Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ari dan anak buahnya ketakutan


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


Herman dan kawan kawannya semakin dekat, dan kawan satu kelasku menjadi semakin ketakutan. Aku benar benar tidak tega melihat mereka ketakutan, ada sedikit penyesalan kenapa aku kurang bisa mengontrol emosi seperti Jafar adikku, batinku.


“Ada apa datang ke kelasku ini, kalau mau membuat keributan jangan di sekolah. Dan jangan libatkan satu pun dari teman satu kelasku ini. mereka tidak tahu apa apa. Urusan kalian hanya dengan diriku pribadi.” Kataku membentak Herman, Jefri dan Fadholi…!!!


“Kamu apakan Ari, kenapa dia sampai babak belur dan gak masuk sekolah hari ini ?” tanya Herman.


“Bukan aku yang melakukan, tapi Ari dikeroyok massa karena mau bikin ribut di tempat kerjaku.” Jawabku kalem.


“Tapi katanya kamu juga ikutan.” Sahut Herman.


“Gak sih, aku hanya berusaha menghentikan dia saat mau merusak etalase tempatku bekerja. Kemudian massa tahu dan kemudian mengeroyok Ari beramai ramai. Aku justru menyelamatkan Ari dari amukan massa.” Kataku pada Herman.


“Kenapa kamu berani dengan Ari ? Apa kamu gak takut kalau dia mengadu ke Jalu saudaranya Ari ?” tanya Jefri ikut bicara.


“Aku tidak akan takut jika tidak bersalah, kenapa aku harus takut hanya karena Ari saudara jauhnya Jalu. Dan kenapa juga harus takut dengan Ari, bahkan dia sendiri kemarin sampai nangis nangis saat di keroyok masa.” Ucapku kepada mereka.


“Kalau sampai Jalu ikut turun tangan kamu akan habis oleh Jalu.” Teriak Herman.


“Yang jelas aku bukan pengecut seperti kalian, yang main keroyokan seperti kemarin. Dan aku tidak takut  juga jika harus berhadapan dengan Jalu. Selama aku ada di jalan yang benar, terserah kalian kalau mau ikut dia. Tapi sekali saja kalian mengganggu teman satu kelasku yang tak berdosa, aku akan kejar kalian sat persatu.” Ucapku.


“Baik, kami tidak akan melibatkan teman satu kelasmu urusan kami hanya dengan kamu saja.” Ucap Herman.


Tidak bisa, urusan dengan Sidiq berarti berurusan dengan aku juga.” Ucap Ihsan yang tiba tiba datang dan langsung memegang kerah baju Herman.


“Tenang San gak usah di apa apakan, dia itu gak ada apa apanya, percuma saja.” Ucapku ke Ihsan.


“Inikah yang kamu maksut tadi pagi Diq ? ada apa dengan anak anak ini ?” tanya Ihsan.


Tiba tiba saja sudah banyak orang yang mengerumuni kami yang sedang bertengkar mulut dengan Herman cs. Aku di bantu Ihsan dan beberapa teman Ihsan, yang juga kurang suka dengan sepak terjang anak buah Ari tersebut.


“Santai saja San, nanti kita bicarakan lagi. Tapi kenapa kamu tiba tiba saja ada disini ?” tanyaku.


“Tadi aku mencarimu di kantin, tapi aku tanya Riska ternyata kamu gak disana. Jadi aku susul ke kelas kamu.” Jawab Ihsan.


“Iya Diq, kamu gak sendirian sekarang anak anak sudah tahu kejadian di kantin kemarin. Dan banyak yang mendukungmu, Ari dan kawan kawanya gak bisa dibiarkan semena mena.” Ucap  Dirga Teman sekelas Ihsan.


“Betul,,,, betul,,,, kami sudah muak dengan kelakuan Ari Cs. Kalau perlu kita lawan saja mereka sekarang.” Tiba tiba semakin banyak yang berdatangan dan meneriakan untuk melawan Ari dan anak buahnya.


