Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Yasin diberi Ijazah mengajar jurus Suci Hijaiyah


__ADS_3

 


Yasin diberi Ijazah mengajar jurus Suci Hijaiyah


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


“Alhamdulillah… benar kata beliau abah Syuhada, mas Sidiq sudah tidak merasakan saki lagi sekarang.” Kata Sidiq ke Jafar.


Namun sebelum Jafar menjawab, dikejutkan dengan kabar menghilangnya Muksin dan Arsyad dan membawa motor salah satu Santri….!?!


Gemparlah seluruh pesantren Al-Huda, berbagai spikulasi muncul. Ada yang menganggap Muksin dan Arsyad melarikan motor, ada yang mengira Muksin dan Arsyad diculik orang dan lain sebagainya.


Kyai Syuhada menenangkan Santri santrinya, dan menyuruh semua bersiap sholat subuh terlbeih dahulu.


“Semua tenang, Muksin dan Arsyad Insya Allah bisa di temukan dalam waktu dekat ini. sekarang kita sholat Subuh dan berdoa lebih dahulu agar dapat petunjuk dari Allah.” Ucap Kyai Syuhada.


Semua santri menurut jika sudah ada Fatwa seperti itu. meski masing masing sibuk dengan pemikirannya sendiri sendiri. Dan usai Sholat subuh Jafar dan Sidiq pun di panggil oleh kyai Syuhada.


“Kalian bersiap siap karena ayahmu akan menjempt kalian bersama Nisa pagi pagi. Dan nanti kamu ajak beberapa santri yang sekiranya kamu anggap punya bakat beladiri selain Kholis tentunya.” Kata Kyai Syuhada.


“Sebenarnya ada apa Bah, kenapa harus mengajak santri yang lain juga ?” Tanya Jafar.


“Ayahmu akan membekali kalian dan beberapa santri lain yang akan mendampingi kalian. Jika kalian harus menghadapi warga Padepokan tersebut.” Jawab Kyai Syuhada.


“Maksut abah Guru ?” Tanya Sidiq.


“Ayahmu akan mengajarkan Jurus Suci Hijaiyah kepada kalian semuanya yang nanti akan bergabung menumpas kebatilan.” Kata kyai Syuhada.


“Maaf bah, setahu Sidiq Ayah tidak mau mengajarkan Jurus itu karena hanya diberi ijazah menggunakan tidak diberi ijazah mengajarkan menurut ayah.” Kata Sidiq.


“Itu dulu, tapi semalam ayah kamu sudah diberi ijazah untuk mengajarkan oleh abah guru Thoha.” Jawab Kyai Syuhada.


Sidiq dan Jafar hanya terdiam, sudah lama Sidiq dan Jafar minta diajarkan jurus suci tersebut. namun selalu ditolak oleh Yasin, karena belum punya Ijazah mengajar kecuali sekedar gerakan lahiriyahnya saja. Tiba tiba saat ini Ayahnya sendiri yang akan mengajarkan kepada mereka tanpa diminta. Tentu saja Sidiq dan Jafar sangat bahagia, apalagi bisa mengajak santri santri lain juga.


“Alhamdulillah… jadi ayah sekarang sudah mau mengajarkan kami bah ?” Tanya Jafar.


“Tidak hanya kalian dan Nisa juga beberapa Santri sini. Tapi dari pesantren AL-Hikmah juga akan ikut bergabung nanti termasuk Ihsan teman kamu itu.” Jawab abah gurunya Jafar.


“Tapi kami harus dirumah berapa hari bah disana ?” Tanya Jafar.


“Gak lama, paling tiga hari saja. Setelah itu ayah kamu yang harus keliling Al-Huda, Al-Hikmah dan rumah kamu sendiri. Yang pada saatnya nanti akan dijadikan padepokan Al-Ikhlas atas izin abah guru Thoha. Guru abah, guru Kang Nurudin dan guru ayah kamu juga.” Kata Kyai Syuhada.


Sidiq dan Jafar pun segera mohon pamit untuk berkemas. Karena ayahnya akan menjemput kerumah selama tiga hari. Dan otomatis Jafar akan bertemu Nia yang dirumahnya dipanggil Isna oleh ayahnya. Juga Sidiq akan bertemu Ihsan juga Utari yang juga akan belajar Jurus Suci Hijaiyah kepada Yasin.


