
Reader...
Episode ini adalah awal konflik Sidiq yang akan melibatkan Jafar dan juga teman teman pesantren Sidiq. hingga menjadi sebuah permusuhan panjang sampai mereka lulus sekolah nanti. dan Bertemunya Sidiq dengan Sawung Panjalu.
Selamat membaca semoga terhibur.
Aku hampir saja tersedak mendengar nama itu, apakah ini kebetulan nama yang mirip atau nama ‘Jalu’ itu adalah Sawung Panjalu orang yang diceritakan kemarin itu. Kalau benar dia aku harus hati hati dan harus kontak Jafar dan semua orang yang sekiranya bisa membantu.\
“Nah kaget kan….!” Ucap Riska.
“Gak kok, hanya heran kok namanya mirip anggota tubuh ayam jantan.” Gurauku meski sebenarnya aku juga agak panik jika itu adalah Sawung Panjalu. Meski juga tidak terlalu takut, namun harus waspada saja, pikirku…!!!
“Hati hati mas kalau didengar anggota geng nya bisa diadukan ke Jalu nanti !” ucap Riska.
“Memang banyak anggotanya disini ?” tanyaku pada Riska.
“Cukup banyak juga, mereka yang suka bergerombol naik sepeda motor ramai ramai itu satu geng. Termasuk si Herman yang cegat kamu tadi.” Jawab riska.
Aku jadi berpikir, selama ini aku memang kurang bergaul dengan teman satu sekolah. Sehingga tidak begitu tahu apa yang sedang terjadi. Dan sedikit khawatir jika yang dimaksud Jalu itu adalah Sawung Panjalu.
“Kalian juga hati hati, mungkin sementara kita jangan sering bertemu dulu. Takut kalian juga akan diancam jika terlalu dekat denganku. Karena tadi memang ada sedikit masalah dengan beberapa orang dari mereka.” Kataku pada Riska dan Lita.
“Bukan alasan mas Sidiq mau menjauh dari Riska kan ?” ucap Riska.
Aku jadi gelagapan ditanya begitu, karena alasanku sebenarnya adalah tidak ingin Riska sampai dilibatkan dalam urusan ini. Bagaimanapun dalam hatiku ada rasa sayang dengan Riska, dan aku tidak akan rela jika orang orang dekatku di celakai.
“Bukan begitu Riska, ini demi kamu juga…!” Jawabku.
"Diih So sweet deh, belum apa apa udah bilang demi Riska, Lita jadi iri nih Diq, sampai sekarang belum ada yang bilang ‘demi Lita’” goda Lita.
“Ya termasuk kamu juga Lita, aku gak ingin teman teman aku jadi sasaran kemarahan mereka.” Sahutku.
“Yaah Riska udah GR duluan kirain Riska bukan sekedar teman bagi mas Sidiq.” Ucap Riska.
Pandai juga nih Riska bicara, sampai membuat aku bingung harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Riska. Jika aku memang tidak ingin membuat satu komitmen khusus dengan cewek.
“Riska kan teman spesial bagi Sidiq, lebih dari teman yang lain.” Jawabku terpaksa mengatakan begitu.
“Kenapa gak bilang kita resmi pacaran saja sih mas, kan sama saja kalau begitu.” Sahut Riska membuat aku panas dingin.
“Pacaran itu apa sih menurut Riska ?” Tanyaku balik pada Riska.
“Ya menjalin janji untuk saling mencintai dan tidak berpaling dengan yang lain lah mas !” jawab Riska.
“Hanya itu saja ? kalo hanya seperti itu Sidiq juga gak akan berpaling dengan yang lain. Tapi Sidiq gak berani membuat komitmen dulu dan tidak berani jalan dan bertemu kalau hanya berduaan saja.” Ucapku pada Riska.
“Lah kalau aku selalu diajak bakalan jadi obat nyamuk dong Diq ?” sahut Lita.
“Gak lah, kalau kita bertiga kana aman gak bakalan macem macem. Kalau berdua akan ditemani setan nanti.” Jawabku ke Lita.
“Sial, berarti aku kayak setan dong menemani kalian berdua ?” goda Lita.
“Ya gak lah Lita, elo kan yang jadi saksi Riska sama mas Sidiq, bukan setan yang membujuk untuk gak bener.” Ucap Riska.
