
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Sidiq baru menyadari jika dirinya memang sedang dijebak, dan apa yang dilakukan tadi pasti sudah direkam dan dijadikan alat bukti untuk memfitnahnya. Namun apa boleh buat, sudah terlanjur meskipun Sidiq merasa perlu untuk menghubungi Jafar adiknya. Buat jaga jaga jika yang namanya Jalu itu adalah Sawung Panjalu. Karena beritanya sungguh menghebohkan, maka Sidiq pun berniat menghubungi Jafar adiknya nanti.
“Owg begitu, sekalian saja kita buat rencana mau ketemu dimana dan kuharap kalian juga ikut hadir sekalian.” Tentang Sidiq yang sudah merasa terlanjur basah tersebut. ..???
Sayang sekali percakapan tersebut harus terhenti karena bel masuk sekolah. Sidiq pun segera kembali masuk ke kelasnya, dalam hatinya Sidiq berniat sepulang sekolah akan mengirim pesan ke Jafar adiknya. Memberi tahu akan kemunculan Jalu yang mungkin juga dia adalah Sawung Panjalu anak dari musuh ayah mereka yang akan menuntut balas.
Sementara Riska dan Lita mengkhawatirkan Sidiq yang sangat nekad menurut mereka. Karena jelas Jalu secara usia sudah lebih dewasa dan tentunya lebih banyak pengalam berkelahi. Serta namanya yang sangat ditakuti di banyak kalangan.
“Mas jangan nekat begitu, musuh kamu itu orang dewasa.” Kata Riska.
“Iya Diq, jangan terpancing emosi kalau musuh kamu sebaya sih Lita percaya. Tapi Jalu ini sudah sangat terkenal dan ditakuti.” Tambah Lita.
“Iya aku tahu itu,namun bagaimana lagi tidak mungkin aku membiarkan kejahatan menimpa orang orang yang aku kenal.” Jawab Sidiq sambil berjalan menuju ke kelasnya.
Pembicaran mereka pun tidak bisa tuntas karena harus berpisah menuju ke kelas masing masing. Dan Sidiq pun ditegur juga oleh Dina di dalam kelasnya.
“Diq kamu terlalu nekad tadi menerima tantangan Jalu.” Kata Dina.
“Udahlah Din, bagaimana lagi resiko seorang laki laki Din.” Jawab Sidiq tidak mau berdebat dengan teman temannya.
Saat guru datang Sidiq dan teman temannya pun kembali disibukkan mengikuti pelajaran Sekolah. Dan saat pulang sekolah Sidiq pun kembali dihadang oleh Riska dan Lita.
“Apa rencana kamu sekarang Diq ?” tanya Lita.
“Ini sebenarnya bisa menjadi urusan keluargaku Lita, jadi aku akan menghubungi Jafar adikku agar dia juga bisa bersiap siap menghadapi ini.” Jawab Sidiq.
“Aku ikut mas, pengen kenalan sama adik kamu juga.” Ucap Riska.
“Aah lo Ris, suasana begini juga masih saja mikirin kenalan.” Sahut Riska.
“Boleh saja, tadi aku sudah hubungi Jafar adikku, dia mau datang ke counter nanti.” Jawab Sidiq.
“Terus kamu sekarang kamu mau langsung ke counter Diq ?” tanya Lita.
“Iya, soalnya aku bawa kunci toko takutnya nanti bosku datang aku belum disana.” Jawab Sidiq.
“Nanti Riska juga langsung kesana mas, rumah Riska juga kosong soalnya.” Sahut Riska.
“Diq kamu ajak si Ihsan juga dong jaga jaga biar gak hanya sendirian nanti.” Kata Lita.
Baru saja Lita selesai bicara kembali Ari cs datang dan menghampiri mereka.
“Jadi dilanjutkan dimana urusan kita ?” tanya Ari pada Sidiq.
