Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq dan Jafar saling menyelidiki


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Sepontan Ustadz itu pun kaget, mungkin baru tersadar juga bahwa kalimat yang dia gunakan sebagai pembuka itu menunjukkan sebuah kalimat Arogan. Sehingga beberapa saat dia pun terdiam tidak bisa berkata kata…???


“Loh tapi kita jadi muslim itu harus tegas dalam menegakkan Syariat Islam ?” kata Ustadz itu.


“Iya harus tegas pada diri sendiri terutama, jangan tegas ke orang lain tapi lunak pada diri sendiri.” Sahutku kemudian.


“Pastilah kalo itu mana mungkin lembek pada diri sendiri.” Jawab Ustadz itu.


“Kalo begitu ikutilah akhlaq baginda Nabi Muhammad yang selalu rendah hati. Tidak Arogan serta memandang orang itu dengan kaca mata rahmah bukan kaca mata marah.” Kataku.


“Udah langsung saja pada intinya pak, kenalkan nama  saya Haerudin , biasa di panggil Ustadz Haer. Dan tujuan saya kesini pertama silaturahim dan yang kedua sebagai sesame muslim punya kewajiban untuk saling mengingatkan. Jadi saya dengar di tempat bapak Yasin ini tiap malam selalu mengundang anak anak muda nongkrong yang tidak bermanfaat dan malah pada main music yang gak jelas, kalo bisa jangan di teruskan pak, itu bisa merusak akhlaq bahkan aqidah seseorang.” Ucap ustadz itu.


“Kok merusak akhlaq dan Aqidah bagaimana Ustadz ?” tanyaku.


“Kan harusnya diajak mengaji sholat sunah dan lain lainya pak bukan disuruh main music begitu.” Kata Ustadz itu.


“Mungkin yang perlu bapak tahu mereka itu dulunya kerjaanya mabuk dan ada juga yang suka malak orang yang lewat. Apa yang begitu harus langsung di suruh sholat sunah mengaji dan lain sebagainya pak Ustadz ?” tanyaku.


“Jadi orang kan gak boleh nanggung nanggug dalam menjalankan Islam harus kaffah ( totalitas ) serta harus berani mengambil resiko.” Jawab ustadz itu.


“Owh begitu, jadi kalo dengan cara ustadz sudah berapa orang yang dulunya suka mabuk kemudian sekarang jadi sadar kemudian mau bertaubat dan rajin ibadah ?” tanyaku lanjut.


“Saya tidak mau ngurusin orang yang suka berbuat maksiat, saya lebih suka mengajak orang yang mau mendekat kepada Allah saja. Saya ajak ikut kajian agar menambah iman mereka dan mau beribadah sesuai sunnah nabi bukan beribadah sesuai selera pribadi.” Ucap ustadz itu sudah menyerempet ke amaliah tertentu.


“Ibadah kok sesuai selera pribadi, apa ada yang seperti itu pak ustadz ?” tanyaku pura pura gak faham maksut ustadz itu.


“Banyak, maaf nih, seperti Tahlilan, Yasinan Sholawatan dan lain sebagainya.” Jawab ustadz itu.


Aku jadi berpikir yang mana dulu yang harus aku klarifikasi, lama lama kok jadi melebar. Aku sih tidak menyalahkan mereka yang gak suka tahlilan dan lain lain. Karena memang bukan sesuatu yang wajib. Tapi menganggap yang sering tahlilan itu sesat adalah beda perkara, batinku.


“Maaf pak Ustadz, saya rasa perlu disatukan persepsi dulu tentang semua hal yang bapak sampaikan tadi agar tidak menjadi salah paham.” Kataku membuka pembicaraan setelah banyak mendengar kata kata Ustadz Haerudin tersebut.


“Apa lagi yang harus disamakan, persepsi tentang apa ?” Tanya Ustadz tersebut.


“Sabar Ustadz, slow saja biar diskusi bisa berjalan lancar. Pertama tentang anak anak muda yang hampir tiap mlam bermain music disini. Saya bertanya dulu pada Ustadz, kalo harus memilihlebih senang  melihat anak anak muda itu pada mabuk atau bermain music. Artinya lebih senang orang berbuat maksiat atau melakukan perbuatan mubah ( dilakukan boleh tidak juga tidak apa apa ). Menurut Ustadz bagaimana ?” tanyaku pada Ustadz Haerudin.


Ustadz Haerudin terdiam sesaat agak ragu untuk menjawab, karena harus memilih melihat anak anak muda mabuk atau bermain music. Jelas gak mungkin memilih melihat anak anak  muda pada mabuk, namun mau memilih anak anak muda bermain music sudah terlanjur menyalahkan.