“Halah kamu aja sering nyamperin Sidiq di counter kan, dan disana juga kalian hanya berdua. Terus apa bedanya ?” tanya Lita.
Kupikir benar juga yang diucapkan Lita, memang aku dan Riska juga sering ngobrol berdua saja saat di counter.
“Tapi itu kan kemarin kita sebagai teman saja, kalau sekarang kan sudah ada komitmen jadi beda dong Lita.” Ucap Riska membela diri.
“Dari kemarin juga kalian sudah saling suka kan, hanya baru sekarang saja saling terbuka. Lita rasa gak ada bedanya kemarin sama sekarang Riska.” Ucap Lita ngompor ngomporin Riska.
Dan sebelum Riska menjawab kami dikejutkan dengan kedatangan tiga orang yang mencegatku tadi.
“Mau alasan apalagi sekarang, sudah tertangkap basah kalau kamu mendekati Riska.” Ucap salah seorang diantaranya.
“Fadholi, kamu jangan sembarangan dong. Kami bertiga hanya kebetulan ketemu di kantin terus ngobrol saja.” Ucap Lita agak panik. Aku hanya diam saja menunggu tindakan mereka akan sampai mana.
“Diam kamu Lita, kami gak ada urusan dengan kamu. Kecuali kalau kamu berani bilang kalau anak ini pacar kamu bukan pacar Riska. Biar bos kami tidak mencurigai dia mendekati Riska.” Ucap seorang yang lainya, aku belum begitu kenal namanya hanya sering dipanggil Solet. Mungkin karena tubuhnya yang kecil tinggi seperti sebuah solet ( pengaduk sayur dari kayu ).
“Bukan begitu Jefri, tapi apa urusan kamu mengatur dan melarang kami bertemu ?” teriak Lita.
Anak yang dipanggil Jefri hampir saja menampar Lita karena marah, dan aku sudah tidak bisa menahan diri lagi jika sudah seperti itu. dengan cepat aku menangkap pergelangan tangan Jefri.
“Kalau laki laki jangan main tangan dengan cewek dong. Dan sekolah ini bukan tempat untuk berkelahi.” Ucapku pada Jefri.
“Owh ada pahlawan rupanya, aku juga gak akan campuri urusan mu dengan Lita. Tapi dengan syarat Riska akan aku ajak menemui bos kami.” Ucap seorang yang dari tadi hanya diam saja .
__ADS_1
“Gak, ,,, Riska gak mau ikut kamu ngapain juga Riska ikut kamu Herman.” Ucap Riska.
Owh ini yang disebut sebagai Herman, tapi siapa yang dimaksud bos mereka di sekolah ini, pikirku.
“Apa kamu gak tahu siapa bos kami Ari, dia masih saudara jauh dengan boss Jalu Riska. Jangan jual mahal begitu, daripada kamu malah sengsara nanti.” Ucap Herman.
Aku masih berusaha menahan agar tidak terjadi keributan di sekolah, namun jika terpaksa harus ribut juga bagaimana lagi.
“Hei kamu sebaiknya jangan gangguin Riska, dia disukai oleh bos Ari ketua kami disini.” Ucap Jefri.
“Tanya saja dengan Riska, siapa yang mengganggu dia, aku atau justru kalian yang mengganggu dia.” Jawabku sambil menahan marah.
“Anak gak tahu diuntung, jangan mentang mentang kamu tinggal di pesantren terus mau seenaknya disini. Teman temanku banyak juga yang jago silat yang bisa membuat kamu babak belur.” Ucap Jefri mengancam. Dan itu adalah hal yang paling aku benci jika diancam apa lagi di depan Riska.
“Kalau aku bilang Riska itu pacarku kalian mau apa ?” bentakku pada mereka.
Sontak mereka terkejut mendengar jawabanku, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. sehingga ketiga anak tersebut saling berpandangan.
“Kamu sadar apa yang kamu ucapkan ?” tanya Herman.
“Sadar, dan kukira kalian yang tidak sadar diri, anak gak mau kok mau main paksa.” Jawabku.
