
...Jalu mulai melakukan Nglandak...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
"Wah jangan jangan ini ada kaitannya dengan Padepokan ki Marto Sentono. Ayah harus tahu ini nanti." kataku dalam hati...!!!
"Om anggota Padepokan juga ?" Aku tak kuasa menahan untuk diam.
"Kenapa memang nya?" Tanya salah satu orang tersebut.
"Gak papa om, pamanku juga punya Padepokan di wilayah pantai selatan." Jawab ku.
"Pamanmu diundang juga?" Tanya orang tersebut.
"Mungkin Om, biasanya juga sering diundang acara seperti itu." Jawab ku.
"Kalau pamanmu terkenal pasti diundang, siapa nama pamanmu?" Tanya yang lain.
" Namanya paman Brotoseno, panggilannya Om Sena." Jawab ku.
"Nama Padepokan nya Apa?" Tanya yang satunya lagi. Orang yang berkalung taring Harimau.
"Aduh lupa Om, pakai Jati jati gitu...!" Jawab ku.
Kemudian orang berkalung Taring Harimau itu diam dan membuka buku kecil.
"Ada banyak Padepokan di pantai selatan yang pakai nama Jati. Mungkin saja pamanmu juga diundang. Aku sendiri juga ikut mewakili Padepokan Sapto Jati. pakai Jati juga." kata orang tersebut.
Ihsan memberi kode untuk segera pulang ke pesantren. Aku pun segera berpamitan setelah membayar makanan ku dan Ihsan. Aku juga tak sabar melaporkan pada Ayah.
.....
.....
.....
Sesampainya di Pondok Pesantren Ihsan menegur ku.
"Dia tindakan kamu tadi bahaya, bisa bisa mereka malah curiga." Ucap Ihsan.
"Aku punya alasan melakukan itu, karena aku menggali informasi dan menyampaikan pada Ayahku." Jawab ku.
"Iya tapi kamu terlalu berani Diq...!" Sahut Ihsan.
"Gak San, aku sudah perhitungkan pamanku memang punya Padepokan di pantai selatan. Dan jika memungkinkan akan ikut hadir mencari informasi dalam acara itu. Aku yakin beliau juga pasti dengar akan adanya pertemuan itu. " Jawab ku.
Ihsan pun hanya diam, mungkin juga ini hal baru bagi Ihsan. Dan kami terdiam agak lama, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai kulihat kedatangan ayahku yang sudah bersiap melatih kami dengan jurus suci hijaiyah.
Meskipun Ayah pernah menjanjikan ilmu waringin sungsang tapi tak satupun dari kami bernafsu. Ilmu yang sangat mengerikan, bahkan syah pun tak pernah mempergunakan.
Aku segera menyambut kedatangan Ayah ku bersama Ihsan. Ingin menyampaikan informasi yang kami peroleh tadi.
"Assalamu'alaikum yah,,, Sidiq mau menyampaikan informasi penting. Boleh gak bicara sebentar sebelum Ayah menemui abah guru." Tanyaku sambil mencium tangan Ayah diikuti Ihsan.
"Wa'alaikummussalamm,,, boleh kalau gak lama." Jawab Ayah.
"Tidak yah, Sidiq hanya mau mengatakan jika akan ada pertemuan para tokoh Padepokan. Dan Sidiq curiga itu di prakarsai oleh ki Marto." Kataku.
"Apa, pertemuan para tokoh? Kapan itu akan dilaksanakan?" Tanya Ayah.
"Belum tahu yah waktunya, tapi informasi yang Sidiq dengar tadi secepatnya." Jawab ku.
"Baiklah nanti aku bicara sama abah gurumu sekalian." Jawab Ayahku.
Beliau pun kemudian segera menemui abah guruku.
.....
.....
__ADS_1
.....
Yasin POV
Aku kaget mendengar informasi dari Sidiq, kenapa bisa bersamaan dengan kasus almarhum anaknya Margono.
Aku harus segera bertindak cepat, untuk urusan pertemuan Tokoh tokoh Padepokan biar Sena saja yang menyusup. Karena dia juga punya Padepokan, jadi biar gak ketahuan, pikirku.
"Udah lama kang?" Tanya kang Nurudin tiba tiba sudah di hadapan ku.
"Owh iya baru saja masuk." Jawab ku.
"Ada perkembangan apa Kang?" tanya kang Nurudin.
"Ada dua hal penting, pertama akan ada pertemuan para tokoh hitam. Kedua ada indikasi bangkit nya lagi aliran Pemuja iblis yang mencuri kafan mayat untuk ritual khusus." Jawab ku.
