Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Yasin diobati Tabib Ali


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Yasin diobati Tabib Ali...


Kemudian Sidiq yang melihat sebuah patung Berhala untuk pemujaan segera menghancurkan patung tersebut. Patung yang sedianya akan digunakan untuk acara Pancamakarapuja.!!!


Ki Marto Sentono pun keluar juga karena semua tokoh di bawahnya dibuat tak berdaya. Sementara Jalu sedang dalam perawatan terkena aji lebur saketi Wisnu.


“Hentikan bocah, jangan rusak alat untuk ritual kami ?” Kata Ki Marto.


“Akhirnya keluar juga Aki, mana Jalu yang sudah berusaha berbuat licik menyamar jadi ayahku.” Tantang Sidiq.


Sementara Jafar bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Jafar di tempat persembunyian sudah menyiapkan potongan daun dan dahan bunga jelatang ( Jawa \= Lateng ) yang dicampur dengan rumah kepompong bakal kupu kupu. Dimana rumah kepompong itu berasal dari bulu bulu ulat yag sangat gatal dan panas.


“Belum saatnya jika kalian mau mencari Jalu sekarang. Dia sedang terluka, datanglah setelah purnama Sidhi sekalian bersama ayah kamu jika ingin bertarung lagi.” Kata Ki Marto.


“Ini bukan soal bertarung membuktikan siapa yang menang dan kalah. Tapi Jalu sudah seringkali membuat kekacauan, atau aku panggil Polisi buat menangkap Jalu saja ?” Tanya Sidiq. Karena memang Jalu juga menjadi incaran Polisi terkait peristiwa pembunuhan saat sedang ritual Berendam tujuh mata air dulu.


“Pertarungan yang dulu belum selesai,belum ketahuan siapa yang menang dan kalah keburu Polisi datang. Bagaimana jika kita ulang sekali lagi tanpa kehadiran Polisi ?” Tantang Ki Marto Sentono.


Sidiq yang berjiwa tempramental jadi merasa tertantang. Sidiq Yakin Ayahnya akan mampu melawan Ki Munding terbukti saat ini Ki Munding sedang terluka juga. Sedangkan yang lain Sidiq merasa bisa mengatasi bersama Jafar. Ditambah kehadiran Sena, Farhan Dan Tohari yang dianggap mampu untuk membantu. Sidiq langsung menerima tantangan Ki Marto Sentono.


Tanpa Sidiq sadari jika Ki Marto Sentono sebenarnya sedang menyiapkan Ajian Tapak tangan wesi menunggu kelengahan Sidiq. Dimana pukulan telapak tangan itu bisa membuat tubuh lawan terbakar membekas telapak tangan Ki Marto.


“Kamu pikir kami takut, baiklah aku terima tantanganmu. Tapi sekali kamu buat masalah aku akan hancurkan kalian sehancur hancurnya.” Ancam Sidiq.


Tanpa berkata lagi Sidiq melangkah pergi, tanpa Sidiq sadari Ki Marto bersiap menyerang Sidiq dari belakang. Untung saja Jafar yang mengawasi dari awal cepat tanggap. Buntalan daun lateng dan bulu ulat dalam plastik dilempar ke Ki Marto dengan diberi pemberat batu.


Dan ketika Kantong plastik berisi daun lateng dan batu itu mengenai Ki Marto pecah. Sehingga bulu bulu ulat pun berhamburan di tubuh Ki Marto bersama daun dan batang daun Lateng. Seketika Ki Marto kaget merasa gatal dan panas di tubuhnya. Sehingga serangan ke Sidiq pun gagal dilakukan.


Jafar kemudian keluar dari persembunyian dan merusak Patung yang akan dijadikan sarana ritual Pancamakarapuja.  Kemudian Sidiq dan Jafar merusak sebagian bangunan markas tersebut tanpa ada yang menghalangi. Setelah puas mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


…..


“Bagaimana menurut kamu Jafar, tantangan Ki Marto tadi ?” Tanya Sidiq pada Jafar.


“Tidak usah digubris Mas, orang yang penuh Muslihat seperti itu.” Jawab Jafar.


“Tapi geram juga soalnya, lihat mereka gak ada kapok kapoknya.” Kata Sidiq.


“Ingat pesan Ayah, jangan hadapi Ki Munding Suro. Tadi saja kalau kedua murid ki Munding masih disitu mungkin akan lain ceritanya. Bagaimanapun Ayah lebih pengalaman jadi kita harus ikut kata Ayah.” Jawab Jafar.


“Bagaimana kalau kita ke tempat Master Sashi barangkali dia bisa bantu kita juga ?” Tanya Sidiq.


“Besok saja Mas, saat ini kita harus lihat kondisi Ayah. Itu Lebih penting dari semuanya.” Kata Jafar.