“Baiklah, kamu akan tanggung ucapan kamu sendiri. Kamu belum tahu siapa boss Ari, sehingga kamu berani bilang begitu. Apalagi kalau dia sampai mengadu ke boss Jalu, habis kamu nanti.” Ancam Jefri kemudian. Aku sudah merasa kepalang basah, bukan hanya soal Riska saja. Melainkan ingin tahu apakah yang dimaksud Jalu itu adalah Sawung panjalu. Jika memang iya sudah seharusnya aku kontak Jafar adikku dan semua teman satu pesantrenku. Untuk hentikan tindakan Jalu atau Sawung Panjalu, agar tidak menyebar kejahatan.
“Ok aku ikuti permainan kalian, jangan dikira aku takut dengan boss kalian. Asal jangan main curang saja, mulai sekarang jangan ganggu Riska lagi karena dia sudah menjadi pacarku.” Kataku menegaskan.
Kemudian tiga orang itu pergi dan meninggalkan kami, seluruh pengunjung Kantin Nampak khawatir dengan apa yang terjadi. Termasuk juga Riska dan Lita, mereka sangat gemetar mendengar percakapanku tadi.
“Mas, kenapa kamu jadi senekat itu sih ? kenapa harus bilang kita pacaran di depan mereka ?” ucap Riska.
“Lah bukannya kamu tadi yang minta kalau kita resmi pacaran saja. Dengan catatan tidak berduaan .” Jawabku kalem.
“Iya sih, Riska juga senang mas Sidiq bilang begitu. Tapi kenapa harus di depan mereka, kenapa gak tadi saat kita bicara bertiga saja.” Ucap Riska.
“Ya biar lebih banyak yang menjadi saksi kalau kamu adalah pacarku.” Jawabku asal.
“Ah kamu nekad banget Diq, Ari itu cukup berpengaruh disini apalagi dia masih saudara jauhnya Jalu.” Ucap LIta.
“Aku tahu Lita, tapi bukan bermaksud sombong bahkan jika yang kamu maksut Jalu itu nama lengkapnya Sawung Panjalu pun aku sudah dengar bagaimana dia. Dan orang seperti dia memang berbahaya, jika tidak di hentikan.” Jawabku pada Lita.
“Iya, tapi kamu juga jangan membahayakan diri dengan lawan mereka Diq, aku juga gak ingin pacar sahabatku Riska kenapa kenapa.” Ucap Lita.
“Aku akan minta ayah untuk ikut mengawasi mereka, tapi bagaimana cara ngomongnya, Riska bingung.” Ucap Riska.
“Gak usah Riska, Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan aku juga sudah membuat perhitungan semua itu.” ucapku.
Dan sebelum Riska menjawab terdengar bel masuk bordering, aku segera pamit masuk ke kelas. Lita dan Riska pun segera masuk ke kelasnya karena jam sebelumnya sudah kosong. Kami pun berpisah aku sempat melihat Riska yang melirik padaku sambil tersenyum. Meski masih ada sedikit ketakutan di wajahnya. Aku juga merasa berdesir mendapat senyuman dari Riska, bahkan ikut membalas senyumnya. Aah rupanya memang aku benar benar telah jatuh cinta pada Riska, semoga saja aku dan Riska tetap bisa menjaga diri, batinku. Anaknya cantik dan baik, memang bukan dari kalangan agamis bahkan pakaiannya juga tidak berjilbab, tapi itu hanya soal waktu. bisa aku kasih saran pelan pelan nanti, pikirku.
Sesampai di kelas, aku segera menuju ke bangku ku ada suasana yang berbeda saat itu. entah kenapa teman satu kelasku agak aneh, hampir semuanya diam saja saat aku masuk. Hanya ada bisikan bisikan kecil yang tidak aku dengar. Aah masa bodo lah, kalau ada apa apa pasti juga nanti bakalan tau, pikirku.
Guru pun segera masuk dan kami semua kembali fokus pada pelajaran sekolah, dan tidak ada kejadian yang berarti sampai dengan pulang sekolah. Pada saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera bersiap untuk pulang. Karena akan menemui Jafar dan Nisa untuk memberikan uang jajan kepada mereka. Sekaligus aku akan membicarakan anak dari musuh ayah dulu yang bernama Sawung Panjalu. Supaya Jafar pun dapat ikut membantu. Jangan sampai ayah yang turun tangan sendiri nanti, batinku.