“Terserah kamu aja, aku sih ngikut aja apa mau kalian.” Jawab Sidiq tetap tenang sehingga membuat Ari cs jadi semakin jengkel. Karena Sidiq seperti menganggap remeh dengan nama Jalu orang yang mereka banga banggakan.
“Masih berani sombong juga kamu sekarang, tapi gapapa lah mungkin itu akan jadi kesombongan terakhir kamu.” Ucap Ari.
“Bisa jadi juga akan menjadi akhir dari kesombongan kamu sendiri.” Jawab sidiq.
“Tunggu saja bang Jalu sendiri yang akan menemuimu nanti…!!!” ucap Ari sambil melangkah pergi meninggalkan Sidiq, Riska dan Lita. Tepat saat Ihsan kelihatan datang menghampiri mereka dengan sepeda motornya.
“Diq lo kenapa gak kontak gue sih, ini sudah gak bisa dibiarkan saja Diq.” Ucap Ihsan geram kepada Ari cs yang gak ada kapok kapoknya tersebut.
“Tenang San, sebenarnya aku sudah tahu dan sudah pernah bertemu dengan yang namanya Jalu. Beberapa hari lalu dia tak sengaja datang ke counter ku dan sempat berkenalan.”Jawab Sidiq.
“Terus bagaimana ?” tanya Ihsan.
“Sehjahat apapun Jalu dia masih sportif, gak kayak Ari cs yang pecundang jadi Jalu gak akan main curang seperti mereka.” Jawab Sidiq.
“Terus apa rencana kamu sekarang ?” tanya Ihsan lagi.
“Aku sudah hubungi adikku Jafar, agar dia ikut waspada, karena ada kemungkinan orang yang bernama Jalu tersebut adalah anak dari musuh ayahku yang akan balas dendam.” Jawab Sidiq.
Riska dan Lita yang ikut mendengarkan percakapan Sidiq dengan Ihsan makin bingung karena tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu Sidiq dan ayahnya dengan keluarga Jalu.
“Ngeri amat sih Diq, ternyata kamu punya urusan masa lalu dari orang tua kalian dengan orang tua Jalu.” Kata Lita.
Sulit dijelaskan sekarang Lita, tapi suatu saat kamu dan Riska juga akan tahu.” Jawab Sidiq.
“Ok Diq, aku bisa bantu apa sekarang ini ?” tanya Ihsan.
“Kalau kamu mau bantu tolong jemput Jafar adikku ke pesantren dia. Aku mau bicara dengannya di tempat kerjaku biar lebih leluasa nanti. Sekalian kalau kamu mau ikutan juga boleh.” Jawab Sidiq.
“Ok, aku kan jemput adik kamu kamu kirimkan saja no kontaknya biar aku hubungi setelah sampai sana nanti.” Jawab Ihsan.
Kemudian Sidiq mengirimkan no Jafar ke Ihsan dan Ihsan pun segera meluncur ke pesantren Jafar. Sementara Sidiq kembali melanjutkan jalan bersama Lita dan Riska. Dan berpisah ketika sudah sampai di depan rumah Riska.
*****
Perjalanan Ihsan menjemput Jafar
Ihsan melajukan motornya menuju ke pesantren Jafar setelah menghubungi Jafar. Dan Jafar yang sudah dikasih tahu Sidiq bahwa aka nada teman Sidiq yang menjemputnya pun sudah bersiap siap untuk menemui Sidiq.
__ADS_1
Ihsan Santri yang agak eksentrik tapi sangat mencintai kiai dan pesantrennya tersebut melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
Hingga tak lama kemudian Ihsan pun sampai ke pesantren Jafar. Dan segera menghubungi Jafar jika dia sudah sampai di depan pesantren Jafar.
…..
…..
…..
Jafar yang sedang meminta izin kepada abah gurunya untuk menemui kakaknya Sidiq sedang diberi nasehat oleh abah gurunya.
“Pesan Abah satu saja Jafar, kamu harus redakan emosi kakak kamu Sidiq. Karena kakak kamu itu emosinya sangat labil saat ini.” kata abah gurunya.