“Gak ada pilihan kalo seperti itu namanya, harusnya berhenti mabuk dan tidak hanya bermain music tapi gunakan waktu untuk hal yang positif buat ikut kajian agama misalnya.” Jawab Ustadz itu.


“Itu idealnya pak, tapi apakah semua orang itu bisa ideal. Maaf apakah pak Ustadz sendiri sudah bisa ideal ?” tanyaku kemudian.


“Jelas gak lah, gak ada manusia yang ideal semua punya kekurangan saya juga sadar tentang itu. tapi kan harus berusaha untuk ideal !” jawab ustads itu.


“Sukurlah kalo begitu, artinya pak Ustadz mengakui bahwa semua itu butuh proses bukan ?” tanyaku lanjut.


“Ya jelas lah kalo itu semua orang juga tahu.” Sahut Ustadz Haerudin.


“Itulah maksut saya, anak anak muda yang suka mabuk itu pun butuh proses dari biasa bermaksiat menjadi bisa bertaubat. Pertama meninggalkan maksiat dulu dari suka minum minuman keras kemudian mengurangi dan meninggalkan baru kemudian diajak bertaubat dan beribadah. Kalo anak anak yang suka mabuk langsung disuruh meninggalkan mabuk dan disuruh ibadah itu justru ***** kita yang bicara pak. Bahkan yang ada adalah perlawanan dari mereka.” Jawabku.


“Tapi kalo mereka melawan itu kan salah mereka yang tidak mau diajak baik.” jawab ustadz itu.


“Belum tentu mereka yang tidak mau diajak baik pak. Bisa jadi kita yang salah dalam cara mengajaknya. Dakwah itu mengajak bukan mengejek, membina bukan menghina, menyayangi bukan menyaingi. Dan saya memilih membina dsri pada menghina memilih mengajak dari pada mengejek kebiasaan buruk mereka.” Jawabku membuat Ustadz Haerudin tak bisa berkata kata lagi.


“Lah terus soal ibadah yang tidak ada tuntunannya hanya berdasarkan selera sehingga menyebabkan banyak amalan amalan bid’ah tersebut bagaimana ?” Tanya Ustadz Haerudin tersebut.


“Untuk yang anak muda sudah sepakat atau masih ada bantahan lain, jangan meninggalkan masalah yang belum ada kata sepakat.” Kataku pada Ustadz Haerudin.


“Kalo saya tetap tidak sepakat dengan cara yang bapak lakukan.” Jawabnya.


“Gak masalah, asal tidak menuduh sesat pada cara yang saya lakukan tanpa alasan…!” jawabku kemudian.


“Saya juga tidak menuduh sesat, hanya tidak sepakat.” Bantahnya.

__ADS_1


Kalo aku batah lahi juga percuma,pikirku….!


“Baiklah, artinya kita  ‘sepakat Untuk tidak Sepakat’ dalam hal ini. asal jangan kemudian di belakang saya kembali menuduh sesat lagi saja.” Ucapku pada Ustadz Haerudin.


“Iya, terus soal amalan yang saya sebutkan tadi bagaimana ?” Tanya Ustadz haerudin.


“Nah itu yang harus di satukan dulu persepsinya satu persatu Ustadz, jangan sampai kita membahas sesuatu dimana persepsi tentang sesuatu itu berbeda. Missal saya ambil contoh Tahlilan dulu. Apa persepsi anda tentang Tahlilan. Jangan bicara Hukum sebelum kita sepakat apa itu tahlilan.” Ucapku pada Ustadz Haerudin.


Ustadz itu tampak kebingungan mendiskripsikan arti kata Tahlilan. Sementara orang yang bersamanya yang kemarin sempat bicara denganku itu tidak sepatah katapun berucap. Hanya diam dan Nampak ikut bingung karena Ustadznya juga kebingungan.


“Tahlilan itu ya kumpul di rumah mayit baca laa illa ha ilallah itu.” jawabnya agak ragu ragu.


“Itu salah satunya pak, jadi Tahlilan itu adalah berkumpul untuk melakukan doa yang  tujuanya doa tersebut dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal. Di situ ada bacaan Tahlil, tasbih, istighfar sholawat dan lain lain. Sudah sepakat dengan arti kata Tahlilan ?” tanyaku pada Ustadz Haerudin.


“Iya maksut saya juga seperti itu.” kata Ustadz Haerudin.