“Sabar dulu kawan kawan, saat ini Ari sendiri sedang sakit tidak masuk sekolah karena kemarin dihajar masa. Bisa jadi teman teman mereka juga akan dihajar massa jika masih belagu. Karena ternyata Ari itu gak ada apa apanya. Dia bukan jagoan yang perlu ditakuti, selama kita tidak bersalah.” Ucapku memberi semangat kepada teman teman satu sekolahku.


Dan efeknya mereka jadi berani melawan, meski baru sekedar dengan ungkapan perlawanan. Tetapi hal itu sudah membuat Herman Cs lari terbirit birit. Dan tanpa aku duga, tiba tiba Riska dan Lita sudah berdiri di hadapanku. Dengan wajah sedih Riska dan hampir saja dia menangis.


“Mas kenapa kamu nekad begitu sih, Riska benar benar khawatir…!” ucap Riska hampir menangis.


“Maafkan aku Riska, aku terpaksa karena mereka sudah keterlaluan.” Jawabku.

__ADS_1


“Betul Riska, kami akan selalu mendukung Sidiq termasuk jika mereka masih mengganggu mu kami tidak akan tinggal diam. Kami dukung hubunganmu dengan Sidiq.” Ucap Ihsan justru malah membuat aku dan Riska jadi tersipu malu. Seakan sebuah pengumuman kepada yang ada disitu jika aku dan Riska sekarang berpacaran.


Bahkan semua bertepuk tangan dan memberi selamat kepada aku dan Riska. Sehingga aku jadi sangat malu, entah wajahku jadi seperti apa waktu itu. Berbeda dengan Riska tidak terlalu terpengaruh, bahkan aku melihat dia tersenyum senang.


“Eeeh kok kamu malah diam begitu sih Diq, senyum juga dong kayak Riska biar kalian sama sama bahagia.” Ledek Ihsan yang aku balas dengan kepalan tanganku kepadanya. Ihsan pun hanya tertawa sambil berlari menjauh, merasa senang bisa mempermalukan aku.


Teman teman satu kelasku pun ikutan keluar dan memberi selamat kepadaku dan Riska. Bahkan Alan pun ikutan juga memberi selamat kepadaku.


“Selamat ya Diq, sudah dapat gebetans ekarang.” Ucap Alan ketua kelasku.


“Aah kamu bisa aja Lan, kan baru teman dekat kayak udah married saja diberi ucapan selamat.” Ucapku grogi.


“Eheem ternyata Sidiq udah punya rencana mau Married ya ?” sahut Dina ikut Nimbrung.


“Eeh gak bukan itu maksudku, aah jangan bikin Gosip baru dong Din….!” Sahutku protes dengan ucapan Dina.


“Lah iya juga gak papa kok DIq, kan kalian nanti bisa kuliah sambil kerja setelah Nikah.” Ucap Dina masih menggodaku.


“Gak lah Din, kita belum punya pemikiran ke  arah gitu kok.” Ucap Riska yang mukanya jadi memerah karena malu dikerjain Dina.


“Mending juga ikut kata Dina saja Ris, dari pada elo di temenin setan nantinya.” Tiba tiba Lita juga ikutan menyahut.


“Aah elo kenapa ikutan mengolok olok aku sih Lita.” Protes Riska.


“Lah kan kata Sidiq kemarin kalau berdua yang nemenin Setan, makanya aku bilang gitu.” Jawab Lita.


Semua menertawakan ucapan Lita, dan membuat aku dan Riska jadi kehilangan muka di hadapan teman teman sekolahku, terutama teman teman satu kelasku. Aku bahkan tidak bisa berucap apapun hanya senyum menahan malu di perhatikan banyak orang begitu.


Hari itu aku seperti seorang yang tak punya kekuatan jadi bulan bulanan teman temanku. Meski hanya bercanda, tapi rasa malu yang kurasakan begitu dalam. Mungkin ini kali pertama aku dekat secara khusus dengan seorang gadis. Kalau jauh kangen tapi kalau dekat jadi grogi, pingin ketemu tapi bertemu malah jadi malu. Aah entahlah, aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku.