“Iya bah, mas Sidiq memang dari kecil sudah kelihatan sangat tempramental.” Jawab Jafar.
“Untuk saat ini, abah kira kamu bisa berangkat sendiri dulu Jafar. Tapi suatu saat kamu harus membawa beberapa santri lain termasuk kholis bila memang sudah sampai waktunya nanti.” Penjelasan abah guru nya Jafar.
“Maksutnya bagaimana bah ?” Tanya Jafar.
“Bila tiba waktunya memang harus begitu Jafar, dan kamu perlu tahu salah satu alasan orang tuamu memisahkan kalian di pesantren yang berbeda itu sebenarnya memang mau mengumpulkan dua kekuatan untuk menghadapi kebatilan.” Kata abah gurunya Jafar.
“Owh begitu ya bah.” Sahut Jafar.
“Iya dengan kalian dipisahkan maka dua pesantren akan jadi bersatu untuk saling mendukung. Meski memang harus melalui beberapa kendala yang akan muncul.” Kata abah gurunya Jafar.
“kendala apa itu Bah ?” tanya Jafar.
“Suatu saat nanti kamu akan tahu, saat ini belum waktunya kamu tahu Jafar.” Jawab abah gurunya sambil tersenyum, entah apa yang ada di dalam benaknya.
Beberapa saat kemudian HP Jafar pun bordering ada panggilan masuk dari Ihsan teman satu pesantren Sidiq.
“Maaf bah, teman mas Sidiq sudah datang dan menelpon saya.” Kata Jafar.
“Suruh dia masuk saja, abah juga mau bicara dengannya sebentar.” Jawab abah gurunya Jafar.
Kemudian Jafar pun mengangkat telpon setelah diperintah guru nya. Dan meminta Ihsan masuk saja karena ditunggu abah gurunya Jafar juga. Dan Jafar meminta tolong salah satu santri untuk menjemput Ihsan dan dihadapkan ke abah gurunya.
Tak lama kemudian pun Ihsan sudah dibawa menghadap kepada abah gurunya jafar.
“Assalaamu ‘alaikum…!” ucap salam Ihsan.
“Wa’alaikummussalam warahmatullah,,, masuk nang abah mau bicara sebentar.” Kata abah gurunya Jafar.
Ihsan pun masuk dan mencium tangan abah gurunya Jafar terlebih dahulu sebelum duduk.
“Ada perintah apa bah ?” Tanya Ihsan dengan bahasa santri kebanyakan kepada seorang Kiai dengan sebutan Abah.
“Kalian ini generasi muda yang nantinya akan meneruskan perjuangan orang orang tua seperti aku dan abah gurumu. Jadi abah pesan kamu rajin rajinlah mendalami ilmu agama ini.” kata abah gurunya Jafar.
“Iya bah.” Jawab Ihsan.
“Kalian kalau berangkat nanti sebelum keluar dari gerbang pondok baca ayat kursi lebih dahulu tujuh kali ya. Ya sudah kalian berangkatlah sekarang, abah bantu doa saja.” Kata Abah gurunya Jafar sambil melangkah masuk ke kamar pribadinya.
Sehingga Ihsan dan Jafar tak sempat bersalaman untuk pamitan.
“Kita berangkat sekarang saja mas.” Kata Jafar.
Ihsan pun segera mengajak Jafar untuk menemui Sidiq di tempat kerjanya, dengan mengikuti perintah abah gurunya Jafar membaca ayat kursi sebelum keluar dari gerbang pondok tersebut.
Berangkatlah Ihsan bersama Jafar untuk menemui Sidiq di tempat kerjanya.
*****
Di tempat kerja Sidiq
Setelah membuka toko Sidiq pun segera bersiap untuk melakukan pekerjaan sehari harinya. Menunggu pembeli sambil melakukan servis HP yang kemarin sempat tertunda. Beberapa kali saat melakukan servis pun Sidiq terpaksa berhenti untuk melayani pembeli yang datang. Baik yang membeli pulsa, paket data maupun aksesoris.