Sampai di gerbang sekolah Riska dan Lita sudah menunggu aku disana, ah kenapa Lita juga ikutan nunggu. Apakah dia mau ke rumah Riska, atau memang rumahnya berdekatan dengan Riska atau sekedar satu arah saja, pikirku.
Kami pun segera melangkah bersama, dan segera berjalan menuju ke rumah Riska. Karena aku sendiri akan segera berangkat ke pesantren Jafar dan Nisa adikku.
“Mas hati hati aku dapat informasi jika Ari akan membuat masalah denganmu, karena kamu mengatakan kalau Riska adalah pacar kamu.” Ucap Riska sambil berjalan.
“Lah emangnya beneran pacarku bukan, kalau bukan aku akan minta maaf ke Ari tapi kalau beneran ya ngapain dipikirin Riska.” Kataku pada Riska dengan sedikit menggodanya.
“Dih kok bilangnya begitu, ya memang benar sih tapi maksut Riska kan biar mas hati hati saja.” Sahut Riska.
“Iya Sidiq nih jangan gitu napa, nyebelin tau. Orang lain khawatir malah yang di khawatirin gak ngerti.” Sahut Lita.
“Hehehe… bercanda keles, gitu aja pada sewot sih. btw aku gak bisa searah dengan kalian kali ini. karena aku akan pergi ke pesantren adikku. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan adikku.” Ucapku pada Lita dan Riska. Disamping aku memang akan menuju ke pesantren Jafar dan Nisa, aku juga merasa ada yang mengikuti aku. Sehingga aku lebih memilih berpisah sebelum sampai di depan rumah Riska.
Akupun berbelok arah untuk mengalihkan perhatian orang yang mengikuti aku tersebut. dan benar saja belum begitu jauh aku berpisah dengan Lita dan Riska sudah didahului sepeda motor yang berhenti tepat di depanku. Dan orang itu adalah Herman, salah satu anak yang membuat keributan tadi.
“Mau kabur kemana kamu, ternyata hanya besar mulut saja ya kamu.” Ucap Herman.
“Siapa yang mau kabur, aku hanya memilih jalan lain agar tidak diketahui Riska dan Lita. Mana dua teman kamu yang lain kok Cuma sendirian.” Gertakku.
“Busyet,,, besar mulut amat kamu. Kamu pikir lawan aku sendiri yakin bisa menang apa ?” kata si Herman. Namun beberapa saat kemudian datang juga dua orang yang tadi.
“Udah kita hajar langsung saja, gak usah pakai bicara kayak main ketoprak saja.” Ucap Jefri yang langsung menyerang aku dengan pukulan tinju ke arah mukaku. Dan akupun segera menggeser tubuhku sedikit ke kiri sambil membalas tinju Jefri mengarah ke dadanya. Dan sebuah pukulan mengenai Jefri membuat dia semakin geram menahan nyeri di dada nya. Herman yang lihat itu tidak tinggal diam segera membantu Jefri tapi sebelum Herman melakukan serangan melihat gerakan kakinya aku langsung menyambut dengan kakiku juga. Sengaja menyambut tendangan Herman dengan menendang tulang keringnya sebelum kakinya mendarat di tubuhku. Dan Herman pun mengaduh serta jatuh hilang keseimbangan. Dan terakhir satu orang yang tercengang orang yang bernama Fadholi melihat dua temanya jatuh langsung ku pukul pinggang bawahnya yang menyebabkan dia jadi agak sesak nafas. Meski aku tidak menggunakan kekuatan penuh namun pukulanku tadi cukup membuat mereka bertiga kesakitan.
“Sudahlah, sebenarnya aku malas berurusan dengan kalian lebih baik aku pergi saja masih ada urusan yang lebih penting dari pada ngurusin kalian.” Ucapku pada mereka sambil melangkah pergi.
Dan karena aku mengejar waktu, maka aku pun segera mencari tukang ojek untuk mengantarkan aku ke pesantren Jafar yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sekolahku. Aku tidak pedulikan tiga anak yang hendak menganiaya aku tadi, yang jadi pikiranku adalah, apakah Jalu yang dimaksud adalah Sawung Panjalu anak musuh besar ayahku…???
__ADS_1
Bersambung
Tetap mohon dukungan
Like
Komen
dan
Vote nya ya Reader
__ADS_1