Begitulah pagi hari di Pondok Al-Huda, yang sempat digegerkan oleh hilangnya Muksin dan Arsyad. Dan malam ketika Sidiq menyelesaikan Fida’nya dan Jafar ziarah ke makam. Ada dua peristiwa besar di luar Pondok Pesantren Al-Huda.


…..


Flashback kepergian Muksin dan Arsyad

__ADS_1


Setelah mendapatkan pinjaman motor Muksin dan Arsyad nekad mendatangi Padepokan ki Marto Sentono secara sembunyi sembunyi.


“Itu padepokannya Arsyad.” Kata Muksin menunjuk ke Padepokan ki Marto Sentono.


“Gede juga, hampir sebesar pesantren kita kang Muksin.” Jawab Arsyad.


“Iya, tapi meski besar pesantren kita isinya mereka semua adalah para pendekar dan pelaku spiritual aliran kepercayaan tertentu.” Jawab Muksin.


“Waduh bahaya dong kang, kok gus Jafar bisa dengan mudah mengalahkan mereka ya ?” ucap Arsyad.


“Anak siapa dulu, ayahnya kan adik seperguruan abah Guru Syuhada. Ya wajar lah, apalagi ning Nisa sama Ning Nia saja menang Ning Nisa. Artinya Ayah Gus Jafar itu spesialis ilmu olah kanuragannya yang matang.” Ucap Muksin.


“Iya ya kang, untung saja Gus Sidiq tadi pagi sudah gak marah sama kita. Kalau Ingat Arsyad jadi takut sendiri kang.” Ucap Arsyad.


“Ssstt diam ada yang mendekat kesini, cepat sembunyi sebelum ketahuan mereka.” Bisik Muksin.


Arsyad dan Muksin pun bersembunyi dibalik semak yang cukup tinggi. Sayangnya mereka lupa jika motornya tidak disembunyikan dulu.


“Aduh kang, motornya lupa disembunyikan pasti ketahuan kita nanti.” Bisik Arsyad.


“Aduuuh kok bisa lupa sih, mudah mudahan saja mereka mengira itu motor punya orang yang mengairi sawah sehingga tidak Curiga.” Bisik Muksin dengan debaran jantung yang semakin cepat.


Kemudian tiga orang pengawal yang dulu sempat bentrok dengan Jafar itu berkeliling mengitari area sekitar Muksin dan Arsyad.


“Itu motor siapa di situ ?” Tanya salah seorang pengawal itu.


“Biasanya motor orang yang mengaliri sawah saja. Hampir tiap malam ada yang parker di situ, kemudian turun menyusuri sungai.” Jawab yang lain.


“Owh,,, tapi kalau yang biasa aku lihat bukan itu motornya. Meski tempatnya memang disitu juga naruhnya.” Jawab yang pertama.


Namun saat mereka hendak meninggalkan tempat itu tiba tiba datang seseorang.


“Mas ini motor siapa, kan biasanya saya gunakan parkir kok sekarang dipakai orang lain. Apa ada yang turun menyusuri sungai juga tadi ?” Tanya orang itu pada tiga penjaga tersebut.


“Maaf kami tidak tahu, kami juga baru saja keliling pak.” Jawab seoarang diantaranya.


“Parkir sembarangan di tempat yang biasa aku gunakan, dasar gak ngerti aturan…!” gerutu orang tersebut yang kemudian turun ke sungai.


“Terus itu motor siapa ya ?” ucap ketiganya bersamaan seakan baru menyadari keanehan yang baru mereka lihat.


Arsyad dan Muksin pucat dalam persembunyianya, karena tiga orang tersebut jadi curiga dengan motornya.


“Apa kita awan saja kang Muksin ?” Tanya Arsyad.


“Jangan terburu Naf*u, kalau bisa menghindar saja kita gak bisa mengukur kekuatan mereka. Apa lagi jika yang di dalam padepokan keluar semua habis kita nanti.” Jawab Muksin.


Salah seorang berbisik kepad yang Lain, mereka bertiga berunding kecil. Dan sepakat memandang ke tiga penjuru, kemudian berkata salah satu orang itu.


“Sebaiknya kamu keluar atau ku bakar saja motor kamu.” Arsyad yang merasa meminjam motor tersebut jadi ketakutan jika motor itu beneran dibakar.


“Jangaaan… jangan bakar motor itu…!” teriak Arsyad yang langsung menunjukkan dirinya pada tiga Penjaga tersebut. sehingga Muksin pun mau gak mau terpaksa ikut keluar juga.