Sidiq pun mengikuti kata Jafar dan pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat Kondisi Ayahnya.


…..


Di rumah Yasin


“Umi…Mas Jafar dan Mas Sidiq kok gak pulang jenguk Abi Yasin ? Wisnu kangen sama mereka, sudah lama gak ketemu.” Ucap Wisnu.


“Gapapa Wisnu, kan Abi juga sudah bisa pergi ke Pondok Al-Huda. Kalau Wisnu kangen tadi kenapa gak ikutan ?” Tanya Fatimah.


“Wisnu malu Umi, kan sudah banyak yang ikut ke sana.” Jawab Wisnu.


“Kamu ini ya, mirip banget sama ibu kamu. Suka malu malu begitu, tapi kalau udah baru nyesel.” Kata Fatimah.


Wisnu hanya tersenyum malu dikatakan begitu.

__ADS_1


“Ah itu Wisnu bukan kangen sama Kang Jafar dan Kang Sidiq tapi sama adiknya kali.” Goda Isna.


“Yee Mbak Isna, Nisa kan saudara Wisnu, wajar kan kalau kangen.” Jawab Wisnu.


“Lah kenapa tadi gak disebutin nama Nisa, Hayo…?” Sahut Utari.


“Sudah sudah, kalian bisa saja godain Wisnu. Wisnu memang dari kecil akrabnya dengan Nisa. Karena mereka sebaya, tapi sekedar sebagai saudara. Dan mereka masih kecil semua, gak seperti kalian yang sudah Puber.” Kata Fatimah.


“Iya Umi, Isna juga masih kecil kok belum boleh pacaran sama Abi juga.” Jawab Isna.


“Hmm bohong Umi, Isna tuh naksir sama Kang Sidiq Umi.” Goda Utari.


“Gak gitu kok Umi, Utari bohong tuh…!” sahut Isna.


Belum selesai Isna Bicara terdengar suara motor Isna yang dipakai Jafar. Isna hafal betul itu suara motornya, sehingga tahu jika yang datang Jafar.


“Eh ada kang Jafar Tari, masuk kamar yuk !” Ajak Isna pada tari.


“Kenapa, malu sama kang Sidiq ?” Tanya Utari menggoda Isna.


Isna hanya nyengir digoda Utari begitu, tapi tidak jadi masuk ke kamar.


“Assalaamu ‘alaikum…!” Sapa Sidiq dan Jafar.


“Wa ‘alaikummussalaam warahmatullah… Jafar kenapa malah pulang ke rumah sama Sidiq ? Bukannya Ayah kamu ke sana ?” Tanya Fatimah kepada Jafar.


“Katanya Ayah sakit bunda, makanya Jafar sama Mas Sidiq pulang mau jenguk Ayah.” Jawab Jafar.


“Sidiq dan Jafar kemudian mencium tangan Fatimah sebagai tanda hormatnya.


Setelah Sidiq dan Jafar duduk barulah Fatimah bercerita jika Yasin Ayah mereka menemui Kyai Syuhada. Untuk mencari sahabatnya Tabib Ali Ayah Vina.


Jafar dan Sidiq jadi agak kecewa mendengar Yasin Ayah mereka justru tidak ada di rumah.


“Terus Ayah mau pulang Jam berapa Bunda ?” Tanya Sidiq.


“Kalau sekarang baru menengok rumahnya bunda, katanya sekalian mau jenguk anaknya yang teman sekolah Mas Sidiq.” Jawab Jafar.


“Tapi belum kembali ke Mesir kan ?” tanya Fatimah.


“Belum Bunda, katanya mau beberapa bulan di sini.” Jawab Jafar.


“Syukurlah, soalnya Ayah Kalian butuh pertolongan Tabib Ali untuk menyembuhkannya.” Kata Fatimah.


“Memang Ayah sakitnya bagaimana Bunda ?” Tanya Sidiq.


Kemudian Fatimah menceritakan apa yang terjadi pada Yasin, dan Sidiq serta Jafar pun menjadi semakin marah dengan kelompok Ki Munding Suro.


“Biar Sidiq yang hubungi Lita teman Sidiq Bunda, agar Paman Tabib membantu mengobati Ayah.” Jawab Sidiq kemudian keluar dan menelpon Lita.


“Mudah mudahan saja Paman Tabib bersedia ke sini mengobati Abi Yasin.” Ucap Utari.


“Aamiin… kalau masih berada di Indonesia Insya Allah mau. Karena mereka berdua bersahabat sejak masih sama sama di pesantren.” Ucap Fatimah.


“Apa mereka satu pesantren juga Umi ?” Tanya Isna.


“Tidak tapi mereka bersahabat dari dulu.” Jawab Fatimah.


Kemudian Sidiq pun masuk dan memberitahukan jika Tabib Ali akan segera datang.