“Aduh pas kerjaan banyak pembeli juga pas Ramai jadi terasa agak repot hari ini.” kata Sidiq dalam hati.
Sampai akhirnya Riska pun datang dan melihat Sidiq kerepotan Riska pun mengambil inisiatif membantu Sidiq untuk melayani pembeli sementara Sidiq servis HP.
“Mas bisa gak kalau Riska ikut bekerja disini juga, kan kalau sendiri kerepotan begitu ?” tanya Riska saat suasana sepi pembeli.
“Sidiq gak tahu, coba nanti Sidiq tanyain ke bos dulu. Tapi Apa boleh sama orang tuamu, anak orang terhormat kerja jadi pelayan seperti aku.” Jawab Sidiq.
“Gapapa kali daripada Riska hanya bengong di rumah saja. Kan disini sekalian bisa sambil belajar juga.” Jawab Riska.
“Ya coba minta izin dulu kalau diizinkan baru aku bilang bos nanti.” Kata Sidiq.
“Iya, pasti boleh kan sekalian kita bisa belajar bersama untuk persiapan ujian nanti.” Jawab Riska.
“Iya ya, kita kan sudah hampir ujian pasti kamu gak boleh nanti, disuruh fokus belajar menghadapi ujian.” Kata Sidiq.
“Ya coba saja nanti Riska bicara baik baik sama bapak dan ibu Riska.” Ucap Riska.
Sidiq jadi teringat jika sebentar lagi tidak akan satu sekolah dengan Riska jika sudah lulus sekolah nanti. Dan itu artinya Sidiq pun tidak lagi bisa tiap hari bertemu dengan Riska. Sidiq pun jadi membayangkan jika nanti tidak lagi satu sekolah dengan Riska dan tidak bisa tiap hari bertemu.
“Kamu mau melanjutkan kemana Ris kalau sudah lulus nanti ?” Tanya Sidiq.
“Riska masih bingung,sebenarnya Riska pengen jadi guru tapi bapak dan ibu maunya Riska melanjutkan belajar Ilmu pemerintahan padahal Riska gak suka. Kalau mas Sidiq sendiri ?” Tanya Balik Riska.
Namun sebelum Sidiq menjawab, tiba tiba Jalu muncul sehingga membuat Sidiq kaget dengan kemunculan Jalu yang memandangnya dengan tatapan mata yang menunjukkan kemarahan.
“Tidak aku sangka, wajah kamu yang polos ternyata kelakuan kamu tidak sesuai. Kenapa kamu berbuat sekehendak hatimu sendiri ?” Ucap Jalu yang langsung memarahi Sidiq.
__ADS_1
Riska yang ketakutan disuruh bersembunyi dulu oleh Sidiq, agar tidak terjadi apa apa dengan Riska.
“Ada apa mas ? Tiba tiba kok marah marah begitu ?” tanya Sidiq.
“Masih gak merasa bersalah juga, coba kamu jelaskan apa yang terjadi dengan video ini .” kata Jalu sambil memperlihatkan rekaman video di sekolah Sidiq tadi. Saat Sidiq memukul dan merampas HP Herman.
“Ini tidak seperti yang mas Jalu lihat. Ada peristiwa yang tidak terekam video ini yang mungkin memang sengaja tidak direkam.” Jawab Sidiq berusaha tetap tenang.
“Aku lebih suka kalau kamu bicara jujur, jangan berbelit belit begitu. Apa kamu gak tahu siapa aku, hampir orang orang di wilayah ini tahu siapa aku ?” kata Jalu sedikit menggertak. Sayangnya yang digertak adalah Sidiq yang gak kenal takut pada siapapun selain kepada dua orang tuanya dan guru ngajinya Sidiq.
“Saya juga hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tidak bermaksud berbelit belit.” Jawab Sidiq.