"Apa,,, mengambil kafan orang meninggal apakah mungkin akan timbul lagi aliran sesat itu." Jawab kang Nurudin.
"Itulah kang, bersamaan dengan itu juga akan berkumpul nya tokoh tokoh hitam nanti." Sahutku.
"Apa rencana kamu kang?" Tanya kang Nurudin.
"Untuk masalah kumpulnya tokoh tokoh hitam aku akan minta saudaraku untuk menyusup. Dan untuk kejelasan informasi rencana pencurian Kafan tersebut aku nanti malam akan ke rumah seseorang yang anaknya meninggal malam selasa Kliwon." Jawab ku.
"Mereka bersatu, kita pun harus menyatukan kekuatan dan atur strategi." Ucap kang Nurudin.
"Iya kang, kontak kang Syuhada saja nanti, aku juga akan kontak saudara saudara ku yang dulu membantu aku memenjarakan Jin hajat itu." Jawabku.
Sesaat kemudian kami melaksanakan sholat Ashar sebelum aku melatih anak-anak Santri.
Aku bangga melihat ketekunan dan keseriusan anak anak santri dalam berlatih. Baik santriwan maupun Santriwati sangat bersemangat dalam berlatih.
Aku pun jadi ikut bersemangat melatih mereka, jurus demi jurus dapat mereka lampaui dengan gerakan apik. Rasanya seperti sedang melatih anak anak kandung sendiri.
"Hari ini kita cukupkan sekian dulu, jangan lupa ingat makna huruf pertama huruf dari tiap-tiap jurus. Perbanyak khotmil Qur'an agar barokah. Dan Tawasul dengan urutan seperti yang kemarin dilakukan." Kata kataku mengakhiri Latihan dan menutup dengan doa.
Aku pun segera berpamitan pada kang Nurudin, sebelum berangkat pulang. Namun begitu keluar sudah di tunggu Sidiq anakku.
"Ada apa lagi Sidiq?" Tanyaku.
"Kenapa baru bilang ayah sekarang, terus bagaimana adikmu Jafar?" Tanyaku.
"Baru dua hari lalu Yah, Jafar gak papa bisa mendeteksi mereka dengan undur Alam." jawab Sidiq.
"Alhamdulillah,,, kamu juga hati hati Sidiq ada kemungkinan mereka juga akan cari kamu. Gunakan Sifat undur alam untuk mendeteksi. Karena Allah menciptakan alam sudah dilengkapi dengan hukum alam. Pelajari sifat alam dan niatkan untuk mensyukuri dan mengagumi kebesaran Allah, Insya Allah berkah." Nasehat ku pada Sidiq.
Secara garis besar aku menjelaskan unsur-unsur alam yang bisa mendeteksi ilmu halimun. Dengan penjelasan logika sifat sifat unsur alam.
"Mudah mudahan jika kamu terpaksa harus hadapi ilmu itu kamu bisa mendeteksi keberadaan mereka. Hati hati nak, ayah pulang duluan." Kataku pada Sidiq.
"Iya yah, ayah juga hati hati jagain bunda Fatimah yah." kata Sidiq membuat aku terharu. "Anak ini sangat hormat pada Fatimah, meski bukan ibu kandungnya. Karena Fatimah pun juga menyayangi Sidiq seperti anak kandungnya." kataku dalam hati.
Kemudian aku segera meninggalkan Pondok Al-Hikmah.
.....
.....
.....
Author POV
Sesampainya di rumah Yasin sudah ditunggu Fatimah istrinya.
"Assalamu'alaikum,,,!" Ucap Yasin.
"Wa'alaikummussalamm... mas tadi dicari orang yang tadi pagi. Menanyakan mas jadi ke tempat pak Margono tidak nanti malam?" tanya Fatimah.
"Insya Allah jadi, kenapa memang?" Tanya Yasin.
"gapapa sih, kasihan saja sama mereka. Sepertinya butuh banget kehadiran kamu mas." Jawab Fatimah.
"Iya Aku juga udah bilang kang Nurudin agar ikut bantu doa." Jawab Yasin.
"Syukur kalau begitu mas, Farhan tadi juga telpon. Minta maaf baru bisa kasih kabar. Disana juga baru ada masalah. Mungkin lusa bisa kesini." kata Fatimah.
__ADS_1
"Iya gak papa, tinggal kang Tohari yang mungkin masih sibuk." kataku.
Fatimah dan Yasin menghabiskan waktu dengan ngobrol sambil nunggu maghrib tiba.
.....
.....
.....
Setelah malam tiba, Yasin pun bergegas menuju ke rumah Margono untuk ikut Doa dan Tahlilan anak Margono.