“Paman Tabib masih di rumah Lita teman Sidiq Umi, dan sekarang sedang menuju kesini.” Kata Sidiq.


“Kalau begitu biar Isna telpion Abi Syuhada, biar Abi Yasin dikasih tahu dan bisa cepat pulang.” Sahut Isna.


Isna segera menghubungi Abinya, menyampaikan berita jika Tabib Ali sedang menuju ke rumah Yasin. Dan berita itu juga disampaikan ke Yasin, Yasin dan rombongan pun langsung pulang ke rumahnya. Agar Tabib Ali tidak menunggu lama.


…..


Yasin dan rombongannya pun tiba di rumah lebih dahulu dari Tabib Ali.

__ADS_1


“Alhamdulillah… Kang Ali masih di sini, mudah mudahan bisa mengusahakan kesembuhan buatku. Jafar dan Sidiq kok malah sudah sampai  di sini ? ” Ucap Yasin setelah duduk di samping Fatimah.


“Iya Yah, Jafar dengar Ayah sakit langsung berangkat pulang. Tidak tahu kalau Ayah mau ke Pesantren.” Jawab Jafar.


“Udahlah Yasin, bagaimanapun kan anak anak kamu juga pengen tahu kondisi Ayahnya.” Kata Tohari.


“Tadi di sana ketemu Nisa gak Mas ?” Tanya Fatimah.


“Ketemu lah, tadi sama anak Kang Ali si Vina. Sebenarnya juga tadi Vina sudah bilang kalau Kang Ali sedang di rumah Lita kakaknya yang beda Ayah.” Jawab Yasin.


“Kalau hasil pemeriksaan Fatimah semalam secara Fisik sih gak ada yang terluka parah Mas. Hanya entah kenapa jalan darah Mas Yasin jadi agak lambat, itu yang bikin Mas Yasin jadi merasa lemas.” Kata Fatimah.


Tak berapa lama berselang Tabib Ali akbar dan Istrinya pun datang.


“Assalaamu ‘alaikum… apa kabar Kang Yasin ? Bagaimana kondisimu, kok katanya sakit ?” Sapa Tabib Ali yang datang bersama Istrinya juga Lita.


“Alhamdulillah… masih diberikan keselamatan Kang. Meski agak sedikit kurang enak badan.” Jawab Yasin.


“Lita, itu kan teman sekolah kamu ?” kata Istri Tabib Ali.


“Iya ma, Namanya Sidiq yang itu Jafar adiknya.” Kata Lita.


“Mirip sekali, kayak Kembaran.” Kata Arlita Fernando mamanya Lita.


“Iya Ma, Lita juga pernah keliru. Eeh biar Papa Ali obatin Ayahnya Sidiq dulu ma.” Ucap Lita sadar ketika Ayah tirinya memegang tangan Yasin memeriksa luka luka dalamnya.


“Astaghfirullah… darah Kang yasin ada yang beku. Seperti habis terbakar sehingga harus dibersihkan darah bekunya Kang.” Kata Tabib Ali.


Semua yang mendengar pun jadi bengong belum paham dengan maksut Tabib Ali, kecuali Fatimah.


“Iya kang Tabib, Fatimah juga merasakan jalan darah Mas Yasin jadi lambat. Tapi belum menemukan penyebabnya.” Ucap Fatimah.


“Butuh waktu agak lama, dan Kang Yasin harus banyak konsumsi penambah darah setelah terapi nanti.” Kata Tabib Ali.


Yasin hanya diam, berpikir bagaimana jika proses pengobatan nanti lama. Sementara Ki Munding Suro sudah sehat dirinya belum pulih…???


... Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


Note :


Perlu Author Garis bawahi, Jika Author menyebut Bhairawa Tantra maka yang Author maksut adalah Bhairawa Tantra yang pernah ada pada zaman dulu. Pada masa perkembangan Islam di tanah Jawa. Bukan Bhairawa Tantra yang di negara lain. Dikarenakan Bhairawa Tantra yang ada di negara Lain mengartikan beda bahkan bertentangan 180 derajat dengan Bhairawa Tantra di Indonesia jaman dahulu. Pendek kata Bhairawa Tantra yang ada di Indonesia, yang dimaksud Author adalah yang melakukan proses ritual Pancamakarapuja seperti yang Author gambarkan, seperti halnya mengartikan Maithuna di negara lain diartikan menjaga keserasian Hubungan suami Istri. Tapi penganut Bhairawa Tantra di Indonesia waktu itu mengartikan hubungan bebas, begitu juga dengan Mada dan lainya. Semoga dapat dimaklumi, Author tidak bermaksud mendiskreditkan aliran tertentu. Tapi penyimpangan yang terjadi di Indonesia berdasarkan referensi sejarah secara umum.


Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.


...🙏🙏🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2