“Nah kalo sudah sepakat baru kita biicara soal hukumnya, kalo menurut Ustadz Haerudin apa hukumnya ?” tanyaku kemudian.


 “Itu jelas bid’ah kalo menurut saya ?” jawab ustadz Haerudin tersebut.


Sebenarnya aku ingin tertawa, namun takut menyinggung saja karena jawaban tersebut  tidak sesuai pertanyaan.


“Bid’ah itu bukan hokum pak, hokum dalam Islam itu hanya ada lima. Wajib, Sunah, Mubah, Makruh dan Haram. Kalo Bid’ah itu tidak masuk sebagai hokum.” Kataku pada Ustadz Haerudin.


“Tapi apa yang tidak di lakukan Rasulullah itu termasuk bid’ah, dan bid’ah itu sesat yang sesat itu neraka tempatnya.


“Berarti kesimpulanya Tahlilan itu haram menurut pak Ustadz ?” tanyaku menegaskan.


“Bukan membaca tahlilnya yang haram, tapi Tahlilannya itu yang Haram ?” jawab Ustadz itu.


“Tahlilan Haram, kalo baca Tahlil nya tidak ? kenapa demikian pak Ustadz ?” tanyaku agak bingung dengan maksutnya.


“Karena dibacakan untuk orang yang mati.dan itu sia sia gak akan sampai karena orang mati sudah putus amalnya.” Jawab ustadz Haerudin itu dengan mantab.


“Tapi kita juga di perintahkan untuk mendoakan orang yang lain juga pak, dalam surat Muhammad Ayat 19. Yang artinya ketahuilah bahwa tiada ilah selain Allah. Maka mohon ampunlah atas dosamu atas dosa orang mukmin laki laki dan perempuan, dan seterusnya…!” sanggahku.


“Tapi itu untuk yang hidup bukan orang yang sudah mati yang sudah putus amalnya.” Jawabnya masih ngotot. Ciri khas orang gak mau kalah adu argumentasi.


“Kalo solat jenazah itu kan juga mendoakan apa juga gak sampai, kan namanya jenazah juga orang yang sudah mati. Kemudian ada doa Allahummaghfir lil mukminin wal mukminat wal muslimin wal muslimat al ahyai minhum wal amwat. Disitu jelas diperuntukan juga bagi yang hidup ( al Ahyai ) dan yang mati (amwat ). Apa doa itu juga tidak sampai atau bahkan haram juga berdoa begitu. Belum lagi dalam bacaan tahiyat dalam sholat, ada lafadz assalaamu ‘alaina wa ‘ala ibadika sholihin, yang intinya memohon keselamatan diri dan seluruh orang yang menyembah Allah atu orang orang Soleh, masih gak boleh juga ?” tanyaku selanjutnya.


“Kalo sholat jenazah kan jelas di perintahkan bahkan hukumnya wajib Kifayah ( harus ada yang menjalankan meski hanya satu orang ) kalo tahlilan kan tidak di perintahkan.” Sanggah Ustadz haerudin malah bikin bingung dengan muter muternya jawaban.


“Kalo baca tahlil di perintahkan, tapi Tahlilanya tidak…!” jawab Ustadz haerudin.


Aku dongkol tapi gak bisa marah justru geli dengan jawaban jawaban Ustadz itu yang asli bikin ngakak sebenarnya.


“Bedanya baca tahlil dengan Tahlilan apa pak ?” tanyaku.


Ustadz itu jadi melongo aku Tanya begitu, tampak gelagapan sebelum menjawab.


“Kalo baca Tahlil gak harrus di tempat orang meninggal, atau gak harus pas 7 hari  empat puluh hari dan sebagainya.” Jawbnya ragu ragu.


“Owh jadi kalo pas tujuh hari empat puluh hari dan semacamnya gak boleh baca Tahlil, dalil yang mengatakan demikian ada pak ?” tanyaku.


“Ya gak ada kalo yang mengatakan demikian, sekarang kalo saya Tanya balik ada gak dalil mengadakan tahlilan itu apa bapak juga bisa menunjukkan dalilnya ?” Tanya Ustadz Haerudin agak marah.


“Dalil yang macam apa, bukankah tadi sudah saya sebutkan atas dasar surat Muhammad ayat Sembilan belas, di qiyaskan juga dengan bacaan tahiyat dan doa untuk orang yang masih hidup dan sudah mati. Dalil yang mana lagi yang di butuhkan ?” tanyaku.


“Dalil yang mengatakan mengirim doa pas Tujuh hari empat puluh hari dan sabagainya itu mana dalil nya ? kalo gak ada dalil quran atau Sunah itu namanya bid’ah…!” ucap Ustadz haerudin ngotot kelihatan emosi.