"Assalamu'alaikum.... !" Sapa Yasin.
"wa'alaikummussalamm,,, Terimakasih sudah bersedia hadir di sini." Jawab Margono yang menyambut kedatangan Yasin.
"Sama sama pak, saya ikut berduka cita." ucap Yasin.
"Terimakasih, tapi ada yang mau saya tanyakan nanti mas. Maaf jika mengganggu waktunya." Kata Margono.
"Tidak mengapa pak, sudah sepantasnya kita saling bantu." Jawab Yasin.
Kemudian Yasin pun dipersilahkan masuk untuk mengikuti acara Tahlilan.
Dan Usai Tahlilan Yasin diminta untuk memberikan penjelasan tentang mimpi Margono yang hampir tiap tidurnya mimpi hal yang sama.
Dengan hati hati Yasin, mencoba memberi pengertian tentang mimpi. Bahwa mimpi itu bisa merupakan bunga tidur saja. Namun kadang juga bisa menjadi sebuah isyaroh atau pertanda sesuatu. Namun jangan sampai berlebihan dalam menyikapi
Karena lebih sering mimpi itu juga godaan Jin saja untuk menyesatkan manusia. Artinya jangan selalu terganggu dengan mimpi, Namun juga tidak bisa mengabaikan sama sekali.
Kemudian Yasin pun diajak untuk melihat makam anak Margono. Di sana makan anak Margono dijaga beberapa personil Pemuda yang cukup punya keberanian.
Yasin pun tak lupa memanjatkan doa khusus kepada almarhum anaknya Margono. Setelah selesai membaca doa Yasin pun berjalan sendirian mengitari komplek pemakaman tersebut.
Kemudian setelah mengitari komplek makam tersebut Yasin mendekati Margono.
"Bisa ikut saya sebentar pak?" Tanya Yasin.
"Bisa pak, kemana?" Tanya Margono.
"Kita bicara di sebelah sana saja." Jawab Yasin sambil menunjukkan ke sebuah tempat yang cukup nyaman buat bicaraeberdua.
" Begini pak, ini hanya antisipasi saja jika mimpi bapak itu benar merupakan sebuah isyaroh. Yaruhlah gelas berisi air hampir penuh di tiap sudut makan ini." Kata Yasin.
"Tujuannya untuk apa pak ?" Tanya Margono.
"Ini tidak ada kaitannya dengan mistis, hanya sebagai antisipasi jika mimpi bapak itu benar merupakan isyaroh. Mungkin ada orang yang menginginkan Kain kafan anak bapak." Jawab Yasin.
"Lalu gelas berisi air itu untuk apa?" Tanya Lanjut Margono.
"Sebagai penanda, jika ada yang melakukan proses nglandak." Jawab Yasin.
"Apa itu nglandak pak?" Tanya Margono.
"Itu proses membuat terowongan menuju tempat jrnazah anak bapak di kuburkan. Jadi ada kemungkinan akan mengambil Kafan anak bapak tapi tidak dengan mencangkul dari atas. tapi dengan membuat terowongan bawah tanah. Jadi gelas berisi air itu sebagai indikator jika ada getaran bukan gempa. Berarti ada yang membuat terowongan bawah tanah. Dan itu prosesnya bisa berhari hari baru selesai." Jawab Yasin.
"Kenapa harus tiap sudut pak?" Tanya Margono.
" Biar tahu dari mana arah membuat terowongan itu. Nanti tiap gelas ada yang mengawasi, mana yang getarannya paling besar dari arah itu dia datang." Jawab Yasin.
Sebenernya Yasin melalui pandangan batinnya sudah mengetahui jika proses itu sudah berjalan. Bahkan sudah tahu dari mana arah datang nya. Namun karena hal itu tidak bisa di jelaskan. Dan untuk mengajak berpikir logis makan membuat cara seperti itu. Agar mudah di pahami.
Dan Yasin pun sudah bersiap membuat antisipasi menggagalkan proses nglandak tersebut jika sudah semakin dekat.
Margono pun akhirnya mengikuti perintah Yasin. Dan segera memerintahkan pemuda yang berjaga. Biasanya proses jaga tersebut sampai empat puluh harinya.
Tanpa mereka ketahui ada beberapa pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. karena para penjaga menggunakan penerangan lampu. Sehingga bisa dilihat dari kejauhan.
"Cukup banyak penjaga yang di sana, apa perlu gunakan Sirep Megananda Gede Paneluh. untuk lindungi Jalur yang sedang nglandak?" ucap seseorang yang bersama Gede Paneluh...?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...