“Kamu gak usah muter muter sekarang jelaskan apa yang terjadi jangan sampai aku kehilangan kesabaran. Karena seorang Jalu atau Sawung Panjalu jika sudah marah tidak akan memandangmu sebagai anak kecil lagi.” Gertak Jalu yang menyebut nama lengkapnya sebagai Sawung Panjalu.
Sidiq yang mendengar sampai terkejut, meski sebelumnya sudah menduga Jalu adalah Sawung Panjalu.
“Owh jadi mas ini yang bernama Sawung Panjalu to ?” Ucap Sidiq yang kemudian segera mempersiapkan lahir dan batinnya untuk bersiap menghadapi Sawung Panjalu alias Jalu tersebut.
Dengan melafalkan doa doa dalam hatinya Sidiq bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sambil juga menunggu kedatangan Jafar dan Ihsan, jika memang harus terjadi keributan maka Sidiq akan mengajak Jalu untuk pindah ke tempat lain, pikir Sidiq.
“Nah kalau sudah tahu apa yang akan kamu lakukan ?” tanya Jalu.
“Aku tidak merasa berbuat salah jadi tidak ada yang harus aku lakukan mas.” Jawab Sidiq.
Jalu dan Sidiq pun kemudian sama sama diam saling bertatapan mata seakan saling melihat isi kepala lawan masing masing. Jalu pun merasa jika Sidiq pun bukanlah anak sembarangan melihat sorot matanya yang Tajam tersebut. sementara SIdiq pun juga mengakui jika Jalu pun punya sesuatu yang diandalkan. Baik Sidiq maupun Jalu saling mengukur kekuatan batin lawannya, melalui pandangan mata tersebut.
“Pantas kamu berani begitu terhadapku, ternyata kamu memang memiliki sedikit kemampuan. Tapi sayang kamu masih terlalu muda dan tentu belum banyak tahu manis pahitnya kehidupan.” Kata Jalu.
“Aku juga tidak menduga, ternyata mas Jalu ini mempunyai sesuatu yang diandalkan, tapi sayang juga Sidiq bukan orang pengecut yang takut dengan sesama manusia.” Jawab Sidiq.
“Sebenarnya aku tidak ada urusan secara pribadi dengan kamu, tapi kamu dengan sombong menghajar keponakanku dan mengabaikan namaku, itu artinya kamu sama saja menantang aku.” Ucap Jalu.
“Aku gak pernah menantang siapapun, tapi aku pantang mundur jika di tantang.” Jawab Sidiq.
Jalu kembali menatap mata Sidiq dengan sorot mata yang lebih tajam dari tadi, bahkan sudah nampak marah sekarang.
“Jangan terlalu sombong anak muda, meski kamu punya kelebihan tapi kamu belum tahu siapa Sawung Panjalu. Pewaris ilmu giling wesi ayahanda Maheso Suro.” Kata Jalu membanggakan sebagai anak dari Maheso Suro. Seorang pelaku kebatinan yang disegani di zamannya. Namun tidak tahu jika yang dihadapi sekarang juga anak dari orang yang mampu mengalahkan ayahnya.
“Tidak sepantasnya kita Sombong, tapi juga tidak pantas kita takut kepada sesama manusia.” Jawab Sidiq tetap tenang. Bahkan sedikit merasa lega bisa bertemu dengan Sawung Panjalu yang ternyata adalah Jalu yang diandalkan oleh Ari cs.
Keduanya kembali saling bertatapan mata saling menjajaki kekuatan batin masing masing. Bahkan keduanya pun sudah saling mengeluarkan serangan secara batin untuk penjajakan. Sidiq merasakan ada hawa panas yang seakan keluar dari mata Jalu. Sehingga dengan cepat sidiq membentengi diri dengan doa doa perlindungan yang diamalkan.
Sementara Jalu pun merasakan ada getaran kuat yang membuat jantungnya berdebar debar seakan aliran darahnya terasa lebih cepat. Riska yang menyaksikan kedua orang itu pun hanya bengong tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kebetulan suasana counter yang sepi mendukung untuk keduanya saling menjajaki kemampuan lawan.