“Rupanya kalian, pasti anak ini suruhan orang yang kemarin itu yang namanya Sidiq itu.Tangkap saja, kita hadapkan ke ki Marto Sentono.” Jawab yang lain.


Tentu saja Muksin dan Arsyad tidak mau begitu saja menyerah. Mereka kemudian melawan tiga orang tersebut dan berusaha kabur.


Mendengar tiga orang itu mengancam Sidiq yang dianggap gus oleh Muksin dan Jafar. Mereka pun tanpa banyak bicara langsung menyerang tiga orang tersebut. dan saah satu dari penjaga tersebut kaget tidak menyangka akan diserang. Sehingga tidak sempat untuk menghindar.sehinga kepalan tangan Muksin mendarat di pelipisnya hingga terjatuh, namun segera bangkit lagi.

__ADS_1


Dan terjadilah perkelahian dua lawan tiga orang, Muksin yang belum sembuh benar dari luka saat dipukuli Sidiq agak kesusahan melawan musuhnya. Sementara Arsyad juga beberapa kali terkena pukulan lawan. Sehingga pertempuran menjadi tidak seimbang. Selain kalah jumlah juga kalah pengalaman bertarung.


Sehingga dengan Mudah Muksin dan Arsyad diringkus dan dihadapkan pada ki Marto Sentono. Dan Muksin juga Arsyad disiksa dipukil dengan cambuk agar mengaku siapa yang suruh. Sehingga saat subuh mereka tidak kembali membuat geger Pondok Al-Huda.


*****


Yasin mimpi ditemui abah Guru Thoha


Yasin yang sedang berbicara dengan Fatimah istrinya mengataan niatnya menjemput anak anaknnya untuk pulang. Agar Fatimah tidak menahan perasaan kangen pada anak anaknya dan tidak terlalu cemas memikirkan anak anaknya.


“Besok aku akan jemput anak anak barang beberpa hari, biar kamu gak terlalu rindu pada mereka.” Kata Yasin pada Fatimah sebelum berangkat tidur.


“Beneran mas, kira kira Boleh gak sama guru guru mereka ?” Tanya Fatimah.


“Insya Allah, nanti aku akan negosiasi barang sehari dua hari biar mereka pulang.” Jawab Yasin.


“Isna jangan dikasih tahu dulu biar surprise mas.” Ucap Fatimah kegirangan.


“Iya, yasudah kita istirahat saja dulu. Biar aku besok bisa berangkat pagi pagi.” Jawab Yasin.


Dan mereka pun tidur dengan lelap, sampai Yasin terbawa ke  alam mimpinya. Dan dalam mimpi Yasin ditemui oleh abah gurunya.


Yasin,,, Kowe saiki tak wenehi ijazah mulang jurus Suci Hijaiyah. Jelasno seko Alip tumeko Ya lan kautamane jurus jurus Suci kui. Ojo lali prihatine lan amalane ngawiti Latihan jurus kudu Khatam quran. Krono ilmu iku soko kitab suci Al-Quran.” Kata abah guru Thoha guru Yasin.


[Yasin,,,kamu sekarangaku beri ijazah mengajar Jurus Suci Hijaiyah. Jelaskan dari Alip samapai Ya dan keutamaan jurus jurus Suci itu. Jangan lupa laku prihatinnya dan amalan memulai latihan jurus itu harus khatam Al-Quran dulu. Karena ilmu itu dari kitap Suci Al-Quran.


Wus wancine kowe saiki masrahake marang anak anakmu supoyo ono generasi kang nerusake langkahmu.” Ucap abah guru Thoha mengakhiri ucapan beliau.


[Sudah saatnya kamu sekarang menyerahkan kepada anak anak kamu agar ada generasi yang meneruskan langkahmu.]


Yasin terbangun dari mimpi, namun Aroma minyak wangi khas abah gurunya masih tercium oleh Yasin.


“Apakah ini tadi beneran Abah guru Thoha ?” batin Yasin. Namun Yasin yakin itu adalah abah gurunya, aroma minyak wangi yang khas yang selalu dipakai abah gurunya itu. Yasin duduk sebentar di tepi Ranjang dan mengambil HP untuk meliahat Jam berapa. Yang ternyata sudah sepertiga malam terakhir.


“Wah ini waktu Puspa Tajem, makin yakin itu tadi abah guru beneran. Kebetulan aku sudah dapat ijazah mengajar jurus Suci Hijaiyah.” Pikir Yasin….???


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2