Dalam hati aku berkata, “orang macam begini sekali kali perlu di ajak berpikir logis dengan candaan candaan kecil.” Kataku dalam hati.


“Kalo orang  jawa menyebut orang baca Tahlil itu dengan sebutan Tahlilan, baca surah Yaasin disebut Yasinan. Kalo bapak gak suka tahlilan sama saja tidak suka membaca kalimah toyibah Tahlil. Ibaratnya bapak gak mau pakai celana, karena orang jawa menyebut celana itu \= kathok ( jawa ) memakai celana \= kathokan. Gak suka kathokan berarti bapak gak suka pakai celana alias telanjang. Kemudian ‘Tahlilan’ mendoakan orang meninggal  itu hukumnya tidak Wajib tapi juga tidak Haram. Tidak juga di haruskan tepat tujuh harinya atau empat puluh harinya dan seterusnya, sekarang masalahnya dimana ?” tanyaku kemudian.


“Tapi acara tujuh hari sampai dengan seribu hari itu budayanya agama lain, sedangkan menyerupai agama lain itu sama saja termasuk ke dalam golonganya.” Bantah Ustadz Haerudin.


“Agam lain melakukan nikah, berarti bapak gak mau nikah takut menyerupai ? jadi kumpul kebo dong pak ?” jawabku mulai jengkel juga akhirnya.


“Ya gak gitu, kita juga nikah tapi kan syariatnya beda jadi tidak bisa di katakana menyerupai.” Jawabnya.


“Lah memang kalo ada agama lain yang memperingati Tujuh hari dan seterusnya jug abaca kalimah toyibah tahlil ?” tanyaku. Ustadz Haerudin sudah masuk jebakanku.


“Ya gak lah, tentunya beda bacaanya.” Kata ustadz haerudin semakin terpancing.


“Kalo begitu kenapa bapak katakana menyerupai agama lain dan masuk golongan mereka  ?” tanyaku.


Ustadz Haerudin tidak berkomentar, mungkin sudah kehabisan Hujjah sehingga hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari lisan dia. Aku juga jadi gak tega melihat dia malu seperti itu. Namun apa boleh buat, bukan maksutku menjatuhkan martabat dia di depan muridnya. Hanya sekedar berdiskusi biasa saja, menurutku.

__ADS_1


“Sudah lah pak, kita jalani keyakinan kita masing masing. Empat imam madzhab dulu juga saling beda pendapat biasa. Tapi mereka tidak saling menyalahkan, bahkan saling menghormati. Kita hanya pengikut malah pada ribut, kasihan yang sama sekali gak faham jadi takut berbuat apa apa salah. Omong omong mau ngopi atau ngeteh nih, maaf sampai lupa menawarkan minum pada tamu.” Ucapku mencoba mencairkan suasana.


“Gak usah pak, saya sudah mau pulang kok. Tapi satu hal lagi pak, kalo dengan pola pikir seperti bapak tadi. Sepertinya boleh berimprovisasi dalam beribadah, takutnya nanti sholat maghrib saja di modif jadi dua rokaat saja.” Ucap Ustadz Haerudin masih belum puas juga rupanya.


Terpaksa deh aku harus melanjutkan pembicaraan lagi, pikirku.


“Kalo Sholat maghrib ada gak ketentuan jumlah rokaatnya ?” tanyaku.


“Jelas ada dong pak, jumlah rokaat bahkan waktunya juga sudah di atur.” Jawbnya.


“Ya, itulah ibadah mahdhoh, sudah di tentukan tata caranya. Kalo baca tahlil di atur tidak jumlah dan waktunya ?” tanyaku.


“Ya tidak “ jawab Ustadz Haerudin.


“Kalo di baca setiap hari boleh tidak ?” tanyaku lagi.


“Boleh malah bagus kalo tiap hari.” Jawabnya semangat.


“Kalo seminggu sekali saja ?” tanyaku lanjut.


“Ya gak papa, tetap masih boleh.” Jawabnya.


“Kalo di baca pas tujuh hari sampai seribu harinya orang meninggal boleh apa tidak ?” tanyaku masuk pada inti masalah.


Ustadz Haerudin tampak ragu mau menjawab boleh atau tidaknya.


“Masalahnya itu tidak ada perintahnya !” jawab Ustadz Haerudin.


“Jadi boleh apa tidak ?” tanyaku lanjut.


