi Polisi. Gembul yang sudah terkapar menahan sakit itu pun segera ku lucuti enjatanya semua, termasuk yang beracun. Namun sengaja aku sisakan satu belati dan kuletakkan di dekat tangannya.
“Bang ringkus orang itu.” kataku pada Rofiq.
Dan saat Rofiq dekat aku berbisik pada nya.
“Aku sisakan satu pisau, atur saja biar kamu punya alasan menghajar penjahat kelamin itu.” bisik ku pada Rofiq.
Kemudian aku memapah si pisau terbang yang sudah tidak bersenjata, dan ku serahkan kepada Polisi.
“Ini yang sudah saya lucuti senjatanya pak sedang yang satunya baru di lucuti teman saya.” Kataku pada pak Adnan
Tiba tiba Rofiq berteriak.
“Aduuuh… dia masih bawa senjata Zain dan menyerang tanganku lagi.” Teriak Rofiq sambil memukuli Gembul membabi buta.
“kamu memang cari mati, baiklah aku akan kirim kamu ke neraka sekarang juga.” Ucap Rofiq sambil memukuli Gembul membabi buta.
“Pak teman bapak mengamuk. Nanti bisa mati itu orang ?” kata pak Adnan.
“Waduh kalo sudah seperti itu saya juga gak berani sama dia pak, panggilkan istrinya saja segera hanya istrinya yang bisa menghentikan nya. Kemudian beberapa personil Polisi segera menjemput Arum istri Rofiq.
Kemudian aku dan pak Adnan segera mendekati Rofiq.
“Sudah pak Rofiq, nanti dia bisa mati kalo masih bapak pukuli seperti itu.” Ucap pak Adnan.
Aku masih membiarkan Rofiq melampiaskan dendam dia, meski tidak akan membiarkan Gembul mati juga. Karena dia jadi kunci untuk menguak kasus ini.
“Udah bang, jangan sampai mati keenakan dia kalo mati di sini biarkan membusuk di penjara saja.” Ucapku pada Rofiq.
“Kamu gak lihat ini tanganku di tusuknya lagi.” Kata Rofiq yang menunjukkan tangannya yang tertancap belati. Meski aku menduga itu ulah Rofiq sendiri sebagai alasan menghajar Gembul.
Aku hanya bisa berharap agar Arum segera datang dan meredam emosi Rofiq. Karena aku sendiri tahu betapa dendamnya Rofiq, bahkan aku sendiri pun menaruh dendam juga kepada Gembul. Sebagai pelaku pembunuh adik ku Zulfan.
“kamu yang sudah menculik dan menjadikan istriku sebagai pelac*r sekarang rasakan akibatnya.” Kata Rofiq sambil menendang ************ Gembul hingga menjerit sampai hampir pingsan.
Dan saat itu bertepatan kedatangan Arum malah bersama Fatimah dan khotimah juga.
“Aduh, kenapa dua orang ini juga diajak.” Batinku.
Arum yang melihat suaminya kalap hanya bisa menangis sedih di dalam pelukan Fatimah istriku. Dan memang Rofiq sudah hampir lepas kendali. Tiba tiba Fatimah memanggilku.
“Mas sini sebentar…!” panggil Fatimah padaku.
Kemudian aku mendekati Fatimah dan bertanya.
“Ada apa ?” tanyaku.
“Mas yang harus hentikan bang Rofiq, kasihan Arum nih ketakutan.” Ucap Fatimah tanpa menjawab aku langsung mendekati Rofiq yang sudah kalap, kalo dibiarkan memang Gembul bisaa mati.
“Bang sudah bang….!” Kataku pelan pada Rofiq.
“Apa….? Apa kamu juga mau melarang aku untuk membunuh orang ini ?” bentak Rofiq keluar sifat premannya bahkan aku pun di bentaknya pula.
“Gak kok bang, aku hanya mau bilang, itu Arum menangis cemburu karena kamu sebut sebut istri kamu dulu. Dia anggap kalo Arum hanya kamu jadikan pelampiasan jadi menangis cemburu sekarang.” Kataku berbohong.
“Yang benar mana dia sekarang ?” tanya Rofiq.
“Itu baru di hibur Fatimah istriku, cepat kasih penjelasan sana sebelum dia semakin marah. Biar gembul aku yang urus.” Kataku pada Rofiq.
Rofiq pun segera mendekati Arum dan mencoba merayu Arum, padahal Arum menangis ketakutan bukan karena cemburu. Bodo amat kalo Rofiq sadar dan marah itu urusan nanti saja, batinku. Kemudian aku memapah Gembul untuk di bawa ke pick up dan dibawa ke rumah Sakit lebih dulu akibat luka lukanya.
Namun saat aku memapah gembul tiba tiba aku teringat adik ku Zulfan dan spontan amarahku kembali muncul. Dan saat mendekati pick up aku pura pura keberatan memapah Gembul dan aku mendorong Gembul hingga jatuh dan aku pun pura pura jatuh dengan posisi siku ku ku arahkan pada lutut si Gembul sampai kakinya patah.
“Aduh pak, berat banget orang ini bantuin dong saya sudah kelelahan.” Ucapku pura pura.
Kemudian beberapa personil membantu mengangkat tubuh Gembul yang sudah penuh luka dan patah kaki di bagian lututnya tersebut…!!!
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1