*****


Author POV


Herman dan dua kawannya yang lari ketakutan meninggalkan Sidiq, kabur ke sebuah kantin di luar sekolah. Bahkan ke kantin sekolah pun mereka agak takut kalau kalau ketemu Sidiq atau kawan kawannya Ihsan. Mereka yang biasanya berlagak Jagoan itu pun sekarang jadi tidak bernyali. Melihat realita Ari yang mereka agung agungkan habis oleh Sidiq. Tak berkutik sama sekali, padahal sebelumnya bicara akan menghajar Sidiq sampai mau mengaku salah. Namun di luar dugaan mereka, Justru Ari yang dibuat menyerah oleh Sidiq.


“Habislah kita sekarang, semua anak sudah berani melawan kita. Bos Ari pun ternyata dengan mudah dikalahkan Sidiq.” Ucap Herman.


“Iya gue juga gak nyangka, pas kemarin kita keroyok bertiga dengan mudah kita dikalahkan. Untung saja Sidiq gak melanjutkan menghajar kita.” Sahut Jefri.


Untung apaan, aku belum hilang kaget ku lihat gerakanya langsung dipukul sampai nafasku sesak sekali pukul juga.” Ucap Fadholi.


“Mau bagaimana lagi, kita harus menghindari ketemu mereka saat ini. lebih baik kita bolos saja, hari ini aku sendiri gak siap bertemu mereka.” Ucap Herman.


“Terus mau kemana kita ?” tanya Fadholi.


“Gimana kalo kita ke tempat perjudian saja ? Mengadu Nasib di sana, siapa tahu  nasib kita beruntung.” Jawab Jefri.


“Ogah ah, nasib untung bagaimana ? Jelas dari kemarin kita baru apes terus kok. Kalau sekarang mengadu nasib dengan judi, yang ada duit kita habis jadi santapan empuk lawan.” Ucap Herman.


“Terus bagaimana dong ?” Ucap Jefri.


“Kita ke tempat bos Ari saja, kita tanya sebaiknya bagaimana.” Jawab Herman.


Jefri dan Fadholi pun hanya mengikuti apa kata Herman. Ketiga nya segera menuju ke rumah Ari, besuk sekalian mengadakan rapat dadakan untuk mencari cara mengalahkan Sidiq. Karena sekarang Sidiq sudah banyak mendapat dukungan dari Ihsan dan kawan kawan nya.

__ADS_1


Dimata mereka lebih takut dengan Ihsan dari pada dengan Sidiq, karena jelas Ihsan jauh lebih banyak teman di sekolahnya dibanding Sidiq yang  jarang bergaul dengan teman satu sekolahnya. Dan juga tidak begitu dikenal sebelumnya.


Namun sejak peristiwa itu, nama Sidiq pun jadi bahan pembicaran anak anak yang lain. Sehingga popularitas Sidiq pun meningkat tajam. Bahkan beberapa gadis pun menjadikan Sidiq sebagai Idola mereka. Sehingga Riska sempat cemburu berat dan agak marah dengan Sidiq. Ketika suatu hari Sidiq didatangi cewek dan diberi sekuntum bunga. Juga beberapa tingkah anak gadis remaja yang mendengar berita tentang keberanian Sidiq dan mampu membungkam Ari dan anak buahnya. Meski Sidiq merasa itu hal yang biasa biasa saja.


“Ok, kita segera berangkat saja. Otakku juga sudah buntu, kita harus mengadakan pertemuan khusus untuk membahas ini.” Ucap Jefri.


Berangkatlah mereka menuju ke tempat Ari, sementara Ari di rumah juga masih bermalas malasan sambil menahan sakitnya. Lebih dari itu dia merasa sangat sakit hati, karena saat ini sudah pasti anak anak sekolah sudah banyak yang tahu kalau dia dikalahkan Sidiq.