“Bukan boleh apa tidak tapi baca tahlil pas hari tertentu itu masalahnya, kenapa harus tujuh hari sampai seribu hari ?” kata ustadz itu.


“Apa salahnya di baca pas hari hari tersebut ?” tanyaku lagi.


“Karena dikuatirkan menyerupai agama lain tadi.” Jawab ustadz Haerudin.


“Kayak Nikah juga menyerupai tuh, apa gak usah nikah saja ? jangan di persulit Ustadz, yang dimaksut menyerupai itu yang seperti apa. Acara Tahlilan itu memang tidak ada perintah, tapi mendoakan mayit jelas ada perintah. Caranya tidk di atur secara khusus, waktunya juga tidak di tentukan. Nah yang seperti itu orang boleh menentukan mau Tujuh harinya atau delapan harinya mau seratus harinya atau seratus lima puluh harinya juga boleh saja. Jadi jangan cepat memvonis itu bid’ah ini syirik dan lain lain, kalo belum paham yang sebenarnya.” Ucapku.


“Tapi kalo saya gak ikut Tahlialan kan gak papa ?” Kata Ustadz Haerudin.


“Ya itu terserah bapak, gak ada urusanya sama saya. Bapak gak ikut Tahlilan gak mau mengadakan Tahlilan gak masalah. Yang jadi masalah karena bapak menganggap Tahlilan itu bid’ah kemudian mengatakan Sesat dan masuk neraka. Sedangkan orang yang tidak percaya adanya tuhan saja begitu mengucap dua kalimat syahadat yang ada kalimah Tahlilnya jadi di ampuni dosa nya. Ini orang yang baca kalimah toyibah malah dianggap sesat, kan aneh pak Ustadz.” Kataku menutup pembicaraan.


“Baiklah untuk hari ini kami rasa cukup, mungkin lain kali kita bisa lanjutka dialog lagi.” Kata ustadz haerudin mohon pamit pulang. Dan akupun segera masuk ke kamar untuk istirahat, karena sudah mengantuk dari tadi sebenarnya.


*****


Di Sekolah Sidiq dan Jafar


Author POV


Sesampai di sekolah Sidiq dan Jafar kemudian masuk kedalam kelas masing masing. Sidiq masuk ke ruang kelas tiga, sedangkan Jafar masuk ke ruang kelas Satu. Antara ruang kelas Sidq dan Jafar hanya dibatasi ruang kelas dua.


Sidiq dan Jafar pun mengikuti pelajaran sekolah dengan seksama. Namun Sidiq menyimpan sebuah pertanyaan besar pada dirinya. Sudah dua malam selalu bermimpi di latih olah kanuragan oleh seseorang. Da dalam mimpinya itu dia juga melihat Jafar adiknya yang juga ikut dilatih bahkan kemampuan Jafar jauh diatas Sidiq dalam mimpi itu.


“Apakah Jafar adik ku memang mempunyai ilmu olah kanuragan juga tapi dia menyembunyikan itu dariku.” Kata Sidiq dalam hati. Sehingga Sidiq jadi teringat saat kemarin berkelahi dengan kakak kelasnya. Saat dia terdesak dan hampir di pukul tiba tiba anak yang mau memukulnya tidak dapat bergerak dan saat itu Jafar adiknya muncul. Apakah itu karena Jafar adikku yang menolongku, batin Sidiq.


Aku harus menyelidikinya, nanti apa bila ada yang mau mengganggu Jafar aku akan pura pura sembunyi. Pingin tahu sampai ana Jafar adikku bisa menahan diri. Semoga saja aku bisa melihat dirinya marah dan melakukan perlawanan nanti. Biasanya jam istirahat anak anak berandalan itu mendatangi Jafar dan mengganggu  Jafar adikku, aku akan lihat dari kejauhan dulu saja, kata Sidiq dalam hati.


Sementara Jafar pun agak gelisah setelah mendekati jam Istirahat, dia teringat jika dalam mimpinya dia juga melihat Sidiq kakaknya juga ikut dilatih oleh Yuyut dan beberapa orang yang membantunya itu. Apakah itu artinya Sidiq Kakaknya juga sama seperti dirinya di latih juga ?


Jafar pun mulai berpikir tentang itu juga, dan berniat mau melihat Sidiq kakaknya nanti apa bila dia di datangi oleh anak anak yang akan meminta uang jajan nya. Apakah Sidq kakaknya akan menggunakan jurus yang diajarkan kepadanya juga. Jika iya berarti Sidiq memang ikut di latih juga. Namun bila tidak berarti itu hanya sekedar mimpi biasa saja, batin Jafar...???


 


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2