“Aku akui kamu memang bukan anak sembarangan, tapi jangan bangga dulu anak muda. Hri ini kita cukupkan sampai sekian saja lain waktu aku akan mencari kamu lagi untuk melihat sampai mana kemampuan kamu sebenarnya.” Kata Jalu.
Saat itu juga Ihsan dan Jafar sampai di tempat Sidiq dan langsung menghampiri Sidiq.
“Bagaimana Diq, apa orang yang bernama Jalu itu sudah sampai sini ?” tanya Ihsan yang tidak menyadari jika orang yang disebut itu berada di sebelahnya. Sementara Jafar sudah bisa merasakan adanya sisa sisa dua kekuatan yang baru saja saling menyerang.
“Aku yang namanya Jalu, kamu siapa dan mau apa ?” tanya Jalu kepada Ihsan.
Sehingga Ihsan menjadi terkejut, tidak menduga orang yang bernama Jalu itu adalah orang yang berada disampingnya. Semula Ihsan mengira Jalu adalah orang yang membeli sesuatu di counter tersebut.
“Owh kamu yang namanya Jalu, yang jadi kebanggaan Ari sehingga dia jadi sombong dan angkuh itu.” Kata Ihsan.
Sehingga suasana yang tadinya sudah cukup mereda, karena Jalu membuat perjanjian dengan Sidiq. Kembali menjadi pemicu kemarahan Jalu lagi.
“Hati hati kalau punya mulut kamu ingusan….!” Bentak Jalu yang marah kepada Ihsan.
Ihsan yang jadi tersinggung pun tidak terima dikatakan anak ingusan sehingga membalas ucapan Jalu.
“Daripada kamu, sudah tua masih ngurusin urusan anak anak.” Jawab Ihsan.
Jalu menjadi berang dengan Jawaban Ihsan tersebut dan bermaksud menampar Ihsan.
“Lancang sekali mulut kamu…!” bentak Ihsan sambil menampar Ihsan.
Jafar yang melihat tangan Jalu hampir mengenai Ihsan langsung bergerak cepat menangkap tangan Jalu.
“Sabar om, masak sama anak ingusan saja main tampar….!” Kata Jafar.
Dan kali ini Jalu kaget melihat Jafar yang wajahnya hampir sama dengan Sidiq.
“Kamu adiknya Dia ?” tanya Jalu sambil menatap wajah Jafar.
“Iya aku adiknya mas Sidiq.” Jawab Jafar sambil tetap memegang tangan Jalu.
Dan keduanya pun saling bertatapan mata seperti saat dengan Sidiq tadi. Jalu jadi kaget melihat tatapan mata Jafar yang sepintas redup seperti orang ngantuk namun ternyata memiliki pengaruh yang besar kepada dirinya. Sehingga tanpa malu malu Jalu merapalkan mantra mantra untuk memanggil khodam ilmu giling wesinya yang belum sempurna. Sehingga sesaat Jafar merasakan panas di telapak tangannya yang memegang tangan Jalu. Dan Jafar Pun tidak mau kalah segera membaca doa juga untuk menerapkan ilmu Lebur Sakti warisan Yuyut Siti Aminah. Jalu pun merasakan getaran Hebat, Jalu dan Jafar saling menatap tajam namun Jalu merasakan kesakitan yang luar biasa sehingga dia mengakhiri mantranya, dan Jafar pun menghentikan serangan batiniahnya kepada Jalu.
“Tunggu lain kali, aku akan buat perhitungan kepada kalian.” Ucap Jalu sambil melangkah pergi meninggalkan Jafar dan Sidiq juga Ihsan.
Ihsan pun masih melongo melihat aksi Jafar tersebut, tidak menyangka Jafar memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan Sidiq sahabatnya. Bahkan Riska yang berada di dalam counter pun menatap kagum kepada Jafar adiknya Sidiq tersebut…?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1