“Aku harus balas dendam dengan Sidiq, tidak mendapatkan hati Riska tidak jadi soal, asal bisa balas dendam dengan Sidiq.” Gerutu Ari yang merasa sakit hati.


Yang tadinya sekedar patah hati karena Riska lebih memilih Sidiq sekarang justru lebih merasa sakit hati karena nama besarnya sudah dihancurkan Sidiq. Ari menyesali semua yang terjadi padanya, sudah Riska tidak didapatkan nama besarnya juga sekarang ini hancur lebur.


Tiba tiba Ari dikejutkan dengan kehadiran Herman, Jefri dan juga Fadholi.


“Bos, bagaimana keadaan kamu ?” Tanya Herman kepada Ari.


“Ya masih seperti ini seperti yang kalian lihat.” Ucap Ari.


“Bagaimana ceritanya kemarin bos, kok sampai bisa dikalahkan oleh Sidiq ?” Tanya Herman.


“Sebenarnya aku tidak kalah sama Sidiq, tapi kemudian banyak orang datang membantu Sidiq dan memukuli aku beramai ramai. Jadi bukan hanya Sidiq, kalau satu lawan satu pasti dia sudah aku habisin.” Ucap Ari masih dengan gaya kesombongannya.


“Owh jadi begitu to ceritanya, pantas saja Bos  Ari jadi babak belur begitu.” Sahut Jefri.


“Iya, aku gak mau membalas orang lain. Aku hanya mau mengancam Sidiq saja sebenarnya ?” kata Ari.


“Terus rencana kita nanti bagaimana bos ?” Tanya Herman kemudian.


“Kita sementara mengalah dulu, sampai bang Jalu berhasil menguasai ilmu ayahnya. Biar nanti dia yang akan menghabiskan Sidiq, tapi jangan tanya kapan. Karena aku juga belum tahu kapan Bnag Jalu selesai menyempurnakan Ilmunya.” Kata Ari berbohong.


Jalu tidak mau membantu Ari karena Ari yang terlalu cemen dan cengeng dikit dikit ngadu. Jalu tidak mau konsentrasinya terganggu oleh hal lain. Karena Jalu baru saja mau menyempurnakan ilmunya agar makin ditakuti oleh Lawan


“Wah bisa habis tu Sidiq kalau bos Jalu beneran mencari dan menghajar Sidiq.” Ucap Fadholi.


“Biarkan saja, justru kebetulan kita gak perlu repot repot  untuk melawan Sidiq nanti.” Ucap Ari.


Sebenarnya Ari pun was was terhadap sidiq, apa lagi disitu juga ada Ihsan. Sapa tahu mereka bakalan kompak melawan Geng nya. Akan tetapi, mereka tidak tahu jika Jalu tidak mau menolong mereka karena jenuh dengan urusan Ari yang kekanak kanakan bagi, bagi Jalu. Urusan cewek sampai ribut adalah memalukan bagi mereka, dan bisa dianggap Cemen.


Begitulah Ari dan anak buahnya sekarang sudah tidak berani semena mena lagi. Sejak mendapat perlawanan dari Sidiq. Dan mereka menyadari jika tidak akan menang melawan Sidiq tanpa kehadiran Jalu. Dan mereka juga tidak tahu jika sebenarnya Jalu sendiri sudah muak dengan Ari.


“Bang Jalu minta tolong kita mencari orang yang bernama Yasin, yang dulu pernah bertempur dengan ayah bang Jalu.” Ucap Ari memanfaatkan anak buahnya untuk mencari Yasin dan dimana dia tinggal. Selebihnya adalah akan menjadi urusan Jalu sendiri….!?!


*Episode pendek dulu ya Readers kali ini. semoga terhibur*


...Bersambung...


Tetap mohon dukungannya


like


komen


dan


Vote nya ya Reader tercinta.

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏...


 


__ADS_2